• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

B. Persentase Peresepan Obat dengan Nama Generik

d. persentase peresepan sediaan injeksi

e. persentase peresepan obat yang sesuai formularium rumah sakit

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

5

BAB II

PENELAAH PUSTAKA

A. Indikator WHO 1993

Indikator penggunaan obat yang ditetapkan oleh WHO, merupakan

pedoman untuk menilai pola penggunaan obat berdasarkan masalah yang sering

terjadi di unit pelayanan kesehatan, yang kemudian ditetapkan oleh WHO sebagai

metode dasar untuk menilai penggunaan obat di unit rawat jalan. Indikator

tersebut terdiri dari 3 macam yaitu (Anonim, 1993):

Tabel I. Indikator Penggunaan Obat (WHO 1993)

1 Indikator Peresepan, terdiri dari :

a. rata-rata jumlah obat per lembar resep

b. persentase peresepan obat dengan nama generik

c. persentase peresepan antibiotik

d. persentase peresepan dengan sediaan injeksi

e. persentase peresepan obat yang sesuai dengan daftar obat

esensial/formularium

2 Indikator Pelayanan Pasien, terdiri dari :

a. rata-rata lamanya waktu konsultasi

b. rata-rata waktu dispensing obat

c. persentase obat-obat yang berhasil diracik

d. persentase obat yang di label cukup

e. pengetahuan pasien dalam memahami dosis

3 Indikator Fasilitas Kesehatan, terdiri dari :

a. ketersediaan formularium dan daftar obat-obat kunci

b. ketersediaan obat-obat kunci

6

Tujuan dari penggunaan indikator ini adalah untuk menggambarkan

kebiasaan pengobatan sekarang, membandingkan perolehan hasil yang didapat,

memonitoring secara periodik dan melakukan pengawasan terhadap perilaku

penggunaan obat, dan menaksirkan dampak dari suatu itervensi (Anonim, 1993).

B. Penggunaan Obat yang Rasional

Penggunaan obat yang rasional dimana pasien menerima pengobatan

sesuai pada kebutuhan klinis mereka dengan dosis yang dibutuhkan secara

individu dalam jangka waktu yang mencukupi dan pada harga yang terjangkau

bagi pasien dan untuk masyarakat luas (Quick, dkk., 1997).

C. Rata-rata Jumlah Obat per Lembar Resep

Resiko terjadinya efek samping obat meningkat secara konsisten dengan

semakin banyaknya jumlah obat yang diberikan kepada pasien. Indikator rata-rata

jumlah obat per lembar resep digunakan untuk mengetahui terjadinya tendensi

polifarmasi yang dapat menyebabkan terjadi insiden interaksi obat dan efek

samping yang buruk (Anonim, 1993).

Polifarmasi berarti pemakaian banyak obat sekaligus pada seorang pasien,

lebih dari yang dibutuhkan secara logis dan rasional dihubungkan dengan

diagnosis yang ditetapkan (Nair, 1994). Menurut Quick, dkk. (1997), hal ini dapat

dipengaruhi oleh faktor peresepan. Faktor yang dapat mempengaruhi peresepan

terdiri dari empat yaitu dokter (prescriber), penyedia obat (dispenser), pasien dan

masyrakat, serta sistem kesehatan. Faktor dari dokter antara lain kurangnya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

pelatihan, mengikuti model peresepan yang terdahulu yang belum tentu benar,

kurangnya informasi terhadap obat yang akan diresepkan, dan financial interest.

Gambar 1. Faktor yang Mempengaruhi Peresepan

D. Obat dengan Nama Generik

Obat dengan nama generik merupakan obat dengan nama resmi yang telah

ditetapkan dalam Farmakope Indonesia, INN (International Nonproprietary

Names) WHO untuk zat berkhasiat yang dikandungnya, baik branded maupun

commodity generic. Untuk lebih meningkatkan dan pemerataan pelayanan

kesehatan perlu penyediaan obat-obatan yang bermutu secara merata dengan

harga terjangkau oleh seluruh lapisan masyarakat. Perlu peningkatan

keterjangkauan obat oleh masyarakat, salah satu strategi yang ditempuh oleh

Departemen Kesehatan adalah distribusi Obat Generik Berlogo (OGB) (Anonim,

2004).

8

E. Antibiotik

Antibiotik adalah zat aktif yang dapat menghambat pertumbuhan atau

membunuh mikroorganisme pada tubuh manusia yang diklasifikasikan menjadi

penisilin, anti-infeksi dermatologis, agen anti-infeksi ophtalmologis, obat

antidiare, dan antibakteri lain (Anonim, 1993).

Penggunaan antibiotik yang tidak sesuai, akan menimbulkan dampak

negatif, seperti terjadinya kekebalan kuman terhadap berbagai jenis antibiotik (di

rumah sakit resistensi kuman terhadap antibiotik akan memperbesar kemungkinan

infeksi nosokomial), meningkatnya kejadian efek samping obat, biaya pelayanan

kesehatan menjadi tinggi (Gardjito, 1990).

F. Sediaan Injeksi

Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi, atau serbuk

yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan,

yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan kulit atau melalui kulit atau

selaput lendir. Pemakaian obat injeksi memerlukan pertimbangan yang lebih

seksama daripada pemakaian obat oral atau obat yang digunakan sendiri oleh

pasien. Hal ini mengingat bahwa kemungkinan resiko efek samping pemakaiana

obat suntik lebih besar dibanding cara pemberian oral. Efek cepat yang

ditimbulkan memberi peluang untuk terjadinya efek samping yang lebih cepat

pula. Keputusan untuk memberikan obat suntik harus berdasar pada indikasi yang

kuat dengan mengingat kondisi penderita (Anief, 2000).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

G. Formularium Rumah Sakit

Formularium rumah sakit (FRS) pada hakekatnya merupakan daftar

produk obat yang telah disepakati untuk dipakai di rumah sakit yang

bersangkutan, beserta informasi yang relefan mengenai indikasi, cara penggunaan,

dan informasi lain mengenai tiap produk (Anonim, 2000).

FRS adalah daftar obat yang diterima atau disetujui oleh Panitia Farmasi

dan Terapi (PFT) untuk digunakan di Rumah Sakit dan dapat direvisi pada setiap

batas waktu yang ditentukan. Inti pelaksanaan sistem formularium adalah farmasis

yang terus menerus menilai obat yang tercantum dalam formularium dan obat

yang beredar dalam perdagangan yang belum masuk formularium. Farmasis wajib

menyediakan informasi tentang obat berupa monografi yang akan di evaluasi oleh

PTF, untuk dimasukkan ke dalam atau dikeluarkan dari formularium (Siregar,

2006).

Formularium yang telah disepakati di satu rumah sakit perlu dilaksanakan

dengan sungguh-sungguh (commitment) dari pihak yang terkait, meliputi

pengelolaan obat yang menyediakan obat-obat di rumah sakit dan dokter

menggunakan obat-obat yang ada di formularium rumah sakit. Jika sangat

diperlukan, misalnya pada kondisi yang sangat khusus, obat di luar FRS dapat saja

digunakan dengan melalui mekanisme khusus yang telah disepakati. Tujuan

pengembangan dan penerapan FRS adalah untuk meningkatkan mutu pelayanan

melalui penggunaan obat yang aman, efektif, rasional, dan juga dalam rangka

efisiesi biaya pengobatan (Anonim, 2000).

10

Tujuan utama pembuatan formularium adalah menyediakan sarana bagi

para staf rumah sakit, meliputi (Anonim, 1991) :

1. Informasi tentang obat-obatan yang telah disetujui penggunaannya oleh

Komite Farmasi dan Terapi,

2. Informasi pengobatan dasar setiap obat yang telah disetujui,

3. Informasi tentang kebijakan dan prosedur rumah sakit yang mengatur

penggunaan obat-obatan,

4. Informasi yang khusus seperti pengaturan tentang dosis obat, singkatan yang

biasa digunakan di rumah sakit, dan sebagainya.

Pengembangan FRS perlu melibatkan berbagai pihak yang terkait di

rumah sakit, yakni pihak pengelolaan obat, managemen rumah sakit, dan

keahlian-keahlian klinik yang ada. Keputusan untuk memasukkan suatu obat

dalam FRS harus didasarkan atas kesepakatan akan kriteria tertentu yang

mencakup bukti manfaat klinik obat, keamanan obat, kesesuaian obat dengan

pelayanan yang ada di rumah sakit, dan biaya. Faktor-faktor ini harus dikaji secara

ilmiah dari sumber informasi yang layak dipercaya. FRS yang telah

dikembangkan harus disosialisasikan di kalangan para dokter dan dalam

penerapannya dilakukan pemantauan secara berrkesinambungan (Anonim, 2000).

H. Rumah Sakit

Rumah Sakit Panti Nugroho (RSPN) diresmikan berdiri pada tanggal 31

Mei 1999, beralamat di Jl. Kaliurang Km 17 Sleman Yogyakarta. Kepemilikan

dan badan hukum rumah sakit ini adalah Yayasan Panti Rapih yang terletak di Jl.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Cik Ditiro 30 Yogyakarta. Secara umum pelayanan yang disediakan oleh Rumah

Sakit Panti Nugroho sudah memadai untuk ukuran sebuah rumah sakit kelas D.

Bahkan ada beberapa unit pelayanan yang juga tersedia meskipun bukan

merupakan persyaratan standar yaitu beberapa unit spesialistik komplementer,

ICU (Anonim, 2006).

Rumah sakit yang dikepalai oleh dr. Teddy Janong, M.Kes saat ini

memiliki 50 tempat tidur, 21 orang dokter spesialis, 8 orang dokter umum, 7

orang dokter gigi, dan 11 orang di bagian farmasi. Rumah Sakit Panti Nugroho ini

mempunyai luas lahan 10.000 m2 dan memiliki luas bangunan 6000 m2.

I. Keterangan Empiris

Penelitian ini dilakukan untuk memperoleh gambaran penggunaan obat

pada pasien rawat jalan di Instalasi Farmasi Rumah Sakit Panti Nugroho selama

periode 1 Januari 2007 sampai dengan 31 Desember 2007 berdasarkan indikator

peresepan WHO (1993), meliputi:

a. rata-rata jumlah obat per lembar resep,

b. persentase peresepan obat dengan nama generik,

c. persentase peresepan antibiotik,

d. persentase peresepan sediaan injeksi,

12

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Jenis dan Rancangan Penelitian

Penelitian yang berjudul “Gambaran Penggunaan Obat untuk Pasien

Rawat Jalan di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman periode 2007 Berdasarkan

Indikator Peresepan WHO (1993)” termasuk jenis penelitian nonekperimental

dengan rancangan deskriptif. Menurut Kountour (2003) jenis penelitian ini

memberikan gambaran atau uraian atas suatu keadaan sejelas mungkin tanpa

adanya perlakuan terhadap obyek yang di teliti. Data penelitian diambil secara

retrospektif karena penelitian ini hanya mengumpulkan data yang telah lalu. Data

yang didapat dibandingkan dengan indikator peresepan WHO (1993) dan

formularium rumah sakit, kemudian hasil yang diperoleh diambil suatu

kesimpulan.

B. Definisi Operasional Penelitian

Berikut ini adalah batasan pengertian dan istilah-istilah yang digunakan dalam

penelitian :

1. Penggunaan obat adalah penggunaan obat oleh pasien rawat jalan yang

berdasarkan resep dokter praktek di Rumah Sakit Panti Nugroho (RSPN).

2. Resep adalah resep dari dokter praktek di RSPN yang masuk ke Instalasi

Farmasi RSPN untuk pasien rawat jalan.

3. Antibiotik adalah antibiotik yang termasuk dalam klasifikasi WHO.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

4. Peresepan sesuai Formulatium Rumah Sakit (FRS) adalah resep-resep

yang mengandung obat. Obat tersebut tercantum dalam FRS RSPN.

5. Jumlah obat yang digunakan adalah jumlah recipe (R/) yang ada pada

tiap-tiap lembar resep. Resep racikan dihitung sebagai satu R/.

C. Obyek Penelitian

Obyek yang digunakan dalam penelitian ini adalah lembar resep pasien

rawat jalan RSPN Bulan Januari 2007 sampai dengan Desember 2007.

D. Instrumen Penelitian

Instrumen Penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Indikator

Peresepan WHO (1993) dan FRS RSPN (2007).

E. Teknik Sampling

Pengambilan sampel dilakukan di Instalasi Farmasi RSPN. Sampel yang

diambil adalah lembar resep pasien rawat jalan dari bulan Januari 2007 sampai

dengan Desember 2007. Metode yang digunakan untuk pengambilan sampel

adalah Systematic Random Sampling yaitu mengambil sampel berdasar nomer

urut yang telah ditentukan nilai intervalnya terlebih dahulu. Data yang

dikumpulkan, diambil secara retrospektif.

14

F. Tata Cara Penelitian

1. Analisis Situasi

Analisis situasi dilakukan untuk mendapatkan gambaran yang jelas

mengenai permasalahan yang akan diteliti dan untuk melihat hambatan yang akan

muncul pada saat penelitian. Analisis situasi dilakukan dengan melihat berbagai

buku acuan dan penelitian-penelitian sejenis. Hal tersebut dilanjutkan dengan

pencarian data yang mendukung pembuatan desain penelitian, yaitu pencarian

informasi mengenai kemungkinan bisa tidaknya diadakan penelitian, dilihat dari

jumlah resep yang ada di rumah sakit sebelum penelitian dilakukan.

2. Pengumpulan Data

Pengumpulan data berupa lembar resep rawat jalan periode Januari 2007

sampai dengan Desember 2007 secara random. Pencatatan lembar resep meliputi

nomer, tanggal, spesialis dokter, umur pasien, jumlah R/, dan nama obat.

Berdasarkan acuan standar WHO (1993) sampel minimum yang harus

diambil untuk penelitian retrospektif adalah 600 lembar resep. Pada penelitian ini

diambil 1.200 lembar resep yang terbagi dalam 12 bulan berdasarkan jumlah resep

yang masuk ke Instalasi Farmasi RSPN.

Resep selama periode 2007 terbagi dalam dua belas bulan, untuk tiap

bulan banyaknya sampel yang diambil dilakukan dengan menghitung jumlah

resep yang masuk pada bulan tertentu dibagi dengan jumlah resep total satu tahun

yang masuk ke Instalasi Farmasi RSPN (34.959 lembar resep pasien rawat jalan),

dikalikan jumlah sampel yang diambil dalam penelitian (1.200 lembar resep).

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Pada metode Systematic Random Sampling yang harus diperhatikan

adalah penentuan nomor pertama sampel yang terambil pertama, karena nomor

yang terpilih tersebut akan menjadi titik awal bagi pengambilan sampel pada

interval berikutnya. Pengambilan sampel pertama yang terletak antara nomor urut

pertama sampai kelipatan pertama dapat dilakukan dengan acak sederhana atau

diambil sampel tengah (Budiarto, 2004). Interval didapatkan dari pembagian

jumlah resep yang masuk pada bulan tertentu dengan jumlah sampel yang

terambil pada bulan tersebut. Hasil perhitungan tersebut diperoleh interval sebesar

29. Nilai tengah dari interval tersebut adalah 15, kemudian digunakan sebagai

nomor pertama sampel terambil. Nomor selanjutnya adalah 44, 73, 102, dan

seterusnya sampai jumlah sampel pada bulan tertentu.

3. Pengolahan Data

Pengolahan data dilakukan dengan cara mengkategorisasikan data

sejenis, yaitu dengan menyusun data dan menggolongkannya dalam

kategori-kategori. Penggolongan antibiotika berdasarkan MIMS 2008. Setelah itu

dilakukan interpretasi.

4. Analisis Data

Data yang diperoleh pada penelitian ini kemudian diolah dengan

membandingkannya dengan indikator peresepan WHO (1993). Dari data yang

diperoleh disajikan dalam bentuk tabel dan diagram.

16

a. Rata-rata jumlah obat per lembar resep

Jumlah total obat yang diresepkan = M

Jumlah total lembar resep = N

Perhitungan = M/N

b. Persentase jumlah obat dengan nama generik yang diresepkan

Jumlah obat dengan nama generik yang diresepkan = O

Jumlah total obat yang diresepkan = M

Perhitungan = O/M x 100%

c. Persentase jumlah antibiotik yang diresepkan

Jumlah antibiotik yang diresepkan = P

Jumlah total obat yang diresepkan = M

Perhitungan = P/M x 100%

d. Persentase jumlah injeksi yang diresepkan

Jumlah sediaan injeksi yang diresepkan = Q

Jumlah total obat yang diresepkan = M

Perhitungan = Q/M x 100%

e. Persentase jumlah obat yang sesuai FRS

Jumlah obat yang sesuai FRS = R

Jumlah total obat yang diresepkan = M

Perhitungan = R/M x 100%

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Persiapan administrasi

Ijin penelitian

Peralatan bantu penelitian

Pelaksanaan penelitian

Pengumpulan data resep rawat jalan periode 2007

Pengambilan sampel penelitian dengan Systematic Random Sampling

Pencatatan resep, meliputi : nomor, tanggal, praktek dokter, jumlah recipe (R/),

nama obat.

Penggolongan resep, meliputi : golongan nama generik, golongan antibiotik,

golongan injeksi, golongan sesuai FRS.

Analisis data

Menghitung rata-rata jumlah obat yang digunakan per lembar resep

Menghitung persentase peresepan obat dengan nama generik

Menghitung persentase peresepan antibiotika

Menghitung persentase peresepan injeksi

Menghitung persentase peresepan obat yang terdapat dalam FRS

Gambar 2. Skema Jalannya Penelitian di RSPN Periode 2007

G. Keterbatasan Penelitian

Masalah yang dihadapi pada penelitian ini, hanya menggunakan lembar

resep dan tidak melihat rekam medis sehingga tidak dapat dilakukan analisis lebih

lanjut, serta kesulitan dalam membaca resep yang dituliskan oleh dokter dimana

terdapat kemungkinan salah dalam membaca dan mengidentifikasi tulisan dokter.

18

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

Sebelum penelitian tentang gambaran penggunaan obat untuk pasien rawat

jalan di Rumah Sakit Panti Nugroho (RSPN) berdasarkan indikator peresepan WHO

(1993) dilakukan, terdapat penelitian sejenis yang telah dilakukan oleh peneliti lain di

beberapa rumah sakit, berikut hasil dari penelitian tersebut:

Tabel II. Hasil Penelitian Terdahulu

Indikator

Peresepan

WHO (1993)

Penelitian terdahulu

WHO

(1997)

Handayani

(2006)

Permatasari

(2007)

Rahayu

(2007)

Sudarmono

(2007)

Utami

(2007)

rata-rata R/

lembar resep

3,30 2,44 3,10 2,25 2,71 2,80

% generik 59,00 34,93 45,90 31,06 15,22 38,06

% antibiotik 43,00 21,25 17,07 20,30 24,42 20,12

% sediaan

injeksi

17,00 28,90 2,70 0,28 0,55 1,46

% FRS - 78,65 52,70 91,92 38,27 98,00

Penelitian ini menggunakan indikator peresepan WHO (1993) sebagai salah

satu parameter dalam melihat penggunaan obat, karena pada tempat-tempat

pelayanan kesehatan penggunaan obat selalu dimulai dengan peresepan. Indikator

peresepan digunakan untuk mengukur rata-rata jumlah obat per lembar resep,

persentase peresepan obat dengan nama generik, persentase peresepan antibiotik,

persentase peresepan sediaan injeksi, dan persentase peresepan berdasarkan

formularium rumah sakit.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Pada penelitian ini, diperoleh jumlah total resep yang masuk ke Instalasi

Farmasi RSPN selama periode 2007 sebesar 34.959 lembar resep terbagi dalam dua

belas bulan, dari jumlah tersebut diambil 1.200 sampel. Metode yang digunakan

untuk pengambilan sampel adalah Systematic Random Sampling yaitu mengambil

sampel berdasar nomer urut yang telah ditentukan nilai intervalnya terlebih dahulu.

Interval yang diperoleh dari perhitungan sebesar 29. Hasil dari penentuan jumlah

sampel yang akan diambil tiap bulan periode 2007 dapat dilihat pada tabel IV.

Tabel III. Pengambilan Sampel Tiap Bulan di Rumah Sakit Panti Nugroho

Bulan Jumlah Resep yang

Masuk Jumlah Sampel Anak Dewasa

Januari 3143 108 28 80

Februari 2908 100 19 81

Maret 2902 100 21 79

April 2884 99 34 65

Mei 2903 100 25 75

Juni 2673 92 28 64

Juli 2714 93 27 66

Agustus 2937 100 34 66

September 2699 93 28 65

Oktober 3124 107 38 69

November 2948 101 42 59

Desember 3124 107 22 85

Total 34959 1200 346 854

Data yang telah diperoleh kemudian dilakukan penggolongan data dengan

cara mengkategorisasikan data-data yang sejenis ke dalam kategori yang terdapat

dalam indikator peresepan WHO (1993). Kategori tersebut meliputi jumlah obat per

lembar resep (R/), obat dengan nama generik, obat antibiotik, sediaan injeksi, dan

20

A.Rata-rata Jumlah Obat yang Digunakan per Lembar Resep

Menurut WHO (1993) untuk rata-rata jumlah obat yang digunakan per

lembar resep dikategorikan baik jika terdapat paling banyak 2 recipe (R/) obat untuk

satu diagnosis. Dari hasil penelitian ini menunjukkan rata-rata jumlah obat yang

digunakan per lembar resep adalah 2,33 R/. Pada hasil penelitian WHO yang pernah

dilakukan di Indonesia pada tahun 1997 tentang penggunaan obat pada duapuluh unit

pelayanan kesehatan untuk resep pada pasien rawat jalan, rata-rata jumlah obat per

lembar resep adalah 3,3 (Quick, dkk., 1997). Relatif tingginya hasil tersebut dari

kriteria yang ditentukan oleh WHO (1993) dapat dipengaruhi oleh faktor peresepan.

Tabel IV. Perincian Jumlah Obat per Lembar Resep Pasien Rawat Jalan di

Rumah Sakit Panti Nugroho pada Periode 2007

No. Jumlah obat

per lembar resep

Jumlah resep

(lembar resep)

Persentase

(%)

1 1 315 26,25

58,50

2 2 387 32,25

3 3 323 26,92

41,50

4 4 147 12,25

5 5 27 2,25

6 6 1 0,08

Jumlah Sampel 1200 100 100

Jumlah Total recipe (R/) 2791

Faktor peresepan dipengaruhi faktor dokter (prescriber), dispenser, pasien

(masyarakat luas), dan sistem kesehatan. Faktor dokter meliputi kurangnya pelatihan,

meniru model peresepan dokter seniornya, pengetahuan yang tidak mencukupi, dan

financial interest. Hal ini dapat menyebabkan ketidakyakinan dokter akan diagnosis

pasien disebabkan kurangnya pengetahuan dokter tentang bukti-bukti ilmiah terbaru

tentang penggunaan berbagai jenis obat, hal ini dapat mendasari terjadinya

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

polifarmasi. Dari tabel VI dapat dilihat peresepan di RSPN paling banyak diresepkan

oleh dokter umum. Hal ini dapat dimengerti sebab waktu pelayanan dokter spesialis

lebih sedikit daripada dokter umum.

Tabel V. Perincian Distribusi Peresepan oleh Dokter Umum dan Dokter

Spesialis di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman pada Periode 2007

Pembatasan pemakaian obat dapat menekan terjadinya efek samping obat

dan kejadian interaksi obat. Walau bagaimanapun perlu diwaspadai polifarmasi yang

dapat mengakibatkan terjadinya efek samping dan kejadian interaksi obat dengan

memperhatikan empat faktor yaitu efficacy (khasiat obat), safety (keamanan obat),

suitability (kesesuaian obat pada pasien), dan cost (harga), sehingga dapat dipilih obat

yang efektif, aman, dan terjangkau.

No. Dokter Jumlah resep

(lembar resep)

Persentase

(%)

1 Umum 718 59,84

2 Sp Anak 176 14,67

3 Sp Penyakit Dalam 105 8,75

4 Sp Obstetrik dan Ginekologi 75 6,25

5 Sp Bedah 33 2,75

6 Sp Saraf 28 2,33

7 Gigi 22 1,83

8 Sp Kulit dan Kelamin 15 1,25

9 Sp Telinga Hidung Tenggorokan 15 1,25

10 Sp Urologi 9 0,75

11 Sp Mata 3 0,25

12 Sp Paru 1 0,08

22

B.Persentase Peresepan Obat dengan Nama Generik

Pengukuran dengan menggunakan indikator ini bertujuan untuk mengetahui

kecenderungan peresepan obat dengan nama generik. Dari hasil penelitian ini

menunjukkan persentase peresepan obat dengan nama generik sebesar 22,32%. Hasil

penelitian yang dilakukan oleh WHO sebesar 59,00% (Quick, dkk., 1997).

Gambar 3. Persentase Peresepan Obat dengan Nama Generik untuk Pasien

Rawat Jalan di Rumah Sakit Panti Nugroho Periode 2007

Rendahnya peresepan obat dengan nama generik di RSPN dapat disebabkan

karena rumah sakit tersebut merupakan rumah sakit swasta, hal ini dapat dimengerti

sebab di Indonesia, kewajiban menggunakan obat generik hanya berlaku di unit-unit

pelayanan kesehatan pemerintah. Permasalahan ini dapat diperkecil apabila dokter

lebih memperhatikan situasi dan kondisi serta kemampuan ekonomi pasien.

Kebanyakan pasien tidak mengerti tentang obat, oleh karena itu peran farmasis untuk

memberikan informasi kepada pasien bahwa obat generik mempunyai kandungan dan

khasiat yang sama dan harganya lebih murah. Pada pasien yang keadaan ekonominya

rendah, sangat tidak memungkinkan untuk menebus obat yang harganya mahal, akan

lebih tepat apabila diberikan obat generik karena harganya lebih terjangkau.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Dokumen terkait