• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III PRAKTEK PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT PADA

E. Persekongkolan Tender Merupakan Suatu Perjanjian

Dalam Pasal 1 Angka 7 Undang-Undang No. 5 Tahun 1999 disebutkan bahwa Perjanjian adalah suatu perbuatan satu atau lebih pelaku usaha untuk mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama apapun, baik tertulis maupun tidak tertulis. Dalam UU No. 5 Tahun 1999 dikatakan bahwa persekongkolan tender masuk ke dalam bagian kegiatan yang dilarang dalam

Panitia Pengadaan/Panitia Lelang

Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat.

Hal yang perlu diperhatikan sehubungan dengan kegiatan pengadaan tender barang maupun jasa adalah adanya kemungkinan terjadinya persekongkolan dalam proses tender tersebut. Banyak dijumpai dalam praktek, bahwa kegiatan tender barang/jasa selalu dikaitkan dengan persekongkolan.

Nuansa persekongkolan/konspirasi senantiasa menyertai pada setiap kegiatan tender barang/jasa. Persekongkolan mempunyai karakteristik tersendiri, karena dalam persekongkolan (conspiracy/konspirasi) terdapat kerjasama yang melibatkan dua atau lebih pelaku usaha yang secara bersama-sama melakukan tindakan melawan hukum. Disamping itu, agar perusahaan dapat membuat perjanjian kolusi yang sukses, mereka harus setuju dengan suatu tindakan yang sama dalam mengimplementasikan perjanjian tersebut, mengawasi apakah perusahaan lain mengikuti perjanjian, dan menciptakan cara untuk menghukum perusahaan yang melanggar perjanjian.84

Persekongkolan dalam tender merupakan suatu bentuk kerjasama yang dilakukan oleh dua atau lebih pelaku usaha dalam rangka memenangkan peserta tender tertentu dan dapat dilakukan oleh satu atau lebih peserta yang menyetujui satu peserta dengan harga yang lebih rendah, dan kemudian melakukan penawaran dengan harga di atas harga perusahaan yang direkayasa sebagai pemenang.

Kesepakatan semacam ini bertentangan dengan proses pelelangan yang wajar,

84 Andi Fahmi Lubis, et al, op.cit, hal. 210.

karena penawaran umum dirancang untuk menciptakan keadilan dan menjamin dihasilkannya harga yang murah dan paling efisien.

Oleh karena itu, apabila dilihat dari pengertian perjanjian diatas yang menyebutkan bahwa perjanjian merupakan tindakan mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain dengan nama apapun, baik tertulis maupun tidak tertulis, seharusnya persekongkolan tender masuk ke dalam bagian perjanjian yang dilarang dalam undang-undang, bukan pada bagian kegiatan yang dilarang, hal ini dikarenakan dalam persekongkolan terdapat tindakan mengikatkan diri terhadap satu atau lebih pelaku usaha lain atau bahkan pihak lain untuk memenangkan tender dengan cara yang tidak kompetitif. Maka dari itu, perlu dilakukan perubahan dalam UU No. 5 Tahun 1999 mengenai substansi perjanjian maupun kegiatan yang dilarang.

F. Peraturan Komisi Pengawas Persaingan Usaha Nomor 2 Tahun 2010 Tentang Pedoman Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999 Tentang Larangan Persekongkolan Dalam Tender

Berdasarkan Penjelasan Pasal 22 UU No. 5/1999, tender adalah tawaran mengajukan harga untuk memborong suatu pekerjaan, untuk mengadakan barang-barang atau untuk menyediakan jasa. Dalam hal ini tidak disebut jumlah yang mengajukan penawaran (oleh beberapa atau oleh satu pelaku usaha dalam hal penunjukan/pemilihan langsung).

Pengertian tender tersebut mencakup tawaran mengajukan harga untuk:85

1. Memborong atau melaksanakan suatu pekerjaan.

2. Mengadakan barang dan atau jasa.

3. Membeli suatu barang dan atau jasa.

4. Menjual suatu barang dan atau jasa.

Berdasarkan definisi tersebut, maka cakupan dasar penerapan Pasal 22 UU No. 5/1999 adalah tender atau tawaran mengajukan harga yang dapat dilakukan melalui tender terbuka, tender terbatas, pelelangan umum, dan pelelangan terbatas. Berdasarkan cakupan dasar penerapan ini, maka pemilihan langsung dan penunjukan langsung yang merupakan bagian dari proses tender/lelang juga tercakup dalam penerapan Pasal 22 UU No. 5/1999.

Untuk mengetahui telah terjadi tidaknya suatu persekongkolan dalam tender, dapat diketahui berbagai indikasi persekongkolan yang sering dijumpai pada pelaksanaan tender. Perlu diperhatikan bahwa, hal-hal berikut ini merupakan indikasi persekongkolan, sedangkan bentuk atau perilaku persekongkolan maupun ada tidaknya persekongkolan tersebut harus dibuktikan melalui pemeriksaan oleh Tim Pemeriksa atau Majelis KPPU.86

Indikasi persekongkolan dalam Peraturan Komisi ini meliputi indikasi persekongkolan pada saat perencanaan tender, pada saat pembentukan panitia

85 Lihat PERKOM 2 Tahun 2010.

86 Rachmadi Usman, op.cit, hal. 488.

tender, pada saat prakualifikasi perusahaan atau pra lelang, pada saat pembuatan persyaratan untuk mengikuti tender/lelang maupun pada saat penyusunan dokumen tender/lelang, pada saat pengambilan dokumen tender/ lelang, pada saat penentuan Harga Perkiraan Sendiri atau harga dasar lelang, pada saat penjelasan tender atau open house lelang, pada saat penyerahan dan pembukaan dokumen atau kotak penawaran tender/lelang, pada saat evaluasi dan penetapan pemenang tender/lelang, pada saat pengumuman calon pemenang, pada saat pengajuan sanggahan, pada saat penunjukan pemenang tender/ lelang dan penandatanganan kontrak, dan pada saat pelaksanaan dan evaluasi pelaksanaan.87

Dari 14 (empat belas) indikasi diatas, perlu diperhatikan untuk menganalisa adanya persekongkolan dalam tender dalam UU No. 5/1999, persekongkolan dalam tender dinyatakan sebagai perilaku yang bersifat rule of reason, yaitu bahwa suatu tindakan memerlukan pembuktian dalam menentukan telah terjadinya pelanggaran terhadap persaingan usaha yang sehat. Untuk itu dalam persekongkolan tender, perlu diketahui apakah proses tender tersebut dilakukan dengan cara tidak jujur atau melawan hukum atau menghambat persaingan usaha.88

Adapun sanksi yang dapat dijatuhkan kepada pelaku usaha yang melakukan persaingan usaha tidak sehat berdasarkan UU Nomor 5 Tahun 1999 adalah sanksi administratif. Sanksi administratif diatur dalam Pasal 47 yakni :

87 Lihat PERKOM 2 Tahun 2010.

88 Rachmadi Usman, op.cit, hal. 494.

Ayat (1) Komisi berwenang menjatuhkan sanksi berupa tindakan administratif terhadap pelaku usaha yang melanggar ketentuan undang-undang ini.

Ayat (2) Tindakan administratif sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) dapat berupa :

a. Penetapan pembatalan perjanjian sebagaimana dimaksud dalam Pasal 4 sampai dengan Pasal 13, Pasal 15 dan Pasal 16, dan atau

b. Perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan integrasi vertikal sebagaimana dimaksud dalam Pasal 14 dan atau

c. Perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan kegiatan yang terbukti menimbulkan praktek monopoli dan atau menyebabkan persaingan usaha tidak sehat dan atau merugikan masyarakat, dan atau

d. Perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan penyalahgunaan posisi dominan dan atau

e. Penetapan pembatalan atas penggabungan atau peleburan badan usaha dan pengambilalihan saham sebagaimana dimaksud Pasal 28 dan atau

f. Pengenaan pembayaran ganti rugi, dan atau

g. Pengenaan denda serendah-rendahnya Rp. 1.000.000.000 (satu milyar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp.25.000.000.000 (dua puluh lima milyar rupiah).

Terhadap pelanggaran Pasal 22 juga dapat dikenakan hukuman pidana pokok sebagaimana diatur dalam Pasal 48 UU No.5 Tahun 1999, yakni :

a. Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 4, Pasal 9 sampai dengan Pasal 14, Pasal 16 sampai dengan Pasal 19, Pasal 25 dan Pasal 28 diancam pidana denda serendah-rendahnya Rp. 25.000.000.000 (dua puluh lima milyar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp.100.000.000.000 (seratus milyar rupiah) atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya 6 (enam) bulan.

b. Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 5, sampai dengan Pasal 8, Pasal 15, Pasal 20 sampai dengan Pasal 24 dan

Pasal 26, diancam pidana denda serendah-rendahnya Rp.

5.000.000.000 (lima milyar rupiah) dan setinggitingginya Rp. 25.000.000.000 (dua puluh lima milyar rupiah) atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya 5 (lima) bulan.

c. Pelanggaran terhadap ketentuan Pasal 41, diancam pidana denda serendah-rendahnya Rp. 1.000.000.000 ( satu milyar rupiah) dan setinggi-tingginya Rp. 5.000.000.000 ( lima milyar rupiah) atau pidana kurungan pengganti denda selama-lamanya 3 (tiga bulan).

Selanjutnya juga dapat dijatuhkan pidana tambahan sebagaimana diatur dalam Pasal 49, berupa :

a) Pencabutan izin usaha;

b) Larangan kepada pelaku usaha yang telah terbukti melakukan pelanggaran terhadap Undang-Undang ini untuk menduduki jabatan Direksi atau Komisaris sekurang-kurangnya 2 (dua) tahun dan selama-lamanya 5 (lima) tahun;

c) Penghentian kegiatan atau tindakan tertentu yang menyebabkan timbulnya kerugian pada pihak lain. Apabila dikaji ketentuan sanksi yang tersebut di atas, maka sanksi administratif yang dapat diterapkan kepada pelaku usaha yang melakukan persekongkolan dalam tender adalah berupa perintah kepada pelaku usaha untuk menghentikan kegiatan yang terbukti menimbulkan praktek monopoli dan persaingan usaha tidak sehat (Pasal 47 ayat 2 huruf c), pengenaan pembayaran ganti rugi (Pasal 47 ayat 2 huruf f), dan Pengenaan denda (Pasal 47 ayat 2 huruf g).

G. Pengadaan Barang/Jasa di Indonesia dan Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP)

Kegiatan bersekongkol menentukan pemenang tender jelas merupakan perbuatan curang, karena pada dasarnya tender dan pemenangnya tidak diatur dan bersifat rahasia. Dalam hukum persaingan usaha salah satu hal yang menjadi obyek persekongkolan adalah masalah tender, dimana pengertian tender atau lelang dapat diketemukan dalam berbagai sumber. Proses yang kompetitif dapat menghasilkan harga yang lebih rendah atau kualitas dan inovasi yang lebih baik, hanya ketika para perusahaan tersebut bersaing secara murni (sebagai contoh, menetapkan persyaratan dan kondisi secara jujur dan berdiri sendiri).

Persekongkolan dalam tender dapat menjadi merusak apabila ia mempengaruhi pengadaan publik. Persekongkolan tersebut mengambil sumber daya dari para pembeli dan pembayar pajak, mengurangi kepercayaan publik dalam proses yang kompetitif, dan mengurangi manfaat suatu pasar yang kompetitif89

Berdasarkan Keppres No. 80 Tahun 2003 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (yang mencabut Keppres No. 18 Tahun 2000 tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan barang/jasa Instansi Pemerintah), tender atau pengadaan barang/jasa adalah kegiatan pengadaan barang/jasa yang dibiayai

89 OECD, op.cit, hal. 1.

dengan APBN/APBD, baik yang dilaksanakan secara swakelola maupun oleh penyedia barang/jasa.90

Di Indonesia terdapat lembaga yang mengatur masalah pengadaan barang/jasa yaitu Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP). Cikal bakal Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah bermula dari sebuah unit kerja bernama Pusat Pengembangan Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Publik (PPKPBJ). LKPP dibentuk pada tahun 2005, unit kerja ini bertugas menyusun kebijakan dan regulasi pengadaan barang/jasa pemerintah, memberikan bimbingan teknis dan advokasi terkait pelaksanaan pengadaan barang/jasa pemerintah, serta memfasilitasi penyelenggaraan ujian sertifikasi ahli pengadaan barang/jasa pemerintah.

LKPP berdiri pada tanggal 6 Desember 2007 berdasarkan Peraturan Presiden Nomor 106 Tahun 2007. LKPP dibentuk didasarkan oleh semangat ingin mewujudkan Indonesia yang lebih baik, terutama dalam hal proses pengadaan barang/jasa pemerintah yang pembiayaannya bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara/Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBN/APBD) agar dapat berlangsung secara lebih efektif dan efisien serta mengutamakan penerapan prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat, transparan, terbuka, dan adil bagi semua pihak dan tentunya dapat dipertanggungjawabkan yang memiliki kewenangan dalam merumuskan perencanaan dan pengembangan strategi, penentuan kebijakan serta aturan

90 Andi Fahmi Lubis, et al, Hukum Persaingan Usaha : Antara Teks dan Konteks, hal. 147-148 diakses di http://www.kppu.go.id/docs/buku_ajar.pdf pada tanggal 20 November 2017.

perundangan pengadaan barang/jasa pemerintah yang sesuai dengan tuntutan perubahan.

Selaras dengan itu sebagai bagian dari masyarakat global, maka keberadaan LKPP akan mensejajarkan Indonesia di kancah Internasional, selayaknya lembaga-lembaga serupa yang sudah ada di sejumlah negara seperti Office of Federal Procurement Policy (OFPP) di Amerika Serikat, Office of Government Commerce (OGC) di Inggris, Government Procurement Policy Board (GPPB) di Filipina, Public Procurement Policy Office (PPPO) di Polandia, dan Public Procurement Service (PPS) di Korea Selatan.

Dalam prakteknya, LKPP berkedudukan sebagai Lembaga Pemerintah Non Kementerian (LPNK) dan bertanggungjawab langsung kepada Presiden RI.

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya, LKPP berada di bawah koordinasi Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas. Tugas LKPP adalah melaksanakan pengembangan, perumusan, dan penetapan kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah.

LKPP memiliki fungsi sebagai berikut :

a) menyusun dan merumuskan strategi serta penentuan kebijakan dan standar prosedur di bidang pengadaan barang/jasa Pemerintah termasuk pengadaan badan usaha dalam rangka kerjasama pemerintah dengan badan usaha;

b) menyusun dan merumuskan strategi serta penentuan kebijakan pembinaan sumber daya manusia di bidang pengadaan barang/jasa Pemerintah;

c) memantau dan mengevaluasi pelaksanaan pengadaan barang/jasa;

d) membina dan mengembangkan sistem informasi serta pengawasan penyelenggaraan pengadaan barang/jasa Pemerintah secara elektronik;

e) memberikan bimbingan teknis, advokasi dan pendapat hukum;

f) membina dan menyelenggarakan dukungan administrasi kepada seluruh unit organisasi di LKPP; dan

g) mengawasi atas melaksanakan tugas LKPP.91

Sebagai subsistem dari sistem birokrasi yang lebih besar LKPP dituntut untuk mengikuti proses reformasi birokrasi yang saat ini menjadi salah satu agenda penting Pemerintah. Pelaksanaan reformasi birokrasi di LKPP menjadi sangat penting dan relevan bukan hanya karena reformasi birokrasi telah menjadi kebijakan dan program nasional yang harus diikuti oleh seluruh komponen atau institusi birokrasi di Indonesia, melainkan juga mengingat peran dan fungsi LKPP dalam merumuskan kebijakan di bidang pengadaan barang/jasa Pemerintah sangat berkaitan dengan proses reformasi itu sendiri terutama reformasi dalam tata kelola belanja Pemerintah/keuangan negara. Dalam hal ini LKPP memiliki peran untuk mendorong peningkatan efisiensi dan efektifitas belanja Pemerintah sehingga diperoleh barang/jasa publik yang bermutu dan sesuai dengan standar yang ditentukan. Hasil yang diharapkan adalah meningkatnya kualitas pelayanan publik yang diberikan oleh birokrasi untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih baik dan kesejahteraan masyarakat.92

LKPP dan KPPU bekerjasama dalam hal-hal mengatasi kasus persekongkolan tender. Latar belakang kerjasama ini adalah, dikarenakan tim penyidik KPPU maupun komisioner tidak mempunyai background yang cukup

91

https://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Kebijakan_Pengadaan_Barang/Jasa_Peme rinta

h diakses pada 20 November 2017.

92 http://www.lkpp.go.id/v3/#/page/2509 diakses pada tanggal 26 November 2017.

untuk masalah-masalah teknis kasus tender karena di dalam kegiatan tender membutuhkan proses pra kualifikasi dan pasca kualifikasi, dan hal tersebut membutuhkan pedoman. Kerjasama ini meliputi persoalan pemberian sanksi akan ada di KPPU, sementara LKPP diharapkan mampu mencegah terjadinya kasus persekongkolan tender yang dilarang dalam Pasal 22 UU No.5 Tahun 1999.

Misalnya diakomodir dalam Kepres No.80 Tahun 2003 tentang Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah sebagaimana diubah Perpres 54 Tahun 2010.93

Kerjasama tersebut sangat baik adanya dikarenakan dengan adanya kerjasama antara LKPP dan KPPU, diharapkan dapat mengurangi kasus persekongkolan tender di Indonesia dan kasus persekongkolan tender yang masih ada di Indonesia dapat diusut tuntas oleh KPPU dan pelaku usaha yang melakukan persekongkolan tender dapat diberikan sanksi sehingga dampak kedepan dapat terciptanya kondisi persaingan usaha yang sehat diantara pelaku usaha.

H. Organisation for Economic Co-operation and Development (OECD)

Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi (OECD - Organisation for Economic Co-operation and Development) merupakan sebuah organisasi internasional yang didirikan untuk mempererat kerjasama dan pembangunan ekonomi antar negara demi mewujudkan stabilitas perekonomian

93 http://www.hukumonline.com/berita/baca/lt4c6424cee54ac/kppu-akan-gandeng-lkpp-atasi-kasus-persekongkolan-tender diakses pada tanggal 26 November 2017.

yang berkelanjutan dengan tiga puluh negara yang menerima prinsip demokrasi perwakilan dan ekonomi pasar bebas.94

Pada awalnya OECD bernama (OEEC - Organisation for European Economic Co-operation), yaitu sebuah Organisasi untuk Kerja Sama Ekonomi Eropa yang dipimpin oleh Robert Marjolin dari Perancis, untuk membantu menjalankan Marshall Plan95, untuk rekonstruksi Eropa setelah Perang Dunia II.

Kemudian, keanggotaannya merambah ke negara-negara non-Eropa, dan tahun 1961 OEEC berubah menjadi OECD yang dibentuk oleh Konvensi tentang Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi.96 Organisasi untuk Kerjasama Ekonomi dan Pembangunan (OECD) memiliki misi untuk mempromosikan kebijakan yang akan meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat di seluruh dunia. OECD menyediakan forum di mana pemerintah dapat bekerja sama untuk berbagi pengalaman dan mencari solusi untuk masalah umum. Fokus OECD pada saat ini adalah untuk mengembalikan kepercayaan pada pasar dan institusi yang membuat mereka berfungsi, membangun kembali keuangan publik yang sehat sebagai basis pertumbuhan ekonomi berkelanjutan di masa depan, membangun kembali keuangan publik,

94 http://www.oecd.org/about/ diakses pada tanggal 27 november 2017.

95Cikal bakal OECD dimulai ketika pemerintah Amerika Serikat yang diwakili oleh Menteri Luar Negeri pada saat itu, sekaligus pemenang Nobel Perdamaian 1953, George Marshall menyatakan bahwa Amerika Serikat mesti membantu perbaikan kondisi ekonomi dan sosial-politik dunia, pasca perang dunia kedua. Inisiatif tersebut dikemudian hari dikenal dengan istilah the Marshall Plan. (dilihat di http://www.oecd.org/about/ diakses pada tanggal 27 November 2017).

96https://id.wikipedia.org/wiki/Organisasi_untuk_Kerja_Sama_dan_Pemba ngunan_Ekonomi diakses pada tanggal 27 November 2017.

serta mendorong dan mendukung sumber pertumbuhan baru melalui inovasi, strategi 'green growth' ramah lingkungan dan pengembangan ekonomi baru.97

Sesuai dengan konvensi yang ditandatangani di Paris pada 14 Desember 1960, OECD bertugas mempromosikan kebijakan yang bertujuan untuk:98

1. Mencapai pertumbuhan ekonomi berkelanjutan, peningkatan standar kelayakan hidup, serta ketersediaan lapangan kerja di negara-negara anggota, sekaligus menjaga stabilitas keuangan, sehingga mampu berkontribusi terhadap perekonomian global.

2. Mempromosikan keterbukaan ekonomi, baik diantara negara-negara anggota maupun negara-negara lain dalam rangka perwujudan pembangunan jangka panjang.

3. Memberikan kontribusi positif terhadap perdagangan global dalam kerangka kerjasama antar negara tanpa adanya diskriminasi, seturut dengan kesepakatan internasional.

Dalam pelaksanaan kegiatannya, OECD memperoleh dana yang berasal dari kontribusi negara-negara anggota. Seperti halnya organisasi internasional lain, seperti the International Monetary Fund (IMF) dan the World Bank, posisi Amerika Serikat sangat berpengaruh dalam institusi ini. Dengan dana bantuan mencapai 25% dari total kontribusi negara-negara anggota, peran Amerika Serikat signifikan dalam setiap pengambilan keputusan, apalagi mengingat bahwa sejarah

97 http://www.oecd.org/about/ diakses pada tanggal 28 november 2017.

98 http://www.ajarekonomi.com/2016/08/sekilas-tentang-organisation-for.html diakses pada tanggal 28 November 2017.

awal OECD adalah inisiatif pemerintah Amerika Serikat. Namun demikian secara organisatoris, OECD menegaskan bahwa setiap pengambilan keputusan didasarkan pada consensus building atau kesepakatan bersama serta mengutamakan transparansi.99

Kerjasama OECD-Indonesia dipandu oleh Program Kerja Bersama dua tahunan, yang diperbaharui untuk periode 2017-2018. Kerjasama Indonesia dengan OECD100 berfokus pada bidang-bidang prioritas berikut untuk negara ini:

a. Iklim usaha dan pertumbuhan yang dinamis b. Kebijakan sosial dan pertumbuhan inklusif c. Pemerintahan

d. Pertumbuhan hijau

OECD secara aktif mendukung pemerintah dalam melaksanakan agenda reformasi di banyak bidang kebijakan, termasuk kebijakan makroekonomi, pajak, investasi, kebijakan peraturan, penganggaran, pendidikan keuangan dan urusan keuangan, pendidikan, pertanian, perdagangan dan anti-korupsi. Indonesia adalah yang pertama dari Mitra Utama OECD untuk menandatangani Kerangka Kerja Sama Perjanjian pada tahun 2012, diikuti oleh Perjanjian Hak Istimewa dan Kekebalan Intelektual pada tahun 2013. Kemitraan dengan OECD telah menjadi motor berharga untuk memulai kerjasama, termasuk dengan peluncuran Program

99 Ibid.

100 http://www.oecd.org/indonesia/indonesia-and-oecd.htm diakses pada tanggal 29 November 2017.

Regional Asia Tenggara OECD pada tahun 2014 dan pembukaan kantor perwakilan di Jakarta pada tahun 2015.101

Kemitraan ini telah menghadirkan alat-alat penting, seperti survei ekonomi reguler yang memberikan analisis kebijakan secara mendalam untuk pertumbuhan yang inklusif dan berkelanjutan. Tinjauan Kebijakan Investasi (2010), Regulatory Reform (2012), dan Kebijakan Pendidikan (2015), bersama dengan Pemerintah Terbuka (2016), telah memfasilitasi pelaksanaan reformasi kebijakan. Indonesia juga merupakan anggota Forum Global untuk Transparansi dan Pertukaran Informasi untuk Tujuan Pajak, dan Dialog Kebijakan Tata Kelola Perusahaan Indonesia-OECD.102

OECD saat ini memiliki 35 anggota dan Indonesia tidak termasuk ke dalam anggota tersebut melainkan termasuk ke dalam mitra kunci. Mitra Kunci ini berkontribusi pada pekerjaan OECD secara berkelanjutan dan komprehensif.

Unsur utama dari kerja sama ini adalah promosi partisipasi langsung dan aktif dari Mitra Utama dalam pekerjaan badan substantif Organisasi. Kerjasama Indonesia-OECD juga membahas mengenai persekongkolan tender dimana peraturan persaingan usaha di Indonesia banyak mengikuti pedoman dari OECD sebagaimana dapat dilihat di Pedoman Untuk Mengatasi Persekongkolan Tender dalam Hal Pengadaan Publik yang dikeluarkan OECD pada tahun 2009. Dengan memanfaatkan berbagai bidang kerjasama OECD-Indonesia, diharapkan dapat menerapkan kebijakan yang lebih baik untuk kehidupan yang lebih baik.

101 Ibid.

102 http://www.oecd.org/about/membersandpartners/ diakses pada 29 November 2017

BAB IV

ANALISIS HUKUM TERHADAP PUTUSAN KPPU PERKARA NO.24/KPPU-I/2016 TENTANG PERSAINGAN USAHA TIDAK SEHAT

PADA PENGADAAN ALAT KESEHATAN

A. Analisis Hukum Terhadap Putusan Majelis Komisi Dalam Memutus Perkara No. 24/KPPU-I/2016

A.1 Kasus Posisi

Kasus Posisi Putusan KPPU No. 24/KPPU-I/2016 adalah bahwa PT Synergy Dua Kawan Sejati (Terlapor I), PT Kembang Turi Healthcare (Terlapor II), PT Dwi Putra Unggul Pratama (Terlapor III), CV Trimanunggal Mandiri (Terlapor IV) , dan CV Tiga Utama (Terlapor V) diduga melakukan persekongkolan tender untuk memenangkan pelelangan tender yang diadakan oleh RSUD yang meliputi Ruang Intensif APBD , alat-lat kedoteran radiologi BLUD, alat kedokteran ICU/ICCU APBD, dan alat-alat kedokteran umum APBD. Proses pengadaan alat-alat kesehatan yang termasuk dalam persekongkolan tender tersebut dibuktikan dengan adanya kesamaan pada pengurus pendirian akta yang dilakukan oleh Sonny Listanto (berprofesi sebagai biro jasa pengurusan akta-akta perusahaan di notaris), Internet Protocol Address (IP Address) , pemberi dukungan, merek, dan tipe alat kedokteran. Para Terlapor pada saat persidangan mengaku bahwa mereka tidak mengetahui adanya pengaturan mengenai persekongkolan tender yang diatur dalam UU No. 5 Tahun 1999. KPPU

memutuskan amar putusan sebagai berikut :

1. Menyatakan bahwa Terlapor I, Terlapor II, Terlapor III, Terlapor IV dan Terlapor V terbukti secara sah dan meyakinkan melanggar Pasal 22 Undang-Undang Nomor 5 Tahun 1999; -

2. Menghukum Terlapor I, membayar denda sebesar Rp. 2.050.400.000,00 (Dua Milyar Lima Puluh Juta Empat Ratus Ribu Rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di

2. Menghukum Terlapor I, membayar denda sebesar Rp. 2.050.400.000,00 (Dua Milyar Lima Puluh Juta Empat Ratus Ribu Rupiah) yang harus disetor ke Kas Negara sebagai setoran pendapatan denda pelanggaran di

Dokumen terkait