• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN TEORI

A. Persepsi Siswa tentang Kompetensi Guru SKI

1. Pengertian Persepsi

Menurut Moskowitz dan Orgel, persepsi adalah “proses yang

integrated dari individu terhadap stimulus yang diterimanya”.1 Proses yang

integrated tersebut meliputi proses pengorganisasian dan penginterpretasian, sebagaimana pernyataan Davidoff yang diambil oleh Bimo Walgito “Stimulus yang mengenai individu itu kemudian diorganisasikan, diinterpretasikan, sehingga individu menyadari tentang apa yang diinderanya itu. Proses inilah yang dimaksud dengan persepsi”.2

Berbeda dengan pernyataan yang diberikan oleh Moskowitz, Orgel dan Davidoff; Elizabeth Simpson berusaha menyoroti persepsi dalam tinjauan fungsinya terhadap kegiatan motorik sebagai berikut:

Persepsi berkaitan dengan penggunaan organ penginderaan untuk memperoleh petunjuk yang memandu kegiatan motorik. Kategori perilaku ini berentangan dari rangsangan penginderaan (kesadaran akan adanya stimulus), melalui memberi petunjuk pemilihan (memilih petunjuk yang relevan dengan tugas), sampai penerjemahan (menghubungkan persepsi pada petunjuk dengan tindakan di dalam suatu perbuatan tertentu).3

1 Bimo Walgito, Psikologi Sosial Suatu Pengantar, Andi, Yogyakarta, 1.1., him. 53 2 Ibid., him. 5

3 Catharina Tri Anni, Psikologi Belajar, UPT MKK UNNES, Semarang, 2004, him. 9 18

Dari ketiga pendapat yang dikemukakan oleh ketiga ilmuwan tersebut, dapat kita simpulkan bahwa persepsi adalah proses pengorganisasian, penginterpretasian terhadap stimulus yang diterima oleh organisme atau individu sehingga merupakan sesuatu yang berarti dan merupakan aktivitas yang integrated, yang melibatkan organ penginderaan sehingga mampu memunculkan kegiatan tertentu.

Sedangkan siswa oleh Syaiful Bahri disebut dengan anak didik adalah “setiap orang yang menerima pengaruh dari seorang atau sekelompok orang yang menjalankan kegiatan pendidikan.”4 Dari pengertian di atas dapat kita simpulkan bahwa siswa merupakan orang yang sifatnya dapat dididik karena mau menerima pengaruh dari orang lain yang terlibat dalam kegiatan pendidikan baik secara langsung ataupun tidak. Hal tersebut dikarenakan mereka memiliki bakat dan disposisi-disposisi yang memungkinkan untuk diberi pendidikan seperti yang dikemukakan oleh Wiji Suwamo, diantaranya yaitu :

a. Tubuh anak sebagai peserta didik selalu berkembang sehingga semakin lama semakin dapat menjadi alat untuk menyatakan kepribadiannya. b. Anak dilahirkan dalam keadaan tidak berdaya. Keadaan ini menyebabkan

dia terikat kepada pertolongan orang dewasa yang bertanggung jawab.

4 Syaiful Bahri Djamarah, Guru dan Anak Didik dalam Interaksi Edukatif, Rineka Cipta, Jakarta, 2000, him. 51

c. Anak membutuhkan pertolongan dan perlindungan serta membutuhkan pendidikan.

d. Anak mempunyai daya eksplorasi. Anak mempunyai kekuatan untuk menemukan hal- hal baru di dalam lingkungannya dan menuntut kepada pendidik untuk diberi kesempatan.5

Untuk itulah, dalam mengembangkan bakat dasar yang dimiliki oleh siswa, seorang pendidik harus mampu memunculkan karakter diri yang positif agar siswa juga mampu menumbuhkan persepsi yang positif sehingga dapat memotivasinya agar lebih giat dalam belajar. Hal ini sejalan dengan fungsi guru sebagai pembimbing dalam hal kebajikan, seperti yang tercantum dalam Q. S. Al Ashr 103: 1-3 :

\ y j Artinya: Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam

kerugian. Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran 6

5 Wiji Suwamo, Dasar- dasar ilmu Pendidikan, Ar- Ruzz, Jogjakarta, 2006, him. 36 dan 37 6 Depag, Al-Qur'an dan Terjemahan, CV. Toha Karya, Semarang, him. 1099.

Ayat tersebut mengindikasikan bahwa manusia yang diciptakan dalam keadaan terbaik dan termulia dibandingkan dengan makhluk lainnya, tetapi sekaligus memiliki hawa nafsu dapat memperoleh keuntungan apabila mau beriman, mengeijakan amal saleh dan saling menasehati dalam hal kebaikan. Hal tersebut dapat kita analogkan dengan fungsi guru sebagai pembimbing yang mengajak dan mencontohkan murid dalam hal kebaikan.

Seorang guru layak disebut guru apabila mampu memberikan ataupun melakukan sesuatu yang baik untuk muridnya. Kehidupan manusia (guru) diibaratkan sebagai sebuah bangunan. Dia dapat berdiri kokoh apabila dibangun dengan pondasi yang kuat, akan tetapi dia tidak dapat disebut dengan bangunan manakala dia tidak memiliki tiang. Sedangkan bangunan tersebut akan dapat berfungsi dengan sempurna jika memiliki atap. Pondasi yang kuat tersebut kita sebut dengan iman dan tiang tersebut adalah amal. Sedangkan atap kita sebut dengan ilmu. Iman dan amal saleh tanpa ilmu belum cukup. Murtadha Muthahhary memberikan gambaran yang indah dan tepat mengenai keterikatan iman dan ilmu. Antara lain dia berkata:

Ilmu memberikan kekuatan yang menerangi jalan kita dan iman menumbuhkan harapan dan dorongan bagi jiw a kita. Ilmu menciptakan alat-alat produksi dan akselerasi, sedangkan iman menetapkan haluan yang dituju serta memelihara kehendak yang suci. Ilmu adalah revolusi eksternal, sedangkan iman adalah revolusi internal.7

7 Muhammad Quraish Shihab, Tafsir Al Quran Al Karim, Pustaka Hidayah, Bandung, him. 487 dan 488

2. Pengertian Kompetensi Guru

Sebagai interaksi edukatif, pembelajaran seharusnya tidak hanya menekankan pada hasil saja, tetapi juga menekankan pada proses. Seorang murid dinyatakan berhasil manakala ia lulus dengan baik dalam proses maupun hasilnya. Proses tersebut membutuhkan waktu yang relatif panjang dalam rangka membentuk karakteristik siswa. Sedangkan hasil akan tampak pada penilaian yang diberikan guru melalui rapor yang diterima siswa.

Sebuah proses pembelajaran akan mengolah input berupa siswa menjadi sebuah output yaitu siswa yang telah teruji dan terisi. Seperti peribahasa “buah tidak akan jatuh jauh dari pohonnya”, begitu pula dengan seorang murid tidak akan jauh berbeda dengan gurunya. Untuk itulah, dalam rangka menumbuhkan kompetensi dalam diri anak didik, seorang pendidikpun harus memiliki kompetensi sesuai dengan standar kompetensi yang telah ditetapkan. Sebelum membahasnya lebih lanjut, kami akan mengemukakan definisi kompetensi guru. Kompetensi menurut Mc. Asnan :

...is a knowledge, skills and abilities or capabilities that a person achieves, which become part o f his or her being to the exent he or she can satisfactorily perform particular cognitive, affective, and psychomotor behaviors.

Sedangkan menurut Sulchan, “kompetensi adalah kewenangan atau kekuasaan untuk menentukan sesuatu hal”.8 9

8 Muhammad Joko Susilo, Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan Manajemen Pelaksanaan dan Kesiapan Sekolah Menyongsongnya, Pustaka Belajar, Yogyakarta, 2007, him. 97 dan 98

Dari kedua pengertian di atas, penulis lebih condong pada definisi yang dikemukakan oleh Mc. Ashan. Dari pendapatnya, kita dapat menyimpulkan bahwa seorang guru harus memiliki sejumlah kemampuan tertentu, sehingga akan dapat memunculkan perilaku kognitif, afektif, maupun psikomotorik.

Sedangkan menurut N. A. Ametembun, “guru adalah semua orang yang berwenang dan bertanggung jawab terhadap pendidikan murid-murid baik secara individual ataupun klasikal, baik di sekolah ataupun di luar sekolah”.10

Selain itu, kita dapat juga mengartikan pendidik atau guru baik secara umum maupun khusus sebagaimana yang dituturkan oleh Samsul Nizar:

Secara umum, pendidik adalah orang yang memiliki tanggung jawab untuk mendidik. Sementara secara khusus, pendidik dalam perspektif islam adalah orang- orang yang bertanggung jawab terhadap perkembangan peserta didik dengan mengupayakan perkembangan seluruh potensi peserta didik, baik potensi afektif, kognitif, maupun psikomotorik sesuai dengan ajaran nilai-nilai Islam.11

Dari kedua definisi, kita dapat menyimpulkan bahwa guru adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pendidikan siswa dengan melakukan berbagai usaha yang sejalan dengan ajaran nilai-nilai Islam.

10 Syaiful Bahri Djamarah, Op. Cit., him. 32

11 Samsul Nizar, Filsafat Pendidikan Islam Pendekatan Historis, Teoritis dan Praktis; Ciputat Pers, Jakarta, 2002, him. 41

3. Macam-macam Kompetensi Guru

Sebagai seorang pengajar, guru tidak hanya dituntut untuk mahir dalam bidang akademisnya saja, akan tetapi dia harus memiliki keahlian dalam mengelola pembelajaran dan mengembangkan profesinya.

Beberapa macam kompetensi yang harus dimiliki oleh guru untuk menunjang pembelajaran diantaranya yaitu:

a. Penyusunan rencana pembelajaran

Dalam mengelola rencana pembelajaran, guru harus mampu untuk mengorganisasi materi, menentukan metode ataupun strategi pembelajaran, menentukan media pembelajaran serta mengalokasikan waktunya secara baik. Hal tersebut dikarenakan perencanaan pengajaran, sebagaimana yang dikatakan oleh Kaufman, “perencanaan adalah suatu proyeksi tentang apa yang diperlukan dalam rangka mencapai tujuan absah dan bernilai”. Sehingga, dibutuhkan guru yang professional dengan ciri “selalu membuat perencanaan konkret dan detail yang siap untuk dilaksanakan dalam kegiatan pembelajaran”.12 13

b. Pelaksanaan interaksi belajar mengajar

Sebagaimana diketahui bersama bahwa seorang anak didik memiliki bakat ataupun disposisi yang berbeda satu dengan yang lainnya, maka seorang guru harus pandai dalam berinteraksi dengan siswa saat

12 Harjanto, Perencanaan Pengajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 1997, him. 2 13 Sutrisno, Revolusi Pendidikan di Indonesia, Ar-Ruzz, Jogjakarta, 2005, him. 75

proses pembelajaran berlangsung. Kompetensi yang harus dimiliki guru dalam hal ini d i antaran ya yaitu mampu membuka pelajaran, mampu menyajikan materi, mampu menggunakan metode yang sesuai, mampu menggunakan media yang tepat dan efisien; dimana menurut Oemar media tersebut memiliki fungsi antara lain yaitu “media pendidikan membangkitkan keinginan dan minat yang baru. Melalui alat atau media para siswa akan memperoleh pengalaman yang lebih luas dan lebih kaya”.14 Selain itu, guru juga harus mampu menggunakan bahasa yang komunikatif, mampu memotivasi siswa serta mampu dalam menggunakan waktunya secara cermat,

c. Penilaian prestasi belajar peserta didik

Seorang guru hendaknya dapat bersikap obyektif dalam memberikan penilaian terhadap peserta didik. Tetapi itu saja tidak cukup. Guru harus mampu memilih soal berdasar tingkat kesukaran sesuai dengan karakteristik siswa, harus mampu memeriksa jawaban secara teliti dan mampu untuk mengolah dan menganalisis hasil penilaian terhadap anak didik.

Sebagaimana dikatakan oleh Siti Farikhah bahwa:

Sebuah tes hasil belajar bisa dikatakan berkualitas sebagai alat pengukur, selain harus dilihat dari segi kesukaran soal, validita dan'

reliabilitanya, juga perlu memiliki persyaratan tes yang baik, yaitu memiliki obyektivitas, praktikabilitas dan ekonomis.1

d. Pelaksanaan tindak lanjut hasil penilaian prestasi belajar peserta didik Setelah hasil penilaian dianalisis, maka muncul suatu kategori-kategori tertentu. Dari kategori-kategori tersebut, guru diharapkan mampu untuk melaksanakan tindak lanjut terhadapnya. Tindak lanjut tersebut dapat berupa sebuah program perbaikan dan pengayaan untuk mencapai ketuntasan belajar.

Melalui syarat ketuntasan belajar yang ditargetkan oleh pemerintah. Maka, bentuk pelaksanaan perbaikan dapat dilakukan dengan:

1) Penjelasan kembali materi yang sedang dipelajari.

2) Pemberian tugas tambahan kepada perorangan siswa dengan mengeijakan kembali soal atau tugas, berdiskusi dengan temannya atau membaca kemabali suatu uraian.

Sedangkan bentuk pelaksanaan pengajaran pengayaan dapat berupa : membaca atau mempelajarai bahan pelajaran baru atau penyelesaian tugas pekeijaan rumah (PR).15 16

Program perbaikan dan program pengayaan ini merupakan tindak lanjut dari evaluasi yang dilaksanakan oleh sekolah dalam kurun waktu

15 Siti Farikhah, Evaluasi Pengajaran untuk Mahasiswa Program D2, PGA, PGK SD atau Ml; STAIN Salatiga, Salatiga, 2006, him. 60-62

tertentu yang disebabkan oleh adanya individual differences dalam kecepatan belajarnya.

e. Pengembangan diri

Seorang guru yang mengembangkan diri sesuai dengan profesinya harus mampu mengikuti informasi perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, dapat menulis beberapa buku ataupun modul serta mengikuti kegiatan pengembangan kurikulum.

Dalam rangka pembinaan peningkatan akademiknya, hal yang dapat dilakukan guru misalnya :

1. Mengikuti penataran 2. Sekolah lebih lanjut

3. Kursus-kursus bidang tertentu

4. Diskusi rutin guru bidang studi sejenis 5. Seminar, lokakarya, dan

6. Otodidak1'

f. Penguasaan bahan kajian akademik

Seorang guru akan dihormati siswanya manakala dia mampu menunjukkan kewibawaan di hadapan muridnya. Sajah saftmya yaitu saat menyampaikan bahan kajiap akademik. Untuk itulah, sftprang guru harus menguasai struktur pengetahtyflp dan substansi materi ypng akan diajarkan. 17

17 Dakir, Perencanaan dan Pengembangan Kurikullurn, JJIPfka Cipta, Jakarta, 2004, him. 120.

Sebagaimana dikatakan oleh M. Coopered yang menyebutkan 4 macam kompetensi guru dalam interaksi belajar mengajar, antara lain:

1) Mempunyai pengalaman tentang belajar dan tingkah laku manusia dan mampu menterjemahkan teori-teori itu ke dalam situasi yang riil dalam belajar mengajar.

2) Mempunyai sikap yang tepat terhadap diri sendiri, siswa, teman sejawat, sekolah dan bidang studi yang dibina.

3) Menguasai bidang studi yang diajarkan.

18

4) Mempunyai keterampilan teknis dalam mengajar. 4. Sejarah Kebudayaan Islam

Sejarah kebudayaan Islam merupakan salah satu mata pelajaran Pendidikan Agama Islam di Madrasah Tsanawiyah yang mendampingi mata pelajaran Al-Qur’an, Hadits, Akidah, Akhlak, dan Fiqih. Sejarah kebudayaan Islam merupakan :

Perkembangan perjalanan hidup manusia muslim dari masa ke masa dalam usaha bersyariah (beribadah dan bermuamaiah) dan berakhlak serta dalam mengembangkan sistem kehidupannya yang dilandasi oleh akidah.18 19

Sebuah proyek pengembangan prasarana dan perguruan tinggi agama memberikan definisi sejarah sebagai berikut:

18 Soetomo, Dasar-dasar Interaksi Belajar Mengajar, Usaha Nasional, Surabaya, 1993, him.

12

19 Peraturan Menteri Agama RI No. 2 Th. 2008 Tentang Standar Kompetensi Lulusan dan Standar Isi PAI dan Bahasa Arab di Madrasah, him. 48

Sejarah ialah studi tentang riwayat hidup Rasulullah SAW. sahabat- sahabat dan imam-imam pemberi petunjuk yang diceritakan kepada murid-murid sebagai contoh teladan yang utama dari tingkah laku manusia yang ideal, baik dalam kehidupan pribadi maupun kehidupan sosial.20 21

Sedangkan kebudayaan Islam adalah hasul fikir dan karya manusia

21

yang didasarkan kepada pemahaman Islam yang beragam.

Jadi, SKI adalah perkembangan peristiwa dan segenap hasil fikir dalam kehidupan tokoh-tokoh dan umat Islam pada masanya.

5. Tujuan SKI

Mata pelajaran sejarah kebudayaan Islam di MTs bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan-kemampuan sebagai b erikut:

a. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya mempelajari landasan ajaran, nilai-nilai dan norma-norma Islam yang telah dibangun oleh Rasulullah SAW dalam rangka mengembangkan kebudayaan dan peradaban Islam.

b. Membangun kesadaran peserta didik tentang pentingnya waktu dan tempat yang merupakan sebuah proses dari masa lampau, masa kini dan masa depan.

c. Melatih daya kritis peserta didik untuk memahami fakta sejarah secara benar dengan didasarkan pada pendekatan ilmiah.

20 Proyek Pembinaan Prasarana dan Perguruan Tinggi Agama atau IAIN Jakarta, Metodologi Pengajaran Pendidikan Agama Islam, DirJen Pembinaan Kelembagaan Agama Islam, Jakarta, 1985, him. 158

21

d. Menumbuhkan apresiasi dan penghargaan peserta didik terhadap peninggalan sejarah Islam sebagai bukti peradaban umat Islam di masa lampau.

e. Mengembangkan kemampuan peserta didik dalam mengambil ibrah dari peristiwa-peristiwa bersejarah ( Islam ), meneladani tokoh-tokoh berprestasi, dan mengaitkannya dengan fenomena social, budaya, politik, ekonomi, iptek dan seni, dan lain-lain untuk mengembangkan kebudayaan

22

dan peradaban Islam. 6. Ruang Lingkup SKI

Ruang lingkup Sejarah Kebudayaan Islam di MTs meliputi : a. Pengertian dan tujuan mempelajari SKI

b. Memahami sejarah Nabi Muhammad SAW periode Mekah c. Memahami sejarah Nabi Muhammad SAW periode Madinah d. Memahami peradaban Islam pada masa Khulafaurrasyidin

e. Perkembangan masyarakat Islam pada masa Dinasti Bani Umayyah f. Perkembangan masyarakat Islam pada masa Dinasti Bani Abbasiyah g. Perkembangan masyarakat Islam pada masa Dinasti Al Ayyubiyah h. Memahami perkembangan Islam di Indonesia.22 23

22 Ibid., him. 51 dan 52 23 Ibid, him. 54

dalam diri kita, yang mendorong kita untuk berkelakuan dan bertindak dengan cara yang khas”.25 Selanjutnya beliau menambahkan:

Keliru apabila motivasi dianggap sebagai prasyarat mutlak untuk kegiatan belajar. Lebih baik motivasi itu dianggap sebagai kemauan biasa untuk memasuki situasi belajar. Tidak perlu kita menunda suatu kegiatan belajar sampai ada motivasi yang tepat untuk belajar. 6 27 Menanggapi kedua pendapat di atas, penulis berusaha menyimpulkan bahwa pada hakikatnya motivasi merupakan suatu keinginan atau dorongan individu untuk bertindak dan bukan merupakan prasyarat mutlak karena ada faktor lain yang berjalan bersampingan dan mempengaruhi tercapainya tujuan dalam kegiatan belajar.

Untuk memperoleh gambaran mengenai belajar, ada beberapa definisi yang dikemukakan oleh para ahli. Belajar menurut Cronbach adalah “learning is shown by a change in behavior as a result o f experience'1' 21 Defmisi tersebut selaras dengan defmisi yang dikemukakan oleh Slameto sebagai berikut:

Belajar ialah suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya.28

Dengan begitu, kita dapat menyimpulkan bahwa belajar adalah proses menuju tercapainya perubahan pada individu melalui sejumlah usaha.

25 Ivor K. Davies, Pengelolaan Belajar, Rajawali Pers, Jakarta, 1986, him. 214 26 Ibid., him. 214

27 Sumadi Suryabrata, Psikologi Pendidikan, Raja Grafindo Persada, Jakarta, 2007, him. 231 28 Slameto, Belajar dan Faktor- faktor yang Mempengaruhinya, Rineka Cipta, Jakarta, 1995, him. 2

3) Belajar demi memperoleh hadiah 4) Belajar demi meningkatkan gengsi 5) Belajar demi memperoleh pujian

30 6) Belajar demi tuntutan jabatan, b. Motivasi Intrinsik

Sama halnya motivasi Ekstrinsik, Sardiman juga memberikan definisi terhadap motivasi Intrinsik sebagai berikut:

Motivasi Intrinsik adalah motif-motif yang menjadi aktif atau berfungsinya tidak perlu dirangsang dari luar, karena dalam diri individu sudah ada dorongan untuk melakukan sesuatu.30 31 32

Martinis selanjutnya menandaskan bahwa :

Pada intinya motivasi Intrinsik adalah dorongan untuk mencapai suatu tujuan yang dapat dilalui dengan satu-satunya jalan adalah belajar, dorongan belajar itu tumbuh dari dalam diri subyek belajar.

3. Fungsi Motivasi dalam Belajar

Seorang peserta didik yang berhasil adalah siswa yang telah mampu lulus dalam proses pembelajaran dengan baik. Dia mampu menunjukkan hasil yang optimal tanpa mengesampingkan proses itu sendiri. Dalam proses belajar, siswa membutuhkan sebuah dorongan baik secara ekstrinsik maupun intrinsik yang mampu menunjukkan perubahan perilaku tertentu pada dirinya.

30 Martinis Yamin, Strategi, Pembelajaran Berbasis Kompetensi, Gaung Persada Press, Ciputat, 2005, him. 85-85.

31 Sardiman, Op.Cit., him. 89. 32 Martinis Yamin, Op.Cit., him. 86.

a. Memberi semangat dan mengaktifkan peserta didik supaya tetap berminat dan bersiaga.

b. Memusatkan perhatian peserta didik pada tugas- tugas tertentu yang berhubungan dengan pencapaian tujuan belajar.

c. Membantu memenuhi kebutuhan akan hasil jangka pendek dan jangka panjang.33

Jadi dalam belajar, motivasi sangat diperlukan agar siswa dapat berkonsentrasi penuh terhadap pelajarannya. Dengan konsentrasi yang bagus, hasil yang diperoleh siswapun akan semakin baik. Oleh karena itu, motivasi memberikan pengaruh yang penting bagi berlangsungnya kegiatan belajar mengajar dengan fungsi yang ditawarkan tersebut.

4. Faktor- faktor yang Mempengaruhi Motivasi Belajar Siswa

Faktor yang mempengaruhi belajar siswa secara garis besar dapat kita peroleh dari pendapat Dimyati dan Mudjiono, yaitu:

a. Cita-cita atau Aspirasi Siswa

Dari segi emansipasi kemandirian, keinginan yang terpuaskan dapat memperbesar kemauan dan semangat belajar. Keinginan berlangsung sesaat, sedangkan kemauan dapat berlangsung dalam waktu yang lama. Kemauan telah disertai dengan perhitungan akal sehat. Cita- cita akan memperkuat motivasi belajar intrinsik maupun ekstrinsik, sebab tercapainya suatu cita-cita akan mewujudkan aktualisasi diri.

b. Kemampuan Diri

Keinginan seorang anak perlu dibarengi dengan kemampuan mencapainya, kemampuan akan memperkuat motivasi anak untuk melaksanakan tugas-tugas perkembangan.

c. Kondisi Siswa

Kondisi siswa yang meliputi kondisi jasmani dan rohani mempengaruhi motivasi belajar. Seorang siswa yang sakit, lapar atau marah-marah akan mengganggu perhatian belajar.

d. Kondisi Lingkungan Siswa

Lingkungan siswa dapat berupa keadaan alam, lingkungan tempat tinggal, pergaulan sebaya, dan kehidupan kemasyarakatan. Dengan lingkungan yang aman, tentram, tertib dan indah, maka semangat dan motivasi belajar mudah diperkuat.

e. Unsur-unsur Dinamis dalam Belajar dan Pembelajaran

Siswa memiliki perasaan, perhatian, kemauan, ingatan, dan pikiran yang mengalami perubahan berkat pengalaman hidup. Pengalaman dengar, teman sebayanya berpengaruh pada motivasi dan perilaku belajar. Lingkungan siswa yang berupa lingkungan alam, lingkungan tempat tinggal, serta lingkungan budaya mendinamiskan motivasi belajar.

f. Upaya Guru dalam Membelajarkan Siswa

Upaya guru membelajarkan siswa terjadi disekolah dan diluar sekolah. Upaya pembelajaran di sekolah meliputi : menyelenggarakan

tertib belajar di sekolah, membina belajar tertib pergaulan dan membina belajar tertib lingkungan sekolah.34

5. Ciri- ciri Siswa yang Memiliki Motivasi Belajar

Adapun ciri-ciri bahwa individu memiliki motivasi belajar diantaranya yaitu:

a. Adanya hasrat dan keinginan berhasil

b. Adanya dorongan dan kebutuhan dalam belajar c. Adanya harapan dan cita-cita masa depan d. Adanya penghargaan dalam belajar

e. Adanya kegiatan yang menarik dalam belajar f. Adanya lingkungan belajar yang kondusif.35

Indikator tersebut tidak jauh berbeda dengan indikator yang dikemukakan oleh Brown sebagai berikut:

Ciri-ciri siswa yang mempunyai motivasi belajar yang tinggi dapat dikenali melalui proses belajar mengajar di kelas yaitu tertarik kepada guru, artinya tidak membenci atau bersikap acuh tak acuh, tertarik pada mata pelajaran yang diajarkan, mempunyai antusias yang tinggi serta mengendalikan perhatiannya terutama kepada guru, ingin selalu bergabung dalam kelompok kelas, ingin identitas dirinya diakui oleh orang lain; tindakan, kebiasaan dan moralnya selalu dalam kontrol diri, selalu mengingat pelajaran dan mempelajarinya kembali; dan selalu terkontrol oleh lingkungannya.36

34 Dimyati dan Mudjiono, Belajar dan Pembelajaran, Rineka Cipta, Jakarta, 2002, him.

97-101.

35 Hamzah B. Uno, Teori Motivasi dan Pengukurannya, Bumi Aksara, Jakarta, 2007, him. 23 36 Ali Imron, Belajar dan Pembelajaran, Dunia Pustaka Jaya, Jakarta, 1996, him. 88

Selanjutnya, penulis membagi ciri adanya motivasi belajar menjadi 4, yaitu:

a. Adanya perhatian terhadap penjelasan guru

Siswa akan memperhatikan penjelasan guru manakala terjadi

Dokumen terkait