• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis Konsentrasi,Viabilitas Spermatofor dan Karakteristik Morfologi Spermatozoa Kepiting Bakau Merah

(Scylla olivacea Herbest 1796) Asal Jawa, Sulawesi dan Papua adalah karya saya

dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepada perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftar Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, 11 Agustus 2009

Nuril Farizah NRP: B351060051

iii

ABSTRACT

NURIL FARIZAH. Concentration, Viability Of Spermatophores And Morphology Characteristic Of Mud Crab Spermatozoa (Scylla Olivacea Herbest 1796 ) From Java, Celebes and Papua. Under Direction of ARIEF BOEDIONO and R. IIS ARIFIANTINI

Mud crab (Scylla olivacea) is fishery commodity posses a high economic value in Indo-Pacific region. Market supply depends on the seasons, so the continuity product is not available in all years. It effect the aquaculture development of mud crab. The successful of hatchery have influenced by broodstock quality, including the role of male broodstock. The research aim to study the biology reproduction of male mud crab from three locations (Java, Celebes, and Papua). Studies were conducted based on the macro and micro morphology of male reproduction characteristics. The result obtained, that carapace size, weight and color of Scylla olivacea in Java (6.8 ± 0.8 and 10.0 ± 1.0 mm), weight (208.1 ± 59.7 g) and color of body is green to brown. Sample from Celebes (8.4 ± 0.6 and 11.9 ± 0.9 mm), weight (486.9 ± 100.6 g), and Papua (8.9 ± 0.5 and 12.3 ± 0.8 mm), weight (566.3 ± 138.1 g) with color of body is green to red. The weight of testes is 0.8 ± 0.5 g with GSI; 0.06 - 0.82 %, for Java. Celebes, testes weight is 1.9 ± 0.8 g with GSI; 0.12 - 0.72 % and for sample from Papua showed weight of testes is 2.3 ± 0.9 g with GSI; 0.13 – 1.07%. Scylla olivacea is produce simple spermatophores and have aflagellate spermatozoa and non-motile.

iv

RINGKASAN

NURIL FARIZAH. Konsentrasi, Viabilitas Spermatofor dan Karakteristik Morfologi Spermatozoa Kepiting Bakau Merah ( Scylla olivacea Herbest 1796 ) Asal Jawa, Sulawesi dan Papua. Dibimbing oleh ARIEF BOEDIONO dan R. IIS ARIFIANTINI.

Kepiting bakau merah (Scylla olivacea) merupakan salah satu dari ke empat spesies kepiting bakau di dunia. Kepiting ini memiliki keunggulan dari ketiga spesies kepiting lainnya, yakni proses reproduksinya lebih singkat dan dapat bertahan hidup dalam kondisi ekstrim. Usaha pembenihan yang dilakukan belum memberikan hasil yang maksimal karena survival rate dari benih yang dihasilkan masih sangat rendah. Hal ini mungkin disebabkan oleh penyediaan indukan yang berkualitas rendah sehingga berdampak pada kualitas benih yang dihasilkan. Keberhasilan kegiatan pembenihan dipengaruhi oleh kualitas induk, yaitu induk yang memiliki sel telur atau sel spermatozoa berkualitas baik. Informasi mengenai induk betina maupun jantan yang ideal untuk kegiatan pembenihan kepiting bakau masih sangat minim. Induk jantan yang berkualitas tinggi adalah induk jantan yang memiliki jumlah dan viabilitas spermatozoa yang tinggi, sehingga mempengaruhi keberhasilan dalam fertilisasi yang tinggi. Penelitian ini bertujuan mengkaji performans reproduksi kepiting bakau merah jantan (Scylla olivacea) pada daerah Jawa Barat, Sulawesi Selatan dan Papua Barat. Performans reproduksi yang dikaji, meliputi; konsentrasi, viabilitas spermatofor dan karakteristik morfologi spermatozoa.

Studi yang dilakukan berdasarkan pengamatan morfologi secara makro dan mikro dari karakteristik reproduksi jantan kepiting bakau merah (Scylla

olivacea). Hasil yang diperoleh menunjukkan tiap daerah memiliki performans

reproduksi yang berbeda hal ini diduga karena perbedaan lokasi yang mempengaruhinya. Untuk ukuran karapas, bobot tubuh dan warna tubuh dari

Scylla olivacea asal Jawa (6.8 ± 0.8 dan 10.0 ± 1.0 mm), bobot tubuh (208.1 ±

59.7 g) dan warna tubuh hijau kecoklatan sampai kemerahan. Sampel dari Sulawesi memiliki ukuran karapas (8.4 ± 0.6 dan 11.9 ± 0.9 mm), dan bobot tubuh (486.9 ± 100.6 g), untuk sampel Papua memiliki ukuran karapas (8.9 ± 0.5 dan 12.3 ± 0.8 mm), bobot badan (566.3 ± 138.1 g) dengan warna tubuh yang agak kemerahaan. Bobot dari testis adalah 0.8 ± 0.5 g dengan GSI; 0.06 - 0.82 %, untuk Jawa. Sampel Sulawesi, bobot testes adalah 1.9 ± 0.8 g dengan GSI; 0.12 - 0.72 % dan untuk sampel dari Papua menunjukkan bobot testes 2.3 ± 0.9 g dengan GSI; 0.13 – 1.07 %.

Konsentrasi spermatofor per individu menunjukkan nilai regresi yang berbeda, untuk daerah Jawa Barat dengan nilai regresi y = 0.016x4 - 0.591x3 + 6.717x2 - 26.3x + 46.04 dengan nilai koefesien determinasi (R²) sebesar 0.357, diikuti oleh sampel dari Sulawesi Selatan dengan nilai regresi y = 0.002x5 - 0.085x4 + 1.151x3 - 5.530x2 + 3.304x + 39.34 dengan koefesien determinasi (R²) adalah 0.335, untuk Papua Barat nilai regresinya, y = 0.004x5 - 0.177x4 + 2.852x3 - 20.01x2 + 56.77x - 20.82 dengan R² = 0.218, menunjukkan persamaan regresi nonlinear. Sedangkan untuk konsentrasi spermatofor dari Scylla olivacea yang tertinggi diperoleh dari sampel Papua Barat yang memiliki nilai kisaran

v konsentrasi spermatofor dari 7.37 x 10 ³ - 61.63 x 10 ³, kemudian diikuti sampel dari Jawa Barat 1.67 x 10 ³ - 52. 40 x 10 ³ dan Sulawesi Selatan 5.53 x 10 ³ - 45.13 x 10³.

Hasil preservasi spermatofor yang diperoleh dari ketiga lokasi pengambilan sampel, menunjukkan adanya penurunan viabilitas spermatofor seiring dengan waktu preservasi atau penyimpanan spermatofor. Diameter spermatofor sangat bervariasi baik antar sampel, antar individu maupun antar lokasi pengambilan sampel. Spermatofor Scylla olivacea asal Jawa Barat, menunjukkan diameter terkecil 33.75µm dan terbesar 210µm dengan distribusi spermatofor terpusat pada ukuran diameter ≤ 50 sampai dengan ≤ 150µm dan ukuran spermatofor yang paling banyak ditemukan adalah 72.5µm sampai dengan 120µm. Spermatofor dari Scylla olivacea asal Sulawesi Selatan, menunjukkan diameter yang lebih kecil yaitu 18.75µm dan spermatofor terbesar 362.5µm. Distribusi spermatofor pada sampel dari Sulawesi, yaitu terpusat pada ukuran diameter ≤ 50 sampai dengan ≤ 250µm. Jumlah diameter yang paling banyak ditemukan antara 87.5µm sampai dengan 125µm. Diameter spermatofor

Scylla olivacea asal Papua Barat, menunjukkan diameter terkecil 45µm tetapi

spermatofor terbesar hanya 277.5µm, range nilai diameter spermatofor yang sama dengan sampel dari Sulawesi yaitu terpusat pada diameter ≤ 50 sampai dengan ≤ 250µm. diameter spermatofor yang paling sering ditemukan adalah 92.5µm – 152.5µm, lebih tinggi kisarannya dari sampel asal Jawa dan Sulawesi.

Konsentrasi spermatozoa per spermatofor Scylla olivacea menunjukkan nilai yang signifikan, jumlah spermatozoa meningkat seiring dengan bertambahnya ukuran diameter spermatofor. Untuk spermatopor dengan diameter (40-70) μm, diperoleh konsentrasi spermatozoa per spermatopor ; 6.67 x 10⁶, kisaran diameter spermatopor (70-100)μm, diperoleh konsentrasi spermatozoa 10.12 x 10⁶, kisaran diameter spermatopor (100-130)μm, diperoleh konsentrasi 15.96 x 10⁶, kisaran diameter spermatopor (130-160) μm, diperoleh konsentrasi 15.88 x 10⁶ dan kisaran diameter spermatopor (160-190) μm, diperoleh konsentrasi spermatozoa 16.14 x 10⁶. Scylla olivacea menghasilkan spermatofor tunggal dan terpisah satu sama yang lain berada dalam medium cair dari seminal plasma. Memiliki spermatozoa yang berflagela dan tidak bergerak.

vi

© Hak Cipta milik IPB, tahun 2009

Hak Cipta dilindungi Undang-undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa

Dokumen terkait