• Tidak ada hasil yang ditemukan

B. Persaingan Bisnis Dalam Perspektif Islam

3. Persaingan Bisnis Sesuai Syariah Islam

Sebagamana kita ketahui, dalam dunia bisnis seorang pebisnis (wira usaha) nampaknya tidak dapat terpisahkan dari aktivitas persaingan. Dengan kata lain, aktivitas bersaing dalam bisnis antara pebisnis satu dengan yang lainnya tidak dapat dihindarkan. Sebagai seorang pebisnis

muslim, kita harus memahami kalau dalam ajaran islam dianjurkan agar para utamanya untuk melakukan perlombaan dalam mencari kebaikan di segala hal, termasuk diantaranya dalam hal bisnis. Oleh karena itu, walupun sedang mengalami kondisi persaingan, pebisnis muslim bisa berusaha menghadapinya dan tanpa merugikan orang lain.

Islam sebagai sebuah aturan hidup yanh khas, telah memberikan aturan-aturannya yang rinci untuk menghindarkan munculnya permasalahan akibat praktek persaingan yang tidak sehat. “Minimal ada tiga unsur yang perlu dicermati dalam membahas persaingan bisnis menurut islam yaitu: (1) pihak-pihak yang bersaing, (2) cara persaingan, dan (3) produk atau jasa

yang dipersaingkan.60

a. Pihak-pihak yang Bersaing

Manusia merupakan pusat pengendalian bisnis. Ia akan menjalankan bisnisnya terkait dengan perdagangan, tentang bisnis yang digelutinya. Hal terpenting yang berkaitan dengan faktor manusia adalah segi motivasi dan landasan ketika ia menjalankan praktik bisnisnya, termasuk persaingan yang terjadi didalamnya.Bagi seorang muslim,

bisnis yang dia lakukan adalah rangka memperoleh dan

mengembangkan kepemilikan harta. Harta yang dia peroleh tersebut adalah rezeki yang merupakan karunia yang telah ditetapkan Allah.

60

www.bprsyariah.com/.../83: persyaingan-bisnis-sesuai-syariah (download 15,45 wib – 5 November 2017)

Rezeki tidak akan lari kemana-mana. Bila bukan rezekinya, sekuat apapun orang mengusahakan, ia tidak akan mendapatkannya.

Tugas kita adalah melakukan usaha untuk mendapatkan rezeki dengan cara yang sebaik-baiknya. Salah satunya dengan jalan berbisnis. Kita tidak takut sedikitpun akan kekurangan rezeki atau kehilangan rezeki hanya karena anggapan rezeki itu diambil pesaing.

Firman Allah SWT, dalam Surat Al-Mulk: ayat 15, bahwa :

 

Artinya: Dia telah menjadikan bumi ini takluk kepadamu, karenanya

berlanglang buanalah ke segenap penjurunya, makanlah dari rezeki pemebrian-Nya. Kepada-Nya kamu sekalian bakal dibangkitkan

kembali.(Q.S. Al-Mulk (67): 15)61

Keyakinan bahwa rezeki semata-mata datang dari Allah SWT akan menjadi kekuatan ruhiyah yang kokoh dalam berbisnis. Selama berbisnis, seorang muslim seantiasa sandarkan segala sesuatunya kepada Allah. Manakala bisnisnya memenangkan persaingan, bersyukur. Sebaliknya, ketika terpuruk dalam bersaing dan bersabar. Intinya, segala keadaan yang dihadapi dengan sikap positif tanpa

61

meninggalkan hal-hal prinsip yang telah Allah perintahkan kepadanya.

Karenanya, seorang muslim akan memandang berbisnis sebagai pelaksanaan perintah Allah untuk bertebaran dimuka bumi dalam mencari karunianya. Karena itu, tidak terpikir olehnya untuk menghalalkan segala cara untuk sekedar “memenangkan” persaingan. Baginya, yang disebut persaingan adalah berbuat menjadi terbaik. Terbaik dihadapan Allah yang dicapai dengan cara sesuatu rencana untuk tetap setia menaati setiap aturan-Nya dalam berbisnis, sedangkan terbaik dihadapan manusia dengan menjalankan bisnis dengan produk yang bermutu, harga bersaing, dan dengan pelayanan total.



Artinya: Kami sudah jadikan waktu malam sebagai pakaian; Kamii

sudah jadikan waktu siang untuk mencari penghidupan” (Q.S. An

-Naba : 10-11)62

Dalam hal kerja, islam memerintahkan setiap muslim untuk memiliki etos kerja yang tinggi, “Berusaha dan bekerja adalah bagian yang tidak terpisahkan dari ajaran islam, sebagian agama yang syamil,

62

maka tidak lengkap keislamaan seseorang tanpaa adanya pekerjaan, tentunya yang dimaksudkan adalah pekerjaan tetap maupun wirausaha”.63

b. Segi Cara Bersaing

Berbisnis adalah bagian dari muamaalah. Krenanya, bisnis juga tidak terlepas dari hukum-hukum yang mengatur msaalah muamlah. Karenanya, persaingan bebas yang menghalalkan segala cara dihilangkaan karena bertentaangan dengan prinsip-prinsip muamalah islam.

Dalam berbisnis, setiap orang akan berhubungan dengan pihak-pihak lain seperti rekanan bisnis dan pesaing bisnis. Sebagai hubungan interpersonal, seorang pebisnis muslim tetap harus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada mitra bisnisnya.

Dalam berhubungan dengan rekanan bisnis, setaip pebisnis

muslimah haruslah memperh64atikan hukum-hukum islam yang

berkaitan dengan akad-akad bisnis. Dalam berakad, haruslah sesuai dengan kenyataan tanpa manipulasi. Misalnya saja, memberikan sampel produk dengan kualitas yang sangat baik, padahal produk yang dikirimkan itu memeiliki kualitas jelek.

63

Fadilah, Nur, Membuka Rahasia Rasulullah Dalam Berbisnis, Cetakan Pertama, Genius Publisher, Yogyakarta: 2012, h. 31

64

Rasulallah SAW, memberikan contoh bagaimana bersaing

dengan baik. Ketika berdagang, “Rasul tidak pernah melakukan usaha

untuk menghancurkan pesaing dagangannya. Walaupun ini tidak berarti Rasulallah SAW berdagang seadanya tanpa memperhatikan daya saingnya, yang beliau lakukan adalah memberikan pelayanan sebiak-baiknya dan menyebutkan spesifikasi barang yang dijual dengan jujur termasuk jika ada cacat pada barang tersebut”

Secara alami, hal-hal seperti ini ternyata justru mampu meningkatkan kualitas penjualan dan menarik para pembeli tanpa menghancurkan pedagang lainnya, kecuali itu juga, pemerintah harus mampu menjamin terciptanya sistem yang kondusif dalam persaingan. c. Produk (Barang dan Jasa) yang Dipersaingkan

Berapa keunggulan baru yang dapat digunakan untuk meningkatkan

daya saing adalah sebagai berikut:65

1) Produk; usaha bisnis yang dipersaingkan baik barang maupun jasa harus halal. Spesifikasinya harus sesuai dengan apa yang diharapkan konsumen untuk menghindari penipuan. Kualitasnya terjamin dan bersaing.

2) Harga; Bila ingin memenngkan persaingan, harga produk harus kompetitif. Dalam hal ini, tidak diperkenankan membanting harga dengan tujuan menjatuhkan pesaing.

65

3) Tempat; Tempat usaha harus baik, sehat, bersih, dan nyaman. Harus juga dihindarkan melengkapi tempat usaha itu dengan hal-hal yang dihaaramkan untk sekedar enarik pembeli.

4) Pelayanan; Harus diberikan dengan ramah, tapi tidak boleh dengan cara yang mendekati maksiat.

5) Layanan Purna Jual; merupakan servis yang akan melanggengkan pelanggan. Akan tetapi, ini diberikan cengan Cuma-Cuma atau sesuai deangan akad.

Selanjutnya kita harus melihat dari produk (Barang dan Jasa) yang dipersingkan: Produk harus halal, menghidari penipuan, kualitasnya terjamin dan bersaing. Harga yang kompetitif. Tempat usaha harus baik, sehat, bersih, dan nyaman. Pelayanan harus diberikan dengan ramah. Layanan purna jual merupakan servis yang akan melanggengkan pelayanan.

Dari penjelsan diatas bisa diambil kesimpulan bahwa dalam bersaing kita sebagai seorang muslim harus menganggap sebagai

kewajiban. Tugas tersebut adalah melakukan usaha untuk

mendapaatkan rezeki dengan cara yang sebaik-baiknya.

Selama berbisnis, seorang muslim senantiasa sandarkan segala sesuatunya kepada Allah SWT. Segala keadaan dihadapi dengan sikap

positif tanpa meninggalkan hal-hal prinsip yang telah Allah perintahkan kepadanya.

Sebagaimana teralah memerintahkan umatnya untuk berlomba-lomba dalam kebaikan. Sedangkan kita lihat dari segi cara bersaing adalah persaingan bebas yang menghalalkan segala cara dihilangkan karena bertentangan dengan prinsip-prinsip muamalah islam.

Sebagai hubungan interpersonal, seorang pebisnis muslimah tetap harus berupaya memberikan pelayanan terbaik kepada mitra bisnisnya. Menghindari pemebrian suap untuk memuluskan negosiasi, setiap pebisnis muslimah haruslah memperhatikan hukum-hukum islam yang berkaitan dengan akad-akad bisnis. Dalam pelaksanaan bisnis Nabi Muhammad SAW, telah memberikan contoh pelayanan yang sebaik-baiknya dan menyebutkan spesifikasi barabf yang dijual dengan jujur termasuk jika ada cacat pada barang tersebut sebelumnya pasti diberitahukan pada pihak pembeli, demikianlah tuntutan berbisnis yang telah diteladani oleh Rasulullah SAW.

Dokumen terkait