• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN PUSTAKA

2.2 Pernikahan Dalam UU No.16 Tahun 2019

Di Dalam Undang-Undang Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan.

 Pasal I Beberapa ketentuan peraturan dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1974 Nomor 1, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 3019) diubah sebagai berikut:

14

Ketentuan pada Pasal 7 diubahsehingga berbunyi sebagai berikut:

(1) Perkawinan dimungkinkan jika seorang pria dan seorang wanita telah mencapai usia 19 (sembilan belas) tahun dalam waktu yang lama.

(2) Apabila terjadi penyimpangan dari pengaturan umur sebagaimana dimaksud pada ayat (1), wali laki-laki dan wali perempuan dapat meminta persetujuan Pengadilan dengan alasan kesungguhan yang luar biasa disertai dengan bukti pendukung yang cukup.

(3) Pemberian dispensasi oleh Pengadilan sebagaimana dimaksud pada ayat 2 wajib mendengarkan pendapat kedua belah calon mempelai yang akan melangsungkan perkawinan.

(4) Ketentuan-ketentuan mengenai keadaan seorang atau kedua orang tua calon mempelai sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (3) dan ayat (4) berlaku juga ketentuan mengenai permintaan dispensasi sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dengan tidak mengurangi ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 ayat (6).

Dalam ketentuan Pasal 28B Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, dicantumkan bahwa setiap orang berhak membentuk keluarga dan melanjutkan keturunan melalui perkawinan yang sah serta Negara menjamin hak anak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang serta berhak atas pelindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

15

Pasal 7 ayat (1) Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 menyatakan bahwa perkawinan dimungkinkan apabila laki-laki sudah mencapai umur 19 (sembilan belas) tahun dan perempuan sudah berumur 16 (enam belas) tahun.

bagi remaja putri mengingat dalam Pasal 1 ayat 1 Undang-Undang tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan Anak dijelaskan bahwa anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak-anak yang masih dalam perut.

Mahkamah Konstitusi Republik Indonesia telah mengeluarkan PutusanNomor 22/PUU-XV/2017 yang dimana salah satu pertimbangan Mahkamah Konstitusi dalam putusan tersebut yaitu “Namun tatkala pembedaan perlakuan antara pria dan wanita itu berdampak pada atau menghalangi pemenuhan hak-hak dasar atau hakhak konstitusional warga negara, baik yang termasuk ke dalam kelompok hak-hak sipil dan politik maupun hak-hak ekonomi, pendidikan, sosial, dan kebudayaan, yang seharusnya tidak boleh dibedakan semata-mata berdasarkan alasan jenis kelamin, maka pembedaan demikian jelas merupakan diskriminasi.” Dalam pemikiran yang sama, ditegaskan pula bahwa pedoman batas usia dasar perkawinan yang membedakan antara orang-orang tidak hanya membuat perpisahan dalam hal pelaksanaan pilihan untuk membentuk keluarga sebagaimana dijamin dalam Pasal 28B ayat (1) UUD 1945. UUD 1945, namun juga menjadikan viktimisasi sebagai jaminan dan pemenuhan hak.anak sebagaimana dimaksud dalam Pasal 28B ayat (2) UUD 1945.Untuk situasi ini,

16

ketika waktu dasar pernikahan untuk wanita lebih rendah daripada pria, sah-sah saja wanita dapat membentuk keluarga lebih cepat.

Oleh karena itu dalam putusannya Mahkamah Konstitusi memerintahkan kepada para pembentuk undang-undang untuk dalam jangka waktu paling lama 3 (tiga) tahun melakukan perubahan terhadap Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Perubahan norma dalam Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ini menjangkau batas usia untuk melakukan perkawinan, perbaikan norma menjangkau dengan menaikkan batas minimal umur perkawinan bagi wanita. Untuk keadaan ini, usia dasar untuk menikah bagi perempuan sama dengan usia dasar untuk menikah bagi laki-laki, yaitu 19 (sembilan belas) tahun.Batas usia dimaksud dinilai telah matang jiwa raganya untuk dapat melangsungkan perkawinan agar dapat mewujudkan tujuan perkawinan secara baik tanpa berakhir pada perceraian dan mendapat keturunan yang sehat dan berkualitas.

Diharapkan juga kenaikan batas umur yang lebih tinggi dari 16 (enam belas) tahun bagi wanita untuk kawin akan mengakibatkan laju kelahiran yang lebih rendah dan menurunkan resiko kematian ibu dan anak.Selain itu, ini juga dapat memenuhi hak istimewa anak-anak untuk meningkatkan perkembangan dan kemajuan anak-anak termasuk bantuan orang tua dan memberikan akses anak-anak ke pengajaran setinggi mungkin.

17

Adapun penjelasan dari Undang-undang perlindungan anak No 23 tahun 2002 ialah sebagai berikut:

 Pasal 1 Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan :

1. Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

2. Perlindungan anak adalah segala kegiatan untuk menjamin dan melindungi anak dan hak-haknya agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi, secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi.

3. Keluarga adalah unit terkecil dalam masyarakat yang terdiri dari suami istri, atau suami istri dan anaknya, atau ayah dan anaknya, atau ibu dan anaknya, atau keluarga sedarah dalam garis lurus ke atas atau ke bawah sampai dengan derajat ketiga.

4. Orang tua adalah ayah dan/atau ibu kandung, atau ayah dan/atau ibu tiri, atau ayah dan/atau ibu angkat.

5. Wali adalah orang atau badan yang dalam kenyataannya menjalankan kekuasaan asuh sebagai orang tua terhadap anak.

6. Anak terlantar adalah anak yang tidak terpenuhi kebutuhannya secara wajar, baik fisik, mental, spiritual, maupun sosial.

18

7. Anak yang menyandang cacat adalah anak yang mengalami hambatan fisik dan/atau mental sehingga mengganggu pertumbuhan dan perkembangannya secara wajar.

8. Anak yang memiliki keunggulan adalah anak yang mempunyai kecerdasan luar biasa, atau memiliki potensi dan/atau bakat istimewa.

9. Anak angkat adalah anak yang haknya dialihkan dari lingkungan kekuasaan keluarga orang tua, wali yang sah, atau orang lain yang bertanggung jawab atas perawatan, pendidikan, dan membesarkan anak tersebut, ke dalam lingkungan keluarga orang tua angkatnya berdasarkan putusan atau penetapan pengadilan.

10. Anak asuh adalah anak yang diasuh oleh seseorang atau lembaga, untuk diberikan bimbingan, pemeliharaan, perawatan, pendidikan, dan kesehatan, karena orang tuanya atau salah satu orang tuanya tidak mampu menjamin tumbuh kembang anak secara wajar.

11. Kuasa asuh adalah kekuasaan orang tua untuk mengasuh, mendidik, memelihara, membina, melindungi, dan menumbuhkembangkan anak sesuai dengan agama yang dianutnya dan kemampuan, bakat, serta minatnya.

12. Hak anak adalah bagian dari hak asasi manusia yang wajib dijamin, dilindungi, dan dipenuhi oleh orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara.

19

13. Masyarakat adalah perseorangan, keluarga, kelompok, dan organisasi sosial dan/atau organisasi kemasyarakatan.

14. Pendamping adalah pekerja sosial yang mempunyai kompetensi profesional dalam bidangnya.

15. Perlindungan khusus adalah perlindungan yang diberikan kepada anak dalam situasi darurat, anak yang berhadapan dengan hukum, anak dari kelompok minoritas dan terisolasi, anak yang dieksploitasi secara ekonomi dan/atau seksual, anak yang diperdagangkan, anak yang menjadi korban penyalahgunaan narkotika, alkohol, psikotropika, dan zat adiktif lainnya (napza), anak korban penculikan, penjualan, perdagangan, anak korban kekerasan baik fisik dan/atau mental, anak yang menyandang cacat, dan anak korban perlakuan salah dan penelantaran.

16. Setiap orang adalah orang perseorangan atau korporasi.

17. Pemerintah adalah Pemerintah yang meliputi Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah.

 Pasal 2 Penyelenggaraan perlindungan anak berasaskan Pancasila dan berlandaskan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 serta prinsip-prinsip dasar Konvensi Hak-Hak Anak meliputi :

1. non diskriminasi;

2. kepentingan yang terbaik bagi anak;

3. hak untuk hidup, kelangsungan hidup, dan perkembangan; dan

20 4. penghargaan terhadap pendapat anak.

 Pasal 3 Perlindungan anak bertujuan untuk menjamin terpenuhinya hak-hak anak agar dapat hidup, tumbuh, berkembang, dan berpartisipasi secara optimal sesuai dengan harkat dan martabat kemanusiaan, serta mendapat perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi, demi terwujudnya anak Indonesia yang berkualitas, berakhlak mulia, dan sejahtera.

 Pasal 4 menjelaskan Setiap anak memiliki pilihan untuk memiliki pilihan untuk hidup, berkembang, berkreasi, dan memelihara dengan sungguh-sungguh sesuai dengan ketenangan dan jaminan manusia, serta jaminan dari kebiadaban dan pemisahan.

 Pasal 5 menjelaskan Setiap anak memiliki pilihan atas nama sebagai karakter diri dan status kewarganegaraan.

 Pasal 6 Setiap anak memiliki hak istimewa untuk memuja menurut agamanya, berpikir, dan berekspresi sesuai dengan tingkat wawasan dan usianya, di bawah arahan orang tuanya.

 Pasal 7 (1) Setiap anak memiliki hak istimewa untuk mengenal orang tuanya, untuk dibesarkan, dan untuk benar-benar diperhatikan orang tuanya sendiri.

(2) Jika karena sebab-sebab yang tidak diketahui walinya belum dapat menjamin perkembangan dan kemajuan anak, atau anak dalam keadaan yang tidak diinginkan, anak tersebut berhak untuk benar-benar diasuh atau disebut

21

sebagai anak asuh atau anak angkat. oleh orang lain sesuai dengan pengaturan undang-undang dan pedoman yang bersangkutan.

 Pasal 8 Setiap anak memiliki hak istimewa untuk memperoleh administrasi kesejahteraan dan pembantu pensiun federal sesuai dengan kebutuhan fisik, mental, dunia lain dan sosial mereka.

 Pasal 9 (1) menjelaskan Setiap anak memiliki hak istimewa untuk mendapatkan pendidikan dan pengajaran yang berkaitan dengan kesadaran diri dan tingkat pengetahuannya sesuai dengan kecenderungan dan bakatnya.

(2) Terlepas dari hak istimewa anak-anak sebagaimana dimaksud pada ayat (1), anak-anak yang tidak mampu juga memenuhi syarat untuk kurikulum khusus, sementara anak-anak yang menikmati tunjangan juga memenuhi syarat untuk kurikulum khusus.

 Pasal 10 menjelaskan Setiap anak memiliki hak istimewa untuk menawarkan sudut pandangnya dan sudut pandangnya didengar, diperoleh, dicari, dan diberikan data sesuai dengan tingkat pengetahuan dan usianya untuk peningkatannya sesuai dengan kualitas konvensionalitas dan ketaatan.

 Pasal 11 Setiap anak memiliki pilihan untuk beristirahat dan memanfaatkan energi cadangan, bergaul dengan anak-anak seusia, bermain, memiliki pengalihan, dan imajinatif yang ditunjukkan oleh kecenderungan, kemampuan, dan tingkat wawasan mereka untuk pengembangan diri.

Penjelasan Atas Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak.

22

Anak adalah amanah sekaligus karunia Tuhan Yang Maha Esa, yang senantiasa harus kita jaga karena dalam dirinya melekat harkat, martabat, dan hak-hak sebagai manusia yang harus dijunjung tinggi. Hak asasi anak merupakan bagian dari hak asasi manusia yang termuat dalam Undang-Undang Dasar 1945 dan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hak-Hak Anak. Dari sisi kehidupan berbangsa dan bernegara, anak adalah masa depan bangsa dan generasi penerus cita-cita bangsa, sehingga setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh, dan berkembang, berpartisipasi serta berhak atas perlindungan dari tindak kekerasan dan diskriminasi serta hak sipil dan kebebasan.

Meskipun Undang-undang Nomor 39 Tahun 1999 tentang Hak Asasi Manusia telah mencantumkan tentang hak anak, pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab orang tua, keluarga, masyarakat, pemerintah, dan negara untuk memberikan perlindungan pada anak masih memerlukan suatu undang-undang mengenai perlindungan anak sebagai landasan yuridis bagi pelaksanaan kewajiban dan tanggung jawab tersebut. Dengan demikian, pembentukan undang-undang ini didasarkan pada pertimbangan bahwa perlindungan anak dalam segala aspeknya merupakan bagian dari kegiatan pembangunan nasional, khususnya dalam memajukan kehidupan berbangsa dan bernegara. Orang tua, keluarga, dan masyarakat bertanggung jawab untuk menjaga dan memelihara hak asasi tersebut sesuai dengan kewajiban yang dibebankan oleh hukum.

Dokumen terkait