BAB II TINJAUAN PUSTAKA
B. Perputaran Aktiva Operasi
Menurut Riyanto (2001:37), “operating assets turnover adalah kecepatan berputarnya operating assets dalam suatu periode tertentu”. Munawir (2004: 88), menyatakan bahwa “operating assets turnover merupakan rasio antara jumlah aktiva yang digunakan dalam operasi terhadap jumlah penjualan yang diperoleh selama periode tersebut”. Rasio perputaran aktiva operasi merupakan ukuran tentang sampai seberapa jauh aktiva ini telah dipergunakan di dalam kegiatan perusahaan atau menunjukkan berapa kali operating assets berputar dalam suatu periode tertentu, biasanya satu tahun.
Wild (2005:21) menjelaskan defenisi aktiva operasi sebagai berikut :
Aktivitas investasi mengacu pada perolehan dan pemeliharaan investasi dengan tujuan menjual produk dan menyediakan jasa, dan untuk tujuan menginvestasikan kelebihan kas. Investasi dalam tanah, bangunan, peralatan, hak legal (paten, lisensi,hak cipta), persediaan, modal manusia (manajer dan karyawan), sistem informasi, dan aktiva sejenis adalah untuk menjalankan operasi bisnis perusahaan. Aktiva-aktiva ini disebut sebagai aktiva operasi (operating assets).
Menurut Munawir (2004:87), yang dimaksud dengan “operating assets
digunakan dalam kegiatan atau usaha memperoleh penghasilan yang rutin atau usaha pokok perusahaan”.
Perputaran aktiva operasi diukur dengan rasio yang menghubungkan antara penjualan dengan aktiva yang digunakan. Perputaran aktiva operasi (Operating assets turnover) merupakan rasio antara jumlah aktiva yang digunakan dalam operasi (operating assets) terhadap jumlah penjualan yang diperoleh selama periode tersebut. Menurut Riyanto (2001:38) Operating Assets Turnover (OAT) dapat dihitung dengan menggunakan formula:
Assets Operating
Sales OAT =
Rasio perputaran aktiva operasi merupakan ukuran tentang sampai seberapa jauh aktiva ini telah dipergunakan di dalam kegiatan perusahaan atau menunjukkan berapa kali operating assets berputar dalam suatu periode tertentu, biasanya satu tahun. Kemungkinan turunnya penjualan akan mempengaruhi rasio ini. Operating assets turnover diharapkan akan semakin baik yang berarti pemakaian lebih efisien. Tingkat perputaran aktiva operasi selama periode tertentu ditentukan oleh dua faktor yaitu net sales dan operating assets. Dengan jumlah
operating assets tertentu, makin besarnya jumlah penjualan selama periode tertentu mengakibatkan makin tinggi perputarannya. Apabila dihubungkan dengan profit margin yang tetap dan operating assets turnover yang semakin tinggi, maka akan menghasilkan rentabilitas yang makin tinggi.
Menurut Riyanto (2001:40), usaha untuk mempertinggi operating assets turnover dapat dilakukan dengan cara menambah modal usaha (operating assets)
besarnya. Selain itu, dapat dilakukan dengan mengurangi penjualan sampai tingkat tertentu diusahakan penurunan atau pengurangan operating assets sebesar-besarnya.
C. Rentabilitas
Menurut Munawir (2004:86), “rentabilitas atau profitabilitas adalah menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba selama periode tertentu”. Riyanto (2001:35), mengemukakan bahwa “rentabilitas suatu perusahaan menunjukkan perbandingan antara laba dengan aktiva atau modal yang menghasilkan laba tersebut”.
Modal perusahaan pada dasarnya dapat berasal dari pemilik perusahaan (modal sendiri) dan dari para kreditur (modal asing). Sehubungan dengan adanya sumber modal tersebut, maka rentabilitas suatu perusahaan dapat dihitung dengan dua cara: yaitu (1) perbandingan antara laba usaha dengan seluruh modal yang digunakan (modal sendiri dan modal asing) yang disebut dengan rentabilitas ekonomi dan (2) perbandingan antara laba yang tersedia untuk pemilik perusahaan dengan jumlah modal sendiri yang dimasukkan oleh pemilik perusahaan tersebut, yang disebut rentabilitas modal sendiri atau rentabilitas usaha.
Modal yang diperhitungkan untuk menghitung rentabilitas ekonomi hanyalah modal yang bekerja di dalam perusahaan (operating capital/assets). Dengan demikian modal yang ditanamkan perusahaan dalam perusahaan lain atau modal yang ditanamkan dalam efek (kecuali perusahaan-perusahaan kredit) tidak diperhitungkan dalam menghitung rentabilitas ekonomi.
Demikian juga dengan laba yang diperhitungkan untuk menghitung rentabilitas ekonomi hanyalah laba yang berasal dari operasinya perusahaan, yaitu yang disebut laba usaha (net operating income). Dengan demikian maka yang diperoleh dari usaha-usaha di luar perusahaan atau dari efek (misalnya deviden, kupon dan lain-lain) tidak diperhitungkan dalam menghitung rentabilitas ekonomi.
Bagi perusahaan pada umumnya masalah rentabilitas adalah lebih penting daripada masalah laba, karena laba yang besar saja belum merupakan ukuran bahwa perusahaan itu telah dapat bekerja dengan efisien. Efisiensi baru dapat diketahui dengan membandingkan laba yang diperoleh itu dengan kekayaan atau modal yang menghasilkan laba tersebut, atau dengan kata lain dengan menghitung rentabilitasnya.
Menurut Bambang Riyanto (2001:37), bahwa tinggi rendahnya rentabilitas ekonomi ditentukan oleh dua faktor, yaitu :
1. Profit margin
Profit margin yaitu tingkat keuntungan yang diperoleh dari operasi perusahaan dalam satu periode. Profit margin menggambarkan tingkat pendapatan atau penjualan yang diperoleh dari operasi perusahaan, dapat dicari dengan rumus :
Profit margin = x100% Sales Net Income Operating Net
Besar kecilnya profit margin ditentukan oleh dua faktor yaitu net sales dan laba usaha (net operating income). Besar kecilnya laba usaha atau net
operating income tergantung pada pendapatan dari sales dan besarnya biaya usaha (operating expense).
2. Turnover of operating assets (tingkat perputaran aktiva usaha)
Turnover of operating assets yaitu tingkat perputaran usaha dalam satu periode, biasanya satu tahun, berapa kali perputaran aktiva usaha dalam satu tahun. Turnover of operating assets mengukur sampai seberapa jauh perputaran aktiva dipakai dalam perusahaan yang menunjukkan berapa kali
operating assets berputar dalam suatu periode, dapat dihitung dengan rumus :
Turnover of operating assets = x kali Assets Operating Net Sales Net 1
Dengan demikian dapatlah dikatakan bahwa profit margin dimaksudkan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan melihat kepada besar kecilnya laba usaha dalam hubungannya dengan sales, sedangkan operating assets turnover
dimaksudkan untuk mengetahui efisiensi perusahaan dengan melihat kepada kecepatan perputaran operating assets dalam suatu periode tertentu. Hasil akhir dari percampuran kedua efisiensi profit margin dan operating assets turnover
menentukan tinggi rendahnya earning power / rentabilitas ekonomis. Oleh karena itu, makin tingginya tingkat profit margin atau operating assets turnover masing-masing atau kedua-duanya akan mengakibatkan naiknya earning power. Menurut Riyanto (2001: 38), hubungan antara “profit margin” atau “operating assets turnover” dengan earning power dapat digambarkan sebagai berikut :
Assets Operating Net Income Operating Net Assets Operating Net Sales Net x Sales Net Income Operating Net =
Beberapa cara untuk meningkatkan rentabilitas ekonomi antara lain sebagai berikut (Riyanto, 2001:39) :
a. menaikkan profit margin yaitu dengan jalan menambah biaya usaha
(operating expenses) sampai tingkat tertentu diusahakan tercapainya tambahan
sales sebesar-besarnya, atau dengan kata lain, tambahan sales harus lebih besar daripada tambahan operating expenses. Pengertian menaikkan tingkat penjualan ini dapat berarti memperbesar pendapatan dari penjualan dengan cara :
1) memperbesar volume penjualan unit pada tingkat harga penjualan tertentu, atau
2) menaikkan harga penjualan per unit produk pada luas penjualan dalam unit tertentu.
b. menaikkan profit margin dengan mengurangi pendapatan dari sales sampai tingkat tertentu diusahakan adanya pengurangan operating expenses yang sebesar-besarnya,
c. menaikkan turnover of operating assets dengan menambah modal usaha
(operating assets) sampai tingkat tertentu diusahakan tercapainya tambahan
sales yang sebesar-besarnya,
d. menaikkan turnover of operating assets dengan mengurangi sales sampai tingkat tertentu diusahakan penurunan atau pengurangan operating assets