• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II DASAR TEORI

2.12 PERSAMAAN PERHITUNGAN LINK BUDGET

Pada perhitungan link budget bertujuan memperkirakan nilai MAPL antara mobile antena dan mobile station antena pada sisi downlink maupun uplink.

Tabel 2.5 Link Budget 5G NR[3].

Maximum Allowable Path Loss (MAPL)

Comment parameter Downlink Uplink gNodeB Transmitter Power(dBm)

Perhitungan secara coverage mempertimbangkan loss yang terjadi di antara perangkat gNodeB dan perangkat User Terminal (UT), dalam

17

melakukan perhitungan dibutuhkan data link budget yang menunjukkan parameter-parameter yang digunakan oleh UT maupun gNodeB yang terdapat pada tabel 2.5. Pertama, tentukan nilai Thermal Noise menggunakan persamaan (2.1) dan Subcarrier Quantity menggunakan persamaan (2.2) dengan persamaan sebagai berikut [3]:

π‘π‘‘β„Žπ‘’π‘Ÿπ‘šπ‘Žπ‘™ = 10 Γ— π‘™π‘œπ‘”(𝐾 Γ— 𝑇 Γ— 𝐡) (2.1) Keterangan :

NThermal = Thermal Noise

K = Konstanta Boltzmann ( 1,38 Γ— 10-20 mWs/K) T = Temperatur (293Β° K)

Tabel 2.6 Jumlah Resource Block untuk Medium Frequency Band[3].

Bandwidth

Besarnya nilai perhitungan pathloss ini sangat dipengaruhi oleh beberapa parameter yang akan digunakan dalam link budget perencanaan jaringan 5G NR. Perhitungan ini berfungsi untuk menghitung rugi total maksimum

18

redaman sinyal antara perangkat yang diterima terhadap gNodeB. Kemudian, hitung pathloss dengan persamaan sebagai berikut [3]:

Pathloss (dBm) = gNodeB transmit power (dBm)–10 log10 (subcarrier quantity)+gNodeB antenna gain (dBi) – gNodeB cable loss (dB) – penetration loss (dB) – foliage loss (dB) – body block loss (dB) – interference margin (dB) – rain/ice margin (dB)–slow fading margin (dB) + UT antenna gain (dB)–thermal noise figure (dBm) – UT noise figure (dB) – demodulation

threshold SINR (dB)

(2.3)

Gambar 2.7 Pythagoras antara d3D; d2D dan (hBS-hUT)[3].

Pada gambar 2.7 merupakan Pythagoras antara d3D; d2D dan (hBS-hUT).

Untuk mendapatkan nilai d3D dari rumus pathloss di atas diperlukan nilai d’BP, nilai h’BS dan nilai h’UT terlebih dahulu, dengan persamaan (2.4), (2.5) dan (2.6) sebagai berikut [3]:

h’BS = hBS – hE (2.4) h’UT = hUT – hE (2.5) d’BP = 4 x h’BS x h’UT x fc / c (2.6) Pada kasus Line of Sight (LoS) dengan persamaan (2.7) sebagai berikut [3]:

L𝑝 = 28,0 + 40 log(𝑑3𝐷) + 20 log(𝑓𝑐) βˆ’ 9 log((𝑑’𝐡𝑃)2 + (β„Žβ€™π΅π‘† βˆ’ β„Žβ€™π‘ˆπ‘‡)2) (2.7)

19

Setelah nilai d3D akan didapat dari perhitungan PL model propagasi, kemudian menghasilkan nilai d2D sebagai cell radius dari persamaan (2.8) sesuai dengan ketentuan pythagoras, yaitu:

d2D = √((𝑑3𝐷)2 βˆ’ (β„Žπ΅π‘† βˆ’ β„Žπ‘ˆπ‘‡)2) (2.8) Dari cell radius tersebut dapat diketahui area yang dapat dicakup dalam satu site gNodeB menggunakan rumus coverage tiga sektor, yaitu [3] :

𝐢𝐴 = 1.9 Γ— 52,6 Γ— 𝑑2 (2.9)

Untuk mengetahui jumlah site yang dibutuhkan dalam suatu area dibutuhkan nilai luas permukaan daerah perbandingan dengan luas coverage dari gNodeB yang telah ditentukan, perhitungan perancangan jumlah site gNodeB untuk kasus LoS sebagai berikut :

π‘π‘”π‘π‘œπ‘‘π‘’π΅ = β„“π΄π‘Ÿπ‘’π‘Ž/𝐢𝐴 (2.10)

Keterangan :

β„“π΄π‘Ÿπ‘’π‘Ž = Total luas permukaan daerah(m2) 𝐢𝐴 = πΆπ‘œπ‘£π‘’π‘Ÿπ‘Žπ‘”π‘’ π΄π‘Ÿπ‘’π‘Ž dari gNodeB (m2)

20 BAB III

METODE PENELITIAN

3.1 ALAT YANG DIGUNAKAN

Pada perancangan penelitian ini membutuhkan beberapa alat dan bahan untuk membuat perencanaan jaringan 5G. Maka akan dijelaskan beberapa cara kerja dari alat yang akan digunakan pada penelitian ini.

3.1.1 Komputer / PC

Komputer adalah peralatan elektronik yang menerima masukan data, mengolah data dan memberikan hasil keluaran dalam bentuk informasi, baik itu berupa gambar, teks, suara ataupun video. Pada gambar 3.1 merupakan komputer yang digunakan pada penelitian ini yaitu Laptop Asus X45a yang memiliki spesifikasi RAM 2GB dengan prosesor Intel Celeron Dual Core 1000M serta clock speed 1.8 GHz.

Gambar 3.1 Laptop Asus X45a.

3.1.2 Software Atoll

Software atoll adalah perangkat lunak multi teknologi yang banyak digunakan pada dunia telekomunikasi. Software ini dapat digunakan untuk mendukung seluruh jaringan wireless operator untuk tahap perencanaan dan optimasi suatu jaringan. Pada penelitian ini dilakukan simulasi perancangan jaringan 5G dengan memperhatikan parameter. Pada penelitian kali ini menggunakan software atoll 3.4.0. Pada gambar 3.2 merupakan logo dari software atoll.

21

Gambar 3.2 Atoll.

3.2 ALUR PENELITIAN

Pada penelitian ini terdapat beberapa tahapan dalam perencanaan jaringan 5G. Proses tahapan pada penelitian ini dapat dilihat pada Gambar 3.3.

Gambar 3.3 Flowchart Alur Penelitian.

Pada gambar 3.3 merupakan flowchart yang menunjukan ringkasan dari gambaran dalam pengerjaan tugas akhir dari awal perencanaan sampai dengan akhir. Pada topik pengerjaan tugas akhir ini berfokus pada perencanaan coverage planning, yaitu perencanaan secara cakupan area dilayani dalam satu

22

site. Coverage planning meliputi perhitungan path loss dan link budget yang bertujuan untuk mengetahui pelemahan sinyal yang terjadi antara UE (User Equipment) dengan gNodeB, sehingga dari perhitungan tersebut dapat ditentukan jarak maksimal antar gNodeB. Hasil akhir dalam penelitian tugas akhir ini berupa jumlah site yang dibutuhkan dalam suatu daerah yang telah ditentukan. Tahapan awal dalam tugas akhir ini adalah penentuan wilayah yang akan dilakukan perencanaan jaringan 5G New Radio (NR), yaitu daerah Pulo Gadung yang terletak di Jakarta Timur. Adapun data yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain, luas wilayah Jakarta Timur, posisi geografis dan data penduduk. Untuk menentukan klasifikasi layanan maka diperlukan juga data kepadatan penduduk wilayah tersebut.

3.3 FREKUENSI 2,6 GHZ

Tabel 3.1 Link Budget 5G NR untuk Frekuensi 2,6 GHz.

Maximum Allowable Path Loss (MAPL)

Comment parameter Downlink Uplink gNodeB Transmitter

Power(dBm) 49 49

Resource block 273 273

Subcarrier quantity 3276 3276

gNodeB antenna gain(dBi) 2 2

gNodeB cable loss(dBi) 0 0

Penetration loss(dB) 26,85 26,85

Folliage loss(dB) 19,59 19,59

Body block loss(dB) 3 3

Interference margin(dB) 6 2

Rain/Ice margin(dB) 0 0

Slow fading margin(dB) 7 7

UE antenna gain(dB) 0 0

Bandwidth(MHz) 100 100

Kontanta boltzman (K) (mWs/K) 1,38Γ—10-20 1,38Γ—10-20

Temperature(Kelvin) 293 293

Thermal noise power(dBm) -153,93 -153,93

UT noise figure(dB) 9 9

Demodulation threshold

SINR(dB) -1,1 -1,1

23

Mendapatkan jumlah site di daerah perencanaan kawasan Industri Pulogadung dilakukan dengan menentukan model propagasi. Model propagasi yang digunakan didasarkan pada link budget untuk jaringan 5G sesuai dengan 3GPP 38.901. Model propagasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Urban Macro (UMa). UMa dengan Outdoor-to-Outdoor (O2O) dan ini mirip dengan skenario 3D-UMa dimana Base station dipasang di atas tingkat rooftop bangunan sekitarnya dengan tinggi Tx biasanya sekitar 25m, tinggi Rx sekitar 1.5-2.5 m dan ISD sebesar 500 m.

Pertama, tentukan nilai Thermal Noise dan Subcarrier Quantity : Thermal Noise

Sehingga, nilai yang didapat untuk perhitungan pathloss adalah : Skenario 1 Downlink Outdoor-to-Outdoor

Berdasarkan perhitungan, nilai pathloss dari beberapa skenario mendapatkan nilai yang berbeda-beda. Faktor yang sangat berpengaruh pada berbedanya nilai dari pathloss terletak pada parameter interference margin yang berpengaruh pada skenario Uplink menggunakan 2 dB dan Downlink menggunakan 8 dB serta parameter slow fading margin yang berpengaruh terhadap skenario Outdoor-to-Outdoor menggunakan 7 dB. Perbedaan ini diakibatkan perbedaan keadaan yang akan digunakan dari berbagai skenario.

Dari hasil perhitungan h’BS; h’UT; dan d’BP didapat :

24

Dan perhitungan dari rumus LOS-PL ini menghasilkan nilai d3D pada skenario 1 (O2O-Downlink-LOS) dengan nilai :

PL = 40 log10 (d3D) + 28.0 + 20 log10 (fc) – 9 log10 ((d'BP)2 + (hBS - hUT)2) 99,43 = 40 log (d3D)+ 28.0+ 20 log (2.6) – 9 log((416)2 + (25-1)2) 40 log (d3D) = 99,43 + 47,15666791 – 28 – 8,299466959

log (d3D) = 110,287/40

d3D = 571,99 m (3.8)

Pada skenario 1 (O2O-Downlink-LOS), nilai d2D yang didapat adalah :

β€˜d2D’ = √((𝑑3𝐷)2 βˆ’ (β„Žπ΅π‘† βˆ’ β„Žπ‘ˆπ‘‡)2) = √((571,99)2 βˆ’ (25 βˆ’ 1,5)2)

= 571,514 m (3.9)

Jadi, dengan adanya perhitungan sebelumnya dapat diketahui area yang dicakup oleh satu gNodeB pada skenario 1 (O2O-Downlink-LOS) dengan perhitungan sebagai berikut :

𝐢𝐴 = 2,6 x (d2D)2

= 2,6 x (571,514)2

= 849233,455 m2 (3.10)

Terakhir, jumlah site yang dibutuhkan dalam area cakupan yang ingin dilakukan perencanaan dapat diketahui dengan mengetahui luas permukaan daerah penelitian yaitu 7 km2 dibandingkan dengan luas area cakupan gNodeB dengan perhitungan sebagai berikut :

π‘π‘”π‘π‘œπ‘‘π‘’π΅ = β„“π΄π‘Ÿπ‘’π‘Ž/𝐢𝐴

= 7000000 / 849233,455

25

Thermal Noise -153.93 -153.93

Subcarrier Quantity 3276 3276

Pathloss 99,43 dB 103,43 dB

Coverage Area 849233,455 m2 1346786.002 m2 Number of gNodeB 8 sites 6 sites 3.4 FREKUENSI 28 GHZ

Tabel 3.3 Link Budget 5G NR untuk Frekuensi 28 GHz.

Maximum Allowable Path Loss (MAPL)

Comment parameter Downlink Uplink gNodeB Transmitter Power(dBm) 35

Resource block 132

Subcarrier quantity 1584

gNodeB antenna gain(dBi) 2

gNodeB cable loss(dBi) 0

Penetration loss(Db) 12.23

Folliage loss(Db) 5

Body block loss(Db) 15

Interference margin(Db) 0,5 1

Rain/Ice margin(Db) 3

Slow fading margin(Db) 7

UE antenna gain(Db) 0

Bandwidth(MHz) 100

Kontanta boltzman (K) (mWs/K) 1,38Γ—10-20

Temperature(Kelvin) 293

Thermal noise power(dBm) -153,93

UT noise figure(Db) 7

26

Demodulation threshold SINR(Db) -1,1

Jumlah lokasi di kawasan industri Pulogadung ditentukan dengan menentukan model propagasi. Model propagasi yang digunakan didasarkan pada link budget untuk jaringan 5G berdasarkan 3GPP 38.901. Model propagasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah Urban Macro (UMa).

UMa dengan Base Station O2O (Outdoor to Outdoor) dari skenario ngarai jalan Umi dipasang di bawah level rooftop gedung sekitarnya. Area terbuka digunakan untuk merekam skenario kehidupan nyata seperti kota atau terminal.

Lebar daerah cakupan terbuka umumnya sekitar 50-100 m, dengan tinggi Tx 10 m, tinggi Rx sekitar 1,5-2,5 m dan ISD sekitar 200 m.

Tabel 3.4 Hasil Perhitungan.

Thermal Noise -153.93 -153.93

Subcarrier Quantity 1584 1584

Pathloss 110,30 Db 109,80 Db

Coverage Area 119487,19 m2 107059,00 m2 Number of gNodeB 42 sites 47 sites 3.5 COVERAGE AREA

Coverage planning adalah perencanaan jaringan yang perhitungannya berdasarkan area yang akan dicakup oleh jaringan. Perhitungan link budget digunakan untuk menentukan nilai pathloss maksimum yang dapat diterima antara gNB dan antena UE. Dalam perencanaan penelitian ini bertujuan untuk menentukkan jumlah site yang ideal atau baik untuk Kawasan Industri Pulogadung dengan menghitung luas cakupan untuk setiap site.

3.6 PARAMETER SECONDARY SYNCHRONIZATION - REFERENCE SIGNAL RECEIVED POWER (SS-RSRP)

SS-RSRP didefinisikan sebagai daya linier rata-rata pada resource elements yang membawa informasi reference signal dalam rentang frekuensi

27

bandwidth yang digunakan. Reference signal dibawa oleh simbol tertentu pada satu subcarrier dalam resource block, sehingga pengukuran hanya dilakukan pada resource element yang membawa informasi cell-specific reference signal.

SS RSRP merupakan informasi level kuat sinyal pada suatu sel[6].

28 BAB IV

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pada bab ini merupakan proses atau tahap selanjutnya dari perencanaan coverage 5G yaitu perhitungan link budget dan simulasi coverage planning 5G NR di Atoll 3.4. Hasil dan pembahasan meliputi hasil simulasi di Atoll 3.4 dan parameter analisis sesuai pada Bab III.

4.1 HASIL SIMULASI SS-RSRP 2,6 GHZ

Pada penelitian ini menggunakan 2 Skenario simulasi yang kemudian akan dibuat lokasi site baru sesuai dengan jarak dari coverage. Dalam perencanaan jaringan ini tidak menggunakan lokasi site existing. Sehingga, akan diberikan rekomendasi penempatan lokasi site yang baru sesuai dengan pertimbangan cakupan wilayah atau coverage. Hasil simulasi Atoll menunjukkan nilai SS-RSRP rata-rata yang diperoleh.

Tabel 4.1 Main System Parameters.

Key Parameter Sistem Technology template NR Carrier frequency 2600 MHz Start frequency 2550 MHz End frequency 2650 MHz

Bandwidth 100 MHz

Duplex TDD

Antenna file Kathrein

1. Skenario 1 Outdoor-to-Outdoor (O2O) Downlink Line of sight (LOS)

29

Gambar 4.1 gNodeB mapping skenario 1 Parameter SS-RSRP.

Gambar 4.1 merupakan rekomendasi penempatan lokasi site yang digunakan pada simulasi skenario 1 terdiri dari 8 sites.

Tabel 4.2 Kalkulasi Statistik Skenario 1 Parameter SS-RSRP.

Raster Statistic Value

Minimum -110

Maximum -60

Mean -84,34

30

Gambar 4.2 Hasil Simulasi Nilai SS-RSRP Skenario 1.

SS-RSRP rata-rata yang diperoleh untuk prediksi menggunakan 8 gNodeB adalah -84,34 dBm, yang berarti kekuatan sinyal sudah dalam kategori baik pada teknologi sebelumnya (LTE). Sementara itu, penelitian ini menunjukkan SS-RSRP dengan nilai minimum -110 dBm dan nilai maksimum -60 dBm.

2. Skenario 2 Outdoor-to-Outdoor (O2O) Uplink Line of Sight (LOS)

Gambar 4.3 gNodeB Mapping Skenario 2 Parameter SS-RSRP.

31

Gambar 4.3 merupakan rekomendasi penempatan lokasi site yang digunakan pada simulasi skenario 2 terdiri dari 6 sites.

Tabel 4.3 Kalkulasi Statistik Skenario 2 Parameter SS-RSRP.

Raster Statistic Value

Minimum -110

Maximum -60

Mean -86

Gambar 4.4 Hasil Simulasi Nilai SS-RSRP Skenario 2.

SS-RSRP rata-rata yang diperoleh untuk prediksi menggunakan 6 gNodeB adalah -86 dBm. Sementara itu, pada skenario 2 penelitian ini menunjukkan SS-RSRP dengan nilai minimum -110 dBm dan nilai maksimum -60 dBm.

4.2 HASIL SIMULASI SS-RSRP 28 GHZ

Simulasi ini menggunakan beberapa parameter sistem utama yang dirangkum pada tabel 4.4.

Tabel 4.4 Main System Parameters.

32

Key Parameter Sistem Technology template NR Carrier frequency 28000 MHz Start frequency 26500 MHz End frequency 29500 MHz

Bandwidth 100 MHz

Duplex TDD

Antenna file Kathrein 1. Skenario 1 Uplink Outdoor-to-Outdoor (O2O)

Desain ini tidak menggunakan lokasi sites yang sudah ada. Lokasi sites baru kemudian akan direkomendasikan dengan mempertimbangkan coverage area. Penempatan sites diatur secara manual di perangkat lunak Atoll. Gambar 4.5 merupakan rekomendasi lokasi yang digunakan dalam perencanaan ini yang terdiri dari 42 sites sesuai dengan perhitungan.

Gambar 4.5 Pemetaan gNodeB.

33

Gambar 4.6 Hasil Simulasi Nilai SS-RSRP Skenario 1.

Tabel 4.5 Perhitungan Statistik.

Raster Statistic Value

Minimum -120

Maximum -80

Mean -98,18

Dari hasil simulasi ini, 4,25% dari total area tidak terlayani oleh gNodeB karena kekuatan sinyal. Layanan yang diberikan dalam simulasi adalah Video Streaming SS-RSRP rata-rata untuk prediksi menggunakan 42 gNodeB adalah - 98,18 dBm, yang berarti kekuatan sinyal sangat baik dalam hal standarisasi untuk teknologi LTE. Sedangkan penelitian ini menyajikan SS-RSRP dengan nilai minimum -120 dBm dan nilai maksimum -80 dBm.

2. Skenario 2 Downlink Outdoor-to-Outdoor (O2O)

Desain ini tidak menggunakan lokasi sites yang sudah ada. Lokasi sites baru kemudian akan direkomendasikan dengan mempertimbangkan coverage area. Penempatan sites diatur secara manual di perangkat lunak

34

Atoll. Gambar 4.7 merupakan rekomendasi lokasi yang digunakan dalam perencanaan ini yang terdiri dari 47 sites sesuai dengan perhitungan.

Gambar 4.7 Pemetaan gNodeB.

Gambar 4.8 Hasil Simulasi Nilai SS-RSRP Skenario 2.

Tabel 4.6 Perhitungan Statistik.

35

Raster Statistic Value

Minimum -120

Maximum -80

Mean -97, 81

SS-RSRP rata-rata untuk prediksi menggunakan 47 gNodeB adalah - 97,81 dBm, yang berarti kekuatan sinyal sangat baik dalam hal standarisasi untuk teknologi LTE. Sedangkan penelitian ini menyajikan SS-RSRP dengan nilai minimum -120 dBm dan nilai maksimum -80 dBm.

36 BAB V PENUTUP

5.1 KESIMPULAN

1. Ada dua nilai perhitungan MAPL yaitu arah uplink dan downlink, dalam melakukan perhitungan dibutuhkan data link budget yang menunjukkan parameter-parameter yang digunakan oleh UT maupun gNodeB.

2. Dari parameter (SS-RSRP) yang diamati, menunjukkan bahwa Skenario 1 Carrier 28 GHz (Uplink-O2O-LOS) memiliki nilai rata-rata SS-RSRP yang terendah, yaitu sebesar -98.18 dBm dan nilai rata-rata SS-RSRP yang tertinggi dihasilkan oleh skenario 1 Carrier 2,6 GHz (Downlink-O2O-LOS), yaitu sebesar -84.34 dBm, hal ini disebabkan pada skenario 1 Carrier 2,6 GHz memiliki jumlah pathloss terendah.

3. Secara keseluruhan, nilai rata-rata SS-RSRP pada carrier 2,6 GHz lebih baik daripada nilai rata-rata SS-RSRP pada carrier 28 GHz. Hal tersebut disebabkan oleh carrier 2,6 GHz yang memiliki radius sel yang lebih luas jika dibandingkan dengan radius sel pada carrier 28 GHz.

5.2 SARAN

1. Penulis berharap penelitian ini dapat menjadi referensi bagi pembaca khususnya kepada adik tingkat yang akan mengambil Tugas Akhir dengan tema serupa di waktu mendatang.

2. Penulis juga berharap penelitian ini dapat menjadi bahan referensi untuk penelitian 5G di Indonesia.

37

DAFTAR PUSTAKA

[1] G. Fahira, A. Hikmaturokhman, dan A. R. Danisya, β€œ5G NR Planning at mmWave Frequencyβ€―: Study Case in Indonesia Industrial Area,” Int. Conf.

Ind. Electr. Electron., hal. 205–210, 2020.

[2] B. Alfaresi, T. Barlian, dan Muhardanus, β€œAnalisa Path Loss Radio Jaringan 5G Frekuensi High Band 26 GHz dengan Model 3GPP ETSI,” Fokus Elektroda, vol. 05, hal. 05–10, 2020. Tersedia pada:

http://ojs.uho.ac.id/index.php/jfe/.

[3] F. K. Karo, A. Hikmaturokhman, dan M. A. Amanaf, β€œPerencanaan Jaringan 5G New Radio (NR) pada Frekuensi 2,6 GHz di Kawasan Segitiga Emas Jakarta,” 2020.

[4] R. R. Yusuf, U. K. Usman, dan Y. S. Rohmah, β€œAnalisa Perencanaan Perluasan Coverage Area LTE di Kabupaten Garut,” TEKTRIKA, vol. 3, hal.

64–73, 2018.

[5] Cakrawala, β€œApa Itu 5G? Apa Kelebihan yang Ditawarkannya bila

Dibandingkan 4G?,” 2019.

https://infokomputer.grid.id/read/121662685/apa-itu-5g-apa-kelebihan-yang-ditawarkannya-bila-dibandingkan-4g?page=all (Diakses Jun 25, 2021).

[6] R. N. Esa, A. Hikmaturokhman, dan A. R. Danisya, β€œ5G NR Planning at Frequency 3.5 Ghz in Pulogadung Area Using Mentum Planet,” Int. Conf.

Ind. Electr. Electron., hal. 187–193, 2020.

[7] Huawei, β€œHuawei 5G Wireless Network Planning Solution White Paper,”

Shenzhen, 2018.

[8] S. Teral, β€œ5G Best Choice Architecture,” 2019.

[9] R. E. Rios, β€œ5G Network Planning and Optimization Using Atoll,” Universitat Politecnica de Catalunya, 2019.

[10] T. P. Puslitbang SDPPI, β€œStudi Lanjutan 5G Indonesia 2018 Spektrum Outlook dan Use Case untuk Layanan 5G Indonesia.” Puslitbang Sumber Daya, Perangkat, dan Penyelenggaraan Pos dan Informatika Badan Penelitian dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kementerian Komunikasi dan

38

Informatika, Desember 2018. [Daring]. Tersedia pada:

http://balitbangsdm.kominfo.go.id

[11] 5G Indonesia, β€œPemetaan Pengukuran Nilai SS-RSRP 5G NR.”

https://www.5g-indonesia.com/2021/01/pemetaan-pengukuran-nilain-ss-rsrp-5g-nr.html (diakses Sep 05, 2021).

Dokumen terkait