PP
PPersoalan-persoalan Umumersoalan-persoalan Umumersoalan-persoalan Umumersoalan-persoalan Umumersoalan-persoalan Umum
1. Peluang kaum muda
Indonesia untuk memasuki lapangan kerja semakin menyusut:
• Melebarnya kesenjangan antara pengetahuan dan kemampuan kaum muda dengan permintaan dunia kerja
• Tidakmemadainya program ketenagakerjaan yang dimiliki pemerintah. • Rendahnya tingkat
penyerapan tenaga kerja dalam negeri
2. Adalah penting untuk mengevaluasi format dan penerapan beberapa program pemerintah yang terkait dengan penciptaan lapangan kerja.
3. Jejaring angkatan kerja bagi kaum muda memerlukan perhatian lebih besar: • Unsur-unsur jejaring belum sepenuhnya dimanfaatkan.
1. Kaum muda harus
mempertimbangkan empat faktor (majikan/pengusaha, pelaku bisnis, investor dan pemilik bisnis) untuk membuka peluang pekerjaan.
2. Kaum muda merasa bahwa pemerintah daerah belum sungguh-sungguh
menyediakan pekerjaan, karena keterbatasan jaringan yang
menghubungkan lembaga pemerintah, lembaga bisnis, perusahaan swasta dan non-swasta dengan sekolah dan perguruan tinggi.
3. Hal-hal yang harus dilakukan pemerintah: • Melakukan pemetaan
kebutuhan angkatan kerja melalui riset perguruan tinggi • Bekerjasama dengan
sektor swasta untuk memberikan informasi
1. Masalah lapangan kerja di Indonesia bermula dari pola pikir kebanyakan orang bahwa setiap orang harus meraih pendidikan yang tinggi, mengambil banyak kursus, mengirim surat lamaran, dan bekerja di perusahaan besar. 2. Kemampuan melihat
peluang atau mengambil inisiatif untuk menciptakan bidang pekerjaan yang baru telah menjadi sesuatu yang langka di kalangan kaum muda.
3. Motivasi menjadi sesuatu yang lain dapat dijadikan titik awal untuk
mendorong kewirausahaan di kalangan kaum muda. Hal ini dapat diperkuat dengan mempublikasikan contoh-contoh kaum muda (di bawah 30 tahun) yang berhasil mengelola usaha di sektor alternatif ini.
Konsultasi oleh Pemuda untuk Pemuda Surabaya, 13-14 Oktober 2003
Konsultasi oleh Pemuda untuk Pemuda DIY dan
Provinsi Jawa Tengah, Yogyakarta, 16-17 Oktober 2003
Konsultasi oleh Pemuda untuk Pemuda Provinsi Jawa
Barat, Banten dan Jakarta Jakarta, 18 November 2003
• Pemerintah harus membangun jejaring lapangan kerja yang kuat, khususnya bagi kaum muda.
4. Ada beberapa masalah di sisi pendidikan:
• Keluaran lembaga pendidikan sering dipandang tidak ’siap-kerja‘
• Peran pemerintah sebagai mediator dan fasilitator antara
lembaga pendidikan dan dunia usaha tidak berfungsi sebagaimana yang diharapkan. • Ketidaksesuaian antara pengetahuan yang dipelajari dan persyaratan yang dibutuhkan oleh dunia kerja membatasi peluang para pekerja baru. 5. Tidak mudah menanamkan jiwa kewirausahaan: • Orang memandang rendah status wirausahawan • Sulit untuk memulai
sebuah usaha dengan modal terbatas, tidak ada jaminan, dan tidak ada pinjaman
mengenai peluang kerja kepada para anak muda • Terus menerus
bekerjasama dengan organisasi kepemudaan, Ornop/LSM, dan lembaga-lembaga perguruan tinggi. • Terus meningkatkan
kemitraan bagi usaha-usaha kecil yang baru agar membuat usaha kecil bekerjasama dengan perguruan tinggi, departemen pemerintah terkait, serta usaha-usaha kecil dan menengah lainnya.
• Pemerintah perlu merancang kurikulum kewirausahaan yang diterapkan dalam kegiatan-kegiatan pelatihan dan bisnis untuk menyiapkan anak muda memulai usaha. • Dana yang dialokasikan
untuk membantu usaha kecil harus difokuskan pada pengembangan usaha. 4. Kaum muda tidak siap
menghadapi AFTA karena rendahnya keterampilan, kurangnya kompetensi bahasa asing, kurangnya semangat untuk maju, pengaruh buruk budaya dan lingkungan mereka. Beberapa upaya untuk mengatasi masalah ini termasuk:
4. Sangat dibutuhkan adanya peningkatan keterampilan generasi muda baik melalui pendidikan formal maupun informal
5. Keterampilan potensial yang dimiliki generasi muda di Indonesia tidak dimanfaatkan semaksimal mungkin karena
pemanfaatan otak mereka hanya kurang dari satu persen, dibandingkan dengan generasi muda di Jerman yang pemanfaatan otaknya mencapai tiga persen. Pemanfaatan otak kaum muda Indonesia dapat ditingkatkan sampai lima persen.
6. Generasi muda di Indonesia harus mempersiapkan diri mereka jika tidak ingin tertinggal di belakang. Generasi muda harus memperluas pikiran mereka, banyak membaca, berdiskusi dan bersosialisasi dengan orang lain, dan terus mencari alternatif-alternatif untuk mengatasi masalah-masalah lapangan kerja.
7. Pemerintah harus memainkan peran utama dalam melindungi KoPuP Surabaya KoPuP DIY dan
Provinsi Jawa Tengah
KoPuP Provinsi Jawa Barat, Banten dan Jakarta
6. Penerapan AFTA akan menghadirkan sebuah tantangan bagi semangat bersaing kaum muda Indonesia, karena
keterampilan, pengetahuan dan kemampuan mereka lebih rendah dibandingkan kaum muda yang berasal dari Malaysia, Singapura, Thailand dan Filipina.
• Pendidikan berbasis kompetensi
• Peningkatan kualitas dan kuantitas pelatihan bahasa asing.
• Memperkuat arti penting kompetensi bahasa asing yang dilakukan pemerintah. • Lingkungan keluarga yang
mendukung dalam mendidik anak-anak dari masa kanak-kanak sehingga mereka dapat memiliki kepribadian yang baik, dan IQ, EQ, serta SQ yang tinggi.
5. Harus ada proses sosialisasi program-program
pemerintah yang transparan sehingga kaum muda bisa mendapatkan informasi tentang peluang-peluang yang ditawarkan oleh program-program ini dan mengambil manfaat darinya.
penciptaan lapangan kerja bagi kaum muda, dan juga dalam menyediakan
pekerjaan dan kondisi kerja yang layak, dan tidak boleh mengekang hak-hak orang untuk mendapatkan pekerjaan melalui kebijakan-kebijakannya. 8. Perempuan menghadapi kesulitan dua kali lipat dibandingkan dengan laki-laki. Perempuan diberi prioritas lebih rendah, contohnya dalam hukum perkawinan, di mana perempuan hanya dipandang sebagai ibu rumah tangga, dan laki-laki sebagai pencari nafkah. Dalam hal tunjangan, seorang perempuan tidak mendapatkan tunjangan untuk anak dan suaminya, meskipun dia adalah kepala rumah tangga.
9. Inti persoalan dari masalah ini adalah:
• Tidak ada kebijakan yang mendukung perempuan pada tingkat penerapan;
• Perempuan memiliki beban ganda karena cara berpikir orang-orang; • Kebijakan yang ada saat
ini tidak mendukung generasi muda (terutama KoPuP Surabaya KoPuP DIY dan
Provinsi Jawa Tengah
KoPuP Provinsi Jawa Barat, Banten dan Jakarta
KoPuP Surabaya KoPuP DIY dan Provinsi Jawa Tengah
KoPuP Provinsi Jawa Barat, Banten dan Jakarta perempuan) untuk menjadi lebih maju. Budaya juga menyajikan lebih banyak rintangan bagi perempuan dalam mengatasi masalah lapangan kerja. Kontrol publik sangat
dibutuhkan dalam menciptakan kesetaraan peluang pekerjaan bagi perempuan.
10. Kualitas angkatan kerja Indonesia sangat rendah dibandingkan dengan negara-negara ASEAN lainnya, dan Indonesia juga termasuk dalam daftar dari negara-negara yang paling buruk dalam hal
perdagangan manusia dan perdagangan perempuan dan anak.
11. Indonesia tidak memiliki sebuah sistem untuk memberikan perhatian dan untuk mengasuh serta membimbing generasi muda. Organisasi-organisasi pemuda di Indonesia, seperti KNPI, hanya dipakai sebagai media politik, yakni untuk mengumpulkan kebutuhan generasi muda,
dibandingkan untuk mengasuh dan
membimbing mereka. Berlainan dengan Filipina,
KoPuP Surabaya KoPuP DIY dan Provinsi Jawa Tengah
KoPuP Provinsi Jawa Barat, Banten dan Jakarta di mana di sana mereka memiliki parlemen pemuda.
12. Dibutuhkan niatan politik yang sungguh-sungguh dari pemerintah dalam
mengatasi masalah yang ada, dan upaya-upaya yang sungguh-sungguh dalam mengasuh dan
membimbing generasi muda.
Empat ‘E’
Empat ‘E’Empat ‘E’
Empat ‘E’
Empat ‘E’
1. Karena keterbatasan mereka, keluarga bergantung pada sekolah untuk mendidik anak mereka, dan kadang-kadang
menyerahkan pendidikan anak-anak mereka pada masyarakat.
2. Sistem pendidikan telah mempersiapkan kaum muda untuk memenuhi permintaan yang muncul dalam dunia kerja dengan menyediakan program-program pelatihan kerja dan magang, tetapi seringkali program-program ini tidak cocok dengan kebutuhan dunia usaha karena informasi yang berkaitan dengan kebutuhan-kebutuhan ini tidak dapat diakses sepenuhnya.
3. Kurangnya kesempatan magang, dalam hal ini menyangkut jumlah mereka yang ikut serta, lamanya waktu yang dihabiskan, ataupun intensitas keterlibatan, dan juga kurangnya pengembangan kemampuan kreatif dari mereka yang magang.
4. Sebagai akibatnya, lembaga-lembaga
pendidikan non-formal, seperti mereka yang menawarkan kursus-kursus kejuruan — walaupun tidak semua lembaga ini dapat dianggap memberikan pelatihan berkualitas baik— menjadi salah satu cara untuk
menjembatani pengetahuan yang didapatkan di sekolah dengan tuntutan yang ada di dunia
1. Memperkuat jejaring yang melibatkan pemerintah, sektor swasta, lembaga pendidikan, ORNOP/LSM, dan keluarga, dengan cara membentuk program yang jelas yang memiliki sinergi.
2. Pemerintah harus bertekad menjadikan kemampuan untuk memperoleh pekerjaan sebagai prioritas utama mereka. Pemerintah dapat melakukan ini, misalnya dengan membuat sebuah sistem informasi yang dapat diakses, misalnya tentang lowongan
pekerjaan, dan program-program keluarga yang menginternalisasikan etika kerja. 3. Merevisi sistem pendidikan formal
sedemikian rupa sehingga dapat
menghasilkan keluaran yang dibutuhkan lapangan kerja, misalnya dengan
menyediakan program magang yang efektif. Hasil-hasil Diskusi Rekomendasi-rekomendasi