• Tidak ada hasil yang ditemukan

Melakukan perbandingan suatu produk hukum di satu negara dengan negara lainnya membuat kita mengetahui apakah produk hukum yang berlaku di negara kita tidak bersifat universal atau tidak dapat dihindarkan. Begitu ungkapan Professor Mark Cammack. Ungkapan tersebut mengilhami penulis dalam penelitian terhadap regulasi pemenuhan hak ekonomi istri pasca perceraian di Indonesia, Arab Saudi, Mesir, dan Turki.

Dalam membandingkan satu regulasi dengan regulasi lainnya mengenai pelaksanaan putusan untuk memenuhi kewajiban suami membayar nafkah iddah,

28

Muhammad Amin Suma, Hukum Keluarga Islam di Dunia Islam, (Jakarta: PT.Raja Grapindo Persada, 2005), Hal. 166.

29

Fauzi Muhamad, Undang-Undang Keluarga Islam Dalam Empat Mazhab Pembubaran Perkahwinan, h. 125.

penulis akan terlebih dahulu menguraikan persamaan dan perbedaan dari regulasi yang diterapkan di empat negara tersebut lalu menganalisis kelebihan dan kekurangannya.

Pada dasarnya regulasi yang diterapkan di empat negara yakni Indonesia, Arab Saudi, Mesir dan Turki adalah bahwa pembebanan nafkah dan biaya lainnya berupa uang pasca perceraian terhadap tergugat/terhukum merupakan utang yang sah secara hukum yang menjadi tanggungan tergugat/terhukum.

Hanya saja perbedaan terletak kepada pihak yang berhak dan yang berkewajiban. Di negara Indonesia, Arab Saudi, dan Mesir, pihak yang berhak menerima biaya tersebut adalah istri dan suami adalah pihak yang memiliki kewajiban untuk memenuhinya. Hal tersebut sesuai dengan yang tercantum dalam nash bahwa nafkah iddah dan biaya lain adalah merupakan kewajiban suami kepada istri bila suami melakukan talak. Namun dalam The Turkish Civil Code yang berlaku di Turki, pihak yang berhak tidak selalu istri dan yang berkewajiban tidak selalu suami. Hal tersebut karena dalam regulasi tidak dikenal istilah nafkah iddah melainkan kompensasi pasca perceraian. Jelasnya, pihak mana saja yang mengakibatkan kerugian kepada pihak lainnya baik suami ataupun istri maka dia adalah pihak yang memiliki kewajiban untuk memenuhi hak pihak lainnya. Selain itu, pihak yang memiliki keadaan finansial yang lebih kuat memiliki kewajiban memenuhi hak pihak yang memiliki kekuatan finansial yang rendah agar tehindar dari kemiskinan dan kesengsaraan sampai pihak yang berhak tersebut menikah lagi atau pihak yang memiliki kewajiban telah meninggal atau atas putusan pengadilan.

Dari segi kelebihan dan kekurangannya berdasarkan indikator al-Quran dan al- Sunnah dan pendapat empat madzhab, penulis menganggap regulasi mengenai pemenuhan hak ekonomi istri pasca perceraian di empat negara tersebut dapat dipahami bahwa Indonesia, Arab Saudi, dan Mesir telah membuat ketentuan yang sesuai dengan nash juga pendapat beberapa ulama empat madzhab. Hanya saja Turki memiliki ketentuan yang sangat berbeda karena sama sekali tidak menjadikan al- Quran, al-Sunnah ataupun pendapat ulama empat madzhab sebagai acuan dalam menentukan regulasi bagi umat muslim di Turki. Penyebabnya adalah karena sebagai negara sekuler yang memisahkan antara agama dan negara, Turki menjadika ketentuan perdata dari Swiss untuk diterapkan di negara mereka. Dari hal tersebut, penulis menganggapnya sebagai kekurangan. Bijaknya setiap orang berhak mengikuti ajaran agama yang dianutnya. Dalam hal ini tentu masyarakat Turki yang beragama Islam tentu berhak memiliki peraturan hukum keluarga yang berasal dari agama yang dianutnya.

Dari aspek pemenuhannya, Arab Saudi, Mesir, dan Turki sama-sama memiliki ketentuan dalam regulasinya. Ketiga negara tersebut memiliki ketentuan hukuman apabila hak dari salah satu pihak tidak dipenuhi. Arab Saudi menetapkan hukuman tahanan penjara apabila suami terbukti mampu namun enggan memenuhi kewajibannya. Alasan yang digunakan pun sangat rasional, dimana nafkah iddah dan biaya lainnya dianggap sebagai hutang yang mengakibatkan suami bertindak sebagai debitor dan istri adalah pihak kreditor. Sedangkan Mesir sendiri yang juga menganggap suami sebagai debitor dan istri sebagai kreditor memiliki tiga tahapan

hukuman apabila suami terbukti mampu namun enggan melaksanakan tuntutan pemenuhan kewajibannya yaitu al-Hajru (Pembatasan/Cekal), dimana suami akan diberikan peringatan dari pengadilan berupa pencekalan. Lalu setelahnya adalah al- Ikrah al-Badani (Paksa Badan) yaitu penyitaan harta benda milik suami sampai dia membayar tuntutan, dana apabila masih enggan memenuhi kewajibannya maka selanjutnya dilakukan al-Habsu (Tahanan/Penjara), yakni suami akan dipenjara sampai dia memenuhi kewajibannya. Di Turki sendiri, hukuman yang berlaku adalah denda dan apabila tetap tidak melakukannya maka pihak yang merasa dirugikan dapat kembali mengajukan tuntutan ke pengadilan yang apabila kewajiban tersebut tetap tidak dilaksanakan maka pengadilan berhak menentukan hukumannya. Perbedaan hanya di negara Indonesia yang tidak memiliki ketentuan hukuman seperti yang dimiliki ketiga negara tersebut. Baik UU No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan ataupun Kompilasi Hukum Islam sama sekali tidak memiliki ketentuan hukuman bagi suami yang mampu namun tetap ingkar atas kewajibannya untuk memberikan nafkah iddah dan biaya lainnya.

Lalu dari segi kelebihan dan kekurangannya dengan indikator sejauh mana negara dapat menjamin terpenuhinya hak seorang warga negara, penulis menganggap bahwa negara Indonesia belum hadir untuk menjamin pemenuhan hak ekonomi istri pasca perceraian. Hal tersebut dikarenakan tidak adanya ketentuan hukuman yang sejatinya merupakan langkah preventif negara agar setiap warganya dalam hal ini istri dapat terhindar dari tak terpenuhinya hak karena ingkarnya suami. Berbeda dengan

ketiga negara lainnya yaitu Arab Saudi, Mesir, dan Turki yang telah hadir untuk menjaga hak setiap warganya terpenuhi sesuai dengan regulasi yang berlaku.

90

KESIMPULAN A. Kesimpulan

Dari uraian singkat dalam tulisan ini pada akhirnya dapat disimpulkan sebagai berikut:

1. Regulasi pemenuhan hak ekonomi istri di Indonesia belum menjamin hak warga negara, dalam hal ini hak istri yang ditalak oleh suaminya Karena tidak memiliki ketentuan hukuman apabila suami melanggar kewajibannya. Sementara regulasi yang berlaku di Mesir, Turki, dan Arab Saudi sudah menjamin hak istri Karena memiliki ketentuan hukuman apabila suami melanggar kewajibannya;

2. Perbandingan vertical antara ketentuan pemenuhan hak ekonomi istri di negara Indonesia, Mesir, Turki, dan Arab Saudi adalah sebagai berikut. Indonesia, Mesir, dan Arab Saudi memiliki regulasi pemenuhan hak ekonomi istri pasca perceraian yang sedikit banyak terpengaruhi oleh madzhab-madzhab. Sementara Turki memiliki regulasi yang sama sekali tidak sama dengan pendapat madzhab manapun Karena regulasi yang berlaku di Turki merupakan adopsi dari The Swiss Civil Code, bukan dari hokum Islam;

3. Indonesia, Mesir, Turki, dan Arab Saudi sama-sama mengatur mengenai hak ekonomi pasca perceraian, perbdedaannya terletak pada Indonesia

sebagai satu-satunya yang belum memiliki ketentuan hukuman dalam regulasi pemenuhan hak ekonomi istri pasca perceraian.

B. Saran

Mulai mempertimbangkan untuk memasukan ketentuan hukuman baik berupa pidana ataupun denda dalam usaha revisi peraturan perundang-undangan terkait hukum keluarga merupakan upaya melengkapi kekosongan. Hakim pun alangkah baiknya untuk dapat menelaah dan menganalisis berbagai sumber baik yurisprudensi atau sumber yang berbahasa arab dari kitab-kitab fiqih klasik, ataupun traktat atau hasil konvensi yang berbahasa inggris, juga peraturan perundang-undangan di negara lain untuk menyelesaikan masalah yang dianggap masih kosong, belum memiliki ketentuan yang mengatur hal tersebut dalam peraturan perundang-undangan yang sekarang berlaku sebagai pertimbangan.

92

Abdurrahman. 1996. Himpunan Peraturan Perundang-Undangan No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan. Jakarta: Akademi Presindo.

Achmad. 2001. Tujuan dan Fungsi Hukum. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Al-Maqdisiy, Hasan bin Ali. 2011. Al-inshaf fi Ma’rifah al-Raajih min al-Khilaf, Kitab al-Hajr. Kairo

Al-Bukhari. 1981. Shahih al-Bukhari. (Beirut: Dar al-Fikr)

Al-Hakim, Imam. 2011. al-Mustadrak „ala al-Shahihain, Kitab al-Ahkam. CD- ROM al-Maktabah al-Syamilah. Kairo.

Apeldron, Van. 1958. Pengantar Ilmu Hukum, Incleding Tot de Studie Van Het Nederlandse Recht. Terjemahan: Otarid Sadino, Noordhof Kalff. Jakarta. Al-Shan’aniy. 1980. Subul al-Salam. Kairo: Dar Ihya’ al-Turats al-Araby. Al-Suyuthi, Jalal al-din. 1985. al-Jami’ al-Shagir juz 1. Bandung: al-Ma’arif. Anshori, Abdul Ghofur. 2006. Filsafat Hukum: Sejarah, Aliran dan Pemaknaan.

Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.

Darmoharjo, Darji. 1995. Pokok-pokok Filsafat Hukum (Apa dan Bagaimana Filsafat Hukum di Indonesia). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama. Ditjen Badilag Mahkamah Agung RI. 2012. Pedoman Pelaksanaan Tugas dan

Administrasi Peradilan Agama, Buku II, Edisi Revisi tahun 2012.

El-Alami, Dawoud Sudqi. 1992. The Marriage Contract in Islamic Law in the Syariah and Personal Status Laws of Egypt and Morocco. (London: Hartnoll Ltd).

Fleischaker, Samuel. 1987. A History of Distributive Justice. Cambridge. Harvard University Press.

Khisru, Mola. 2011. Durar al-Hukkam Fi Gurar al-Ahkam Syarh Majallah al- Ahkam al-Adliyah. CD-Rom al-Maktabah al-Syamilah. Kairo.

Kementrian Hukum dan HAM, 2012. Undang-Undang R.I. Nomor 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan dan Kompilasi Hukum Islam. Bandung: CV Umbara.

Latif, Muhammad Arasy. 2012, Jurnal Mimbar Hukum dan Peradilan, Jakarta: PPHIMM.

Mahkamah Agung RI, Peraturan Mahkamah Agung RI (PERMA) Nomor 1 Tahun 2000 tentang Lembaga Paksa Badan, beserta konsiderannya.

Mahmood, Tahir. 1987. Personal Law In Islam. (New Delhi)

Mudzhar, M Atho dan Khoirudin Naustion. 2003. Hukum Keluarga di Dunia Islam Modern. (Jakarta: Ciputat Press)

Mudzhar, M Atho. 2001. Membaca Gelombang Ijtihad. (Jakarta: Ciputat Press) Nasution, Kroiruddin. 2002. Status Wanita di Asia Tenggara: Studi terhadap

Perundang-Undangan Perkawinan Muslim di Indonesia dan Malaysia. (Jakarta: INIS)

Posite, John L. 2001. Ensiklopedia Oxford Dunia Islam. (Bandung: Mizan) Rahardjo, Satjipto. 2000. Ilmu Hukum, (Bandung: PT Citra Aditya Bakti. Rahman, Fatchur. 1981. Ilmu Waris, (Bandung: al-Ma’arif)

Rofiq, Ahmad. 2013. Hukum Perdata Islam di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers. Ryan, Alan. 1993. Justice – Oxford Readings In Politic Government. Oxford:

Oxford University Press.

Qal’ah, Muhammad Rawas. 1989. Mausu’ah Fiqh Umar Ibn al-Khattab. (Beirut: Dar al-Nafais)

Sabiq, Sayid. 1966. Fiqh al-Sunnah. (Kairo: Maktabah al-Adab) Sopyan, Yayan. 2010. Pengantar Metode Penelitian. (Jakarta)

Sunarto. 2014. Peran Aktif Hakim dalam Perkara Perdata. Jakarta: Kencana. Syahrani, Riduan. 1991. Rangkuman Intisari Ilmu Hukum. Jakarta: Pustaka

Kartim.

The Liang Gie. 1982. Teori-teori Keadilan (Sumbangan Bahan Untuk Pemahaman Pancasila). Yogyakarta: Super Sukses.

Yoganingrum, Ambar. 2009. Merajut Makna “Penelitian Kualitatif Bidang

Perpustakaan dan Informasi”. (Jakarta: Penerbit Cita Karyakarsa Mandiri) Zuhriah, Nurul. 2010. Metedologi penelitian Sosial dan Pendidikan :Teori-

LAMPIRAN The Turkish Civil Code

V. Boşanmada tazminat ve nafaka

1. Maddî ve manevî tazminat Madde

174- Mevcut veya beklenen menfaatleri boŞanma yüzünden zedelenen kusursuz

veya daha az kusurlu taraf, kusurlu taraftan uygun bir maddî tazminat

isteyebilir. BoŞanmaya sebep olan olaylar yüzünden kiŞilik hakkı saldırıya

uğrayan taraf, kusurlu olan diğer taraftan manevî tazminat olarak uygun

miktarda bir para ödenmesini isteyebilir.

. Yoksulluk nafakası Madde

175- BoŞanma yüzünden yoksulluğa düŞecek taraf, kusuru daha ağır olmamak

koŞuluyla geçimi için diğer taraftan malî gücü oranında süresiz olarak nafaka

isteyebilir. Nafaka yükümlüsünün kusuru aranmaz.

. Tazminat ve nafakanın ödenme biçimi Madde

176-Maddî tazminat ve yoksulluk nafakasının toptan veya durumun gereklerine

göre irat biçiminde ödenmesine karar verilebilir. Manevî tazminatın irat

biçiminde ödenmesine karar verilemez. irat biçiminde ödenmesine karar verilen

maddî tazminat veya nafaka, alacaklı tarafın yeniden evlenmesi ya da taraflardan

birinin ölümü hâlinde kendiliğinden kalkar; alacaklı tarafın evlenme olmaksızın

fiilen evliymiŞ gibi yaŞaması, yoksulluğunun ortadan kalkması ya da haysiyetsiz hayat sürmesi hâlinde mahkeme kararıyla kaldırılır. Tarafların malî durumlarının değiŞmesi veya hakkaniyetin gerektirdiği hâllerde iradın artırılması veya azaltılmasına karar verilebilir. Hâkim, istem hâlinde, irat biçiminde ödenmesine karar verilen maddî tazminat veya nafakanın gelecek yıllarda tarafların sosyal ve ekonomik durumlarına göre ne miktarda

ödeneceğini karara bağlayabilir.

4. Yetki Madde

177- BoŞanmadan sonra açılacak nafaka davalarında, nafaka alacaklısının

yerleŞim yeri mahkemesi yetkilidir. 5. Zamanaşımı Madde

178- Evliliğin boŞanma sebebiyle sona ermesinden doğan dava hakları, boŞanma

hükmünün kesinleŞmesinin üzerinden bir yıl geçmekle zamanaŞımına uğrar.

VI. Mal rejiminin tasfiyesi

. Boşanma hâlinde Madde

179- Mal rejiminin tasfiyesinde eŞlerin bağlı olduğu rejime iliŞkin hükümler

uygulanır.

. Ayrılık hâlinde Madde

180- Ayrılığa karar verilirse mahkeme, ayrılığın süresine ve eŞlerin durumlarına

göre aralarında sözleŞmeyle kabul edilmiŞ olan mal rejiminin kaldırılmasına

Qanun Tandzim Ba’dh Auda’ Wa Ijra’aat al-Taqaadiy Fii Masaail al-Ahwal al- Syakhshiyyah

ا ف ا ي اعد يف رداص ا يءا ا ح ا يف ت ع هي ع ح ا ع ت ا ا ا"

ردصا يت ا ح ا ي ا ر اا عفري ا ه ح اج ا ح يف ا ر جاا

اي ا ي ع رداق هي ع ح ا ا ا يد ث .ا ترءادب يف ت ا يرجي يت ا ا ح ا

اب ر ا هب ح ا ءاداب

يثاث ي ع ديزت ا د هس حب

ح ث تب ءادا

.ا ي

هح اص رد اص ا ه ي ايفك رضحا ا هب ح ا هي ع ح ا يدا ا اف

رط اب يف ت ا يف ه ح ا حب اخا د ه ك ك ا . ه ي س ي ي اف . كاح ا

. يداع ا

دا ا ه ا يف طت يت ا ا حاا يف جي ا

اءارجاا يف ريس ا

ف تسا دق ه ح ا ي ا اب ع ا اق )( دا ا يف ا ي ع

ص ا

.ي اا ر ف ا يف ا ي ا رااش ا اءارجاا

ب سب هي ع

ح ث ؟ دا ا ه ح ا ف

ش ي ع ي د ا اركااب ف ا ا

)( دا ا تن ي ح ا هتب عب هتا عقا ا

اركاا د رتتسا . اب ع ا اق

يف ت ا د ع ضفح ارغب هي ع ح ا اف .ا ب ح ا س ح ا د ي اا ي اد ا

.هي ع اف ا س ي ا ي د ا ارقاا ايا ي ك ع ي ج س خ راد ب

Dokumen terkait