• Tidak ada hasil yang ditemukan

DAFTAR LAMPIRAN

III. HASIL DAN PEMBAHASAN

3.1.3 Persentase Bukaan Mulut

Pada parameter persentase bukaan mulut, terdapat perbedaan antara perlakuan dengan kontrol. Pada jam ke- 6, didapatkan hasil sebanyak 46,67 ± 11,55 % dari larva sampel P3 mulutnya telah terbuka. Sedangkan pada jam ke- 12, sebanyak 6,67 ± 11,55 % larva sampel P1 mulutnya telah terbuka, begitu pula pada P2, sebanyak 33,33 ± 23,09 %, namun pada perlakuan kontrol mulutnya belum terbuka. Pada jam ke- 18 larva terdapat 20 ± 0 % larva kontrol yang mulutnya telah terbuka sedangkan perlakuan P3 semua sampel telah terbuka mulutnya. Pada jam ke- 24, perlakuan P2 sebanyak 100 ± 0 % sampel telah terbuka mulutnya, sedangkan perlakuan P1 dan kontrol baru mencapai 80 ± 20 % dan 33.33 ± 23,09 % (Gambar 4).

13 Gambar 4 Frekuensi perkembangan bukaan mulut larva ikan patin jam ke 0-24 paska perlakuan kejutan salinitas dan perendaman tiroksin. (■) Kontrol, (■) 0,05 ppm, (■) 0,1 ppm, (■) 0,2 ppm.

(a) (b)

Gambar 5 Bukaan mulut larva. (a) belum terbuka, (b) sudah terbuka.

3.1.4 Panjang Akhir

Pada parameter panjang akhir diperoleh hasil yang menunjukkan bahwa perlakuan kontrol memiliki nilai panjang yang lebih kecil dibandingkan perlakuan tiroksin dan kejutan salinitas (Gambar 6). Panjang akhir menunjukkan nilai yang berbeda nyata (p<0,05).

14

Huruf yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata

Gambar 6 Panjang akhir larva ikan patin hari ke 12 paska perlakuan kejutan salinitas dan perendaman tiroksin. (■) Kontrol, (■) 0,05 ppm, (■) 0,1 ppm, (■) 0,2 ppm.

3.1.5 Tingkat Kelangsungan Hidup

Nilai tingkat kelangsungan hidup (SR) yang paling rendah yaitu pada perlakuan kontrol (32,40 ± 1,4 %), sedangkan nilai tertinggi terdapat pada perlakuan P3 (39,63 ± 0,85 %). Pada parameter SR didapatkan hasil yang berbeda nyata dan yang paling berbeda nyata adalah perlakuan P3 (p<0,05).

Huruf yang sama menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata

Gambar 7 SR (%) larva ikan patin (hari ke- 12) paska perlakuan kejutan salinitas dan perendaman tiroksin. (■) Kontrol, (■) 0,05 ppm, (■) 0,1 ppm, (■) 0,2 ppm.

15

3.1.6 Kualitas Air

Pada penelitian ini diukur data kualitas air selama pemeliharaan. Parameter kualitas air yang diukur meliputi pH, DO, kesadahan, dan suhu. Kualitas air pada pemeliharaan ini masih berada dalam kisaran yang sesuai untuk pembenihan ikan patin, hal ini dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2 Kualitas Air Media Pemeliharaan

Parameter (satuan) Nilai Pustaka

pH 7.62 - 7.67 6.5-8.5 (SNI 01- 6483.4-2000) DO (mg/l) 6.8 - 8.9 > 5 (SNI 01- 6483.4-2000) Kesadahan (mg/l CaCO3) 56 - 67.2 32 – 100 (Nurhidayati, 2000) Suhu (° C) 29 – 31 27-30 (SNI 01- 6483.4-2000)

3.2 Pembahasan

Pada parameter volume kuning telur didapatkan hasil yang tidak berbeda nyata (p>0,05). Berdasarkan grafik volume kuning telur, terlihat terjadi penurunan nilai volume kuning telur. Volume kuning telur mengalami penyusutan dikarenakan larva menggunakan kuning telur sebagai sumber energi. Dilihat dari laju penyerapan kuning telur, diperoleh hasil yang berbeda nyata (p<0,05), antara perlakuan tiroksin (0,05 ppm dan 0,2 ppm) terutama pada jam ke-12. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Nacario (1983), pemberian hormon tiroksin dengan dapat memacu laju penyerapan kunig telur. Laju penyerapan kuning telur yang tinggi diakibatkan karena kandungan tiroksin yang tinggi dalam tubuh, yang mengakibatkan metabolisme meningkat. Peningkatan metabolisme memerlukan energi, sehingga kuning telur lebih cepat menyusut. Sumber energi utama pada larva adalah kuning telur (Astutik 2002).

Pada parameter bukaan mulut hasil yang didapatkan pada jam ke- 6 terlihat bahwa dosis yang paling tinggi (0,2 ppm) mempengaruhi perkembangan larva dalam pembentukkan mulut, sedangkan pada dosis 0,05 ppm dan 0,1 ppm baru mengalami pembentukkan mulut pada jam ke- 12. Hal ini sesuai dengan yang dilaporkan oleh Reddy dan Lam (1992) pemberian hormon tiroksin dengan dosis 0,05 ppm dapat mempercepat differensiasi pada sirip ikan mas koki pada umur 8 hari, sedangkan pada perlakuan kontrol belum terdifferensiasi. Namun pada jam ke-6 bila dilihat dari laju penyerapan kuning telurnya, tidak menunjukkan hasil

16 yang berbeda nyata. Diduga bahwa differensiasi jaringan pada larva tidak mempengaruhi peningkatan metabolisme, hal ini berdasarkan laporan Turner dan Bargnar (1976) dalam Astutik (2002), adanya stadium-stadium tertentu pada metamorfosis yang digiatkan oleh hormon tiroid tanpa dipengaruhi peningkatan laju metabolisme membuktikan bahwa kemampuan hormon tiroid dalam menggiatkan differensiasi jaringan tidak meningkatkan secara langsung aksi kalorigenik. Pada penelitian ini diduga penggunaan kejutan salinitas dapat memaksimalkan penyerapan tiroksin sehingga jumlah tiroksin dalam tubuh lebih banyak, banyaknya tiroksin yang ada dalam tubuh mempengaruhi kecepatan differensiasi organ.

Peran tiroksin dalam differensiasi organ yaitu sebagai pengaktivasi enzim polimerase yang digunakan untuk transkripsi DNA. Tiroksin terlebih dahulu dikonversi menjadi triiodotironin. Peningkatan sintesis RNA terutama mRNA dari hasil transkripsi tersebut dapat memacu proses sintesa protein, protein digunakan untuk differensiasi dan penambahan jaringan (Djojosoebagio 1996). Pada parameter panjang akhir menunjukkan hasil yang berbeda nyata (p<0,05). Hal ini menunjukkan bahwa tiroksin efektif dalam meningkatkan pertumbuhan. Hormon tiroksin berperan dalam meningkatkan retensi protein atau pemanfaatan protein dalam tubuh, tiroksin menyebabkan pemasukkan protein yang lebih banyak dibandingkan protein yang dikeluarkan dari dalam tubuh (Djojosoebagio 1996). Hal inilah yang menyebabkan tingginya pemanfaatan protein bagi tubuh. Protein merupakan sumber energi utama bagi ikan, terutama untuk pertumbuhan, oleh karena itu tiroksin dapat meningkatkan pertumbuhan. Selain meningkatkan retensi protein, tiroksin juga berfungsi meningkatkan laju metabolisme. Metabolisme merupakan proses pengubahan zat makanan menjadi energi atau ATP. ATP merupakan sumber energi sel yang diperlukan dalam proses penggantian jaringan yang rusak dan pertumbuhan. Sehingga, semakin cepat laju metabolisme maka semakin cepat pula pembentukan ATP yang berguna untuk pertumbuhan sel.

Pada parameter kelangsungan hidup, terlihat bahwa pada perlakuan 0,2 ppm berbeda nyata terhadap kontrol (p<0,05). Dilihat dari besaran nilainya pun, kontrol memiliki SR paling kecil. Hal ini dikarenakan pada perlakuan tiroksin, ikan lebih cepat melewati masa kritisnya, yaitu pada masa peralihan endogenus

17

feeding ke eksogenus feeding. Pada dosis 0,2 ppm memiliki nilai SR paling tinggi, hal ini diduga berkaitan dengan kecepatan differensiasi jaringan pada ikan uji. Pada dosis 0,2 ppm diferensiasi jaringan lebih cepat, terutama bukaan mulut (Gambar 3) sehingga larva lebih cepat dalam menggunakan pakan dari luar untuk melewati masa kritisnya. Dalam tahap awal dari daur hidup ikan terutama dalam stadia larva terdapat masa kritis yang terletak pada saat, sebelum dan sesudah penghisapan kuning telur dan masa transisi mulai mengambil makanan dari luar (Setyono 2009). Disebut masa kritis dikarenakan pada fase tersebut ada kemungkinan larva masih belum siap untuk mengambil makanan dari lingkungannya, hal ini dapat diakibatkan karena belum sempurnanya proses differensiasi organ dan jaringan. Oleh karena itu pemberian tiroksin berfungsi untuk mempercepat pembentukkan jaringan, sehingga setelah kuning telur habis larva dapat memanfaatkan makanan dari lingkungannya. Pada larva ikan patin siam terdapat stadia kritis lain, yaitu pada saat larva berumur 0 – 5. Pada saat berumur 0 – 5 hari, larva ikan patin memiliki sifat kanibal. Sifat ini merupakan pembawaan genetis, selain itu pada stadia ini larva ikan patin memiliki bentuk gigi yang panjang dan tajam serta sulit untuk menutup, sehingga dapat menyebabkan larva lain terperangkap di mulutnya atau menimbulkan luka (Baras

et. al 2010). Menurut Baras et. al (2010) dibutuhkan metode untuk mempercepat stadia masa kritis pada ikan patin siam. Pada hasil yang didapatkan pada penelitian ini menunjukkan bahwa larva ikan patin dapat melalui masa kritis dengan mempercepat perkembangannya. Parameter kualitas air yang diukur pada penelitian ini menunjukkan nilai yang masih berada dalam kisaran kelayakan hidup ikan patin siam. Agar ikan patin tumbuh dengan baik, maka diusahakan untuk menciptakan kondisi lingkungan yang mendukung pertumbuhan dan kelangsungan hidupnya (Nurhidayati 2000).

Budidaya perikanan merupakan kegiatan yang berorientasi pada profit. Dilihat dari segi ekonomi, penggunaan tiroksin dengan kejutan salinitas terbukti efektif dalam meningkatkan pertumbuhan. Berdasarkan hasil yang didapatkan, larva kontrol baru mencapai ukuran 23,20 mm atau dikalangan petani ikan patin siam disebut ukuran ¾ inch up (berukuran 2,2 cm sampai 2,3 cm), sedangkan pada perlakuan kejutan salinitas 20 ppt dan perendaman hormon tiroksin telah

18 mencapai ukuran 1 inchi. Harga ukuran ¾ inchi up ikan patin siam adalah Rp. 70 sedangkan harga ukuran 1 inchi adalah Rp 80. Ditinjau dari besarnya keuntungan yang didapatkan, perlakuan 0,05 ppm memiliki keuntungan terbesar yaitu sebesar Rp. 5.120,00 dan R/C rasio sebesar 1,5 (Lampiran 5).

IV. KESIMPULAN DAN SARAN

4.1 Kesimpulan

Perlakuan perendaman larva dalam larutan tiroksin dan kejutan salinitas dapat meningkatkan perkembangan, pertumbuhan, dan kelangsungan hidup larva ikan patin. Dosis terbaik yaitu 0,05 ppm karena merupakan dosis paling rendah namun menunjukkan hasil yang berbeda nyata terhadap kontrol dan tidak berbeda nyata dengan dosis yang lebih tinggi, sehingga bila diaplikasikan dan dilihat dari segi ekonomi, dosis 0,05 ppm lebih efisien.

4.2 Saran

Penggunaan kejutan salinitas dapat disarankan untuk memaksimalkan inisiasi hormon tiroksin dosis rendah ke dalam tubuh ikan sehingga lebih ekonomis dalam proses produksi.

DAFTAR PUSTAKA

Ade. 2011. Produksi Patin Masih Terganjal Pakan. http://www. trobos.com/show_article.php?rid=6&aid=2981. [1 Juni 2011].

Affandi R dan Tang UM. 2002. Fisiologi Hewan Air. Pekanbaru: Unri Press, hlm 98 – 101.

Astutik Y. 2002. Pengaruh Perendaman Larva Gurami dalam Larutan Tiroksin dengan Dosis Berbeda Terhadap Perkembangan, Pertumbuhan, dan Kelangsungan Hidup. [Skripsi]. Bogor: Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Badan Standar Nasional (BSN). 2000. Produksi Benih Ikan Patin Siam (Pangasius hypophthalmus) Kelas Benih Sebar. Standar Nasional Indonesia (SNI): Direktorat Jendral Perikanan.

Baras E, Slembrouck J, Cochet C, Caruso D, Legendre M. 2010. Morphological Factors Behind The Early Mortality of Cultured Larvae of The Asian Catfish, Pangasius hypophthalmus. Aquaculture 298: 211–219.

Buwono ID. 2011. Kebutuhan Asam Amino Esensial dalam Ransum Ikan. http://books.google.co.id/books?id=vzWlazPPBdwC&pg=PA17&lpg=PA17& dq=retensi+protein&source=bl&ots=DtVc9-uq1Z&sig=byEmfgSLuuyw- sT7qoF2PXn9qEc&hl=id&sa=X&ei=D8ILUP33O8SHrAeP7uXICA&ved=0C EgQ6AEwAQ#v=onepage&q=retensi%20protein&f=false. [7 Juli 2012]

Direktorat Perbenihan. 2011. Produksi Benih Ikan Air Tawar. http://perbenihan- budidaya.kkp.go.id/download/Produksi%20Benih%20Ikan%20Air%20Tawar %202011.pdf [2 Mei 2012]

Djojosoebagio, S. 1996. Fisiologi Kelenjar Endokrin. Jakarta: Penerbit Universitas, hlm 97 – 223.

Effendie MI. 1997. Metode Biologi Perikanan. Fakultas Perikanan. Institut Pertanian Bogor: Bogor, hlm 5 – 15.

Fujaya Y. 2008. Fisiologi Ikan. Jakarta: Rineka Cipta, hlm 11 – 17

Indriastuti CE. 2000. Aktivitas Sintesis Vitelogenin pada Proses Rematurasi Ikan Patin Djambal Siam Pangasius hypophthalmus. [Tesis]. Bogor: Program Studi Ilmu Perairan. Program Pasca Sarjana. Institut Pertanian Bogor.

21 Lam TJ, Juarioz JV, Banno J. 1985. Effect of Thyroxine on Growth and Development in Post-Yolk-Sac Larvae of Milkfish, Chanos Chanos. Aquaculture, 46: 179-184.

Nacario JF. 1983. The Effect of Thyroxine on The Larvae and Fry of

Sarotherodon Niloticus L. (Tilapia Nilotica). Aquaculture, 34: 78-83.

Nurhidayati D. 2000. Manipulasi Ca dan Mg terhadap Benih Ikan Patin Pangasius Hypopthalmus. [Skripsi]. Bogor: Departemen Budidaya Perairan, Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Institut Pertanian Bogor.

Pramono TB, Marnani S. 2009. Pola Penyerapan Kuning Telur dan Perkembangan Organogenesis pada Stadia Awal Larva Ikan Senggaringan (Mystus Nigriceps). Berkala Perikanan Terubuk, 37: 18 – 26.

Putri DU. 2011. Pembenihan Ikan Patin (Pangasius Hypopthalmus) di Balai Pengembangan Budidaya Air Tawar (BPBAT) Cijengkol Subang Jawa Barat. [Laporan Praktek Lapang]. Bogor: Departemen Budidaya Perairan. Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan. Institut Pertanian Bogor.

Reddy PK, Lam TJ. 1992. Effect of Thyroid Hormones on Morphogenesis and Growth of Larvae And Fry of Telescopic-Eye Black Goldfish, Carrassius Auratus. Aquaculture, 10: 383-394.

Sakti I. 2012. Revitalisasi Tambak, KKP Pacu Produksi Udang. Siaran Pers KKP: Jakarta.

Setyono B. 2009. Pengaruh Perbedaan Konsentrasi Bahan pada Pengencer Sperma Ikan “ Skim Kuning Telur “ terhadap Laju Fertilisasi, Laju Penetasan dan Sintasan Ikan Mas (Cyprinus Carpio L.). [Skripsi]. Malang: Fakultas Pertanian dan Peternakan. Universitas Muhammadiyah Malang.

Dokumen terkait