• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persentase kerja sama yang ditindaklanjuti Sasaran Strategis

AKUNTABILITAS KINERJA

IKSS 6: Persentase kerja sama yang ditindaklanjuti Sasaran Strategis

pelaksanaan kerja sama dengan stakeholders PPATK dalam upaya pencegahan dan pemberantasan TPPU dan pendanaan terorisme. Sasaran strategis 4 diukur melalui satu IKSS, yaitu Persentase kerja sama yang ditindaklanjuti. Pencapaian kinerja SS 4 pada tahun 2016 adalah relatif baik dengan capaian kinerja sebesar 91,8%.

Capaian kinerja sasaran strategis keempat diukur keberhasilannya melalui satu IKSS, yaitu Persentase kerja sama yang ditindaklanjuti. Target kinerja sebesar 100% dengan realisasi kinerja sebesar 91,8%. Dengan demikian, capaian kinerja sebesar 91,8%.

Persentase kerja sama yang ditindaklanjuti telah dilaksanakan melalui kegiatan- kegiatan, meliputi:

1. Penandatanganan delapan dokumen kerja sama berupa Nota Kesepahaman/MoU dan satu Perjanjian Kerja Sama/PKS dengan Kementerian/Lembaga/Instansi (K/L/I), sebagai berikut:

a. Kementerian Pertahanan di Jakarta pada 14 Maret 2016;

b. Lembaga Kebijakan Pengadaan Barang/Jasa Pemerintah (LKPP) pada 2 Mei 2016;

c. Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar di Gowa pada 15 Juli 2016; d. Badan Intelijen Negara di Jakarta pada 2 Agustus 2016;

e. Kementerian Koperasi dan UKM di Jakarta pada 17 Oktober 2016; f. MoU dengan Tajikistan di Jakarta pada 1 Agustus 2016;

g. MoU dengan Lao PDR di Bali pada 11 Agustus 2016;

h. Penandatanganan Kesepakatan Bersama antara Kementerian Keuangan, Bank Indonesia, Otoritas Jasa Keuangan, dan PPATK di Jakarta pada 24 Oktober 2016.

IKSS 6: Persentase kerja sama yang ditindaklanjuti. Sasaran Strategis 4

Meningkatnya efektivitas kerja sama pencegahan dan pemberantasan TPPU dan pendanaan terorisme

2. Sembilan kali pertemuan Rapat Komite TPPU dan organ Komite TPPU dengan rincian, sebagai berikut:

Pertemuan Komite TPPU yang menggunakan biaya seluruhnya dari DIPA PPATK sejumlah enam pertemuan, meliputi:

a. Rapat Komite TPPU level menteri yang dipimpin oleh Menko Polhukam selaku Ketua Komite TPPU di Kemenkopolhukam pada 11 Maret 2016 dengan agenda pembahasan peningkatan pemasukan negara melalui sektor pajak dan pendanaan tindak pidana terorisme;

b. Rapat Komite TPPU level menteri yang dipimpin oleh Menko Polhukam selaku Ketua Komite TPPU di Kemenkopolhukam pada 27 Mei 2016 dengan agenda pembahasan pencegahan dan pemberantasan TPPU;

c. Rapat Komite TPPU level menteri yang dipimpin oleh Menko Polhukam selaku Ketua Komite TPPU di PPATK pada 4 Oktober 2016 dengan agenda pembahasan Implementasi PP Nomor 2 Tahun 2016, Persiapan MER FATF 2017, Implementasi Sippenas, dan hal-hal lain yang terkait pencegahan dan pemberantasan TPPU;

d. Rapat Tim Pelaksana Komite TPPU yang dipimpin oleh Kepala PPATK selaku Ketua Tim Pelaksana Komite TPPU di PPATK pada 18 Mei 2016 dengan agenda pembahasan implementasi pelaporan Stranas TPPU melalui SIPPENAS, Diseminasi PP Nomor 2 Tahun 2016, dan koordinasi antarlembaga terkait dalam upaya pencegahan dan pemberantasan TPPU;

e. Rapat Tim Pelaksana Komite TPPU yang dipimpin oleh Kepala PPATK selaku Ketua Tim Pelaksana Komite TPPU di PPATK pada 9 Desember 2016 dengan agenda pembahasan diseminasi konsep Stranas TPPU periode 2017-2019 dan Persiapan MER tahun 2017;

f. Rapat Kelompok Kerja Komite TPPU yang dipimpin oleh Direktur Kerjasama dan Humas PPATK di PPATK pada 4 Agustus 2016 dengan agenda pembahasan koordinasi penginputan laporan dan data dukung capaian Aksi Stranas Tahun 2016 melalui aplikasi Sippenas.

Tiga workshop Komite TPPU yang dibiayai dari dana hibah AUSTRAC, meliputi:

a. Workshop Harmonisasi dan finalisasi Stranas TPPU Tahun 2016 yang dihadiri oleh perwakilan seluruh anggota Komite TPPU pada 7-9 September 2016 di Bandung.

b. Workshop Penyusunan Rencana Aksi Stranas TPPU Periode 2017-2021 yang dihadiri oleh Tim Internal Stranas TPPU dari PPATK pada 20-22 November 2016 di Bogor.

c. Workshop Harmonisasi dan Finalisasi Konsep Stranas TPPU Periode 2017-2019 yang dihadiri oleh perwakilan seluruh anggota Komite TPPU pada 20-23 Desember 2016 di Bandung.

3. Satu kali pelatihan bersama penanganan perkara TPPU yang melibatkan peserta dari polda, kejati, Kanwil Ditjen Pajak, Kanwil Ditjen Bea dan Cukai, BNNP, pengadilan tinggi, dan Penyedia Jasa Keuangan (Perbankan), yaitu Pelatihan Bersama Penanganan Perkara TPPU di Banda Aceh pada 6-8 April 2016 yang melibatkan 100 peserta.

4. Melaksanakan koordinasi tindak lanjut kerja sama dengan instansi-instansi dalam negeri yang telah memiliki Dokumen Kerja Sama dengan PPATK dengan cara mengundang dan menghadiri undangan rapat koordinasi, sosialisasi, seminar, diklat, dan/atau workshop dengan agenda pembahasan isu-isu mutakhir dan rancangan peraturan.

Sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2016, PPATK telah menandatangani 98 Dokumen Kerja Sama (MoU, Perjanjian Kerja Sama/PKS, dan Kesepakatan Bersama) dengan 89 K/L/I dalam negeri. Namun, terdapat dua K/L yang menjalin MoU telah dibubarkan, yaitu Bapepam dan Ditjen Lembaga Keuangan. Selain itu, terdapat dua instansi yang telah berakhir masa tugasnya, meliputi:

1. Satgas REDD telah berakhir pada 30 Juni 2013 karena pemerintah membentuk Badan Pengelola REDD (sesuai Keppres Nomor 5 Tahun 2013).

2. Gugus Tugas Pengawasan Pemilu yang berakhir pada tahun 2014, yakni tiga bulan setelah selesainya semua tahapan pemilu tahun 2014.

Sejak tahun 2003 sampai dengan tahun 2016, PPATK telah menandatangani 98 dokumen kerja sama dalam negeri (berupa MoU maupun PKS) dengan 85 K/L/I dalam

negeri. Dari 98 dokumen kerja sama tersebut, terdapat 61 dokumen kerja sama yang masih berlaku sampai dengan tahun 2016 dan telah ditindaklanjuti selama tahun 2003 sampai dengan tahun 2016. Dari 61 dokumen kerja sama tersebut, PPATK telah menindaklanjuti satu atau lebih ruang lingkup kerja sama dalam 56 dokumen kerja sama. Dengan demikian, realisasi kinerja IKSS adalah 91,8%. Rincian 61 dokumen kerja sama tersebut tersaji dalam Lampiran laporan kinerja ini.

Tabel 3.14

Capaian Indikator Kinerja Sasaran Strategis ke-6 PPATK Tahun 2016 IKSS Target Tahun 2016 Realisasi Tahun 2016 Capaian Tahun 2016 2015

Persentase kerja sama yang ditindaklanjuti.

100% 91,8% 91,8% 94%

Berdasarkan Tabel 3.14, diketahui bahwa pada tahun 2016 realisasi kinerja IKSS ini sebesar 91,8%. Capaian kinerja ini sudah relatif baik, tetapi belum berhasil mencapai target kinerja yang ditetapkan, yaitu 100%. Capaian kinerja IKSS ini sebesar 91,8%. Apabila dibandingkan dengan capaian kinerja tahun 2016, terdapat penurunan capaian kinerja sebesar 2,2%.

Faktor penyebab ketidakberhasilan pencapaian kinerja IKSS, antara lain disebabkan terdapat lima MoU dengan lembaga/instansi yang masih berlaku sampai tahun 2016, tetapi tidak dilakukan tindak lanjut dalam satu atau lebih ruang lingkup kerja sama oleh Direktorat Kerjasama dan Humas maupun oleh unit kerja lainnya. MoU tersebut meliputi MoU dengan Rumah Sakit Fatmawati, Universitas Wijaya Kusuma Surabaya, Universitas Cendrawasih, Pemerintah Provinsi Aceh, dan Pemerintah Provinsi Kalimantan Selatan.

Tabel 3.15

Perbandingan Realisasi IKSS ke-6 Tahun 2016 dengan Target Tahun 2015-2019

IKSS Target Tahun Realisasi Tahun 2016 Persentase Realisasi Dibanding Target Tahun 2019 2015 2016 2017 2018 2019 Persentase kerja sama yang ditindaklanjuti 100% 100% 100% 100% 100% 91,8% 91,8%

Jika dibandingkan dengan target kinerja tahun 2019, capaian kinerja IKSS ini telah mencapai 91,8%. Secara persentase, capaian kinerja ini sudah baik. Dampak positif capaian IKSS Persentase kerja sama yang ditindaklanjuti terhadap sasaran strategi meningkatnya efektivitas kerja sama pencegahan dan pemberantasan TPPU adalah: 1. Tindak lanjut kerja sama melalui Komite TPPU telah mendorong efektivitas

persiapan Indonesia dalam menghadapi FATF Mutual Evaluation Review (MER) tahun 2017. Hal ini untuk memenuhi rekomendasi FATF agar Indonesia tidak masuk ke dalam daftar hitam sebagai negara yang rawan pencucian uang (black-list/FATF Public Statement). Melalui Komite TPPU, Indonesia telah menyusun konsep Stranas TPPU yang baru, yaitu Stranas TPPU Periode 2017-2019 yang salah satunya berisi strategi-strategi dalam meningkatkan pemenuhan Rekomendasi FATF, sehingga mendukung persiapan MER FATF.

2. Tindak lanjut kerja sama melalui Komite TPPU telah mendorong Indonesia menyusun strategi dalam melakukan mitigasi terhadap risiko merujuk pada hasil National Risk Assessment on Money Laundering and Terrorist Financing.

3. Efektivitas kerja sama dalam pencegahan dan pemberantasan TPPU juga ditingkatkan dengan diterapkannya aplikasi SIPPENAS dalam upaya pelaporan Strategi Nasional PP TPPU oleh setiap anggota komite TPPU.

4. Efektivitas kerja sama pencegahan dan pemberantasan pendanaan terorisme dapat ditingkatkan melalui kesuksesan PPATK dalam menyelenggarakan 2nd Counter- Terrorism Financing Summit (2nd CTF Summit) di Nusa Dua, Bali pada 8-11 Agustus 2016. Pertemuan Tingkat Tinggi tersebut menghasilkan Nusa Dua Statement.

5. Tindak lanjut kerja sama melalui penyelenggaraan pelatihan telah dapat meningkatkan efektivitas pencegahan dan pemberantasan TPPU. Satu kali pelatihan bersama penanganan perkara TPPU di Banda Aceh telah mampu meningkatkan pemahaman dan sinergi kerja sama PP TPPU kepada 100 peserta pelatihan yang terdiri dari Polda, Kejati, Kanwil Ditjen Pajak, Kanwil Ditjen Bea dan Cukai, BNNP, pengadilan tinggi, dan Penyedia Jasa Keuangan (Perbankan).

Kendala-kendala yang dihadapi:

Kendala-kendala yang dihadapi dalam pencapaian IKSS Persentase kerja sama yang ditindaklanjuti, antara lain:

1) Belum terdapat integrasi data terkait tindak lanjut ruang lingkup kerja sama yang dilaksanakan oleh unit kerja PPATK, sehingga pencarian data tindak lanjut kerja sama masih dilaksanakan secara manual.

2) Terdapat MoU yang tidak ditindaklanjuti karena proses penyusunan MoU tidak menggunakan analisis kelayakan pihak kerja sama, sehingga mitra kerja sama bersifat kurang strategis.

Upaya-upaya penyelesaian kendala:

Untuk mengatasi kendala-kendala tersebut, PPATK melakukan upaya-upaya yang diharapkan dapat meningkatkan kinerja pada periode pengukuran kinerja selanjutnya. Upaya-upaya tersebut adalah:

1. Merujuk pada Peraturan Kepala PPATK Nomor: PER-12/1.03/PPATK/08/15 tentang Pedoman Penyusunan, Pelaksanaan, dan Evaluasi Perjanjian dalam Pencegahan dan Pemberantasan Tindak Pidana Pencucian Uang dan Pendanaan Terorisme, mulai tahun 2016, PPATK telah melaksanakan koordinasi terkait penyusunan analisis kriteria kelayakan dengan pihak dalam atau luar negeri dan pengidentifikasian kebutuhan kerja sama dalam proses penjajakan kerja sama. Berdasarkan hasil analisis dan proses identifikasi tersebut, PPATK dapat mengupayakan penyusunan MoU yang dapat ditindaklanjuti dengan optimal. Dengan kata lain, potensi MoU yang tidak akan ditindaklanjuti dapat dihindari atau diminimalkan.

2. PPATK akan berkoordinasi dengan instansi mitra kerja sama yang telah memiliki MoU dengan PPATK yang masih berlaku, tetapi tidak ada tindak lanjut selama tahun 2016. Koordinasi tersebut akan mengomunikasikan bentuk kerja sama pada tahun 2017 dan MoU yang tidak efektif tersebut dapat dilakukan penghentian kerja sama sebelum jangka waktu MoU berakhir.

3. PPATK akan membuat database seluruh dokumen kerja sama dalam bentuk MoU dan Perjanjian Kerja Sama yang memuat inventarisasi ketentuan-ketentuan perjanjian yang strategis yang dikoordinasikan dengan seluruh unit kerja terkait selaku

pelaksana tindak lanjut kerja sama secara berkala. Database tersebut meliputi hal-hal, sebagai berikut:

a. Masa berlaku.

b. Waktu diperlukannya peninjauan kembali. c. Ruang lingkup kerja sama.

d. Keterangan terkait masa berlakunya kerja sama. e. Bentuk tindak lanjut kerja sama pada tahun berjalan.

Dokumen terkait