BAB V PEMBAHASAN
5.2. Persepsi Responden
Persepsi responden merupakan pengalaman yang terjadi pada orangtua
tentang memberikan pendidikan seks bagi remajanya. Dimana pengalaman
tersebut diperoleh dengan menyimpulkan informasi dan menafsirkan pesan yang
diterimanya.
5.2.1. Persepsi Ayah dalam Memberikan Pendidikan Seks Bagi Remaja Putra Puteri di Kelurahan Batang Ayumi Julu Sitataring Kota Padangsidimpuan Tahun 2015
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Batang Ayumi
Julu Sitataring Kota Padangsidempuan bahwa lebih banyak ayah yang memiliki
persepsi negatif terhadap pendidikan seks bagi remaja putra dan putri sebanyak 34
orang. Hal ini disebabkan karena sebagian ayah berpendapat bahwa pendidikan
seks itu merupakan hal tabu untuk dibicarakan terhadap remaja dan remaja akan
mengetahui dari sekolah tentang pendidikan seks tersebut. Keengganan para
orangtua untuk memberikan informasi kesehatan reproduksi dan seksualitas juga
disebabkan karena rendahnya pengetahuan ayah mengenai kesehatan reproduksi
dan pendidikan seks. Ayah takut remaja mereka melakukan seks yang tidak sehat
dan juga terjerumus kepada perilaku yang menyimpang sehingga dapat merusak
remaja dan juga merusak masa depan remaja khususnya remaja putri.
Pada pertanyaan nomor 1 yang paling banyak menjawab setuju sebanyak
27orang (49,1%) alasannya kedekatan dengan remaja mereka kan paham apa
penjelasan dari pendidikan seks tersebut.pada pertanyaan nomor 2 yang paling
banyk menjawab setuju sebanyak 27 orang (49,1%) dengan alas an apabila
yang lebih dini. Pada pertanyaan nomor 3 yang paling bnayk menjawab setuju
sebanyak 22 orang ( 40,0%) alasannya karena orangtua setuju bahwa pendidikan
seks merupakan bimbingan maupun arahan. Pada pertanyaan nomor 4 paling
banyak menjawab setuju sebanyak 19 (34,9%) alasannya karena pendidikan seks
menghindari seks bebas. Pada pertanyaan nomor 5 paling banyak menjawab
sangat tidak setuju sebanyak 20 (36,4%) dengan alasannya bukan orangtua saja
tetapi guru di sekolah juga berperan penting. Pada pertanyaan nomor 6 yang
paling banyak menjawab sangat tidak setuju sebanyak 20 (36,4%) dengan alasan
tidak akan menyebabkan remaja bergaul bebas apabila kurang informasi. Pada
pertanyaan nomor 7 paling banyak menjawab sangat tidak setuju sebanyak 21
(38,2%) karena remaja sudah mengetahui mana yang baik dan juga yang buruk.
Pada pertanyaan nomor 8 paling banyak menjawab sangat tidak setuju sebanyak
18( 32,7%) karena sudah diberikan dari sekolah atau merupakan alamiah. Pada
pertanyaan nomor 9 paling banyak menjawab sangat tidak setuju sebanyak
20(36,4%) karena orangtua tidak nyaman dengan memberikan pendidikan seks
bagi remaja. Pada pertanyaan nomor 10 yang paling banyak menjawab sangat
tidak setuju sebanyak 23(41,8%) karena orangtua berpendapat bahwa bergaul
dengan teman sebaya bisa mempengaruhi mereka ke pergaulan yang tidak baik.
Pada pertanyaan nomor 11 yang paling banyak menjawab sangat tidak
setuju sebanyak 21 (38,2%) karena remaja akan tahu sendiri perubahan yang
terjadi pada dirinya. Pada pertanyaan nomor 12 yang paling banyak menjawab
sangat tidak setuju sebanyak 21(38,2%) karena bisa menjerumuskan ke seks
setuju sebanyak 22 (40,0%) dengan alasan orangtua takut remaja mereka
terjerumus ke hal yang tidak baik khususnya remaja putri. Pada pertanyaan Nomo
14 yang paling banyak menjawab sangat tidak setuju sebanyak 19 ( 34,5%)
dengan alasan mereka takut remaja akan terjerumus ke seks bebas. Pada
pertanyaan nomor 15 yang paling banyak menjawab tidak setuju sebanyak 15
(27,3%) karena penjelasan tentang fungsi alat kelamin bagi remaja merupakan
alamiah. Pada pertanyaan nomor 16 yang paling banyak menjawab setuju 24
(43,6%) karena orangtua berpendapat bahwa pendidikan seks itu mencegah
remaja dari perilaku seks. Pada pertanyaan nomor 17 yang paling banyak
menjawab tidak setuju 22 (40,0%) karena remaja akan mengetahui terutama
tentang perubahan pada dirinya. Pada pertanyaan nomor 18 yang paling banyak
menjawab setuju sebanyak 22 (40,0%) karena dengan ada penejelasan pendidikan
seks, remaja akan terhindar dari penyakit seks ataupun penyakit kelamin. Pada
pertanyaan nomor 19 yang paling banyak menjawab setuju sebanyak 23 ( 41,8%)
karena penjelasan sangat penting khususnya bagi remaja yang mengalami
puberitas. Pada pertanyaan nomor 20 yang paling banyak menjawab tidak setuju
sebanyak 26 (47,3%) karena remaja akan mengetahui sendiri dengan perubahan
yang terjadi pada dirinya khususnya organ reproduksi dan fungsinya.
Persepsi ayah mengenai pendidikan seks bagi remaja putra dan putri
menunjukkan paling banyak menajawab kategori sangat tidak setuju pada
pertanyaan nomor 10 mengenai apakah orangtua melarang remaja bergaul dengan
teman sebayanya sebanyak 23 orang (41,8%). Sedangkan yang menjawab tidak
informasi tentang organ reproduksi dan fungsi, misalnya vagina berfungsi untuk
saluran keluarnya menstruasi dan penis selain sebagai saluran buang air kecil
berfungsi sebagai saluran keluaranya sperma sebanyak 26 orang (47,3%).
Menurut Soetjiningsih (2004), sebagian besar masyarakat masih percaya
mitos tentang seksualitas adalah tabu utuk dibicarakan. Kurangnya pengetahuan
tersebut disebabkan oleh berbagai faktor antara lain adat istiadat, agama, dan
kurangnya informasi terkait dengan seksualitas dan perilaku seksual yang
dilakukan remaja.
Sejalan dengan penelitian yang dilakukan Mu’tadin (2002) banyak orangtua yang tidak memberikan pendidikan seks kepada remajanya karena
mereka berpendapat bahwa seksualitas merupakan sesuatu yang alamiah yang
akan diketahui setelah menikah, walaupun banyak media yang telah memfasilitasi
tentang pendidikan seks. Selain itu, Menurut Sarwono (2000), komunikasi yang
tidak efektif antara orangtua dengan remaja, tidak terbuka terbuka terhadap
pertanyaan yang diajukan remaja tentang seks mengakibatkan remaja mudah
terpengaruh melakukan tindakan seksual.
Menurut Sarwono (2006), ada beberapa faktor yang dianggap berperan
dalam munculnya permasalahan seksual pada remaja, diantaranya
perubahan-perubahan hormonal yang dapat meningkatkan hasrat seksual remaja, penyebaran
informasi yang salah misalnya dari buku-buku dan VCD porno, rasa ingin tahu
yang sangat besar, serta kurangnya pengetahuan yang didapat dari orangtua
5.2.1. Persepsi Ibu dalam Memberikan Pendidikan Seks Bagi Remaja Putra Puteri di Kelurahan Batang Ayumi Julu Sitataring Kota Padangsidimpuan Tahun 2015
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan di Kelurahan Batang Ayumi
Julu Sitataring Kota Padangsidempuan bahwa lebih banyak ibu yang memiliki
persepsi negatif terhadap pendidikan seks bagi remaja putra dan putri sebanyak 34
orang. Hal ini disebabkan karena beranggapan bahwa pendidikan seksualitas
bertentangan dengan norma-norma, ibu merasa malu untuk menyampaikan
pendidikan seksualitas, serta adanya anggapan bahawa jika pendidikan seks
diberikan akan mengajarkan remaja yang tidak baik. Hasil ini menunjukkan ibu
merasa tabu memberikan pendidikan seksualitas terhadap remaja.
Pada pertanyaan nomor 1 yang paling banyak menjawab tidak setuju
sebanyak 28 orang (50,9%) alasannya karena remaja sudah mengetahui dan
sudaah mempelajarinya. pada pertanyaan nomor 2 yang paling banyak menjawab
tidak setuju sebanyak 26 orang (47,3%) dengan alasan apabila diberikan
pendidikan seks bisa menghindari mereka berhubungan seks yang lebih dini. Pada
pertanyaan nomor 3 yang paling banyak menjawab tidak setuju sebanyak 29
orang ( 52,7%) alasannya karena orangtua tidak setuju bahwa pendidikan seks
merupakan bimbingan maupun arahan. Pada pertanyaan nomor 4 paling banyak
menjawab tidak setuju sebanyak 25 (45,5%) alasannya karena pendidikan seks
bukan hanya menghindari seks bebas bisa juga menjerumuskan seks yang lebih
dini. Pada pertanyaan nomor 5 paling banyak menjawab tidak setuju sebanyak
29 (52,7%) dengan alasannya bukan orangtua saja tetapi guru di sekolah juga
setuju sebanyak 28 (50,9%) dengan alasan tidak akan menyebabkan remaja
bergaul bebas apabila kurang informasi. Pada pertanyaan nomor 7 paling banyak
menjawab tidak setuju sebanyak 27 (49,1%) karena remaja sudah mengetahui
mana yang baik dan juga yang buruk. Pada pertanyaan nomor 8 paling banyak
menjawab tidak setuju sebanyak 32 ( 58,2%) karena orangtua berpendapat bahwa
pendidikan seks sudah diberikan dari sekolah atau merupakan alamiah. Pada
pertanyaan nomor 9 paling banyak menjawab tidak setuju sebanyak 33(60,0%)
karena orangtua tidak nyaman dengan memberikan pendidikan seks bagi remaja.
Pada pertanyaan nomor 10 yang paling banyak menjawab tidak setuju sebanyak
34(61,8%) karena orangtua berpendapat bahwa bergaul dengan teman sebaya bisa
mempengaruhi mereka ke pergaulan yang tidak baik atau disebut juga pergaulan
bebas.
Pada pertanyaan nomor 11 yang paling banyak menjawab tidak setuju
sebanyak 32 (58,2%) karena remaja akan tahu sendiri perubahan yang terjadi pada
dirinya. Pada pertanyaan nomor 12 yang paling banyak menjawab tidak setuju
sebanyak 29(52,7%) karena bisa menjerumuskan remaja ke seks bebas dan
menganggu aktivitas balajar. Pada pertanyaan nomor 13 yang paling banyak
menjawab tidak setuju sebanyak 24 (43,6%) dengan alasan orangtua takut remaja
mereka terjerumus ke hal yang tidak baik khususnya remaja putri. Pada
pertanyaan Nomo 14 yang paling banyak menjawab tidak setuju sebanyak 30
(54,5%) dengan alasan mereka takut remaja akan terjerumus ke seks bebas. Pada
pertanyaan nomor 15 yang paling banyak menjawab tidak setuju sebanyak 35
alamiah. Pada pertanyaan nomor 16 yang paling banyak menjawab tidak setuju
31 (56,4%) karena orangtua berpendapat bahwa pendidikan seks itu bukan
mencegah remaja dari perilaku seks tetapi bisa menjerumuskan remaja pada seks
yang lebih dini. Pada pertanyaan nomor 17 yang paling banyak menjawab tidak
setuju sebanyak 36 (65,5%) karena remaja akan mengetahui denagan sendirinya
terutama tentang perubahan pada dirinya. Pada pertanyaan nomor 18 yang paling
banyak menjawab tidak setuju sebanyak 30 (54,5%) karena dengan ada
penejelasan pendidikan seks , remaja akan terjerumus penyakit seks ataupun
penyakit kelamin. Pada pertanyaan nomor 19 yang paling banyak menjawab tidak
setuju sebanyak 28 ( 50,9%) karena penjelasan tidak penting karena merupakan
hak yang tabu dan bukan untuk diperbincangkan. Pada pertanyaan nomor 20 yang
paling banyak menjawab tidak setuju sebanyak 27 (49,1%) karena remaja akan
mengetahui sendiri dengan perubahan yang terjadi pada dirinya khususnya organ
reproduksi dan fungsinya.
Persepsi ibu mengenai pendidikan seks bagi remaja putra dan putri
menunjukkan bahwa yang paling menjawab kategori sangat tidak setuju pada
pertanyaan nomor 20 menurut orangtua apakah penting mendapat informasi
tentang organ reproduksi dan fungsinya paling banyak menjawab sebanyak 15
orang (27,3%). Sedangkan yang paling banyak menjawab kategori tidak setuju
pada pertanyaan nomor 17 mengenai orangtua yang memberikan pendidikan seks
mengenai alat reproduksi pada remaja yang sudah mengalami menstruasi pada
Hal ini sejalan dengan penelitian Gunarsa (2004) bahwa norma seksualitas
awalnya menjadi hal yang tabu untuk dibicarakan dilingkungan keluarga dan
masyarakat. Selain itu orangtua juga merasa khawatir dengan pemberian
informasi mengenai seks justru akan mendorong remaja untuk mencari
pengalaman seksual. Mereka merasa dengan menghindari diskusi mengenai
masalah seks dengan remaja dan menanamkan bahwa aktivitas seksual itu
merupakan suatu hal yang negative maka remaja akan terhindar dari masalah.
Menurut Moelione (2003), masih banyak anggapan orangtua tentang
seksualitas yang kurang tepat bahwa seksualitas merupakan hal yang akan
diketahui remaja dengan sendirinya padahal berbagai resiko dan bencana sudah
mereka hadapi bahkan alami. Melihat angka kejadian seks pranikah semakin
tinggi yang berhubungan erat dengan kejadian aborsi maupun HIV/ AIDS. Semua
itu terjadi karena orangtua beranggapan bahwa seksualitas akan diketahui dengan
sendirinya sehingga orangtua terlambat mencegah risiko-risiko yang dihadapi
remaja. Oleh sebab itu, orangtua khususnya ibu, yang biasanya lebih dekat dengan
remaja sangat penting untuk membekali anak dan remaja khusunya pada remaja
awal ini dengan berbagai informasi dan sikap mental yang dapat melindungi
mereka dari bencana, termasuk kesehatan reproduksi dan seksualitasnya.
Menurut Dianawati (2006), pendidikan seks merupakan bimbingan
ataupun penjelasan tentang perubahan fungsi organ seksual sebagai tahapan yang
harus dilalui dalam kehidupan manusia. Selain itu harus memasukkan ajaran
agama dan norma-norma yang berlaku. Cara yang dapat digunakan dengan
memberikan informasi yang sejelas-jelasnya dan terbuka kapan saja samapai
remaja mengerti apa yang dimaksud. Karena lebih baik pendidikan seks dapat
BAB VI
KESIMPULAN DAN SARAN 6.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan pada bab sebelumnya, maka
dapat di ambil kesimpulan sebagai berikut:
1. Persepsi ayah dalam memberikan pendidikan seks bagi remaja putra dan
putri dapat disimpulkan bahwa ayah (61,8%) memiliki persepsi yang
negatif karena orangtua tidak setuju dengan diberikannya pendidikan
seks bagi remaja, orangtua merasa pendidikan seks sangat tabu untuk
dibicarakan dengan remaja. Orangtua menganggap bahwa pendidikan
seks sudah didapatkan dari sekolah sehingga orangtua merasa tidak
perlu untuk menjelaskan mengenai pendidikan seks pada remaja. Dan
menganggap bahwa pendidikan seks itu alamiah dan remaja akan tahu
sendiri.
2. Perserpsi ibu dalam memberikan pendidikan seks bagi remaja putra dan putri disimpulkan bahwa ibu (58,2%) memiliki persepsi yang
negatif karena orangtua tidak setuju dengan diberikannya pendidikan
seks bagi remaja. Hal ini dianggap karena pendidikan seksualitas
bertentangan dengan norma-norma, ibu merasa malu untuk
menyampaikan pendidikan seksualitas, serta adanya anggapan bahawa
jika pendidikan seks diberikan akan mengajarkan remaja yang tidak
baik. Hasil ini menunjukkan ibu merasa tabu memberikan pendidikan
6.2. Saran
Berdasarkan kesimpulan hasil penelitian, ada beberapa hal yang dapat
disarankan demi pengembangan dari hasil penelitian persepsi ayah dan ibu
tentang pendidikan seks bagi remaja putra dan putri di Kelurahan Batang Ayumi
Julu Sitataring Kota Padangsidimpuan :
1. Diharapkan kepada orangtua agar memberikan informasi mengenai
pendidikan seks bagi remaja putra dan putri agar remaja mendapat
informasi yang tepat dan juga memperoleh informasi seks yang sehat
supaya remaja tidak terjerumus seks bebas khususnya di Kelurahan Batang
Ayumi Julu Sitataring.
2. Diharapkan bagi peneliti selanjutnya apabila melakukan penelitian dengan
kasus yang sama dapat menjadikan penelitian ini sebagai acuan dan
sebaiknya sampel lebih banyak lagi, dan mempertimbangkan memakai
metode kualitatif (wawancara dan observasi) sebagai perbandingan,
sehingga hasilnya dapat memberikan masukan yang semakin lengkap.
DAFTAR PUSTAKA
Al-mighwar, Muhammad. 2006. Psikologi Remaja. Bandung : Pustaka Setia.
Bahiyatun. 2011. Psikologi Ibu Dan Anak. Jakarta: ECG. . 2002. Psikologi Ibu Dan Anak. Jakarta: ECG
Budiarto, Eko. 2002. Biostatika Untuk Kedokteran Dan Kesehatan Masyarakat. Jakarta : ECG.
Dariyo. 2004. Pendidikan Seksual Pada Remaja: http: //
www.epsikologi.com. Diakses tanggal 10 November 2012.
Dianawati, Ajen. 2006. Pendidikan Seks Bagi Remaja. Jakarta : Kawan Pustaka.
Gunarsa, YSD. 2004. Psikologi Remaja. Jakarta : Gunung Mulia
Hidayat, A. Aziz, Alimul. 2011. Metode Penelitian Kebidanan Dan Teknik Analisa Data. Jakarta : Salemba Medica.
Metode Penelitian Keperawatan Dan Teknik Analisa Data. Jakarta: Salemba Medica
Hurlock, BE. 1999. Psikologi Perkembangan Suatu Pendekatan
Sepanjang Rentang Kehidupan. Jakarta : Erlangga
Irwanto, Drs. 2002. Psikologi Umum. Jakarta : Total Grafika.
Kartono, K. 2002. Patologi Sosial 2, Kenakalan Remaja. Jakarta : PT Raja Grafindo Persada.
Kusmiran, Eny. 2012. Kesehatan Reproduksi Remaja dan Wanita. Jakarta : Salemba Medika.
Machfoedz, Ircham. 2009. Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Bidang Kesehatan.Yogyakarta : Fitramaya.
. 2010. Metode Penelitian Kuantitatif Dan Kualitatif Bidang Kesehatan.Yogyakarta : Fitramaya. Mariana, Dina. 2014. Persepsi Ibu Hamil Mengenai Peran Bidan Dalam
Memberikan Pendidikan Kesehatan Tentang Abortus Imminens Di Klinik Bersalin Elvina Tanjung Sari Medan.
Skripsi. Universitas Sumatera Utara.
Mu’tadin, Z. 2002. Pendidikan Seks Pada Remaja.
http://www.epsikologi.comDiakses tanggal 11 April 2015
Nasih, Abdullah. 2006. Ada apa dengan seks. Jakarta : Gema Insani. Notoatmodjo, S. 2003. Pendidikan dan Prilaku Kesehatan. Jakarta :
Rineka Cipta.
.2010.Metodologi Penelitian kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta
. 2012. Promosi kesehatan dan perilaku kesehatan. Jakarta : Rineka Cipta.
Nugraha, Boyke, Dian. 2010. Problema Seks dan Solusinya Foor Teens.Jakarta : Bumi Aksara.
Pinem, Saroha. 2009.Kesehatan Reproduksi dan Kontrasepsi. Jakarta : Nata Wijaya.
Praptiane, Wuri. 2008. Hubungan Karakteristik Remaja dengan Persepsi Mengenai Prilaku Seks Pranikah di RW 04 Kelurahan Pondok Bambu. Jakarta : Universitas Indonesia
Rachman, M. Fauzi. 2014.Islamic Teen Parenting. Jakarta : Erlangga. Reiss, Michail. J.Mark Halstead. 2006 . Pendidikan Seks Bagi Remaja.
Yogyakarta : Alenia press.
Soetjiningsih. 2004. Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta : Sagung Seto.
.2010.Tumbuh Kembang Remaja dan Permasalahannya. Jakarta : Sagung Seto.
Santrock, John W. 2007.Remaja. Jakarta : Erlangga.
Sarwono, Sarlito W. 2011. Teori – teori psikologi sosial. Jakarta:Rajawali pers.
. 2011.Psikologi Remaja. Jakarta : Rajawali pers. Sabri, Luknis. Priyo, Sutanto. 2010. Statistik Kesehatan. Jakarta :
Rajawali Pers.
Samadi. 2004. Pendidikan Seksual Pada Remaja: http: //
www.epsikologi.com. Diakses tanggal 15 desember 2007.
Sugihartono, dkk. 2007. Psikologi Pendidikan. Yogyakarta : UNY Press Sunaryo. 2004. Psikologi Untuk Keperawatan. Jakarta : EGC
Tukan, Johan S. 1994. Metode seks, perkawinan, dan keluarga. Jakarta : Erlangga
Yanti. 2011. Buku Ajar Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Pustaka Rihama.
Walgito, B. 2002. Pengantar Psikologi Umum. Yogyakarta : Adi Widyastuti, dkk. 2009. Kesehatan Reproduksi. Yogyakarta : Fitramaya. Wuryani,Sri Esti. 2008. Pendidikan Seks Untuk Keluarga . Jakarta : Indeks.
KUESIONER PENELITIAN
PERSEPSI AYAH DAN IBU TENTANG PENDIDIKAN SEKS
BAGI REMAJA PUTRA DAN PUTRI DI KELURAHAN
BATANG AYUMI JULU SITATARING
KOTA PADANGSIDIMPUAN
TAHUN 2015
I.Karakteristik Responden No. Responden : 1. Nama ayah : 2. Umur : 3. Pendidikan terakhir : 4. Pekerjaan : 5. Sumber Informasi : 6. Alamat :II. Pertanyaan Persepsi Ayah dan Ibu Tentang Pendidikan Seks Bagi Remaja Putra dan Putri Di Kelurahan Batang Ayumi Julu Sitataring Kota Padangsidimpuan.
Petunjuk: isilah kuesioner di bawah ini dengan menjawab sesuai dengan pilihan yang ada serta memberikan alasan yang tepat untuk jawaban.
1. Menurut orangtua apakah penting kedekatan dalam memberikan pendidikan seks bagi remajanya ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya :
2. Menurut orangtua apabila pendidikan seks tidak diberikan bagi remaja apakah bisa menjerumuskan mereka berhubungan seksual lebih dini ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya :
3. Menurut orangtua apakah memberikan pendidikan seks itu merupakan bimbingan dan penjelasan tentang perubahan fungsi organ seksual serta ajaran agama dan norma- norma yang berlaku ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya :
4. Menurut orangtua apakah memberikan pendidikan seks itu dapat menghindari remaja dari pergaulan bebas ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya :
5. Menurut orangtua berperan penting dalam memberikan pendidikan seks bagi remaja ?
a. Sangat setuju b. setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya :
6. Menurut orangtua apakah kurangnya informasi yang benar tentang pendidikan seks menyebabkan pergaulan bebas di kalangan remaja ?
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya:
7. Menurut orangtua apakah perilaku remaja perlu dipantau agar sesuai dengan norma ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju
Alasannya :
8. Menurut orangtua apakah memberikan arahan pada remaja tentang perkembangan fisik dan reproduksi sebagai pertanda kematangan menuju dewasa ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya:
9. Menurut orangtua apakah membicarakan seks itu remaja merasa nyaman ? a. Sangat setuju
b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya:
10.Menurut orangtua apakah remaja dilarang untuk bergaul dengan teman sebayanya ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak Setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya :
11.Menurut orangtua apakah penting penjelasan kepada remaja tentang perubahan organ kelamin?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju
d. Sangat tidak setuju Alasannya:
12.Menurut orangtua apakah remaja penting bergaul dengan lawan jenisnya ? a. Sangat setuju
b. Setuju c. Tidak setuju
d. Sangat tidak setuju Alasannya:
13.Menurut orangtua apakah remaja penting membatasi diri dalam bergaul dengan lawan jenisnya ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju
d. Sangat tidak setuju Alasannya :
14.Menurut orangtua apakah pendidikan seks harus diketahui oleh setiap remaja ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya :
15.Menurut orangtua apakah perlu memberikan penjelasan tentang fungsi alat kelamin bagi remaja ?
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya :
16.Menurut orangtua apakah pendidikan seks dapat mencegah perilaku seks bebas ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya :
17.Jika remaja sudah mengalami puberitas seperti: menstruasi pada wanita dan mimpi basah pada laki-laki, menurut orangtua apakah perlu diberikan pendidikan seks tentang alat reproduksi ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya :
18.Menurut orangtua, apakah remaja penting penjelasan tentang penyakit menular seksual atau penyakit kelamin ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju
d. Sangat tidak setuju Alasannya :
19.Menurut orangtua, apakah penting penjelasan kepada remaja tentang perubahan yang terjadi pada masa puberitas, misalnya: pada wanita terjadi pembesaran payudara sedangkan pada laki-laki terjadi pembesaran suara ?
a. Sangat setuju b. Setuju c. Tidak setuju
d. Sangat tidak setuju Alasannya :
20.Menurut orangtua, apakah remaja perlu mendapatkan informasi tentang organ reproduksi dan fungsi, misalnya: vagina berfungsi untuk saluran keluarnya menstruasi dan penis selain sebagai saluran buang air kecil berfungsi sebagai saluran keluarnya sperma ?
a. Sangat setuju b. Setuju
c. Tidak setuju d. Sangat tidak setuju Alasannya :
KUESIONER PENELITIAN
PERSEPSI AYAH DAN IBU TENTANG PENDIDIKAN SEKS
BAGI REMAJA PUTRA DAN PUTRI DI KELURAHAN
BATANG AYUMI JULU SITATARING
KOTA PADANGSIDIMPUAN
TAHUN 2015
I.Karakteristik Responden No. Responden : 7. Nama ibu : 8. Umur : 9. Pendidikan terakhir : 10.Pekerjaan : 11.Sumber Informasi : 12.Alamat :II. Pertanyaan Persepsi Ayah dan Ibu Tentang Pendidikan Seks Bagi Remaja Putra dan Putri Di Kelurahan Batang Ayumi Julu Sitataring Kota Padangsidimpuan.
Petunjuk: isilah kuesioner di bawah ini dengan menjawab sesuai dengan pilihan yang ada serta memberikan alasan yang tepat untuk jawaban.
1. Menurut orangtua, apakah penting kedekatan dalam memberikan pendidikan seks bagi remajanya ?
e. Sangat setuju f. Setuju g. Tidak Setuju h. Sangat tidak setuju Alasannya :
2. Menurut orangtua, apabila pendidikan seks tidak diberikan bagi remaja