• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB V URGENSI LAYANAN HUKUM DALAM PEMBUKTIAN

B. Urgensi Layanan Hukum Dalam Pembuktian

1. Persamaan Hak dan Kedudukan dalam Praktek Pengadilan

B. Urgensi Layanan Hukum Dalam Pembuktian

Pengadilan -khsusnya Pengadilan Agama- sebagai salah satu tumpuan penegakan keadilan, harusnya berusaha sekeras mungkin agar “produk” yang dihasilkan memenuhi -minimal mendekati- upaya terwujudnya keadilan sosial bagi seluruh para pencari keadilan. Adapun alasan mengapa layanan hukum dalam bidang pembuktian ini diperlukan, penulis uraikan pada 2 (dua) alasan berikut:

1. Persamaan Hak dan Kedudukan dalam Praktek Pengadilan

Indonesia dalam konstitusinya menegaskan bahwa setiap warga negara Indonesia mempunyai kedudukan yang sama di depan hukum. Hal ini tertulis dalam 2 (dua) pasal yang berbeda di UUD 1945:

a. Pasal 27 Ayat 1

“Segala warga negara bersamaan kedudukannya di dalam

hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya.”1

b. Pasal 28 D

“Setiap orang berhak atas pengakuan, jaminan, perlindungan,

dan kepastian hukum yang adil serta perlakuan yang sama dihadapan hukum.”2

Asas persamaan atau equality jika dikaitkan dengan fungsi peradilan, berarti setiap orang yang datang berhadapan di sidang peradilan adalah “sama hak dan kedudukannya”. Dengan kata lain sama hak dan kedudukan di hadapan hukum. Lawan dari asas persamaan hak

1

Rumusan ayat ini tidak mengalami perubahan sejak UUD 1945 disahkan pada tanggal 18 Agustus 1945

2

Ayat ini dirumuskan dan disahkan pada Perubahan Kedua UUD 1945 pada Sidang Tahunan MPR tanggal 7 s/d 18 Agustus 2000.

dan kedudukan di depan pengadilan atau di depan hukum ialah “diskriminasi” yaitu membedakan hak dan kedudukan orang di depan pengadilan.

Pembedaan atau diskriminasi dalam proses persidangan menurut Ahmad Mujahidin, bisa berbentuk normatif dan kategoris. Wujud dari diskriminasi normatif berupa tindakan membedakan aturan hukum yang berlaku terhadap pihak-pihak yang berperkara. Misalnya kepada salah satu pihak diberi kesempatan luas untuk mengajukan upaya pembuktian, sebaliknya kepada pihak lain haknya untuk mengajukan upaya pembuktian dibatasi atau dihalang-halangi. Tindakan demikian tentunya melanggar hak asasi manusia karena seolah-olah hakim mempratekkan dua aturan hukum yang saling berbeda dalam peristiwa dan upaya yang sama.3

Diskriminasi dalam bentuk lain yang juga tidak kalah membahayakan disebut dengan diskriminasi kategoris. Diskriminasi jenis ini dimaknai sebagai tindakan yang membeda-bedakan perlakuan pelayanan berdasar status sosial, ras, agama, suku, jenis kelamin, dan budaya. Sebagai contoh adalah jika orang kaya yang berperkara diberi pelayanan dan perlakuan yang melebihi dari apa yang diterima oleh orang miskin, maka hal ini bertentangan dengan asas equality.

Kesimpulan yang bisa diambil dari kategorisasi di atas adalah bahwa setiap proses yang mengandung tindakan dan perlakuan dikriminasi baik itu bersifat normatif atau kategoris, mustahil dapat

3

Ahmad Mujahidin, HAM Dalam Perspektif Penerapan Asas Peradilan Perdata Agama, dalam Muladi, et.al, Hak Asasi Manusia: Hakekat, Konsep, dan Implikasinya dalam Perspektif

menghasilkan putusan yang berintikan hukum, kebenaran dan keadilan. Karena pada hakekatnya tindakan dan perlakuan diskriminasi itu sendiri sudah berlawanan dengan hukum atau melanggar hukum.

Yahya Harahap dalam hal ini menjelaskan bahwa yang dituntut asas persamaan hak dan kedudukan dalam praktek pengadilan adalah menjauhi segala bentuk diskriminasi. Upaya menjauhi diskriminasi ini haruslah berpatokan pada:

a. Persamaan hak dan derajat dalam proses pemeriksaan persidangan pengadilan (equal before the law)

b. Hak perlindungan yang sama oleh hukum (equal protection on the

law)

c. Mendapat hak perlakuan yang sama di bawah hukum (equal justice

under the law atau equal treatment under the law)4

Ketiga patokan di atas merupakan acuan dalam menerapkan persamaan hak dan kedudukan setiap pihak yang berberkara di dalam proses peradilan. Selain itu, ketiganya secara bersama-sama merupakan makna yang terkandung dalam kalimat yang berbunyi, “...tidak

membedakan-bedakan orang” dalam pasal 58 ayat 1.5

Adapun jika terdapat perbedaan yang melekat pada pihak-pihak yang berberkara berkaitan dan dengan perbedaan tersebut mengakibatkan jalannya persidangan yang adil terganggu, maka pemerintah (dalam hal ini Mahkamah Agung sebagai penyelenggara layanan hukum) harus

4

M. Yahya Harahap, Kedudukan, Kewenangan dan Acara Peradilan Agama menurut UU

No. 7 Tahun 1989, Cet 3, (Jakarta: Sinar Grafika, 2005), hlm. 86.

5

UU No. 7 Tahun 1989 tentang Peradilan Agama Pasal 58 ayat 1. Ayat ini selengkapnya berbunyi, “Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang”

segera mengambil tindakan yang tepat agar prinsip equal before the law dan equal treatment under the law tidak terganggu. Tindakan tentunya sejalan dengan teori keadilan John Rawls yang menyatakan bahwa Ketimpangan sosial dan ekonomi mesti diatur sedemikian rupa sehingga, (a) diharapkan memberi keuntungan semua orang; dan (b) semua posisi dan jabatan terbuka bagi semua orang.

Persamaan kedudukan antara pihak yang berperkara juga diatur dalam Islam. Persamaan ini tercermin dari adanya kewajiban hakim untuk berlaku adil walau hanya dalam hal bertutur kata. Dalam hal ini Rasulullah SAW pernah berkata:

ﹺﻦﻣ

ﻲﻠﺘﺑﺍ

ِﺀﺎﻀﹶﻘﹾﻟﺎﹺﺑ

ﻦﻴﺑ

ﲔﻤﻠﺴﻤﹾﻟﺍ

ﻴﹾﻠﹶﻓ

ﻱﹺﻭﺎﺴ

ﻢﻬﻨﻴﺑ

ﻲﻓ

ﹺﺲﻠﺠﻤﹾﻟﺍ

ﻲﻓ

ﺓﺭﺎﺷِﻹﺍ

،ﹺﺮﹶﻈﻨﻟﺍﻭ

ﻻﻭ

ﻊﹶﻓﺮﻳ

ﻪﺗﻮﺻ

ﻰﹶﻠﻋ

ﺪﺣﹶﺃ

ﹺﻦﻴﻤﺼﺨﹾﻟﺍ

ﺮﹶﺜﹾﻛﹶﺃ

ﻦﻣ

ﹺﺮﺧﻵﺍ

Artinya: “Barang siapa dipercaya memutuskan suatu perkara antara

kaum muslimin maka perlakukanlan secara sama antara mereka dalam hal tempat duduk, isyarat, maupun penglihatan. Dan janganlah (hakim) mengangkat suara kepada salah satu pihak yang berperkara melebihi daripada pihak yang lain.”6

Hadist di atas oleh Ibrahim Muhammad al- Ḥaririy dimaknai dengan wajibnya hakim berperilaku adil dalam hal perlakuan terhadap semua pihak yang berperkara.7Dengan demikian dapat dianalogikan bahwa jika dalam hal sederhana seperti bertutur kata saja hakim wajib

6 Sulaiman bin Ahmad al-Ṭhabrāni, Mu’jam al-Kabir li al- Ṭhabrani, (Mosul: Maktabah

al-‘Ulum wa al-Hukm, tt). Hadis nomor 19394

7 Ibrahim Muhammad Ḥaririy, Al-Qawa’id wa Dhawabit Fiqhiyyah li Nidham

menyamakan intonasi, maka apalagi dalam hal proses pembuktian yang lebih rumit.