ANALISIS PERBANDINGAN USAHATAN
6.2. Teknik Budidaya 1 Pengolahan Tanah
6.2.2. Persiapan Benih
Benih yang dibutuhkan untuk persemaian adalah 1-2 kg per iring. Sebenarnya pada saat proses penanaman benih yang dibutuhkan hanya 7-8 ons. Akan tetapi, kelebihan benih yang ada digunakan untuk kegiatan penyulaman tanaman yang mati karena tertiup angin, terinjak, atau dimakan oleh keong. Hal ini dikarenakan benih yang dipindah dari lahan persemaian ke lahan sawah masih sangat muda (7-14 hari) dan belum kokoh, sehingga sangat rentan terhadap kondisi lingkungan.
Penggunaan bibit muda dalam metode SRI membantu tanaman dalam mempermudah menyerap makanan, sehingga mampu menghasilkan banyak anakan. Pada metode konvensional, bibit relatif tua saat ditanam, yakni sekitar 25- 30 hari. Hal ini didasarkan pada pemikiran bahwa bibit tua akan menghasilkan tanaman yang tahan terhadap hama dan mudah dalam pencabutan bibit. Kenyataannya, penggunaan bibit berumur tua berakibat pada produksi jumlah
50 anakan padi yang tidak maksimal. Selain itu, umumnya pertumbuhan tanaman mengalami keterlambatan. Karena pada saat pemindahan tanaman, terjadi kondisi stagnasi dan adaptasi sehingga daya jelajah akar dalam mencari makanan terbatas. Dalam menyeleksi benih yang akan disemai, petani SRI organik menggunakan metode larutan garam. Benih yang mengapung adalah benih yang kurang baik kualitasnya, sedangkan benih yang tenggelam adalah benih yang baik. Benih-benih yang baik kemudian diambil dan dicuci untuk menghilangkan larutan garam yang menempel pada benih. Setelah benih berkualitas baik telah dicuci, benih harus diperam dulu selama satu hari satu malam. Ini dilakukan agar benih tumbuh seragam. Setelah diperam, akan terlihat adanya bintik pada lembaga atau embrio benih (tetapi belum tumbuh akar) yang merupakan tanda benih yang baik dan siap disemai. Tempat untuk menyemai benih ada yang dilakukan di sawah persemaian atau di besek.
6.2.3. Penanaman
Bibit siap dipindahkan ke lahan setelah mencapai umur 10 - 14 hari setelah semai. Bibit yang akan di tanam dalam keadaan utuh (akar tidak putus) dan rentang waktu antara pencabutan dan penanaman tidak terlalu lama (maksimal 30 menit) agar bibit tidak stres. Kondisi air pada saat tanam adalah “macak-macak” yaitu kondisi tanah yang basah tetapi bukan tergenang. Bibit yang ditanam setiap lubangnya berisi satu benih dan ditanam dangkal, yaitu pada kedalaman 2-3 cm dengan bentuk perakaran horizontal (seperti huruf L). Jarak tanam yang digunakan bervariasi, yaitu 25x25 cm dan 30x30 cm. Pembuatan jarak tanam menggunakan penggaris yang dibuat oleh petani (Gambar 2.).
Perlakuan terhadap benih yang ingin ditanam pada pertanian konvensional yaitu (a) daun di potong karena benih yang digunakan sudah tua, (b) batang diikat untuk memudahkan pembagian saat tanam, (c) benih dilempar, (d) benih ditanam banyak, (e) benih ditanam dalam dan akhirnya di petakan sawah direndam. Penanaman dengan metode konvensional menggunakan gathak. Gathak merupakan alat tanam terbuat dari kayu dengan sepanjang kayu tersebut diberi lengkungan kecil. Jarak antar lengkungan disesuaikan dengan jarak tanam yang biasa digunakan untuk menanam padi konvensional yaitu 15 cm x 15 cm dan 20 cm x 20 cm. Pada Lampiran 1. terdapat gambar kegiatan menanam padi dengan
51 metode konvensional. Dari gambar tersebut dapat terlihat di pinggiran sawah terdapat tambang yang digunakan untuk memastikan bahwa jarak penanaman tetap rapih, sebab panjang gathak hanya setengah dari panjang sawah pada umumnya.
Penanaman jarak tanam yang lebar yaitu 25 cm x 25 cm sampai 30 cm x 30 cm dalam prinsip SRI mendorong pertumbuhan akar secara optimal serta memaksimalkan sinar matahari yang cukup secara optimal. Namun kebiasaan yang dilakukan oleh petani konvensional dalam menanam padi biasanya menggunakan jarak tanam yang rapat, yaitu 20 cm x 20 cm atau bahkan 15 cm x 15 cm. Kebiasaan ini didasarkan oleh bermacam-macam alasan diantaranya adalah kepemilikan lahan yang sempit.
Penggunaan jarak tanam yang sempit, petani berpikiran akan menghasilkan padi lebih banyak karena jumlah tanamannya lebih banyak. Namun di dalam prakteknya, harapan yang dijadikan alasan oleh petani tersebut seringkali berbeda, karena jarak tanam yang rapat menyebabkan tanaman lembab dan gelap sehingga akan disenangi hama seperti wereng dan tikus. Di samping itu, tanaman yang lembab sangat berpotensi terhadap berkembangnya jamur. Penanaman dengan bibit yang banyak dalam satu lubang pula akan mengakibatkan tanaman tidak bisa berkembang dengan baik. Hal ini dikarenakan terjadi persaingan dalam memperebutkan makanan dan kekurangan sinar yang diperlukan bagi tanaman. 6.2.4. Pemupukan Setelah Tanam
Terdapat perlakuan yang berbeda dalam kegiatan pemupukan setelah tanam pada kedua metode ini. Untuk metode SRI organik, pupuk yang digunakan setelah benih ditanam yaitu dengan menggunakan Mikroorganisme Lokal (MOL). Mol digunakan sebagai katalisator dalam pembuatan pupuk organik cair. Mol berfungsi dalam membantu pertumbuhan tanaman dan kesehatan ekosistem, serta dapat melarutkan unsur hara makro dan mikro tanah. Pada metode SRI, petani diharuskan untuk membuat mol sendiri. Hal ini dilakukan agar petani dapat lebih mandiri dan mampu memanfaatkan sumber daya yang ada di lingkungan sekitar. Untuk petani SRI di Desa Ringgit, tidak semua petani mampu membuat mol, tapi mol dibuat oleh kepala kelompok tani yang nantinya dibagi-bagikan kepada seluruh anggota kelompok.
52 Gambar 4. Jenis-Jenis Mol yang Digunakan Petani Padi SRI Organik di Desa
Ringgit, Kecamatan Ngombol, Kabupaten Purworejo Tahun 2011 Sumber : Pak Wuryanto (anggota kelompok Pemuda Tani Lestari) Pengaplikasian mol dalam SRI organik dibagi menjadi empat jenis yaitu mol tunas (Giberelin), mol batang (Sitokinin), mol daun (Auxin), mol Inhibitor, serta mol untuk pengisian bulir. Masing-masing mol diberikan setiap 10 hari sekali secara berurutan dimulai pada 10 Hari Setelah Tanam (HST). Mol tunas, mol batang, dan mol daun berfungsi dalam mempercepat proses pertumbuhan dan menghasilkan anakan lebih banyak. Bahan-bahan yang digunakan untuk membuat ketiga mol tersebut yaitu jenis tanaman yang cepat tumbuh seperti bambu muda (rebung), bonggol pisang, buah mojo, dan lain-lain. Mol inhibitor berfungsi untuk menghentikan pembuatan anakan agar nutrisi dapat terserap dengan baik oleh malai yang sedang berbuah. Mol inhibitor sering pula disebut dengan mol buah karena bahan pembuatnya berasal dari buah-buahan yang mengandung rasa manis. Mol yang terakhir digunakan untuk membantu bulir padi lebih berisi.
Untuk metode konvensional, pemupukan dilakukan setelah tanam, yang dilanjutkan dengan penyemprotan pestisida dan insektisida guna mempermudah petani dalam merawat tanaman padinya. Petani konvensional menganggap bahwa seluruh serangga atau mahkluk hidup yang hidup bersamaan dengan tanaman padi adalah hama dan musuh tanaman yang harus dibasmi. Pada kenyatannya, tidak semua serangga tersebut merusak tanaman. Sebab, ada serangga yang menjadi musuh alami serangga yang sebenarnya menjadi perusak tanaman padi. Ilmu inilah yang tidak didapat dari petani konvensional, karena penyuluh pertanian hanya mengajarkan bagaimana cara menggunakan pestisida sesuai dengan dosis yang dianjurkan.
53 Penggunaan bahan-bahan kimia sintetis yang digunakan dalam budidaya tanaman padi seperti pupuk kimia, pestisida, dan insektisida, selain dapat merusak lingkungan karena merubah susunan ekosistem, pula membuat petani menjadi ketergantungan. Sebagian besar petani tidak memiliki pengetahuan yang cukup untuk dapat meracik pupuk kimia buatannya sendiri, sehingga petani hanya dapat menerima dan menunggu pupuk yang telah dihasilkan oleh industri-industri pupuk sintetis.