BAB I PENDAHULUAN
F. Sistematika Penulisan
2. Persyaratan fisik
Persyaratan fisik air bersih terdiri dari kondisi fisik air pada umumnya, yakni derajat keasaman, suhu, kejernihan, warna, bau. Aspek fisik ini sesungguhnya selain penting untuk aspek kesehatan langsung yang terkait dengan kualitas fisik seperti suhu dan keasaman tetapi juga penting untuk menjadi indikator tidak langsung pada persyaratan biologis dan kimiawi, seperti warna air dan bau.
3. Persyaratan Kimia
Persyaratan kimia menjadi penting karena banyak sekali kandungan kimiawi air yang memberi akibat buruk pada kesehatan karena tidak sesuai dengan proses biokimiawi tubuh. Bahan kimiawi seperti nitrat, arsenic, dan berbagai macam logam.
Tabel 1. Peraturan pemerintah menteri kesehatan Republik Indonesia untuk persyaratan standar kualitas air bersih dan air minum
Nomor : 416/Menkes/PER/IX/2010
Air Raksa mg/L 0,001 0,001
Aluminium mg/L 0,2
-Arsen mg/L 0,05 0,05
Parameter Satuan
Persyaratan air minum Persyaratan air bersih
Barium mg/L 1,0
Kromium Valensi 6 mg/L 0,05 0,05
Mangaan mg/L 0,1 0,5
Natrium mg/L 200 200
Nitrat, sebagai N mg/L 10 10
Nitrit, sebagai N mg/L 1,0 1,0
Perak mg/L 0,05 0,05
Aldrin Dan Dieldrin mg/L 0,0007 0,0007
Benzene mg/L 0,01 0,01
Benzo(A) Pyrene mg/L 0,00001 0,00001
Chlordane (Total
1,2- Dichloroetane mg/L 0,01 0,01
1,1- Dichloroetene mg/L 0,0003 0,0003
Heptachlor dan
Heptachlor Epoxide mg/L 0,003 0,003
Hexachlorbenzene mg/L 0,00001 0,00001
Pestisida total mg/L 0,1 0,1
2,4,6 trichlorophenol mg/L 0,01 0,01
Zat organik (kmno4) mg/L 10 10
C. Mikrobiologik
Alpha activity) Bq/L 0,1 0,1
Aktifitas beta (Gross
Alpha activity) Bq/L 1,0 1,0
Sumber : Permenkes Republik Indonesia tahun 2010
B. Sistem Pengolahan Air Bersih
Secara umum pengolahan dan proses infrastruktur untuk system distribusi air (water supply system) dapat dijelaskan berikut ini Menurut (Robbert J.Kodoatie,Ph.D.) dalam judul bukunya Pengantar Manajemen infrastruktur:
1) Eksplorasi sumber daya air
a) Sumber daya air permukaan (sungai,danau,waduk,dll) b) Sumber daya aie tanah (sumur,pemompaan dll)
2) Pengolahan (Treatment) :untuk memenuhi suatu kualitas air tertentu dan dalam rangka meningkatkan nilai tambah dari air, maka air dari sumber pada umumnya harus melalui proses lanjut berupa :
a) Penjernihan dari partikel lain (sedimentation, flocculation, filtration,dll) b) Pengontrolan bakteri air (disinfection, ultra violet ray,ozone treatment,dll) c) Komposisi kimia air (aeration, iron & manganese removal, carbon
activated,dll)
3) Penampungan (stroge)
a) Penampungan bahan baku air (waduk,sungai/long stroge)
b) Penampungan bahan baku air olahan (tangki tertutup,kolam terbuka,dll) 4) Transmisi
a) Truk tangki,kapal tanker dan moda lain,(ada resiko kehilangan, tidak dapat menjamin tepat waktu,debit dan kwalitas)
b) Jaringan pipa transmisi dari primer ke sekunder c) Bak pelepas tekan
d) Pipa (minimum kehilangan, dapat menjamin tepat waktu, debit) 5) Jaringan distribusi ke pelanggan
a) Sistem c) Fittings e) Pompa
b) Jaringan pipa d) Control f) Sistem tampungan
C. Sistem Penyediaan Air Bersih
Unsur –unsur teknis dalam penyediaan air bersih, mencangkup sumber air, sarana penampungan, sarana penyaluran dan sarana pengolahan.
1. Jenis Pemakaian Air
Jenis pemakaian air tergantung dari pemakaianya dalam kegiatan manusia, dalam setiap kegiatan yang berbeda pula. Jumlah kebutuhan air dalam suatu lingkungan pemukiman dapat dikategorikan sebagai :
a) Kebutuhan air untuk rumah tangga b) Kebutuhan air untuk industri
c) Kebutuhan air untuk komersial d) Kebutuhan air untuk -peribadatan
e) Kebutuhan air untuk minum setelah dimasak
Tabel 2. Laju pemakaian air diperkirakan meningkat untuk tiap interval 5 tahun.
No. Kategori
Jumlah Penduduk Pemakaian Air (Jiwa) (ltr/hari/jiwa)
1 Metropolitan >1.000.000 190
3 Kota Sedang 100.000-500.000 170
4 Kota Kecil 25.000-100.000 150
5 Ibukota Kecamatan 10.000-25.000 100
7 Pedesaan <10.000 80
Sumber : Sutrisno 1991
2. Analisis Kebutuhan Air
Penggunaan air dalam suatu kelompok masyarakat bervariasi. beberapa faktor yang mempengaruhi pada kebutuhan air oleh masyarakat adalah sebagai berikut.
a) Iklim Kebutuhan air yang sangat meningkat terutama pada waktu musim panas , untuk mandi dan menyiram tanaman, bila dibandingkan dengan iklim yang lembab, sedangkan pada iklim yang dingin air dialirkan untuk menghindari bekunya pipa pada jaringan distribusi.
b) Karateristik penduduk. Faktor ini sangat berpengaruh untuk tiap penduduk dan masyarakat karena tingkat ekonomi yang berbeda. Pada masyarakat dengan keadaan ekonomi lebih baik penggunaan air sangat boros, sedangkan untuk masyarakat dengan ekonomi yang rendah atau miskin penggunaan air sangat hemat.
c) Masalah lingkungan Pengunaan air yang berlebihan akan menyebabkan berkembangnya tehnologi untuk mengurangi jumlah pemakaian air.
d) Industri dan Perdagangan Pada kawasan ini,akan mengunakan air lebih banyak dibandingkan dengan daerah lainnya karna proses industrialisasi.
e) Iuran dan Meteran. akan dipengaruhi oleh harga air. Harga air yang mahal akan mengakibatkan konsumen berhemat dalam penggunaan air bahkan akan berusaha untuk membangun instalasi baru.
f) Ukuran wilayah. Wilayah yang luas akan berpengaruh dengan wilayah yang sempit sehingga mempengaruhi besarnya pemakaian konsumsi air pada daerah tersebut.
g) Kebutuhan konservasi air.
h) Harga/Pajak air.
i) Tingkat kehilangan air
D. Manfaat Biji Kelor Dan Kulit Kemiri
1. Biji kelor
Tanaman kelor merupakan perdu dengan tinggi 10 meter, berbatang lunak dan rapuh, dengan daun sebesar ujung jari berbentuk bulat telur dan tersusun majemuk. Tanaman ini berbunga sepanjang tahun berwarna putih, buah berisi segitiga dengan panjang sekitar 30 cm, tumbuh subur mulai dari dataran rendah sampai ketinggian 700 m di atas permukaan laut. Menurut sejarah, tanaman kelor atau marongghi (Moringa Oleifera), berasal dari kawasan sekitar Himalaya dan India, kemudian menyebar ke kawasan di sekitarnya sampai ke Benua Afrika dan Asia-Barat.
Oleh karena itu rangkaian penelitian terhadap manfaat kelor mulai dari daun, kulit batang, buah sampai bijinya, sejak tahun 1980-an telah dimulai. Saat itu fokus penelitian ditujukan kepada program pengadaan air
jernih untuk para pemukiman dikawasan pantai dan sungai, rawa, pesawahan, atau tempat tertentu lainnya. khususnya air yang memiliki warna kecoklatan sebagai sumber air minum. (Unus Suriawiria,2002).
Penjernihan air dengan memanfaatkan biji kelor memiliki beberapa keuntungan, antara lain mudah untuk dikerjakan, murah biayanya, dan tidak berbahaya bagi kesehatan. Berdasarkan hasil penelitian, biji kelor juga dapat mengurangi penyakit gastro enteristis dan mengurangi kandungan bakteri Escericia coli. Namun demikian, satu hal yang perlu diingat bahwa penjernihan air dengan memanfaatkan biji kleor ini hanya dapat dilakukan untuk air permukaan dan air tanah. Air permukaan meliputi air waduk, air telaga, air sungai atau air rawa, sedangkan yang dimaksud air tanah adalah air yang diperoleh dari dalam tanah, misalnya air sumur. Untuk air yang telah tercemar logam kurang baik bila dijernihkan dengan menggunakan biji kelor
2. Kulit kemiri
Kemiri (Aleurites moluccana Wild.) merupakan salah satu tanaman industri dari keluarga Euphorbiaceae. Hasil dari tanaman ini adalah buahnya. Hingga saat ini tanaman kemiri sudah berkembang cukup lama di Indonesia, namun masih terpencar dan belum dibudidayakan secara baik. Kemiri (Aleurites moluccana Wild.) atau candle nut adalah salah satu tanaman industri dari famili Euphorbiaceae (Lawrence, 1964) yang tersebar didaerah tropik dan subtropik (Purseglove, 1981). Kemiri merupakan bahan dasar cat, pernis, tinta, sabun, pengawet kayu, minyak rambut dan bahan pembatik, sedangkan isi/biji sebagai bumbu masak (Heyne, 1987). Selain itu menurut Hadad dan Suryana (1995) dapat juga sebagai obat kulit, obat pinggang, sakit kepala, demam, borok, bisul, disentri, dan sariawan.
Pemanfaatan buah kemiri sebenarnya sudah hanyak diteliti terutama bijinya
yaitu untuk minyak rambut dan minyak lampu, sedangkan kulitnya dibuang. Jumlah produksi buah kemiri di Indonesia pada tahun 1999 menurut Biro Pusat Statistik adalah sebesar 1.703,362 Kg (BPS,1999), Di Indonesia ampas kemiri yang telah diambil minyaknya ditumbuk halus dan diolah kembali menjadi makanan dan dijual di pasar, Sebenarnya kulit kemiri masih mengandung minyak yang tinggi dan bisa diekstraksi serta ampasnya dapat dijadikan arang aktif sehingga nilai ekonominya akan bertambah (Atjung, 1981).
E. Metode Pemilihan Unit Pengolahan Air
Pemilihan unit pengolahan yang akan digunakan dalam instalasi pengolahan air minum tergantung kepada kualitas air baku yang akan diolah, dengan mempertimbangkan segi teknis dan segi ekonomis.
1. Kualitas Air
Unit -unit pengolahan dipilih berdasarkan parameter –parameter kualitas air yang tidak memenuhi baku mutu dan harus diturunkan. Pemilihan ini didasarkan pada model-model prediksi pemilihan unit pengolahan air.
2. Segi Teknis
Beberapa pertimbangan dari segi teknis pengolahan adalah : a) Efisiensi pengolahan terhadap parameter yang akan diturunkan.
b) Fleksibilitas pengolahan terhadap kualitas air yang berfluktuasi.
c) Kemudahan operasional dan pemeliharaan dalam jangka panjang.
d) Kemudahan konstruksi.
e) Segi Ekonomis.
f) Biaya investasi awal, operasional, dan pemeliharaan.
g) Luas lahan yang dibutuhkan untuk pengolahan air.
h) Optimalisasi jumlah unit pengolahan untuk menurunkan parameter. kualitas air yang hendak diturunkan.
3. Beberapa Pertimbangan Dari Segi Ekonomis Adalah :
Unit-unit pengolahan air minum untuk negara-negara berkembang dapat ditentukan berdasarkan model prediksi seperti yang ditunjukkan pada Tabel dihalaman berikut.
Keterangan S = Screening (penyaringan)
PC = Prechlorination (prapemberian desinfektan dengan chlor) SSF = Slow Sand Filter (saringan pasir lambat)
RSF = Rapid Sand Filter (saringan pasir cepat) PS = Plain Settling (pengendapan sederhana)
SCT = Special Chemical Treatment (pengisian kimia khusus) A = Aeration (penjemuran/pengisian gas)
AC = Activated Carbon (karbon aktif) LS = Lime Softening (pelunak kapur)
P = Post Chlorination (pengolahan chlor utama) SC = Special Chlorination (pengolahan chlor khusus)
SWT = Salt WaterTreatment (pengolahan air asin)
CS = Coagulation & Sedimentation (koagulasi dan sedimentasi) O = Optional, (pilihan)
E = Essential (perlu digunakan)
Tabel 3. Model Prediksi Pemilihan Unit Pengolahan Air Minum
Parameter Konsentrasi S PC PS A LS CS RSF SSF P SC AC SCT SWT
0-20 E
Parameter Pra Pengolahan Pengolahan Pengolahan Khusus
Coliform, MPN
Sumber : Babbit 1967
Berdasarkan analisis kualitas air baku dan pertimbangan alternatif pengolahan maka dapat dibuat alternatif – alternatif unit pengolahan yang akan digunakan untuk menyisihkan parameter –parameter yang tidak sesuai dengan baku mutu.
1) Kekeruhan
Kekeruhan dapat disisihkan menggunakan koagulasi dan sedimentasi yang dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan saringan pasir cepat, atau menggunakan screening, prasedimentasi (>200 NTU) dan dilanjutkan dengan filtrasi menggunakan saringan pasir lambat ( <10 NTU ).
2) Besi (Fe)
Untuk kandungan besi pengolahan yang dapat diterapkan adalah aerasi, preklorinasi, koagulasi dan sedimentasi, saringan pasir cepat atau saringan pasir lambat.
3) Zat Organik
Zat organik dapat diturunkan dengan proses koagulasi, sedimentasi, filtrasi dan dilanjutkan dengan desinfeksi. Bila kandungan zat organik tinggi maka diperlukan adanya preklorinasi. Alternatif lain adalah menggunakan prasedimentasi dilanjutkan dengan saringan pasir lambat atau menggunakan karbon aktif.
4) CO2 Agresif
CO2 Agresif dapat diturunkan dengan penambahan kapur. Dosis kapur yang diperlukan dapat diketahui dari perhitungan kebutuhan bahan kimia. Kebutuhan Bahan Kimia Dalam sistem pengolahan air minum terdapat dua macam unit, yaitu:
a) Unit Operasi, yaitu unit pengolahan yang melibatkan proses fisik, seperti sedimentasi, filtrasi.
b) Unit Proses, yaitu unit pengolahan yang melibatkan proses kimia dan biologi, seperti koagulasi, desinfeksi dan pembubuhan kapur.
Bahan-bahan kimia yang diperlukan untuk pengolahan air minum berdasarkan kualitas air baku adalah :
a) Al2(SO4)3 sebagai koagulan b) Ca(OCl)2 sebagai desinfektan c) CaO sebagai kontrol agresifitas
Ketiga bahan kimia tersebut digunakan dalam keadaan padat sehingga perlu dilakukan pembuatan larutan. Untuk keperluan tersebut maka diperlukan bak pelarut bahan kimia.
Gambar 1. Skema Unit Instalasi Pengolahan Air Minum
Gambar 2. Skema diagram pengolahan air payau
F. Unit –Unit Pengolahan Air Bersih
Adapun bentuk model pengolahan air bersih bervariasi, namun pada prinsip dasar kerjanya memiliki fungsi yang sama. Hal yang terpenting adalah kapasitas yang harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakatnya. Adapun unit –unit pengolahan air bersih yaitu :
1. Bangunan Penangkap Air
Bangunan penangkap air ini merupakan suatu bangunan untuk menangkap/mengumpulkan air dari suatu sumber asal air, untuk dapat dimanfaatkan, adapun fungsi dari bangunan penangkap air ini sangat penting artinya untuk menjaga kontinuitas pengaliran. Sedangkan penanganan bangunan penangkap air ini ditujukan terhadap kualitas dan kuantitas:
a) Kuantitas adalah Pencatatan tingkah laku (keadaan) dari sumber asal air, mengontrol atau memeriksa peralatan pencacatan debit serta peralatan lainnya (misalnya: pompa, saringan, pintu air) untuk menjaga kontiunitas debit pengaliran.
b) Kualitas adalah Pemeriksaan kualitas air bersih pada sumber air secara periodik sesuai standar yang ditetapkan pada Peraturan Menteri Kesehatan No.416, thn.1990.
2. Bangunan Pengendap Pertama
Bangunan pengendap pertama dalam pengolahan ini berfungsi untuk mengendapkan partikel -partikel padat dari air sumur dengan gaya gravitasi. Pada proses ini tidak ada pembunuhan zat/bahan kimia. Untuk instilasi penjernihan air minum yang air bakunya cukup jernih, tetapi sadah bak pengendap pertama tidak diperlukan.
3. Pembubuhan Koagulant
Koagulant adalah bahan kimia yang dibutuhkan pada air untuk membantu proses pengendapan partikel-partikel kecil yang tidak dapat mengendapkan dengan sendirinya (secara gravimetris). Sesuai dengan nama dari unit ini, maka unit berfungsi untuk membubuhkan koagulant secara teratur sesuai dengan kebutuhan (dalam dosis yang tepat).
4. Bangunan Pengaduk Cepat
Unit ini untuk meratakan bahan/ zat kimia (koagulant) yang ditambahkan agar dapat bercampur dengan baik, sempurna dan cepat berupa larutan dengan air beku.
5. Bangunan Pembentuk Floc
Unit ini berfungsi untuk membentuk partikel padat yang lebih besar supaya dapat diendapkan dari hasil reaksi partikel kecil (koloidal) dengan bahan / zat koagulant yang kita bubuhkan.
Faktor-faktor yang mempengaruhi bentuk floc-floc (partikel yang lebih dan bisa mengendap dengan gravitasi):
a) Kekeruhan pada baku air d) Alkalinity
b) Tipe dari suspended solid e) Bahan koagulant yang dipakai c) pH (Derajat Keasaman) f) Lamanya pengadukan
6. Bangunan Pengendap Kedua
Unit ini berfungsi untuk mengendapkan floc yang terbentuk pada unit bak pembentuk floc. Dalam penjernihan air minum diketahui 2 macam filter yaitu Saringan pasir lambat ( slow sand filter ) dan Saringan pasir cepat ( rafid sand filter )
7. Reservoir
Air yang telah melalui filter sudah dapat dipakai untuk air minum. Air tersebut telah bersih dan bebas dari bakteriologis dan ditampung pada bak reservoir (tandon) untuk diteruskan(didistribusikan) pada konsumen
8. Pemompaan
Gambar 3. Prinsip Kerja Pompa.
Pada posisi I klep seperti pada gambar, tekanan udara luar sama dengan tekanan dalam tabung tekanan udara luar ini, tergantung dari ketinggian tempat pompa dari permukaan air laut.
Pada gambar II, volume udara dalam tabung diperkecil hingga tekanannya menjadi lebih besar, aklibatnya klep mendapat tekanan, karena posisinya klep bawah menutup.
Pada posisi III, volume udara dalam tabung diperbesar, tekanan menjadi kecil, kedua klep mendapat kelebihan tekanan dari arah luar. Karena posisinya, klep atau menutup dan klep bawah membuka. Dengan gerakan seperti pada gambar tersebut berulang-ulang udara dalam tabung makin lama berkurang akhirnya makin mendekati nol.
G. Flowchart Alur Penelitian
Tahapan alur penelitian yang dilakukan seperti gambar berikut:
Gambar 4. Flowchart alur penelitian Rancangan Unit Model
Pengolahan Air Baku MULAI
Studi Literatur Pengumpulan data
1. Data primer 2. Data sekunder
Simulasi Uji Model Saringan Pasir Lambat
(SPL)
Mencari Rancangan Model Baru.
Upaya Aplikasi Model.
Memenuhi Standar
Tidak Memenuhi Standar
MULAI
BAB III
METODE PENELITIAN
A. Lokasi dan Waktu Penelitian
Lokasi penelitian dilaksanakan di kelurahan Buloa Kec.Tallo dan di lakukan secara terstruktur dengan dua prosedur yaitu prosedur pertama uji model sederhana yang dilakukan di Laboratorium Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Makassar. Dilanjutkan prosedur kedua uji Laboratorium kualitas air Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin.
Penelitian ini dilakukan selama 3 (Tiga) bulan ( September -November).
Gambar 5. Kecamatan Tallo Kabupaten/ Kota Makassar
Gambar 6. Peta Kelurahan Buloa
B. Jenis Penelitian dan Sumber Data
Jenis penelitian yang digunakan adalah Eksperimental, dimana kondisi tersebut dibuat dan diatur oleh peneliti dengan mengacu pada literatur-literatur yang berkaitan dengan penelitian tersebut, serta adanya kontrol, dengan tujuan untuk menyelidiki ada-tidaknya hubungan sebab akibat serta berapa besar hubungan sebab akibat tersebut dengan cara memberikan perlakuan-perlakuan tertentu pada beberapa kelompok eksperimental dan menyediakan kontrol untuk perbandingan.
Pada penelitian ini akan menggunakan dua sumber data yakni :
1) Data primer yakni data yang diperoleh langsung dari lapangan yaitu data hasil wawancara dengan penduduk dan sampel air.
2) Data Sekunder yakni data yang diperoleh dari literatur dan hasil penelitian.
yang sudah ada baik yang telah dilakukan di Laboratorium. maupun dilakukan di tempat lain yang berkaitan dengan penelitian Kualitas Air Bersih. Data tersebut diantaranya data sebelum penyaringan dan data setelah penyaringan
C. Variabel Yang Diteliti
Dalam penelitian variabel bebas yaitu lapisan untuk media penyaring dalam uji model yaitu:
1) Spon 3) Pasir 6) Biji kelor
2) Arang aktif 4) Batu krikil 3) Batu koral 5) Kulit kemiri
Variabel terikat untuk sampel air di tiga lokasi yaitu:
1) Lokasi RT 03/RW 02 3) Lokasi RT 05/RW 03 2) Lokasi RT 02 /RW 02
Adapun variabel sampel air yang akan diteliti yaitu:
1) Secara fisika ( Uji Model )
a) Kekeruhan ( satuan NTU ) b) Rasa ( Non satuan )
2) Secara kimia (Uji Laboratorium Fakultas Perikanan Dan Kelautan Universitas Hasanuddin )
a) Besi (Fe) & Mangan (Mn) g) klorida (CI-) b) Kesadahan (CaCO3) h) Nitrat (NO3)
c) Nitrit (NO2) i) PH ( Derajat Keasaman ) d) Sulfat (SO4) j) Salinitas ( kadar garam )
e) Dissolved Oxygen (DO) k) Biochemical Oxygen Demand f) Chemical Oxygen Demand l) Zat organik (KMnO4)
D. Prosedur Pekerjaan Model Pengolahan Air Bersih
1. Prosedur I (Sampel Air Sebelum Di Uji Model ) :
Sampel air di tiga lokasi tersebut yaitu (RT 03/RW 02, RT 02 /RW 02, RT 05/RW 03) dilakukan uji laboratorium Terakreditasi Kualitas Air Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Hasanuddin. Adapun parameter yaitu a) Besi (Fe) & Mangan (Mn) g) klorida (CI-)
b) Kesadahan (CaCO3) h) Nitrat (NO3)
c) Nitrit (NO2) i) PH ( Derajat Keasaman ) d) Sulfat (SO4) j) Salinitas ( kadar garam ) e) Dissolved Oxygen (DO) k) Biochemical Oxygen Demand f) Chemical Oxygen Demand l) Zat organik (KMnO4)
Tabel 4. Hasil Laboratorium Sebelum Uji Model.
Alat dan bahan yang digunakan dalam penelitian model pengolahan air bersih sederhana, untuk perbaikan kualitas air bersih sebagai berikut :
a) Alat
c) Sumber Air
1) Air sumur galian 2) Air sumur bor
Alat - alat yang digunakan dalam penelitian ini adalah : 1. Jergen dengan kapasitas 5000 ml untuk tempat sampel air.
2. Ember dengan kapasitas 15000 ml sebagai media penyaringan.
3. Cool box atau termos untuk tempat penyimpanan sampel.
4. Rang digunakan untuk melapisi dari bahan yang satu dengan bahan yang lainnya, arang aktif, pasir karsa, krikil, batu koral, sebagai media penyaringan.
5. Stiker label untuk menandai sampel yang telah di uji model sederhana.
6. Buku catatan dan pulepen digunakan untuk mencatat hasil sampel yang telah di ujikan.
7. Isolasi untuk digunkan mempelaster tutup jergen, cool box atau termos supaya tidak mengubah suhu air.
Cara pengambilan sampel air yang akan di uji :
a) Jergen dengan kapsitas 5000 ml yang akan dipergunakan untuk mengambil sampel dibersihkan terlebih dahalu.
b) Pengambilan pertama sampel air digunakan untuk membersihkan jergen untuk kemudian dibuang kembali lalu diulang untuk beberapa kali.
c) Mempersiapkan peralatan untuk menyediakan alat pengolahan air baku sederhana.
d) Mengambil air dengan jumlah setara 5000 ml (5L) dengan dibubuhi biji kelor yang telah ditumbuk/dihaluskan dan dicampurkan 1,5 sendok makan kedalam jergen yang berisi air.
e) Mengambil ember ( ember pertama ) untuk media penyaring dengan kapasitas penampungan 15000 ml.
f) Mengambil pasir, kemudian masukkan ke dalam ember uji dengan ketebalan 8 cm.
g) Kemudian mengambil arang aktif lalu letakkan ke dalam ember yang tadi disimpankan spon dengan ketebalan 7 cm.
h) Mengambil batu koral, kemudian masukkan ke dalam ember yang sudah terdapat spon dan arang aktif kemudian diletakkan diatas arang aktif.
i) Mengambil ember yang ke-2 untuk media penyaring dengan kapasitas penampungan 15000 ml.
j) Mengambil spon, kemudian masukkan ke dalam ember uji dengan ketebalan 8 cm.
k) Kemudian ambil dan letakkan kulit kemiri diatas pasir yang terdapat dalam ember dengan ketebalan 6 cm.
l) Masukkan kerikil ke dalam ember yang didalamnya sudah terdapat pasir, dan kulit kemiri dengan ketebalan 5 cm.
m) Lalu tuangkan air yang ada dalam jergen yang sudah dibubuhi biji kelor kedalam media penyaring.
Gambar 6. Simulasi A uji model saringan pasir lambat
Gambar 7. Simulasi B uji model saringan pasir lambat
5 cm
30 cm Air endapan sample
Gambar B
6 cm
Gambar 9. Simulasi C. uji model saringan pasir lambat
Cara Kerja Pengolahan Air Baku Yaitu:
a) Tuangkan air yang ada dalam jergen yang memiliki jumlah air 5000 ml.
b) Lalu perhatikan pada bak penampungan apakah mengalami perubahan warna atau pun bau dalam keadaan secara fisik maupun non fisik,
c) Melihat hasil akhir dari penyaringan bak penampungan untuk di uji sebagai titik akhir pengolahan air baku secara baik untuk air mandi dan mencuci sesuai kondisi yang diharapkan oleh peneliti.
Setelah melakukan beberapa simulasi test uji model sederhana, maka diperoleh kriteria Pengolahan Air Bersih Seperti Gambar Berikut.
Gambar 10. Model unit pengolahan terpilih
5 cm
6 cm
8 cm 14 cm
8 cm 7 cm 6 cm 14 cm 35 cm
35 cm
Air endapan biji kelor
Batu Krikil Kulit kemiri
Pasir
Air endapan hasil pengolahan
Batu Koral Arang aktif
Spon
30 cm Air endapan sample
Gambar B
Tabel 5. Sampel Hasil Laboratorium Sesudah Tes Uji Model.
Sumber : Hasil Analisis
3. Prosedur III ( Membandingkan hasil uji laboratorium prosedur I dan II )
Dimana kita untuk membandingkan hasil uji laboratorium sebelum uji model dan sesudah uji model dengan menggunkan biji kelor dan kulit kemiri sebagai material penyaring untuk kebutuhan air bersih pada lingkungan yang kami teliti.
Tabel 6. Membandingkan hasil uji Laboratorium
Sebelum Uji Model FisikaKimia
Setelah Uji Model dengan media biji kelor dan kulit kemiri FisikaKimia
Sumber : Hasil Laboratorium
E. Flowchart Alur Penelitian Laboratorium
Tahapan alur penelitian yang dilakukan seperti gambar berikut:
Gambar 11. Flowchart alur penelitian Analisis Data Rancangan Unit Model
Pengolahan Air Baku
Simulasi Uji Model Saringan Pasir Lambat (SPL)
Simulasi A Simulasi B Simulasi C
Simulasi Uji
BAB IV
ANALISIS DAN HASIL PEMBAHASAN
A. Unit Pemilihan Pengolahan Air
Untuk menentukan unit pengolahan air bersih kami menggunakan metode babbit 1967 dengan tujuan mendapatkan kualitas air yang berkualitas untuk kebutuhan mandi dan mencuci sehari hari untuk daerah pesisir pantai yang memiliki kadar air bersifat payau antara 0,05% -3%.
Material yang digunakan dalam proses penyaringan seperti pasir, ijuk, sabut kelapa,arang dan lainya merupakan material yang sudah umum digunakan akan tetapi dengan dasar ini kami menggunakan material yang berbeda dalam pengolahan air tersebut yaitu dengan menggunakan media penyaring biji kelor dan kulit kemiri untuk menurunkan kadar kekeruhan dan salinitas.
B. Data Pengolahan Laboratorium Sebelum Uji Model
Dari ketiga lokasi pengambilan sampel di (RT 03, RT 02 dan RT 05) tersebut sebelum dilakukan uji model dengan media penyaring biji kelor dan kulit kemiri diperoleh data hasil uji laboratorium terakreditasi kualitas air
Dari ketiga lokasi pengambilan sampel di (RT 03, RT 02 dan RT 05) tersebut sebelum dilakukan uji model dengan media penyaring biji kelor dan kulit kemiri diperoleh data hasil uji laboratorium terakreditasi kualitas air