BAB V PENUTUP
B. SARAN-SARAN
Berdasakarna hasil penelitian yang penulis lakukan mengenai Persepsi Perempuan Terhadap Poligami. Penulis ingin memberikan beberapa saran sebagi berikut:
1. Kepada seorang suami, jika tidak mampu berlaku adil dalam segala aspek lebih baik tidak memperaktikan poligami. Karna tidak hanya merguikan suami dan istri, tetapi keadaan anak sangat mampu terpengaruhi oleh keadaan keluarganya.
2. Kepada perempuan yang merasakan poligami, jika tidak kuat untuk menanggung keadaan yang menyulitkan atau bahkan sampai main tangan, tidak perlu takut melapor kepada pihak yang berwajib.
3. Kepada suami istri yang sudah mampu berdamai dengan situasi untuk menerima poligami, pertahankan dengan sebaik mungkin karena percerain juga memiliki beberapa dampak kedepannya.
4. Alangkah baiknya dalam rumah tangga, untuk saling berbagi kasih, menghargai setiap pendapat dan keputusan satu sama lain dan saling menjaga amanah dimanapun berada.
5. Kepada sang suami, jika tidak berani memenuhi syarat poligami, maka lebih baik mencegah dari pada mengobati. Jika sudah bisa berbahagia bersama satu istri, Mengapa harus dua?
6. Saran kepada Kementerian Agama menyarankan kepada suami untuk memprogram fiqih munakahat, praktis, agar pembelajaran dan hak suami sitri bisa mempertaruhkan tanggung jawabnya.
155
DAFTAR PUSTAKA
Sumber Buku
Aasiingkily, Shalleh Muhammad Pendekatan Dalam Pengkajian Islam.Yogyakrta: K-Media.
Candra Mardi, dan Suadi Amran. Politik Hukum Perspektif Hukum Perdata dan Pidana Islam Serta Ekonomi Syariah. Kencana : 2016.
Danim, Sudarwan. Riset Keperawatan. Jakarta: Egc, 2003.
Djaali, dan Pudji Muljono. Pengkuran dalam Bidang Pendidikan. Grasindo.
Doi I Abdurahman. Perkawinan dalam Syari‟at Islam. Jakarta : Rineka Cipta,1992.
Fadhallah. Wawancara. Jakarta Timur: UNJ Press, 2020.
H.Turner Lynn, dan West Richard. Pengantar Teori Komunikasi Analisis dan Aplikasi. Jakarta:Salemba Humanika. 2008.
Hurdin, Ali. Teori komunikasi Interpersonal. Jakarta : Kencana,2020.
I Made Laut Mertha Jaya, Metode Penelitian Kuantitatif dan kualitatif.
Yogyakarta: Anak Hebat Indonesia, 2020.
Joyo, Rupian. Komunikasi Interpersonal Pembimbingan Kemasyarakatan.
Yogyakarta : Ide Publishing , 2022.
Joyo, Rupian. Komunikasi Interpersonal Pembimbingan Kemasyarakatan.
Yogyakarta : Ide Publishing , 2022.
Konopaske, John M.Ivancevich., eds., Memahami dan Mengelola Perilaku Individu. Erlangga: 2006.
Kriyantono, Rachmat. Pengantar Ilmu Komunikasi. Prenademedia Group : 2019.
Luthfiyah, dan Muh. Fitrah. Metodologi Penelitian : Penelitian Kualitatif.
Jawa Barat: CV Jejak, 2017.
Mila Sari, Tri Siswati., eds., Metodologi Penelitian. Padang: Global Eksekutif Teknologi, 2022.
Mukhtazar. Prosedur Penelitian Pendidikan. Yogyakarta: Absolute Media, 2020.
Mutakabbir,Abdul. Reinterprestasi Poligami. Yogyakarta : Deepublish, 2012.
Nasohah,Zaini. Poligami Hak Keistimewahan Menurut Syariat Islam. Kuala Lampur : Cergas. 2000.
Nofrion. Komunikasi Pendidikan. Jakarta :Kencana, 2016.
Nofrion. Komunikasi Pendidikan. Jakarta :Kencana, 2016.
Ong, Edianto. Technical Analysis for Mega Profit. Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama: 2008.
Rachmat, dan Kriyantono, Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta Kencana : 2012.
Richard, West. Pengantar Teori Komunikasi dan Aplikasi,. Jakarta: Salemba Humanika 2009.
Rukajat, Ajat. Pendekatan Penelitian Kualitatif. Yogyakarta : Deepublish,2018.
Rukajat,Ajat. Pendekatan Penelitian Kualitatif .Yogyakarta:
Deepublish,2018.
Rukin. Metode Penelitian Kualitatif .Sulewesi: Yayasan Ahmar Cendekia Indoensia,2019.
Sarwat, Ahmad. Pernikahan. Jakarta: Penerbit Gramedia,2019.
157
Semiawan,dan Conny R. Metode Penelitian Kualitatif Jenis, Karakteristik dan Keunggulannya. Indonesia: Penerbit garasindo
Setiawan Johan, dan Albi Anggito. Metodologi Peneletian Kualitatif. Jawab Barat : Cv Jejak, 2018.
Setya Anisa, dan Mettasatsya Ascharisa. Komunikasi Interpersonal. Jawa Tengah: Pustaka Rumah Cinta, 2020.
Setya Anisa, dan Mettasatsya Ascharisa. Komunikasi Interpersonal. Jawa Tengah: Pustaka Rumah Cinta, 2020.
Soeroso, Andreas. Sosiologi1. Yudistira, 2008.
Sugiyono. Metode Penelitian Manajemen. Bandung : Alfabeta, 2014.
Sukidin, dan Busrowi., eds., Metode Penelitian Kualitatif Perspektif Mikro.
Surabaya: Insan Cendekiana,2002.
Suprapto,Bibit. Liku-Liku Poligami. Yogyakarta : Al Kautsari, 1990.
Syarifuddin,Amir. Garis-Garis Besar Ushul Fiqih. Jakarta : Kencana, 2012.
Tihami. Fikih Munakahat. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,2010.
Wijaya Hengki, dan Umarati. Analisis Data Kualitatif Teori Konsep dalam Penelitian. Makasar: Sekolah Tinggi Theologia Jaffray, 2020.
Winardi, Irwan. Monogami VS Poligami. Bandung: Maret,2004.
Wirawan. Teori-teori Sosial dalam Tiga Paradigma. Prenadamedia Group : 2012.
Wiryanto. Pengantar Ilmu Komunikasi.Grasindo, 2004.
Sumber Jurnal
Afdillah Aji, dan M. Syuib, “Persepi Mayarakat terhadap Izin Poligami Berdasarkan Pasal 3 Undang-undang Nomor 1 Tahun 1974,” Jurnal Hukum Keluarga 2/1, (2019).
Ahmadi, Wiratni “Hak dan Kewajiban Perempuan Dalam Keluarga Menurut Undang-undang No.1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan”,Jurnal Hukum Pro Justitia 26/4, (2008).
Andjarwati Tri, “Motivasi dari Sudut Pandang Teori Hirarki Kebutuhan Maslow, Teori Dua Faktor Herzberg, Teori X Y MC Gregor, dan Teori Motivasi Prestasi Mc Clelland” Jurnal Ilmu Ekonomi &
Manajemen, 1/ 1 (2015).
https://core.ac.uk/download/pdf/295287894.pdf
Anita, Auloa Avisena “Perbandingan Pengaturan Asas Monogami Antara Negara Civil Law (Indonesia) Dan Common Law (Malaysia), 1/2 (2018).http://riset.unisma.ac.id/index.php/yur/article/view/981/pdf_1 .
Auladuna. ”Analisis Hirarki Kebutuhan Malsow Dalam Pembeljaran Daring Anak Usia Dasar. “Pendidikan Dasar Islam I8/1,(2021).
Budihardjo, dan Rohmah, “Praktik Pernikahan Poligami dalam Padangan Hukum Islam Dan Hukum Negara,” Studi Islam 22/2, (2021).
Cahyani Intan,Andi “Poligami dalam Perpesktif Hukum Islam, “Al-Qadao, 5/ 2(2018).
Cahyani, Andi Intan. “Poligami dalam Perspektif Hukum Islam,”Jurnal Al-Qadau 5/2, (2018).
Cahyani, Intan Andi “Poligami dalam Perspektif Hukum Islam,”Jurnal Al-Qadau 5/ 3, (2018).
D romli, “Persepsi Perempuan Tentang Poligami,” Jurnal radennintan 13/1, (2016)
Dedi Ismiranto. “Asas Monogami dalam Islam Sistem Hukum Perkawinan
diIndonesia dan Tunisia”.
159
http://riset.unisma.ac.id/index.php/negkea/article/view/4477/4040.
8, No. 1. (2019).
Doni, Firma “Poligami dalam Pandangan Quraish Shihab dan Sayyid Qutb”.
Istinarah 3/2, (2021).
Dwi Astuti, dan Anisaningtyas Galuhpritta dan Yulianti, “Pernikahan Di Kalangan Mahasiswa S-1,” Proyeksi Juournal 6/6, (2011).
Efendy,Noor “Problematika Mentoring Poligami Berbayar Di Era Modern”, (Al Risalah 18/2 (2022).
Fahimah,Iim. ”Poligami dalam Perspektif Ushul Al-Fiqh”, Mizani 4/ 2, (2017).
Fahlia,Wiwit Syahfitri, “Dampak Poligami Terhadap Kesejahteraan Rumah Tangga,” Nusantara Journal of Economics 03/01,(2021).
Fatimah,Siti “Menurunkan Prokrastinasi Akademik Melalui Penerapan Teori Hierarki Kebutuhan Maslow”, Quanta, 2/1, (2018). http://www.e-journal.stkipsiliwangi.ac.id/index.php/quanta/article/view/713/527,h.
36.
Hasan Bin Jali.“Faktor dan Hikmah Poligami Rasulullah S.a.w,” Thiqah Jurnal (2018).
Hasan Faradilla, dan Gunawan Edi dan, “Divorce Lawsuit Due to Polygamy in the Manado Religius Court,” Al-Mizan 113/2, (2017).
Iskandar, “Implementasi Teori Hirarki Kebutuhan Abraham Maslow Terhadap Peningkatan Kinerja Pustakawan” Khizanah Al-Hikmah .4/1. (2016). https://journal.uin-alauddin.ac.id/index.php/khizanah-al-hikmah/article/view/1067/pdf_10
Jannah,Miftahul “Rekonstruksi Nila-Nilai Pernikahan Poligami: Analisa Sensitivitas Gender,” Cendikia Ilmiah 01/ 3, (2022).
Muhaemin B, dan Abd, Mud N Muhammad, “Hermeneutika Musdah Mulia Terhadap Ayat Poligami,” Kajian Ilmu dan Budaya Islam 4/01 (2021).
Mustari Abdillh, “Poligami Dalam Reinterprestasi,”, Sipakalebbi 1/2 (2014).
Mutakabbir, Abdul. ”Menarik Hukum Poligami Dalam Al-Qur‟an,” Tafsere 6/2, (2018).
Mutakabbir,Abdul. “Menarik Hukum Poligami Dalam Al-Qur‟an, “Tafsere, 06/ 2(2018).
Ni‟ami, Fauzan Mohammad “Tafsir Kontekstual Tujuan Pernikahan Dalam Surat Ar-Rum: 21,” Uin Sunan Kalijag Yogyakarta 9/01, (2022).
Nihayatul Isti‟anah, , “Poligami Dalam Perspektif Qur‟an”, Kajian Al-Qur‟an dan Al-Hadis 2/1. (2022).
Rinwanto, Elva Imeldatur, “Praktik Poligami Nabi Muhammad Saw dan Problematika Perkawinan Menympang,” Journal of Islamic Law 2/1.
(April 2021).
Robiah Awaliyah, “Nilai-nilai Pernikahan Ideal Perspektif Hadis dalam Film Twivortiare”, Jurnal Riset Agama 2/2 (2022)/
Ropiah,Siti “Prinsip Perkawinan Menurut Hukum Islam dan Undang-undang
No.1/1974” 2/1, (2011)
https://jurnal.unismabekasi.ac.id/index.php/maslahah/article/view/12 09/1076,
Safitri, “Kontroversi Permasalahan Ekonomi Pelaku Poligami Penyebab Percerain,” Pemikiran Ekonomi Islam 2/2, (2019).
Samah,Abu. ”Izin Istri dalam Poligami Perspektif Undang-undanga No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan”, Hukum Islam 14,/1, (2014), Siti Ropiah, “Prinsip Perkawinan Menurut Hukum Islam dan
Undang-undang No.1/1974, 2/1, (2011)
161
https://jurnal.unismabekasi.ac.id/index.php/maslahah/article/view/12 09/1076.
Sukamdi Yuni, Muhajir. “Pendidikan perempuan”, Jurnal Pendidikan Geografi 4/ 2, (2017).
Syahriza,Rahmi ”Analisis Teks Hadis Tentang Poligami dan Implikasinya”, Studi Alquran dan Hadis 2/ 2, (2018).
Wijaningsih, Dyah Tyas,Wulaning Tity wahyu,” Perkawinan Poligami Menurut Hukum Islam Dan PerUndang-undangan Di Indonesia,”
Diponegoro Law Journal 8/ 4, (2018).
Wijaya, Suryani Ida “Komunikasi Interpersonal Dan Iklim Komunikasi Dalam Organisasi” Dakwah Tabligh 14/1,(Juni).
Sumber Skripsi
Fera Fingki Febrianti “Fenomena Poligami di Kecamatam Pacitan Kabupaten Pacitan”, Skripsi, IAIAN Ponorogo, 2019.
K Dasopang. “Persepsi Hakim Perempuan Dalam Hal Izin Poligami Dari Pengadilan Agama Kota Padangsidimpuan”, dalam Skripsi Sarjana, Fakultas Syari‟ah dan Ilmu Hukum, padangsidimpuan,2014.
Kamilah. Pola Komunikasi Keluarga Poligami, dalam Skripsi Sarjana Prodi Komunikasi dan Penyiaran Islam, Fakultas Ushuluddin dan Dakwah, IIQ Jakarta, 2021.
Yanggo, Huzaemah T. et.al, Pedoman Penulisan Proposal dan Skripsi Edisi Revisi Institut Ilmu Al-Qur‟an(IIQ), Jakarta, 2021.
Zulfa, Hudaya. Poligami Dalam Persepsi Dan Praktek Muslimah Jamaah Tabligh DiKecamatan Sumowono Kabupaten Semarang , dalam Skripsi Sarjana, Fakultas Syariah Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Salatuga, 2018.
Sumber Website
Depag: Perceraian Terus Meningkat Akibat Poligami,”(Data Pengadilan Agama Oleh Dirjen Bimas Islam Depag Nazaruddin Umar) dalam DetikNew, 23 Agustus 2007 https://news.detik.com/berita/d-820743/depag-perceraian-terus-meningkat-akibat-poligami
Dihni, Azkiya Vika “Penyebab Peceraian di Indonesia Menurut Data Badan Peradilan Agama (2021)” dalam Komnas Perempuan, 13 Juni 2021,
https://databoks.katadata.co.id/datapublish/2022/06/21/kasus-perceraian-di-indonesia-masih-marak-ini-penyebabnya
Maharani,Anindhita “Percerain di Indonesia Terus Meningkat”, dalam Lokal Data, 15 April 2021 https://lokadata.id/artikel/perceraian-di-indonesia-terus-meningkat
Sumber Wawancara
Data Kecamatan Sagulung Kota Batam.
Wawancara dengan Narasumber 1 (Endang Ermita). Batam, 21 Maret 2022.
Wawancara dengan Narasumber 2 (Dewi Susanti). Batam, 27 Maret 2022.
Wawancara dengan Narasumber 3 (Vivi Laura). Batam, 22 Maret 2022.
Wawancara dengan Narasumber 4 (Nuretizakarya). Batam, 25 Maret 2022 Wawancara dengan Narasumber 5 (Rahma Yeti). Batam, 11 April 2022.
Wawancara dengan Narasumber 6 (Jusmiarti). Batam, 10 Mei 2022.
LAMPIRAN-LAMPIRAN
Lampiran I
Biodata Subyek Identitas Subyek
Nama : Alamat :
Anak/Persaudara : Agama :
Pekerjaan :
Pendidikan Terakhir : Usia Pernikahan Saat Ini : Jumlah Anak :
Identitas Suami Nama :
Alamat : Suku : Pekerjaan :
Pendidikan Terakhir :
Lampiran II
Pernyataan Kesediaan Assalamualaikum Wr. Wb
Dengan ini menyatakan bahwa saya:
Nama :
Tempat, tanggal lahir :
Usia :
Alamat :
Bersedia untuk di wawancarai dan memberikan keterangan dengan sebenar-benarnya untuk keperluan pembuatan skripsi dengan judul
“Persepsi Perempuan yang Dipoligami (Studi Komunikasi Interpersonal Pada Masyarakat Kecamatan Sagulung Kota Batam)”
yang disusun oleh Megawati Oktasari sebagai Mahasiswi Institut Ilmu Al-Qur‟an (IIQ) Jakarta.
Wawancara ini berkaitan dengan aspek pribadi, sosial, komunikasi, serta aspek psikologis lainnya yang berhubungan dengan persepsi perempuan sebelum dan sesudah dipoligami. Adapun data pribadi saya dan hasil wawancara merupakan data dan informasi yang diberikan hanya untuk keperluan skripsi. Apabila ditemukan data yang masih kurang lengkap, saya bersedia untuk diwawancarai kembali. Dan apabila proses wawancara ini terdapat ancaman dari berbagi pihak, maka saya memutusukan untuk tidak meneruskan wawancara ini.
Wassalamu‟alaikum wr.wrb
Sagulung, ………. Juni 2022
Interviewee Interviewer
( ……….. ) (Megawati Oktasari)
Lampiran III
Pedoman Wawancara Narasumber : Endang Ermita
Alamat : Kav. Sagulung baru blok b No. 15 Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Wawancara : Secara langsung/ Tatap muka Hari/Tanggal : Senin, 21 Maret 2022
Pukul : 16.44 WITA
1. Pertanyaan :Siapa nama ibu dan suami ?
Jawaban : Endang Ermita (istri) / Zul Amri (suami) 2. Pertanyaan : Berapa usia?
Jawaban : 49 Th
3. Pertanyaan : Pendidikan terakhir?
Jawaban : SMA
4. Pertanyaan : Tinggal dimana?
Jawaban : Kav. Sagulung baru blok b No. 15 5. Pertanyaan : Berapa jumlah anak ibu?
Jawaban : 5 orang
6. Pertanyaan : Berapa lama umur pernikahan ibu dengan suami atau mantan suami?
Jawaban : 24 Th
7. Pertanyaan : Kapan tahunya kalau suami ibu berpoligami? Bisa diceritakan kronologi pertama kali ibu tahu kalau suami poligami?
Jawaban : Pada Thn 2002, saya pulang dari kampung, ke kampung suami. Sampai disana bertemulah istri mudanya yang sudah menggendong anak 1. Iyaaa kayakmana pertama kali itu hancur juga hati ibu, lama-lama karna memikirkan keadaan anak terima jugalah bermakna ibu sekarang berpasang2.
in tetapi setalah tahu baru dia minta izin ke ibu.
8. Pertanyaan : Bagaimana perasaan ibu dan sikap ibu...setelah tahu suami akan/sudah berpoligami?
Jawaban : Ya walaupun dalam hati itu hancur, terima ajalah karna anak sama dia itu waktu itu sudah dua, ya kayak mana lagi walaupun hati hancur terima saja. Nerima saja dengan sabar.
9. Pertanyaan : Menurut ibu apa arti keluarga/rumah tangga itu?
Jawaban : Menurut saya itu dibina tapi karan nahkoda yang sudah membelok ya terima ajalah lagi.
10. Pertanyaan : Menurut ibu apa arti kewajiban dan hak suami kepada istri?
Jawaban : Ya bertanggung jawab, kayak nafkah makan tempat tinggal minum sekolah anak tapi itu sudah mulai berkurang.
11. Pertanyaan : Menurut ibu apa arti kewajiban dan hak istri kepada suami ?
Jawaban : Ya kalau dia pulang dilayani secara baik baik.
12. Pertanyaan : Menurut ibu apa arti poligami?
Jawaban : Ya kayak gitulah, karna kita sudah merasakan ya hadapi sajalah. Ya kasih itu sudah berbagi itu poligami
13. Pertanyaan : Apa ibu menerima poligami suami? Bila iya apa alasannya? Bila menolak apa alasannya?
Jawaban : Pertamanya, tidak menerima juga akhirnya menerima juga.
14. Pertanyaan : Bila ibu menerima poligami suami ....apa yg ibu rasakan setelah menerima rumah tangg Ibu dipoligami?
Jawaban : Ya mandang anak saja. Ya itulah kira-kira Pertanyaan Tentang 5 Hierarki Dasar Kebutuhan Manusia
1. Pertanyaan : Bagaimana sikap suami sebelum dan sesudah poligami terhadap memenuhi kewajiban pokok keluarga seperti makan, minum, bayar kontrakan rumah, biaya sekolah anak dll?
Jawaban : Sebelum poligami kewajiban yang ia kasih penuh, setelah poligami sudah mulai berkurang.
2. Pertanyaan : Bagaimana sikap suami terhadap ibu sebelum dan sesudah berpoligami? (misal apa masih lembut sikapnya atau sebaliknya malah makin kasar, acuh tak acuh tidak peduli sama ibu dan anak-anak, bahkan mungkin ada kdrt (kekerasan dlm rumah tangga baik verbal atau nonverbal)?
Jawaban : Yang jelas jauh berbeda, pertama kasih sayang, cara dia ngomong, sering emosian, sering membandingkan istrinya ke kita ya kayak gitulah. Ada juga, kalau kita banyak omong seringlah makian itu keluar.
3. Pertanyaan : Bagaimana perasaan cinta dan kasih sayang suami terhadap ibu dan anak anak2 sebelum dan sesudah suami berpoligami?
Jawaban : Sebelum dipoligami kasih sayang itu masih dinyatakan lebihlah, setelah dia berpoligami kadang pulang saja sudah sering jaranglah.
4. Pertanyaan : Adakah perasaan perasaan tertentu yg ibu rasakan yg mungkin itu efek setelah poligami suami seperti misal: ibu jadi depresi,stres, sedih, takut, merasa tak dianggap, merasa tak berguna, merasa tak ada yang mau mengerti, merasa terbuang....selama suami poligami?
Jawaban : Iya merasa sedih ada, merasa ga dihargai ada. Ya itu saja 5. Pertanyaan : Bagaimana ibu menjalani hidup setelah suami
berpoligami?
Jawaban : Ya terpaksa kita terjun cari uang untuk anak mencukupi anak. Ga cukup lagi.
6. Pertanyaan : Bagaimana ibu merawat kesehatan badan dan jiwa ibu stelah tahu suami poligami demi kebahagiaan ibu dan anak anak?
Jawaban : Perbanyak sholat, senin-kamis puasa, belajar untuk mengikhlaskan, ya kayak begitu
7. Pertanyaan : Adakah suami membebaskan ibu untuk melakukan yg menjadi kesukaan ibu semenjak awal menikah dan setelah berpoligami, (seperti misal: belajar, mengaji, untuk melakukan hobi hobi ibu dll)
Jawaban : Ga pernah dilarang
8. Pertanyaan : Apa doa dan harapan ibu buat ibu, suami dan anak anak ibu kedepannya?
Jawaban : Ya harapan ibu semoga dia sukses untuk anak. Semua anak-anak ibu masukan ke agama semuanya, ya itu saja
9. Pertanyaan : Poligami yang ibu rasakan sudah sesuai dengan anjuran poligami dalam islam belum bu? Seperti adil dll?
Jawaban : Jauh berbeda, kalau poligami yang sebenarnya harus adil sedangkan itu tidak dapat sama ibu. Kewaijabn lahit bati harus terpenuhi itu sudah tidak ada.
10. Pertanyaan : Sejauh suami poligami ini, ibu masih bertahan ya bu?
Jawaban : Iya masih bertahan.
NARASUMBER 2 Narasumber : Dewi Susanti
Alamat : Kav. Sagulung baru blok b1 No. 18 Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Wawancara : Secara langsung/ Tatap muka Hari/Tanggal : Selasa, 22 Maret 2022
Pukul : 19.57 WITA
1. Pertanyaan : Siapa nama ibu dan suami ? Jawaban : Dewi Susanti (istri) / Juliadi (Suami) 2. Pertanyaan : Berapa usia?
Jawaban : 42 Thn
3. Pertanyaan : Pendidikan terakhir?
Jawaban : 9 Thn
4. Pertanyaan : Tinggal dimana?
Jawaban : SD
5. Pertanyaan : Berapa jumlah anak ibu?
Jawaban : Kavling. Sagulung baru blok b1no 18
6. Pertanyaan : Berapa lama umur pernikahan ibu dengan suami atau mantan suami?
Jawaban : 2 orang
7. Pertanyaan : Kapan tahunya kalau suami ibu berpoligami? Bisa diceritakan kronologi pertama kali ibu tahu kalau suami poligami?
Jawaban : Taunya tahun 2018, ceritanya waktu itu ada perempuan datang kebengkel, terus tante tanya “kamu siapa?”
“aku mencari si jul katanya”, “mau apa? Ngantar mobil? Engga?
Kamu ini siapa”, “saya ini istrinya katanya” jadi sayapun kaget, saya bilang saya juga istrinya. Sudah ngomong baik-baik saja, ditunjukinnya foto nikahnya aku bawa kerumah ini foto nikah kami, ini anak kami diapun kaget. Jadi sebelumnya saya ga tahu, ternyata mereka dari tahun 2017 sudah pacaran, selama berapa bulan. Mereka kenal disini, dia cari dia.
8. Pertanyaan : Bagaimana perasaan ibu dan sikap ibu...setelah tahu suami akan/sudah berpoligami?
Jawaban : ya marah, emosi, nangis campur aduklah. Ya dia bilang kayak mana khilaf pengaruh sama teman, itu alasannya. Dia juga belum punya anak sama dia disana. Dia juga tidak ada izin poligami, saya juga tahu sendiri, karan perempuan itu datang sendiri. Ya campur aduklah perasaan, marah. Respon dia kayak biasa santai saja kayak ga ada kejadian apa-apa. Dia jawab “aku salah aku khilaf aku kenak pengaruh teman”
9. Pertanyaan : Menurut ibu apa arti keluarga/rumah tangga itu?
Jawaban : iya sudah ga ada baik-baiknya lagi. Saya ga ada ngerasa seperti keluarga sakinnah, mawadah, waromah sudah ga ada lagi.
10. Pertanyaan : Menurut ibu apa arti kewajiban dan hak suami kepada istri?
Jawaban : Bertanggung jawab, menafkahi istri dan anak, mendidik dan membimbing sekarang sudah ga ada lagi. Sempat dilakukan setalah kejadian poligami ga ada sama sekali. Sudah 4 thn berubah sampe sekarang sudah ga ada lagi.
11. Pertanyaan : Menurut ibu apa arti kewajiban dan hak istri kepada suami ?
Jawaban : Melayani suami, membimbing anak-anak, baik sabar setia. Sudah dilakuin semuanya
12. Pertanyaan : Menurut ibu apa arti poligami?
Jawaban : ga lah, saya ga da ngerasa dipoligami, ada rasanya marah ga ada perasaan biasa saja yang ada rasa benci marah, marah kedua-duanya.
13. Pertanyaan : Apa ibu menerima poligami suami? Bila iya apa alasannya? Bila menolak apa alasannya?
Jawaban : Saya ga menerima, karena ga mau dibagi, ga mau ayahnya jauh dari anak-anaknya. Semenjak kejadian ini ayah nya ga ada bertanggung jawab sama anaknya lagi. Itu yang ga bisa nerima sampe sekarang. Saya ga nerima poligami ini, Mulai saat itu sudah tidak tahu lagi tentang anak-anak tidak ada respon.
Nelfon pun tidak ada komunikasi sudah tidak ada lagi ditanyaian kebutuhan apapun sudah 4 tahunan. Setelah kejadian itu dia tidak
ada tanggung jawab lagi, sudah diminta sudah dibicarakan, alasannya tidak ada kerja, ada saja alasannya. Saya datang ketempat dia kerja, dia bilang nantilah kalau ada rezeki dikirim, kalau ga ada bagaimana lagi. Dia pernah sekali menajtuhkan talak, waktu itu dia nelfon perempuan itu hamil, terus tante hamil, jadi kayaknya perempuan itu suruh cerain saya, jadi dicerain didepan suami itu. Jadi samapi saat ini saya masih istri sah, tapi ga da tanggung jawab lagi.
14. Pertanyaan : Bila ibu menerima poligami suami ....apa yg ibu rasakan setelah menerima rumah tangga Ibu dipoligami?
Jawaban :.
Pertanyaan Tentang 5 Hierarki Dasar Kebutuhan Manusia 1. Pertanyaan : Bagaimana sikap suami sebelum dan sesudah poligami
terhadap memenuhi kewajiban pokok keluarga seperti makan, minum, bayar kontrakan rumah, biaya sekolah anak dll?
Jawaban : sebelum poligami ini dia sudah mulai berubah alasannya kerja tapi pergi-pergi. Saya juga ga peka, saya percaya saja ga taunya kejadiannya malah kayak gini. Taunya dia malah main diluar.
Sebelum poligami ini dia perhatian, kasih makan kadang bawa makanan dari luar, cuma akhir2 ini semenjak 2thn yang lalu sudah mulai berkurang.
2. Pertanyaan : Bagaimana sikap suami terhadap ibu sebelum dan sesudah berpoligami? (misal apa masih lembut sikapnya atau sebaliknya malah makin kasar, acuh tak acuh tdk peduli sama ibu dan anak-anak, bahkan mungkin ada kdrt (kekerasan dlm rumah tangga baik verbal atau nonverbal)?
Jawaban : Dia juga ga pernah main kasar, walaupun kata-katanya nyakitin tapi untuk kasar itu gada. Perhatian ke anak-anak sudah mulai berkurang, kata-kata dia juga juga susah dibilang bukan kasar yang kayak orang batak “ kayak kau” jadi dari omongan dia yang satu-satu itu nyakitin dari perilakunya itu nyakitin.
3. Pertanyaan : Bagaimana perasaan cinta dan kasih sayang suami terhadap ibu dan anak-anak sebelum dan sesudah suami berpoligami?
Jawaban : Pas poligami itu sudah beda, sudah sering emosi disuruh sama anak belajar ga begitu sudah macam anak orang lain saja diajarnya. Sama saya juga sudah biasa saja, biasanya manja sekarang sudah ga ada lagi. Berbeda dari sebelumnya, berhubungan suami istri juga tidak pernah lagi sebelum tahu dia poligami juga tidak ada. Jadi sekarang saya juga dapat status pernikahan untuk kebutuhan jasmani rohani sudah tidak dipenuhi lagi.
4. Pertanyaan : Adakah perasaan perasaan tertentu yg ibu rasakan yg mungkin itu efek setelah poligami suami seperti misal: ibu jadi depresi,stres, sedih, takut, merasa tak dianggap, merasa tak berguna, merasa tak ada yang mau mengerti, merasa terbuang....selama suami poligami?
Jawaban : Semuanya, marah kesel, sedih semuanya dirasaian. Dia cuma suruh sabar, tenangkan hati.
5. Pertanyaan : Bagaimana ibu menjalani hidup setelah suami berpoligami?
Jawaban : ya saya kerja, pagi pulang malam untuk anak.
6. Pertanyaan : Bagaimana ibu merawat kesehatan badan dan jiwa ibu stelah tahu suami poligami demi kebahagiaan ibu dan anak anak?
Jawaban : iya, masih sama. Kalau diingat-ingat kebohongan mereka itu setalah tahu mereka ga punya anak tambah kesal rasanya. Dia bilang dia sudah punya anak biar supaya mereka bersama mungkin, eh taunya ga ada. Saya taunya sebulan yang lalu taunya mereka ga punya anak. Tambah marah kesel sama kedua duanya.
7. Pertanyaan : Adakah suami membebaskan ibu untuk melakukan yg menjadi kesukaan ibu semenjak awal menikah dan setelah berpoligami, (seperti misal: belajar, mengaji, untuk melakukan hobi hobi ibu dll)
Jawaban : tidak pernah dilarang, diterserahin. Semua bilang terserah.
Mana yang baik bagimu
Pertanyaan : Apa doa dan harapan ibu buat ibu, suami dan anak anak ibu kedepannya?
Jawaban : ya berharap dia bisa sadar, sama anaknya, tanggung jawabnya. Untuk suami. Harapana untuk anak anak, ya doaian anak itu menjadi sehat, pintar, kuat yang sayang sama orang tua.