BAB II TINJAUAN TEORITIS
C. Perspektif Dakwah Melalui Media
1. Pengetian Dakwah
ata dakwah berasal dari bahasa Arab, - - . Kata dakwah merupakan bentuk masdar dari kata kerja , madi sebagai mudhari yang berarti seruan, ajakan panggilan, undangan, doa dan semacamnya.15 Dalam konteks pengertian bahasa Al-Qur’an menunjukkan beberapa contoh penggunaan kata dakwah, antara lain dalam Q.S. Yusuf/12 : 33.
Terjemahnya:
Yusuf berkata: "Wahai Tuhanku, penjara lebih aku sukai dari pada memenuhi ajakan mereka kepadaku.16
Sementara pengertian dakwah secara teminologi dapat ditelusuri dari teks Al-Quran, antara lain; Q.S. Ali-Imran/3 : 104.
Terjemahnya: 15
Muliaty Amin, Teori-Teori Ilmu Dakwah (Cet. I, Makassar: Alauddin University Press, 2011), h. 1-2. Lihat juga Enjang AS, dan Aliyuddin, Dasar-Dasar ilmu Dakwah; Pendekatan Filosofis dan Praktis (Bandung; Widya Padjajaran, 2009), h. 3.
16
Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar; merekalah orang-orang yang beruntung.17
Berdasarkan ayat tersebut dipahami bahwa aktivitas dakwah merupakan upaya untuk mengajak manusia kepada jalan Allah secara menyeluruh, baik dengan lisan, tulisan, perbuatan sebagai ikhtiar seorang Muslim mengaplikasikan nilai-nilai ajaran Islam dalam realitas kehidupan individu, keluarga, dan masyarakat.
Dakwah secara terminologi, mengandung ragam pengertian. Pakar dibidang ilmu dakwah, memberi tafsiran yang beragam tentang apa yang dimaksud dakwah dalam segi operasional kegiatannya. Enjang dan Aliyuddin berpendapat;
Perbedaan yang terdapat pada setiap penjelasan para pakar dan cendikia itu, kelihatannya lebih pada aspek orientasi dan penekananan bentuk kegiatannya, bukan pada aspek esensinya.18
Menurut Moh Natsir, dakwah adalah tugas para muballigh untuk meneruskan risalah yang diterima dari Rasulullah saw. Sedangkan risalah adalah tugas yang dipikulkan kepada Rasulullah untuk menyampaikan wahyu Allah yang diterimanya kepada umat manusia. Ringkasnya menurut Natsir “Risalah merintis, sedangkan dakwah melanjutkan.19 Syekh Ali Mahfud memberi penegasan tentang hakikat (ontologi) dakwah, yaitu;
17
Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahannya, h. 93.
18
Enjang AS, dan Aliyuddin, Dasar-Dasar ilmu Dakwah, h. 5.
19
Khatib Pahlaman Kayo, Manajemen Dakwah; Dari Dakwah Konvensional Menuju Dakwah Profesional (Jakarta; Amzah, 2007), h. 25-26.
Sebagai upaya membangkitkan kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar supaya mereka mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.20
Dibandingkan dengan pendapat Syekh Ali Mahfudz di atas, Sayyid Qutb menjelaskan pengertian dakwah secara universal, dengan penegasan kalimat “dakwah adalah mengajak atau mendorong orang untuk masuk ke dalam sabilillah, bukan untuk mengikuti da’i atau bukan pula untuk mengikuti sekelompok orang”.21
2. Dakwah Melalui Media Massa
Dakwah dalam konteks prosesnya, dapat dilihat pada wilayah empiris yang tidak terlepas dari penggunaan sarana atau media tertentu yang digunakan oleh para da’i (komunikator) atau organisasi tertentu. Media sebagai komponen dakwah yang dimaksud adalah dalam segala bentuknya, misalnya, media cetak surat kabar, radio, majalah, dan media online yang dapat dimanfaatkan sebagai media dakwah.
Dengan demikian keberadaan media massa dapat dimanfaatkan sebagai media komunikasi dakwah. Dalam hal ini, program dakwah melalui media massa dipandang sebagai salah satu bagian dari bentuk kegiatan dakwah, atau juga berarti dakwah dilihat sebagai kegiatan komunikasi. Letak persamaan antara proses dakwah dan proses komunikasi dijelaskan sebagai berikut.
Dakwah menekankan pada proses pemberian motivasi untuk melaksanakan pasan dakwah atau ajaran Islam. Berdasarkan definisi yang disampaikan oleh Ali
20
Enjang AS, dan Aliyuddin, Dasar-Dasar ilmu Dakwah, h. 6-16.
21
Mahfudz di awal pembahasan,22 setidaknya unsur dan proses dakwah yaitu pesan, dai, metode, mad’u, dan tujuan.
Unsur dakwah tersebut menunjukkan dan memberikan sebuah pemahaman bahwa dakwah memiliki urutan dan unsur atau komponen yang terdiri dari da’i, pesan, metode, mad’u dan tujuan yang akan dicapai. Unsur-unsur itu merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Tetapi bila dibedakan berdasarkan proses dakwah secara liniear, maka hal itu menyerupai model komunikasi Harold D. Lasswell, who, what, channel, whom, effect atau model komunikasi yang mencakup
source, message, channel, receiver and effect.23
Istilah komunikasi sendiri (communication) berasal dari bahasa latin, yaitu
communicatio yang berarti pemberitahuan atau pertukaran. Kata sifatnya communis,
yang bermakna umum atau bersama-sama. Onong Uchjana mengemukakan bahwa komunikasi adalah proses penyampaian pesan oleh seseorang kepada orang lain, dengan tujuan memberi tahu atau untuk mengubah sikap, pendapat, atau perilaku, baik langsung secara lisan, maupun tidak langsung melalui media tertentu.24
Dakwah demikian halnya komunikasi identik dalam konteks maknanya sebagai komunikasi manusia. Namun keduanya memiliki dimensi-dimensi dan model-model yang beragam, meliputi keseluruhan aktivitas komunikasi manusia (human communication) bahkan komunikasi transenden (meta communication).
22
Enjang AS, dan Aliyuddin, Dasar-Dasar ilmu Dakwah, h. 6.
23
Wiryanto, Pengantar Ilmu Komunikasi (Cet. 3. Jakarta: Grasindo, 2006), h. 17.
24
Namun, yang menjadi pokok dalam bahasan ini adalah bagaimana tujuan yang terkandung dalam suatu komunikasi atau dakwah.
Tujuan komunikasi yang dimaksud yaitu, memberi tahu atau untuk mengubah sikap (attitude), pendapat (opinion), atau perilaku (behavior). Jika ditransformasikan ke dalam konteks komunikasi dakwah, maka hal itu merupakan bagian dari tujuan dakwah. Hal ini misalnya tertuang dalam definisi dakwah yang dikemukakan oleh Syekh Ali Mahfudz dan Rusydi Hamka, bahwa dakwah adalah upaya membangkitkan kesadaran manusia di atas kebaikan dan bimbingan, menyuruh berbuat ma’ruf dan mencegah perbuatan munkar supaya manusia mendapat kebahagiaan dunia dan akhirat.25
Kemudian dakwah juga merupakan kegiatan penyampaian petunjuk Allah kepada seseorang atau sekelompok masyarakat, agar terjadi perubahan pengertian, cara berpikir, pandangan hidup, dan keyakinan, perbuatan, sikap, tingkah laku, maupun tata nilainya, yang pada gilirannya akan mengubah tatanan masyarakat dalam proses yang dinamik.26
Dalam tataran realitas, proses dakwah lebih menekankan pada pengorganisasian dan pemberdayaan sumber daya manusia (khalayak dakwah) dalam melakukan berbagai petunjuk ajaran Islam (pesan dakwah), menegakkan norma sosial budaya (ma’ruf) dan membebaskan kehidupan manusia dari berbagai penyakit sosial (munkar). Hal ini dikemukakan oleh Sayyid Mutawakil sebagaimana dikutip oleh
25
Enjang AS, dan Aliyuddin, Dasar-Dasar ilmu Dakwah, h. 6.
26
RB. Khatib Pahlawan Kayo, Manajemen Dakwah; Dari Dakwah Konvensional Menuju Dakwah Profesional (Jakarta: Amzah, 2007), h. 25-26.
Khatib Pahlawan, yaitu mengorganisasikan kehidupan manusia dalam menjalankan kebaikan, menunjukkannya ke jalan yang benar dengan menegakkan norma sosial budaya dan menghindarkannya dari penyakit sosial.27
Proses dakwah tersebut lebih menekankan pada sistem dalam menjelaskan kebenaran, kebaikan, petunjuk ajaran, menganalisis tantangan problema kebatilan dengan berbagai macam pendekatan, termasuk pendekatan terhadap metode media agar mad’u mendapatkan keselamatan dan kebahagiaan hidup di dunia dan di akhirat. Dalam hubungan inilah dakwah dapat dielaborasi ke dalam sistem atau mekanisme media massa, pada khususnya media penyiaran televisi.
Umat Islam diharapkan bukan hanya sebagai konsumen media massa. Pada gilirannya umat Islam harus mampu pula sebagai produsen, sehingga pengendalian informasi dapat dilakukan ke arah yang positif. Peranan umat Islam dalam hal ini amat menentukan masa depan peradaban. Dengan berbagai cara serta metode umat Islam harus dapat menguasai teknologi informasi dengan baik, karena jika tidak maka umat Islam hanya akan menjadi korban dari dampak negatif produk media.
D. Pendekatan Teori Framing
1. Pengertian Framing
Analisis framing merupakan versi terbaru dari pendekatan analisis wacana, khususnya untuk menganalisis teks media. Gagasan mengenai framing, pertama kali dilontarkan oleh Beterson. Mulanya, frame dimaknai sebagai struktur konseptual atau
27
perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan politik, kebijakan, dan wacana, serta yang menyediakan katagori-kategori standar untuk mengapresiasi realitas. Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Erving Goffman pada 1974, yang mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku (strips of behavior) yang membimbing individu dalam membaca realitas.28
Konsep framing telah digunakan secara luas dalam literatur ilmu komunikasi untuk menggambarkan proses penseleksian dan penyorotan aspek-aspek khusus sebuah realita oleh media. Menurut Sudibyo, konsep tentang framing atau frame
sendiri bukan murni konsep ilmu komunikasi, akan tetapi dipinjam dari ilmu kognitif (psikologis). Dalam praktiknya, analisis framing juga membuka peluang bagi implementasi konsep-konsep sosiologis, politis, dan kultural untuk menganalisis berdasarkan konteks sosiologis, politis, atau kultural yang melingkupinya.29
Dalam perspektif komunikasi massa, analisis framing dipakai untuk membedah cara-cara atau ideologi media saat mengkontruksi fakta. Analisis ini mencermati strategi seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta dalam berita agar lebih bermakna, lebih menarik, lebih berarti atau lebih diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai perspektifnya.
Nugroho, Eriyanto dan Surdiasis, mengatakan bahwa framing adalah pendekatan untuk mengetahui bagaimana perpektif atau cara pandang yang
28
Alex Sobur, Analisis Teks Media; Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing (Cet. 5; Bandung: Remaja Rosdakarya. 2006) h. 161. Lihat juga Aswad Ishak, dkk, Mix Metodologi Dalam Penulisan Komunikasi (Cet. 1; Yogyakarta: Asosiasi Pendidikan Tinggi Ilmu Komunikasi, 2011), h. 119-134, dan Eriyanto, Analisis Framing, h. 15.
29
digunakan oleh wartawan ketika menyeleksi isu dan menulis berita. Cara pandang atau perspektif itu pada akhirnya menentukan fakta apa yang diambil, bagian mana yang dihilangkan dan ditonjolkan, serta dibawa kemana berita tersebut.30
Gamson dan Modigliani menyebut cara pandang itu sebagai kemasan (package) yang mengandung konstruksi makna atas peristiwa yang akan diberitakan. Menurut mereka, frame adalah cara bercerita atau gugusan ide-ide yang terorganisir sedemikian rupa dan menghadirkan kontruksi makna peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengan objek suatu wacana.31
Menurut Erving Goffman, secara sosiologis konsep frame analisis memelihara kelangsungan kebiasaan mengklasifikasi, mengorganisasi, dan menginterpretasi secara aktif pengalaman-pengalaman hidup untuk dapat memahaminya. Schemata Interpretation itu disebut frames, yang memungkinkan individu dapat melokalisasi, merasakan, mengidentifikasi, dan memberi label terhadap peristiwa-peristiwa serta informasi.32
Dengan konsep yang sama Gitlin mendefinisikan frame sebagai seleksi, penegasan, dan ekslusi yang ketat. Ia menghubungkan konsep tersebut dengan proses memproduksi wacana berita dengan mengatakan, Frames memungkinkan para jurnalis memproses sejumlah besar informasi secara cepat dan rutin, sekaligus mengemas informasi demi penyiaran efesien kepada khalayak. Konsepsi framing dari
30
Alex Sobur, Alex Sobur, Analisis Teks Media, h. 169.
31
Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. (Yogyakarta: LKiS Yogyakarta, 2002), h. 21.
32
para konstruksionis dalam literatur sosiologi ini memperkuat asumsi mengenai proses kognitif individual-penstrukturan representasi kognitif dan dan teori pengendalian informasi-dalam psikologi.
Entman dalam kutipan Eriyanto dan Sobur, melihat framing dalam dua dimensi besar, yakni seleksi isu dan penekanan atau penonjolan-penonjolan aspek-aspek realitas. Kedua faktor ini dapat lebih mempertajam framing berita melalui proses seleksi isu yang layak ditampilkan dan penekanan isi beritanya. Perspektif wartawanlah yang akan menentukan fakta yang dipilihnya, ditonjolkannya, dan dibuangnya. Di balik semua ini, pengambilan keputusan mengenai sisi mana yang ditonjolkan tentu melibatkan nilai dan ideologi para wartawan yang terlibat dalam proses produksi sebuah berita.33
Penonjolan, seperti yang disinggung di muka, merupakan proses sebuah informasi menjadi lebih bermakna. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mencolok sudah barang tentu punya peluang besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam memahami realitas.
Karena itu dalam praktiknya, framing dijalankan oleh media dengan menyeleksi isu tertentu dan mengabaikan isu lain; serta menonjolkan aspek isu tersebut dengan menggunakan berbagai strategi wacana-penempatan yang mencolok (menempatkan di headline, halaman depan atau bagian belakang), pengulangan, pemakaian grafis untuk mendukung dan memperkuat penonjolan, pemakaian label tertentu ketika menggambarkan orang atau peristiwa yang diberitakan.
33
Pada dasarnya, pola penonjolan tersebut tidak dimaknai sebagai bias, tetapi secara ideologis sebagai strategi wacana, atau upaya menyuguhkan pada publik pada pandangan tertentu agar pandangannya lebih diterima.
G.J. Aditjondro mendefenisikan framing sebagai metode penyajian realitas di mana kebenaran tentang suatu kejadian tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja, dengan menggunakan istilah-istilah yang punya konotasi tertentu, dan dengan bantuan foto, karikatur, dan alat ilustrasi lainnya.34
Salah satu yang menjadi prinsip analisis framing adalah bahwa wartawan menerapkan standar kebenaran, matriks objektivitas, serta batasan-batasan tertentu dalam mengolah dan menyuguhkan berita. Dalam merekonstruksi suatu realitas, wartawan juga cenderung menyertakan pengalaman serta pengetahuannya yang sudah mengkristal menjadi skemata interpretasi (schemata of interpretation). Dengan skemata ini pula wartawan cenderung membatasi atau menyeleksi sumber berita, menafsirkan komentar-komentar berita, serta memberi porsi yang berbeda terhadap tafsir atau perspektif yang muncul dalam wacana media.
2 Framing Analysis Model Robert Entman
Menurut Robert Entman, framing dalam berita dibingkai dengan empat cara sebagaimana berikut:
a. Identifikasi masalah (problem identification), yaitu peristiwa dilihat sebagai apa dan dengan nilai positif atau negatif apa.
34
b. Identifikasi penyebab masalah (causal interpretation), yaitu siapa yang dianggap penyebab masalah.
c. Evaluasi moral (moral evaluation), yaitu penilaian atas penyebab masalah. d. Saran penanggulangan masalah (treatment recommendation), yaitu
menawarkan suatu cara penanganan masalah dan kadang memprediksikan hasilnya.35
Gambar 2.1
Skema Framing Robert Entman36
Entman melihat framing dalam dua dimensi besar, yaitu seleksi isu dan penekanan atau penonjolan aspek-aspek realitas. Kedua faktor ini dapat lebih mempertajam framing berita melalui proses seleksi isu yang layak ditampilkan dan penekanan isi beritanya. Perspektif wartawanlah yang akan menentukan fakta yang dipilihnya, ditonjolkannya, dan dibuangnya. Dibalik semua ini, pengambilan
35
Eriyanto, Analisis Framing, h. 178.
36
Sumber gambar: Eriyanto, Analisis Framing; Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media. Yogyakarta, LKiS, 2005 Mass Media Causal interpretation Problem Identification Treatment Moral Evaluation
keputusan mengenai sisi mana yang ditonjolkan tentu melibatkan nilai dan ideologi para wartawan yang terlibat dalam proses produksi sebuah berita.37
Framing, kata Entman, memiliki implikasi penting bagi komunikasi politik.
Frames menurutnya, menuntut perhatian terhadap beberapa aspek dari realitas dengan mengabaikan elemen-elemen lainnya yang memungkinkan khalayak memiliki reaksi berbeda. Framing memainkan peran utama dalam mendesakkan kekuasaan politik, dan frame dalam teks berita merupakan kekuasaan yang tercetak, menunjukan identitas para aktor atau interest yang berkompetisi untuk mendominasi teks.
Namun Entman menyayangkan, banyak teks berita dalam merefleksikan permaianan kekuasaan dan batas wacana atas sebuah isu, memperlihatkan homogenitas framing pada satu tingkat analisis, dan belum mempersaingkannya dengan framing lainnya. Konsep framing, dalam pandangan Entman, secara konsisten menawarkan sebuah cara untuk mengungkap the power of a communication text.
Framing analisis dapat menjelaskan dengan cara yang tepat pengaruh atas kesadaran manusia yang didesak oleh transfer (atau komunikasi) informasi dari sebuah lokasi, seperti pidato, ucapan/ungkapan, news report, atau novel.
37
31