D. Variabel dan Instrumen
2. Persepsi tentang Negara Islam
Persepsi tentang Negara Islamadalah pemahaman
dan pandangan subjek yang berkenaan dengan gambaran mengenai konsep Negara Islam. Variabel ini diukur dengan menggunakan instrumen berbentuk skala karena berdimensi tunggal. Sebagaimana untuk mengukur sikap terhadap ISIS, instrumen untuk mengukur variabel ini disusun dengan menggunakan model summated-rating
scale, sebagaimana yang dikembangkan oleh Likert
(Likert, 1932). Setiap butir instrumen disusun dalam bentuk pernyataan positif (menunjukkan dukungan yang tinggi) atau negatif (menunjukkan dukungan yang
38 Keberagamaan dan Sikap Terhadap Negara Islam
rendah) tentang obyek yang berkenaan dengan Negara Islam (yang dijabarkan dalam indikator). Butir instrumen dibuat dalam bentuk pernyataan positif (mendukung atau menerima gagasan tentang negara Islam) atau negatif (menolak atau tidak menerima gagasan tentang negara Islam). Instrumen tersebut terdiri dari 30 butir. Setiap butir instrumen disusun dalam bentuk pernyataan positif (menunjukkan dukungan yang tinggi) atau negatif (menunjukkan dukungan yang rendah) tentang obyek yang berkenaan dengan Negara Islam (yang telah dijabarkan dalam indikator).
Untuk merespon pernyataan tersebut responden diminta untuk memilih salah satu dari lima alternatif:
Sangat Setuju, Setuju, Tidak Berpendapat/Netral, Tidak Setuju, dan Sangat Tidak Setuju. Selanjutnya, jumlah skor
dari seluruh butir akan menunjukkan tingkat persepsi, yang merentang dari terendah, sangat negatif, sampai yang tertinggi, sangat positif pada Negara Islam.
Penskoran dilakukan untuk setiap butir dengan memberikan skor 1, 2, 3, atau 4, masing-masing pada pilihan Sangat Setuju, Setuju, Tidak Berpendapat/Netral,
Tidak Setuju, atau Sangat Tidak Setuju untuk
masing-masing butir dengan pernyataan dalam bentuk negatif. Sedang untuk masing-masing butir positif, penskoran dilakukan dengan 4, 3, 2, atau 1, masing-masing pada pilihan Sangat Setuju, Setuju, Tidak Berpendapat/Netral,
Tidak Setuju, atau Sangat Tidak Setuju untuk
masing-masing butir dengan pernyataan.
Pada awal pengembangan, instrumen variabel ini terdiri dari 30 butir. Dalam rangka untuk mendapatkan
Metode 39
butir yang valid, data skor butir yang diperoleh dalam
penelitian dianalisis untuk melihat daya
beda/validitasnya. Analisis dilakukan dengan
menggunakan teknik korelasi Pearson Product Moment antara masing-masing butir dengan skor total seluruh butir. Dari analisis ini diperoleh hasil 24 butir yang valid
(nilai r>r[,05;355]), sedang 6 butir yang lain tidak valid (nilai
r<r[,05;355]). Selanjutnya, data dari butir-butir yang valid
tersebut dianalisis dengan teknik analisis alpha Cronbach, untuk mengetahui tingkat reliablitas instrumen. Hasil
analisis menunjukkan bahwa nilai = 0,84. Hasil ini
menunjukkan bahwa instrumen persepsi tentang negara Islam memiliki reliabilitas yang tinggi sehingga hasil pengukurannya dapat diandalkan untuk mengahasilkan ukuran yang akurat untuk membedakan tingkat persepsi tersebut.
3. Keberagamaan.
Variabel ini merupakan cerminan dari agama yang hidup dalam diri pemeluknya. Dalam penelitian ini, instrumen keberagamaan dirancang untuk mengukur dua dimensinya: keyakinan agama atau tingkat keimanan dan perilaku keagamaan atau intensitas ibadah, yang keduanya dianggap sebagai indikator yang paling spesifik/khas dari orang yang beragama. Kedua dimensi diperlakukan sebagai variabel yang terpisah, mewakili aspek agama secara fisik/kasat mata dan psikologis.
Pengembangan instrumen untuk kedua dimensi
keberagamaan ini adalah sebagai berikut.
40 Keberagamaan dan Sikap Terhadap Negara Islam
Perilaku keagamaan merupakan pengejawan-tahan nilai-nilai agama Islam dalam bentuk perilaku, khususnya dalam hubungan dengan Tuhan. Karena perilaku keagamaan tersebut telah digariskan dalam ajaran agama untuk dilakukan oleh setiap Muslim sesuai ketentuannya, maka pengukurannya dilakukan dengan melihat intensitas perilaku (ibadah) tertentu yang dilakukan oleh subjek.
Intensitas ibadah didefinisikan sebagai
keseringan subjek dalam melakukan ibadah (ritual dalam rangka berhubungan dengan Tuhan). Dalam penelitian ini, ibadah dibedakan menjadi dua: mahdoh dan ghoiru mahdloh. Ibadah mahdloh mencakup ibadah yang diwajibkan untuk dilakukan oleh setiap muslim, yang dalam penelitian ini dibatasi hanya sholat dan puasa romadlon, yang diwajibkan dan mungkin dapat dilakukan oleh semua mahasiswa. Ibadah mahdloh yang mungkin tidak adapat dilakukan oleh mahasiswa, seperti zakat dan haji, tidak disertakan. Sedangkan ibadah ghoiru mahdloh mencakup ibadah yang dianjurkan untuk diamalkan oleh muslim dan mungkin dapat dilakukan oleh seluruh mahsiswa, seperti sholat sunnah, puasa sunnah, membaca al-qur’an, dan sholat wajib berjamaah di masjid atau musholla.
Instrumen untuk mengukur variabel ini diadopsi dari Hadjar (2014b). Instrumen ini terdiri dari 15 butir, yang masing-masing berupa pernyataan tentang aspek amal ibadah mahdloh maupun ghoiru
Metode 41
rumusan yang positif (subjek melakukan aspek ibadah tersebut) atau negatif (subjek tidak melakukan aspek ibadah tersebut). Setiap butir diikuti oleh lima respon alternatif: tidak pernah, jarang, kadang-kadang,
sering, dan selalu melakukannya, yang menunjukkan
tingkat intensitas menyontek untuk tindakan yang dinyatakan dalam butir tersebut.
Penskoran setiap butir dilakukan dengan cara memberikan skor 0, 1, 2, 3, dan 4 secara beturut-turut pada alternatif jawaban tidak pernah, jarang,
kadang-kadang, sering, dan selalu yang dipilih subjek pada
butir yang dinyatakan secara positif (melakukan aspek ibadah yang dinyatakan). Sebaliknya, skor 4, 3, 2, 1, dan 0 secara beturut-turut pada alternatif jawaban
tidak pernah, jarang, kadang-kadang, sering, dan selalu yang dipilih subjek pada butir yang dinyatakan
secara negatif (tidak melakukan aspek ibadah yang dinyatakan). Skor total dari seluruh butir variabel intensitas ibadah ini dapat berkisar dari 0 (terendah [sama sekali tidak pernah melakukan aspek ibadah sebagaimana dinyatakan dalam pernytaan]) sampai 60
(tertinggi [selalu melakukan aspek ibadah
sebagaimana dinyatakan dalam pernyataan]).
Semakin tinggi sekor subjek, semakin tinggi intensitas ibadah subjek. Instrumen selengkapnya untuk variabel intesitas ibadah ini dapat dilihat dalam lampiran 1.
b. Tingkat keimanan
Tingkat keimanan didefinisikan sebagai
penerimaan subjek atas kebenaran ajaran agama Islam, khususnya 6 rukun iman, yaitu: iman kepada
42 Keberagamaan dan Sikap Terhadap Negara Islam
Allah, Malaikat, Kitab, Rasul, ketentuan Allah, dan hari akhir. Instrumen variabel ini diadopsi dari Hadjar (2014b). Variabel ini diukur dengan 6 butir yang menggunakan skala 7, yang menunjukkan tingkat kekuatan penerimaan tentang kebenaran pernyataan atau keimanan seseorang. Pada setiap butir, subjek diminta untuk menilai tingkat kekuatan keyakinan diri sendiri pada aspek keimanan yang dinyatakan dalam butir tersebut, dengan cara memilih salah satu titik dalam rentangan skala penilaian yang merentang dari 1 (menunjukkan keimanan yang sangat lemah (skor 1) sampai 7 (menunjukkan keimanan yang sangat kuat). Secara keseluruhan, skor yang dicapai subjek akan merupakan ukuran tingkat keimanan mereka, yang merentang dari sangat lemah sampai sangat kuat. Skor variabel ini dapat merentang dari 6 (tingkat keimanan yang sangat lemah) sampai 42 (tingkat keimanan yang sangat kuat). Butir-butir instrumen selengkapnya untuk variabel ini dapat dilihat dalam Lampiran 1.