Diketahui, implementasi MEA memungkinkan meluasnya pasar kerja di seluruh negara ASEAN. Sesuai kesepakatan Bali
4. Persiapan Implementasi Kebijakan Penerapan SKPI
Secara Yuridis, dikeluarkannya Kebijakan Surat Keterangan Pendamping Ijazah (SKPI), merupakan amanat Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Permendikbud) Nomor 81 Tahun 2014 tentang Ijazah, Sertifikat Kompetensi dan Sertifikat Profesi Pendidikan Tinggi. Permendikbud merupakan turunan Undang-Undang (UU) Nomor 12 Tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi dan Peraturan Pemerintah Nomor 4 Tahun
2014 tentang Penyelenggaraan Pendidikan Tinggi dan Pengelolaan Perguruan Tinggi.
Dalam Pasal 44 ayat 1 sampai ayat 3, UU Nomor 12 mengharuskan setiap perguruan tinggi memberikan sertifikat kompetensi bagi setiap lulusannya sebagai keterangan resmi tentang kompetensi mereka sekaligus bisa digunakan untuk mendapat pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya (UUD.No12 Th.2012). Dengan demikian, UU Nomor 12 tahun 2012 secara tegas mengarahkan agar setiap lulusan perguruan tinggi bisa memasuki pasar kerja. Dan untuk itu, setiap lulusan pendidikan tinggi harus memiliki sertifikat kompetensi yang sesuai dengan kebutuhan pasar kerja.
Penerbitan SKPI ini didasari oleh adanya tiga Permendikbud, yakni Permendikbud No. 73 Tahun 2013, Permendikbud No. 49 Tahun 2014, dan Permendikbud No. 81 Tahun 2014.
Untuk mengejar target pemerintah mengimplementasikan secara penuh, Pemberlakuan SKPI ini mulai efektif dilakukan pada tahun akademik 2014/2015. Khusus untuk Pendidikan Tinggi Keagamaan berdasar pada Peraturan Menteri Agama RI nomor 1 tahun 2016. Diberlakukan sejak tanggal 12 Januari 2016. Tentu memerlukan strategi jitu.
Oleh karena itu pelaksanaan strategi harus memenuhi dua kriteria kondisi dasar, yaitu necessary condition dan dan sufficient condition. (1) Necessary condition adalah kriteria mutlak yang dibutuhkan agar suatu kondisi dapat tercapai. Setelahnya, pemerintah dapat mengembangkan beberapa hal sehingga kondisinya bisa berubah menjadi kondisi yang mencukupi (sufficient condition). (2) Necessary condition adalah komitmen, kapasitas SDM, dan dana pemeliharaan.
Tidak hanya kedua kriteria tersebut yang harus terpenuhi, ada hal yang juga harus menjadi prasyarat untuk dapat mengimplementasikan SKPI, yang notabene barang baru, yaitu komitmen dari para pemimpin dan pejabat PTKIS, termasuk dukungan politik dari intasi pembina Pendis dan Kopertais, serta SDM yang menguasai ilmu dan konsep SKPI dalam jumlah yang memadai, mengingat mereka dalah ujung tombak dari implementasi ini. Penerapan SKPI membutuhkan pembaharuan
yang terus menerus, sehingga ada satu unsur lagi yang mutlak harus terpenuhi dalam upaya implementasi SKI, yaitu pendanaan yang cukup. Unsur pendanaan tidak hanya untuk investasi awal, tetapi juga untuk kegiatan-kegiatan yang bersifat pemeliharaan.
Melihat kompleksitas implementasi penerapan SKI, dapat dipastikan bahwa penerapan SKPI di lingkungan PTKIS memerlukan sistem IT based system yang lebih rumit. Selain itu perlu juga dibangun sistem pengendalian intern yang memadai untuk memberikan keyakinan memadai atas tercapainya tujuan organisasi melalui kegiatan yang efektif dan efisien.
a. Manajemen Implementasi Kebijakan
Implementasi kebijakan pada dasarnya merupakan aktivitas mengoperasikan sebuah program. Implementasi kebijakan adalah hal yang paling berat, karena di sini masalah-masalah yang kadang tidak dijumpai dalam konsep muncul di lapangan. Persentase keberhasilan kebijakan dapat dilihat dari aspek rencana sebesar 20%, keberhasilan implementasi 60%, sisanya 20% adalah bagaimana mengendalikan implementasi. Hal itu tampak pada gambar 2.2, berikut:
Gambar 2.1.02.
Diagram Persentase Keberhasilan Kebijakan
Sumber: Riant Nugroho, 2009: 502
Pelaksanaan/implementasi kebijakan dalam konteks manajemen berada dalam kerangka organizing-leading-controling. Jadi, ketika kebijakan sudah dibuat, tugas selanjutnya adalah mengorganisasikan, melaksanakan kepemimpinan untuk memimpin pelaksanaan dan melakukan pengendalian pelaksanaan tersebut. Secara rinci kegiatan
manajemen implementasi kebijakan dapat disusun berurutan sebagaimana tampak pada tabel 2.1, berikut:
Tabel 2. 1.
Manajemen Implementasi
No. Tahap Isu Penting
1 2 3
1.
Implementasi Strategi (Pra Implementasi)- Menyusun struktur dengan strategi - Melembagakan strategi
- Mengoperasikan strategi
- Menggunakan prosedur untuk
memudahkan implementasi
2.
Pengorganisasian (Organizing) - Desainorganisasiorganisasi dan struktur - Pembagian pekerjaan dan desain
pekerjaan
- Integrasi dan koordinasi
- Perekrutan dan penempatan sumber daya manusia
- Hak, wewenang dan kewajiban
- Pendelegasian (Sentralisasi dan Desentralisasi)
- Pengembangan kapasitas organisasi dan kapasitas sumber daya manusia
- Budaya organisasi
3.
Penggerakan dan kepemim pinan- Efektivitas kepemimpinan - Motivasi, etika dan mutu
- Kerjasama tim dan komunikasi
organisasi - Negosiasi
4.
Pengendalian - Desain pengendalian- Sistem informasi manajemen
- Pengendalian anggaran dan keuangan - Audit
Sumber: Riant Nugroho, 2009: 526 b. Komitmen dari pimpinan
Dukungan yang kuat dari pimpinan merupakan kunci keberhasilan dari suatu perubahan. Salah satu penyebab kelemahan implementasi kebijakan SKPI di bebarapa PTKIS, adalah lemahnya komitmen pimpinan satuan kerja penerima mandat Tugas Pembantuan, pelaksana kebijakan pemerintah.
c. Tersedianya SDM yang kompeten
Penyiapan dan penyusunan Program SKPI tersebut memerlukan SDM yang menguasai dibidangnya. Pada saat ini kebutuhan tersebut sangat terasa, apalagi menjelang penerapan SKPI pada PTKIS. Untuk itu, pemerintah pusat dan daerah perlu secara serius menyusun perencanaan SDM yang kopeten. Termasuk di dalamnya memberikan sistem insentif dan remunerasi yang memadai untuk mencegah timbulnya praktik KKN oleh SDM yang terkait. Di samping itu, peran dari perguruan tinggi dan organisasi profesi tidak kalah pentingnya untuk memenuhi kebutuhan akan SDM yang kompeten.
d. Resistensi terhadap perubahan
Sebagai layaknya untuk setiap perubahan, bisa jadi ada pihak internal yang sudah terbiasa dengan sistem yang lama dan enggan untuk mengikuti perubahan. Untuk itu, perlu disusun berbagai kebijakan dan dilakukan berbagai sosiali sasi sehingga penerapan SKPI dapat berjalan dengan baik.
Untuk mengubah kondisi menjadi sufficient condition (kondisinya bisa berubah menjadi kondisi yang mencukupi), dibutuhkan kebijakan, prosedur dan teknologi. Pengembangan dokumen kebijakan dibutuhkan untuk mengakomodasi penerapan SKI. Idealnya, dokumen ini didesain sedemikian rupa sesuai dengan kondisi khas di PTKIS masing-masing. Kemudian, dibutuhkan pula sistem dan prosedur yang menjelaskan teknik-teknik standar oprasional prosedur (SOP). Hal lain yang tak kalah penting, yaitu PTKIS juga memerlukan dukungan teknologi khususnya aplikasi penatausahaan SKPI yang mengakomodasi didalamnya agar implementasi penerapan SKPI ini, sesuai dengan harapan.
D. Penelitian terdahulu yang Relevan dan Mendukung