BAB 3. METODE PENELITIAN
3.8 Metode Analisis Data
Uji Kolomogorof-Smirnov digunakan untuk mengetahui data berdistribusi normal atau tidak. Adapun hipotesisnya adalah :
Ho : Distribusi populasi yang diwakili sampel berdistribusi normal.
Ha : Distribusi populasi yang diwakili sampel tidak berdistribusi normal.
Dengan dasar pengambilan keputusan :
Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima.
Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak.
3.8.2 Uji Levene
Uji Levene digunakan untuk mengetahui varians data homogen atau tidak.
Adapun hipotesis yang akan digunakan adalah :
Ho: Varians data populasi darimana data sampel ditarik seragam (homogen).
Ha: Varians data populasi darimana data sampel ditarik tidak seragam (homogen) Dengan pengambilan keputusan :
Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima.
Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak.
Apabila Ho diterima, maka dapat dilanjutkan dengan analisa varians. Sebaliknya jika Ho ditolak, maka dapat dilanjutkan dengan Uji Kruskal-wallis.
3.8.3 Uji Kruskal-Wallis
Uji Kruskall-Wallis digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan penurunan Fe dan Mn pada berbagai kombinasi. Adapun hipotesis yang akan diuji adalah :
Ho: Tidak ada perbedaan penurunan kadar Fe dan Mn pada berbagai kombinasi alat.
Ha: Ada perbedaan penurunan kadar Fe dan Mn pada berbagai kombinasi alat.
Dengan dasar pengambilan keputusan :
Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima.
Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak.
Jika dalam penggunaan uji kruskal-wallis menghasilkan Ho ditolak, maka langkah selanjutnya adalah mencari pasangan yang mana saja yang menunjukkan perbedaan yang bermakna dengan menggunakan uji komparasi ganda.
3.8.4 Uji BNT (Beda Nyata Terkecil)
Uji BNT merupakan salah satu teknik uji beda rerata yang digunakan untuk melihat perbandingan rata-rata pasangan kombinasi alat yang berbeda secara signifikan.
Adapun hipotesis yang akan diuji adalah :
Ho: Perbandingan rata-rata penurunan kadar Fe dan Mn antar pasangan kombinasi alat tidak berbeda nyata.
Ha: Perbandingan rata-rata penurunan kadar Fe dan Mn antar pasangan kombinasi alat berbeda nyata.
Dengan dasarpengambilan keputusan :
Jika probabilitas > 0,05, maka Ho diterima.
Jika probabilitas < 0,05, maka Ho ditolak.
BAB 4
HASIL PENELITIAN
4.1. Deskripsi Lokasi Penelitian
Desa Pelawi Selatan adalah salah satu desa yang termasuk dalam wilayah Kecamatan Babalan Kabupaten Langkat dengan luas wilayah 656 Ha. Jarak Desa Pelawi dari Ibukota Kabupaten berkisar 30 km dan dari pusat pemerintahan Sumatera Utara berjarak 82 km. Jumlah penduduk di Desa Pelawi Selatan sebanyak 8485 jiwa.
Desa Pelawi Selatan mempunyai batas-batas sebagai berikut : 1. Sebelah Utara : Berbatasan dengan Teluk Meku 2. Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Pelawi Utara 3. Sebelah Timur : Berbatasan dengan Securai Selatan 4. Sebelah Barat : Berbatasan dengan Brandan Timur
Sumber air bersih penduduk di Desa Pelawi Selatan yang digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari adalah :
1. Sumur gali sebanyak : 1038 kk
2. Sumur pompa : 35 kk
3. Perusahaan Air Minum (PAM) sebanyak : 250 kk
4. Sungai sebanyak : 50 kk
Berdasarkan laporan Puskesmas Pelawi Selatan, 10 penyakit terbesar yang sering diderita masyarakat di wilayah kerja Puskesmas Pelawi Selatan adalah : ISPA,
Diare, Lambung, Hypertensi, Diabetes Melitus, Penyakit Mata, Dermatitis, Reumatik, Asma dan Caries gigi.
4.2. Hasil Penelitian
4.2.1. Kadar Besi (Fe) Sampel Air Sumur Gali
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap air sumur gali sebelum dan sesudah dilakukan pengolahan dengan menggunakan pengolahan air bersih dengan kombinasi jarak jatuh pada aerasi bertingkat dan diameter pasir pada saringan pasir, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.1. Persentase Perbedaan Kadar Fe Sampel Air Sumur Gali Sebelum dan Sesudah Melewati Pengolahan Air Bersih dengan Kombinasi Jarak Jatuh pada Aerasi Bertingkat dan Diameter Pasir pada Saringan Pasir
No. Kombinasi 1 Aerasi bertingkat
dengan jarak jatuh 25 cm
Tabel 4.1 (Lanjutan)
2 Aerasi bertingkat dengan jarak jatuh 30 cm
3 Aerasi bertingkat dengan jarak jatuh 35 cm
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa terdapat penurunan kadar besi (Fe) air sumur gali. Rerata penurunan kadar Fe pada Aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 25 cm) dengan diameter pasir (0,5 mm) sebesar 0.1295 mg/l dengan perbedaan penurunan 2,942 mg/l dan persentasi penurunan 95,78 %. Rerata penurunan kadar Fe pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 25 cm) dengan diameter pasir (1 mm)
sebesar 0.2362 mg/l dengan perbedaan penurunan 2,8353 mg/l dan persentasi penurunan 92,3 %. Rerata penurunan kadar Fe pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 25 cm) dengan diameter pasir (2 mm) sebesar 0.1157 mg/l dengan perbedaan penurunan 2,9558 mg/l dan persentasi penurunan 96,23 %. Rerata penurunan kadar Fe pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 30 cm) dengan diameter pasir (0,5 mm) sebesar 0.0966 mg/l dengan perbedaan penurunan 2,9749 mg/l dan persentasi penurunan 96,85 %. Rerata penurunan kadar Fe pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 30 cm) dengan diameter pasir (1 mm) sebesar 0.148 mg/l dengan perbedaan penurunan 2,9235 mg/l dan persentasi penurunan 95,18 %. Rerata penurunan kadar Fe pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 30 cm) dengan diameter pasir (2 mm) sebesar 0.106 mg/l dengan perbedaan penurunan 2,9655 dan persentasi penurunan 96,54 %. Rerata penurunan kadar Fe pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 35 cm) dengan diameter pasir (0,5 mm) sebesar 0.067 mg/l dengan perbedaan penurunan 3.0045 mg/l dan persentasi penurunan 97,81 %. Rerata penurunan kadar Fe pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 35 cm) dengan diameter pasir (1 mm) sebesar 0.1001 mg/l dengan perbedaan penurunan 2,9714 mg/l dan persentasi penurunan 96,74 %. Rerata penurunan kadar Fe pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 35 cm) dengan diameter pasir (2 mm) sebesar 0.082 mg/l dengan perbedaan penurunan 2,9895 mg/l dengan persentasi penurunan 96,74 %.
Grafik 4.1 . Persentase Perbedaan Kadar Fe Sampel Air Sumur Gali sebelum dan sesudah Melewati Pengolahan Air Bersih dengan Kombinasi Jarak Jatuh pada Aerasi Bertingkat dan Diameter Pasir pada Saringan Pasir
Persentase perbedan kadar Fe tertinggi seperti yang dapat dilihat pada Grafik 4.1 adalah pada kombinasi perlakuan ke 7, yaitu aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 35 cm) dengan diameter pasir (0,5 mm) sebesar persentasi penurunan 97,81 %.
Penurunan Kadar Fe (%)
4.2.2. Kadar Mangan (Mn) Sampel Air Sumur Gali
Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan terhadap air sumur gali sebelum dan sesudah dilakukan pengolahan dengan menggunakan pengolahan air bersih dengan kombinasi jarak jatuh pada aerasi bertingkat dan diameter pasir pada saringan pasir, dapat dilihat pada tabel dibawah ini :
Tabel 4.2. Persentase perbedaan Kadar Mn Sampel Air Sumur Gali Sebelum dan Sesudah Melewati Pengolahan Air Bersih dengan Kombinasi jarak jatuh pada Aerasi Bertingkat dan Diameter Pasir pada Saringan Pasir
No. Kombinasi 1 Aerasi bertingkat
dengan jarak jatuh 25 cm dengan jarak jatuh 30 cm
Tabel 4.2. (Lanjutan)
3 Aerasi bertingkat dengan jarak jatuh 35 cm
Berdasarkan tabel di atas diketahui bahwa terdapat penurunan kadar mangan (Mn) air sumur gali. Rerata penurunan kadar Mn pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 25 cm) dengan diameter pasir (0,5 mm) sebesar 0.0633 mg/l dengan perbedaan penurunan 0,5008 mg/l dan persentase penurunan 88,3 %. Rerata penurunan kadar Mn pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 25 cm) dengan diameter pasir (1 mm) sebesar 0.1623 mg/l dengan perbedaan penurunan 0,4048 mg/l dan persentase penurunan 71,3 %. Rerata penurunan kadar Mn pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 25 cm) dengan diameter pasir (2 mm) sebesar 0.2445 mg/l dengan perbedaan penurunan 0,3226 mg/l dan persentase penurunan 56,8 %. Rerata penurunan kadar Mn pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 30 cm) dengan diameter pasir (0,5
mm) sebesar 0.0150 mg/l dengan perbedaan penurunan 0,5521 mg/l dan persentase penurunan 97,3 %. Rerata penurunan kadar Mn pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 30 cm) dengan diameter pasir (1 mm) sebesar 0.1471 mg/l dengan perbedaan penurunan 0,4200 mg/l dan persentase penurunan 74,06 %. Rerata penurunan kadar Mn pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 30 cm) dengan diameter pasir (2 mm) sebesar 0.2269 mg/l dengan perbedaan penurunan 0,3402 mg/l dan persentase penurunan 59,9 %. Rerata penurunan kadar Mn pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 35 cm) dengan diameter pasir (0,5 mm) sebesar 0.091 mg/l dengan perbedaan penurunan 0,5580 mg/l dan persentase penurunan 98,3 %. Rerata penurunan kadar Mn pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 35 cm) dengan diameter pasir (1 mm) sebesar 0.0971 mg/l dengan perbedaan penurunan 0,4700 mg/l dan persentase penurunan 82,8 %. Rerata penurunan kadar Mn pada aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 35 cm) dengan diameter pasir (2 mm) sebesar 0.2388 mg/l dengan perbedaan penurunan 0,3283 mg/l dan persentase penurunan 57,8 %.
Grafik 4.2 . Persentase Perbedaan Kadar Mn Sampel Air Sumur Gali sebelum dan sesudah Melewati Pengolahan Air Bersih dengan Kombinasi Jarak Jatuh pada Aerasi Bertingkat dan Diameter Pasir pada Saringan Pasir
Persentase perbedan kadar Fe tertinggi seperti yang dapat dilihat pada Grafik 4.1 adalah pada kombinasi perlakuan ke 7, yaitu aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 35 cm) dengan diameter pasir (0,5 mm) sebesar persentasi penurunan 97,81 %.
4.3. Analisa Statistik
4.3.1. Analisa Statistik untuk Kadar Besi (Fe)
Berdasarkan data hasil penelitian kadar besi (Fe) yang selanjutnya dianalisis secara statistik, maka hasilnya adalah :
1. Uji Kruskal-Wallis.
Uji Kruskall-Wallis digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan penurunan Fe pada berbagai kombinasi. Menunjukkan bahwa nilai p (0.015) < 0.05, artinya Ho ditolak. Sehingga menunjukkan bahwa ada perbedaan kadar Fe pada berbagai kombinasi alat pengolahan air.
Penurunan Kadar Mn (%)
2. Hasil Uji BNT (Beda Nyata Terkecil)
Uji BNT merupakan salah satu teknik uji beda rerata yang digunakan untuk melihat perbandingan rata-rata pasangan kombinasi alat yang berbeda secara signifikan.
Hasil uji BNT menunjukkan bahwa rerata kadar Fe kombinasi perlakuan ke 7 (jarak jatuh 35 cm dengan diameter pasir 0,5 mm) berbeda nyata pengaruhnya menurut uji BNT 5 % (p = 0,000 < 0,05 dengan nilai mean difference tertinggi 0,1692).
4.3.2. Analisa Statistik untuk Kadar Mangan (Mn)
Berdasarkan data hasil penelitian kadar mangan (Mn) yang selanjutnta dianalisis secara statistic, maka hasilnya adalah :
1. Hasil Uji Kruskal-Wallis.
Uji Kruskall-Wallis digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan penurunan Mn pada berbagai kombinasi. Menunjukkan bahwa nilai p (0.002) < 0.05, artinya Ho ditolak. Sehingga menunjukkan bahwa ada perbedaan kadar Mn pada berbagai kombinasi alat pengolahan air.
2. Hasil Uji BNT (Beda Nyata Terkecil)
Uji BNT merupakan salah satu teknik uji beda rerata yang digunakan untuk melihat perbandingan rata-rata pasangan kombinasi alat yang berbeda secara signifikan.
Hasil uji BNT menunjukkan bahwa kombinasi perlakuan ke 7 (jarak jatuh 35 cm dengan diameter pasir 0,5 mm) berbeda nyata pengaruhnya menurut uji BNT 5 % (p = 0,000 < 0,05 dengan nilai mean difference tertinggi 0,2354).
BAB 5 PEMBAHASAN
5.1. Hasil Pemeriksaan Kadar Besi (Fe) dan Mangan (Mn) Sampel Air Sumur Gali di Desa Pelawi Selatan
Pemeriksaan kadar besi (Fe) pada sampel air sumur gali menunjukkan bahwa didapat kadar Fe sebesar 3,0715 mg/l. Jika dibandingkan dengan baku mutu air bersih yang berlaku sesuai Peraturan Menteri Kesehatann No.416/MEMKES/PER/IX/1990 tentunya ini telah berada di atas baku mutu yang ditetapkan yaitu sebesar 1 mg/l untuk air bersih.
Adanya Fe dalam air dapat bersumber dari dalam tanah itu sendiri (batu-batuan yang mengandung besi) ataupun endapan-endapan buangan industri (Widowati, 2008). Biasanya besi yang berada di air dapat bersifat terlarut dengan bilangan oksidasi +2 dan +3 (Sunardi, 2006). Dalam air, besi sering dijumpai berikatan dengan bikarbonat terlarut (ferro bikarbonat) dan ferro terlarut, sedangkan senyawa ferri yang sering dijumpai yaitu FePO4, Fe3O3, FeCl3, Fe(OH)3
Ada beberapa hal yang mempengaruhi kelarutan Fe dalam air :
dan lainnya.
Konsentrasi besi dalam air tanah biasanya cukup besar, bisa mencapai 25 mg/l (Asmadi, 2011).
1. Kedalaman
Air hujan yang turun jatuh ke tanah dan mengalami infiltrasi masuk ke dalam tanah yang mengandung FeO akan bereaksi dengan H2O dan CO2 dalam tanah
dan membentuk Fe(HCO3)2.
2. pH
Semakin dalam air yang meresap ke dalam tanah maka semakin tinggi juga kelarutan besi karbonat dalam air tersebut.
Apabila pH air rendah, maka akan mengakibatkan terjadinya proses korosif sehingga mengakibatkan larutnya besi dan logam lainnya dalam air. pH yang rendah, yaitu kurang dari 7 dapat melarutkan logam
3. Suhu
Tempratur yang tinggi mengakibatkan menurunnya kadar oksigen dalam air, naiknya tempratur ini juga dapat menguraikan derajat kelarutan mineral seperti Fe, sehingga kelarutan Fe pada air tinggi.
4. Bakteri Besi
Dalam aktifitasnya bakteri ini memerlukan oksigen dan besi. Hasil aktifitas bakteri tersebut presipitat (oksida besi).
5. CO2 CO
Agresif
2 agresif dalam air menyebabkan terjadinya proses korosi sehingga berakibat kerusakan pada logam. Selain membentuk FeCO3 sebagai hasil reaksi antara Fe dan H2CO3, selanjutnya FeCO3 bereaksi dengan air dan gas oksigen menghasilkan zat 2FeOH dan 2H2CO3 dimana H2CO3
Kadar Besi yang rendah dalam air tidak menimbulkan masalah, karena besi merupakan mineral mikro yang paling banyak terdapat di dalam tubuh manusia dan hewan. Besi mempunyai beberapa fungsi esensial di dalam tubuh : sebagai alat tersebut akan menyerang logam kembali sehingga proses pengerusakan logam akan berjalan secara terus menerus.
angkut oksigen dari paru-paru ke jaringan tubuh, sebagai alat angkut elektron di dalam sel, dan sebagai bagian terpadu berbagai reaksi enzim di dalam jaringan tubuh (Almatsier, 2004).
Fe dibutuhkan oleh tubuh dalam pembentukan hemoglobin. Banyaknya Fe dalam tubuh dikendalikan pada fase absorbs. Tubuh manusia tidak dapat mengekskresikan Fe. Sekalipun Fe itu diperlukan oleh tubuh, tetapi dalam dosis besar dapat merusak dinding usus (Slamet, 2007). Fe yang berlebihan dalam tubuh akan terakumulasi di hati, limpa, tulang sumsum, jantung dan jaringan lain sehingga merusak kerja jaringan tersebut. Kerusakan jaringan karena akumulasi Fe disebut hemokromatosis. Dapat juga merusak sel alat pencernaan secara langsung, menyebabkan karies gigi, merusak kerja pankreas, otot jantung, ginjal dan beresiko terserang kanker hati dan penyakit jantung. (Widowati, 2008).
Sementara pemeriksaan kadar mangan (Mn) pada sampel air sumur gali menunjukkan bahwa didapat kadar Mn sebesar 0,5671 mg/l. Jika dibandingkan dengan baku mutu air bersih yang berlaku sesuai Peraturan Menteri Kesehatann No.416/MEMKES/PER/IX/1990 tentunya ini sudah berada di atas baku mutu yang ditetapkan yaitu sebesar 0,5 mg/l untuk air bersih.
Logam mangan merupakan salah satu logam dengan jumlah sangat besar di dalam tanah, dalam bentuk oksida maupun hidroksida. Sumber mangan paling utama adalah pirolusit (MnO2) dan rodokrosit (MnCO3). Mineral Mn tersebar secara luas, sebagian besar berupa oksida, silikat, dan karbonat (widowati, 2008).
Mangan dalam jumlah kecil berperan sebagai kofaktor berbagai enzim yang membantu bermacam proses metabolism. Beberapa bentuk enzim tersebut adalah glutamine sintetase, superoksida dismutase di dalam mitokondria dan piruvat karboksilase yang berperan dalam metabolism karbohidrat dan lipida. Enzim-enzim lain yang berkaitan dengan mangan juga berperan dalam sistem ureum, pembentukan jaringan ikat dan tulang serta pencegahan peroksidasi lipida oleh radikal bebas (Almatsier, 2004).
Sementara kandungan mangan dalam jumlah besar bias mengakibatkan keracunan yang sering kali bersifat kronis sebagai akibat inhalasi debu dan uap logam. Gejala yang timbul berupa gejala susunan syaraf ; insomnia, kemudian lemah pada kaki dan otot muka sehingga ekspresi muka menjadi beku dan muka tampak seperti topeng (mask). Bila pemaparan berlanjut, maka bicaranya akan melambat dan monoton, terjadi hyperrefleksi, colonus pada patella dan tumit dan berjalan seperti penderita parkinsonism. Selanjutnya akan terjadi paralysis bulbar, post encephalitic Parkinsonism, multiple sclerosis, amyotropic lateral sclerosis, dan degenerasi lentik yang progresif (Slamet, 2007).
5.2. Pengolahan Air dengan Kombinasi Jarak Jatuh pada Aerasi Bertingkat dan Diameter Pasir pada Saringan Pasir dalam Menurunkan Kadar Fe dan Mn Air Sumur Gali
5.2.1. Untuk Penurunan Kadar Besi (Fe)
Terdapat perbedaan kadar Fe air sumur gali sebelum dan sesudah melewati ke sembilan kombinasi pengolahan air. Dengan demikian kadar besi (Fe) sampel air sumur gali setelah melewati kesembilan kombinasi pengolahan air ini telah memenuhi syarat kesehatan yang ditetapkan untuk air bersih, yaitu berada di bawah baku mutu yang ditetapkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.
416/MENKES/Per/IX/1990 yaitu sebesar 1 mg/l untuk air bersih.
5.2.2. Untuk Penurunan Kadar Mangan (Mn)
Terdapat perbedaan kadar Mn air sumur gali sebelum dan sesudah melewati ke sembilan kombinasi pengolahan air. Dengan demikian kadar mangan (Mn) sampel air sumur gali setelah melewati kesembilan kombinasi pengolahan air ini telah memenuhi syarat kesehatan yang ditetapkan untuk air bersih, yaitu berada di bawah baku mutu yang ditetapkan menurut Peraturan Menteri Kesehatan No.
416/MENKES/Per/IX/1990 yaitu sebesar 0,5 mg/l untuk air bersih.
5.3. Kombinasi Perlakuan Terbaik dalam Menurunkan Kadar Besi (Fe) dan Mangan (Mn)
Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari kesembilan kombinasi pengolahan air dengan kombinasi jarak jatuh (25 cm, 30 cm dan 35 cm) pada aerasi bertingkat dan diameter pasir (0.5 mm, 1 mm, 2 mm) pada saringan pasir baik dalam penurunan besi (Fe) maupun mangan (Mn) didapat bahwa kombinasi terbaik yang memiliki
penurunan tertinggi adalah aerasi bertingkat (dengan jarak jatuh 35 cm) dengan diameter pasir (0.5 mm). Dimana dapat menurunkan kadar Fe sebesar 3.0045 mg/l, dengan persentase penurunan sebesar 97.81 % (p = 0,000 < 0,05 dengan nilai mean difference tertinggi 0,1692 pada hasil uji bonferroni) dan kadar Mn sebesar 0.5580 mg/l, dengan persentase penurunan sebesar 98.3 % (p = 0,000 < 0,05 dengan nilai mean difference tertinggi 0,2354 pada hasil uji bonferroni).
Untuk jarak jatuh pada aerasi bertingkat, ini disebabkan oleh proses penangkapan oksigen (O2) di udara oleh air ketika melewati aerasi bertingkat sehingga memberikan kesempatan air untuk kontak dengan oksigen. Semakin tinggi jarak aerasi, maka semakin besar kesemapatan Fe dan Mn untuk berikatan dengan O2
Sesuai dengan penelitian Mahyudi (2010) yang menyatakan bahwa aerasi bertingkat dapat menurunkan kadar Fe dari rata-rata awal 7,62 mg/l menjadi rata-rata 0,97 mg/l (p = 0,000). Hasil penelitian Munthe (2010), menunjukkan bahwa terdapat perbedaan antara kadar Fe air sumur gali sebelum dan sesudah melewati aerasi bertingkat sumbu kompor dengan p (0,005) < α (0,05) dengan perbedaan rata-rata kadar Fe sebelum dan sesudah sebesar 92,15 %. Sudiarto (2001) menyatakan bahwa ada perbedaan kadar Fe kontrol dan sesudah perlakuan dengan zeolit dan aerasi sistim cascade dengan tingkat kepercayaan 95% (p<0,05)
. Sehingga baik Fe terlarut maupun Mn berubah menjadi Fe dan Mn terendap, dan pada akhirnya keduanya akan mengendap pada saringan pasir.
Menurut Alamsyah (2007) mengatakan bahwa proses aerasi merupakan proses penangkapan oksigen (O2) di udara oleh air yang akan diproses. Tujuannya
adalah untuk mereaksikan oksigen dengan kation-kation Fe yang terdapat di dalam air. Kation Fe merupakan kation yang sulit mengendap di air. Apabila kation Fe bereaksi dengan oksigen akan membentuk senyawa oksida Fe2O3
Menurut Said (2003) mengatakan bahwa adanya kandungan alkalinity, (HCO
yang dapat mengendap.
3) yang cukup besar dalam air, akan menyebabkan senyawa besi atau mangan berada dalam bentuk senyawa ferro bikarbonat, Fe(HCO3)2 atau mangano bikarbonat Mn(HCO3)2. Oleh karena bentuk CO2 bebas lebih stabil daripada (HCO3
Fe(HCO
), maka senyawa bikarbonat cenderung berubah menjadi senyawa karbonat.
3)2 → FeCO3 + CO2 + H2
Mn(HCO
O
3)2 → MnCO3 + CO2 + H2 Dari reaksi tersebut dapat dilihat, jika CO
O
2
FeCO
berkurang, maka kesetimbangan reaksi akan bergeser ke kanan dan selanjutnya reaksi akan menjadi sebagai berikut :
3 + CO2 → Fe(OH)2 + CO MnCO
2
3 + CO2→ Mn(OH)2 + CO
Baik hidroksida besin (II) maupun hidroksida mangan (II) masih mempunyai kelarutan yang cukup besar, sehingga jika terus dilakukan oksida dengan udara atau aerasi akan terjadi reaksi (ion) sebagai berikut :
2
4Fe2+ + O2 + 10H2O → 4Fe(OH)3 + 8H 2Mn
+
2+ + O2 + 2H2O → 2MnO2 + 4H
Menurut Asmadi (2011) mengatakan bahwa proses aerasi biasanya terdiri dari aerator, bak pengendap serta filter atau penyaring. Aerator adalah alat untuk
+
mengontakkan oksigen dari udara dengan air agar zat besi atau mangan yang ada di dalam air bakubereaksi dengan oksigen membentuk senyawa ferri (Fe valensi 3) serta mangan oksida yang relatif tidak larut dalam air.
Untuk diameter pasir, hal ini dikarenakan semakin kecil diameter pasir menyebabkan semakin kecil celah-celah butir pasir, sehingga akan meningkatkan efektifitas pasir dalam penahanan partikel.
Sesuai dengan penelitian Darsono (2008) yang menyatakan bahwa variasi diameter pasir mampu menurunkan kadar Fe 89,76 % atau rata-rata 1,17 ppm-0,127 ppm pada diameter pasir terkecil yaitu 0,297 mm. Sejalan dengan Pandia (2005) yang mengatakan bahwa pada ukuran biji kelor terkecil yaitu 300 mesh efektivitas penjernihan optimum (penyisihan turbiditas, TDS, TSS dan penurunan pH masing-masing 71.8 %, 78.28 %, 72.13 % dan 7.63 %). Begitu juga dengan penelitian Suwondo (1993) diamana diameter pasir paling kecil yaitu 1 mm dapat menurunkan angka kuman 99,8 % pada air dengan saringan sederhana.
Hal ini sejalan dengan Kusnoputranto (1986) yang mengatakan bahwa diameter pasir yang merupakan ukuran garis tengah yang dipakai dalam menentukan besar kecilnya butiran pasir dalam media saring merupakan salah satu faktor penting dalam menentukan keefektifan media saring yang digunakan. Jika diameter pasir terlalu besarmaka padatan-padatan serta bakteri tetap dapat melewaticelah-celah antara butiran pasir tersebut, begitu juga bila terlalu kecil maka cendrung akan cepat sumbat. Asmadi (2011) juga mengatakan bahwa ukuran efektif butiran pasir yang digunakan untuk penyaringan pada umumnya dari 0,5 mm sampai 0,7 mm. Bila
ukuran < 0,5 mm, maka partikel/ flok tidak terendapkan dan akan terjaring meluas pada permukaan lapisan media filter, menyebabkan kehilangan tekanan. Sebaliknya bila ukuran efektif > 0,7 mm maka flok akan menerobos melalui media penyaringan, sehingga menyebabkan kekeruhan air hasil filtrasi meningkat.
Lama proses dalam pengolahan air dalam penelitian ini didapat bahwa untuk menghasilkan air hasil olahan sebesar 5 (lima) liter, maka dibutuhkan waktu sekitar 7 (tujuh) menit. Dalam hal perawatan sendiri, biasa dengan melakukan pencucian rutin pada komponen alat pengolahan air bersih ini. Mulai dari batu, pasir, ijuk dan busa.
Untuk waktu pencucian sendiri tergantung dari kondisi air baku yang diolah dan juga pada intensitas pemakaian alat ini. Semakin buruk kualitas air baku dan semakin sering penggunaan, maka semakin cepat diperlukan pencucian dari komponen-komponen alat ini. Oleh karena itu bisa diketahui dengan melakukan pengecekan pada komponen alat pengolahan air bersih tersebut, bila sudah kotor maka diperlukan pencucian yang selanjutnya dapat digunakan kembali sebagai bahan penyaring untuk pengolahan air bersih tersebut. Sementara total biaya sendiri yang dibutuhkan untuk pembuatan alat pengolahan air bersih ini ± Rp. 200.000,00.
BAB 6
KESIMPULAN DAN SARAN
6.1. Kesimpulan
Adapun kesimpulan dari penelitian ini adalah :
1. Ada perbedaan kadar besi (Fe) air sumur gali dengan menggunakan
1. Ada perbedaan kadar besi (Fe) air sumur gali dengan menggunakan