• Tidak ada hasil yang ditemukan

5 Produksi Hablur (Ton) 2217794 2307027 24481342 2703976 262

II TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Perspektif Industri Gula Dunia

Periode tahun 2004-2005 merupakan periode yang cukup

menggembirakan industri gula dunia, khususnya dari sisi produsen. Pada periode tersebut, rata-rata harga gula mencapai US$ 261,92./ton untuk gula putih (white

sugar) dan US$193,78/ton untuk gula mentah (Raw Sugar), atau meningkat

sekitar 9,8 persen untuk gula putih dan 24 persen untuk gula mentah dari rata-rata harga tahun 2003-2004. Hal ini disebabkan pada periode 2004-2005, untuk kedua kalinya pasar gula dunia kembali mengalami defisit sekitar 3 juta ton. Pada periode 2004-2005, produksi gula dunia mencapai 142,5 juta ton atau meningkat sekitar 1 persen dari periode sebelumnya. Disisi lain, konsumsi meningkat lebih pesat yaitu 1,3 persen, dari 143,3 juta ton pada tahun 2004 menjadi 145,1 juta ton pada tahun 2005 (FAO, 2008).

Peningkatan produksi gula dunia kembali dipimpin oleh Brazil sebagai negara produsen terbesar. Pada periode 2005-2006, produksi gula Brazil diperkirakan mencapai 30 juta ton atau meningkat sekitar 3,5 persen bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya. Kondisi iklim yang baik merupakan salah satu faktor pendukung peningkatan produksi tersebut. Kondisi iklim yang baik juga terjadi di Meksiko sehingga negara tersebut diperkirakan akan mengalami peningkatan produksi dengan volume produksi sekitar 6.1 juta ton. Setelah mengalami penurunan produksi selama dua tahun, India diperkirakan akan mengalami proses pemulihan sehingga produksi diperkirakan kembali meningkat, mencapai 18.5 juta ton pada tahun 2005-2006. Peningkatan tersebut terkait dengan perluasan areal sebagai akibat harga gula yang cukup tinggi pada periode 2004-2005. China sebagai salah satu produsen besar juga diperkirakan akan mengalami peningkatan produksi cukup signifikan (6 persen) sehingga produksinya diperkirakan mencapai sekitar 10,7 juta ton pada tahun 2005/06 (Susila, 2008)

Kendati secara agregat produksi gula dunia meningkat, namun ada beberapa negara yang mengalami penurunan produksi, khususnya di negara- negara produsen gula di Eropa Barat (EU). Meski didukung cuaca baik dan peningkatan produktivtas, produksi gula di Eropa Barat (EU) diproyeksikan menurun menjadi sekitar 2,7 persen atau menjadi sekitar 20 juta ton, karena penurunan luas areal. Penurunan ini tampaknya merupakan respon produsen terhadap perubahan regim kebijakan pergulaan di negara tersebut, yang diperkirakan akan efektif pada tahun 2006-2007. Dengan kebijakan tersebut, dukungan harga gula akan diturunkan sebesar 36 persen, walau negara-negara produsen gula di Uni Eropa mendapat paket kompensasi sebesar 64,2 persen dari

penurunan harga tersebut, dalam bentuk decoupled payment, yang dikaitkan

dengan lingkungan dan standar pengelolaan lahan. Australia juga diperkirakan mengalami penurunan produksi menjadi 5,3 juta ton atau sekitar 3,5 persen. Hal ini diduga berkaitan dengan restrukturisasi industri gula Australia yang menyiapkan dana sekitar AUS$ 444 juta paket program pada tahun 2004, termasuk AUS$ 96 juta untuk petani yang tidak efisien agar dapat keluar dari industri gula (FAO, 2008).

Negara-negara eksportir gula seperti Brazil dan Cuba diperkirakan mengalami penurunan produksi dengan tingkat produksi turun menjadi 1,3 juta ton. Penurunan produksi tersebut disebabkan oleh kemarau yang parah ketika musim tanam serta kebijakan restrukturisasi industri gula di negara tersebut. Kebijakan diversifikasi produk dari gula ke beberapa komoditi seperti buah- buahan tropis, umbi-umbian, dan peternakan merupakan penyebab penurunan produksi gula di negara tersebut. Afrika secara agregat juga mengalami penurunan produksi sekitar 4 persen dengan volume produksi tahun 2005-2006 diperkirakan mencapai 5 juta ton. Beberapa negara Afrika yang mengalami penurunan produksi adalah Swazilan, Kenya, dan Malawi. Thailand kembali diperkirakan akan mengalami penurunan produksi sebagai akibat kemarau yang dihadapi negara tersebut. Produksi Thailand pada tahun 2005-2006 hanya sekitar 4,6 juta ton, atau mengalami penurunan sebesar 16% dibandingkan dengan periode sebelumnya. Amerika sebagai salah satu produsen utama, produksinya diperkirakan relatif stabil pada kisaran 7,9 juta ton (Susila at al. 2008).

Berdasarkan data UNDP (2010), produksi gula dunia (dalam bentuk gula mentah) diperkirakan meningkat sebesar 1,7 persen per tahunnya antara tahun 2000 sampai 2010. Jumlah total produksi gula dunia diperkirakan mencapai 161 juta ton pada tahun 2008, dan mengalami peningkatan menjadi 163 juta ton pada

periode 2009 – 2010, atau mengalami peningkatan sebesar 1,1 persen. Lebih dari

50 persen dari produksi gula dunia dihasilkan oleh negara-negara berkembang. Brazil, Australia dan Thailand telah menunjukkan sebagai tiga besar negara produsen gula yang memproduksi gula dengan biaya rendah dan sangat efisien diantara produsen gula dunia lainnya. Pada Tabel 2 berikut disajikan tujuh negara produsen besar gula dunia.

Tabel 2. Produksi Gula Tujuh Negara Produsen Utama Gula Dunia Tahun 2005

No Negara Produsen Gula Produksi (Juta Ton)

1 Brazilia 28,13 2 India 21,70 3 China 15,22 4 Meksiko 5,62 5 Australia 5,39 6 Thailand 4,59 7 Pakistan 2,84 Total Produksi 83,49

Total Produksi Dunia 141,31

Prosentase Terhadap Produksi Dunia 59

Sumber : UNDP (2010)

Pada tahun 2008, Brazilia, India dan China merupakan tiga negara produsen gula terbesar dunia yang sangat terkonsolidasi (Gambar 1). Brazilia sendiri menghasilkan hampir sepertiga dari total produksi gula dunia, sementara India, China dan Meksiko sebagian besar produksi gulanya untuk memenuhi kebutuhan domestiknya. Hal penting untuk diperhatikan dari tabel 4 berikut adalah bahwa negara-negara yang memiliki volume produksi tertinggi, ternyata tidak selalu berarti memiliki tingkat produktivitas yang tinggi juga. Colombia, Guetemala dan

Australia adalah tiga negara dari sepuluh negara produsen utama gula yang memiliki produktivitas tertinggi.

Gambar 1. Produksi Tebu dan Produktivitas sepuluh Negara Produsen Gula Dunia (FAO, 2008)

Dalam kaitannya dengan produktivitas lahan, industri gula Filipina memiliki efisiensi lebih rendah dibandingkan negara-negara produsen yang menjadi pesaing negara ini, sebagai contoh produktivitas lahannya hanya menghasilkan 58,06 ton per hektarnya yang berarti 25 persen lebih rendah dari usahatani tebu di Brazilia. Kemudian terkait dengan tingkat pengembalian

keuntungan (return on investment), Philippina memiliki tingkat pengembalian

rata-rata sebesar 10 persen, sementara Brazilia mencapai tingkat pengembalian investasi sebesar 15,6 persen. Hal tersebut berarti industri gula di Brazilia lebih efisien 32 persen dibandingkan industri gula di Filipina (Tabel 3).

Tabel 3. Produktivitas dan Tingkat Pengembalian Investasi Pada Negara Produsen Gula

No Negara Produsen Gula Produktivitas Lahan (Ton / Hektar) Tingkat Pengembalian Investasi (%) 1 Brazil 77,63 14,6 2 Colombia 75,28 11,5 3 India 72,56 10 4 Indonesia 62,52 8 5 Mauritius 64,91 10,3 6 Filipina 58,06 10 7 Thailand 63,71 10,8

Sumber : Pakisama, Inc (2010)