Dengan ini saya menyatakan bahwa tesis dengan judul ”Penilaian Kepentingan Relatif Perikanan Rakyat dan Perikanan Industri di Indonesia”
adalah karya saya sendiri dengan arahan komisi pembimbing dan belum diajukan dalam bentuk apapun kepada perguruan tinggi manapun. Sumber informasi dikutip dari karya yang diterbitkan dari penulis lain telah disebutkan dalam teks dan dicantumkan dalam daftar pustaka dibagian akhir tesis ini.
Bogor, Februari 2010
Erwin Ambua Parulian Simorangkir NRP C551054144
ABSTRACT
ERWIN AMBUA PARULIANSIMORANGKIR, 2010. An assessment on the relative importance of artisanal fisheries and industrial fisheries in
Indonesia (M. FEDI A. SONDITA, as supervisor, VICTOR P. H.
NIKIJULUW, as co-supervisor)
In order to support capture fishery business and human welfare, Department of Marine and Fisheries, or Departemen Kelautan dan Perikanan published Ministerial Regulation on Marine and Fishery, or Peraturan Menteri Kelautan dan Perikanan, No. PER.17/MEN/2006 about integrated capture fishery business. The regulation is expected to provide strong bases for the development pillars in fishery field, such as pro-growth, pro-poor and pro-job, and creates business sector of capture fishery changing out sphere that promotes investment in marine and fishery sector. The artisanal activity of catching fish in the sea done by two industrial elements: people-based fisheries and industrial-based fisheries. The people-based fisheries involve local fishermen to catch the fish, but the based fisheries are private company. The needs of people-based and industrial-based fisheries are distinct in each province. The distinction could be caused by several factors, such as the characteristic of fish resources, the condition of marine environment, and the characteristic of the people and the policy that implemented in every region. Based on the mentioned reasons, it needs a focus on implementing a policy nationally in every province.
The purpose of this research is: (1) to analyze the role of people-based fisheries and industrial-based fisheries in every province in Indonesia , (2) to analyze the role of people-based fisheries and industrial-based fisheries in national-based fisheries. The Location Quetient (LQ) method is used to determine basis sector so that it is useful to determine an appropriate policy that is implemented in every region (province).
Keywords : pro-growth , pro-poor and pro-job , (pro-business), people-based fisheries, industrial-based fisheries, Location Quotient (LQ).
RINGKASAN
ERWIN A. P. SIMORANGKIR, 2010. Penilaian Kepentingan Relatif Perikanan Rakyat dan Perikanan Industri di Indonesia (M. FEDI A. SONDITA,
sebagai ketua, VICTOR P.H. NIKIJULUW, sebagai anggota komisi
pembimbing)
Kegiatan penangkapan ikan di laut berperan sebagai penyumbang terbesar terhadap produksi perikanan nasional. Pada tahun 2006, produksi perikanan dari penangkapan ikan di laut mencapai 4.468.010 ton sementara produksi perikanan nasional mencapai 7.451.756 ton. Sejak tahun 2001 hingga 2006, produksi perikanan laut ini mengalami peningkatan rata-rata 2,45% per tahun (DKP 2007). Produksi perikanan tangkap tersebut dihasilkan oleh berbagai jenis usaha perikanan tangkap yang didominasi oleh usaha berskala kecil, seperti ditunjukkan oleh proporsi jumlah kapal penangkapan ikan berukuran kurang dari 10 GT yang mencapai 97% dari seluruh kapal perikanan yang ada. Data ini juga sekaligus menunjukkan bahwa usaha perikanan tangkap skala kecil mempunyai peran penting dalam perikanan nasional.
Dalam rangka mendukung kegiatan usaha perikanan tangkap dan kesejahteraan masyarakat, Departemen Kelautan dan Perikanan (DKP) telah menerbitkan Peraturan Menteri (PerMen) Kelautan dan Perikanan nomor PER.17/MEN/2006 tentang Usaha Perikanan Tangkap Terpadu. Peraturan tersebut diharapkan mampu mewujudkan tiga pilar pembangunan dibidang perikanan, yaitu pro-growth (pertumbuhan), pro-poor (pengentasan kemiskinan) dan pro-job (penyerapan tenaga kerja), serta menciptakan iklim usaha yang menunjang untuk mendorong investasi di bidang kelautan dan perikanan (pro-business).
Kajian analisis kepentingan relatif perikanan rakyat dan perikanan industri dalam usaha perikanan tangkap sangat diperlukan untuk mengetahui keragaman atau kelebihan dari setiap provinsi yang diukur dari variabel – variabel yang seperti nelayan, produksi, armada, alat tangkap, olahan hasil perikanan, karena sampai saat ini kepentingan relatif dari kedua skala usaha di tiap wilayah atau provinsi belum diketahui. Implementasi kebijakan growth, poor dan pro-job dapat mempertimbangkan kepentingan relatif dari setiap jenis perikanan tersebut, sehingga nantinya dapat ditentukan bagaimana kebijakan tersebut di atas dapat diterapkan di tiap wilayah. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran perikanan rakyat dan perikanan industri di setiap wilayah provinsi di Indonesia, menganalisis peran perikanan rakyat dan perikanan industri terhadap perikanan nasional.
Kegiatan penangkapan ikan di laut dilakukan oleh dua jenis industri, yaitu perikanan rakyat dan perikanan industri. Jenis industri pertama melibatkan usaha penangkapan ikan yang dilakukan oleh nelayan kecil sedangkan jenis industri kedua melibatkan perusahaan swasta. Kepentingan perikanan rakyat dan perikanan industri tersebut dapat berbeda-beda di setiap provinsi. Perbedaan tersebut dapat disebabkan oleh berbagai faktor, di antaranya adalah karakteristik sumberdaya ikan, keadaan lingkungan laut dan karakteristik masyarakat dan kebijakan yang diterapkan di setiap wilayah.
Berdasarkan gambaran diatas maka perlu adanya fokus dalam menerapkan suatu kebijakan secara nasional pada setiap propinsi. Dapat disimpulkan bahwa penelitian ini. Dilihat dari komposisi–komposisi variabel nelayan, jenis alat penangkapan ikan, jenis kapal penangkapan ikan, jenis penangkap ikan, produksi dan produk olahan, perikanan nasional masih dicirikan oleh perikanan rakyat sedangkan perikanan tangkap disembilan belas (19) provinsi masih didominasi perikanan rakyat sedangkan sebelas (11) provinsi lainnya didominasi oleh perikanan industri. Hal ini menunjukkan bahwa perikanan industri perlu ditingkatkan untuk mendukung perbaikan ekonomi nelayan.
Kata kunci : pro-growth(pertumbuhan), pro-poor(pengentasan kemiskinan) dan pro-job(penyerapan tenaga kerja), (pro-business), perikanan rakyat, perikanan industri, location quotient (LQ).
©
Hak cipta milik Institut Pertanian Bogor, tahun 2010
Hak cipta dilindungi Undang-Undang
Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan atau menyebutkan sumbernya. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik, atau tinjauan suatu masalah; dan pengutipan tersebut tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB
Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis dalam bentuk apapun tanpa izin IPB