• Tidak ada hasil yang ditemukan

18 Lokasi Kerja

4.1. Perspektif psikologis atas pengalaman PRT sehari-hari

Berikut ini akan dijelaskan masing-masing dari tiga hal kritikal dalam perspektif psikologis yang dialami para pekerja domestik dalam menjalankan pekerjaannya.

4.1.1. Permasalahan Psikologis

Dari beberapa informan dalam penelitian ini diketahui bahwa para PRT rentan mengalami tekanan psikologis yang sifatnya berulang. Perilaku marah, memberi kata-kata makian atau label serta kekerasan dalam bentuk verbal oleh majikan merupakan contoh perilaku yang dialami PRT dalam menjalankan pekerjaannya sehari-hari, seperti tergambar dalam kutipan berikut ini :

...galak, kalo ketemu pasti marah gitu. Kalo ada salah sedikit dia marah. Saya dikatain f*ck you, dikatain st*pid. Ya saya cuman nangis doang gitu terus (Sonia, Apartemen, Live-out)

… Pernah sih ya, kalau misalnya dibentak gitu…ini kan kesalahan saya. Cuman, cara penyampaian bos ke saya, saya menganggapnya itu terlalu kasar. Itu bikin sakit hati. Contohnya kurang menuang air ke botol, menurut majikan botolnya kurang steril. Buat dia [majikan] itu merupakan kesalahan besar. [Rina, Apartemen, Live-out)

Adanya perilaku marah dan kekerasan verbal yang dilakukan majikan menunjukkan bahwa posisi kerja PRT berada pada situasi yang rentan dan memiliki potensi yang besar untuk mendapat perlakuan berupa tekanan psikologis. Ketika PRT tidak menampilkan kinerja sesuai dengan harapan majikannya maka kecenderungan untuk memeroleh tindakan kekerasan dalam bentuk verbal semakin besar. Tindakan kekerasan dalam bentuk verbal ini mendapatkan respons yang beragam dari PRT, namun secara umum PRT informan merasa sakit hati, dihina, dilecehkan dan direndahkan.

PRT yang cukup sering mengalami konflik dengan majikan karena belum mampu sepenuhnya menjawab dan memuaskan harapan majikan, potensi untuk memperoleh perilaku yang menimbulkan tekanan psikologis semakin besar. Potensi masalah psikologi yang

dapat ditimbulkan pun semakin beragam dan lebih kompleks. Dengan diketahuinya bentuk perilaku menekan bahkan agresif yang diterima PRT yang dilakukan oleh majikan, dapat dilakukan identifikasi sejak awal terkait masalah yang dapat timbul dan strategi pencegahan ataupun penanganan masalah sehingga PRT tidak mengalami resiko permasalahan psikologis yang lebih ekstrim.

4.1.2. Dampak Psikologis yang Dirasakan Pekerja Domestik

Adanya perilaku yang menekan dengan unsur kekerasan verbal yang dialami PRT dalam menjalankan pekerjaannya maka menjadi penting untuk mengidentifikasi dampak psikologis yang dirasakan oleh PRT tersebut. Ketika PRT rentan mengalami tindakan menekan dan kekerasan verbal dalam menjalankan pekerjaannya maka harapan untuk dapat mencapai kesejahteraan psikologis menjadi sulit untuk dapat dicapai.

Kekerasan merupakan tindakan yang disengaja yang mengakibatkan cidera fisik atau tekanan mental (Carpenito dalam Faridy, 2015). Bila dikaitkan dengan bentuk tindakan kekerasan dalam bentuk verbal maka bentuk kekerasan verbal dapat berdampak tidak hanya pada ranah psikologis namun juga aspek emosional individu. Dampak dari kekerasaan verbal dapat mengakibatkan individu jadi belajar untuk mengucapkan kata-kata kasar, tidak menghormati orang lain dan juga bisa menyebabkan pribadi yang rendah diri (Faridy, 2015).

Dampak psikologis yang dirasakan oleh PRT dengan adanya perilaku menekan dan tindakan kekerasan verbal dari pemberi kerja (users/majikan) adalah munculnya stress, perasaan bersalah (guilty feeling), dan perasaan takut untuk berinteraksi dengan majikan (fear

to interact). Lebih lanjut akan dipaparkan tentang stress, guilty feeling, dan fear sekaligus

faktor dampak yang dapat timbul dari ketiga hal yang dirasakan oleh PRT atas diterimanya perilaku menekan dan tindakan kekerasan selama bekerja.

a. Stress

King (2010) menjelaskan bahwa stres merupakan respon individu terhadap stressor yaitu lingkungan atau yang sifatnya mengancam mereka dan membebani kemampuan coping individu. Selye (dalam King, 2010) juga menjelaskan bahwa stress sebagai kerusakan pada tubuh yang dikarenakan tuntutan yang diberikan pada individu. Gejala stres yang umumnya dirasakan oleh individu adalah kehilangan selera makan, kelemahan otot, dan menurunnya minat pada dunia. Apabila individu sering memikirkan dan secara intens berinteraksi dengan sumber stressor-nya maka dapat menimbulkan stres yang terus menerus dimana berakibat pada penggugahan sistem saraf otonom dan tingkat testosteron dalam otak. Pada situasi ini individu mengalami stres yang disebut dengan stres kronik. Sapolsky (dalam King, 2010) menjelaskan bahwa bila otak manusia 'diguyur' testosteron dalam waktu yang lama maka testosteron yang membantu dalam reaksi stres akut akan menjadi berbahaya bagi individu. Tingkat kortisol yang tinggi secara kronis di dalam otak berakibat pada penuaan otak (Sapolsky, 2004). Apabila tubuh individu tidak pernah berhenti bereaksi terhadap stres, fungsi pemeliharaan tidak terjadi dan tubuh pun mulai rusak.

Bila dilihat pada stres yang dialami PRT dengan kejadian yang berulang atau repetitif maka potensi untuk timbulnya stres kronis bahkan akut menjadi kuat. Meski saat ini data yang diperoleh belum sepenuhnya memaparkan tingkat atau level stres yang dirasakan namun interaksi PRT yang repetitif dan intens terhadap stressor-nya akan semakin meningkatkan masalah yang ditimbulkan oleh perilaku menekan dan kekerasan yang dilakukan oleh majikan. Stress dalam tingkatan akut memengaruhi kemampuan individu untuk mengatasi permasalahannya dengan efektif. Ketika individu tidak lagi mampu mengatasi stress yang dirasakan maka berdampak pada pada kehidupan PRT itu sendiri dimana PRT mengalami hambatan menjalankan perannya sebagai individu untuk beradaptasi dengan tuntutan lingkungan.

b. Perasaan Bersalah (guilty feeling)

Perasaan bersalah merupakan salah satu perasaan yang dimiliki individu ketika individu menyadari telah menampilkan perilaku yang tidak sesuai dengan yang diharapkan oleh lingkungannya, dan disadari oleh individu dengan adanya teguran ataupun stimulus dalam bentuk yang lain, dalam hal ini stimulus berupa teguran dapat diartikan sebagai salah satu bentuk punishment (hukuman), aversive stimulus (stimulus tidak menyenangkan), ataupun negative reinforcer (faktor pendorong yang bersifat negatif).

Sundel & Sundel (2005) menjelaskan bahwa salah satu upaya individu yang umumnya dilakukan untuk menurunkan negative reinforcer yang dirasakan atas situasi yang tidak menyenangkan yang dialaminya adalah dengan melakukan perilaku menghindar (escape

behavior). Dalam situasi yang dihadapi oleh PRT dimana informan yang memperoleh teguran

keras dari majikannya kemudian merasa bersalah dan cenderung menghindar untuk berinteraksi dengan majikannya merupakan gambaran perilaku umum yang cenderung dipilih individu ketika menghadapi suatu situasi yang tidak menyenangkan atau negatif bagi dirinya. Namun demikian, bila dilihat dalam konsep psikologi belajar, individu diharapkan mampu menumbuhkan dan memperkuat tampilnya perilaku yang diharapkan oleh lingkungan. Namun menjadi sulit dipenuhi ketika individu lebih sering memunculkan perilaku menghindar. Komunikasi dan upaya untuk saling mengklarifikasi harapan dari individu yang berinteraksi menjadi tidak tersampaikan dengan baik. Upaya untuk mengurangi rasa bersalah dalam menjalani peran sebagai PRT belum ditampilkan secara nyata, oleh karenanya rasa bersalah tetap dirasakan begitupun perilaku menghindar tetap ditampilkan dalam menjalankan pekerjaannya.

Dalam psikologi belajar proses untuk memperkuat perilaku yang diharapkan oleh lingkungan maka majikan merasa atau menganggap bahwa perilaku menegur dengan nada marah merupakan hal yang tepat untuk dipertahankan agar PRT yang dikelolanya menampilkan perilaku kerja yang diharapkan, disisi lain PRT melihat hal tersebut sebagai bentuk hukuman atau stimulus yang tidak menyenangkan sehingga bentuk teguran yang keras menjadi tidak tepat diberikan sebagai upaya menampilkan dan mempertahankan perilaku kerja yang diharapkan dari PRT.

Sangat disayangkan bahwa baik pihak majikan belum sepenuhnya menyadari sejauh mana bentuk tindakan yang diberikan berdampak pada PRT sehingga dapat menampilkan perilaku yang diharapkan, begitupun para PRT belum seutuhnya melakukan proses umpan balik kepada majikan. Untuk itu perilaku majikan dengan menggunakan cara teguran yang keras masih terus diulang dan para PRT pun tetap mempertahankan rasa bersalah dan berupaya membatasi interaksi.

Bagi para PRT yang selalu merasa bersalah dalam menjalankan perannya maka akan memengaruhi kondisi psikologisnya. Bila dikaitkan dengan bentuk tindakan kekerasan dalam bentuk verbal maka bentuk kekerasan verbal dapat berdampak tidak hanya pada ranah psikologis namun juga aspek emosional individu.

c. Rasa Takut (fear)

Rasa takut yang dialami oleh PRT merupakan bentuk rasa tidak aman (insecurity ) dalam menjalankan perannya. Munculnya rasa bersalah terus menerus yang dialami oleh individu maka dapat memengaruhi harga diri dari PRT dimana timbul harga diri yang rendah atau perasaan inferior. Adanya konsep diri yang insecure dan inferior ini mengakibatkan para PRT memiliki posisi yang selalu direndahkan oleh majikannya. Situasi kerja yang tidak setara dengan dilakukannya tindakan diskriminasi dan tindakan menekan oleh majikan menyebabkan para PRT semakin memiliki power yang terbatas dalam menjalankan perannya untuk bekerja. Rasa takut yang dirasakan oleh PRT yang sifatnya berulang cukup memberi pengaruh pada rasa percaya diri dalam membawakan perannya, sehingga semakin memperbesar potensi untuk mengalami tekanan atau intimidasi dari pemberi kerja.

4.1.3. Tindakan Psikologis yang Diupayakan

Ketika individu rentan mengalami stress dalam menjalani peran kehidupannya maka penting bagi individu untuk belajar dari fase stres yang dihadapi dan mengatasi permasalahan tersebut. Kemampuan individu untuk mengatasi masalah kehidupan yang dihadapinya disebut dengan coping. Selain sebagai upaya untuk mengatasi permasalahan kehidupan, coping juga membantu individu sebagai salah satu cara individu untuk menjadi lebih berkembang dengan melalui kesulitan hidupnya (King, 2010).

Aldwin (dalam King, 2010) menjelaskan bahwa stres dan coping merupakan bagian dari fase perkembangan individu. Kuther & Morgan; Landrum & Davis (dalam King, 2010) memaparkan bahwa ketika individu mengalami keadaan hidup yang negatif seperti sakit, atau kehilangan, individu memiliki kesempatan untuk berkembang dan matang. Hal ini sejalan dengan konsep perkembangan kognitif yang dikemukakan oleh Piaget terkait konsep asimilasi dan akomodasi. Dalam proses asimilasi, struktur kognitif individu digunakan untuk menjelaskan keadaan lingkungan kini yang sedang dihadapi. Asimilasi memungkinkan individu

memaknai suatu peristiwa atau moment dari pengalaman yang dilaluinya dengan struktur makna (pengetahuan) yang telah dimilikinya. Ketika individu melalui suatu pengalaman hidup yang bertentangan dengan pemahaman atau pengetahuan yang dimiliki maka individu perlu melakukan perubahan dalam cara berpikirnya sehingga dapat memahami situasi yang dihadapi. Akomodasi membantu individu untuk berubah dan beradaptasi.

Kemampuan melakukan coping pada individu dengan salah satu prosesnya melakukan asimilasi dan akomodasi merupakan upaya individu untuk dapat mengatasi permasalahannya dengan baik. Kemampuan melakukan coping ini menjadi penting ketika individu mengalami permasalahan atau tekanan kehidupan yang memicu stres, sehingga individu mampu memilah dan mengindentifikasi upaya coping yang bersifat emotional focused coping atau problem focused coping. Emotional focused coping merupakan suatu proses penanganan masalah atau kesulitan yang terarah pada hal-hal emosional yang dirasakan individu, sedangkan problem focused coping individu adalah melakukan upaya mengatasi permasalahan dengan mengacu pada akar permasalahannya. Kemampuan untuk melakukan coping ini tentunya dimiliki oleh individu yang telah memiliki kematangan proses perkembangan kognitif, dimana seperti dikemukakan oleh Piaget bahwa kemampuan melakukan asimilasi dan akomodasi ataupun melakukan penalaran berkembang saat individu memasuki fase formal operasional di usia 11 hingga 15 tahun dan tahap kematangan berpikir ini terus berkembang hingga usia dewasa. Oleh karenanya ketika PRT mengalami permasalahan kehidupan atau tekanan psikologis yang berulang maka penting bagi PRT untuk memiliki kemampuan mengatasi permasalahan (coping) sehingga dapat beradaptasi dengan tuntutan lingkungan secara efektif. Kemampuan melakukan coping didukung dengan kematangan proses kognitif individu yang telah memasuki fase remaja hingga semakin kuat di usia dewasa.

Dari data yang diperoleh dari responden dalam penelitian ini dapat dilihat bahwa responden telah memiliki upaya untuk melakukan proses coping atau berupaya mengatasi permasalahan seperti dalam pernyataan berikut ini;

“Ya harus lebih sabar sih harus sabar itu pun sih namanya ngadepin anak-anak” (Sonti, Apartemen, Live-in)

“Kita kalau ada salah lebih baik emang kaya gitu, dibicarain daripada nanti dibelakang trus dia juga nanti punya uneg-uneg jadi kita bikin kesepakatan kalau emang ga suka langsung bilang… “(Retno, Apartemen, Live-in)

Perlu dipahami bahwa kemampuan PRT untuk memahami situasi dan kemudian menemukan solusi yang tepat diperlukan pengalaman dan kematangan dalam membangun pemahaman. Hal ini merupakan proses kematangan perkembangan kognitif yang umumnya terjadi ketika individu telah memasuki usia remaja hingga dewasa. Dari data demografi yang diperoleh, diketahui bahwa saat penelitian ini dilakukan responden berada pada rentang usia 21 hingga 60 tahun sehingga telah menunjukkan kematangan proses kognitif yang memadai. Oleh karenanya para PRT dapat memilih penyelesaian masalah yang sifatnya konstruktif dengan memperkuat sistem nilai pribadi (menjadi individu yang lebih sabar) dan melakukan

komunikasi secara terbuka kepada majikan. Namun demikian disisi lain masih terdapat beberapa responden yang tetap merasakan tekanan psikologis sehingga masih memunculkan perilaku yang belum konstruktif misalnya memilih untuk menahan diri, menangis sendiri, merasa takut dan menghindari interaksi dengan majikan.

Coping merupakan salah satu upaya yang dapat dilakukan para PRT untuk mengatasi

permasalahan yang dihadapinya. Selain itu PRT pun kiranya dapat membangun sistem pendukung yang bersifat akomodatif sehingga membantu penyelesaian masalah yang dihadapi. Misalnya dengan membangun jejaring, kelompok, atau serikat PRT dimana PRT dapat bertemu dan saling bercerita mengenai persoalan yang dihadapinya dan saling belajar dari pengalaman PRT lainnya. Hal ini membantu individu untuk tidak merasa sendiri, memiliki insight bahwa masalah yang dialaminya juga dirasakan atau pernah dialami oleh PRT lainnya, sebagai media bertukar informasi atau sharing sehingga memperoleh gambaran untuk penyelesaian masalah dan merasa aman karena memiliki sistem pendukung yang baik.