• Tidak ada hasil yang ditemukan

MASALAH PRAKTEK BELAJAR

PERSENTASE PSIKOMOTORIK PRAKTEK

SIKLUS I SIKLUS II P E R S E N T A S E

Gambar 7. Capaian persentase Psikomotorik praktek Tabel 17. Capaian Persentase Tiap Aspek

PSIKOMOTORIK

NO Aspek Siklus I Siklus II

1

Kesiapan yaitu kesediaan untuk melatih diri tentang ketrampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha

90.79% 96,67%

2

Menyesuaikan yaitu melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat ketrampilan dilaksankan

46,70% 80,01%

0 20 40 60 80 100 1 2 ASPEK

CAPAIAN PERSENTASE TIAP ASPEK

SIKLUS I SIKLUS II P E R S E N T A S E

Gambar 8. Capaian persentase tiap aspek psikomotorik

d. Penilaian Penampilan Guru

Penampilan guru mengalami peningkatan rata-rata persentase pengelolaan guru dalam pembelajaran dari pra siklus, siklus I, dan siklus II. Pada pra siklus persentase pengelolaan guru dalam pembelajaran sebesar 58,33%, siklus I sebesar 70,83%, dan siklus II sebesar 77,08%.

Peningkatan persentase dari pra siklus, pasca siklus I, dan pasca siklus II dapat dilihat dari Tabel 18 dan Gambar 9.

Tabel 18. Persentase Penampilan Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran Aspek yang dinilai Pra Siklus Pasca Siklus I Pasca Siklus II Penampilan guru dalam

PERSENTASE PENAMPILAN GURU DALAM PENGELOLAAN PEMBELAJARAN 0,00% 10,00% 20,00% 30,00% 40,00% 50,00% 60,00% 70,00% 80,00% 90,00%

Pra Siklus Pasca Siklus I Pasca Siklus II

P E R S E N TA S E

Performance guru dalam pengelolaan pembelajaran

Gambar 9. Capaian persentase penampilan guru dalam pengelolaan pembelajaran.

e. Kepuasan Siswa Terhadap Penerapan Pembelajaran dengan Menggunakan Model Problem Based Learning

Angket kepuasan siswa terhadap model pembelajaran problem based learning menunjukkan peningkatan dari siklus I ke siklus II. Siswa menyatakan senang dengan model pembelajaran problem based learning meningkat dari 88,66% menjadi 90%. Siswa yang mudah mengikuti pembelajaran problem based learning meningkat dari 83,33% menjadi 90%. Sedangkan siswa yang senang dengan pembelajaran dengan kerja kelompok meningkat dari 63,33% menjadi 66,66%. Siswa yang senag dengan penemuan sendiri meningkat dari 70% menjadi 80% dan siswa yang termotifasi dengan adanya metode problem based learning meningkat dari 76,66% menjadi 80%. Peningkatan kepuasan siswa dapat dilihat pada Tabel 19 dan Gambar 10.

Tabel 19. Capaian Persentase Kepuasan

KEPUASAN NO Variabel

PERSENTASE SIKLUS I SIKLUS

1 Senang 88,66% 90% 2 Mudah mengikuti pembelajaran 83,33% 90% 3 Senang dengan pembelajaran

dengan kerja kelompok 63,33% 66,66%

4 Senang dengan penemuan sendiri 70% 80%

5 Termotifasi 76,66% 80%

Rata-Rata 76,40% 81,33%

CAPAIAN PERSENTASE KEPUASAN SISWA

0,00% 20,00% 40,00% 60,00% 80,00% 100,00% 1 2 3 4 5 VARIABEL P E R S E N TA S E Siklus I Siklus II

Gambar 10. Capaian Persentase Kepuasan Siswa

Proses pembelajaran pada pra siklus, siklus I, dan siklus II selalu mengalami peningkatan pembelajaran secara keseluruhan serta pada pasca siklus II baik lembar observasi dan angket sudah mencapai target. Hasil keseluruhan pencapaian belajar siswa pada sub pokok bahasan pondasi bangunan dengan menerapkan model pembelajaran Problem Based Learning cukup dapat meningkatan proses dan hasil pembelajaran.

2. PEMBAHASAN

Pembahasan penelitian ini didasarkan pada hasil pengamatan dilanjutkan dengan refleksi pengamatan pada tiap siklus tindakan. Seorang guru melakukan

pengukuran hasil menggunakan alat pengukur yang disebut tes, sedangkan dalam penilaian proses menggunakan alat pengukur yang disebut alat pengukur non tes, seperti observasi, wawancara kuisioner, skala nilai, daftar cek, catatan anekdote, dan sebagainya (Masidjo, dalam Siswidyawati 2009:52). Alat pengukur tes digunakan untuk pengukuran hasil belajar pada ranah kognitif, pada proses pembelajaran pada ranah afektif menggunakan alat pengukur berupa angket, pada ranah psikomotorik menggunakan lembar observasi.

Menurut W.S. Winkel (2009: 280-285) tujuan pendidikan yang hendak dicapai dapat diklasifikasikan menjadi tiga bidang, yaitu ranah kognitif, ranah afektif dan ranah psikomotorik. Penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran siswa cukup efektif, terlihat dari kenaikan persentase dari ranah kognitif, afektif maupun psikomotorik serta peningkatan kepuasan siswa terhadap model pembelajaran yang digunakan.

Peningkatan ranah kognitif dapat dilihat dari kenaikan persentase dari kemampuan awal, siklus I, dan siklus II. Kenaikan ini dapat dicapai karena antusias siswa terhadap pembelajaran dan peran efektif guru dalam pembimbingan pemecahan masalah. Model pembelajaran Problem Based Learning yang digunakan dengan metode kerja kelompok dan penemuan sendiri membuat siswa menemukan konsep pemecahan masalah, jika ada yang kurang faham siswa sudah mulai berani bertanya kepada guru, sehingga lebih menguasai materi yang diajarkan.

Penelitian lain yang dilakukan oleh Nanik Siswidyawati (2009: 52) mengenai implementasi metode Problem Based Learning dalam pembelajaran Biologi siswa kelas VII-A SMP Negeri 1 Gesi mendapatkan hasil bahwa ada pengaruh metode Problem Based Learning terhadap hasil belajar Biologi ranah kongnitif, afektif, psikomotorik dan kepuasan siswa.

Peningkatan hasil belajar ranah afektif juga dapat dilihat dari kenaikan persentasenya dari siklus I ke siklus II. Siswa sudah mulai mampu menyesuaikan dengan model pembelajaran yang digunakan. Siswa menjadi lebih aktif selama proses pembelajaran berlangsung. Nampak dari kenaikan persentase tiap aspek yang dinilai.

Peningkatan hasil belajar ranah psikomotorik ditunjukkan dengan hasil siswa yang meningkat dari siklus I ke siklus II. Siswa sudah menunjukkan kesediaan untuk melatih diri tentang ketrampilan tertentu yang dinyatakan dengan usaha dan telah melakukan modifikasi untuk disesuaikan dengan kebutuhan atau situasi tempat ketrampilan dilaksanakan.

Penilaian penampilan guru melalui lembar penampilan guru yang diisi oleh peneliti menjadi meningkat dari pra siklus, siklus I, dan siklus II. Kepuasan terhadap model pembelajaran yang digunakan juga mengalami peningkatan. Siswa mulai terbiasa dengan model pembelajaran Problem Based Learning. Terjadinya peningkatan kepuasan dari siklus I ke siklus II menunjukkan siswa merasa puas dengan model pembelajaran ini dari pada model pembelajaran yang mereka gunakan. Terlihat dengan antusiasme dalam kegiatan belajar mengajar dan peningkatan hasil belajar siswa kelas X TKB.

Dari uraian diatas maka dapat ditarik kesimpulan bahwa penggunaan model pembelajaran Problem Based Learning mempunyai pengaruh untuk meningkatkan proses dan hasil belajar siswa kelas X TKB SMK Negeri 2 Surakarta yang dapat dilihat pula dari kenaikan rata-rata kelas siswa dan turunya jumlah siswa yang tidak tuntas dalam pembelajaran Ilmu Bangunan Gedung/PDKB sub materi pondasi.

76

Dari hasil penelitian tindakan kelas dapat diperoleh kesimpulan :

1. Model pembelajaran Problem Based Learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa kelas X TKB SMK Negeri 2 Surakarta pada sub materi pondasi dari ranah kognitif siswa yang diperoleh dari nilai tes/evaluasi pembelajaran, ketuntasan siswa meningkat 3,83%.

2. Dengan pembelajaran Problem Based Learning proses belajar mengajar menjadi lebih meningkat. Terbukti dengan peningkatan variabel percaya diri melalui data, antara lain: angket afektif meningkat 2,84%, semangat belajar meningkat melalui data observasi psikomotorik 19,60%, kegairahan belajar meningkat dilihat dari data angket kepuasan 4,93%, dan pengelolaan guru dalam pembelajaran melalui data observasi meningkat 6,25%.

B. Saran

1. Siswa perlu dilatih untuk berani mengemukakan pendapat di depan teman-temannya dengan cara bertanya atau mengemukakan gagasannya.

2. Penggunaan Metode Problem Based Learning agar lebih optimal seharusnya dengan memberikan pengetahuan yang lebih pada setiap siswa sehingga dalam pemecahan masalah siswa tidak merasa kesulitan.

3. Meskipun penelitian tindakan kelas ini hanya dengan dua siklus dan telah mencapai hipotesis tindakan, hendaknya guru terus mengembangkan inovasi-inovasi pembelajaran selanjutnya untuk mencapai pembelajaran yang lebih baik.

4. Pemberian pertanyaan atau masalah pada metode Problem Based Learning seharusnya jelas, autentik, mudah difahami, luas dan sesuai tujuan pembelajaran.

Dokumen terkait