BAB II TINJAUAN PUSTAKA
C. Persepsi terhadap Dukungan Akademik Orang Tua
Melalui kajian terhadap beberapa studi terdahulu, diperoleh dua pemahaman mengenai konsep dukungan. Pertama, dukungan orang tua yang ditujukan untuk perkembangan anak secara umum. Dalam hal ini, dukungan mengacu pada cara mendidik yang ditunjukkan dengan perilaku-perilaku yang membuat anak merasa nyaman, berpikir bahwa dirinya dihargai dan diterima, melalui sikap dan tindakan seperti memberi semangat, memberi pujian, menyetujui, afeksi fisik, dan alokasi sumber daya (Grolnick & Slowiaczek, 1994; Korzilius, Gerris, & Felling, 2001; Henry, Robinson, Neal, & Huey, 2006).
Kedua, dukungan khusus. Dukungan ini ditujukan pada area keberhasilan dalam bidang tertentu, misalnya akademik. Dukungan yang ditujukan pada area akademik disebut dukungan akademik (Leung, Yeung, &
Wong, 2010; Cheng, Ickes, & Verhofstadt, 2011). Dukungan akademik merujuk pada perilaku memperdulikan, menanamkan nilai-nilai, mendorong, mengajari dan membimbing, mendampingi dalam mengerjakan tugas sekolah, dan meluangkan waktu bersama yang bertujuan membantu usaha anak agar berhasil dalam studi.
Sarason, Sarason, dan Pierce (dalam Harber, Cohen, Lucas, & Baltes; 2007) mengatakan, apabila ditinjau dari cara pengukuran, dukungan sosial dapat dikategorikan menjadi dua. Pertama, dukungan yang diterima (received social support) -- dirancang untuk menakar perilaku dukungan tertentu yang diberikan pada resipien oleh jaringan pendukung. Kedua, dukungan sosial yang dipersepsikan (perceived social support) -- mengukur persepsi resipien mengenai adanya dukungan dan kepuasan terhadap dukungan yang diterima.
Harber et al. (2007) mengutarakan bahwa berdasar kajian metaanalisis yang dilakukan, dua cara pengukuran tersebut sama-sama digunakan mengukur dukungan. Dalam beberapa riset dukungan akademik orang tua, diketahui para peneliti menggunakan laporan siswa sebagai data dukungan orang tua (Kerpelman, Eryigit, & Stephens, 2008; Needham, 2008; Cheng, Ickes, & Verhofstadt, 2011). Hal ini didasari pandangan bahwa unsur terpenting dari dukungan orang tua adalah bagaimana siswa mempersepsikan tindakan tersebut. Spera (2006), mengutarakan bahwa dukungan yang dirasakan siswa memengaruhi regulasi diri terkait tugas akademik, minat pada bidang akademik, sehingga menjadi instrumen untuk mencapai keberhasilan akademik.
Untuk itu, penelitian ini akan mengungkap dukungan akademik orang tua pada siswa, melalui persepsi siswa mengenai dukungan orang tua yang diberikan pada dirinya. Dengan demikian, dukungan akademik orang tua pada siswa yang dimaksud dalam studi ini adalah persepsi siswa mengenai sejauh
mana intensitas orang tua dalam membantu usahanya agar berhasil dalam bidang akademik melalui sikap mempedulikan, tindakan membantu, dan mengalokasikan sumber daya.
Belsky (1984) menyampaikan tiga bentuk dukungan yaitu emosional, bantuan instrumental, dan ekspektasi sosial. Dukungan emosional yaitu rasa sayang dan penerimaan interpersonal yang diterima individu dari orang lain yang berbentuk pernyataan eksplisit dan tindakan nyata. Bantuan instrumental dapat berwujud memberi informasi, nasihat, dan membantu mengerjakan sesuatu. Ekspektasi sosial artinya menunjukkan tindakan apa saja yang sesuai dan tidak sesuai.
Secara teoretis, Wills (1985) mengemukakan ada enam bentuk dukungan. Pertama, esteem support atau emotional support. Resipien (individu yang menerima dukungan) mendapatkan penerimaan, pengertian, dan persetujuan. Kedua, status dukungan di mana resipien memperoleh perasaan mampu (capable) untuk memenuhi tugas normatif atau peran yang wajib dijalani. Ketiga, informational support yaitu resipien mendapat informasi, nasihat, dan arahan (bimbingan). Keempat, instrumental support yang sering disebut juga bantuan atau aid (tangible support or material support). Bentuk dukungan meliputi serangkaian aktivitas seperti membantu mengerjakan pekerjaan rumah tangga, mengurus anak, meminjami atau memberi uang, mencari nafkah, menyediakan transportasi, membantu mengerjakan pekerjaan teknik (misal: utak-atik komputer, perlistrikan, perkayuan, perbengkelan), menjaga rumah saat penghuninya pergi, dan menyediakan barang-barang seperti meubel, peralatan, atau buku-buku. Kelima, social companionship yaitu dukungan yang berupa aktivitas sosial yang menyenangkan misalnya dikunjungi, makan malam, menonton film, konser, rekreasi (pleasure trips),
aktivitas di luar rumah, dan olahraga. Keenam, motivational support yaitu mendorong individu untuk terus berusaha mengatasi problem, menjamin bahwa usaha yang optimal akan membawa keberhasilan, membantunya meredakan frustrasi dan mengkomunikasikan keyakinannya bahwa resipien bisa mengatasi tekanan (we can ride it through).
Untuk mengukur dukungan orang tua, Rubin et al. (2004) menggunakan dimensi afeksi, penghargaan, bantuan instrumental, pertemanan (keakraban), perhatian, dan hubungan yang dapat diandalkan. Thomas, Farrel, dan Barnes (1996) mengungkap dukungan orang tua melalui enam aitem yang menanyakan pertama, seberapa sering orang tua memeluk, mencium, atau merangkul. Kedua, ketika mengerjakan suatu hal dengan baik, apakah orang tua memberikan pujian atau dorongan atas apa yang telah dilakukan. Ketiga, seberapa besar siswa mengandalkan nasihat dan arahan orang tua. Keempat, seberapa sering responden dan orang tua menghabiskan waktu bersama, seperti olah raga atau mengunjungi suatu tempat. Kelima, seberapa sering membicarakan rencana setelah lulus sekolah dengan orang tua. Keenam, ketika sedang menghadapi masalah pribadi, seberapa sering siswa membicarakan dengan orang tua.
Dalam penelitian terhadap 431 siswa SMP dan 685 siswa SMA, Iksan (2012) melaporkan jenis dukungan yang berbeda dari pandangan Cohen dan Syme (1985). Menurut siswa SMP, bentuk dukungan yang dirasakan adalah emosional (212 orang atau 49,2%), spiritual (59 orang atau 13,7%), material (57 orang atau 13,2%), relasional (54 orang atau 12,5%), informasional (45 orang atau 10,4%), dan temporal (4 orang atau 0,9%). Menurut kelompok siswa SMA, bentuk dukungan yang dirasakan adalah emosional (366 orang atau 53,4%), material (111 orang atau 16,2%), informasional (94 orang atau 13,7%), spiritual
(75 orang atau 10,9%), relasional (37 orang atau 54%), dan temporal (2 orang atau 0,3%).
Dalam studi tersebut dijumpai bentuk dukungan khas yaitu spiritual. Dukungan spiritual berupa doa, ibadah, dan hal terkait aktivitas religius yang dilakukan keluarga. Istilah dukungan yang belum lazim adalah relasional dan temporal. Ketika ditelaah lebih jauh, contoh jawaban responden yang dikelompokkan dalam dukungan relasional antara lain mengantar ke sekolah, mendampingi, membantu menyelesaikan masalah, dan lain-lain. Jawaban responden yang dikelompokkan dalam dukungan temporal adalah respon di mana penekanannya pada waktu yang diberikan pada resipien.
Berdasar teori dari Wills (1985), maka dukungan relasional dan temporal dikategorikan sebagai dukungan instrumental. Dukungan instrumental menurut Wills (1985) memiliki ruang lingkup meliputi tenaga (melakukan sesuatu), material (barang, fasilitas fisik, dan dana), dan waktu. Jadi, aktivitas mengantar anak sekolah termasuk dukungan instrumental, karena mengandung unsur; tenaga (melakukan sesuatu seperti menyetir, berjalan, dan seterusnya), fasilitas atau dana (menyediakan kendaraan atau ongkos naik kendaraan umum), dan waktu (alokasi waktu yang digunakan untuk mengantar anak).
Penelitian Iksan (2012) menyajikan bentuk dukungan keluarga dalam mencapai keberhasilan. Untuk itu, belum diperoleh data mengenai bentuk dukungan akademik yang diharapkan siswa dari ayah dan ibu. Erawati (2012) menemukan bahwa, 63 siswa SMP menginginkan dukungan orang tua dalam bentuk instrumental (26 orang atau 41,2%), emosional (17 orang atau 27%), spiritual (14 orang atau 22,2), tidak ada (2 orang atau 3,1%), tidak menjawab (2 orang atau 3,1%), informasional (1 orang atau 1,6%), dan kurang relevan (1 orang atau 1,6%). Sejumlah 61 siswa SMU yang diteliti, menginginkan
dukungan dari orang tua dalam bentuk instrumental (23 orang atau 37,7%), emosional (18 orang atau 29,5%), spiritual (10 orang atau 16,4%), tidak memberi jawaban (7 orang atau 11,5%), jawaban kurang relevan (2 orang atau 3,3%), dan informasional (1 orang atau 1,6%).
Erawati (2012) juga menyajikan bentuk dukungan dari ibu yang diharapkan siswa SMP dalam bentuk; emosional (25 orang atau 39,7%), spiritual (16 orang atau 25,3%), instrumental (8 orang atau 12,7%), informasional (7 orang atau 11,1%), kurang relevan (3 orang atau 4,8%), tidak menjawab (3 orang atau 4,8%), dan tidak ada (1 orang atau 1,6%). Dukungan dari ibu yang diharapkan siswa SMU yaitu emosional (25 orang atau 41%), spiritual (17 orang atau 27,9%), instrumental (14 orang atau 23%), tidak menjawab (3 orang atau 4,9%), dan kurang relevan (2 orang atau 3,2%).
Dukungan ibu yang paling diharapkan siswa baik yang duduk di SMP maupun SMA adalah emosional, disusul oleh spiritual, instrumental, dan informasional. Menurut para responden, ibu diharapkan mendukung pula dalam urusan pendanaan dan penyediaan fasilitas belajar. Dukungan dari orang tua yang paling diharapkan dari siswa pada kedua jenjang sekolah adalah instrumental, disusul oleh emosional, dan spiritual. Hal ini memperlihatkan bahwa, siswa juga mengharapkan agar orang tua memberikan dukungan tidak hanya berupa pemenuhan kebutuhan material. Mereka menginginkan pula dukungan dalam bentuk afektif dan spiritual.
Tabel 2.
Sebaran Bentuk Dukungan Akademik Orang Tua
No Siswa SMP Siswa SMA
Ibu Ayah Ibu Ayah
Bentuk f Bentuk f Bentuk f Bentuk f
1. Emosional (39,7%) 25 Instrumental (41,2%) 26 Emosional (41%) 25 Instrumental (37,7%) 23
2. Spiritual (25,3%) 16 Emosional (27%) 17 Spiritual (27,9%), 17 Emosional (29,5%), 18 3. Instrumen tal (12,7%) 8 Spiritual (22,2%) 14 Instrumen tal (23%) 14 Spiritual (16,4%) 10 4. Informasio nal (11,1%) 7 Tidak ada (3,1%), 2 Tidak menja wab (4,9%), 3 Tidak menjawab (11,5%), 7 5. Kurang relevan (4,8%), 3 Tidak menjawab (3,1%), 2 Kurang relevan (3,2%) 2 Kurang relevan (3,3%) 2 6. Tidak menjawab (4,8%) 3 Informasio nal (1,6%) 1 Informasio nal (1,6%). 1 7. Tidak ada (1,6%) 1 Kurang relevan (1,6%) 1 Σ 100% 63 100% 63 100% 61 100 61 Sumber : Erawati, M. (2012) Ket: f = frekuensi
Berdasarkan uraian mengenai bentuk dukungan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa ada beberapa bentuk dukungan yang relevan dengan konteks kehidupan siswa di Indonesia yaitu instrumental, emosional, spiritual, dan informasional. Dukungan instrumental dipilah menjadi lima subkategori yaitu dana, fasilitas, barang atau material, tenaga, dan waktu. Mengingat dukungan spiritual lebih bermuatan sosioemosional, maka pengkategoriannya digabung dengan dukungan emosional. Dengan demikian, dukungan emosional dipilah menjadi empat subkategori yakni mendukung (misalnya: menerima, mempercayai, dan menyetujui), memotivasi (menyemangati, dan memberi penghargaan), afeksi (misalnya: memberi kasih sayang, memberi perhatian, dan mau mengerti), dan mendoakan. Dukungan informasional dikelompokkan tiga subkategori yaitu nasihat atau saran, bimbingan, dan memberikan pelajaran atau ilmu.
Disertasi ini mengembangkan dukungan akademik orang tua menjadi tiga bentuk dukungan yaitu dukungan instrumental, emosional, dan informasional. Dukungan instrumental ditandai oleh tiga perilaku yaitu membiayai sekolah, menyediakan fasilitas belajar, dan memberikan tenaga atau waktu menyelesaikan tugas akademik. Dukungan emosional meliputi penerimaan kekurangan dan kelebihan dalam bidang akademik, menyemangati, dan memberikan perhatian pada masalah akademik. Dukungan informasional terdiri dari memberikan nasihat terkait bidang akademik, membimbing siswa merencanakan pendidikan, dan memberikan pengalaman atau pelajaran terkait dengan bidang akademik.
2. Temuan yang relevan
Kajian yang dilakukan terhadap artikel-artikel jurnal penelitian memperlihatkan bahwa faktor sosialisasi orang tua seperti ekspektasi akademik orang tua (Sy et al., 2004; Spera, 2006), religiusitas orang tua (Wilcox, 2002; King, 2003; McKay et al., 2003), dan nilai-nilai pendidikan orang tua (Sy et al., 2004; Baharudin et al., 2010) berkaitan langsung dengan tingkat dukungan yang diberikan orang tua dalam bidang akademik siswa. Selain faktor sosialisasi orang tua, latar belakang sosial ekonomi termasuk latar belakang pendidikan orang tua juga diketemukan berhubungan dengan tingkat dukungan akademik yang diberikan pada siswa (Seginer & Vermulst, 2002; Hung, 2007). Beberapa studi lain tidak menjumpai adanya peran latar belakang pendidikan orang tua (Dumka, 2008; Moon et al, 2009), penghasilan dan jenis pekerjaan orang tua (Grinstein-Weiss at al., 2009) terhadap tingkat dukungan akademik. Wong dan Hughes (2006) menjumpai bahwa tingkat pendidikan orang tua
berkorelasi dengan komunikasi orang tua-siswa, tetapi tidak berkorelasi dengan dukungan akademik.
Dukungan akademik orang tua ditemukan tidak berkaitan dengan prestasi akademik siswa kelas tujuh sampai dua belas di Spanyol (Gonzalez- Pienda et al., 2002). Walaupun demikian, tingkat dukungan akademik yang diberikan orang tua pada siswa ini ditemukan berhubungan dengan prestasi akademik yang diraih siswa SMU baik beretnis Afrika-Amerika dan Eropa- Amerika (Bean et al., 2003; Spera, 2006). Analisis data longitudinal atas 17000 subjek yang dilakukan Flouri & Buchanan (2004) menunjukkan bahwa dukungan akademik ibu dan ayah berperan bagi tercapainya prestasi akademik dan tingkat pendidikan si anak dalam jangka panjang. Telaah studi-studi di atas menginformasikan bahwa dukungan akademik orang tua berperan terhadap prestasi akademik siswa. Selain itu, dukungan akademik juga berkaitan dengan variabel orang tua yang lain seperti religiusitas, ekspektasi akademik, dan nilai- nilai pendidikan orang tua.
D. Persepsi terhadap Religiusitas Orang Tua