• Tidak ada hasil yang ditemukan

5. HASIL DAN PEMBAHASAN

5.3. Persepsi Setelah Pemberian Informasi

Pada tahapan ini, siswa mendapatkan rangsangan pemberian informasi tentang goa melalui metode ceramah dan penayangan slide. Metode ceramah yaitu sebuah metode mengajar dengan menyampaikan informasi dan pengetahuan secara lisan kepada sejumlah siswa yang pada umumnya mengikuti secara pasif (Syah 2000). Metode ceramah dapat dikatakan sebagai satu-satunya metode yang paling ekonomis untuk menyampaikan informasi, dan paling efektif dalam mengatasi kelangkaan literatur atau rujukan yang sesuai.

31

Siswa menggambarkan kembali goa setelah mendengarkan penjelasan dan penayangan slide tentang goa. Pemberian informasi dilakukan di setiap sekolah pada hari yang berbeda (Tabel 6). Namun, perlakuan terhadap seluruh responden sama, sehingga tidak terjadi perbedaan dalam pemberian stimulus di masing- masing sekolah. Penyampaian informasi mengenai goa dilakukan dengan ceramah selama 10 menit dilanjutkan tayangan slide selama 8 menit. Informasi yang diberikan meliputi: definisi goa, gambaran proses pembentukan goa, nilai strategis goa, fauna goa, dan manfaat goa.

Tabel 6 Waktu Pelaksanaan ceramah dan penayangan slide

Nama sekolah Hari, tanggal pelaksanaan

SDIT Aliya Jumat, 21 Mei 2010

SDN Babakan Dramaga 4 Sabtu, 22 Mei 2010

SDN Cipining Rabu, 19 Mei 2010

Beberapa slide yang ditampilkan berisi gambar-gambar tentang goa yang ada di dunia, hal ini dimaksudkan agar siswa memiliki gambaran tentang aneka bentuk goa dan memberikan stimulus kepada siswa untuk dapat meningkatkan persepsinya terhadap goa. Pemberian informasi dan berbagai stimulus pada tahapan ini diduga akan merubah gambar dan nilai indeks persepsi siswa terhadap goa, merujuk pada pengertian persepsi adalah interpretasi yang tinggi terhadap lingkungan manusia dan selanjutnya mengolah proses informasi yang didapatkanya (Wilson 2000).

Seperti pada persepsi awal, perbedaan asal sekolah menyebabkan perbedaan hasil gambar dari masing-masing siswa (Tabel 7). Perbedaan hasil gambar ini diakibatkan oleh berbagai faktor, antara lain: karakteristik siswa yang berbeda dari tiap sekolah, motivasi belajar dan rasa ingin tahu, kemampuan menangkap dan menyerap informasi, serta suasana kelas. Kondisi SDIT Aliya dengan ukuran kelas kecil mampu memberikan dukungan dan kenyamanan bagi siswa untuk mendengarkan dan memahami penjelasan tentang goa dan tayangan slide.

32

Tabel 7 Persepsi siswa terhadap goa setelah pemberian informasi

Peubah Jumlah komponen Persepsi setelah pemberian informasi

yang digambar

Definisi Iindeks persepsi rata-rata

Δ Indeks persepsi

Sistem pendidikan

SDIT Aliya 3 Melengkapi 0, 489 0,050

SDN BAbakan Dramaga 4 2 Melengkapi 0, 333 0,005 SDN Cipining 4 Melengkapi 0, 500 -0,033 Jenis kelamin Laki-laki 2 Melengkapi 0, 429 0,004 Perempuan 4 Melengkapi 0, 451 0,010 Pengalaman interaksi Pernah 4 Melengkapi 0, 469 -0,035 Belum 2 Melengkapi 0, 420 0,039 Kesediaan berinteraksi Mau 3 Melengkapi 0, 457 0,011

Tidak mau 2 Melengkapi 0,365 -0,010

Rasa ingin tahu yang besar dari siswa SDIT Aliya lebih tinggi dibandingkan siswa yang berasal dari kedua SD lainnya. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul pada saat ceramah dan penayangan slide berlangsung. Kondisi tersebut didukung pula oleh guru kelas yang selalu mendampingi siswa agar tetap menyimak dan memperhatikan (Gambar 9)

(a) (b) (c)

Gambar 9 Suasana saat pemberian informasi di SDIT Aliya (a), SDN Babakan Dramaga 4 (b), dan SDN Cipining (c).

Siswa SDN Cipining terlihat kurang bisa fokus pada materi yang disampaikan, sebagian siswa mengobrol dan ada beberapa yang saling mengganggu teman yang di sebelahnya. Siswa yang berasal dari sekolah ini terlihat kurang antusias dalam menerima materi dibandingkan dengan siswa yang berasal dari dua sekolah lainnya.

33

Pemberian informasi dan pengetahuan yang didapatkan melalui ceramah dan penayangan slide mampu meningkatkan nilai indeks persepsi siswa terhadap goa, meskipun tidak secara signifikan. Nilai indeks persepsi terbesar adalah dari SDN Cipining yang memiliki interaksi lebih besar terhadap goa dibandingkan dengan SDIT Aliya, dan SD Babakan Dramaga 4, yaitu sebesar 0,500. Sedangkan nilai indeks persepsi terendah adalah dari SD Babakan Dramaga 4 yaitu 0,333. Kondisi tersebut tidak berbeda dengan persepsi awal, SDN Cipining tetap memiliki nilai indeks persepsi yang lebih tinggi daripada siswa yang berasal dari kedua sekolah lainya. Siswa yang berasal dari SD Babakan Dramaga 4 mengalami peningkatan sebesar 0,005 dengan tingkat persepsi yang semula rendah menjadi sedang.

SDIT Aliya mengalami peningkatan nilai indeks persepsi yang terjadi sebesar 0,050. Siswa yang berasal dari SDIT Aliya mampu menyerap informasi lebih banyak daripada siswa yang berasal dari SD Babakan Dramaga 4. Selain itu, siswa yang berasal dari SDIT Aliya sebagian telah mencari informasi mengenai goa secara mandiri sebelumnya. Berbeda dengan SDIT Aliya dan SD Babakan Dramaga 4, siswa yang berasal dari SDN Cipining mengalami penurunan nilai indeks persepsi sebesar 0,033. Hal ini diakibatkan karena pada saat ceramah dan penayangan slide, siswa SDN Cipining kurang bisa fokus pada materi yang disampaikan, sebagian siswa mengobrol dan ada beberapa yang saling mengganggu teman yang di sebelahnya. Siswa yang berasal dari sekolah ini terlihat kurang antusias dalam menerima materi dibandingkan dengan siswa yang berasal dari dua sekolah lainnya.

Selama ceramah dan penayangan slide berlangsung siswa laki-laki dan perempuan memberikan respon yang tidak terlalu berbeda. Baik siswa perempuan maupun laki-laki mendengarkan penjelasan dengan seksama, perbedaan mulai terlihat saat penayangan slide. Siswa laki-laki mulai gaduh dan sebagian berdiri berusaha untuk bisa melihat lebih jelas. Antara siswa dan siswi juga mengajukan pertanyaan yang beragam, mulai dari kondisi di dalam goa dan beberapa pertanyaan yang cukup ilmiah terkait dengan proses pembentukan goa.

Gambar yang dibuat oleh siswa laki-laki cenderung lebih sederhana, faktor yang digambarkan meliputi biotik dan abiotik. Faktor biotik digambarkan dengan

34

adanya pohon dan rerumputan, sedangkan faktor abiotik digambarkan dengan sebuah mulut goa yang sangat sederhana. Dalam definisi, siswa laki-laki hanya menyampaikan bahwa terdapat pepohonan di sekitar goa. Sedangkan siswa perempuan menggambarkan keempat faktor pembentuk lingkungan, yaitu: manusia, biotik, abiotik, dan desain buatan. Perbedaan tersebut dapat dilihat pada Gambar 10:

(a) (b)

Gambar 10 Contoh hasil gambar pada persepsi setelah pemberian informasi dari siswa laki-laki (a) dan perempuan (b).

Nilai indeks persepsi setelah penambahan informasi siswa perempuan adalah sebesar 0,451 dengan tingkat persepsi sedang (Tabel 6). Nilai ini mengalami peningkatan sebesar 0,010 dibandingkan dengan persepsi awal. Nilai indeks persepsi siswa laki-laki hanya mengalami sedikit peningkatan dari persepsi awalnya, yaitu sebesar 0,004 menjadi 0,429. Hal ini memperlihatkan bahwa dengan metode ceramah dan penayangan slide menghasilkan perubahan persepsi siswa perempuan yang lebih besar daripada perubahan dari siswa laki-laki meskipun perbedaanya tidak signifikan.

Berdasarkan hasil gambar yang dibuat, siswa yang tidak memiliki pengalaman berinteraksi dengan goa sebelumnya hanya mampu menggambarkan dua faktor pembentuk lingkungan, yaitu biotik dan abiotik. Faktor biotik digambarkan dengan adanya pohon dan rerumputan, sedangkan faktor abiotik digambarkan dengan adanya goa, matahari, dan tanah. Siswa yang memiliki pengalaman berinteraksi dengan goa mampu menggambarkan keempat faktor pembentuk lingkungan. Berdasarkan gambar 10 (b), faktor manusia digambarkan sedang berdiri di dalam goa, sedangkan faktor biotik digambarkan dengan adanya pohon dan kelelawar yang sedang terbang di dalam goa. Faktor abiotik

35

digambarkan dengan adanya mulut goa, matahari, dan awan. Sedangkan faktor desain bangunan digambarkan dengan adanya papan interpretasi meskipun tidak terlihat interaksinya dengan ketiga faktor lainnya (Gambar 10).

(a) (b)

Gambar 11 Contoh hasil gambar pada persepsi setelah pemberian informasi dari (a) siswa yang pernah dan (b)siswa yang belum pernah berinteraksi. Nilai indeks persepsi siswa yang awalnya belum pernah berinteraksi dengan goa mengalami peningkatan. Nilai indeks persepsi siswa yang awalnya belum memiliki pengalaman meningkat sebesar 0,038 menjadi sebesar 0,420. Melalui metode ceramah, peningkatan pengetahuan dan pengalaman siswa tidak meningkat persepsi secara signifikan. Berdasarkan beberapa penelitian, kemampuan siswa menangkap informasi dengan cara mendengarkan hanya sebesar 15%, sedangkan bila siswa mendengar dan memperhatikan atau melihat informasi yang mampu ditangkap adalah sebesar 35%-55%, sedangkan dengan mendengar, melihat, melakukan dan berpikir siswa mampu menyerap 80-90% informasi yang diberikan dengan akurat. Melalui metode ceramah dan penayangan slide siswa mendengar dan melihat gambar dari suatu obyek sehingga maksimal hanya 55% informasi yang dapat mereka serap. Di sisi lain, siswa yang telah memiliki pengalaman interaksi sebelumnya justru mengalami penurunan sebesar 0,035.

Salah satu cara yang dapat digunakan untuk meningkatkan motivasi dan harapan siswa adalah dengan meningkatkan informasi dan pengetahuan melalui metode ceramah (Dasuki 2006). Peningkatan motivasi ini terlihat dari respon para siswa setelah dilakukannya ceramah dan penayangan slide. Siswa terlihat antusias dan memberikan beberapa pertanyaan terkait materi yang diberikan. Selain

36

melalui respon para siswa, peningkatan persepsi siswa dapat dilihat dari Gambar 12.

(a) (b)

Gambar 12 Contoh hasil gambar pada persepsi setelah pemberian informasi dari (a) siswa yang memiliki kesediaan dan (b) siswa yang tidak.

Gambar 12 (a) siswa yang memiliki kesediaan untuk berinteraksi terhadap goa mampu menyerap informasi lebih baik terlihat dari gambar yang dibuat. Gambar tersebut meliputi tiga dari keempat faktor dalam lingkungan yaitu manusia, biotik, dan abiotik, serta digambarkan dengan interaksi yang ditunjukkan oleh manusia yang sedang memasuki goa dengan menggunakan headlamp. Interaksi fauna Goa (kelelawar) yang sedang bertengger dan tumbuhan yang menempel dan berada di sekeliling goa memperlihatkan adanya interaksi dari faktor biotik dan abiotik yang ada, sedangkan desain/bangunan tidak digambarkan. Siswa yang tidak memiliki kesediaan untuk berinteraksi dengan goa hanya mampu menggambarkan faktor biotik dan abiotik (Gambar 12 b). Faktor biotik digambarkan dengan adanya pohon dan rerumputan, sedangkan faktor abiotik digambarkan dengan adanya mulut goa, matahari dan awan. Nilai indeks persepsi yang dimiliki oleh siswa yang mau mengunjungi goa naik sebesar 0,011 menjadi 0,457. Sedangkan responden yang tidak memiliki motivasi untuk mengunjungi goa justru mengalami penurunan nilai indeks persepsi sebesar 0,010 menjadi 0,365. Perubahan yang terjadi setelah pemberian informasi tidak berbeda nyata baik bagi siswa yang memiliki motivasi maupun tidak.

Dokumen terkait