• Tidak ada hasil yang ditemukan

Kondisi Wilayah Kalimantan Barat Keadaan Geografis

Secara geografis, Provinsi Kalimantan Barat terletak di daerah tropis dengan 206° LU - 305° LS dan 108° BT - 114° BT, serta tepat berada di bawah garis khatulistiwa. Karena letak geografis tersebut, Provinsi Kalimantan Barat memiliki iklim tropis yang sangat cocok untuk pertanian.

Provinsi Kalimantan Barat memiliki wilayah sebuah 146 807 km2 dengan batas-batas wilayah adalah sebagai berikut:

1. Bagian Barat berbatasan dengan Laut Natuna dan Selat Karimata. 2. Bagian Utara berbatasan langsung dengan Sarawak (Malaysia Timur).

3. Bagian Selatan berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah serta Laut Jawa.

4. Bagian Timur berbatasan dengan Provinsi Kalimantan Tengah dan Kalimantan Timur.

Secara administratif Provinsi Kalimantan Barat terdiri dari 14 (empat belas) kabupaten/kota yaitu dua belas kabupaten dan dua kota. Empat belas kabupaten/kota ini terbagi dalam 174 kecamatan, 89 kelurahan dan 1 897 desa. Peta administratif wilayah Provinsi Kalimantan Barat dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5 Peta administratif wilayah Provinsi Kalimantan Barat (Pemprov Kalbar 2013)

36

Aspek Demografi

Berdasarkan hasil proyeksi penduduk 2013, jumlah penduduk Provinsi Kalimantan Barat tahun 2013 berjumlah sekitar 4 641 juta jiwa, dimana sekitar 2 366 juta berjenis kelamin laki-laki dan 2 275 juta jiwa adalah perempuan. Luas wilayah sebesar 146 807 km2, maka kepadatan penduduk Provinsi Kalimantan Barat baru 32 jiwa perkilometer persegi dengan laju pertumbuhan penduduk 1.66%.

Tabel 5 Jumlah dan kepadatan penduduk menurut Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat tahun 2008-2013 Kabupaten/Kota Penduduk Jumlah Penduduk (Jiwa) Laju Per-tumbuhan (%) Luas Wilayah (Km2) Kepadatan (Jiwa/Km2) Lk Pr Kab. Sambas 255 474 260 097 515 571 1.41 6 394.70 81 Kab. Bengkayang 118 501 110 270 228 771 1.77 5 397.30 42 Kab. Landak 181 377 166 127 347 504 1.65 9 909.10 35 Kab. Pontianak 125 011 120 913 245 924 1.60 1 276.90 193 Kab. Sanggau 223 105 208 070 431 175 1.67 12 857.70 34 Kab. Ketapang 235 293 220 458 455 751 1.84 31 240.74 15 Kab. Sintang 198 324 186 368 384 692 1.66 21 635.00 18

Kab. Kapuas Hulu 119 924 116 212 236 136 1.80 29 842.00 8

Kab. Sekadau 98 415 91 633 190 048 1.50 5 444.30 35

Kab. Melawi 96 486 92 575 189 061 1.71 10 644.00 18

Kab. Kayong Utara 51 581 49 948 101 529 1.74 4 568.26 22

Kab. Kubu Raya 268 590 260 730 529 320 1.68 6 985.20 76

Kota Pontianak 293 016 294 153 587 169 1.68 107.80 5 447

Kota Singkawang 101 195 97 547 198 742 1.82 504.00 394

Kalimantan Barat 2 366 292 2 275 101 4 641 393 1.66 146 807.00 32

Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Barat

Menurut kelompok umur, penduduk Provinsi Kalimantan Barat tahun 2008-2013 masih membentuk piramida dengan kelompok umur usia anak dan usia produktif relatif besar, sedangkan berdasarkan lapangan usaha, penduduk yang bekerja di Provinsi Kalimantan Barat pada tahun 2008-2013 masih didominasi penduduk yang bekerja di sektor pertanian, perdagangan, jasa dan industri.

Kinerja Perekonomian Kalimantan Barat

Kondisi Fiskal Pemerintah Daerah Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat Penerimaan keuangan daerah merupakan sumber pendapatan pemerintah daerah yang akan digunakan untuk membiayai pembangunan daerah tersebut. Penerimaan daerah dapat bersumber dari dalam daerah itu sendiri, maupun dari pemerintah pusat. Penerimaan yang bersumber dari dalam daerah itu sendiri disebut Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang terdiri dari pendapatan pajak, retribusi, laba/bagi hasil Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) dan pendapatan asli daerah lainnya. Sedangkan pendapatan yang berasal dari pemerintah pusat biasa disebut dana perimbangan. Dana perimbangan terdiri dari Dana Alokasi Umum

37 (DAU), Dana Alokasi Khusus (DAK) dan BHPBP (Bagi Hasil Pajak/Bukan Pajak) dan penerimaan daerah lainnya.

Kinerja keuangan suatu daerah dapat dilihat ataupun diukur berdasarkan proporsi sumber penerimaan yang berasal dari luar daerah tersebut terhadap total penerimaan daerah. Semakin besar proporsi penerimaan daerah yang berasal dari dalam daerah tersebut terhadap total penerimaan, menandakan semakin baiknya kinerja keuangan daerah tersebut. Hal tersebut berarti bahwa pemerintah daerah dapat mengelola sumber-sumber yang ada di daerah dengan efisien sehingga dapat membiayai sebagian besar kebutuhan pembangunan daerahnya dengan sumber penerimaan keuangan yang berasal dari dalam daerah tersebut.

Kemampuan suatu daerah dalam membiayai pembangunannya melalui sumber yang berasal dari daerah tersebut dapat dilihat dari proporsi PAD terhadap total penerimaan daerah melalui ukuran derajat desentralisasi fiskal. Sementara itu besarnya sumber penerimaan daerah yang berasal dari potensi sumber daya yang dimiliki oleh daerah tersebut dapat dilihat dari derajat potensi daerah yang diukur dari besarnya bagi hasil pajak/bukan pajak daerah tersebut terhadap total penerimaan daerah. Sedangkan ketergantungan penerimaan keuangan suatu daerah terhadap pemerintah pusat, dapat dilihat dari besarnya jumlah Dana Alokasi Umum dan Dana Alokasi Khusus terhadap penerimaan total daerah tersebut yang disebut derajat ketergantungan.

Sumber: DJPK, 2008-2013

Gambar 6 Rata-rata nilai derajat desentralisasi fiskal, derajat potensi daerah dan derajat ketergantungan daerah kabupaten/kota di Kalimantan Barat, tahun 2008-2013

Selama tahun 2008-2013, rata-rata derajat desentralisasi fiskal kabupaten/ kota yang ada di Kalimantan Barat nilainya masih rendah di bawah 10%. Nilai tersebut menurut ukuran derajat desentralisasi fiskal tim Fisipol UGM termasuk dalam kategori kurang. Kabupaten/kota yang memiliki derajat desentralisasi fiskal

0 10 20 30 40 50 60 70 80 90 100 Per sen Kabupaten/Kota

38

cukup dengan rentang derajat 20-30% adalah Kota Pontianak, dengan nilai derajat desentralisasi sebesar 22.46%. Sebagai kota perdagangan dan jasa, Kota Pontianak memiliki pendapatan asli daerah yang cukup tinggi dari pajak, retribusi dan laba BUMD. Sementara itu, tiga belas kabupaten/kota lain memiliki derajat desentralisasi fiskal dengan kategori kurang, yaitu dengan nilai kurang dari 10%.

Derajat potensi daerah kabupaten/kota di Kalimantan Barat secara rata-rata bernilai di bawah 15%. Dilihat dari nilainya, derajat potensi daerah kabupaten/kota tersebut masih terbilang cukup rendah. Kabupaten/kota yang memiliki derajat potensi sumber daya lebih besar dibanding daerah lain adalah Kota Pontianak yang memang mempunyai potensi dalam meningkatkan BHPBP. Daerah yang mempunyai Bagi Hasil Pajak dan Bukan Pajak besar adalah daerah-daerah yang struktur perekonomiannya didominasi oleh sektor perdagangan, hotel dan restoran, serta sektor industri dan pertambangan.

Sebagian besar kabupaten/kota di Kalimantan Barat masih memiliki ketergantungan yang sangat tinggi terhadap dana perimbangan dari pusat, khususnya dana yang berasal dari DAU dan DAK. Berdasarkan rata-rata, nilai derajat ketergantungan fiskal kabupaten/kota di Kalimantan Barat adalah sebesar 80%. Kabupaten/kota yang mempunyai rasio DAU terhadap total penerimaan daerah lebih kecil dibanding daerah lain adalah Kota Pontianak. Hal ini sesuai dengan tujuan pemberian DAU untuk mengurangi kesenjangan horizontal antara kabupaten/kota. Daerah yang mempunyai proporsi PAD dan BHPBP terhadap total penerimaan daerah lebih besar dibandingkan daerah lain, maka proporsi DAU terhadap total penerimaan lebih kecil dibandingkan dengan daerah lain.

Selain proporsi penerimaan daerah terhadap total penerimaan, terdapat ukuran lain dalam mengukur tingkat kemandirian fiskal daerah, yaitu dengan membandingkannya dengan total pengeluaran daerah. Menurut Halim (2007), tingkat kemandirian daerah dapat diukur melalui proporsi PAD terhadap total pengeluaran daerah dan proporsi jumlah PAD dan BHPBP terhadap total pengeluaran daerah.

Sumber: DJPK, 2008-2013

Gambar 7 Rata-rata nilai derajat kemandirian daerah Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat, tahun 2008-2013

0 5 10 15 20 25 30 35 Per sen Kabupaten/Kota

39 Berdasarkan Gambar 7, dapat dilihat bahwa rata-rata derajat kemandirian fiskal yang diukur dari proporsi PAD terhadap total pengeluaran daerah masih terbilang rendah sekali, yaitu hanya sebesar 10%. Hanya Kota Pontianak yang memiliki nilai derajat kemandirian di atas kabupaten/kota lainnya, yaitu sebesar 20%. Hal ini dapat diartikan bahwa kegiatan pembangunan di Kota Pontianak dibiayai dari penerimaan asli daerah sebesar 20%.

Sementara itu, rata-rata derajat kemandirian fiskal yang diukur melalui proporsi jumlah PAD dan BHPBP terhadap total pengeluaran daerah adalah 15%. Nilai tersebut sedikit lebih tinggi apabila dibandingkan dengan derajat kemandirian fiskal yang berasal hanya dari PAD. Kabupaten/kota yang mempunyai rasio lebih besar dari daerah lain adalah Kota Pontianak. Hal tersebut mengindikasikan bahwa Kota Pontianak memiliki nilai dana bagi hasil pajak dan bukan pajak yang cukup tinggi.

Dana yang diterima oleh daerah baik dari pusat dalam bentuk dana perimbangan, maupun yang diperoleh dari hasil penggalian potensi dan sumber daya yang ada di daerah kemudian dikelola dan digunakan untuk membiayai kegiatan-kegiatan pemerintah daerah dalam rangka mencapai tujuan daerah masing-masing. Pengeluaran daerah selama masa desentralisasi fiskal telah mengalami berbagai perubahan format penyajian dalam rangka menghasilkan laporan pengeluaran daerah yang semakin baik.

Belanja atau pengeluaran daerah dalam kajian ini dikelompokkan menjadi belanja langsung dan tidak langsung. Belanja langsung merupakan belanja yang dianggarkan terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan, sedangkan belanja tidak langsung adalah belanja yang dianggarkan tidak terkait secara langsung dengan pelaksanaan program dan kegiatan.

Sumber: DJPK, 2008-2013

Gambar 8 Rata-rata nilai proporsi belanja langsung dan proporsi belanja tidak langsung Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat, tahun 2008-2013

0,00 10,00 20,00 30,00 40,00 50,00 60,00 70,00 Per sen Kabupaten/Kota

40

Pengeluaran pemerintah selama kurun waktu 2008-2013 didominasi oleh belanja langsung. Pemerintah mengalokasikan dana bagi belanja langsung rata-rata sebesar 53.06% pertahun dari total pengeluaran pemerintah. Belanja langsung ini meliputi belanja pegawai, belanja barang dan jasa, serta belanja modal. Belanja langsung yang tinggi ini berkaitan dengan upaya pemerintah dalam meningkatkan pembangunan daerah Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat. Rata-rata proporsi belanja langsung tertinggi adalah Kabupaten Kayong Utara (63.30%) dan terendah adalah Kabupaten Pontianak (37.40%). Sedangkan proporsi belanja tidak langsung tertinggi adalah Kabupaten Pontianak (62.60%) dan terendah adalah Kabupaten Kayong Utara (36.70%).

Sumber: DJPK, 2008-2013

Gambar 9 Rata-rata nilai proporsi belanja Pemerintah Daerah untuk sektor pertanian Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat, tahun 2008-2013

Jika dibandingkan antara belanja pemerintah daerah untuk subsektor tanaman pangan dan peternakan, serta subsektor perkebunan, maka dapat disampaikan bahwa semua pemerintah daerah lebih fokus pada pembangunan subsektor tanaman pangan dan peternakan. Hal ini ditunjukkan oleh rata-rata proporsi belanja pemerintah daerah untuk subsektor tersebut yang relatif besar. Kondisi Perekonomian Kalimantan Barat

Kondisi pertumbuhan ekonomi di Kalimantan Barat dalam kurun waktu tahun 2008 secara umum menunjukkan perkembangan yang lebih baik. Angka pertumbuhan ekonomi pada tahun 2008-2009 hanya tumbuh sebesar 5.45% dan 4.80% sebagai imbas kondisi eksternal yaitu krisis ekonomi global mulai menunjukkan perkembangan positif pada tahun 2010 yaitu sebesar 5.47%. Pada

0,00 1,00 2,00 3,00 4,00 5,00 6,00 Per sen Kabupaten/Kota

41 tahun 2011 tumbuh sebesar 5.97%. Selanjutnya, pada tahun 2012 dan 2013 tumbuh sebesar 5.83% dan 6.08% sehingga rata-rata pertumbuhan selama enam tahun adalah sebesar 5.60%.

Tabel 6 Pertumbuhan sektoral ekonomi Kalimantan Barat tahun 2008-2013

Sektor 2008 (%) 2009 (%) 2010 (%) 2011 (%) 2012 (%) 2013 (%) Pertanian 5.76 3.99 4.24 4.56 4.30 7.34

Petambangan & Penggalian 10.25 9.03 8.96 7.07 5.15 4.70

Industri Pengolahan 2.11 0.80 2.23 2.56 3.10 4.29

Listrik, Gas & Air Minum 4.98 4.36 7.17 3.91 4.62 4.48

Bangunan 6.44 7.58 8.23 9.44 9.78 5.84

Perdagangan, Hotel & Restoran 5.58 3.90 5.57 6.49 6.60 5.42

Pengangkutan & Komunikasi 12.27 13.29 10.21 10.69 6.56 7.06

Keuangan, Persewaan & Jasa Perusahaan 4.57 4.99 6.58 6.13 6.66 6.41

Jasa-Jasa 4.51 5.90 6.08 6.53 7.71 6.55

Pertumbuhan 5.45 4.80 5.47 5.97 5.83 6.08

Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Barat, 2008-2013

Secara sektoral semua sektor ekonomi mengalami pertumbuhan positif. Pertumbuhan tertinggi secara berturut-turut dialami oleh sektor bangunan sebesar 5.84%, sektor jasa yaitu 6.55% dan sektor keuangan, persewaan dan jasa perusahaan yaitu 6.41%, sedangkan pertumbuhan terendah dicapai oleh sektor industri pengolahan sebesar 4.29%. Sektor-sektor yang memiliki peranan cukup besar sebagai penggerak utama (primemover) perekonomian Kalimantan Barat adalah sektor pertanian, perdagangan dan industri pengolahan, dengan pertumbuhan masing-masing sektor adalah 7.34%, 5.42% dan 4.29%. selama periode 2008-2013 pertumbuhan ekonomi Kalimantan Barat berfluktuasi. Pertumbuhan ekonomi terendah terjadi pada tahun 2009 yaitu sebesar 4.80% dan tertinggi pada tahun 2013 sebesar 6.08%. Perlambatan pertumbuhan ekonomi yang terjadi pada tahun 2009 karena didominasi oleh penurunan pertumbuhan sektor pertanian, industri dan perdagangan.

Tabel 7 Distribusi PDRB atas dasar harga konstan di Kalimantan Barat tahun 2008-2013 Sektor 2008 (%) 2009 (%) 2010 (%) 2011 (%) 2012 (%) 2013 (%) Pertanian 25.47 25.27 24.99 24.64 24.29 24.48

Pertambangan & Penggalian 1.65 1.72 1.78 1.79 1.78 1.75

Industri Pengolahan 18.03 17.34 16.83 16.29 15.85 15.62

Listrik, Gas & Air Minum 0.43 0.43 0.44 0.42 0.42 0.42

Bangunan 8.00 8.21 8.44 8.72 9.03 9.01

Perdagangan, Hotel & Restoran 21.25 21.07 21.11 21.22 21.34 21.22

Pengangkutan & Komunikasi 8.21 8.87 9.28 9.69 9.75 9.85

Keuangan, Real Estate & Jasa Perusahaan 5.55 5.56 5.55 5.56 5.67 5.69

Jasa-Jasa 11.41 11.53 11.60 11.67 11.86 11.96

42

Selama kurun waktu 2008-2013, sektor pertanian merupakan sektor yang paling besar memberikan sumbangan bagi pembentukkan PDRB Kalimantan Barat namun peranannya terus berkurang, kondisi ini dapat menjadi indikasi terjadinya pergeseran struktur ekonomi di Kalimantan Barat. Pada tahun 2008 peranan sektor pertanian sebesar 25.47% menjadi sebesar 24.48% pada tahun 2013. Meski demikian, secara umum sektor pertanian masih menjadi tumpuan bagi perekonomian daerah di Kalimantan Barat. Pergeseran perekonomian dari perekonomian tradisional menuju modern terjadi dengan penurunan kontribusi sektor pertanian secara bertahap dan peningkatan kontribusi sektor perdagangan dan jasa-jasa tanpa melewati tahap pada peningkatan kontribusi sektor industri. Sektor industri pengolahan yang diharapkan dapat memberikan nilai tambah yang lebih tinggi terhadap produk primer di Kalimantan Barat kontribusinya justru secara bertahap mengalami penurunan. Selama tahun 2008-2013 kontribusi sektor industri dalam perekonomian mengalami penurunan dari sebesar18.03% menjadi 15.62%.

Tabel 8 Rata-rata per tahun PDRB sektor pertanian dan kontribusi subsektor menurut Kabupaten/Kota di Kalimantan Barat tahun 2008-2013

Kabupaten/Kota PDRB Sektor Pertanian (Rp miliar) Kontribusi Subsektor (%) Tanaman

Pangan Perkebunan Peternakan

Sambas 1419146.84 29.64 11.05 1.80 Bengkayang 573858.81 28.17 13.35 1.75 Landak 837367.83 21.30 11.60 2.48 Pontianak 324537.52 10.28 3.89 6.32 Sanggau 975467.16 7.81 23.06 2.32 Ketapang 909064.94 5.72 13.35 1.90 Sintang 812868.11 9.73 19.92 4.49 Kapuas Hulu 515738.60 16.30 6.19 5.02 Sekadau 339990.49 7.71 34.77 4.21 Melawi 164751.83 9.95 10.18 3.06 Kayong Utara 192339.71 19.30 0.59 1.22 Kubu Raya 1003836.05 8.31 4.33 3.89 Kota Pontianak 90106.68 0.32 0 0.21 Kota Singkawang 173627.49 3.86 2.63 1.79

Sumber: BPS Provinsi Kalimantan Barat, 2008-2013

Secara nominal, PDRB sektor pertanian terbesar terdapat di Kabupaten Sambas dan terendah di Kota Pontianak. Hampir semua daerah, PDRB sektor pertanian lebih banyak disumbang oleh subsektor tanaman pangan, kecuali Kabupaten Sanggau, Ketapang, Sintang, Sekadau dan Melawi lebih banyak disumbang oleh subsektor perkebunan.

Komoditi unggulan pertanian tanaman pangan di Kalimantan Barat selain tanaman padi yaitu jagung, kedelai, ubi jalar dan ubi kayu. Sedangkan komoditi unggulan perkebunan yaitu kelapa sawit, karet, kelapa, lada, kakao, kopi dan

43 cengkeh. Tanaman perkebunan khususnya kelapa sawit selama ini mengalami perkembangan yang cukup pesat. Hal ini didukung oleh masuknya investasi swasta yang terus mengalami peningkatan untuk pengembangan perkebunan kelapa sawit di Kalimantan Barat. Kelapa sawit menjadi salah satu sasaran utama investasi sesuai dengan koridor ekonomi di Kalimantan dalam Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI).

Kontribusi subsektor tanaman pangan tertinggi terdapat di Kabupaten Sambas, subsektor perkebunan di Kabupaten Sekadau dan subsektor peternakan di Kabupaten Pontianak. Berdasarkan data tersebut seharusnya tiap-tiap daerah mengenal dan memahami potensi daerahnya. Dengan mengenal dan memahami potensi daerah, pemerintah daerah dapat mengembangkan potensi tersebut guna meningkatkan PDRB demi peningkatan pendapatan penduduknya. Dalam hal ini, pemerintah daerah dapat mengalokasikan belanja daerah dalam rangka pengembangan potensi daerah.

Kinerja Sektor Pertanian

Sektor pertanian secara umum masih menjadi tulang punggung pembangunan perekonomian Kalimantan Barat, karena sektor ini memberikan kontribusi terbesar yaitu 24.48% dari total PDRB pada tahun 2013. Sedangkan laju pertumbuhan sektor pertanian tumbuh 4.49% berasal dari subsektor tanaman bahan makanan (3.73%), subsektor perkebunan (6.85%) dan subsektor peternakan tumbuh 2.84%. Secara absolut nilai tambah bruto atas dasar harga berlaku pada tahun 2013 sebesar 19.61 triliun rupiah. Seiring besarnya peranan sektor pertanian terhadap pembentukkan PDRB, sekitar 60% penduduk usia 15 tahun ke atas bekerja di sektor pertanian. Tenaga kerja pertanian tersebut tersebar ke dalam empat subsektor pertanian, dimana penyerapan tenaga kerja terbesar adalah subsektor perkebunan (68.61%), tanaman pangan (26.44%), sub sektor hortikultura (3.12%) dan diikuti peternakan (1.84%).

Dalam mengoptimalkan pembangunan pertanian, faktor kekuatan sumber daya manusia atau ketenagakerjaan merupakan unsur yang penting dalam menggerakkan roda pembangunan di Kalimantan Barat. Jika dilihat jumlah penduduk yang bekerja di sektor pertanian berdasarkan tingkat pendidikan, maka diperoleh data bahwa jumlah penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja pada empat subsektor pertanian pada tahun 2013 paling banyak terdapat pada lulusan SD (76.14%), lulusan SLTP (14.91%), lulusan SMA (8.47%) dan diikuti lulusan UNIVERSITAS (0.48%). Kondisi ini menunjukkan bahwa produktivitas tenaga kerja pertanian masih rendah, dan hal tersebut disebabkan masih rendahnya tingkat pendidikan dan kemampuan adopsi teknologi (BPS 2013). Upaya peningkatan kualitas tenaga kerja pertanian diharapkan mampu meningkatkan produktivitas, yang akhirnya mampu meningkatkan kontribusi pertanian terhadap PDRB. Oleh karena itu, diperlukan strategi yang tepat agar langkah-langkah yang diambil dapat sesuai dengan sasaran yang diharapkan. Selain itu, untuk mempertahankan dan meningkatkan kontribusi sektor ini, dibutuhkan pelaksanaan teknologi pertanian yang utuh terutama penyediaan benih/bibit unggul bermutu.

44

Sumber: BPS, 2013

Gambar 10 Jumlah penduduk berumur 15 tahun ke atas yang bekerja di lapangan pekerjaan utama sektor pertanian menurut tingkat pendidikan tahun 2013

Subsektor Tanaman Pangan

Usaha subsektor tanaman pangan meliputi usaha tanaman padi dan palawija. Berdasarkan data BPS diketahui bahwa rumah tangga tanaman pangan di Kalimantan Barat didominasi oleh rumah tangga yang mengelola tanaman padi. Dari keseluruhan rumah tangga yang mengelola tanaman pangan (423.6 ribu), sebanyak 97.09% (411.3 ribu) diantaranya mengelola tanaman padi, sedangkan rumah tangga yang mengelola tanaman palawija adalah sebanyak 19.94% (84.45 ribu) dari keseluruhan rumah tangga tanaman pangan.

Pertanian tanaman bahan makanan di Kalimantan Barat menjadi penyangga pangan utama, akan tetapi dalam 3 (tiga) tahun terakhir komoditi utamanya (padi, jagung dan ubi kayu) menunjukkan trend yang berfluktuatif. Tanaman padi secara keseluruhan masih merupakan tanaman pangan yang paling dominan di wilayah Kalimantan Barat. Perubahan musim dan cuaca serta bertambahnya luas panen menjadi salah satu faktor penyebab meningkatnya produksi padi, yaitu dari 1 321 443 ton di tahun 2008 meningkat menjadi 1 441 877 ton tahun 2013. Sentra padi di Kalimantan Barat yaitu Kabupaten Sambas memberi kontribusi sekitar 20.29% terhadap produksi padi Provinsi. Kabupaten lainnya yang memberi daya dukung produksi padi cukup besar yaitu Kabupaten Landak sekitar 15.44% dan Kubu Raya sekitar 15.06% (BPS, 2013). Produksi jagung dan ubi kayu selama kurun waktu 2008-2013 sangat berfluktuatif. Sedangkan produksi kacang-kacangan mengalami pertumbuhan melamban, komoditi kacang hijau mengalami pertumbuhan paling lambat sebesar -67.79% pada tahun 2013.

1 10 100 1000 10000 100000 1000000 Tanaman Pangan

Hortikultura Perkebunan Peternakan

Or an g SD SLTP SMA UNIVERSITAS

45 Tabel 9 Luas panen, produksi dan produktivitas tanaman pangan di Kalimantan

Barat tahun 2008-2013 Komoditas 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Pertumbuhan 2013 Terhadap 2012 (%) Luas Panen (Ha)

Padi 423 601 418 929 428 461 444 353 452 114 464 898 2.83 Jagung 42 834 41 302 45 014 45 593 44 873 42 597 -5.07 Kedelai 1 333 1 758 2 541 1501 1 502 1 203 -19.91 Kacang Tanah 1 779 1 929 1 863 1 426 1 287 1 111 -13.68 Kacang Hijau 668 1 832 1 821 2 308 2 269 733 -67.70 Ubi Kayu 13 677 11 524 11 913 10 783 9 303 10 821 16.32 Ubi Jalar 1 643 1 519 1 713 1 713 1 435 1 818 26.69 Produksi (Ton) Padi 1 321 433 1 300 798 1 343 888 1 372 989 1 395 044 1 441 877 3.36 Jagung 181 407 166 833 168 273 160 826 159 112 159 882 0.48 Kedelai 1 562 2 046 3 478 2 026 2 070 1 677 -18.99 Kacang Tanah 2 012 2 107 2 124 1 763 1 753 1 317 -24.87 Kacang Hijau 463 1 309 1 310 1 687 1 717 553 -67.79 Ubi Kayu 193 804 166 585 177 806 141 548 141 911 168 521 18.75 Ubi Jalar 12 871 11 735 14 959 13 774 11 576 15 296 32.14 Produktivitas (Ku/Ha) Padi 31.20 31.05 31.37 30.90 30.86 31.01 0.49 Jagung 42.35 40.39 37.38 35.27 35.46 37.53 5.84 Kedelai 11.72 11.64 13.69 13.50 13.78 13.94 1.16 Kacang Tanah 11.31 10.93 11.40 12.36 13.62 11.85 -13.00 Kacang Hijau 6.93 7.15 7.19 7.31 7.57 7.54 -0.40 Ubi Kayu 141.70 144.55 149.25 131.27 152.54 155.74 2.10 Ubi Jalar 78.34 77.25 79.74 80.41 80.67 84.14 4.30 Sumber: BPS 2008-2013 Subsektor Perkebunan

Pada sub sektor perkebunan, karet dan kelapa sawit merupakan komoditas unggulan di Kalimantan Barat, sedangkan untuk komoditi kelapa merupakan urutan ketiga. Usaha perkebunan umumnya dikelola oleh masyarakat (kebun rakyat), namun ada beberapa perusahaan swasta dan BUMN yang mengusahakan perkebunan dalam skala besar. Dari ketiga produk unggulan sektor perkebunan yang memberikan kontribusi produksi yang paling tinggi adalah produksi kelapa sawit dengan pertumbuhan produksi 12.07%. Peningkatan pertumbuhan kelapa sawit sejalan dengan meningkatnya investasi di perkebunan besar.

Potensi tanaman perkebunan juga dapat dilihat dari luas tanaman perkebunan. Total luas tanaman paling besar di Kalimantan Barat yang digunakan rumah tangga untuk usaha perkebunan adalah luas tanam tanaman kelapa sawit, yaitu 914.8 ribu hektar. Luas tanaman perkebunan paling besar selanjutnya adalah tanaman karet, dengan luas sebesar 351.1 ribu hektar dan tanaman kelapa dengan luas sekitar 107.1 ribu hektar.

46

Tabel 10 Luas areal, produksi dan produktivitas perkebunan di Kalimantan Barat tahun 2008-2013 Komoditas 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Pertumbuhan 2013 Terhadap 2012 (%) Luas Areal (Ha)

Karet 556 556 571 321 581 664 588 229 594 769 351 103 -10.44 Kelapa 110 393 109 251 108 245 108 241 107 305 107 155 -0.16 Kelapa Sawit 499 548 602 124 950 948 880 767 1 060 251 914 835 -0.89 Kopi 13 226 13 047 12 468 12 754 12 882 12 737 -1.13 Lada 10 110 9 629 9 190 8 347 7 810 7 107 -9.00 Kakao 9 106 10 025 10 784 15 395 12 480 11 754 -5.82 Produksi (Ton) Karet 228 192 234 181 245 813 249 539 258 934 239 415 -17.12 Kelapa 75 400 77 197 78 278 78 170 77 898 77 456 -0.57 Kelapa Sawit 845 309 862 515 921 560 967 626 1 007 985 1 794 466 12.07 Kopi 4 295 4 275 3 934 4 150 3 849 3 841 -0.21 Lada 4 876 4 620 4 411 4 123 3 513 3 470 -1.22 Kakao 1 969 2 277 2 270 1 895 2 274 2 032 -10.65 Sumber: BPS 2008-2013 Subsektor Peternakan

Sub sektor peternakan sebagai penyumbang protein yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Beberapa komoditi yang sudah dikembangkan di Kalimantan Barat antara lain ayam, sapi, kambing dan babi. Pertumbuhan sub sektor peternakan menunjukkan nilai yang positif selama lima tahun terakhir. Kondisi ini didukung dengan program Ketahanan Pangan dan Swasembada Daging tahun 2014.

Tabel 11 Populasi ternak di Kalimantan Barat tahun 2008-2013

Jenis 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Pertumbuhan 2013 Terhadap 2012 (%) Ruminansia Sapi Potong 168 053 175 936 176 734 153 320 169 240 140 204 -17.16 Sapi Perah 173 84 72 227 290 169 -41.72 Kerbau 2 278 1 772 1 772 3 166 3 345 2 219 -33.66 Kambing 135 969 156 354 157 243 167 591 171 222 167 471 -2.19 NonRuminansia Babi 444 677 474 804 476 422 484 689 484 284 413 508 -14.61 Unggas Ayam Buras 6 298 765 7 122 940 5 857 609 5 885 553 5 901 410 6 778 650 14.86 Ayam Ras Petelur 3 094 621 2 298 597 2 024 982 2 334 026 2 977 850 2 475 690 -16.86 Ayam Ras Pedaging 18 917 875 16 041 090 17 634 089 21 262 386 21 967 877 12 545 991 -42.89 Itik 475 835 458 934 435 173 476 105 646 823 617 481 -4.54 Sumber: BPS 2008-2013

47 Dilihat dari jumlah ternak yang dipelihara oleh rumah tangga pertanian di Kalimantan Barat, sapi potong merupakan ternak besar yang mempunyai populasi paling banyak di Kalimantan Barat dengan jumlah mencapai 140.2 ribu. Sedangkan dari ternak kecil jumlah populasi yang paling besar adalah babi dengan jumlahnya mencapai 413.5 ribu. Ayam ras pedaging merupakan jenis unggas yang mempunyai populasi terbesar dengan jumlah mencapai 12.5 juta ekor.

Tabel 12 menunjukkan bahwa pada tahun 2013 populasi ternak ruminansia mengalami penurunan bila dibandingkan dengan tahun 2012 yaitu untuk sapi potong -17.16%, sapi perah -41.72%, kerbau -33.66% dan kambing -2.19%. Populasi ternak non ruminansia bila dibandingkan dengan tahun sebelumnya (2012) juga mengalami penurunan yaitu untuk babi 14.61%, ayam ras petelur -16.86%, ayam ras pedaging -42.89 dan itik -4.54%. Hanya populasi ayam buras yang mengalami peningkatan pada tahun 2013 sebesar 14.86%.

Peningkatan produksi daging sapi dan kambing masih belum mampu memenuhi kebutuhan daerah sehingga setiap tahun daerah masih harus mengimpor sapi dan kambing dari luar Kalimantan Barat. Hal ini disebabkankarena daerah belum mampu menyiapkan bibit/benih ternak sendiri dan masih bergantung terhadap produk luar Kalimantan Barat.

Tabel 12 Perkembangan produksi peternakan di Kalimantan Barat tahun 2008-2013 Jenis 2008 2009 2010 2011 2012 2013 Pertumbuhan 2013 Terhadap 2012 (%) Daging Sapi Potong 5 875 6 927 8 360 7 081 7 263 8 077 11.20 Kambing 508 663 608 621 474 515 8.65 Babi 6 522 6 842 10 624 10 336 18 516 26 336 42.23 Ayam Buras 5 060 4 529 6 162 5 156 5 992 6 680 11.48 Ayam Ras Petelur 526 523 935 1 283 1 289 1 653 28.24 Ayam Ras Pedaging 24 235 24 062 27 292 27 129 41 010 43 955 7.18 Itik 99 79 166 349 521 509 -2.30 Telur Ayam Buras 2 445 3 736 3 058 3 072 3 080 3 152 2.34 Ayam Ras Petelur 22 092 15 986 16 256 18 738 23 906 24 527 2.60 Itik 2 143 2 169 2 113 2 382 3 278 3 245 -1.01 Susu 36 36 77 142 181 36 -80.11 Sumber: BPS 2008-2013

48

Kemiskinan

Perubahan tingkat kemiskinan selama periode 2008-2013 dapat dianalisis melalui perkembangan tingkat kemiskinan yang mencakup: jumlah dan persentase penduduk miskin (P0), indeks kedalaman (P1), indeks keparahan (P2) dan garis kemiskinan. Garis kemiskinan selama periode 2008-2013 mengalami peningkatan dari sebesar Rp 158 834 pada tahun 2008 menjadi sebesar Rp 270 306 pada tahun 2013. Peningkatan garis kemiskinan dari tahun ke tahun terjadi karena pengaruh inflasi pada komoditi makanan maupun non makanan yang menjadi dasar

Dokumen terkait