• Tidak ada hasil yang ditemukan

Persepsi Responden Terhadap Kondisi Sosial

BAB III METODE PENELITIAN

D. Penyebab Berkembangnya Permukiman Kumuh di Kelurahan Buloa

3. Persepsi Responden Terhadap Kondisi Sosial

140 Hasil akhir pembobotan diketahui pendapat responden mengenai kondisi drainase masuk dalam kategori nilai buruk. Proses ini didukung dengan fakta di lapangan melalui hasil observasi bahwa ketersediaan drainase pada kawasan permukiman kumuh Kelurahan Buloa sangat minim dan cenderung terjadi sedimen lumpur dan penumpukan sampah pada saluran drainase berdampak pada sistem pengaliran air. Berdasarkan data baseline kumuh Kelurahan Buloa tahun 2015, menunjukan panjang kondisi jaringan drainase pada lokasi permukiman memiliki kualitas minimum memadai 274.04 meter di RT 2 RW 3, sedangkan pada RT 1 dan 3 panjang kondisi jaringan drainase pada lokasi permukiman memiliki kualitas minimum memadai 0 meter, sedangkan untuk RW 5 RT 1 kondisi jaringan drainase pada lokasi permukiman memiliki kualitas minimum memadai 150.00 meter, RT 2 dengan panjang 203.00 meter, sedangkan RT 3 dengan panjang 0 meter.

141 frekuensi. Distribusi frekuensi disajikan dalam bentuk tabel yang bertujuan untuk menghitung jumlah respon yang memiliki kelompok dengan nilai yang berbeda dari suatu variabel dan mengambarkan nilai tersebut dalam suatu prosentase. Pembobotan (scoring) dilakukan setelah mendapatkan jawaban responden mengenai data yang disebar melalui kuesioner.

a. Akses Pelayanan Kesehatan

Data dari hasil kuesioner mengenai akses masyarakat terhadap pelayanan kesehatan disebar kepada 51 responden masyarakat.

Distribusi jawaban responden dan pembobotan terhadap akses pelayanan kesehatan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel. 4.21

Distribusi Persepsi Terhadap Akses Pelayanan Kesehatan Masyarakat

No Jawaban Responden

Frekuensi Persentase

(%) Nilai

1 Terpenuhi 19 37,25 57

2 CukupTerpenuhi 21 41,18 42

3 Tidak Terpenuhi 11 21,57 11

Jumlah 51 100.00 110

Sumber: Hasil Analisis, 2015

Dari tabel diatas kuesioner mengenai indikator/subvariabel akses pelayanan kesehatan menunjukan bahwa responden masyarakat yang menjawab akses pelayanan kesehatan terpenuhi berjumlah 19 responden atau 37,25%, responden yang menjawab cukup terpenuhi berjumlah 21 responden atau sebesar 41,18%, dan responden

142 menjawab tidak terpenuhi berjumlah 11 responden atau sebesar 21,57%.

Hasil akhir pembobotan diketahui pendapat responden mengenai akses pelayanan kesehatan masuk dalam kategori nilai cukup baik.

b. Akses Pelayanan Pendidikan

Data dari hasil kuesioner mengenai pelayanan pendidikan disebar kepada 51 responden masyarakat. Distribusi jawaban responden dan pembobotan terhadap akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel. 4.22

Distribusi Persepsi Terhadap Pelayanan Pendidikan Masyarakat

No Jawaban Responden

Frekuensi Persentase

(%) Nilai

1 Terpenuhi 7 13,73 21

2 CukupTerpenuhi 14 27,45 28

3 Tidak Terpenuhi 30 58,82 30

Jumlah 51 100,00 79

Sumber: Hasil Analisis, 2015

Dari tabel diatas kuesioner mengenai indikator/subvariabel akses pelayanan pendidikan menunjukan bahwa responden masyarakat yang menjawab akses pelayanan pendidikan terpenuhi berjumlah 7 responden atau 13,73%, responden yang menjawab cukup terpenuhi

143 berjumlah 14 responden atau sebesar 27,45%, dan responden menjawab tidak terpenuhi berjumlah 30 responden atau sebesar 58,82%.

Hasil akhir pembobotan diketahui pendapat responden mengenai akses terhadap pelayanan pendidikan masuk dalam kategori nilai buruk. Proses ini didukung dengan fakta di lapangan melalui hasil observasi menunjukan dominan masyarakat di kawasan permukiman kumuh Kelurahan Buloa dominan tamatan SD dan SLTP.

c. Peran Serta Masyarakat dalam Pembangunan

Data dari hasil kuesioner mengenai peran serta masyarakat terhadap pembangunan disebar kepada 51 responden masyarakat.

Distribusi jawaban responden dan pembobotan terhadap partisipasi masyarakat terhadap peran serta masyarakat dalam pembangunan dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel. 4.23

Distribusi Persepsi Terhadap Peran Serta Masyarakat dalam Pembangunan

Masyarakat No Jawaban Responden

Frekuensi Persentase

(%) Nilai

1 Sangat baik 42 82,35 126

2 Baik 9 17,65 18

3 Buruk 0 0,00 0

Jumlah 51 100,00 144

Sumber: Hasil Analisis, 2015

Dari tabel diatas kuesioner mengenai indikator/subvariabel peran serta masyarakat menunjukan bahwa responden masyarakat yang

144 menjawab sangat baik berjumlah 42 responden atau 82,35%, responden yang menjawab baik berjumlah 9 responden atau sebesar 17,65%, dan responden menjawab buruk berjumlah 0 responden atau sebesar 0%.

Hasil akhir pembobotan diketahui pendapat responden mengenai partisipasi masyarakat masuk dalam kategori nilai baik.

d. Sistem Sosial

Data dari hasil kuesioner mengenai sistem sosial masyarakat disebar kepada 51 responden masyarakat. Distribusi jawaban responden dan pembobotan terhadap sistem sosial masyarakat dapat dilihat pada tabel sebagai berikut :

Tabel. 4.24

Distribusi Persepsi Terhadap Sistem Sosial Masyarakat Masyarakat

No Jawaban Responden

Frekuensi Persentase

(%) Nilai

1 Sangat baik 31 60,78 93

2 Baik 20 39,22 40

3 Buruk 0 0,00 0

Jumlah 51 100,00 133

Sumber: Hasil Analisis, 2015

Dari tabel diatas kuesioner mengenai indikator/subvariabel sistem sosial masyarakat menunjukan bahwa responden masyarakat yang menjawab sangat baik berjumlah 31 responden atau 60,78%, responden yang menjawab baik berjumlah 20 responden atau sebesar

145 39,22%, dan responden menjawab buruk berjumlah 0 responden atau sebesar 0%.

Hasil akhir pembobotan diketahui pendapat responden mengenai sistem sosial masyarakat masuk dalam kategori nilai baik.

Proses ini didukung dengan fakta di lapangan melalui hasil observasi bahwa ketelibatan masyarakat terhadap kegiatan sosial cukup tinggi.

4. Persepsi Responden Terhadap Kondisi Ekonomi Masyarakat

Persepsi responden terhadap kondisi ekonomi masyarakat bertujuan untuk mengetahui penilaian masyarakat melalui jawaban kuesioner terhadap faktor/sub variabel kondisi ekonomi masyarakat meliputi: orientasi mata pencaharian, tingkat pendapatan, dan tingkat kesejahteraan. Dalam analisa persepsi ini digunakan alat analisis statistik deskriptif dengan distribusi frekuensi. Distribusi frekuensi disajikan dalam bentuk tabel yang bertujuan untuk menghitung jumlah respon yang memiliki kelompok dengan nilai yang berbeda dari suatu variabel dan mengambarkan nilai tersebut dalam suatu prosentase. Pembobotan (scoring) dilakukan setelah mendapatkan jawaban responden mengenai data yang disebar melalui kuesioner.

a. Orientasi Mata Pencaharian

Data dari hasil kuesioner mengenai akses masyarakat terhadap orientasi mata pencaharian disebar kepada 51 responden masyarakat.

Distribusi jawaban responden dan pembobotan terhadap orientasi mata pencaharian dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

146 Tabel. 4.25

Distribusi Persepsi Terhadap Orientasi Mata Pencaharian Masyarakat

No Jawaban Responden

Frekuensi Persentase

(%) Nilai

1 Buruh 10 19,61 30

2 Nelayan 32 62,75 64

3 Tidak Bekerja 9 17,65 9

Jumlah 51 100,00 103

Sumber: Hasil Analisis, 2015

Dari tabel diatas kuesioner mengenai indikator/subvariabel orientasi mata pencaharian masyarakat menunjukan bahwa responden masyarakat yang menjawab buruh berjumlah 10 responden atau 19,61%, responden yang menjawab nelayan berjumlah 32 responden atau sebesar 62,75%, dan responden menjawab tidak bekerja berjumlah 9 responden atau sebesar 17,65%.

Hasil akhir pembobotan diketahui pendapat responden mengenai orientasi mata pencaharian masuk dalam kategori nilai cukup baik. Fakta di lapangan menunjukan dominan masyarakat bekerja sebagai nelayan dan buruh, baik buruh bangunan maupun buruh di pergudangan kawasan industri yang penghasilannya tidak menentu.

b. Tingkat Pendapatan

Data dari hasil kuesioner mengenai tingkat pendapatan disebar kepada 51 responden masyarakat. Distribusi jawaban responden dan pembobotan terhadap tingkat pendapatan dengan asumsi sangat baik (> Rp. 5.000.000 ), Baik (Rp. 2.000.000 - Rp. 4.000.000 ) dan Buruk (<

Rp. 2.000.000) dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

147 Tabel. 4.26

Distribusi Persepsi Terhadap Tingkat Pendapatan Masyarakat

No Jawaban Responden

Frekuensi Persentase

(%) Nilai

1 Sangat baik 0 0,00 0

2 Baik 33 64,71 66

3 Buruk 18 35,29 18

Jumlah 51 100,00 84

Sumber: Hasil Analisis, 2015

Dari tabel diatas kuesioner mengenai indikator/subvariabel tingkat pendapatan menunjukan bahwa responden masyarakat yang menjawab sangat baik berjumlah 0 responden atau 0%, responden yang menjawab baik berjumlah 33 responden atau sebesar 64,71%, dan responden menjawab tidak baik berjumlah 18 responden atau sebesar 35,29%.

Hasil akhir pembobotan diketahui pendapat responden mengenai tingkat pendapatan masuk dalam kategori nilai buruk. Proses ini didukung dengan fakta di lapangan melalui hasil observasi menunjukan dominan masyarakat di kawasan permukiman kumuh Kelurahan Buloa dominan buruh dan nelayan yang penghasilannya tidak menentu.

c. Tingkat Kesejahteraan

Data dari hasil kuesioner mengenai tingkat kesejahteraan disebar kepada 51 responden masyarakat. Distribusi jawaban responden dan pembobotan terhadap tingkat kesejahteraan yang diukur berdasarkan pemenuhan kebutuhan sehari-hari masyarakat di

148 kawasan permukiman kumuh Kelurahan Buloa dapat dilihat pada tabel sebagai berikut:

Tabel. 4.27

Distribusi Persepsi Terhadap Tingkat Kesejahteraan Masyarakat

No Jawaban Responden

Frekuensi Persentase

(%) Nilai

1 Terpenuhi 0 0.00 0

2 Kurang Terpenuhi 33 64.71 66

3 Tidak Terpenuhi 18 35.29 18

Jumlah 51 100.00 84

Sumber: Hasil Analisis, 2015

Dari tabel diatas kuesioner mengenai indikator/subvariabel tingkat kesejahteraan masyarakat menunjukan bahwa responden masyarakat yang menjawab sangat terpenuhi berjumlah 0 responden atau 0%, responden yang menjawab kurang terpenuhi berjumlah 33 responden atau sebesar 64,71%, dan responden menjawab tidak terpenuhi berjumlah 18 responden atau sebesar 35,29%

Hasil akhir pembobotan diketahui pendapat responden mengenai tingkat kesejahteraan masuk dalam kategori nilai buruk.

Fakta di lapangan juga menunjukan bahwa rata-rata masyarakat terutama kepala rumah tangga dalam keluarga hanya mampu menyekolahkan anaknya hingga SLTP hanya beberapa yang mampu hingga SMA.

5. Faktor Pengaruh Kondisi Hunian, Infrastruktur permukiman, kondisi sosial, dan kondisi ekonomi terhadap Perkembangan Permukiman Kumuh

149 Berdasarkan hasil presepsi responden menunjukan faktor-faktor penyebab perkembangan permukiman kumuh di Kelurahan Buloa yang kemudian dilakukan pengujian secara statistik menggunakan SPSS untuk mengetahui persamaan regresi hubungan variabel secara bersama terhadap perkembangan permukiman kumuh di Kelurahan Buloa Kecamatan Tallo Kota Makassar dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.28 Hasil Pengujian Regresi dengan SPSS

Model Summary

Model R R Square Adjusted R Square Std. Error of the Estimate

1 ,926a ,858 ,847 ,324

a. Predictors: (Constant), X

ANOVAa

Model Sum of Squares df Mean Square F Sig.

1 Regression 8,233 1 8,233 78,286 ,000b

Residual 1,367 13 ,105

Total 9,600 14

a. Dependent Variable: Y

b. Predictors: (Constant), X

Coefficientsa

Model

Unstandardized Coefficients

Standardized Coefficients

t Sig.

B Std. Error Beta

1 (Constant) -,936 ,299 -3,134 ,008

150

X ,028 ,003 ,926 8,848 ,000

a. Dependent Variable: Y

Berdasarkan hasil output diatas : a). Variabel X (faktor-faktor penyebab perkembangan permukiman kumuh berdasarkan variabel dan presepsi responden) t hitung sebesar 8.848. Dengan demikian t hitung > t tabel (8.848> 3.1824) yang secara statistik, variabel X (faktor-faktor penyebab perkembangan permukiman kumuh berdasarkan variabel dan presepsi responden) mempengaruhi variabel Y (perkembangan permukiman kumuh) atau Ho ditolak dan Ha diterima. Serta, nilai hubungan antar variabel 0,858 artinya memiliki hubungan sangat kuat antar variabel.

Maka secara signifikan faktor-faktor penyebab perkembangan permukiman kumuh meliputi:

1) Kepadatan bangunan yang padat dan jarak antar bangunan 0-0,5 m;

2) Kondisi hunian tidak memenuhi standar kesehatan;

3) Pada kawasan bantaran sungai berkembang hunian ilegal dengan status hak pakai sebagai ciri permukiman squatter;

4) Minimnya ketersediaan RTH;

5) Sistem pelayanan air minum belum berjalan optimal;

6) Buruknya sistem sanitasi permukiman dengan memanfaatkan sungai dan drainase sebagai pembuangan limbah dan sampah;

7) Buruknya kondisi jaringan jalan lingkungan;

8) Fungsi drainase tidak berjalan optimal akibat sedimentasi;

151 9) Belum terpenuhinya akses masyarakat terhadap pelayanan pendidikan ditandai dengan minimnya SDM yang berkualitas dominan lulusan SD dan SMP;

10) Pendapatan masyarakat yang masih lemah merekondisi kemampuan mereka dalam memelihara fasilitas hunian serta memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya;

11) Belum terpenuhinya kesejahteraan masyarakat dicirikan dengan kemampuan akses terhadap pendidikan serta kebutuhan yang belum mencukupi untuk kehidupan sehari-hari.

Perkembangan Permukiman

Kumuh Kondisi Lingkungan

Hunian

Kondisi Infrastruktur Permukiman

Kondisi Sosial Masyarakat Kondisi

Ekonimi Masyarakat

Kepadatan bangunan yang padat dan jarak antar bangunan 0-0,5 m

Pada kawasan bantaran sungai berkembang hunian ilegal dengan status hak pakai sebagai ciri permukiman squatter

Kondisi hunian tidak memenuhi standar kesehatan

Minimnya ketersediaan RTH

Buruknya sistem sanitasi permukiman dengan memanfaatkan sungai dan drainase sebagai pembuangan limbah dan sampah

Sistem pelayanan air minum belum berjalan optimal

152 Gambar 4.14 Penyebab Perkembangan Kawasan Permukiman

Kumuh di Kelurahan Buloa Kota Makassar Sumber: Hasil Analisis

Gambar diatas menunjukan faktor penyebab perkembangan permukiman kumuh di Kelurahan Buloa Kec. Tallo. Dari gambar di atas dapat di interpretasi bahwa ada empat faktor penyebab perkembangan permukiman kumuh di Kelurahan Buloa: Pertama, perkembangan permukiman kumuh disebabkan oleh kondisi lingkungan hunian akibat kerapatan bangunan yang padat, kondisi hunian tidak memenuhi standar kesehatan, pada kawasan bantaran sungai berkembang hunian ilegal dengan status hak pakai sebagai ciri permukiman squatter, serta minimnya ketersediaan RTH. Kedua, perkembangan kawasan permukiman kumuh di Kelurahan Buloa disebabkan oleh kondisi infrastruktur yang dicirikan dengan buruknya sistem sanitasi permukiman dengan memanfaatkan

153 sungai dan drainase sebagai pembuangan limbah dan sampah, buruknya kondisi jaringan jalan lingkungan, sistem pelayanan air minum belum berjalan optimal, serta fungsi drainase tidak berjalan optimal akibat sedimentasi, proses ini secara langsung berdampak pada rendahnya kualitas kawasan permukiman yang merekondisi berkembangnya kawasan permukiman kumuh. Ketiga, perkembangan permukiman kumuh di Kelurahan Buloa terkondisi akibat belum terpenuhinya akses masyarakaat terhadap pelayanan pendidikan, secara langsung berkonstribusi posif terhadap rendahnya kualitas SDM di kawasan permukiman kumuh Kel.

Buloa. Keempat, perkembangan permukiman kumuh akibat rendahnya tingkat pendapatan masyarakat di kawasan permukiman kumuh Kelurahan Buloa merekondisi lemahnya kemampuan mereka dalam memelihara fasilitas hunian dan memberikan kehidupan yang layak bagi keluarganya serta kesejahteraan masyarakat yang belum terpenuhi meyebabkan akses terhadap pendidikan dan kemampuan kebutuhan sehari-hari belum terpenuhi.

Proses diatas menunjukan bahwa penyebab perkembangan permukiman kumuh di Kelurahan Buloa Kecamatan Tallo Kota Makassar akibat kondisi hunian masyarakat yang belum memadai, kualitas infrastruktur yang belum baik, kondisis sosial, dan kondisi ekonomi masyarakat yang belum baik. Sejalan dengan pemikiran Alit (2005) menyebutkan bahwa kondisi permukiman kumuh dapat dapat dilihat dari kondisi fisik, kondisi ekonomi, kondisi sosial, dan aspek hukum. Serta

154

Gambar 4.15 Peta Karakteristik Permukiman Kumuh Kelurahan Buloa

pemikiran (Khomarudin, 1997; Sinulingga, 2005; Sochi, 1993;

Sutanto,1995) bahwa penyebab perkembangan permukiman kumuh meliputi: a) Kondisi sosial ekonomi masyarakat rendah; b) Jumlah rumahnya sangat padat dan ukurannya dibawah standar; c) Sarana prasarana tidak ada atau tidak memenuhi syarat teknis dan kesehatan; d) Hunian dibangun diatas tanah milik negara atau orang lain; e) Lingkungan dan tata permukimannya tidak teratur tanpa perencanaan; f) Mata pencaharian yang tidak tetap dan usaha non-formal; g) Pendidikan masyarakat rendah; g) Jalan-jalan sempit yang tidak dapat dilalui oleh kendaraan roda empat; h) Fasilitas drainase sangat tidak memadai; i) Fasilitas pembuangan air kotor/tinja sangat minim sekali.

155 E. Upaya Peningkatan Kualitas Permukiman Kumuh di Kelurahan Buloa

Kecamatan Tallo Kota Makassar

1. Peningkatan Sarana dan Prasarana Permukiman Kumuh

156 Persoalan sarana dan prasarana permukiman kumuh menjadi salah satu faktor penyebab perkembangan kawasan permukiman kumuh di Kelurahan Buloa. Proses tersebut ditandai dengan fakta di lapangan yang menunjukan adanya penurunan kualitas infrastruktur meliputi: a) degradasi fisik lingkungan khususnya sistem pengelolaan limbah yang belum optimal;

b) fungsi jaringan drainase tidak berjalan optimal ditandai dengan penumpukan sampah dan sedimentasi saluran drainase; c) kondisi jaringan jalan yang dominan jalan titian dengan kondisi rusak dan lebar jalan yang belum memenuhi standar jalan lingkungan permukiman; d) sistem pelayanan air minum belum berjalan optimal; dan, e) aspek sarana hunian yang cenderung hunian semi parmanen serta belum memenuhi standar rumah layak huni khususnya bagi masyarakat berpenghasilan rendah (masyarakat miskin). Untuk itu, dibutuhkan upaya peningkatan kualitas sarana dan prasarana permukiman meliputi:

a. Peningkatan kualitas infrastruktur permukiman;

b. Optimalisasi sistem pelayanan air minum;

c. Normalisasi saluran drainase;

d. Bantuan pembangunan rumah layak huni bagi masyarakat miskin;

e. Pembangunan sistem pengelolaan sanitasi berbasis komprehensif.

2. Peningkatan Sosial Masyarakat

157 Terkait upaya peningkatan kondisi sosial masyarakat pada kawasan permukiman kumuh di Kelurahan Buloa, fakta di lapangan menunjukan masih lemah perilaku masyarakat terhadap kebersihan lingkungan khususnya masih memanfaatkan drainase sebagai tempat pembuangan limbah serta akses masyarakat pada pelayanan pendidikan dan kesehatan masih dalam kategori rendah (buruk) agar juga perlu dipertimbangkan sehingga upaya yang bisa dilakukan dalam konteks penanganan permukiman kumuh dari aspek sosial masyarakat dibutuhkan penanganan meliputi:

a. Mendorong kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan;

b. Mendorong peran serta masyarakat dalam memelihara infrastruktur permukiman;

c. Jaminan kesehatan dan pendidikan bagi masyarakat miskin.

3. Peningkatan Ekonomi Masyarakat

Terkait upaya peningkatan kondisi ekonomi masyarakat pada kawasan permukiman kumuh di Kelurahan Buloa sesuai fakta di lapangan yang ditinjau dari aspek orientasi mata pencaharian, tingkat pendapatan, dan kesejahteraan masyarakat di kawasan permukiman kumuh Kelurahan Buloa menunjukan masih dalam kategori rendah. Secara tidak langsung berdampak pada kondisi ekonomi masyarakat yang berpengaruh secara positif terhadap akses terhadap pelayanan kesehatan, pendidikan, serta

158 kualitas hidup masyarakat di kawasan permukiman kumuh Kelurahan Buloa. Untuk itu dalam kerangka peningkatan kualitas permukiman kumuh juga perlu pertimbangkan aspek ekonomi meliputi:

a. Bantuan modal usaha bagi masyarakat miskin;

b. Pelatihan pengembangan usaha produktif bagi masyarakat di kawasan permukiman kumuh;

c. Mendorong potensi SDM yang ada di kawasan permukiman kumuh dalam pengelolaan usaha-usaha ekonomi.

Dari pertimbangan diatas, maka untuk upaya peningkatan kualitas permukiman kumuh tidak hanya pada aspek fisik saja, dalam hal ini peningkatan sarana dan prasarana permukiman kumuh akan tetapi juga dibutuhkan upaya peningkatan sosial masyarakat dan ekonomi masyarakat sebagai satu kesatuan sehingga melahirkan pola penanganan permukiman kumuh perkotaan secara berkelanjutan.

4. Penanganan Permukiman Kumuh Squatter

Keberadaan kawasan permukiman kumuh yang ada di Kelurahan Buloa khusus pada kawasan bantaran Sungai Tallo, berkembang kawasan permukiman yang bukan pada fungsi peruntukkannya, dimana permukiman tersebut didirikan pada kawasan daerah manfaat sungai, tepat berada di bantaran sungai. Permukiman kumuh tersebut sudah tidak sesuai dengan peraturan perundang-undangan yang dimana dilarang membangun diatas bantaran sungai, selain itu permukiman kumuh di Kelurahan Buloa ini juga

159 berada diatas tanah tidak legal. Tanah tidak legal yang dimaksudkan adalah kawasan permukiman kumuh yang dalam RTRW berada pada peruntukan yang bukan perumahan. Untuk itu dibutuhkan penanganan seperti berikut:

a. Ketegasan dan Konsistensi Pemerintah Daerah Kota Makassar Berdasarkan peraturan daerah Provinsi Sulawesi Selatan Nomor 9 tahun 2009 tentang rencana tata ruang wilayah Provinsi Sulawesi Selatan tahun 2009 – 2029 telah dijelaskan mengenai indikasi arahan peraturan zonasi untuk kawasan lindung pada pasal 93 ayat 2 bahwa peraturan zonasi untuk sempadan sungai dan kawasan sekitar danau/waduk disusun dengan memperhatikan Ketentuan pelarangan pendirian bangunan kecuali bangunan yang dimaksudkan untuk pengelolaan badan air dan/atau pemanfaatan air. Namun pada kenyataan yang ada bahwa di bantaran sungai Kelurahan Buloa telah banyak pendirian rumah – rumah yang langsung bertumpuh pada sungai. Hal ini sudah tidak sejalan dengan peraturan yang ditetapkan.

Melihat penyimpangan tersebut maka perlu adanya pengawasan dari pemerintah secara terus-menerus, sebelum jumlah permukiman kumuh di bantaran sungai bertambah banyak. Aparat disertai dengan masyarakat harus segera mengambil langkah-langkah pengawasan dan penindakan. kegiatan ini tentu saja baru dapat berjalan dengan efektif jika pihak penduduk disekitar lokasi juga diberi dukungan, baik fasilitas fisik maupun sumber daya manusianya. Oleh karena itu, yang

160 lebih penting dilakukan adalah bagaimana mengkolaborasikan antara fungsi pembinaan, pengawasan, penertiban dan fungsi preventif, serta fungsi penindakan itu sendiri untuk situasi khusus. Yang dimaksud fungsi pembinaan adalah bagaimana upaya yang dikembangkan pemerintah kota terhadap masyarakat yang bermukim di bantaran sungai, binaan tidak hanya sekadar mengawasi dan melarang bermukim di bantaran sungai tetapi juga difokuskan pada penataan permukiman kumuh itu sendiri ke lahan-lahan yang tidak mengganggu kepentingan publik dan kawasan lindung.

Adapun yang dimaksud fungsi pengawasan adalah upaya pemerintah kota untuk terus-menerus mendata dan mengawasi pasang-surut perkembangan permukiman kumuh di berbagai wilayah kota. Tujuannya, supaya dapat diperoleh data akurat tentang keadaan permukiman kumuh. Yang dimaksud dengan penertiban adalah cara pengendalian yang dilakukan melalui tindakan penegakan hukum bagi perumahan yang dalam pembangunan dan pemanfaatannya tidak sesuai dengan rencana atau ketentuan peraturan perundang – undangan. Sementara yang dimaksud fungsi preventif adalah upaya pemerintah kota untuk mencegah arus urbanisasi agar tidak melewati batas atau melebihi kemampuan daya tampung kota. Yaitu dengan cara mengembangkan kerja sama dengan daerah hinterland untuk mengurangi kesenjangan desa-kota.

b. Pembinaan Mental

161 Minimnya kesadaran masyarakat akan nilai kenyamanan lingkungan dan tingkat kesadaran karena tekanan ekonomi membuat masyarakat mengabaikan konsep kenyamanan dan keamanan walaupun mereka sangat menyadari akibat yang mereka lakukan.

Sehingga diperlukan konsep partisipasi untuk merangsang komunitas masyarakat permukiman untuk sadar akan lingkungan melalui proses pemberdayaan dan memberikan pemahaman bahwa dampak yang dapat ditimbulkan apabila mereka terus menerus membangun dan bermukim di kawasan lindung (bantaran sungai) sangat berbahaya terhadap diri mereka dan lingkungan itu sendiri. Yang mana perlu ditanamkan bahwa peningkatan kualitas perumahan di lingkungan permukiman mempunyai dampak positif terhadap peningkatan kualitas hidup. Selanjutnya juga memberikan pendekatan atau pengertian kepada masyarakat bahwa merekalah prosedur dari kekumuhan yang ada di lingkungan mereka. Dengan kata lain, setiap usaha untuk mengatasi kekumuhan di sebuah tempat dimulai dengan mengembalikan rasa ikut bertanggung jawab warga setempat terhadap kekumuhan yang ada di lingkungan mereka.

c. Ressettlment (Relokasi)

Program ini diprioritaskan bagi permukiman kumuh yang menempati tanah-tanah negara dengan melakukan perubahan atau review terhadap RTRW. Berdasarkan RTRW Kota Makassar tahun 2005-2015 bahwa Kawasan Sempadan sungai adalah kawasan

162 sepanjang kiri kanan sungai, termasuk sungai buatan/kanal/saluran irigasi primer, yang mempunyai manfaat penting untuk mempertahankan kelestarian fungsi sungai. Perlindungan terhadap sempadan sungai dilakukan untuk melindungi sungai dari kegiatan manusia yang dapat mengganggu dan merusak kualitas air sungai, kondisi fisik pinggir dan dasar sungai, ekosistem sungai dan disekitarnya serta mengamankan aliran sungai. Kondisi eksisting yang terdapat di Kelurahan Buloa bahwa masyarakat membangun dan mendirikan perumahan di bantaran sungai Tallo, hal ini sudah tidak sesuai dan menyimpang dari RTRW Kota Makassar. melihat penyimpangan yang terjadi maka salah satu upaya pengendalian yang dapat dilakukan yaitu resettlment/pemindahan penduduk pada suatu kawasan yang khusus disediakan. Pemindahan ini apabila permukiman berada pada kawasan fungsional yang akan/perlu direvitalisasikan sehingga memberikan nilai ekonomi bagi Pemerintah Kota. Relokasi (Resettlement) dimana merupakan proses pemindahan penduduk dari satu lokasi permukiman yang tidak sesuai dengan peruntukannya ke lokasi baru yang disiapkan sesuai dengan rencana pembangunan kota pembongkaran atau penggusuran rumah-rumah liar di bantaran / sempadan. Kegiatan ini bertujuan untuk mengamankan bantaran / sempadan sebagai kawasan lindung (konservasi) dari bahaya banjir disamping menjaga keindahan kota. Kegiatan ini diprioritaskan pada perumahan-perumahan kaum migran (squatter) yang menepati

163 kawasan ini. Sebagai solusinya pemerintah harus menyediakan kawasan perumahan sederhana pada lokasi-lokasi yang masih kosong (lahan tidak produktif). Kegiatan yang dapat dilakukan berupa penertiban bangunan-bangunan liar di bantaran sungai dan sempadan pantai sesuai dengan Rencana Tata Ruang yang ada dan menata serta mengembangkan daerah hijau disepanjang bantaran sungai dan pantai.

Program ini dapat diterapkan pada kawasan kumuh yang menempati daerah-daerah dimana status lahannya bukan merupakan hak milik masyarakat. Hal ini dimaksudkan untuk mengamankan sempadan / bantaran dari aktivitas yang mengganggu fungsi lindung sekaligus mendistribusikan penduduk pada daerah-daerah yang masih jarang penduduknya (tingkat kepadatan rendah).

Dokumen terkait