HASIL DAN PEMBAHASAN
Bobot 15 Biji Karet
4.2.7 Persen FFA
Hasil analisis sidik ragam (Lampiran 6b) menunjukkan bahwa faktor suhu pemanasan memberikan pengaruh yang nyata terhadap bilangan asam minyak biji karet yang dihasilkan, sedangkan faktor lama pemanasan dan interaksi antara suhu pemanasan dengan lama pemanasan tidak memberikan pengaruh terhadap bilangan asam minyak biji karet yang dihasilkan.
Hasil uji lanjut Duncan (Lampiran 6c) mengenai pengaruh suhu pemanasan terhadap bilangan asam minyak biji karet yang dihasilkan, menunjukkan bahwa taraf perlakuan A1 (70 oC ) memiliki rata-rata bilangan asam yang tertinggi dan tidak berbeda nyata dengan taraf perlakuan A2 (90 oC), tetapi berbeda nyata dengan taraf perlakuan A3 (110 oC), sedangkan taraf perlakuan A2 (90 oC) menghasilkan bilangan asam yang tidak berbeda nyata dengan A3 (110 oC). Lebih tingginya bilangan asam yang dihasilkan dari taraf perlakuan suhu pemanasan 70 oC diduga disebabkan karena kadar air biji yang dipanaskan pada suhu 70 oC lebih besar daripada kadar air biji yang diberi perlakuan pemanasan pada suhu 90 oC dan 100 oC. Menurut Swern (1982), biji yang mempunyai kadar air tinggi akan menghasilkan minyak yang mempunyai kadar air yang tinggi juga dan akan mudah terhidrolisis. Selain itu, diduga disebabkan juga oleh masih tingginya aktivitas enzim dan mikroorganisme yang mengkatalis proses hidrolisis minyak. Semua enzim yang termasuk golongan lipase mampu menghidrolisis lemak, namun enzim tersebut inaktif oleh panas. Meskipun demikian, diduga pemanasan pada suhu 70 oC masih belum dapat meng-inaktifkan enzim tersebut sehingga proses hidrolisisnya berjalan lebih cepat. Sementara itu, rendahnya bilangan asam yang dihasilkan dari taraf perlakuan pemanasan pada suhu 110 oC, diduga disebabkan oleh rendahnya aktivitas enzim lipase dengan adanya pemanasan, sehingga kemampuan enzim tersebut untuk menguraikan trigliserida menjadi asam lemak dan gliserol menjadi rendah. Selain itu, mungkin juga disebabkan oleh semakin kecilnya air yang tersuspensi dengan minyak sehingga proses hidrolisis berjalan lebih lambat.
4.2.7 Persen FFA
Pengukuran asam lemak bebas (Free Fatty Acid) bertujuan untuk mengetahui tingkat kerusakan hidrolitik di dalam minyak. Biasanya kadar asam lemak bebas ini dinyatakan sebagai bilangan asam, derajat asam, atau kadar asam. Bilangan asam dinyatakan sebagai jumlah miligram KOH 0,1 N yang digunakan untuk menetralkan asam lemak bebas yang terdapat dalam 1 gram
minyak atau lemak, sedangkan derajat asam adalah banyaknya mililiter larutan KOH 0,1 N yang dibutuhkan untuk menetralkan 100 gram minyak atau lemak.
Dalam penelitian ini, kadar asam-asam lemak bebas yang terdapat dalam minyak dinyatakan dalam persen yang diperoleh dari hasil konversi bilangan asam yang dibagi dengan faktor konversi untuk asam lemak linoleat, yaitu sebesar 2,01 (Sudarmadji et al. 1989). Hal ini disebabkan karena asam lemak bebas yang paling besar terdapat dalam minyak biji karet adalah asam linoleat. Oleh karena FFA merupakan hasil konversi dari bilangan asam, maka hasil analisis sidik ragam dan hasil uji lanjut Duncan yang diperoleh akan memberikan pengaruh yang sama terhadap persen FFA yang dihasilkan seperti halnya hasil analisis sidik ragam dan hasil uji lanjut Duncan untuk bilangan asam. Persen FFA yang diperoleh dari penelitian ini berkisar antara 0,80-1,04 % dengan nilai rataan sebesar 0,91 %. Nilai tertinggi dihasilkan dari kombinasi perlakuan pemanasan pada suhu 70 oC selama 1 jam, sedangkan yang terendah dihasilkan dari kombinasi pemanasan pada suhu 110 oC selama 3 jam. Keterangan lebih lengkap dapat dilihat pada Gambar 9 di bawah ini.
0 0.2 0.4 0.6 0.8 1 1.2 1.4 FF A ( % ) Kontrol 70 90 110
Suhu pem anasan (˚C)
1 jam 2 jam 3 jam
Gambar 9 Histogram hubungan suhu pemanasan dengan persen FFA.
4.3 Karakterisasi Minyak Biji Karet dan Minyak Ikan
Dilihat dari rendemen dan bilangan iod tertinggi, maka kombinasi perlakuan yang menghasilkan minyak biji karet yang paling optimal untuk penyamakan kulit yaitu pemanasan biji karet pada suhu 70 oC selama 1 jam. Minyak biji karet tersebut dikarakterisasi sifat fisiko-kimia dan gugus fungsional yang terkandung di dalamnya. Selain itu, dilakukan juga karakterisasi yang sama terhadap minyak
ikan sebagai pembanding. Hasil karakterisasinya dapat dilihat pada Tabel 7 dan Tabel 8.
Tabel 7 Sifat fisiko-kimia minyak biji karet dan minyak ikan
Minyak Biji Karet Parameter
Kontrol Optimal Minyak Ikan
Berat Jenis 0,919 0,924 0,922
Viskositas (centipoise) 60 160 120
Warna (Unit PtCo) Bilangan Asam 4895 2,56 4077 2,08 6106 0,19 Persen FFA 1,27 1,03 0,09 Bilangan Iod 141,74 145,74 147,72 Bilangan Penyabunan 190,10 184,58 168,20 Bilangan Peroksida 51,80 30,46 13,97
Tabel 8 Gugus fungsional minyak biji karet dan minyak ikan
Minyak Biji Karet Gugus Fungsional Kontrol
Peaks (cm-1) Optimal Peaks (cm-1) Minyak Ikan Peaks (cm-1) COOH 2904,55 2912,82 2910,20 COOR 1161,81 1163,80 1152,00 –CH=CH– 722,75 722,73 720,89 OH 3471,95 3471,97 3472,33 C–H 2852,21 2855,41 2854,27
Dari Tabel 7, dapat dilihat bahwa minyak biji karet kontrol memiliki nilai viskositas yang lebih rendah dibandingkan dengan minyak biji karet yang optimal untuk penyamakan kulit. Hal ini diduga disebabkan oleh sebagian besar asam lemak yang ikut terekstrak bersama minyak biji karet kontrol pada saat ekstraksi adalah asam lemak yang berantai pendek, sedangkan pada minyak biji karet yang optimal untuk penyamakan adalah sebagian besar asam lemak yang berantai panjang. Asam lemak yang berantai panjang ini memiliki bobot molekul yang lebih besar daripada asam lemak yang berantai pendek sehingga akan menghasilkan viskositas yang lebih besar.
Pada Tabel 7 juga dapat dilihat bahwa bilangan iod minyak biji karet yang optimal untuk penyamakan kulit tidak terlalu berbeda jauh dengan bilangan iod
minyak ikan. Bilangan iod ini merupakan karakteristik utama minyak sebagai bahan penyamak kulit. Dengan demikian, minyak biji karet yang dihasilkan dari kombinasi perlakuan pemanasan biji karet pada suhu 70 oC selama 1 jam berpotensi untuk digunakan sebagai bahan penyamak kulit. Selain itu, diperkuat juga oleh alasan bahwa di dalam minyak biji karet yang dihasilkan dari kombinasi perlakuan pemanasan biji karet pada suhu 70 oC selama 1 jam memiliki gugus fungsional yang sama dengan minyak ikan (Tabel 8).
Pada Tabel 8 juga menunjukkan bahwa adanya pemanasan biji karet tidak menyebabkan perbedaan gugus fungsional yang terdapat dalam minyak biji karet.
BAB V
KESIMPULAN
5.1 Kesimpulan
1. Melihat rendemen dan bilangan iod tertinggi, maka kombinasi perlakuan pemanasan biji karet dengan jenis klon GT yang menghasilkan minyak biji karet yang paling optimal untuk penyamakan kulit adalah kombinasi perlakuan pemanasan pada suhu 70 oC selama 1 jam.
2. Sifat fisiko-kimia minyak biji karet yang paling optimal untuk penyamakan kulit yaitu memiliki rendemen 20,52 %, kadar minyak dalam bungkil 9,84 %, warna 4077 unit PtCo, berat jenis 0,924, viskositas 160 centipoise, bilangan iod 145,74, bilangan asam 2,08, persen FFA 1,04, bilangan penyabunan 184,58, bilangan peroksida 30,46, dan gugus fungsional yang terdiri dari COOH, COOR, –CH=CH–, OH, dan C–H. Sedangkan sifat fisiko-kimia minyak ikan yaitu memiliki nilai warna 6106 unit PtCo, berat jenis 0,922, viskositas 120 centipoise, bilangan iod 147,72, bilangan asam 0,19, persen FFA 0,09, bilangan penyabunan 168,20, bilangan peroksida 13,97, dan gugus fungsional yang terdiri dari COOH, COOR, –CH=CH–, OH, dan C–H. 3. Nilai bilangan iod minyak biji karet hampir sama dengan minyak ikan dan
gugus fungsional yang dimiliki oleh kedua minyak tersebut adalah sama. Dengan demikian, minyak biji karet yang dihasilkan dalam penelitian ini berpotensi untuk digunakan sebagai bahan penyamak kulit.
5.2 Saran
1. Perlu dilakukan penelitian mengenai aplikasi penyamakan kulit menggunakan minyak biji karet yang dihasilkan dalam penelitian.
2. Perlu penelitian lebih lanjut mengenai pemanfaatan bungkil biji karet yang dihasilkan dalam penelitian ini, mengingat di dalam bungkil tersebut tidak hanya terdiri dari daging biji melainkan terdiri dari daging biji dan tempurung biji karet. Oleh karena itu, adanya tempurung biji karet memungkinkan untuk dilakukan penelitian lebih lanjut.