I. PENDAHULUAN
5.5. Model Ekonometrika Struktural
5.5.1. Persamaan Dalam Model Ekonometrika Utang Luar Negeri
Pembelanjaan yang dilakukan oleh masyarakat untuk membeli barang dan jasa kebutuhannya pada suatu tahun tertentu dinamakan konsumsi rumah tangga. Besarnya nilai konsumsi rumah tangga ini dipengaruhi oleh pendapatan disposebel, tingkat pengangguran serta oleh belanja rutin pemerintah. Variabel bedakala (lags) konsumsi rumah tangga dimasukkan ke dalam persamaan untuk melihat dinamikanya terhadap konsumsi rumah tangga tahun berjalan. Dengan demikian persamaan konsumsi rumah tangga dapat dispesifikasikan sebagai berikut:
KONSt = a1DINCt + a2UNEMt + a3BLJRTNt + a4KONSt-1 + u1 . . . (5.1) dimana:
KONSt = Konsumsi rumah tangga (juta rupiah) DINCt = Pendapatan disposebel (juta rupiah) UNEMt = Angka pengangguran (ribu orang)
BLJRTNt = Belanja rutin pemerintah (juta rupiah)
KONSt-1 = Konsumsi rumah tangga bedakala satu tahun (juta rupiah) u1 = Terminologi gangguan
Harapan tanda pada koefisien-koefisien parameter dalam persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
a1, a3 > 0 a2 < 1 0 < a4 < 1 2. Investasi Masyarakat
Perilaku investasi masyarakat pada umumnya tergantung pada tingkat suku bunga, dimana tingkat suku bunga yang tinggi akan menghambat investasi, sementara tingkat suku bunga yang rendah akan mendorong investasi. Suku bunga yang mempengaruhi investasi masyarakat adalah suku bunga domestik, yang perilakunya dipengaruhi oleh fluktuasi suku bunga dunia. Selain itu, investasi masyarakat juga dipengaruhi oleh besarnya belanja pembangunan pemerintah. Variabel bedakala (lags) investasi masyarakat diperhitungkan ke dalam persamaan untuk melihat dinamikanya terhadap nilai investasi pada tahun berjalan. Dengan demikian persamaan investasi masyarakat dan tingkat suku bunga domestik dapat dispesifikasikan sebagai berikut:
INVESTt = b0 + b1DINTRt + b2BLJPMBt + b3INVESTt-1 + u2 . . . (5.2) DINTRt = c0 + c1WINTRt + c2GMSPLYt + u3 . . . (5.3)
dimana:
INVESTt = Investasi masyarakat (juta rupiah) DINTRt = Tingkat suku bunga domestik (persen)
BLJPMBt = Belanja pembangunan pemerintah (juta rupiah)
WINTRt = Rata-rata tingkat suku bunga pinjaman luar negeri (persen) GMSPLYt = Pertumbuhan jumlah uang beredar (persen)
INVESTt-1 = Investasi masyarakat bedakala satu tahun (juta rupiah)
u2,u3 = Terminologi gangguan
Harapan tanda pada koefisien-koefisien parameter dalam persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
b2,c1 > 0 b1, c2 < 0 0 < b3 < 1 3. Net Ekspor
Besarnya nilai net ekspor Indonesia, yang merupakan selisih antara ekspor dan impor diasumsikan merupakan fungsi dari nilai tukar (exchange rate) dan tingkat rata-rata suku bunga dunia. Variabel bedakala (lags) net ekspor diperhitungkan ke dalam persamaan untuk melihat dinamikanya terhadap nilai
net ekspor pada tahun berjalan. Dengan demikian persamaan net ekspor Indonesia dapat dispesifikasikan sebagai berikut:
NXPRTt = d1WINTRt + d2EXCRt + d3NXPRTt-1 + u4 . . . (5.4) dimana:
NXPRTt = EXPRTt - IMPRTt = Nilai ekspor bersih (juta rupiah)
WINTRt = Rata-rata tingkat suku bunga dunia (persen)
EXCRt = Perbandingan nilai tukar mata uang USD terhadap Rupiah
NXPRTt-1 = Nilai net ekspor bedakala satu tahun (juta rupiah)
u4 = Terminologi gangguan
Harapan tanda pada koefisien-koefisien parameter dalam persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
d1, d 2 > 0 0 < d3 < 1 4. Pendapatan Pemerintah
Pendapatan pemerintah berasal dari penerimaan dalam negeri yang meliputi penerimaan pajak dan bukan pajak, serta penerimaan hibah. Besarnya pendapatan pemerintah ini dipengaruhi oleh target belanja pemerintah yang akan dilakukan pada tahun yang bersangkutan. Disamping itu, besarnya pendapatan pemerintah pada tahun sebelumnya juga mempengaruhi keputusan pemerintah dalam menentukan besarnya pendapatan pemerintah tahun berjalan. Variabel bedakala (lags) pendapatan pemerintah diperhitungkan ke dalam persamaan untuk melihat dinamikanya terhadap nilai pendapatan pemerintah pada tahun berjalan. Dengan demikian persamaan pendapatan pemerintah pada tahun berjalan dapat dispesifikasikan sebagai berikut:
GOREVt = e0 + e1GOEXPt + e2DINTRt + e3GOREVt-1+ u5 . . . (5.5) dimana:
GOREV t = Pendapatan pemerintah (juta rupiah)
GOEXPt = Belanja pemerintah (juta rupiah)
GOREVt-1 = Pendapatan pemerintah bedakala satu tahun (juta rupiah)
u5 = Terminologi gangguan
DINTRt telah didefinisikan sebelumnya.
Harapan tanda pada koefisien-koefisien parameter pada persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
5. Belanja Pembangunan Sektor Pendidikan
Pembangunan di bidang pendidikan menjadi salah satu prioritas utama bagi pemerintah dalam melaksanakan pembangunan nasional. Pendidikan menjadi landasan kuat yang diperlukan untuk meraih kemajuan bangsa di masa depan. Bahkan yang lebih penting lagi, pendidikan menjadi bekal dalam menghadapi era global yang sarat dengan persaingan antarbangsa yang berlangsung sangat ketat. Pembiayaan yang dibutuhkan untuk pembangunan sektor pendidikan tidak hanya berasal dari dalam negeri saja tetapi juga berasal dari utang luar negeri.
Besarnya pembiayaan rupiah murni yang dialokasikan untuk pembangunan sektor pendidikan dipengaruhi oleh beberapa hal, yang antara lain adalah pendapatan pemerintah, alokasi belanja rutin (belanja mengikat), serta angka partisipasi sekolah dan angka lama tahun bersekolah pada tahun sebelumnya. Selain itu, pembangunan sektor kesehatan juga didanai dari utang luar negeri yang besarnya dipengaruhi oleh besarnya alokasi rupiah untuk sektor pendidikan, pembayaran utang luar negeri sektor pendidikan, kebijakan kreditur (lender driven) dalam pengelolaan piutangnya, serta tingkat suku bunga pinjaman/ utang luar negeri.
Pinjaman yang diambil oleh pemerintah ini umumnya berasal dari lembaga multilateral dan bilateral yang tingkat bunganya menggunakan commercial
reference sebagai basis, seperti World Bank melalui International Bank for
Reconstruction and Development (IBRD), ADB melalui Ordinary Capital
Resources (OCR), pinjaman non-ODA dari JBIC, dan lain-lain. Commercial
reference yang sering digunakan oleh lembaga-lembaga tersebut adalah LIBOR
(London InterBank Offered Rate) yang biasanya ditambah marjin tertentu. Contohnya IBRD dan OCR biasanya menawarkan tingkat bunga berdasarkan LIBOR ditambah marjin 30 - 50 basis points, tergantung dari suku bunga dunia dan peringkat kredit dari negara peminjam.
Variabel bedakala (lags) diperhitungkan ke dalam persamaan untuk melihat dinamika pendanaan pada tahun berjalan. Dengan demikian persamaan belanja pembangunan sektor pendidikan dapat dispesifikasikan sebagai berikut:
RPDIKt = f1GOREVt + f2BLJRTNt + f3APSt-1 + f4GTHSEKt-1
LIBORt = g1WINTRt + g2RPREMt+ g3LIBORt-1 + u7 . . . (5.7) UTDIKt = h1GRPDIKt + h2PUDIKt+ h3DRVDIKt + h2LIBORt
+ h4UTDIKt-1 + u8 . . . (5.8) dimana:
RPDIKt = Belanja pembangunan sektor pendidikan dari rupiah murni (juta rupiah)
APSt-1 = Angka partisipasi sekolah anak kelompok usia 7-12 tahun
bedakala satu tahun (persen)
GTHSEKt-1 = Pertumbuhan angka lama bersekolah anak kelompok usia 13-15 tahun bedakala satu tahun (tahun)
RPDIKt-1 = Belanja pembangunan sektor pendidikan dari rupiah murni
bedakala satu tahun (juta rupiah)
LIBORt = Tingkat bunga London InterBank Offered Rate (persen)
RPREMt = Peringkat kredit negara peminjam
UTDIKt = Belanja pembangunan sektor pendidikan dari utang luar negeri (juta rupiah)
GRPDIKt = Pertumbuhan belanja pembangunan sektor pendidikan dari
rupiah murni (juta rupiah)
PUDIKt = Pembayaran utang luar negeri sektor pendidikan (juta rupiah)
DRVDIKt = Lender Driven sektor pendidikan (juta rupiah)
UTDIKt-1 = Belanja pembangunan sektor pendidikan dari utang luar negeri bedakala satu tahun (juta rupiah)
u6,u7, u8 = Terminologi gangguan
GOREVt, BLJRTNt, WINTRt telah didefinisikan sebelumnya.
Harapan tanda pada koefisien-koefisien parameter dalam persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
f1, g1, g2 h2, h3 > 0 f2, f3, f4, h1, h4 < 0 0 < f5, g3, h5 < 1 6. Belanja Pembangunan Sektor Kesehatan
Pembangunan sektor kesehatan merupakan investasi untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia. Dalam pengukuran Indeks Pembangunan Manusia (IPM), kesehatan menjadi salah satu komponen yang utama. Pembiayaan yang dibutuhkan untuk pembangunan sektor kesehatan tidak hanya berasal dari dana dalam negeri saja tetapi juga berasal dari utang luar negeri.
Besarnya pembiayaan rupiah murni pembangunan sektor kesehatan ditentukan oleh pendapatan pemerintah, alokasi belanja rutin, serta besarnya angka kematian bayi dan angka usia harapan hidup tahun sebelumnya.
Disamping itu pendanaan yang efektif berasal dari utang luar negeri dipengaruhi oleh besarnya alokasi rupiah untuk sektor kesehatan, pembayaran utang luar negeri sektor kesehatan, kebijakan kreditur (lender driven) dalam pengelolaan piutangnya, serta tingkat bunga pinjaman utang luar negeri.
Variabel bedakala (lags) diperhitungkan ke dalam persamaan untuk melihat dinamika pendanaannya pada tahun berjalan. Dengan demikian persamaan belanja pembangunan sektor kesehatan dapat dispesifikasikan sebagai berikut:
RPKESt = i1GOREVt + i2BLJRTNt + i3DAKBt + i4UHHt-1
+ i5RPKESt-1 + u9 . . . (5.9) UTKESt = j1RPKESt + j2PUKESt+ j3DRVKESt+ j4LIBORt
+ j5UTKESt-1 + u10 . . . (5.10) dimana:
RPKESt = Belanja pembangunan sektor kesehatan dari rupiah murni (juta rupiah)
DAKBt = Selisih angka kematian bayi per 1000 kelahiran tahun
sekarang dengan tahun sebelumnya (bayi)
UHHt-1 = Angka usia harapan hidup bedakala satu tahun (tahun)
RPKESt-1 = Belanja pembangunan sektor kesehatan dari rupiah murni
bedakala satu tahun (juta rupiah)
UTKESt = Belanja pembangunan sektor kesehatan dari utang luar negeri (juta rupiah)
PUKESt = Pembayaran utang luar negeri sektor kesehatan (juta rupiah) DRVKESt = Lender Driven sektor kesehatan (juta rupiah)
UTKESt-1 = Belanja pembangunan sektor kesehatan dari utang luar negeri bedakala satu tahun (juta rupiah)
u9, u10 = Terminologi gangguan
GOREVt, BLJRTNt, LIBORt telah didefinisikan sebelumnya.
Harapan tanda pada koefisien-koefisien parameter dalam persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
i1, i3, i4, j2, j3 > 0 i2, j1, j4 < 0 0 < i5, j5 < 1 7. Belanja Pembangunan Sektor Pertanian dan Pengairan
Sektor pertanian dan pengairan mempunyai peranan yang besar dalam penyediaan pangan untuk mendukung ketahanan pangan nasional dan menyumbang penerimaan dalam PDBI, serta dalam menyerap tenaga kerja. Namun usaha pembangunan di sektor ini masih menghadapi berbagai kendala antara lain masih rendahnya tingkat kesejahteraan petani, masih rendahnya
penguasaan teknologi pengolahan hasil-hasil pertanian, dan terbatasnya penyediaan air untuk irigasi. Oleh karena itu, sejak pemerintahan Orde Baru, sektor ini mendapat prioritas yang tinggi dalam pembangunan nasional. Di samping penyediaan dana pembangunan dari dalam negeri, pinjaman luar negeri juga cukup banyak dialokasikan untuk pembangunan sektor ini.
Besarnya pembiayaan rupiah murni untuk pembangunan sektor ini dipengaruhi oleh besarnya pendapatan pemerintah, alokasi belanja rutin, serta pertumbuhan sektor pertanian dan pengairan pada tahun sebelumnya. Disamping itu pendanaan yang berasal dari utang luar negeri untuk pembangunan sektor ini dipengaruhi oleh besarnya alokasi rupiah untuk sektor pertanian dan pengairan, pembayaran utang luar negeri sektor ini, kebijakan kreditur (lender driven) dalam pengelolaan piutangnya, serta tingkat bunga pinjaman utang luar negeri.
Variabel bedakala (lags) diperhitungkan ke dalam persamaan untuk melihat dinamika pendanaan pada tahun berjalan. Dengan demikian persamaan belanja pembangunan sektor pertanian dan pengairan dapat dispesifikasikan seperti:
RPTANt = k1GOREVt + k2BLJRTNt+ k3GTANt-1 + k4RPTANt-1
+ u11 . . . (5.11)
UTTANt = l1RPTANt + l2PUTANt + l3DRVTANt + l4LIBORt
+ l5UTTANt-1 + u12 . . . (5.12)
dimana:
RPTANt = Belanja pembangunan sektor pertanian dan pengairan dari
rupiah murni (juta rupiah)
GTANt-1 = Angka pertumbuhan sektor pertanian dan pengairan bedakala satu tahun (persen)
RPTANt-1 = Belanja pembangunan sektor pertanian dan pengairan dari
rupiah murni bedakala satu tahun (juta rupiah)
UTTANt = Belanja pembangunan sektor pertanian dan pengairan dari utang luar negeri (juta rupiah)
PUTANt = Pembayaran utang luar negeri sektor pertanian dan pengairan (juta rupiah)
DRVTANt = Lender Driven sektor pertanian dan pengairan (juta rupiah) UTTANt-1 = Belanja pembangunan sektor pertanian dan pengairan dari
utang luar negeri bedakala satu tahun (juta rupiah)
u11,u12 = Terminologi gangguan
Harapan tanda pada koefisien-koefisien parameter dalam persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
k1, l2, l3 > 0 k2, k3, l1, l4 < 0 0 < k4, l5 < 1 8. Belanja Pembangunan Sektor Pertambangan dan Energi
Sektor pertambangan dan energi memegang peranan yang cukup penting dalam perekonomian nasional. Hal ini terbukti dari besarnya peranan sektor pertambangan dan energi sebagai penyedia sumber energi, sumber devisa, penerimaan negara, sumber bahan baku industri, serta menciptakan lapangan pekerjaan dan pendorong pertumbuhan sektor-sektor lain. Namun, dalam beberapa tahun ke depan, sektor ini masih mempunyai permasalahan yang antara lain adalah: 1) masih adanya kesenjangan antara penyediaan dan konsumsi energi, 2) masih terbatasnya infrastruktur penyediaan energi, 3) masih besarnya ketergantungan pembangunan sektor pertambangan dan energi kepada investasi pemerintah, dan 4) belum tersusunnya perumusan konsep keamanan pasokan energi nasional (security of energy supply). Oleh karena itu pembangunan sektor pertambangan dan energi menjadi salah satu prioritas yang penting dalam pembangunan nasional sejak pemerintahan Orde Baru sampai sekarang. Di samping penyediaan dana pembangunan yang berasal dari dalam negeri, pinjaman luar negeri juga cukup banyak dialokasikan untuk pembangunan sektor pertambangan dan energi ini.
Besarnya pembiayaan rupiah murni untuk pembangunan sektor ini dipengaruhi oleh besarnya pendapatan pemerintah, alokasi belanja rutin, serta pertumbuhan sektor ini pada tahun sebelumnya. Disamping itu pendanaan yang berasal dari utang luar negeri untuk pembangunan sektor ini dipengaruhi oleh besarnya alokasi rupiah murni untuk sektor ini, pembayaran utang luar negeri sektor ini, kebijakan kreditur (lender driven) dalam pengelolaan piutangnya, serta tingkat bunga pinjaman utang luar negeri.
Variabel bedakala (lags) diperhitungkan ke dalam persamaan untuk melihat dinamika pendanaan pada tahun berjalan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, persamaan belanja pembangunan sektor pertambangan dan energi dapat dispesifikasikan sebagai berikut:
RPENGt = m1GOREVt + m2DBLJRTNt+ m3GENGt-1
+ m4RPENGt-1 + u13 . . . (5.13) UTENGt = n0 + n1RPENGt + n2PUENGt + n3DRVENGt
+ n4LIBORt+ n5UTENGt-1 + u14 . . . (5.14) dimana:
RPENGt = Belanja pembangunan sektor pertambangan dan energi dari rupiah murni (juta rupiah)
GENGt-1 = Angka pertumbuhan sektor pertambangan dan energi bedakala satu tahun (persen)
UTENGt = Belanja pembangunan sektor pertambangan dan energi dari
utang luar negeri (juta rupiah)
PUENGt = Pembayaran utang luar negeri sektor pertambangan dan energi (juta rupiah)
DRVENGt = Lender Driven sektor pertambangan dan energi (juta rupiah) UTENGt-1 = Belanja pembangunan sektor pertambangan dan energi dari
utang luar negeri bedakala satu tahun (juta rupiah)
u13,u14 = Terminologi gangguan
GOREVt, BLJRTNt, LIBORt telah didefinisikan sebelumnya.
Harapan tanda pada koefisien-koefisien parameter dalam persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
m1, n2, n3 > 0 m2, m3, n1, n4 < 0 0 < m4, n5 < 1 9. Belanja Pembangunan Sektor Perhubungan dan Transportasi
Pembangunan sektor perhubungan dan transportasi merupakan salah satu bagian yang penting dalam pembangunan nasional karena merupakan urat nadi penggerak perekonomian. Tujuan pembangunan sektor ini adalah untuk meningkatkan pelayanan jasa perhubungan dan transportasi secara lebih efisien, handal, berkualitas, aman dan dengan harga yang terjangkau. Tujuan lainnya adalah untuk mewujudkan sistem perhubungan dan transportasi nasional secara intermoda dan terpadu dengan pengembangan wilayahnya, dan menjadi bagian dari suatu sistem distribusi yang mampu memberikan pelayanan dan manfaat yang lebih bagi masyarakat luas.
Dari aspek pendanaan, akibat karakteristik infrastruktur sektor perhubungan dan transportasi yang membutuhkan biaya investasi yang besar, sedangkan sebagian besar tarif yang dikenakan tidak dapat mencapai tingkat full cost recovery secara finansial, serta masih banyaknya penyelenggaraan infrastruktur
perhubungan dan transportasi yang dilakukan secara monopoli, maka peran pemerintah sebagai regulator sangat diperlukan. Peranserta swasta untuk memenuhi sumber pendanaan guna memenuhi kebutuhan pembangunan sektor tersebut belum berkembang sepenuhnya. Mengingat sumber pendanaan dalam negeri masih sangat terbatas, maka pemerintah masih membutuhkan pinjaman luar negeri untuk mempercepat pembangunan sektor ini.
Besarnya pembiayaan rupiah murni untuk pembangunan sektor ini dipengaruhi oleh besarnya pendapatan pemerintah, alokasi belanja rutin pemerintah, serta pertumbuhan sektor ini pada tahun sebelumnya. Disamping itu pendanaan yang efektif berasal dari utang luar negeri untuk pembangunan sektor ini dipengaruhi oleh besarnya alokasi rupiah untuk pembangunan sektor ini, pembayaran utang luar negeri sektor ini, kebijakan kreditur (lender driven) dalam pengelolaan piutangnya, serta tingkat bunga pinjaman utang luar negeri.
Variabel bedakala (lags) diperhitungkan ke dalam persamaan untuk melihat dinamika pendanaan pada tahun berjalan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, persamaan belanja pembangunan sektor perhubungan dan transportasi dapat dispesifikasikan sebagai berikut:
RPHUBt = o1GOREVt + o2BLJRTNt+ o3GHUBt-1 + o4RPHUBt-1
+ u15 . . . (5.15)
UTHUBt = p1GRPHUBt + p2PUHUBt + p3DRVHUBt + p4LIBORt
+ p5UTHUBt-1 + u16 . . . (5.16)
dimana:
RPHUBt = Belanja pembangunan sektor perhubungan dan transportasi
dari rupiah murni (juta rupiah)
GHUBt-1 = Angka pertumbuhan sektor perhubungan dan transportasi bedakala satu tahun (persen)
RPHUBt-1 = Belanja pembangunan sektor perhubungan dan transportasi
dari rupiah murni bedakala satu tahun (juta rupiah)
UTHUBt = Belanja pembangunan sektor perhubungan dan transportasi dari utang luar negeri (juta rupiah)
GRPHUBt = Pertumbuhan belanja pembangunan sektor perhubungan dan
transportasi dari rupiah murni (persen)
PUHUBt = Pembayaran utang luar negeri sektor perhubungan dan
transportasi (juta rupiah)
DRVHUBt = Lender Driven sektor perhubungan dan transportasi (juta rupiah)
UTHUBt-1 = Belanja pembangunan sektor perhubungan dan transportasi
dari utang luar negeri bedakala satu tahun (juta rupiah)
u15, u16 = Terminologi gangguan
GOREVt, BLJRTNt, LIBORt telah didefinisikan sebelumnya.
Harapan tanda pada koefisien-koefisien parameter dalam persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
o1, p3 > 0 o2, p1, p2, p4 < 0 0 < o3, p5 < 1 10. Belanja Pembangunan Sektor Lainnya
Pembangunan sektor lainnya merupakan bagian pembangunan yang tidak kalah pentingnya dengan pembangunan lima sektor utama. Namun karena banyaknya dan beragamnya sektor-sektor tersebut, untuk memudahkan penelitian ini, sektor-sektor tersebut dikelompokkan menjadi satu dalam sektor lainnya. Tujuan pembangunan sektor lainnya tersebut adalah untuk melengkapi dan mendukung pembangunan di lima sektor utama. Mengingat sumber-sumber pendanaan dalam negeri masih sangat terbatas, maka pemerintah juga masih mengandalkan pinjaman luar negeri untuk mempercepat pembangunan sektor lainnya tersebut.
Besarnya pembiayaan rupiah murni untuk pembangunan sektor ini dipengaruhi oleh besarnya pendapatan pemerintah, alokasi belanja rutin pemerintah, serta pertumbuhan sektor ini pada tahun sebelumnya. Disamping itu pendanaan yang efektif berasal dari utang luar negeri untuk pembangunan sektor ini dipengaruhi oleh besarnya alokasi rupiah untuk pembangunan sektor ini, pembayaran utang luar negeri sektor ini, kebijakan kreditur (lender driven) dalam pengelolaan piutangnya, serta tingkat bunga pinjaman utang luar negeri.
Variabel bedakala (lags) diperhitungkan ke dalam persamaan untuk melihat dinamika pendanaan pada tahun berjalan. Berdasarkan hal-hal tersebut di atas, persamaan belanja pembangunan sektor lainnya dapat dispesifikasikan:
RPOTSt = q1GOREVt + q2BLJRTNt+ q3RPOTSt-1+u17 . . . (5.17) UTOTSt = r0 + r1GRPOTSt + r2PUOTSt + r3DRVOTSt
+ r4LIBORt + r5UTOTSt-1 + u18 . . . (5.18) dimana:
RPOTSt = Belanja pembangunan rupiah murni sektor lainnya (juta
rupiah)
RPOTSt-1 = Belanja pembangunan rupiah murni sektor lainnya bedakala satu tahun (juta rupiah)
UTOTSt = Belanja pembangunan sektor lainnya dari utang luar negeri
(juta rupiah)
GRPOTSt = Pertumbuhan belanja pembangunan rupiah murni sektor lainnya (persen)
PUOTSt = Pembayaran utang luar negeri sektor lainnya (juta rupiah)
DRVOTSt = Lender Driven sektor lainnya (juta rupiah)
UTOTSt-1 = Belanja pembangunan sektor lainnya dari utang luar negeri
bedakala satu tahun (juta rupiah)
u17, u18 = Terminologi gangguan
GOREVt, BLJRTNt, WINTRt telah didefinisikan sebelumnya.
Harapan tanda pada koefisien-koefisien parameter dalam persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
q1, r3 > 0 q2, r1, r2, r4 < 0 0 < q3, r5 < 1 11. Pembayaran Utang Luar Negeri Sektor Pendidikan
Pembangunan di bidang pendidikan selama lima tahun terakhir menjadi salah satu prioritas tertinggi dalam pembangunan nasional. Hal ini ditunjukkan oleh penyediaan anggaran dengan porsi yang lebih dibandingkan dengan bidang- bidang pembangunan lainnya. Investasi pemerintah yang dilakukan di bidang pendidikan, baik yang bersumber dari penerimaan dalam negeri maupun pinjaman luar negeri, baik yang berupa investasi langsung maupun dalam kerangka regulasi guna mendorong partisipasi swasta dan masyarakat dalam pembangunan di bidang pendidikan, diharapkan dapat meningkatkan kinerja sektor pendidikan. Peningkatan tersebut berupa peningkatan pendapatan pemerintah dengan tetap memperhatikan peningkatan kualitas dan kuantitas sumber daya manusia, yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan PDB.
Oleh karena itu besarnya pembayaran utang luar negeri di sektor pendidikan umumnya sangat dipengaruhi oleh besarnya penerimaan pemerintah. Di samping itu, besarnya penggunaan utang luar negeri juga mempunyai pengaruh terhadap kemampuan pemerintah dalam menyediakan anggaran rupiah murni untuk pembayaran utang luar negeri sektor ini pada tahun berjalan.
Variabel bedakala (lags) yaitu pembayaran utang luar negeri pada tahun sebelumnya diperhitungkan ke dalam persamaan untuk melihat dinamikanya terhadap pembayaran utang luar negeri pada tahun berjalan. Dengan demikian persamaan pembayaran utang luar negeri sektor pendidikan dapat dispesifikasikan sebagai berikut:
PUDIKt = s0 + s1GOREVt + s2UTDIKt-1 + s3PUDIKt-1 + u19 . . . (5.19) dimana:
PUDIKt = Pembayaran utang luar negeri sektor pendidikan (juta rupiah)
PUDIKt-1 = Pembayaran utang luar negeri sektor pendidikan bedakala satu
tahun (juta rupiah)
u19 = Terminologi gangguan
GOREVt , UTDIKt telah didefinisikan sebelumnya.
Harapan tanda pada koefisien-koefisien parameter dalam persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
s1, s2 > 0 0 < s3 < 1
12. Pembayaran Utang Luar Negeri Sektor Kesehatan
Pembangunan kesehatan merupakan upaya untuk memenuhi salah satu hak dasar rakyat, yaitu memperoleh akses atas kebutuhan pelayanan kesehatan secara memadai. Investasi pemerintah yang dilakukan di bidang kesehatan, baik yang menggunakan dana rupiah murni maupun pinjaman luar negeri, baik yang berupa investasi langsung maupun dalam kerangka regulasi guna mendorong partisipasi swasta dan masyarakat dalam pembangunan di bidang kesehatan, diharapkan dapat meningkatkan kinerja sektor kesehatan berupa peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat, yang pada gilirannya akan dapat meningkatkan PDB.
Oleh karena itu besarnya pembayaran utang luar negeri di sektor kesehatan umumnya sangat dipengaruhi oleh besarnya penerimaan pemerintah. Di samping itu, besarnya penggunaan utang luar negeri juga mempunyai pengaruh terhadap kemampuan pemerintah dalam menyediakan anggaran rupiah murni untuk pembayaran utang luar negeri sektor ini pada tahun berjalan.
Variabel bedakala (lags) yaitu pembayaran utang luar negeri pada tahun sebelumnya diperhitungkan ke dalam persamaan untuk melihat dinamikanya
terhadap pembayaran utang luar negeri pada tahun berjalan. Dengan demikian persamaan pembayaran utang luar negeri sektor kesehatan dapat dispesifikasikan sebagai berikut:
PUKESt = t0 + t1GOREVt + t2UTKESt + t3PUKESt-1 + u20 . . . (5.20) dimana:
PUKESt = Pembayaran utang luar negeri sektor kesehatan (juta rupiah)
PUKESt-1 = Pembayaran utang luar negeri sektor kesehatan bedakala satu
tahun (juta rupiah)
u20 = Terminologi gangguan
GOREVt , UTKESt telah didefinisikan sebelumnya.
Harapan tanda pada koefisien-koefisien parameter dalam persamaan tersebut adalah sebagai berikut:
t1, t2 > 0 0 < t3 < 1
13. Pembayaran Utang Luar Negeri Sektor Pertanian dan Pengairan
Sektor pertanian dan pengairan mempunyai peran yang besar dalam perekonomian masyarakat Indonesia melalui sumbangannya terhadap: (1) produk domestik bruto, (2) ekspor, (3) penyediaan lapangan kerja, dan (4) penyediaan bahan pangan. Walaupun peranannya begitu penting, namun sampai saat ini sektor pertanian dan pengairan masih belum mampu memberikan pendapatan yang layak bagi produktivitas para petani. Produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian dan pengairan masih lebih rendah dari pada produktivitas tenaga kerja di sektor-sektor lainnya. Kemiskinan yang terjadi di pedesaan umumnya terjadi pada rumah tangga pertanian. Oleh karena itu, sampai saat ini pembangunan sektor pertanian dan pengairan masih tetap menjadi prioritas pembangunan nasional. Investasi di sektor pertanian dan pengairan secara nasional berasal dari masyarakat/ swasta, kredit/ perbankan, pemerintah, serta utang luar negeri.
Besarnya pembayaran utang luar negeri pemerintah di sektor pertanian dan pengairan umumnya sangat dipengaruhi oleh besarnya penerimaan pemerintah. Di samping itu, besarnya penggunaan utang luar negeri juga mempunyai