• Tidak ada hasil yang ditemukan

Hasil dari wawancara terhadap para tokoh-tokoh masyarakat dan salah satu masyarakat sekitar kawasan tambang memiliki perbedaan persepsi mengenai keterkaitan kegiatan pertambangan. Persepsi kegiatan pertambangan dikaitkan dengan aspek sosial - ekonomi dan aspek lingkungan. Penjelasan aspek-aspek tersebut dapat dilihat dalam uraian sebagai berikut:

a. Aspek Sosial dan Ekonomi

Berdasarkan hasil wawancara mengenai persepsi keterkaitan kegiatan pertambangan dilihat dari aspek sosial-ekonomi. Persepsi ini dilihat dari sudut pandang yang berbeda yaitu dampak positif dan dampak negatif. Pemaparan dapat dilihat sebagai berikut:

1. Dampak Positif

Dampak positif yang ditimbulkan kegiatan pertambangan baik pertambangan emas atau pasir dilihat dari aspek sosial dan ekonomi bagi sebagian masyarakat di Desa Daya Murni, yaitu masyarakat yang bekerja sebagai penambang (emas dan pasir).

- Terbukanya lapangan pekerjaan: terjadi penyerapan tenaga kerja bagi masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan, baik penduduk asli atau pendatang. Tersedianya pekerjaan menambang tersebut ada yang menjadikannya sebagai pekerjaan utama ataupun sebagai pekerjaan sampingan. Penambang di Desa Daya Murni yang tercatat dalam penelitian ini sebanyak 35 orang, terdiri dari 18 penambang emas dan 17 penambang pasir. Pekerjaan menambang utama sebanyak 9 penambang, selebihnya adalah merupakan pekerjaan sampingan. - Pendapatan bagi masyarakat yang sebelumnya adalah pengangguran.

Berdasarkan hasil wawancara, khususnya penambang pasir utama penghasilan yang mereka dapatkan dari menambang pasir cukup untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, dari usaha pertambangan pasir tersebut tidak setiap hari mereka mendapat masukan karena pasir yang mereka kumpulkan tidak setiap hari terjual. Harga jual pasir/trip adalah berkisar antara Rp 100 000

39 sampai Rp 150 000. Bagi penambang pasir sampingan, pekerjaan ini dilakukan karena untuk mengisi waktu luang mereka daripada menganggur.

- Adapun bagi penambang emas baik pekerja utama maupun sampingan merekapun mengandalkan pekerjaan tersebut, karena pekerjaan menambang yang hasilnya menjanjikan. Harga jual emas/gram yang diketahui dari penambang pada saat itu berkisar antara Rp 400 000 hingga Rp 500 000.

Adapun masyarakat penambang pasir merupakan masyarakat yang tingkat ekonominya menengah kebawah, sedangkan penambang emas merupakan masyarakat yang tingkat ekonominya menengah keatas. Hal ini cukup menggambarkan bahwa kegiatan pertambangan emas dan pasir sangat jauh berbeda, dilihat dari modal yang berbeda. Pemaparan diatas dapat disimpulkan bahwa kegiatan pertambangan sangat menguntungkan bagi penambang.

2. Dampak Negatif

Dampak negatif yang ditimbulkan dari kegiatan pertambangan dilihat dari aspek sosial dan ekonomi terhadap masyarakat baik penambang maupun masyarakat non penambang yaitu:

- Dampak negatif bagi masyarakat penambang yaitu adanya kecelakaan yang menimpa penambang. Hal ini ditandai adanya beberapa pekerja yang meninggal dikarenakan tertimbun oleh tanah (khusus penambang emas). Karena pekerjaan menambang merupakan pekerjaan berat yang dalam bekerjanya harus menggali tanah dengan kedalaman tertentu.

- Kegiatan pertambangan marak pada tahun 1997-an, yang dilakukan dengan merusak lahan perkebunan kelapa sawit. Hal ini menimbulkan konflik bagi masyarakat non penambang, dengan melakukan aksi demo terhadap para penambang. Namun, cara ini tidak membuat jera para penambang malah kegiatan pertambangan semakin tersebar di berbagai desa di Kecamatan Pelepat Ilir. Hal ini dikarenakan faktor kebutuhan ekonomi, dan hasil pertambang yang menjanjikan penambangnya.

- Hilangnya sebagian lahan perkebunan kelapa sawit yang dikonversi menjadi lahan pertambangan menyebabkan penurunan pendapatan petani dari produksi kelapa sawit. Konversi lahan menyebabkan terjadinya penyempitan lahan

40

perkebunan kelapa sawit. Hal ini menyebabkan terjadinya perubahan ekonomi bagi petani.

- Hilangnya atau terjadinya penyempitan lahan perkebunan kelapa sawit yang berkepanjangan akan menghilangkan pekerjaan bagi buruh petani. Hal ini berdampak tidak baik bagi buruh-buruh tersebut.

- Terganggunya perjalanan petani/pengguna jalan akibat rusaknya perjalanan perkebunan yang disebabkan karena adanya truk pengangkut pasir yang keluar masuk melewati jalanan perkebunan. Hal ini menyebabkan menurunnya kenyamanan petani saat mereka akan melakukan aktivitasnya di perkebunan mereka.

- Selain jalan perkebunan yang rusak, jalan desa juga mengalami perubahan yang mengakibatkan kenyamanan masyarakat pengguna jalan menurun. Hal ini ditandai amblasnya jalanan tersebut, lalu ditimbun dengan kerikil-kerikil atau batu-batuan. Adanya kerikil-kerikil atau batu-batuan tersebut menyebabkan jalanan tidak rata.

- Selain itu, kendaraan truk yang sering melewati pemukiman mengganggu ketenangan warga. Misalnya, pada siang hari saat istirahat dan berkumpul dengan keluarga, truk pengangkut pasir masih tetap beroperasi.

b. Aspek Lingkungan

Dampak yang ditimbulkan dari kegiatan pertambangan ditinjau dari aspek lingkungan terdiri atas pertambangan emas dan pertambangan pasir. Kegiatan pertambangan dilihat dari kegiatannya yang mengkonversi lahan perkebunan kelapa sawit serta terhadap lahan yang di tambang. Dampak kegiatan pertambangan emas dari aspek lingkungan yaitu:

- Terjadinya penyempitan lahan perkebunan kelapa sawit. Hal ini menggambarkan hilangnya sumberdaya alam yang dapat memberikan manfaat untuk jangka panjang.

- Rusaknya struktur tanah. Rusaknya kondisi lahan/tanah yang ditambang menyebabkan tanah tidak dapat dimanfaatkan kembali untuk kegiatan pertanian. Dahulunya lahan pertambangan merupakan lahan perkebunan. - Lahan-lahan yang telah ditambang saat ini menjadi hamparan padang pasir.

41 - Menurunnya kesuburan tanah. Kegiatan pertambangan emas yang dilakukan dengan menggali tanah mengakibatkan pasir terangkat keatas permukaan tanah. Hal ini mengakibatkan lapisan tanah menjadi tidak beraturan, sehingga tanah sudah tidak produktif lagi karena sudah tercampur atau tercemar oleh bahan kimia yang digunakan dalam kegiatan tambang.

- Penurunan kesuburan tanah tidak hanya terjadi dilokasi yang ditambang saja, akan tetapi lahan perkebunan sekitar kawasan lokasi pertambangan juga mengalami penurunan kesuburan tanah. Hal ini ditandai dengan terjadinya peningkatan jumlah pupuk yang digunakan untuk perawatan perkebunan. Informasi peningkatan jumlah penggunaan pupuk didapatkan dari wawancara terhadap pemilik lahan perkebunan kelapa sawit yang dikonversi menjadi pertambangan. Selain itu tanaman kelapa sawit yang dekat lokasi pertambangan daunnya menguning, bahkan kelapa sawit sulit berproduksi bahkan tidak dapat berproduksi lagi.

- Hilangnya aliran sungai kecil. Sungai kecil yang dulu terdapat di perkebunan dan terdapat species ikan, sekarang menjadi tidak beraturan/hilang karena tertimbun oleh pasir-pasir.

Dampak dari kegiatan pertambangan pasir merupakan dampak lanjutan (dampak positif bagi masyarakat) dari kegiatan pertambangan emas, karena penambangan pasir ini mengambil pasir dari lokasi bekas pertambangan emas yang terdapat banyak hamparan pasir. Dampak kegiatan pertambangan pasir dilihat dari aspek lingkungan yaitu sebagai berikut:

- Lahan-lahan menjadi atau semakin tidak beraturan, karena pengambilan pasir dengan cara mengeruk/mengumpulkan membekaskan lubang dimana-mana. Apalagi jika kegiatan pengambilan terus berlangsung dan tidak adanya kegiatan yang menyeimbangkan (konservasi) maka dikhawatirkan untuk jangka panjang akan menjadikan lahan tersebut sama sekali tidak dapat dimanfaatkan.

- Adanya penumpukan pasir dilokasi perkebunan kelapa sawit, dalam jangka waktu panjang akan meyebabkan kerusakan terhadap perkebunan itu sendiri. Selain itu tanah-tanah akan bercampur dengan pasir yang dapat mengakibatkan penurunan kesuburan tanah.

42

- Truk-truk pengangkut pasir yang melewati jalanan desa, mengakibatkan jalan menjadi rusak. Hal ini ditandai dengan amblasnya jalanan, sehingga untuk menimbun jalanan yang amblas dilakukan penimbunan dengan kerikil/batu-batuan.

- Selain itu, untuk mengambil pasir truk pengangkut pasir masuk ke lahan perkebunan kelapa sawit. Hal ini juga dapat merusak jalanan perkebunan yang merupakan fasilitas para petani.

Dokumen terkait