HASIL DAN PEMBAHASAN
4.2. Analisis Data
4.2.1. Persepsi Perempuan Surabaya Terhadap Orang yang Memakai Busana Muslim Memakai Busana Muslim
Berdasarkan hasil observasi, peneliti menemukan bahwa pada dasarnya persepsi masyarakat mengenai busana muslim dapat diketahui melalui pertanyaan – pertanyaan berikut ini :
1. Bagaimana persepsi anda terhadap busana muslim ?
2. Apakah ada wanita muslim disekitar anda yang menggunakan busana muslim, dan apakah menurut anda busana muslim yang mereka kenakan sudah sesuai dengan ajaran Islam ?
3. Bagaimana persepsi anda terhadap fenomena pemakaian kerudung dengan busana yang ketat, yang banyak terjadi disekitar anda ?
4. Bagaimana persepsi anda terhadap fenomena pemakaian kerudung dikalangan selebritits ?
Masing – masing informan memiliki latar belakang pengalaman yang berbeda antara satu dengan yang lain. Adapun latar belakang pengalaman tersebut pada dasarnya menyebabkan munculnya persepsi mengenai busana muslim yang berbeda – beda pula.Itu semua terjadi karena memang ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi terjadinya persepsi pada seorang individu, diantaranya adalah latar belakang pengalaman yang berbeda antara seseorang dengan orang
yang lainnya, antara budaya yang berbeda, dan juga suasana psikologis yang berbeda, sehingga menyebabkan perbedaan persepsi seseorang dalam mempersepsi objek tertentu.
Berdasarkan hasil wawancara dan observasi yang dilakukan oleh peneliti terhadap informan tersebut, menunjukkan bahwa persepsi yang diberikan oleh informan cenderung lebih banyak menilai bahwa busana muslim yang banyak digunakan wanita muslim disekeliling mereka belum sesuai dengan ajaran Islam. Karena masih sangat banyak para wanita yang menggunakan kerudung dengan busana yang ketat. Dan fenomena penggunaan kerudung juga terjadi pada beberapa selebritis, yang semasa pernikahannya menggunakan kerudung dan juga busana muslim yang tertutup, tetapi ketika bercerai mereka melepas kerudungnya dan mengganti busana muslimnya dengan busana yang terbuka. Hal ini terjadi karena para perempuan diSurabaya menganggap fenomena pemakaian kerudung dengan busana yang tidak cocok digunakan oleh seseorang yang berkerudung, dan mengakibatkan mereka terlihat tidak sepenuh hati dalam menjalankan kewajiban memakai kerudung dan busana muslim yang tertutup.
Dari semua keterangan tersebut, dapat diketahui bahwa di Surabaya mayoritas penduduknya adalah beragama muslim. Oleh sebab itu, cukup banyak wanita muslim di kota Surabaya ini yang menggunakan busana muslim dalam kehidupan sehari – harinya. Karena banyak wanita muslim yang menggunakan busana muslim,
maka busana muslim dipersepsikan sebagai hal yang positiF. Berikut adalah hasil wawancara peneliti dengan Informan 1 dalam memberi tanggapan untuk keempat pertanyaan yang diajukan oleh peneliti :
Informan 1
Pertanyaan 1 : Bagaimana persepsi informan 1 terhadap busana muslim ?
Jawaban : “ Busana muslim itu ya merupakan busana yang yang tertutup dan longgar. Seharusnya, busana muslim itu wajib dipakai sama perempuan muslim buat menutupi aurat dari orang lain, apalagi laki – laki yang bukan mukrim.
Analisis :
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan 1, peneliti mendapatkan informasi bahwa busana muslim adalah busana yang seharusnya wajib digunakan wanita muslim, berupa busana yang loggar dan tertutup sehingga dapat menutupi lekuk tubuh orang yang memakainya.
Pertanyaan 2 : Apakah ada wanita muslim di sekitar informan yang menggunakan busana muslim, dan apakah cara berbusana muslimnya sudah sesuai dengan ajaran Islam ?
Jawaban : “ Teman – Teman saya hampir semua pakai busana muslim. Kalau menurut ibu, mereka pakai busana muslim sudah sesuai kok, kan kami sesama Uztadzah harus bisa memberi contoh sama perempuan yang lain agar yang sudah pakai busana muslim bisa jadi lebih baik,
dan yang belum pakai, mudah – mudahan bisa menyusul untuk pakai juga “.
Analisis :
Informan 1 juga menyatakan bahwa banyak wanita disekitarnya yang menggunakan busana muslim, dan menurut pendapatnya cara penggunaan busana muslim mereka sudah sesuai dengan kaidah Islam
Pertanyaan 3 : Bagaimana persepsi informan 1 terhadap fenomena pemakaian kerudung dengan busana yang ketat, yang sering terjadi di sekitar informan ?
Jawaban : “ Nah kalau masalah orang – orang yang pakai kerudung tapi bajunya ketat itu ya sebenarnya salah, karena kerudung harusnya dipasangkan sama busana muslim yang tertutup, kalau bajunya ketat berarti bentuk badannya kelihatan, harusnya itu enggak boleh, tapi kan semuanya tergantung sama individunya sendiri – sendiri“
Analisis :
Sedangkan untuk pertanyaan ke 3 , informan 1 menyatakan bahwa cara berkerudung dengan busana yang ketat memang tidak benar.
Pertanyaan 4 : Bagaimana persepsi informan 1 terhadap fenomena pemakaian kerudung di kalangan selebritis yang setelah bercerai melepas kerudungnya dan mengganti busana muslimnya dengan busana yang terbuka ?
Jawaban : “ Ini sama aja sama pertanyaan tadi mbak, kalau artis – artis pada lepas kerudung setelah cerai, mungkin dulu pakai kerudung bukan karena keinginan sendiri. Tapi semua itu kembali lagi sama individunya sendiri sendiri. Dulu juga ibu belum pakai kerudung, tapi karena sering belajar agama, lama – lama tau kalau menutup aurat itu wajib, akhirnya sekarang pakai kerudung dan busana muslim “..
Analisis :
Sedangkan untuk pertanyaan ke 4 , informan 1 menyatakan bahwa cara berkerudung dengan busana yang ketat memang tidak benar.dan itu sama saja dengan penggunaan kerudung di kalangan artis yang pada waktu bercerai melepas kerudungnya dan mengganti busana muslimya dengan busana yang terbuka. Menurut informan 1, itu hal yang tidak pantas, tetapi informan 1 juga menyatakan bahwa semua itu tergantung pada individu masing – masing.
Dalam proses wawancara ini, informan tersebut memberi jawaban sambil sesekali tersenyum ramah.
( I(nterview : Rabu, 19 Mei 2010, pukul 09.30 WIB ).
Informan 2
Pertanyaan 1 : Bagaimana persepsi informan 2 terhadap busana muslim ?
Jawaban : “ Menurutku busana muslim itu ya busana yang wajib dipakai sama wanita yang beragama Islam.
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan 2, peneliti mendapat informasi bahwa informan tersebut mempersepsikan busana muslim hanya sekedar sebagai kewajiban yang harus dijalankan oleh wanita muslim.
Pertanyaan 2 : Apakah ada wanita muslim disekitar informan yang berbusana muslim, dan apakah cara berbusana muslimnya sudah sesuai dengan ajaran Islam ?
Jawaban : “Wah kalau teman – teman dan keluargaku juga beberapa pakai busana muslim kok. Aku enggak bisa menilai mereka pakai busana muslimya sudah benar apa belum “
Analisis :
Informan 2 juga menyatakan bahwa cukup banyak wanita muslim yang ada disekitar informan 2 yang menggunakan busana muslim, tetapi dia tidak berani menyatakan apakah pemakaian busana muslim wanita – wanita tersebut, sudah sesuai atau belum dengan ajaran Islam.
Pertanyaan 3 : Bagaimana persepsi informan 2 terhadap fenomena pemakaian kerudung dengan busana yang ketat, yang banyak terjadi di sekitar informan ?
Jawaban : “Pakai kerudung tapi bajunya ketat memang harusnya enggak boleh. Kalau aku, pakai kerudung gini, emang masih belum pakai busana muslim yang benar – benar longgar gitu, tapi baju yang aku pakai juga engak ketat banget kok,. Lagian kalau buat anak muda
kayak aku terus anak – anak cewe seumuranku, pasti masih pengen ngikutin model baju terbaru, . Kan pakai kerudung bukan alasan buat jadi enggak modis ? Yang penting juga masih menutup seluruh tangan sama kaki “.
Analisis :
Untuk pertanyaan ke 3, informan 2 menyatakan bahwa penggunaan kerudung dengan busana ketat, memang sebenarnya tidak diperbolehkan dan terlihat tidak pantas, karena informan 2 berpersepsi bahwa semua wanita masih bisa tampil modis walaupun dengan berkerudung, tetapi untuk dapat tampil modis, tidak harus dengan busana yang ketat.
Pertanyaan 4 : Bagaimana persepsi informan 2 terhadap fenomena pemakaian kerudung dikalangan selebritis yang setelah bercerai melepas kerudungnya dan mengganti busana muslimnya dengan busana yang terbuka ?
Jawaban : “Ya memang seharusnya enggak boleh, keliatannya enggak pantas dilihat orang kalau awalnya pas masih sama suaminya pakai kerudung, pakai busana muslimnya rapat, terus tiba – tiba pas cerai udah enggak pakai kerudung lagi dan enggak tanggung – tanggung, busana muslimnya yang rapat tadi udah diganti sama baju – baju sexy “.
Analisis :
Sedangkan untuk pertanyaan ke 4, informan 2 menyatakan bahwa fenomena penggunaan kerudung di kalangan selebritis juga sebenarnya tidak benar, karena dapat menimbulkan penilaian negatif
dari orang lain, yang menganggap mereka tidak sepenuh hati dan hanya setengah – setengah dalam menggunakan kerudung dan busana muslim. Dalam proses wawancara ini, informan tersebut memberi jawaban dengan sanatai.
( Interview : Jumat, 21 Mei 2010, pukul 13.00 WIB ).
Informan 3
Pertanyaan 1 : Bagaimana persepsi informan 3 terhadap busana muslim ?
Jawaban : “ Kalau menurut aku, busana muslim biasanya dipakai sama perempuan muslim yang ibadahnya lebih taat daripada perempuan muslim yang enggak pakai busana muslim, jadi mereka benar – benar siap pakai kerudung dan baju tertutup ”.
Analisis :
Berdasarkan hasil wawancara dengan informan 3, peneliti mendapat informasi bahwa busana muslim adalah busana yang biasa digunakan oleh perempuan muslim yang lebih taat beribadah daripada perempuan muslim yang tidak menggunakan busana muslim
Pertanyaan 2 : Apakah ada wanita muslim disekitar informan 3 yang menggunakan busana muslim, dan apakah cara berbusana muslimnya sudah sesuai dengan ajaran Islam ?
Jawaban : “Yang pakai busana muslim banyak mbak, dikampus juga teman – temanku banyak yang pakai kerudung sama kemeja atau kaos lengan anjang sama rok panjang, tapi ada juga yang pake
kerudung tapi enggak pakai rok panjang, tapi pakai celana jins. Tapi aku kan orang Kristen, jadi aku enggak tau itu udah benar belum, tapi kalo sudah pakai kerudung, baju lengan panjang, sama rok panjang juga udah enggak keliatan bentuk badannya kok, jadi mungkin sudah bener“. Analisis :
Pada pertanyaan 2, informan 3 menyatakan bahwa beberapa wanita muslim disekitarnya menggunakan kerudung tetapi tidak berupa busana muslim yang benar – benar longgar, tetapi berupa busana umum yang tidak ketat, sehingga tetap dapat menutup lekuk tubuh.
Pertnyaan 3 : Bagaimana persepsi informan 3 terhadap fenomena pemakaian kerudung dengan busana yang ketat ?
Jawaban : “Emang banyak sih perepmuan – perempuan yang pakai kerudung tapi bajunya enggak pakai busana muslim yang tertutup gitu. Memang keliatannya aneh, pakai kerudung tapi bentuk badannya masih keliatan jelas gitu. Kadang aku mikir, kalau mereka masih pengen pakai baju gitu, ngapain pakai kerudung, mestinya enggak usah pakai kerudung sekalian kan ?”.
Analisis :
Sedangkan pada pertanyaan ke3, informan 3 menyatakan bahwa memang cara orang yang berkerudung dengan busana yang ketat itu tidak benar, dan informan juga menyatakan bahwa apabila para wanita tersebut masih belum siap untuk menggunakan busana muslim yang tertutup, maka sebaiknya tidak perlu menggunakan kerudung terlebih dahulu
Pertanyaan 4 : Bagaimana persepsi informan 3 terhadap fenomena pemakaian kerudung dikalangan selebritis, yang setelah bercerai melepas kerudungnya, dan mengganti busana muslimnya dengan busana yang terbuka ?
Jawaban : “O. iya aku tau kejadian kayak gitu, pasti semacam Okkie Agustina gitu ya ? Kalau pakai kerudungnya Cuma waktu masih nikah, berarti pakainya terpaksa. Terus setelah cerai, kerudungnya langsung dilepas, udah gitu bajunya langsung terbuka semua. Aneh kalau ada orang kayak gitu, pasti orang lain nganggapnya negatif “. Analisis :
Untuk pertanyaan 4, informan menyatakan bahwa fenomena berkerudung dari para selebritis yang melepas kerudungnya dan mengganti busana muslimnya dengan busana yang teruka setelah cerai memang keliru, dan dapat menimbulkan persepsi yang negatif dari oranglain yang melihatnya.
Pada kesempatan wawancara ini, informan tersebut memberi jawaban sambil sesekali bertanya pada beberapa teman – temannya yang berada di sampingnya. Dalam proses wawancara ini, mereka juga memberi jawaban yang serius, walaupun terkadang mereka
mengeluarkan kata – kata dengan nada bercanda.
( Interview : Minggu, 23 Mei 2010, pukul 10.00 WIB )
Dari hasil wawancara diatas, peneliti sudah mendapatkan beberapa informasi yang berbeda anatar satu dengan yang lain. Pada
dasarnya, para informan mempersepsikan busana muslim sebagai busana yang wajib dikenakan oleh para wanita muslim Dan ketika peneliti mulai memberi pertanyaan selanjutnya, yaitu tentang pendapat mereka tentang pemakaian busana muslim dari orang – orang yang ada disekitar mereka, informan – informan tersebut juga mempunyai jawaban yang berbeda karena dalam kehidupan sehari – hari mereka mempunyai pengalaman masing – masing yang tentunya tidak sama. Penilaian informan tentang sudah sesuaikah cara pemakaian busana muslim oleh orang – orang yang ada disekitar mereka juga rata – rata cukup positif. Informan 1 menanggapi bahwa cara berbusana muslim orang – orang disekitarnya sudah benar, informan 2 belum berani manyatakan apakah cara berbusana muslim orang – orang disekitarnya sudah benar atau belum, sedangkan informan 3 masih ragu – ragu dalam menyatakan benar atau salah, karena informan tersebut bukan seorang muslim.
Proses persepsi ini diawali dengan perhatian dan seleksi terhadap informasi yang ada, kemudian informasi yang telah terseleksi tersebut diorganisir, setelah itu, kemudian dimulailah tahap interpretasi, yaitu individu mulai mencoba memahami makna informasi tersebut. Ketika individu membutuhkan informasi tersebut, maka dilakukan tahap pencarian kembali, seperti pendapat Schermerhorn, dkk ( 1994 : 153 – 155 ), yaitu para informan yang memberikan perhatian kepada busana muslim lebih dulu, kemudian mulai pada proses seleksi, dan
diorganisir, dan setelah itu busana muslim tersebut dan diinterpretasikan untuk dicari maknanya.
Persepsi para informan tersebut mengenai sudah sesuaikah pemakaian busana muslim oleh orang – orang disekitar mereka kemudian berdampak juga pada persepsi para informan terhadap fenomena pemakaian kerudung dengan busana yang ketat yang pasti banyak terjadi di lingkungan mereka.
Dari hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti, dapat disimpulkan bahwa sebenarnya persepsi para informan terhadap cara pemakaian kerudung dengan busana yang ketat adalah sama. Mereka menyadari bahwa cara itu adalah salah, tetapi mereka juga mempunyai alasan yang berbeda – beda dalam mendasari persepsi mereka.
Perbedaan jawaban tersebut, diketahui dari jawaban informan 1 yang tidak membenarkan cara berkerudung dengan busana yang ketat, tetapi informan tersebut juga menyatakan bahwa semuanya tergantung pada individu – individu yang menjalaninya sendiri. Sedangkan informan 2, juga sebenarnya mengetahui bahwa penggunaan kerudung dengan busana ketat adalah tidak benar, tetapi informan tersebut juga menyatakan alasannya bahwa informan tersebut tidak menggunakan busana muslim yang benar – benar tertutup dan longgar, karena ingin tetap terlihat modis walaupun berkerudung, tetapi busana yang dikenakan informan 2 tersebut bukan busana yang ketat,
jadi informan tersebut menggunakan busana yang masih wajar dan masih dapat menutup lekuk tubuhnya.. Berbeda dengan jawaban informan 1 dan 2, informan 3 menyatakan persepsinya bahwa apabila para wanita yang menggunakan kerudung dengan busana yang ketat memang belum siap untuk menggunakan busana muslim yang tertutup dan longgar, sebaiknya mereka tidak menggunakan kerudung terlebih dahulu.
Perbedaan jawaban yang diberikan oleh para informan diakibatkan oleh perbedaan pengalaman yang pernah dialami oleh para informan. Secara garis besarnya, para informan menyatakan bahwa pemakaian kerudung dengan busana yang ketat adalah tidak benar, karena memang seharusnya kerudung harus dipadukan dengan busana yang longgar dan tertutup.
Berdasarkan hasil wawancara yang telah dilakukan oleh peneliti yang pada akhirnya mendapatkan jawaban bahwa persepsi perempuan Surabaya terhadap orang yang memakai busana muslim adalah sangat baik, karena bila seorang wanita menggunakan busana muslim, itu berarti wanita tersebut telah menjalankan kewajiban untuk menutup aurat sesuai dengan kaidah Islam. Tetapi persepsi msyarakat cenderung negatif terhadap fenomena pemakaian kerudung dengan busana yang ketat, karena menurut pandangan mereka kerudung harus dipadukan dengan busana muslim yang tertutup dan longgar. Beragamnya persepsi pada setiap individu ini bisa saja terjadi seperti
pendapat Ujang ( 2000 : 112 ), bahwa : persepsi adalah bagaimana cara kita memandang dunia sekitar kita. Karena cara atau proses tersebut berbeda untuk tiap individu sesuai keinginan, nilai – nilai, serta harapan masing – masing individu, maka persepsi mengenai suatu hal tersebut tentunya berbeda untuk setiap individu. Selanjunya, masing – masing individu akan cenderung bertindak dan beraksi berdasarkan persepsinya masing – masing.
Secara harafiah busana muslim dapat diartikan sebagai busana yang longgar atau besar, sehingga dapat menutupi lekuk tubuh orang yang memakainya. Dan busana muslim identik dengan jilbab, yang secara harafiah juga dapat diartikan sebagai alat yang dapat digunakan untuk menutupi kepala dan anggota tubuh, karena kitab Al – Qamus menyatakan bahwa : jilbab adalah pakaian luar yang lebar, sekaligus kerudung yang biasa dipakai kaum wanita untuk menutupi pakaian ( dalam ) mereka.
Terkadang, para wanita yang sudah menggunakan busana muslim dan juga menutup kepalanya dengan kerudung merasa sudah cukup aman, karena merasa sudah dapat menutup auratnya dari kaum laki – laki yang ada disekitarnya. Tetapi apabila penggunaan pakaian longgar dan kerudung tersebut masih belum atau tidak memenuhi syarat – syarat yang sesuai dengan kaidah Islam, maka tetap saja masih akan menimbulkan fitnah. Adapun syarat – syarat yang harus dipenuhi, diantaranya adalah :
1. Tebal
Artinya bahan pakaian wanita muslimah tidak boleh sedemikian tipis sehingga tak menyembunyikan warna kulit yang ditutupinya.
2. Tidak
Mencolok dan Menarik Perhatian
3. Seperti yang
telah disebutkan sebelumnya, wanita muslimah dilarang ber – tabarruj ala jahiliyah. Didalamnya termasuk pula larangan untuk mengenakan pakaian yang mencolok atau menarik perhatian dengan tujuan memamerkan diri.
4. Tidak
Menyerupai Pakaian Laki – Laki
1. Rasulullah
melaknat laki – lakiyang bertingkah laku seperti wanita dan wanita yang bertingkah laku seperti laki – laki.
2. Diriwayatka
n oleh Abu Hurairah bahwa Rasulullah mengutuk laki – laki yang memakai pakaian wanita dan wanita yang memakai pakaian laki – laki.
3. Tidak
1. Allah Swt. Berfirman :
Hai orang – orang beriman, janganlah kamu menjadikan orang – orang Yahudi dan Nasrani sebagai pemimpin ( panutan, teladan ). Sedangkan mereka adalah pemimpin bagi sebagian yang lain. Barang siapa diantara kamu menjadikan mereka sebagai pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tak memberi petunjuk kepada orang – orang yang zalim. ( QS. Al – Ma’idah ( 5 ) : 51 ).
2. Rasulullah,
sebagaimana diriwayatkan oleh Ibnu Umar, bersabda :
” Barang siapa meniru atau menyerupakan cara hidup suatu kaum, maka sesungguhnya ia termasuk golongan mereka”.
3. Pada hadis
lain, yang juga diriwayatkan oleh Ibnu Umar, Rasulullah bersabda : “Siapa yang meniru cara hidup orang musyrik, hingga matinya, maka ia akan dibangkitkan pada Hari Akhir bersama – sama mereka “.
( Shahab, 2009 : 89 – 94 ).
Dari penjelasan di atas, dapat diketahui bahwa para wanita yang menggunakan busana muslim dan berkerudung dalam kehidupan sehari – hari tidak perlu merasa terkekang, karena dengan memakai busana muslim dan kerudung, tidak berarti wanita dilarang dan dibatasi aktivitasnya. Bahkan, Islam mewajibkan setiap muslim, baik laki – laki maupun wanita, untuk menuntut ilmu, dan tidak hanya berpangku
tangan serta memencilkan diri di pojok – pojok rumah. ( Shahab, 2009 : 20 ).
Pada umumnya memang banyak wanita mslim, khususnya di kota Surabaya yang menggunakan busana muslim dan kerudung. Sebagai wanita muslim, mereka diwajibkan untuk menutupi aurat agar tidak terlihat oleh orang lain, khususnya kaum laki –laki. Penjelasan ini sama dengan yang diungkapkan Shahab ( 2009 : 27 ) dalam bukunya “ Jilbab, Menurut Al – Quran dan As – Sunnah “, bahwa : Menurut Islam, laki – laki hanya diizinkan mencari kelezatan dan kepuasan memandang dalam batas – batas keluarga dan pernikahan, dan dilarang keras mendapatkannya di luar wilayah itu. Tujuan pembatasan ini adalah terciptanya keluarga yang sehat, harmonis, dan saling mempercayai, sebagai sendi terwujudnya masyarakat yang sehat, damai, berwibawa, dan menjunjung tinggi harkat wanita.
Namun, di zaman modern seperti sekarang, amat sangat sulit untuk melakukan segala hal sesuai dengan kaidah – kaidah yang ada, karena sekarang banyak orang – orang yang lebih tertarik pada budaya barat yang terkesan lebih bebas dan mungkin juga lebih mudah atau tidak banyak peraturan seperti budaya timur, khususnya di Negara Indonesia.Maka dari itu, banyak orang – orang Indonesia, dan tidak terkecuali masyarakat Surabaya, yang masih temasuk kota metropolitan, yang mengikuti model busana dari luar negeri yang cenderung lebih terbuka.
Memang nampaknya persoalan model busana bukanlah suatu persoalan yang penting, tetapi apapun model busana yang dikenakan
oleh seseorang, pasti akan mempengaruhi kepribadian orang yang memakainya, dan juga karena busana yang dikenakan dapat menyampaikan sebuah makna. Dan juga karena busana termasuk dalam unsur komunikasi non verbal, seperti pendapat Larry A. Samovar dan Richard E. Porter yaitu : komunikasi non verbal mencakup semua rangsangan, ( kecuali yang sangat verbal ) dalam suatu setting komunikasi, yang dihasilkan oleh individu dan penggunaan lingkungan oleh individu, yang mempunyai nilai pesan potensial bagi pengirim atau penerima, jadi definisi ini mencakup perilaku yang disengaja, juga yang tidak disengaja sebagai bagian dari peristiwa komunikasi secara keseluruhan, dan kita mengirim banyak pesan non verbal tanpa menyadari bahwa pesan – pesan tersebut bermakna bagi orang lain. ( Mulyana, 2001 : 308 ).
Busana juga merupakan bagian yang tidak akan dapat
dipisahkan dari kehidupan manusia, karena busana juga dapat diartikan sebagai segala sesuatu yang dipakai mulai dari kepala sampai ujung kaki yang memberi kenyamanan dan menampilkan keindahan bagi orang yang memakainya. Secara garis besar, busana tediri dari beberapa bagian, diantaranya adalah :
1. Busana mutlak yaitu busana yang tergolong busana pokok seperti baju, rok, kebaya, blus, bebe dan lain-lain, termasuk pakaian dalam seperti singlet, bra, celana dalam dan lain sebagainya.
2. Milineris yaitu pelengkap busana yang sifatnya melengkapi busana mutlak, serta mempunyai nilai guna disamping juga untuk keindahan seperti sepatu, tas, topi, kaus kaki, kaca mata, selendang, scraf, shawl,