Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis yang berjudul Kompatibilitas Sambungan Beberapa Aksesi Jarak Pagar (Jatropha curcas L.) Unggulan untuk Memacu Produksi pada Lahan Masam merupakan gagasan dan karya saya dengan arahan dari komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka di bagian akhir tesis ini.
Bogor, Juni 2011
Abdul Wahid
RINGKASAN
ABDUL WAHID. Kompatibilitas Sambungan Beberapa Aksesi Jarak Pagar (Jatropha Curcas L.) Unggulan untuk Memacu Produksi pada Lahan Masam. Dibimbing oleh HAMIM dan TRIADIATI.
Jarak pagar merupakan sumber minyak terbarukan yang dipandang tepat untuk dikembangkan karena tidak termasuk minyak konsumsi (edible oil) sehingga tidak bersaing dengan kebutuhan konsumsi manusia seperti pada minyak kelapa sawit dan minyak jagung. Selain itu, jarak pagar (J. curcas) juga diharapkan dapat memberikan solusi untuk mengatasi masalah lahan marginal di
Indonesia yang mencapai 75,25 juta ha termasuk di dalamnya jenis tanah masam dengan luas mencapai 45,79 juta ha.
Salah satu upaya yang mungkin dilakukan untuk mendapatkan tanaman yang memiliki daya tahan dan produksi tinggi adalah dengan teknik penyambungan (grafting). Penyambungan merupakan penggabungan dua bagian tanaman berbeda (batang bawah dan batang atas) menjadi satu tanaman yang terus tumbuh dan berkembang dengan baik .
Penelitian ini betujuan untuk mendapatkan kombinasi sambungan yang kompatibel dari beberapa aksesi jarak pagar unggulan untuk memacu produksi pada lahan marginal khususnya pada lahan masam.
Penelitian ini dilaksanakan mulai bulan Mei 2010 hingga bulan Pebruari 2011 di kebun percobaan Cikabayan IPB Bogor, Laboratorium Fisiologi Tumbuhan, dan Laboratorium Mikroteknik Departemen Biologi FMIPA IPB. Percobaan ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) faktorial dengan 3 faktor. Faktor pertama adalah aksesi batang bawah potensial dengan 4 taraf, yaitu S1, J2, B3, dan JB. Faktor kedua adalah aksesi batang atas unggul dengan 2 taraf yaitu IP3A dan IP3P. Faktor ketiga adalah jenis media tumbuh dengan 2 taraf yaitu M1 (andosol) dan M2 (podsolik merah kuning). Semua taraf dikombinasikan secara lengkap sehingga terdapat 16 kombinasi perlakuan dan diulang sebanyak 3 kali. Pada percobaan ini juga diamati IP3A dan IP3P tanpa sambungan sebagai pembanding. Komponen yang diamati selama percobaan meliputi keberhasilan penyambungan, pertumbuhan tajuk dan akar, anatomi sambungan serta waktu pembungaan dan produksi. Untuk menetapkan kesesuaian antara batang bawah dan batang atas hasil penyambungan maka data dianalisis dengan sidik ragam pada α 0,05 dan dilakukan uji lanjut dengan uji Duncan Multiple Range Test (DMRT).
Hasil analisis ragam menunjukkan bahwa kedua media tumbuh yang dipergunakan dalam penelitian ini tidak memberikan perbedaan yang nyata pada semua parameter pertumbuhan yang diamati kecuali jumlah cabang yang terbentuk. Hal ini disebabkan oleh kemampuan adaptasi tanaman jarak pagar yang sangat luas dan bila perakarannya sudah berkembang, jarak pagar toleran terhadap kondisi tanah masam. Keberhasilan grafting ditentukan oleh interaksi batang bawah dengan batang atas yang berkisar antara 88-100%. Aksesi batang bawah menunjukkan pengaruh yang signifikan terhadap pertumbuhan tajuk dan sistem perakaran. Aksesi batang bawah JB menunjukkan pertumbuhan tajuk dan
sistem perakaran yang paling tinggi dibandingkan dengan tiga aksesi lainnya (B3, S1, dan J2).
Batang atas memberikan pengaruh yang signifikan pada komponen pertumbuhan seperti pertambahan tinggi batang atas, jumlah cabang, dan jumlah daun. Aksesi IP3P mempunyai pertumbuhan lebih tinggi dibandingkan aksesi IP3A.
Pembungaan dan produksi tanaman jarak pagar pada penelitian ini juga dipengaruhi oleh aksesi batang atas dibandingkan dengan aksesi batang bawah. Aksesi batang bawah yang disambung dengan batang atas IP3P mengalami pembungaan sebanyak 100%. Sedangkan batang bawah yang dikombinasikan dengan batang atas IP3A hanya 25% yang berbunga. Waktu pembungaan tercepat ditunjukkan oleh kombinasi JB/3P (53 HSP) dengan rasio bunga jantan dan betina terbesar (23:1) dan jumlah buah pertama sebanyak 13 buah/tanaman.
Pengamatan anatomi daerah pertautan tahap pertama 1 BSS memberikan gambaran bahwa seluruh kombinasi sambungan memperlihatkan pertautan yang baik kecuali pada aksesi J2 baik yang dikombinasikan dengan IP3A maupun IP3P. Pada kombinasi-kombinasi tersebut masih terdapat celah yang cukup lebar, sehingga walaupun semua tanaman dapat bertahan hidup namun kombinasi tanaman dengan batang bawah J2 mengalami pertumbuhan yang lebih lamban dibandingkan tiga aksesi lainnya. Pada pengamatan kedua yaitu 1 BSP, hampir 100% aksesi batang bawah yang dikombinasikan dengan batang atas IP3P mengalami penyatuan cukup sempurna. Sebaliknya 75% kombinasi batang bawah dengan IP3A mengalami penyatuan yang sangat lambat dan masih terdapat celah yang berkisar antara 60,0 µm – 333,3 µm. Lebar celah yang terbentuk pada daerah pertautan dipengaruhi oleh aksesi batang bawah. Aksesi JB dan B3 menunjukkan rata-rata celah yang lebih kecil dibandingkan dengan aksesi S1 dan J2.
Lebarnya celah yang terbentuk menunjukkan pembentukan jembatan kalus yang tidak sempurna sehingga proses pembentukan kambium dan jaringan vaskuler baru menjadi terhambat. Hal ini merupakan penyebab menurunnya transpor air dan unsur hara dari batang bawah ke batang atas. Translokasi zat pengatur tumbuh seperti auksin dan hasil-hasil fotosintesis berupa sukrosa dari tajuk menuju akar melalui jaringan floem juga mengalami hambatan.
Pada beberapa penyambungan akumulasi fenol menyebabkan ketidakteraturan dan kerusakan sel. Hal ini dapat mengubah sistem jaringan floem pada daerah pertautan sambungan sehingga mengganggu translokasi fotosintat dari tajuk menuju akar.
Perbedaan tingkat kompatibilitas sambungan berdampak pada laju pertumbuhan dan produksi tanaman. Kombinasi sambungan yang kompatibel terdapat pada kombinasi JB/3P, B3/3P, S1/3P, J2/3P, B3/3A, dan S1/3A yang selanjutnya dapat dijadikan sebagai kombinasi potensial untuk memacu produksi tanaman jarak pagar pada lahan masam. Sedangkan sambungan yang tidak kompatibel terdapat pada kombinasi JB/3A dan J2/3A.
Kata kunci: Jarak pagar (Jatropha curcas), kompatibilitas, sambungan, lahan masam