• Tidak ada hasil yang ditemukan

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

4.3. Persepsi Masyarakat terhadap Pengelolaan Mangrove

Mangrove merupakan tumbuhan yang umumnya telah dikenal oleh masyarakat pantai, terutama para petani tambak, nelayan atau mereka yang bertempat tinggak di sekitar pantai. Masyarakat mengenal mangrove dengan istilah bakau. Tabel 5. Persentase Persepsi Responden

No. Pernyataan Skor (%)

5 4 3 2 1

1 Pengetahuan masyarakat terhadap mangrove

9,6 64,9 25,5 0 0 2 Pengetahuan masyarakat tentang manfaat

mangrove

5,3 60,6 34,0 0 0 3 Pengetahuan masyarakat terhadap

penyebab terjadinya kerusakan mangrove

0 77,7 12,3 0 0 4 Pengetahuan masyarakat tentang adanya

program pengelolaan hutan mangrove yang dicanangkan pemerintah daerah

1,1 80,9 18,1 0 0

dan manfaat pengelolaan hutan mangrove

Rata-rata 4,3 68,3 25,4 0 0

Secara umum masyarakat di Desa Mesjid Lama mengetahui tentang mangrove, dimana sebanyak 64,9% responden menyatakan mengetahui dan sebanyak 9,6% menyatakan sangat mengetahui. Pengetahuan masyarakat terhadap mangrove berhubungan dengan letak pemukiman penduduk yang pada umumnya dekat dengan pesisir pantai yang pada umumnya ditumbuhi mangrove.

Karena pemukiman yang berdekatan dengan pantai yang ditumbuhi mangrove, maka masyarakat juga mengetahui dengan baik fungsi dari mangrove tersebut, baik untuk perlindungan pantai maupuan untuk kebutuhan ekonomis, serperti untuk kayu dan arang. Hal ini sesuai dengan pernyataan responden dimana sebanyak 60,6% menyatakan mengetahui manfaat mangrove dan sebanyak 5,3% menyatakan sangat mengetahui. Pada umumnya sebagai nelayan dan petambak, masyarakat mengetahui fungsi mangrove dalam mempertahankan kondisi ekosistem pantai, sehingga pada umumnya nelayan dan petambak berusaha untuk mempertahankan mangrove tersebut. Menurut Utomo (2008), adanya pemahaman terhadap pentingnya kawasan hutan membuat masyarakat berusaha menjaga kelestarian, tidak merusak hutan dan tidak melakukan kegiatan yang dapat merusak kawasan hutan. Masyarakat sadar bahwa kehidupan mereka sangat bergantung dari keberadaan hutan, mencari nafkah untuk kebutuhan hidup sehari-hari. Masyarakat beranggapan bahwa mereka boleh memanfaatkan hasil hutan selama hal tersebut tidak menganggu kelestarian dari hutan.

Pada beberapa tahun belakangan, khususnya pada saat pertambakan udang berkembang pesat, maka hutan mangrove di Desa Mesjid Lama Kecamatan Talawi juga mengalami degradasi karena banyak dibuka untuk menjadi tambak udang. Selain untuk lahan tambak udang, kayu-kayu mangrove juga banyak digunakan oleh masyarakat untuk keperluan sehari-hari, seperti kayu bakar dan juga sebagai bahan bangunan. Sehubungan dengan terjadinya kerusakan mangrove di Desa Mesjid Lama, maka sebagian besar responden (77,7%) menyatakan mengetahui tentang penyebab terjadinya kerusakan hutan mangrove tersebut.

Terjadinya kerusakan mangrove di Desa Mesjid Lama juga menjadi perhatian pemerintah, sehingga pemerintah daerah melakukan program pengelolaan hutan mangrove, terutama dalam upaya rehabilitasi hutan mangrove untuk memperbaiki dan melestarikan ekosistem pantai. Masyarakat setempat, khususnya nelayan dan petambak merasakan sendiri akibat dari kerusakan mangrove tersebut, berupa penurunan hasil tangkapan dari laut serta semakin menurunnya produktivitas tambak, dan bahkan saat ini sebagian besar tambak-tambak di Desa Mesjid Lama tidak aktif lagi dan sebagian sudah ditanami kelapa sawit. Sehubungan upaya pengelolaan mangrove di Desa Mesjid Lama yang dilakukan oleh pemerintah setempat, sebagian besar responden (80,9%) menyatakan bahwa mereka mengetahui adanya program pengelolaan hutan mangrove yang dicanangkan pemerintah daerah. Masyarakat bukan hanya sekedar mengetahui saja tetapi juga turut berpartisipasi dalam pengelolaan hutan mangrove tersebut.Hal ini dibuktikan dengan adanya kelompok tani hutan mangrove, yaitu pembibitan kayu-kayu mangrove.

Masyarakat juga mengetahui fungsi dan manfaat pengelolaan hutan mangrove di Desa Mesjid Lama, sebagaimana dinyatakan oleh 57,4% dan 5,3% responden. Fungsi dan manfaat tersebut memang belum dapat dirasakan pada saat dilakukan pengelolaan, tetapi hasil dari upaya pengelolaan dalam bentuk rehabilitasi yang telah dilakukan beberapa tahun lalu, mulai dapat dilihat saat ini dengan pertumbuhan mangrove yang semakin baik dan semakin luas.

Berdasarkan jawaban responden terhadap persepsi tersebut, dapat diketahui bahwa sebagian besar memberikan jawaban dengan kategori 4 (baik), yang berarti bahwa persepsi masyarakat terhadap pengelolaan hutan mangrove di Desa Mesjid Lama adalah baik. Persepsi ini dibutuhkan dalam upaya pengelolaan hutan mangrove secara berkelanjutan, sehingga dalam upaya pengelolaan selanjutnya diharapkan keterlibatan masyarakat semakin besar. Pada akhirnya masyarakat dapat melakukan pengelolaan secara swakelola.

4.4. Partisipasi Masyarakat

Upaya pengelolaan hutan mangrove akan terlaksana dengan efektif jika melibatkan masyarakat. Pelibatan masyarakat ini merupakan salah satu upaya untuk meningkatkan partisipasi masyarakat dalam program pengelolaan lingkungan pantai. Pentingnya partisipasi masyarakat terutama karena masyarakat setempat berada dan tinggal di wilayah pesisir yang dikelola, sehingga partisipasi masyarakat tersebut sebenarnya adalah untuk dirinya sendiri.

Partisipasi masyarakat dimulai dari perencanaan pengelolaan hutan mangrove. Namun sesuai dengan jawaban sebagian besar responden (54,3%) menyatakan kurang

berperan dalam perencanaan pengelolaan hutan mangrove, khususnya yang dilakukan oleh pemerintah. Sedangkan untuk pengelolaan yang dilakukan secara swadaya, masih sangat sedikit karena keterbatasan dana.

Tabel 6. Persentase Partisipasi Responden dalam Pengelolaan Hutan Mangrove

No. Pernyataan Skor (%)

5 4 3 2 1

1 Partisipasi masyarakat dalam

perencanaan pengelolaan hutan mangrove

0 45,7 54,3 0 0 2 Partisipasi masyarakat dalam pelaksanaan

pengelolaan hutan mangrove

5,3 73,4 21,3 0 0 3 Partisipasi masyarakat dalam

pemeliharaan hutan mangrove

0 64,9 35,1 0 0 4 Keterbukaan pemerintah menerima

masukan dari masyarakat sehubungan dengan pengelolaan hutan mangrove

0 63,8 36,1 0 0

5 Partisipasi masyarakat secara swadaya melakukan pengelolaan hutan mangrove

7,4 62,8 29,8 0 0

Rata-rata 2,5 62,1 35,3 0 0

Selanjutnya dalam pelaksanaan pengelolaan hutan mangrove, sebagian besar responden (73,4%) menyatakan berpartisipasi, seperti pembibitan tanaman mangrove yang dikelola oleh perseorangan maupun kelompok-kelompok, demikian halnya adanya tanda larangan mengambil/merusak/menebang pohon mangrove. Hal ini disebabkan karena dalam pelaksanaan pengelolaan hutan mangrove khususnya rehabilitas melalui reboisasi atau penanaman kembali dilakukan dengan melibatkan masyarakat sekitar pantai, khususnya nelayan dan petambak.

Partisipasi masyarakat dibutuhkan bukan hanya dalam perencanaan dan pelaksanaan pengelolaan, tetapi yang paling penting adalah pada saat pemeliharaan,

karena hutan bakau yang telah ditanam atau telah tumbuh perlu pemeliharaan dan pengawasan. Dalam hal pemeliharaan hutan mangrove di Desa Mesjid Lama sebagian besar responden (64,9%) menyatakan berpartisipasi aktif. Dalam hal ini yang paling berpartisipasi aktif adalah kelompok nelayan dan petambak, karena mereka pihak yang berhubungan secara langsung dengan hutan mangrove. Selanjutnya juga kepada kelompok masyarakat pengelola kawasan-kawasan wisata, seperti kawasan wisata Pantai Bunga. Karena tanpa hutan mangrove yang tumbuh dengan baik, maka kawasan pantai menjadi rusak sehingga akan mengurangi potensinya sebagai kawasan wisata.

Sebagai perencana dan pengambil kebijakan dalam pemerintahan, pemerintah daerah sebaiknya melibatkan masyarakat dalam perencanaan suatu kegiatan, khususnya yang berhubungan dengan masyarakat. Dalam hal pengelolaan hutan mangrove menurut sebagian besar responden (63,8) bahwa pemerintah terbuka menerima masukan dari masyarakat. Utomo (2008) menjelaskan bahwa peran serta masyarakat dalam kegiatan perencanaan, pelaksanaan maupun evaluasi kegiatan rehabilitas hutan memegang peran yang sangat penting, karena masyarakat sebagai subjek yang paling dekat dengan lokasi kegiatan lebih mengetahui keadaan lokasi, sehingga diharapkan dengan peran serta masyarakat tersebut akan memberikan masukan-masukan kepada pemerintah tentang masalah yang mungkin dapat ditimbulkan oleh tindakan yang akan dilakukan, dengan berbagai konsekuensinya. Dengan demikian pemerintah akan mengetahui adanya berbagai kepentingan dan dapat memberikan tindakan-tindakan dalam menyikapi masalah ini.

Dalam hal partisipasi masyarakat secara swadaya melakukan pengelolaan hutan mangrove, sebanyak 62,8% menyatakan sudah baik, artinya bahwa masyarakat Desa Mesjid Lama cukup berpartisipasi aktif secara swadaya melakukan pengelolaan hutan mangrove. Hal ini juga dapat dilihat dari adanya lokasi pembibitan hutan mangrove dengan luas sekitar 2 Ha yang dikelola oleh kelompok masyarakat pencinta dan pelestari kawasan pantai. Berdasarkan skor jawaban responden tersebut dapat diketahui bahwa partisipasi masyarakat dalam pengelolaan hutan mangrove di Desa Mesjid Lama sudah baik. Kondisi ini perlu dipertahankan sehingga ekosistem pantai di Desa Mesjid Lama, khususnya Pantai Bunga akan semakin baik dan lestari, yang pada akhirnya akan memberikan manfaat langsung dan tidak langsung kepada seluruh masyarakat Desa Mesjid Lama.

Jika dianalisis lebih lanjut partisipasi mayarakat yang telah baik juga dipengaruhi dari adanya kesempatan berpartisipasi yang terbuka lebar yang ditunjukkan hasil analisis regresi linier berganda yang bertanda positif yaitu 0,114.hal ini menunjukkan bahwa kesempatan berpartisipasi tersebut memberikan pengaruh positif,yang dibuktikan dari harga t hitung yang lebih besar dari t tabel dengan harga t hitung 3.884 dan harga t tabel 1,98 (tabel 10).

Dokumen terkait