• Tidak ada hasil yang ditemukan

PERSEPSI DAN RESPON PETANI TERHADAP PADI INPARI 31 DAN INPARI 33

Petani dan penyuluh/petugas pertanian memanfaatkan kegiatan Display dan Temu Lapang tentang varietas Inpari 31 dan Inpari 33 sebagai wahana pembelajaran. Padi Inpari 31 dan Inpari 33 belum pernah diperkenalkan dan ditanam di Desa Bejen Karanganyar. Pada umumnya petani Desa Bejen menanam padi menggunakan varietas Ciherang dan IR 64. Permasalahan yang mulai muncul di lapang bahwa varietas padi yang biasa ditanam oleh petani tersebut terserang penyakit blas. Petani belum bisa mengatasi apabila pertanaman padinya terserang penyakit blas. Disatu sisi padi Inpari 31 dan Inpari 33 mempunyai sifat tahan terhadap penyakit blas. Kegiatan Display yang memperkenalkan padi Inpari 31 dan Inpari 33 diharapkan dapat membantu petani sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan serangan penyakit blas. Untuk mengetahui persepsi dan respon petani terhadap inovasi teknologi padi Inpari 31 dan Inpari 33 serta inovasi teknologi sistem tanam jajar legowo 2 : 1 maka dilaksanakan evaluasi/pengkajian. Keragaan tingkat preferensi dan respon petani

dinilai dari pernyataan responden tentang padi varietas Inpari 31 dan Inpari 33 serta tanam jajar legowo jarak tanam 40x10x20 cm. Unsur yang dievaluasi meliputi (i) ketertarikan petani terhadap keragaan padi Inpari 31, (ii) ketertarikan petani terhadap keragaan padi Inpari 33, (iii) petani menyukai keragaan padi Inpari 31/Inpari33, (iv) minat petani untuk menaman padi inpari 31/Inpari 33, (v) minat petani untuk menanam padi sistem tanam jajar legowo 2 : 1 jarak tanam 40x10x20 cm dan (vi) pendapat petani tentang prospek penerapan sistem tanam jajar legowo 2 : 1 jarak tanam 40x10x20 cm. Hasil evaluasi tentang tingkat persepsi dan respon petani terhadap Inovasi teknologi padi Inpari 31, Inpari 33 dan sistem tanam jajar legowo 2 : 1 disajikan pada Tabel 1.

Tabel 1. Keragaan tingkat persepsi dan respon petani terhadap inovasi teknologi yang diintroduksikan (Inpari 31, Inpari 32, sistem tanam jajar legowo 2 : 1).

Kategori tingkat persepsi

dan respon Jumlah skor

Jumlah petani (orang) Jumlah petani (%) Rendah 06,00 – 09,99 0 0 Sedang 10,00 – 13,99 5 16,67 Tinggi 14,00 – 18,00 25 83,33 Jumlah 30 100

Hasil evaluasi menunjukkan bahwa sebagian besar petani responden (83,33%) mempunyai tingkat persepsi dan respon tinggi/positif terhadap varietas Inpari 31, Inpari 32, dan sistem tanam jajar legowo 2 : 1. Keragaan persepsi dan respon petani tersebut bila dilihat per komponen/unsur disajikan pada Tabel 2.

Keragaan komponen persepsi dan respon petani menunjukkan bahwa sebagian besar (80%) petani responden tertarik dengan keragaan padi Inpari 31 atau Inpari 33 dan hanya 20% petani yang menyatakan masih ragu-ragu. Sebagian besar (90%) petani menyatakan berminat menanam padi Inpari 33 karena hasilnya lebih tinggi, mempunyai umur lebih pendek walaupun nasinya dengan tingkat kepulenan sedang dan sebagian kecil petani responden ingin menaman Inpari 31 dengan alasan padi tersebut mempunyai rasa nasi yang pulen dan tingkat produktivitasnya juga tinggi. Pendapat petani tentang penerapan sistem tanam jajar legowo 2 : 1 jarak tanam 40x10x20 cm untuk tanam padi walaupun sudah tahu tentang keuntungannya namun tidak 100% berminat untuk menerapkannya karena merasa kesulitan mencari tenaga kerja tanam. Petani tidak yakin tentang prospek pengembangan penerapan sistem tanam jajar legowo di lapang. Hal tersebut karena melihat kenyataan di lapang relatif kesulitan untuk mencari tenaga kerja tanam padi sistem tanam jajar legowo. Hal tersebut sejalan dengan hasil penerapan sistem tanam jajar legowo 2 : 1 dengan jarak tanam 20x10x40 cm di beberapa daerah terbukti juga dapat meningkatkan hasil padi dan pendapatan petani dibandingkan dengan sistem tanam tegel (Suhendrata, 2011; Suhendrata et al. 2011;Suhendrata dan Ngadimin, 2011). Namun sayangnya tanam padi dengan sistem jajar legowo 2:1 secara manual kurang berkembang di lapang,

antara lain karena (i) tanam secara jajar legowo 2:1 dipandang lebih sulit oleh petani penaman padi, (ii) memerlukan waktu lebih lama, (iii) memerlukan biaya lebih tinggi dibandingkan dengan tanam tegel. Berkaitan dengan hal tersebut banyak regu tanam padi yang tidak mau menerapkan sistem tanam jajar legowo 2:1.

Tabel 2. Keragaan komponen persepsi dan respon petani terhadap varietas Inpari 31, Inpari 32, sistem tanam jajar legowo 2 : 1.

No. Komponen teknologi PTT

Persentase (%) positif terhadap komponen persepsi dan respon

petani

1. Ketertarikan petani terhadap keragaan

padi Inpari 31 80,00 2. Ketertarikan petani terhadap keragaan

padi Inpari 33 80,00 3. Lebih memilih varietas Inpari 31/Inpari

33 jika dibandingkan dengan varietas yang biasa ditanam petani

63,33 4. Minat petani untuk menaman padi inpari

31/Inpari 32, 90,00 5. Minat petani untuk menanam padi

dengan sistem tanam jajar legowo 2 : 1 jarak

83,33 6. Pendapat petani tentang prospek

penerapan sistem tanam jajar legowo 2 : 1

73,33

KESIMPULAN

1. Rata-rata produktivitas padi varietas Inpari 31 sistem tanam jajar legowo 2 : 1 dapat mencapai 9,3 t/ha GKP atau 7,9 t/ha GKG. Produktivitas tersebut diatas produktivitas rata-rata deskripsinya (6,0 t/ha GKG) tetapi lebih rendah dari potensi hasilnya (8,5 t/ha GKG)

2. Produktivitas padi varietas Inpari 33 sistem tanam jajar legowo 2 : 1 rata-rata mencapai 8,4 t/ha GKP atau 7,1 t/ha GKG. Produktivitas tersebut diatas produktivitas rata-rata deskripsinya (6,6 t/ha GKG) tetapi lebih rendah dari potensi hasilnya (9,8 t/ha GKG).

3. Persepsi dan respon petani terhadap padi Inpari 31, Inpari 33 dan sistem tanam jajar legowo 2 : 1 dalam katagori tinggi (83,33%). Petani tertarik terhadap keragaan padi Inpari 31 dan Inpari 33, namun lsebagian besar lebih menyukai terhadap padi Inpari 33.

DAFTAR PUSTAKA

Azwar, S. 2002. Sikap Manusia, Teori dan Pengukurannya. Pustaka Pelajar. Yogyakarta.

Balai Besar Penelitian Tanaman Padi. 2015. Varietas Padi : Inbrida Padi Sawah (Inpari). www.bbpadi. Litbang pertanian.go.id. [15 Oktober 2015].

Dajan, A. 1986. Pengantar Metode Statistika Jilid II. LP3ES. Jakarta.

Pusat Penelitian dan Pengembangan Pertanian. 2014. Varietas Unggul Baru Perlu Segera Dikembangkan. Berita Puslitbangtan No. 56 Mei 2014

Suhendrata, T., 2011. Peningkatan Produktivitas dan Pendapatan Petani Padi Sawah Melalui Penerapan Sistem Tanam Jajar Legowo di Kabupaten Karanganyar dan Sragen. Prosiding Seminar Nasional Implementasi Teknologi Budidaya Tanaman Pangan Menuju Kemandirian Pangan Nasional. Universitas Muhammadiyah Purwokerto.

Suhendrata, T., dan Ngadimin. 2011. Peran Varietas Padi dan Sistem Tanam dalam Peningkatan Produktivitas dan Pendapatan Petani pada Lahan Sawah Tadah Hujan di Desa Tanggan Kecamatan Gesi Kabupaten Sragen. Prosiding Semnas Mendukung Agro Inovasi Untuk Pemberdayaan Petani Dalam Pengembangan Agribisnis Masyarakat Perdesaan. Kerjasama BBP2TP – Pemda Provinsi Jawa Tengah – Undip.

Suhendrata, T., E. Kushartanti, A. Prasetyo dan Ngadimin. 2011. Pendampingan SL-PTT Padi dan Implementasi Alsintan di Kabupaten Sukoharjo dan Sragen. Laporan Akhir Kegiatan. BPTP Jawa Tengah.

STRATEGI ANTISIPASI PERUBAHAN IKLIM