• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Persen Tutupan Terumbu Karang

Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, didapatkan persen tutupan terumbu karang hidup yang berbeda-beda pada setiap stasiun penelitian, dimana didapatkan lima bentuk pertumbuhan dari kelompok Acropora dan lima bentuk pertumbuhan dari kelompok Non-acropora seperti terlihat pada Tabel 4.1 berikut:

Tabel 4.1 Nilai persen tutupan terumbu karang pada setiap stasiun pengamatan

N o

Bentuk hidup Persen Tutupan

Stasiun I Rata2 Stasiun II Rata2

1 1 2 3 1 2 3 Acropora Branching 17,3 5,34 8,42 10,35 5,00 0,10 10,20 5,10 Digitata 7,5 4,82 2,20 4,84 4,90 0,64 7,48 4,34 Encrusting 10,12 4,50 3,40 6,01 0,80 - 4,42 2,61 Submassive 3,22 2,92 3,54 3,23 1,08 1,74 1,14 1,32 Tabulate 27,82 5,00 3,36 12,06 2,04 2,40 3,10 2,51 Sub-total 65,96 22,58 20,92 36,49 13,82 4,88 26,34 15,88 2 Non-Acropora Encrusting 0,26 0,74 6,90 2,63 0,30 7,76 0,28 2,78 Foliose 2,30 8,02 1,28 3,87 1,60 8,12 - 4,86 Heliopora 0,44 2,04 0,54 1,01 - - 1,04 1,04 Massive 14,72 39,66 28,88 27,75 34,50 33,40 30,86 32,92 Submassive 1,52 0,52 2,02 1,35 0,84 2,66 3,10 2,20 Sub-total 19,24 50,98 39,62 36,61 37,24 51,94 35,28 43,80 Total 85,20 73,56 60,54 73,10 51,06 56,82 61,62 59,68

Taripar M. Nababan : Persen Tutupan (Percent Cover) Terumbu Karang Hidup Di Bagian Timur Perairan Pulau Rubiah Nanggroe Aceh Darussalam, 2010.

Dari Tabel 4.1 dapat dilihat bahwa pada stasiun I memiliki persen tutupan terumbu karang hidup tertinggi yaitu 73,10 %, dimana daerah ini memiliki habitat yang masih alami, perairan yang jernih dan rata-rata intensitas cahaya yang tinggi sehingga terumbu karang mendapatkan cahaya matahari yang cukup dimana kondisi ini sangat dibutuhkan untuk tumbuh dengan baik. Pantai yang curam dengan jenis substrat berbatu yang lebih dominan juga memungkinkan koloni terumbu karang dapat melekat lebih kokoh dan peluang berkembangnya terumbu karang baru akan lebih besar. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Ardiwijaya et al, (2006) bahwa perairan pulau Weh relatif memiliki kecerahan perairan yang tinggi, sehingga karang mendapatkan cahaya matahari yang sangat dibutuhkan untuk tumbuh. Daerah perlindungan laut di pulau Weh juga memiliki tutupan karang rata-rata yang relatif lebih tinggi dibanding daerah lainnya (open access). Daerah lain yang lebih didominasi oleh substrat pasir memiliki peluang terumbu karang untuk hidup dan tumbuh akan lebih kecil.

Selanjutnya hasil pengukuran faktor fisik-kimia perairan (Tabel 4.2) juga menunjukkan bahwa stasiun I (daerah kontrol) memiliki nilai rata-rata tertinggi pada intensitas cahaya (1229 candela), pH (7,8), DO, suhu (30 oC), kejenuhan oksigen (88,589 %), salinitas (35 o/oo) serta penetrasi cahaya (5 meter), hal ini mengakibatkan kondisi perairan di stasiun I lebih optimal dalam mendukung pertumbuhan terumbu karang dibandingkan stasiun II (daerah aktivitas). Disamping itu BOD5 stasiun I memiliki nilai yang rendah (1,1 mg/l), yang artinya tidak ditemukan pencemaran. Supriharyono (2000-b) mengatakan bahwa keanekaragaman, penyebaran dan pertumbuhan karang hermatipik juga tergantung pada kondisi fisik-kimia lingkungannya. Kondisi ini pada kenyataannya tidak selalu tetap akan tetapi sering kali berubah karena adanya gangguan baik yang berasal dari alam maupun dari aktivitas manusia.

Sedangkan persen tutupan terumbu karang hidup pada stasiun II memiliki nilai yang lebih rendah yaitu 59.68%. Kerusakan terumbu karang pada daerah ini lebih

Taripar M. Nababan : Persen Tutupan (Percent Cover) Terumbu Karang Hidup Di Bagian Timur Perairan Pulau Rubiah Nanggroe Aceh Darussalam, 2010.

tinggi dibandingkan stasiun I, baik yang terjadi secara alami maupun oleh aktivitas manusia. Disamping itu daerah ini juga memiliki kondisi perairan yang landai dan tenang, sehingga sering digunakan oleh wisatawan untuk bermain, diving, snorkelling, dan aktivitas lainnya yang dapat mempengaruhi kondisi faktor fisik-kimia perairan (Tabel 4.2). Jika dibandingkan dengan penelitian yang telah dilakukan oleh berbagai pihak (WCS, FFI, mahasiswa Biologi S1) selama 5 tahun terkhir ini, dapat dikatakan bahwa daerah ini memang telah mengalami kerusakan, sehingga pada setiap transek sering dijumpai karang mati (dead coral). Kerusakan ini pada umumnya disebabkan karena terumbu karang mengalami pemutihan (coral bleaching) dan juga dijumpai terumbu karang yang patah-patah. Supriharyono (2000-a) menyatakan bahwa aktifitas wisata bahari yang berlebihan dapat mengakibatkan turunnya kualitas dan fungsi lingkungan perairan laut yang akan mengakibatkan rusaknya ekosistem terumbu karang. Selanjutnya Westmacott (2000) menyatakan bahwa pemutihan karang atau Coral Bleaching adalah pudarnya warna terumbu karang menjadi pucat atau putih. Hal ini merupakan akibat dari pemanasan global yang menyebabkan karang kehilangan 60-90% dari jumlah zooxanthellae-nya. Tsunami pada bulan Desember 2004 menyebabkan kerusakan terumbu karang jauh lebih ringan dibandingkan akibat perubahan iklim, kerusakan parah umumnya terjadi pada daerah sempit pada sebagian kecil kawasan terumbu karang (Wilkinson et al, 2006).

Dari hasil pengukuran persen tutupan terumbu karang hidup pada setiap stasiun penelitian, maka dapat digambarkan perbedaan persen tutupan setiap bentuk hidup terumbu karang seperti pada Gambar 3 berikut:

Taripar M. Nababan : Persen Tutupan (Percent Cover) Terumbu Karang Hidup Di Bagian Timur Perairan Pulau Rubiah Nanggroe Aceh Darussalam, 2010.

Gambar 3: Grafik persen tutupan setiap bentuk hidup terumbu karang.

Pada Gambar 3 diatas terlihat bahwa jenis acropora dengan ciri khusus memiliki radial coralit dan axial coralit selalu mendominasi pada stasiun I, yaitu dari jenis acropora branching, acropora digitata, acropora encrusting, acropora submassive dan acropora tabulate. Hal ini disebabkan pada stasiun tersebut habitatnya masih alami, intensitas cahaya yang tinggi, berhadapan langsung dengan lautan terbuka, pantai yang terjal serta hampir tidak dijumpai aktivitas manusia. Sedangkan pada stasiun II yang memiliki berbagai aktivitas dan perairan yang landai sangat sedikit ditemukan kelompok acropora ini. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Johan (2003) bahwa genus acropora biasanya tumbuh pada perairan jernih dan lokasi dimana terjadi pecahan ombak. Bentuk koloni umumnya bercabang dan tergolong jenis karang yang cepat tumbuh, namun sangat rentan terhadap sedimentasi dan aktivitas manusia. Selanjutnya Nybakken (1988) menyatakan bahwa karang bercabang pada umumnya lebih mendominasi pada perairan yang lebih dalam. Pada Gambar 3 di atas, acropora branching dan acropora tabulate merupakan bentuk hidup yang paling banyak dari kelompok karang acropora. Koloni ini tumbuh ke arah vertikal maupun horisontal, dengan arah vertikal lebih dominan. Percabangan dapat memanjang atau melebar, sementara bentuk cabang dapat halus atau tebal. Karang bercabang memiliki tingkat pertumbuhan yang paling cepat, yaitu bisa mencapai 20 cm/tahun (Suharsono, 1984).

Taripar M. Nababan : Persen Tutupan (Percent Cover) Terumbu Karang Hidup Di Bagian Timur Perairan Pulau Rubiah Nanggroe Aceh Darussalam, 2010.

Kelompok terumbu karang non-acropora dengan ciri khusus tidak memiliki axial coralit umumnya mendominasi di stasiun II. Daerah ini memiliki kondisi dasar perairan yang agak landai dan pantai berpasir sehingga sering digunakan wisatawan untuk berbagai kegiatan. Kondisi ini telah menyebabkan kerusakan pada karang acropora khususnya yang pertumbuhannya bercabang dan melebar seperti acropora branching dan acropora tabulate pada derah perairan dangkal. Terumbu karang non-acropora dari kelompok coral massive mendominasi pada kedua stasiun pengamatan. Pertumbuhan koloni karang ini lebih dominan ke arah horisontal daripada vertikal. Karang ini memiliki bentuk yang bervariasi, seperti setengah bola dengan ukuran yang juga beragam, serta memiliki laju pertumbuhan paling lambat (< 1 cm/tahun). Meski demikian, banyak dijumpai karang ini dengan ukuran yang sangat besar, karena memiliki adaptasi yang tinggi terhadap perubahan lingkungan. Hal ini sesuai dengan yang dikemukakan oleh Suharsono (1996) menyatakan bahwa coral massive mempunyai daya kompetisi yang tinggi, dengan harapan hidup yang panjang, mempunyai kemampuan penyebaran yang terbatas dan kecepatan tumbuh yang lambat. Disamping itu karang massive juga memiliki suatu adaptasi khusus yaitu dapat mencerna karang yang berada di dekatnya. Selanjutnya Supriharyono (2000-a) menyatakan bahwa coral massive merupakan karang yang paling toleran terhadap kenaikan suhu, dan paling tahan terhadap adanya kekeruhan pada suatu perairan.

Taripar M. Nababan : Persen Tutupan (Percent Cover) Terumbu Karang Hidup Di Bagian Timur Perairan Pulau Rubiah Nanggroe Aceh Darussalam, 2010.

Dokumen terkait