• Tidak ada hasil yang ditemukan

8. Jumlah nodul efektif

4.2. Pembahasan 1 Tinggi tanaman

4.2.9. Persentase koloni FMA

Persentase kolonisasi berhubungan erat dengan jenis FMA dan jenis tanaman inang (Hart dan Reader 2002). Jenis FMA yang berbeda mengkoloni sistem perakaran tanaman inang dalam persentase kolonisasi yang bermacam - macam. Dengan demikian, translokasi nutrien dan pemanfaatan karbon oleh tanaman inang pun berbeda - beda (Molina et al. 1992). Menurut Barber (1984), persentase kolonisasi mikoriza di dalam akar dan panjang miselium di dalam tanah merupakan parameter yang menentukan peningkatan serapan fosfor.

Meskipun biasanya jenis berkayu berasosiasi dengan ektomikoriza tetapi ternyata mampu berasosiasi dengan endomikoriza (Kropp dan Anderson 1994). Anderson dan Ingram (1993) menyatakan bahwa lebih dari 150 jenis FMA mempunyai tingkat spesifikasi tanaman inang yang rendah sehingga dapat berasosiasi dengan ± 70 % jenis tanaman di daerah tropik, bahkan menurut Smith dan Read (1997) FMA dapat berasosiasi dengan ± 80 % jenis tanaman.

Hasil penelitian secara statistik berdasarkan analisis sidik ragam pada taraf 5% menunjukkan bahwa inokulasi FMA berpengaruh sangat nyata pada tanaman E. cyclocarpum, L. leucocephala, P. falcataria dan C. calothyrsus untuk parameter persentase infeksi mikoriza. Perlakuan faktor tunggal BFN pada tanaman E. cyclocarpum dan P. falcataria menunjukkan pengaruh nyata terhadap variabel persentase infeksi mikoriza, sedangkan pada tanaman L. leucocephala dan C. calothyrsus faktor tunggal BFN menunjukkan pengaruh tidak nyata.

Interaksi 2 faktor yaitu FMA dan BFN pada tanaman E. cyclocarpum dan L. leucocephala menunjukkan pengaruh nyata untuk parameter persentase infeksi

mikoriza. Sedangkan Interaksi 2 faktor yaitu FMA dan BFN pada tanaman P. falcataria dan C. calothyrsus terlihat berpengaruh tidak nyata terhadap variabel persentase infeksi mikoriza (Tabel 2).

Pada tanaman L. leucocephala inokulan tunggal FMA menunjukkan pengaruh nyata dan inokulan tunggal BFN menunjukkan pengaruh tidak nyata untuk parameter persentase infeksi mikoriza, sedangkan inokulan ganda terjadi interaksi. Berbeda dengan tanaman P. falcataria inokulan tunggal FMA dan BFN menunjukkan pengaruh nyata tetapi interaksinya tidak terjadi dalam meningkatkan persentase infeksi mikoriza. Hal ini menunjukkan waktu infeksi dan kemampuan FMA dan BFN dalam mengkolonisasi akar tanaman inang berbeda, serta setiap jenis tanaman inang (host) juga mempunyai karakteristik sifat genetik dan resistensi yang berbeda.

Berdasarkan hasil uji lanjut Duncan perlakuan FMA untuk parameter persentase infeksi mikoriza yang menunjukkan pengaruh beda sangat nyata adalah perlakuan m1 (Glomus sp) pada ke-empat tanaman uji, dibandingkan perlakuan m0 (kontrol), tetapi m2 (Gigaspora sp) menunjukkan berbeda tidak nyata terhadap perlakuan m0 (kontrol) untuk parameter persentase infeksi

mikoriza. Tanaman yang mempunyai rerata persentase infeksi mikoriza tertinggi

berturut - turut adalah E. cyclocarpum (50,66%), L. leucocephala (44,44%), P. falcataria (29,26%) dan C. calothyrsus (24,63%) semua pada tanaman yang

mendapat perlakuan m1 (Glomus sp). Sedangkan hasil uji lanjut Duncan

interaksi perlakuan FMA dan BFN terhadap parameter persentase infeksi mikoriza pada tanaman E. cyclocarpum yang menunjukkan beda nyata adalah perlakuan m1b2 (Glomus sp x Rhizobium sp), m1b0 (Glomus sp x Kontrol) dan

perlakuan m1b1 (Glomus sp x Shinorhizobium sp). Hasil uji lanjut Duncan

interaksi perlakuan FMA dan BFN terhadap parameter persentase infeksi mikoriza pada tanaman L. leucocephala yang menunjukkan pengaruh beda nyata adalah perlakuan m1b0 (Glomus sp x kontrol) dan m1b1 (Glomus sp x Shinorhizobium sp)(Gambar 29).

Dari hasil penelitian diketahui bahwa fungi mikoriza arbuskula (FMA)

dapat berasosiasi dengan Enterolobium cyclocarpun, L. leucocephala, P. falcataria dan C. calothyrsus. Asosiasi dimulai pada saat propagul FMA

membentuk apresorium yang berlekatan dengan sel epidermis akar. Hifa kemudian menyebar didalam ruang antar sel dan masuk ke dalam sel (Brundrett et al. 1996). Menurut Setiadi (1992), faktor - faktor yang mempengaruhi infeksi FMA adalah kepekaan inang terhadap infeksi, faktor iklim (cahaya) dan kandungan air tanah.

Hifa yang berpenetrasi kedalam akar berasal dari propagul (akar yang terinfeksi FMA, potongan hifa, vesikula, spora) FMA yang berkecambah. Keberdaan BFN dapat membantu perkecambahan propagul FMA (Douds dan Nagahashi 2002). Selanjutnya mempengaruhi daya penerimaan dan pengenalan akar tanaman inang terhadap kehadiran FMA. Bahkan berikutnya BFN pun berperan dalam perkembangan FMA (Johansson et al. 2004). Menurut Johansson et al. (2004) dan Molina et al. (1992) fenomena kecocokan interaksi antara tanaman inang, FMA dengan BFN terdapat pada tingkat ultrastruktural, biokimia dan genetik. Dengan demikian interaksi antara FMA dan BFN yang cocok akan menghasilkan pertumbuhan tanaman inang secara lebih baik.

Kolonisasi FMA pada akar tanaman dapat diamati dari keberadaan beberapa struktur FMA, seperti hifa internal, arbuskula, vesikula dan spora (Gambar 31). Menurut Smith dan Read (1997), bahwa hifa internal berfungsi sebagai alat translokasi unsur hara, eksternal berfungsi menyerap unsur hara dan air, vesikula berfungsi sebagai tempat cadangan makanan terutama lipid, sedangkan arbuskula merupakan struktur infeksi yang sangat penting dalam simbiosis FMA, karena arbuskula berfungsi dalam proses transfer unsur hara antara kedua simbion (fungi dengan akar tanaman).

Persentase kolonisasi FMA dalam akar tanaman inang sangat berperan dalam proses transfer unsur hara yang diserap hifa eksternal dari rizosfer. Meskipun hifa ekternal mempunyai kemampuan tinggi dalam menyerap unsur hara dan air, tetapi apabila mengalami kegagalan dalam proses transfer kedalam sel - sel akar maka unsur hara dan air hanya akan disimpan dalam hifa internal. Dengan demikian besarnya persentase kolonisasi FMA maka permukaan bidang kontak FMA dan sel akar semakin besar sehingga unsur hara dan air berhasil diserap dengan baik oleh tanaman.

Walaupun demikian, hal yang tidak kalah penting dalam proses transfer unsur hara dari FMA kedalam akar adalah efisiensi FMA (Harley dan Smith

1997). Persentase kolonisasi yang tinggi tetapi efisiensi kecil maka tanaman tidak akan banyak terbantu dengan adanya FMA. Hal ini sesuai dengan penelitian Setyaningsih et al. (2000) yang menunjukkan bahwa besarnya nilai kolonisasi di dalam akar tidak selalu diikuti dengan pertumbuhan tanaman secara lebih baik. Jadi pertumbuhan yang lebih baik yang diperlihatkan tanaman yang berasosiasi dengan FMA tidak hanya ditentukan oleh besar kecilnya persentase kolonisasi FMA di dalam akar tetapi ditentukan pula oleh efisiensi dan efektifitas FMA dalam mentranfer nutrien ke dalam sel - sel akar.

Besar kecilnya persentase kolonisasi FMA di dalam akar hanya mencerminkan sebagian kemampuannya dalam membantu penyerapan nutrisi bagi tanaman (Hart dan Reader 2002). Barber (1984) menyatakan bahwa hifa internal FMA di dalam akar berperan dalam proses transfer nutrisi dari hifa ekternal ke dalam sel - sel akar tanaman inang. Walaupun demikian, struktur FMA yang tidak kalah penting dalam proses tersebut adalah hifa ekternal yang bertanggung jawab terhadap serapan nutrisi dari dalam tanah. Perhitungan persentase kolonisasi FMA di dalam akar hanya menentukan ada atau tidaknya FMA yang mengkoloni akar dan melewatkan hifa - hifa eksternal yang tersebar di dalam tanah (Hart dan Reader 2002).

Terdapat perbedaan yang cukup besar diantara FMA dalam ratio kolonisasi hifa internal (dalam akar) dengan hifa eksternal di dalam tanah. Persentase kolonisasi FMA yang besar di dalam akar belum tentu mempunyai hifa eksternal yang banyak dan sebaliknya (Hart dan Reader 2002). Dengan demikian hubungan yang erat antara persentase kolonisasi FMA dengan parameter pertumbuhan tanaman dapat diperoleh apabila dilakukan penghitungan secara keseluruhan terhadap kolonisasi FMA baik yang terdapat di dalam akar maupun yang tersebar luas di dalam tanah. Selain itu juga uji efisiensi dan efektifitas FMA yang melibatkan kecocokan pada tingkat molekuler dengan tanaman inang perlu dilakukan.

Terjadinya asosiasi FMA pada E. Cyclocarpun, L. leucocephala, P. falcataria dan C. calothyrsus dengan demikian penelitian ini menunjukkan bahwa FMA dapat digunakan sebagai salah satu alternatif untuk meningkatkan pertumbuhan tanaman kehutanan pada lahan pasca penambangan semen dan lahan marginal yang selama ini masih kurang populer.

Dokumen terkait