• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis “Perubahan Kandungan Karbon dan Nilai Ekonominya pada Konversi Hutan Rawa Gambut Menjadi Hutan Tanaman Industri Pulp” adalah karya saya sendiri di bawah bimbingan Komisi Pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada Perguruan Tinggi manapun. Sumber informasi yang berasal dan/atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam Daftra Pustaka di bagian akhir tesis ini.

Bogor, Agustus 2009 Yanto Rochmayanto NIM E151070304

ABSTRACT

YANTO ROCHMAYANTO. Change of The Carbon Stock and It’s Economic Value on Peatswamp Forest Conversion Towards Pulpwood Industrial Plantation Forest. Under direction of DUDUNG DARUSMAN and TEDDY RUSOLONO.

Peatswamp forests are the important terestrial carbon (C) stock in the world. Now, many pulpwood industrial plantation forests are built on the peatland, and the existence of peatswamp forests progressively threatened. Therefore, research of peatswamp forest conversion effect towards pulpwood industrial plantation forest to the C stock and its economic value are important. The objectives of the research are: (1) to know the change of C stock on peatswamp forest conversion towards pulpwood industrial plantation forest, (2) to get the carbon economic value of peatswamp forest and pulpwood industrial plantation forest, and (3) to evaluate the the role of pulpwood industrial plantation forest on peatland within supporting climate change mitigation. C stocks are counted by allometric equation, and C economics by the economic acceptance of REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation) project approach. The result showed that conversion from logged over and secondary forest causing decrease of C stocks of 103.53 and 61.02 ton/ha/year, while conversion from degraded forest causing increase of C stocks of 22.47 ton/ha/year. Economic value of pulpwood industrial plantation forest was Rp 15.56 million/ha, while economic value of C is different on each forest condition. REDD project on pulpwood industrial plantation forest from degraded land causing increase of NPV of 20.21% and 51.13% for compensation prices US$ 9 and 12/tCO2-e. REDD project with conservation on secondary forest gave lower economic value than pulpwood industrial plantation forest at all compensation prices simulation, and REDD project with preservation logging gave the higher economic value than pulpwood industrial plantation forest at compensation price US$ 12/tCO2-e. REDD project on logged over forest gave the higher economic value than pulpwood plantation at compensation prices US$ 9 and 12/tCO2-e (both on conservation and preservation logging scenario). If woods from natural forest counted as revenue during conversion process, hence minimum of compensation prices were US$ 130.64/ tCO2-e for logged over forest and US$ 109.24/ tCO2-e for secondary forest in order to gave higher economics value than pulpwood industrial plantation forest.

Key words : carbon, peat swamp forest, pulpwood industrial plantation forest, conversion, REDD.

RINGKASAN

YANTO ROCHMAYANTO. Perubahan Kandungan Karbon dan Nilai Ekonominya pada Konversi Hutan Rawa Gambut Menjadi Hutan Tanaman Industri Pulp. Dibimbing oleh DUDUNG DARUSMAN dan TEDDY RUSOLONO.

Hutan rawa gambut merupakan bentuk simpanan karbon yang penting dalam siklus karbon global. Jika dikonservasi dan dikelola dengan benar lahan gambut dapat meningkatkan kemampuannya dalam menyerap karbon. Namun, apabila hutan gambut dikonversi menjadi bentuk penggunaan lain dan mengalami gangguan akan berubah menjadi sumber emisi. Kebutuhan lahan untuk HTI pulp terus bertambah karena konsumsi kertas dunia meningkat, dan saat ini hampir separuh HTI yang ada menggunakan lahan gambut. Pengembangan HTI pulp berpengaruh terhadap peningkatan ekonomi, penyerapan tenaga kerja dan dampak ekonomi lainnya, namun berhubungan dengan degradasi lingkungan. Dalam rangka menjawab kebutuhan kebijakan alternatif, diperlukan kajian pola penggunaan/pemanfaatan lain yang mampu memberikan manfaat ekonomi tinggi tanpa menyebabkan degradasi. Alternatif kebijakan yang saat ini potensial adalah REDD (Reducing Emission from Deforestation and Forest Degradation), yaitu mekanisme pembayaran kompensasi atas penghindaran pemanfaatan lahan yang menyebabkan deforestasi dan degradasi sehingga mampu menahan emisi karbon.

Berdasarkana uraian tersebut maka penelitian ini bertujuan untuk : (1) memperoleh informasi perubahan simpanan karbon pada konversi hutan alam gambut menjadi hutan tanaman penghasil pulp, (2) mendapatkan nilai ekonomi karbon pada hutan alam gambut dan hutan tanaman industri pulp, dan (3) mendapatkan hasil evaluasi peranan HTI di lahan gambut dalam mendukung upaya mitigasi perubahan iklim.

Perubahan simpanan karbon diukur dengan plot contoh 20 m x 50 m pada hutan rawa gambut (bekas tebangan, sekunder dan terdegradasi) dan HTI lahan gambut umur 1-5 tahun. Plot dibuat menggunakan metode sistematik awal acak dengan 3 ulangan pada masing-masing kondisi hutan. Biomasa dihitung dengan persamaan alometrik. Biomasa hutan alam gambut bagian atas permukaan dihitung dengan persamaan W=ρ 0.19D2.37 (W=bobot kering (kg); D=diameter pohon (cm) ; ρ=berat jenis kayu (g/cm3)). Biomasa akar diestimasi menggunakan nisbah tajuk akar sebesar 0.25. Biomasa tegakan HTI Acacia crassicarpa (atas dan bawah permukaan) digunakan persamaan W=0.0267D2.8912. Estimasi jumlah C tersimpan dihitung dengan persamaan C=Biomasa (kg) x 0.5 dan estimasi emisi/serapan karbondioksida dilakukan dengan persamaan CO2=Cx3.67.

Perhitungan nilai ekonomi karbon hutan alam dan HTI pulp didekati dengan nilai proyek REDD pada periode 5 tahunan, dengan mekanisme pembayaran ex-ante full credit. Harga karbon menggunakan harga US$ 6, US$ 9 dan US$ 12/tCO2-e. Nilai ekonomi HTI didekati dengan analisis ekonomi pembangunan HTI pulp sampai penjualan kayu ke industri. Prosedur penilaian ekonomi karbon selanjutnya adalah : (1) apabila kandungan C HTI > kandungan C hutan alam, dilakukan analisis ekonomi partisipasi HTI pulp pada proyek REDD dan komparasi nilai ekonomi HTI pulp murni dengan HTI pulp yang berpartisipasi pada proyek REDD, (2) apabila kandungan C HTI < kandungan C

hutan alam, dilakukan analisis ekonomi proyek REDD dari hutan alam gambut dan komparasi nilai ekonomi HTI pulp dengan nilai ekonomi dari proyek REDD hutan alam. Indikator investasi yang digunakan untuk mengukur status kelayakan aktivitas ekonomi dari pola penggunaan lahan hutan gambut adalah : NPV, BCR dan IRR. Struktur biaya proyek REDD terdiri dari biaya oportunitas dan biaya transaksi. Evaluasi peranan HTI di lahan gambut dirumuskan berdasarkan sintesa dari hasil pemahaman dan penelaahan terhadap hasil penelitian tujuan 1 dan 2.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa konversi hutan gambut bekas tebangan dan sekunder menyebabkan penurunan kandungan C vegetasi masing- masing sebesar 103.53 ton/ha/th dan 61.02 ton/ha/th. Sedangkan konversi pada hutan gambut terdegradasi menyebabkan terjadinya peningkatan kandungan karbon vegetasi sebesar 22.47 ton/ha/th. Nilai ekonomi HTI pulp diperoleh sebesar Rp 15.56 juta/ha. Nilai ekonomi karbon vegetasi berbeda untuk setiap kondisi hutan alam. Proyek REDD HTI pulp dari hutan terdegradasi menyebabkan peningkatan nilai ekonomi sebesar 20.21% dan 51.13% untuk harga satuan kompensasi US$ 9.00 dan 12.00/tCO2-e. Proyek REDD pada hutan gambut sekunder memiliki nilai ekonomi yang lebih kecil pada semua harga kompensasi yang disimulasikan dibanding dengan nilai ekonomi HTI pulp pada skenario UP PAN-KARBON konservasi. Pada skenario UP PAN-KARBON dengan PHPL diperoleh nilai ekonomi yang lebih baik dibandingkan HTI pulp pada harga kompensasi US$ 12.00/tCO2-e. Proyek REDD pada hutan gambut bekas tebangan memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dari HTI pulp pada harga satuan kompensasi US$ 9.00/tCO2-e dan US$ 12.00/tCO2-e pada skenario UP PAN- KARBON dengan konservasi maupun PHPL. Apabila nilai kayu hutan alam dihitung sebagai tambahan penerimaan pada konversi, maka harga satuan kompensasi minimal yang berlaku adalah US$ 130.64/ tCO2-e untuk hutan gambut bekas tebangan dan US$ 109.24/ tCO2-e untuk hutan gambut sekunder.

Berdasarkan hasil penelitian ini dapat disarankan beberapa rekomendasi. (1) Apabila pasar karbon berjalan dengan sempurna, pembangunan HTI di lahan gambut terdegradasi dapat diikutsertakan pada proyek REDD melalui UP RAP- KARBON. Upaya mitigasi perubahan iklim melalui UP PAN-KARBON konservasi maupun PHPL dapat dikonsentrasikan pada hutan gambut bekas tebangan dan sekunder karena memiliki nilai ekonomi yang lebih tinggi dari pengusahaan HTI pulp. (2) Keputusan untuk mengikuti proyek REDD perlu mempertimbangkan harga satuan kompensasi minimum. Harga kopensasi minimum untuk UP RAP-KARBON HTI pulp dari hutan rawa gambut terdegradasi adalah US$ 7.04/tCO2-e. Harga kompensasi minimum UP PAN- KARBON konservasi pada hutan rawa gambut bekas tebangan adalah US$ 8.96/tCO2-e dan untuk UP PAN-KARBON PHPL sebesar US$ 7.61/tCO2-e. Sedangkan harga minimum UP PAN-KARBON konservasi pada hutan sekunder adalah US$ 15.20/tCO2-e dan untuk UP PAN-KARBON PHPL sebesar US$ 9.5/tCO2-e. (3) Nilai ekonomi karbon merupakan salah satu nilai jasa lingkungan yang dapat dijadikan kriteria untuk pengambilan keputusan. Oleh karena itu, agar pertimbangan kebijakan menjadi lebih komprehensif, sebaiknya pertimbangan nilai ekonomi lingkungan lainnya dimasukkan sebagai kriteria pengambilan keputusan.

Kata kunci : karbon, hutan rawa gambut, hutan tanaman industri pulp, konversi, REDD.

© Hak Cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2009

Hak Cipta dilindungi Undang-Undang

Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebut sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar Institut Pertanian Bogor.

Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin Institut Pertanian Bogor.

PERUBAHAN KANDUNGAN KARBON DAN

NILAI EKONOMINYA PADA KONVERSI HUTAN RAWA

GAMBUT MENJADI HUTAN TANAMAN INDUSTRI PULP

YANTO ROCHMAYANTO

Tesis

Sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains

Pada Mayor Ilmu Pengelolaan Hutan

SEKOLAH PASCASARJANA

INSTITUT PERTANIAN BOGOR

BOGOR

2 0 0 9