BAB II LANDASAN TEORI
B. Analisis Data …
13. Personifikasi
Gaya bahasa personifikasi ini merupakan gaya bahasa yang menggambarkan benda mati atau sesuatu selain manusia tetapi memiliki sifat-sifat kemanusiaan. Dalam kumpulan puisi Mata Pisau karya Sapardi Djoko Damono, penulis menemukan penggunaan gaya bahasa personifikasi pada 23 puisi.
a) Puisi “Hujan dalam Komposisi, 1”
Puisi “Hujan dalam Komposisi, 1” terdiri dari empat bait yang tiap baitnya menceritakan tentang hujan. Pada puisi tersebut ditemukan penggunaan gaya bahasa personifikasi yang fungsinya untuk menggambarkan keadaan dan suasana dan memberi efek yang lebih hidup dan nyata. Keadaan dan suasana yang digambarkan adalah hujan yang turun membasahi tanah dan menimpa daun-daun bugenvil di dekat jendela. Hal tersebut dilukiskan pada kutipan di bawah ini.
(68) “Apakah yang kau tangkap dari swara hujan, dari daun-daun bugenvil basah yang teratur mengetuk jendela? Apakah yang kautangkap dari bau tanah, dan ricik air yang turun di selokan?” 91
91 Ibid., h. 13
Kutipan di atas menggambarkan bahwa keadaan sedang hujan, untuk memberikan efek kepada pembaca penyair menggunakan gaya bahasa personifikasi yaitu “daun-daun bugenvil basah yang teratur mengetuk jendela”. Penyair memberikan gambaran atau imaji visual dan pendengaran melalui daun bugenvil yang teratur mengetuk jendela, seakan-akan daun-daun bugenvil tersebut sengaja mengetuk jendela. Kata mengetuk dan ricik air juga menghadirkan imaji suara atau pendengaran yang merangsang daya ingat pembaca tentang bunyi-bunyi tersebut dan membayangkan suara ketukan dan ricik air yang pernah didengarnya. Pada bait pertama ini penyair juga menempatkan tanda tanya yang tidak berjawab, yang menghadirkan efek bagi pembaca seakan-akan kata “kau” pada puisi tersebut adalah pembaca. Pembaca diajak untuk berpikir dan ikut merasakan suasana yang dihadirkan penyair dalam puisi tersebut. Pada bait kedua juga terdapat gaya bahasa personifikasi.
(69) “Ia membayangkan hubungan gaib antara tanah dan hujan, membayangkan rahasia daun basah serta ketukan yang berulang.” 92
Kata-kata “hubungan gaib antara tanah dan hujan” menandakan bahwa tanah dan hujan telah menjalin suatu hubungan (gaib) yang tidak diketahui oleh siapa pun, seakan-akan tanah dan hujan memiliki sifat seperti halnya manusia yang menjalin hubungan dalam kehidupannya. Pada bait kedua kata-kata “rahasia daun basah” juga mengungkapkan seakan-akan daun basah memiliki sifat seperti manusia yang memiliki rahasia yang disembunyikan dari orang-orang di sekitarnya. Personifikasi yang digunakan penyair menimbulkan efek bagi pembaca bahwa tanah, hujan, dan daun itu sama halnya seperti manusia, memiliki hubungan dan rahasia.
Pada bait ketiga terdapat kata-kata “bisik yang membersit dari titik air” dan “suku kata yang akan mengantarmu tidur” yang merupakan personifikasi. Kata “bisik” yang umumnya digunakan untuk manusia,
misalnya “seringkali terdengar bisik rayumu” tetapi di sisni penyair menggunakan kata “bisik” untuk “titik air” yang menghadirkan efek seakan-akan titik air itu berbisik seperti manusia, padahal titik air hanya menghasilkan bunyi yang tidak bermakna tidak seperti halnya kata-kata yang diucapkan manusia. Bentuk personifikasi yang berikutnya adalah kata “mengantar” yang diperuntukkan “suku kata” seolah-olah “suku kata” itu memiliki kemampuan seperti manusia manusia. Kata “mengantar” diperuntukkan manusia, misalnya “ibu mengantarku ke kamar untuk tidur”. Dari penggalan puisi tersebut, juga dapat ditemukan sebuah pesan kepada pembaca tentang arti hujan, menyimak dan merasakan suasana saat hujan turun mungkin dapat mengingatkan pembaca pada hal-hal lain. Hujan memang hanya air yang turun dari langin karena proses alam, tetapi belum tentu hanya berarti hujan, mungkin bagi beberapa orang hujan memiliki kesan atau makna tersendiri.
b) Puisi “Hujan dalam Komposisi, 2”
(70)“Mula-mula ia di udara tinggi, ringan dan bebas; lalu mengkristal dalam dingin; kemudian melayang jatuh ketika tercium bau bumi; dan menimpa pohon jambu itu, tergelincir dari daun-daun, melenting di atas genting, tumpah di pekarangan rumah, dan kemabli kebumi” 93
Puisi “Hujan dalam Komposisi, 2” ini terdiri dari tiga bait yang merupakan lanjutan dari “Hujan dalam Komposisi, 1” yang menceritakan tentang hujan. Gaya bahasa personifikasi terdapat pada bait pertama dan kedua, pada bait pertama penyair menggunakan kata ganti “ia” untuk hujan, sedangkan kata ganti tersebut diperuntukkan untuk orang/manusia. Penyair menggambarkan hujan seperti manusia “mula-mula ia di udara tinggi, ringan dan bebas” sama halnya dengan manusia yang bebas, tanpa beban dalam hidupnya. Runtutan kejadian yang ada dalam penggalan puisi tersebut juga merupakan
93 Ibid., h. 14
bentuk imaji visual yang dapat lihat melalui imaji pembaca dengan membayangkan kejadian dan suasana saat turun hujan.
(71)“...terus mericik sejak sore, mericik juga di malam gelap ini, bercakap tentang lautan.” 94
Pada bait kedua, penyair menggambarkan hujan yang mampu “bercakap tentang lautan” seolah-olah hujan seperti manusia yang mampu berbicara bahkan bercerita tentang lautan. Pada bait pertama dan kedua, penyair menggambarkan hujan seolah-olah hidup sama halnya dengan manusia, hujan juga memiliki kebebasan dan mampu bercerita tentang lautan tempat di mana air hujan bermuara. Dengan penggunaan gaya bahasa personifikasi ini penyair mengungkapkan imajinasinya kepada pembaca sehingga pembaca pun ikut membayangkan hujan yang turun dan suaranya yang mericik seakan-akan bercakap tentang lautan.
c) Puisi “Variasi pada Suatu Pagi”
(72)“sebermula adalah kabut; dan dalam kabut senandung lonceng, ketika selembar daun luruh, setengah bermimpi, menepi ke bumi, luput (kaudengarkah juga seperti Suara mengadu)” 95
Gaya bahasa personifikasi terdapat pada bait pertama dan kedua. Pada bait pertama, penyair menggambarkan daun yang luruh setengah bermimpi dan menepi ke bumi. Kata “bermimpi” dan “menepi” diperuntukkan daun, padahal daun adalah benda mati yang tidak mungkin bisa bermimpi seperti halnya manusia. Mimpi merupakan suatu hal yang terlihat atau dialami pada saat tidur dan tidur tidak mungkin dilakukan oleh daun melainkan oleh manusia. Kata “menepi” berasal dari kata dasar “tepi” yang artinya pinggir, jadi “menepi” artinya pergi ke pinggir atau merupakan kata aktif yang menggambarkan suatu kegiatan yang dilakukan oleh seseorang. Namun, kata “menepi” ini diperuntukan daun yang sifatnya diam atau
94 Ibid., h. 14 95 Ibid., h. 16
mati. Penyair menggambarkan daun seolah-olah memiliki kemampuan seperti manusia yang bisa bermimpi dan melakukan suatu kegiatan. Kata menepi juga memberikan efek puitis pada puisi tersebut karena memiliki kesamaan bunyi vokal /i/ dengan kata bermimpi dan bumi, sehingga menimbulkan kemerduan irama yang merdu saat dibacakan. Selain itu, menepi juga merupakan pilihan kata atau diksi yang menimbulkan keindahan bunyi, berbeda bila kata yang digunakan adalah jatuh, tentu akan mengurangi keindahan dan mempengaruhi makna puisi tersebut.
(73)“dan cahaya (yang membasuhmu pertama-tama)
bernyanyi bagi capung, kupu-kupu, dan bunga; Cahaya (yang menawarkan kicau burung) susut tiba-tiba
pada selembar daun tua, pelan terbakar, tanpa sisa” 96
Pada bait kedua, penyair menggambarkan cahaya seolah-olah memiliki sifat dan kemampuan seperti halnya manusia. Pada bait kedua ini terdapat kata “membasuhmu”, “bernyanyi”, dan „menawarkan‟ yang semuanya merupakan kata kerja aktif yang biasanya dilakukan oleh manusia, tetapi penyair menggunakan kata-kata tersebut untuk cahaya. Kata “membasuh” yang artinya membersihkan dengan menggunakan air, seharusnya tidak digunakan untuk cahaya karena itu bukan sifat cahaya, seharusnya menerangi atau menyinari. Namun, penyair menggunakan kata membasuh seolah-olah cahaya itu hidup dan membersihkan „mu lirik‟ dengan menggunakan air, seperti seorang ibu yang membasuh badan anaknya. Kata bernyanyi juga mengacu pada cahaya, penyair menggambarkan seolah-olah cahaya dapat mengeluarkan suara yang berirama layaknya manusia yang sedang bernyanyi. Kata “menawarkan kicau burung” yang seolah-olah cahaya dapat menawarkan kepada „mu lirik‟ tentang kicau burung untuk didengarkan. Sedangkan kata menawarkan menunjukkan suatu kegiatan yang biasanya dilakukan oleh manusia kepada manusia lain. Kata bernyanyi dan kicau burung juga
membangun imaji suara yang membuat pembaca membayangkan suara nyanyian dan kicau burung yang ada dalam ingatannya.
d) Puisi “Malam Itu Kami Di Sana”
(74)“kenapa kau bawa aku ke mari, saudara?”; sebuah stasiun di dasar malam. Bayang-bayang putih di sudut peron
menyusur bangku-bangku panjang; jarum-jarum jam tak letih-letihnya
meloncat, merapat ke Sepi.” 97
Gaya bahasa personifikasi pada puisi ini terdapat pada baris ketiga dan empat, jarum-jarum jam tak letih-letihnya meloncat penyair menggambarkan bahwa jarum jam yang merupakan benda mati tetapi bisa meloncat dan seolah-olah dapat merasakan keletihan seperti manusia yang dapat meloncat dengan kakinya dan merasa letih setelah melakukannya. Rasa letih hanya dirasakan oleh makhluk hidup seperti manusia, rasa letih ini terjadi bila manusia melakukan kegiatan yang menguras tenaganya, sama halnya dengan manusia penyair menggambarkan jarum-jarum jam itu seolah-olah memiliki rasa letih saat jarum jam itu meloncat (berputar) dari detik ke menit, dari menit ke jam. Penggunaan gaya bahasa personifikasi ini menghadirkan efek puitis dan memberi penekanan pada waktu yang terus berlalu. Efek puitis dapat dirasakan bila puisi tersebut dibacakan karena adanya pengulangan bunyi akhir /at/ pada kata meloncat dan merapat.
e) Puisi “Di Beranda Waktu Hujan”
(75)“(dan bukan siang yang bernafas dengan sengit, yang tiba-tiba mengeras di bawah matahari)” 98
Pada penggalan puisi tersebut, penyair menggambarkan “siang” seolah-olah memiliki kemampuan dan perasaan seperti manusia yang dapat bernafas dengan sengit. Penggunaan gaya bahasa personifikasi ini puitis dan penggambaran suasana yang kuat. Kata-kata “siang yang bernafas dengan sengit” menggambarkan suasana siang yang begitu panas. Penggunaan kata sengit pada penggalan puisi tersebut juga
97 Ibid., h. 18 98 Ibid., h. 19
mengandung arti emosional terkait rasa yang dihadirkanya pada pembaca. Kata sengit menggambarkan sikap penyair dalam melihat suatu obyek, yaitu matahari, sehingga pembaca juga merasakan sengit pada matahari di siang hari yang begitu panas.
f) Puisi “Ketika Berhenti Di Sini”
(76)“Beberapa patah kata yang segera dijemput angin begitu diucapkan, dan tak sampai ke siapa pun” 99
Pada penggalan puisi tersebut, penyair menggambarkan tentang kata-kata yang diucapkan tak didengar oleh siapa pun. Untuk membangun efek puitis, penyair menggunakan gaya bahasa personifikasi dengan menggunakan kata “dijemput angin”, di mana kata “dijemput” dari kata dasar jemput berarti sambut, undang.100 Penyair mengumpamakan “kata” seolah-olah seperti manusia yang dapat dijemput dan “angin” yang seolah-olah dapat menjemput kata hingga tak sampai pada siapa pun.
g) Puisi, “Lembah Manoa, Honolulu”
(77)“Mula-mula matahari pertama yang membimbing kita ke kaki bukit” 101
Pada penggalan puisi tersebut, penyair mengumpamakan matahari seolah-olah seperti manusia yang dapat membimbing. Penyair menggambarkan matahari pagi membimbing „kita lirik‟ menuju ke suatu bukit. Kata “membimbing” dari kata dasar bimbing yang berarti pimpin; asuh; tuntun, sedangkan membimbing berarti memegang tangan untuk menuntun; memimpin.102
h) Puisi “Taman Jepang, Honolulu”
(78)“jalan setapak yang berbelit, matahari yang berteduh di bawah bunga-bunga,” 103
99 Ibid., h. 20
100 Depdiknas, op. cit., h. 576 101 Sapardi, op. cit., h. 22 102 Depdiknas, op. cit., h. 193 103 Sapardi, op. cit., h. 23
Pada penggalan puisi tersebut, terdapat kata-kata yang mengungkapkan bahwa “matahri sedang berteduh” di bawah bunga-bunga. Kata berteduh dari kata dasar teduh yang mendapat imbuhan ber- menjadi berteduh memiliki arti berlindung (supaya jangan kehujanan atau kepanasan), bernaung.104 Kata berteduh merupakan suatu kegiatan yang biasa dilakukan oleh manusia untuk melindungi diri dari hujan atau panas, namun pada puisi tersebut penyair mengungkapkan matahari yang berteduh di bawah bunga-bunga seperti manusia yang berteduh di bawah pohon untuk menghindari panas. Ungkapan tersebut juga merupakan bentuk imaji atau citraan pengelihatan yang membuat pembaca membayangkan dalam pikirannya rupa bunga-bunga yang disinari cahaya matahari.
i) Puisi “New York, 1971”
(79) “Hafalkan namamu baik-baik di sini. Setelah baja dan semen yang mengatur langkah kita, lampu-lampu dan kaca.” 105
Pada penggalan puisi tersebut, kata-kata yang bergaris bawah menunjukkan penggunaan gaya bahasa personifikasi. Pada bagian puisi yang bergaris bawah, menggambarkan bahwa baja dan semen (yang berarti bangunan/gedung) dapat mengatur langkah seseorang (kita lirik). Sedangkan yang biasanya “mengatur” adalah manusia, pada puisi tersebut penyair menggambarkan bahwa “baja dan semen” memiliki kemampuan dan kekuasaan seperti manusia yang dapat mengatur sesuatu. Melalui penggunaan gaya bahasa personifikasi tersebut, penyair menghadirkan imaji pengelihatan dengan berusaha menggambarkan perkembangan dan perubahan kota New York yang semakin maju dan modern dengan pembangunan gedung-gedung yang mempengaruhi kehidupan orang-orang di dalamnya, agar pembaca juga dapat membayangkan perubahan kota New York dengan imajinasi yang dimiliki.
104 Depdiknas, op. cit., h. 1417 105 Sapardi, op. cit., h. 25
j) Puisi “Kartu Pos Bergambar: Jembatan “Golden Gate”, San Francisco”
(80) kabut yang likat dan kabut yang pupur lekat dan gerimis pada tiang-tiang jembatan matahari menggeliat dan kembali gugur tak lagi di langit! berpusing di pedih lautan106
Melalui penggunaan gaya bahasa personifikasi pada puisi tersebut, penyair menggambarkan matahari seolah-olah memiliki sifat seperti manusia yang suka menggeliat. Kata “menggeliat” memiliki arti meregang-regang serta menarik-narik tangan dan badan (seperti setelah bangun dari tidur).107 Penyair berusaha menghadirkan efek dan imaji yang kuat kepada pembaca, imaji visual mengenai matahari yang begitu lelahnya setelah sekian lama menyinari bumi dan akhirnya terbenam di lautan.
k) Puisi “Mata Pisau”
(81) mata pisau itu tak berkejap menatapmu; kau yang baru saja mengasahnya
berfikir: ia tajam untuk mengiris apel yang tersedia di atas meja
sehabis makan malam;
ia berkilat ketika terbayang olehnya urat lehermu.108
Pada baris terakhir puisi tersebut, penyair mengungkapkan seolah-olah pisau memiliki kemampuan seperti manusia yang bisa melihat atau membayangkan suatu hal dalam pikirannya. Kata “terbayang” berasal dari kata bayang yang mendapat imbuhan ter- sehingga menjadi terbayang yang memiliki arti seakan-akan tampak: wajah kekasihnya terbayang di pandangannya.109 Dalam puisi Mata Pisau, penyair menggambarkan sebuah pisau yang bisa melihat seolah-olah hidup seperti manusia ketika pisau yang sudah diasah oleh pemiliknya dapat membayangkan urat leher pemiliknya. Pada puisi Mata Pisau ini
106 Ibid., h. 27
107 Depdiknas, op. cit., h. 431 108 Sapardi, op. cit., h. 30 109 Depdiknas, op. cit., h. 152
dapat diketahui bahwa pusat pengisahan ada pada sebilah pisau, yang diceritakan oleh si pencerita yang berada di luar sajak.
l) Puisi “Berjalan Ke Barat Waktu Pagi Hari”
Dalam puisi ini, penyair menggunakan gaya bahasa personifikasi untuk membangun imaji pembaca tentang matahari yang seolah-olah hidup seperti manusia manusia. Hal tersebut digambarkan saat matahari mengikuti „aku lirik‟ yang sedang berjalan ke barat di waktu pagi dan ketika „aku lirik‟ mengungkapkan bahwa ia dan matahari tidak bertengkar tentang siapa yang menciptakan bayang-bayang.
(82) “waktu aku berjalan ke barat di waktu pagi matahari mengikutiku di belakang”
(83) “aku dan matahari tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang telah menciptakan bayang-bayang” 110
Pada baris terakhir puisi ini, sama halnya dengan penggambaran matahari, penyair juga menggambarkan “bayang-bayang” seolah-olah memiliki sifat kemanusia. Penyair menggambarkan seolah-olah aku lirik, matahari, dan bayang-bayang dapat berkomunikasi hingga akhirnya tidak terjadi pertengkaran di antara mereka.
(84) “aku dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa di antara kami yang harus berjalan di depan” 111
Dengan gaya bahasa personifikasi, penyair mengungkapkan hal-hal yang sederhana tetapi tetap puitis dan bermakna, misalnya gaya bahasa personifikasi yang terdapat pada baris terakhir puisi. Penyair mengungkapkan bahwa „aku lirik‟ dan bayang-bayang tidak bertengkar tentang siapa yang harus berjalan di depan, yang sesungguhnya di antara keduanya tidak ada yang mungkin bisa mendahului, tetapi penyair menghadirkan hal yang sederhana menjadi kompleks. Dari kutipan puisi tersebut juga terdapat imaji pengelihatan, yang akan mendorong pembaca membayangkan sebuah bayang-bayang dan pemilik bayang-bayang itu.
110 Sapardi, op. cit., h. 32 111 Ibid., h. 32
m) Puisi “Prometheus”
(85) “Ada saatnya selembar bulu yang lepas dari garuda itu memperhatikanmu ketika kau menatapnya” 112
Pada penggalan puisi tersebut, penyair menggambarkan “selembar bulu” dari burung garuda dapat memperhatikan seseorang yang sedang menatapnya seolah-olah bulu tersebut hidup seperti manusia. Melalui penggunaan gaya bahasa personifikasi ini, penyair membangun imaji pembaca tentang selembar bulu yang lepas dari garuda dapat memperhatikan seseorang yang sedang menatapnya yaitu „kau lirik‟, penggunaan gaya bahasa ini juga menghadirkan imaji visual yang membuat pembaca membayangkan bahwa ada selmbar bulu burung garuda yang lepas dan sedang memperhatikannya.
n) Puisi “Catatan Masa Kecil, 2”
(86) “Angin begitu ringan dan bisa meluncur ke mana pun dan bisa menggoda laut sehabis menggoda bunga tetapi ia bukan angin dan ia kesal lalu menyepak sebutir kerikil.” 113
Pada penggalan puisi tersebut, penyair menggambarkan angin yang begitu ringan dan bebas serta dapat menggoga bunga dan laut seperti manusia yang menggoda lawan jenisnya. Penyair menggambarka seolah-olah “angin” itu hidup seperti manusia dapat merasakan kebebasan dan dapat menggoda, penyair juga menggambarkan “laut” dan “bunga” seperti manusia yang bisa digoda. Hal tersebut juga ditunjukkan dengan kekesalan „ia lirik‟ yang dalam puisi ini adalah manusia, yang merasa kesal karena tidak seperti angin yang bebas dan bisa menggoda siapa saja. pada penggalan puisi tersebut juga terdapat imaji visual tentang angin yang seolah memiliki rupa atau betuk yang dapat dilihat ketika angin sedang meluncur ke sana- ke mari, yang menggoda bunga dan laut.
112 Ibid., h. 35
o) Puisi “Catatan Masa Kecil, 3”
Puisi ini lebih seperti cerita yang berisi tentang seorang anak yang terjaga sepanjang malam, melihat bintang-bintang dari jendela dan bertanya-tanya tentang alam semesta dan di luar alam semesta hingga pagi datang dan ibunya menyuruhnya tidur. Penggunaan gaya bahasa personifikasi pada puisi ini terdapat dalam dialog sang ibu yang memperingatkan anaknya untuk tidur.
(87) “biar kututup jendela ini kau tidurlah saja setelah semalam suntuk terjaga sedang udara malam jahat sekali perangainya”114
Pada penggalan puisi tersebut, penyair menggambarkan udara malam yang seolah-olah memiliki sifat atau watak seperti manusia dan dapat berpikir serta berbuat sesuatu. Penyair menggunakan kata “perangai” untuk menggambarkan udara malam, yang berarti sifat batin manusia yang mempengaruhi segenap pikiran dan perbuatan atau watak.115 Melalui penggunaan kata tersebut penyair membangun imaji visual pembaca tentang udara malam yang dapat berbuat jahat terhadap seseorang sehingga harus dihindari.
p) Puisi “Nokturno”
(88) “kubiarkan angin, yang pucat dan tak habis-habisnya gelisah, tiba-tiba menjelma isyarat, merebutmu”116
Pada penggalan puisi tersebut, gaya bahasa personifikasi digunakan untuk menggambarkan angin yang seolah-olah hidup seperti manusia. Penyair menggambarkan seolah-olah angin memiliki fisik dan perasaan seperti layaknya manusia. Kata “pucat” menggambarkan angin seolah-olah memiliki wajah yang sedang pucat dan menunjukkan kegelisahan, serta memiliki anggota tubuh yang seolah-olah memberi isyarat. Kata isyarat memiliki arti segala sesuaru (gerakan tangan, anggukan kepala, dsb) yang digunakan sebagai tanda atau alamat.117 Penggunaan gaya
114 Ibid., h. 39
115 Depdiknas, op. cit., h. 1052 116 Sapardi, op. cit., h. 43
bahasa personifikasi menghadirkan efek puitis dan imaji visual yang mendorong pembaca membayangkan rupa angin yang pucat dan gelisah.
q) Puisi “Sajak, 1”
(89) “hujan yang mengepung kita akan menidurkan kita dan menyelimuti kita dengan kain putih panjang lalu mengunci pintu kamar ini!” 118
Pada penggalan puisi tersebut, penyair menggambarkan seolah-olah hujan memiliki kemampuan seperti layaknya manusia yang dapat melakukan kegiatan atau bertindak. Dalam puisi tersebut, penyair menggambarkan hujan dapat menidurkan dan menyelimuti „kita lirik‟ serta dapat mengunci pintu kamar. Penggunaan gaya bahasa personifikasi ini, dapat membangun imaji pembaca dan menghadirkan efek puitis.
r) Puisi “Percakapan Malam Hujan”
Dalam puisi ini, penyair menggambarkan percakapan yang terjadi di malam hari antara “hujan” dengan “lampu jalan”. Hujan yang menyuruh lampu jalan untuk tidur dan biarkan hujan yang menjaga malam. Dan kemudian disahut oleh lampu jalan yang mengatakan bahwa hujan itu suka kelam, gaib, suara desah dan menyuruh hujan untuk tidak menggodanya tidur karena manusia suka terang.
(90) “Hujan yang mengenakan mantel, sepatu panjang, dan payung, berdiri di samping tiang listrik.
Katanya kepada lampu jalan. “Tutup matamu dan tidurlah. Biar kujaga malam.”
“Kau hujan memang suka serba kelam serba gaib serba suara desah; asalmu dari laut, langit, dan bumi; kembalilah, jangan menggodaku tidur. Aku sahabat manusia. Ia suka terang.”” 119
Pada baris pertama, penyair menggambarkan “hujan” seolah-olah seperti manusia yang dapat mengenakan mantel, sepatu, dan payung yang berdiri di samping sebbuah tiang listrik. Kemudian pada baris