BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1.2.3 Perputaran Total Aktiva
Menurut Sugiyarso dan winarni dalam Silitonga (2005:117), Perputaran total aktiva (total asset turnover) menunjukkan bagaimana efektivitas perusahaan dalam menggunakan keseluruhan aktiva untuk menciptakan penjualan dan mendapatkan laba. Dengan demikian perputaran total aktiva dapat dicari dengan membagi penjualan dengan total aktiva.
Menurut Horne dan Wachowicz (2005:222) total assets turnover menunjukkkan efisiensi relatif penggunaan total aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan. Semakin tinggi rasio total assets turnover berarti semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva didalam meghasilkan penjualan.
kali x lAsset Tota Sales Net TATO= 1 2.1.3 Return on Assets
Menurut Harahap (2008:305): “Return on assets merupakan rasio yang menggambarkan perputaran aktiva diukur dari volume penjulan”. Semakin besar rasio ini semakin baik. Hal ini berarti bahwa aktiva dapat lebih cepat berputar dan meraih laba.
Pengembalian atas aktiva (ROA) pada bentuk yang paling sederhana dihitung sebagi berikut: (Sjahrial, 2006:47))
Aktiva Total Pajak Setelah Bersih Laba ROA=
ROA dapt dipisahkan menjadi komponen yang memiliki makna relative terhadap penjualan. Penjualan merupakan kriteria penting untuk menilai profitabilitas perusahaan dan merupakan indikator utama atas aktivitas perusahaan (sjahrial, 2006:47). Pemisahaan komponen ROA adalah sebagai berikut:
Aktiva Penjualan x Penjualan Laba Aktiva Laba =
Rasio pertama yang mengidentifikasikan laba sebagai persentase dari penjualan sering disebut margin laba bersih. Rasio tersebut merupakan ukuran yang baik dan digunakan hampir secara universal dalam memantau profitabilitas perusahaan. Rasio kedua yang memperhatikan total penjualan yang dicapai perusahaan dalam hubungannya dengan total aktiva, merupakan ukuran yang kurang ditekankan untuk menilai kinerja perusahaan. Walaupun demikian,
kontribusi rasio ini terhadap Return on Assets sama kuat dengan rasio margin laba.
Hubungan laba dengan penjualan disebut margin laba (profit margin). Perusahaan dengan margin laba yang rendah seringkali menemukan bahwa perubahan selera dan teknologi membutuhkan pendanaan investasi pada aktiva untuk mendanai penjualan, jika tidak maka produksinnya tidak lagi menghasilkan uang. Terdapat kecendrungan untuk melihat margin laba sebagai tanda kualitas laba yang tinggi. Perusahaan perlu menekankan pentingnya pengembalian atas investasi modal sebagi pengujian profitabilitas utama. Profit margin dipengaruhi oleh laba yaitu penjualan sesudah dikurangi seluruh biaya termasuk pajak dibandingkan dengan penjualan. Semakin tingginya profit margin semakin baik operasi suatu perusahaan karena menampakkan keberhasilannya dalam meningkatkan penjualan yang dibarengi dengan peningkatan yang sangat besar dalam pengorbanan biaya.
2.2 Penelitian Terdahulu
Siregar (2008), melakukan penelitian dengan judul: “ Analisis Hubungan Manajemen Modal kerja dengan Rentabilitas pada PT. Kimia Farma (persero) Tbk Plant Medan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui dan menganalisis Hubungan Manajemen Modal kerja dengan Rentabilitas pada PT. Kimia Farma (persero) Tbk Plant Medan. Hasil dari penelitian ini berdasarkan analisis deskriptif diperoleh bahwa pergerakan current ratio dan receivable turnover
ratio dan receivable turnover memiliki hubungan yang positif dan signifikan
dengan ROI sedangkan working capital turnover memiliki hubungan yang positif dan tidak signifikan dengan ROI.
Silitonga (2011), melakukan penelitian dengan judul: “ Analisis Hubungan Efektivitas Modal Kerja, Perputaran Total Aktiva dan Rasio Hutang terhadap Rentabilitas pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia”. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui dan menganalisis Hubungan Efektivitas Modal Kerja, Perputaran Total Aktiva dan Rasio Hutang terhadap Rentabilitas pada Perusahaan Manufaktur di Bursa Efek Indonesia. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa variabel Working Capital Turnover tidak berhubungan secara positif dan signifikan dengan rentabilitas (ROI), Total Asset Turnover berhubungan secara positif dan signifikan dengan rentabilitas (ROI) dan rasio hutang berhubungan secara negatif dan signifikan dengan rentabilitas (ROI).
2.3 Kerangka Konseptual
Setiap perusahaan berusaha meningkatkan labanya agar perusahaan tersebut dapat bertahan dari segala tantangan yang dihadapinya, oleh karena itu perusahaan perlu mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi perubahan dari profitabilitas .
Efektivitas dari dana yang diinvestasikan merupakan salah satu faktor yang dapat mempengaruhi profitabilitas. Berdasarkan hubungan antara penjualan neto dengan modal kerja tersebut dapat diketahui juga apakah perusahaan bekerja dengan modal kerja yang tinggi atau bekerja dengan modal kerja yang rendah
(Djarwanto 2004:159). Semakin tinggi working capital turnover maka semakin tinggi kemampuan perusahaan memperoleh laba. Hal ini sesuai dengan pendapat Syamsuddin (2004:48) yang mengatakan bahwa semakin tinggi perputaran (turnover) dana yang diperoleh maka semakin efisien perusahaan di dalam melaksanakan operasinya sehingga semakin besar peluang perusahaan dalam mendapatkan laba atas dana yang ditanam.
Untuk mengukur pendayagunaan aktiva usaha dalam menghasilkan penjualan dapat dinilai dengan rasio Total Asset Turnover (TATO). Menurut Horne dan Wachowicz (2005:222) total assets turnover menunjukkkan efisiensi relatif penggunaan total aktiva perusahaan untuk menghasilkan penjualan. Semakin tinggi rasio total assets turnover berarti semakin efisien penggunaan keseluruhan aktiva didalam meghasilkan penjualan.
TATO yang rendah menunjukkan perusahaan tidak menghasilkan cukup banyak volume penjualan dalam bisnis. Perusahaan sebaiknya melakukan langkah-langkah untuk meningkatkan penjualan dengan cara menjual beberapa asset, atau kombinasi dari keduanya (Brigham dan Houston, 2006:100), selain itu perusahaan juga dapat mengurangi investasi aktiva tetapnya melalui sewa atau
leasing peralatan dan mesin dan dengan total aktiva yang optimal diharapkan
tercapai efektivitas penggunaan aktiva yang diperlihatkan melalui perputaran aktiva yang pada akhirnya berdampak terhadap profitabilitas perusahaan.
Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang dikemukakan sebelumnya, maka kerangka konseptual dalam penelitian ini dapat digambarkan
Sumber: Djarwanto (2004), Syamsudin (2004),Horne dan Wachowicz (2005) dan Brigham dan Houston (2009) dimodifikasi
Gambar 2.1. Kerangka Konseptual 2.4 Hipotesis
Hipotesis atau jawaban sementara atas permasalahan yang dikemukakan adalah sebagai berikut:
1. Terdapat hubungan yang signifikan antara variabel perputaran modal kerja dengan return on asset pada perusahaan kosmetik dan barang keperluan rumah tangga di Bursa Efek Indonesia
2. Terdapat hubungan yang signifikan antara variabel perputaran total aktiva dengan return on asset pada perusahaan kosmetik dan barang keperluan rumah tangga di Bursa Efek Indonesia
Perputaran modal kerja (X1)
ROA (Y) Perputaran total aktiva (X2)