BAB IV GAMBARAN UMUM KABUPATEN BOJONEGORO
4.4. Pertanian
Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu daerah penghasil komoditas pertanian terbesar di Provinsi Jawa Timur. Sektor pertanian di
51 Kabupaten Bojonegoro merupakan penyumbang PDRB terbesar kedua setelah sektor pertambangan. Kendati demikian, sektor pertanian di Kabupaten Bojonegoro masih menjadi pilihan utama masyarakat untuk menggantungkan pekerjaannya. Jumlah rumah tangga pertanian di Kabupaten Bojonegoro yang tercatat dalam Sensus Pertanian tahun 2013 adalah sebanyak 239.374. Sedangkan jumlah petani yang tercatat menurut Sensus Pertanian 2013 adalah sebanyak 366.484 orang. Subsektor yang diusahakan oleh rumah tangga petani di Kabpuaten Bojonegoro terdiri dari subsektor tanaman pangan, hortikultura, perkebunan, peternakan, perikanan, kehutanan, serta jasa pertanian. Untuk data jumla rumah tangga pertanian menurut subsektor yang diusahakan dan kecamatan dapat dilihat pada Tabel 9.
52 banyak dilakukan di Kabupaten Bojonegoro adalah usaha tanaman pangan dengan jumlah sebanyak 214.939. Sedangkan kecamatan dengan usaha tanaman pangan paling banyak adalah Kecamatan Ngasem yaitu sebanyak 17.015 rumah tangga usaha. Peternakan adalah usaha yang banyak kedua dilakukan oleh rumah tangga
53 pertanian di Bojonegoro yaitu sebanyak 173.454. Kecamatan yang paling banyak melakukan usaha peternakan adalah Kecamatan Ngasem yaitu sebanyak 15.189 usaha. Usaha hortikultura menduduki peringkat ketiga dengan jumlah rumah tangga yang mengusahakan adalah sebanyak 128.931 dan kecamatan yang paling banyak menjalankan adalah Kecamatan Ngasem sebanyak 13.871. Selanjutnya adalah usaha kehutanan sebanyak 79.239 dengan kecamatan yang paling banyak menjalankan usaha kehutanan adalah Kecamatan Kedungadem sebanyak 8.227 usaha. Lalu ada usaha perkebunan dengan jumlah usaha sebanyak 58.901 dan kecamatan yang paling banyak megusahakannya adalah Kecamatan Kepoh Baru dengan jumlah 10.032 usaha. Usaha jasa pertanian dan usaha perikanan adalah usaha yang paling sedikit dilakukan. Usaha jasa pertanian hanya sebanyak 17.221 dan usaha perikanan sebanyak 2.246. Kecamatan yang paling banyak menjalankan usaha jasa pertanian dan usaha perikanan berturut-turut adalah Kecamatan Ngasem dan Kecamatan Kanor.
54 BAB V
HASIL DAN PEMBAHASAN
5.1. Hasil Penelitian
Berdasarkan PDRB atas dasar harga konstan 2010 Kabupaten Bojonegoro tahun 2010-2016 dapat dilihat bahwa sektor pertanian selalu mengalami peningkatan setiap tahunnya. Seperti yang terdapat pada Tabel 10 berikut.
Tabel 10. PDRB Subsektor Pertanian Atas Dasar Harga Konstan 2010 Kabupaten Bojonegoro Tahun 2010-2016
Berdasarkan Tabel 10, dapat dilihat bahwa subsektor yang memiliki rata-rata terbesar dalam kontribusi PDRB sektor pertanian Kabupaten Bojonegoro adalah subsektor tanaman pangan dengan nilai sebesar 2.893,26 miliar Rupiah.
Diikuti dengan subsektor peternakan diurutan kedua dengan nilai rata-rata sebesar 1.070,23 miliar Rupiah. Lalu subsektor kehutanan di urutan ketiga dengan nilai rata-rata sebesar 702,89 miliar Rupiah. Selanjutnya berturut-turut adalah subsektor perikanan, subsesktor hortikultura, subsektor perkebunan dan terakir subsektor jasa pertanian.
55 Sama dengan Kabupaten Bojonegoro, sektor pertanian Provinsi Jawa Timur juga mengalami peningkatan setiap tahunnya pada periode tahun 2010-2016. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 11 berikut.
Tabel 11. PDRB Subsektor Pertanian Atas Dasar Harga Konstan 2010 Provinsi
2010 46.010,26 13.372,87 20.785,15 26.996,42 1.507,68 4.239,64 20.592,53 133.504,55 2
2011 46.435,34 14.305,89 22.121,04 28.126,70 1.532,80 4.501,00 21.847,32 138.870,09 3
2012 47.585,49 14.461,71 23.452,40 29.055,79 1.658,79 5.675,78 24.112,61 146.002,57 4 2013 48.241,23 14.298,05 23.877,69 29.365,63 1.730,23 6.046,94 26.903,95 150.463,72
5 2014 49.679,13 14.735,31 25.064,59 29.704,57 1.792,32 6.055,08 28.752,94 155.783,94
6 2015 51.233,84 15.476,63 25.379,05 30.302,77 1.846,09 6.257,50 30.393,53 160.889,41
7 2016 52.136,82 16.541,38 25.192,05 31.360,23 1.891,13 5.709,67 31.931,63 164.762,91
Rata-rata 48.760,30 14.741,69 23.696,00 29.273,16 1.708,43 5.497,94 26.362,07 150.039,60 Sumber: BPS Provinsi Jawa Timur (2019) (Diolah)
Berdasarkan Tabel 11, dapat dilihat bahwa PDRB sektor pertanian Provinsi Jawa Timur selalu meningkat setiap tahunnya. Subsektor penyumbang paling besar untuk PDRB sektor pertanian adalah subsektor tanaman pangan dengan nilai rata-rata sebesar 48.760,30 miliar Rupiah. Di urutan kedua adalah subsektor peternakan dengan nilai rata-rata sebesar 29.273,16 miliar rupiah. Lalu ada subsektor perikanan di urutan ketiga dengan nilai rata-rata sebesar 26.362,07 miliar Rupiah. Selanjutnya berurutan adalah subsektor perkebunan, subsektor hortikultura, subsektor kehutanan, dan terakhir subsektor jasa pertanian.
56 5.1.1. Analisis Pertumbuhan dan Daya Saing Sektor dan Subsektor
Pertanian Kabupaten Bojonegoro
Pertumbuhan dan daya saing dari sektor ataupun subsektor pertanian Kabupaten Bojonegoro dapat dilihat dengan menggunakan metode analisis shift share. Data yang digunakan merupakan data PDRB atas dasar harga konstan 2010 Kabupaten Bojonegoro dan Provinsi Jawa Timur Tahun 2010 sampai dengan tahun 2016. Berikut merupakan tahapan dari analisis shift share:
1. Tahapan yang pertama yang dilakukan dalam metode shift share adalah menghitung persentase perubahan PDRB dengan menggunakan rumus,
%ΔYij = [(Y’ij-Yij)/Yij] x 100%
Maka hasil yang diperoleh adalah sebagai berikut:
Tabel 12. Perubahan PDRB Sektor Pertanian Kabupaten Bojonegoro Tahun 2010-2016
2. Tahapan kedua adalah menghitung rasio indikator kegiatan ekonomi yang terdiri dari :
a) Rasio pendapatan sektor pertanian pada wilayah Kabupaten Bojonegoro (ri) dengan rumus, ri = (Y’ij-Yij)/Yij. Sehinga hasil yang diperoleh sebagai berikut:
57 Tabel 13. Rasio PDRB Sektor Pertanian Pada Wilayah Kabupaten Bojonegoro Tahun 2010-2016
Tabel 14. Rasio PDRB Sektor Pertanian Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2016
No Subsektor Yi Y'i Ri
1 Pertanian 133.504,55 164.762,91 0,23
2 Tanaman Pangan 46.010,26 52.136,82 0,13
3 Hortikultura 13.372,87 16.541,38 0,24
4 Perkebunan 20.785,15 25.192,05 0,21
5 Peternakan 26.996,42 31.360,23 0,16
6 Jasa Pertanian 1.507,68 1.891,13 0,25
7 Kehutanan 4.239,64 5.709,67 0,35
8 Perikanan 20.592,53 31.931,63 0,55
c) Rasio Pendapatan Total wilayah Provinsi Jawa Timur (Ra) dengan rumus Ra = (Y’-Y)/Y. Sehingga diperoleh hasil sebagai berikut:
d)
Tabel 15. Rasio PDRB Total Provinsi Jawa Timur Tahun 2010-2016
No Y Y' Ra
1 990.648,80 1.405.563,50 0,42
Y = PDRB Total Jawa Timur 2010
58 Y’ = PDRB Total Jawa Timur 2016
3. Menghitung komponen pertumbuhan wilayah yang terdiri dari:
a) Pertumbuhan Regional (PR) dengan rumus, PR = (Ra)Yij. Sehingga diperoleh hasil sebagai berikut :
Tabel 16. Pertumbuhan Regional (PR) Sektor Pertanian Kabupaten Bojonegoro Tahun 2010-2016
Tabel 17. Pertumbuhan Proporsional (PP) Sektor Pertanian Kabupaten Bojonegoro Tahun 2010-2016
Sehingga hasil yang diperoleh sebagai berikut:
59 Tabel 18. Pertumbuhan Pangsa Wilayah (PPW) Sektor Pertanian Kabupaten
Bojonegoro Tahun 2010-2016
4. Menghitung persentase ketiga kompone pertumbuhan wilayah dengan rumus a) %PRij = (PRij)/Yij x 100%
b) %PPij = (PPij)/Yij x 100%
c) %PPWij = (PPWij)/Yij x 100%
Sehingga hasil yang diperoleh adala sebagai berikut:
Tabel 19. Persentase Pertumbuhan Wilayah sektor Pertanian Kabupaten Bojonegoro Tahun 2010-2016
60 5.1.2. Analisis Sektor Basis dan Non Basis Sektor Pertanian Kabupaten
Bojonegoro
Untuk mengetahui sektor basis maupun non basis dalam perekonomian Kabupaten Bojonegoro metode yang digunakan adalah Location Quotient (LQ).
LQ merupakan metode untuk menghitung perbandigan relatif sumbangan nilai sebuah sektor di suatu daerah (Kabupaten/Kota) terhadap sumbangan nilai tambah sektor yang bersangkutan dalam skala Provinsi. Rumus LQ adalah sebagai berikut:
Keterangan:
Viw = Pendapatan sektor/subsektor i pada daerah bawah Vtw = Pendapatan total sektor/subsektor i pada daerah bawah Vir = Pendapatan sektor/subsektor i pada daerah atas/lebih luas Vtr = Pendapatan total sektor/subsektor i pada daerah atas/lebih luas
Dalam perhitungan LQ ini, data yang digunakan merupakan data PDRB atas dasar harga konstan 2010 Kabupaten Bojonegoro dan Provinsi Jawa Timur tahun 2010 sampai dengan tahun 2016. Hasil dari perhitungan LQ dapat diliat pada Tabel 20 berikut.
61 Tabel 20. Nilai Location Quotient (LQ) Berdasarkan PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Kabupaten Bojonegoro dan Provinsi Jawa TimurTahun 2010-2016 adalah 1,05 yang berarti sektor pertanian Kabupaten Bojonegoro memiliki tingkat spesialiasi 1,05 kali dibanding sektor pertanian Provinsi Jawa Timur. Atau bisa dikatakan sektor pertanian Kabupaten Bojonegoro adala sektor uggulan/basis dalam perekonomian Kabupaten Bojonegoro. Nilai LQ subsektor pertanian di Kabupaten Bojonegoro yang memiliki nilai paling tinggi adalah subsektor kehutanan dengan nilai 3,77 dimana berarti tingkat spesialisasi subsektor kehutanan Kabupaten Bojonegoro 3,77 kali lebih tinggi dari tingkat spesialisasi subsektor kehutanan Provinsi Jawa Timur. Atau bisa dikatakan subsektor kehutanan Kabupaten Bojonegoro tergolong sebagai subsetor basis dalam perekonomian Kabupaten Bojonegoro. Hal ini dikarenakan Kabupaten Bojonegoro merupakan salah satu sentra produksi hasil olahan kayu jati yang dijadikan mebel atau furniture. Dan untuk subsektor-subsektor yang menjadi subsektor basis yang lain adalah subsektor tanaman pangan dan subsektor peternakan dengan nilai LQ masing-masing adalah 1,72 dan 1,06. Subsektor
62 tanaman pangan menjadi subsektor basis dikarenakan komoditas padi dan jagung yang merupakkan komoditas dengan produktivitas paling tinggi di Kabupaten Bojonegoro. Sedangkan untuk subsektor peternakan juga menjadi subsektor basis dikarenakan banyaknya masyarakat Kabupaten Bojonegoro yang memiliki hewan ternak seperti sapi, ayam dan kambing. Bahkan pemerintah Kabupaten Bojonegoro mengadakan lomba ternak untuk lebih meningkatkan gairah beternak bagi masyarakat Kabupaten Bojonegoro.
Subsektor pertanian dengan nilai LQ paling rendah berdasarkan Tabel 19 adalah subsektor perkebunan dengan nilai LQ hanya 0,21 yang berarti tingkat spesialisasi subsektor perkebuan Kabupaten Bojonegoro hanya 0,21 kali dari tingkat spesialisasi subsektor perkebunan Provinsi Jawa Timur. Dengan kata lain subsektor perkebunan Kabupaten Bojonegoro adalah subsektor non basis atau bukan termasuk sektor unggulan dalam perekonomian Kabupaten Bojonegoro.
Subsektor-subsektor yang termasuk subsektor non basis lain antara lain, subsektor perikanan, subsektor jasa pertanian, dan subsektor hortikultura dengan masing masing nilai LQ adalah 0,37 ; 0,96 ; dan 0,37.
5.2. Pembahasan Berdasarkan Subsektor Pertanian
Pada sub bab ini akan dibahas bagaimana peran masing-masing subsektor pertanian terhadap perekonomian Kabupaten Bojonegoro. Dengan menggabungkan hasil analisis dari dua metode yaitu shift share dan location quotient (LQ) serta akan disimpulkan hasil dari penelitian ini. Data yang akan ditampilkan pada pembahasan ini adalah data kontribusi dari masing-masing subsektor terhadap PDRB atas dasar harga konstan 2010 dengan satuan milyar
63 rupiah dan data laju pertumbuhan dari masing masing subsektor pada tahun 2010-2016. Konribusi yang dimaksud adalah nilai tambah yang dihasilkan subsektor-subsektor pertanian terhadap PDRB atas dasar harga konstan 2010 khusus sektor pertanian di Kabupaten Bojonegoro dengan satuan miliar rupiah. Laju pertumbuhan subsektor adalah persentase nilai tambah yang dihasilkan dari tahun ke tahun. Kontribusi dari masing-masing subsektor dapat dilihat pada Tabel 20 berikut.
Tabel 21. Persentase Kontribusi Sektor dan Subsektor Pertanian Terhadap PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Kabupaten Bojonegoro Tahun 2010-2016
Berdasarkan Tabel 21, persentase kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB atas dasar harga konstan 2010 Kabupaten Bojonegoro paling tinggi adalah pada tahun 2010 yaitu sebesar 14,56 persen. Dan paling rendah adalah pada tahun 2016 dengan persentase sebesar 10,42 persen. Persentase kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Bojonegoro dari tahun 2010 menuju 2016 yaitu cukup fluktuatif dan cenderung menurun. Hal ini disebabkan oleh banyaknya lahan pertanian yang beralih fungsi serta produktivitas sektor yang
64 juga menurun. Menurunnya produktivitas sektor pertanian diakibatkan oleh faktor cuaca dan juga bencana alam seperti banjir dan angin puting beliung.
Ditinjau dari Tabel 21, subsektor pertanian yang memiliki kontribusi terbesar pada PDRB Kabupaten Bojonegoro adalah subsektor tanaman pangan dengan nilai persentase rata-rata sebesar 7,09 persen. Di urutan kedua adalah subsektor peternakan dengan nilai persentase rata-rata 2,62 persen. Diikuti dengan subsektor kehutanan dengan persentase kontribusi sebesar 1,71 persen.
Selanjutnya berturut-turut adalah subsektor perikanan, subsektor hortikultura, subsektor perkebunan, dan terakhir adalah subsektor jasa pertanian.
5.2.1. Analisis Sektor Pertanian Kabupaten Bojonegoro
Dalam struktur perekonomian Kabupaten Bojonegoro, sektor pertanian memiliki peranan yang cukup besar. Selama kurun waktu tahun 2010 sampai dengan tahun 2016 sektor pertanian menjadi penyumbang terbesar kedua prekonomian Kabupaten Bojonegoro setelah sektor pertambangan dan penggalian.
Tidak hanya itu, peran sektor pertanian dalam menyediakan lapangan pekerjaan bagi masyarakat juga sangat besar. Mayoritas penduduk Bojonegoro menggantungkan kehidupannya kepada sektor pertanian. Ditinjau dari kontribusi sektor pertanian dalam menyumbang PDRB Kabupaten Bojonegoro berikut data yang didapat dari BPS Kabupaten Bojonegoro yang disajikan pada Gambar 2.
65 Gambar 2. Grafik Persentase Kontribusi Sektor Pertanian Terhadap PDRB Atas
Dasar Harga Konstan 2010 Kabupaten Bojonegoro Tahun 2010-2016
(Sumber: BPS Kabupaten Bojonegoro (diolah))
Ditinjau dari Gambar 2, persentase kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Bojonegoro cenderung menurun . Pada tahun 2010 menempati angka tertinggi dengan persentase sebesar 14,56 persen. Lalu pada tahun 2011 menurun menjadi 13,66 persen dan kembali meningkat pada kurun waktu 2012 menuju tahun 2014. Hal ini disebabkan oleh tidak menentunya produksi hasil pertanian serta menurunnya kontribusi dari sektor pertambangan dan penggalian pada kurun waktu yang sama. Namun pada tahun 2014 menuju tahun 2015 sektor pertanian kembali mengalami penurunan kontribusi terhadap PDRB. Dan mengalami kontribusi paling rendah pada tahun 2016 dengan persentase kontribusi hanya sebesar 10,42 persen. Penurunan itu diakibatkan oleh alih fungsi dari lahan pertanian sehingga produksi sektor pertanian menjadi menurun. Selain itu, menguatnya kembali sektor pertambangan juga menjadi faktor menurunnya kontribusi sektor pertanian terhadap PDRB Kabupaten Bojonegoro.
Berbeda dengan persentase kontribusi sektor pertanian, laju pertumbuhan sektor pertanian selama kurun waktu 2011 sampai dengan 2016 selalu menunjukkan angka yang positif. Hal ini menujukkan bahwa sektor pertanian
66 setiap tahunnya selalu bertumbuh. Data laju pertumbuhan sektor pertanian beserta sub sektornnya dapat dilihat pada Gambar 3 berikut.
Gambar 3. Grafik Laju Pertumbuhan (%) Sektor Pertanian Kabupaten Bojonegoro Tahun 2011-2016
(Sumber: BPS Kabupaten Bojonegoro 2015 dan 2016)
Ditinjau dari Gambar 3, laju pertumbuhan sektor pertanian dari tahun 2010 sampai dengan tahun 2016 mengalami laju pertumbuhan yang fluktuatif dan cenderung menurun. Pertumbuhan tertinggi terjadi pada tahun 2012 yaitu sebesar 5,38 persen serta pertumbuhan terendah pada tahun 2014 yaitu hanya 2,10 persen.
Kendati selalu mengalami bertumbuh, namun tingkat laju pertumbuhan dari sektor pertanian Kabupaten Bonegoro masih belum stabil. Hal itu menunjukkan bahwa sektor pertanian Kabupaten Bojonegoro menunjukkan pertumbuhan yang belum konsisten.
Untuk melihat pertumbuhan dan daya saing sektor pertanian serta sektor pertanian merupakan sektor unggulan atau tidak, dapat dilihat pada Tabel 22 berikut.
67 Tabel 22. Analisis Sektor Pertanian Kabupaten Bojonegoro Tahun 2010-2016
No Aspek Nilai Keterangan
1 LQ Rata-rata 1,05 Sektor Basis
2 PR 2.036,05 Positif
3 PP -927,27 Tidak Mengalami Pertumbuhan
4 PPW -3,88 Tidak Kompetitif
Sumber: Tabel 14, Tabel 15, Tabel 16, dan Tabel 18 (diolah)
Beradasarkan Tabel 22, dapat dilihat bahwa nilai LQ sektor pertanian Kabupaten Bojonegoro menunjukkan angka 1,05. Hal tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian merupakan sektor basis dalam perekonomian Kabupaten Bojonegoro serta peranan sektor pertanian dalam perekonomian Kabupaten Bojonegoro cukup besar sehingga sektor pertanian harus tetap dijaga dan dikembangkan menjadi lebih baik lagi. Karena sektor pertanian merupakan sektor yang menyerap kurang lebih 39 persen tenaga kerja di Kabupaten Bojonegoro.
Berdasarkan hasil analisis shift share, nilai pertumbuhan regional (PR) dari sektor pertanian menunjukkan nilai positif sebesar 2.036,05. Angka tersebut berarti pertumbuhan dari sektor pertanian Kabupaten Bojonegoro dipengaruhi secara positif oleh pertumbuhan perekonomian Provinsi Jawa Timur. Untuk nilai pertumbuhan proporsional (PP) dari sektor pertanian menunjukkan nilai yang negatif yaitu (-927,27). Angka tersebut menunjukkan bahwa sektor pertanian Kabupaten Bojonegoro mengalami pertumbuhan yang lebih lambat dibandingkan pertumbuhan PDRB Provinsi Jawa Timur. Nilai pertumbuhan pangsa wilayah (PPW) dari sektor pertanian Kabupaten Bojonegoro menunjukkan angka negatif juga yaitu (-3,88). Angka tersebut berarti sektor pertanian Kabupaten Bojonegoro tidak memiliki daya saing dengan wilayah lain di Provinsi Jawa Timur.
68 Berdasarkan hal tersebut, pemerintah daerah Kabupaten Bojonegoro harus lebih memperhatikan kembali kondisi sektor pertanian agar dapat lebih dikembangkan dan dapat membantu memajukan perekonomian Kabupaten Bojonegoro.
5.2.2. Analisis Subsektor Tanaman Pangan
Subsektor tanaman pangan meliputi semua kegiatan ekonomi yang menghasilkan komoditas bahan pangan. Komoditas yang dihasilkan oleh kegiatan tanaman pangan meliputi padi, palawija (jagung, kedele, kacang tanah, kacang hijau, ubi jalar, ubi kayu, palawija lainnya, seperti talas, ganyong, irut, gembili, dll), serta tanaman serelia lainnya (sorgum, jawawut, jelai, gandum, dll).
Keseluruhan komoditas di atas masuk ke dalam golongan tanaman semusim, dengan wujud produksi pada saat panen atau wujud produksi baku lainnya yang masih termasuk dalam lingkup kategori pertanian. Contoh wujud produksi pada komoditas pertanian tanaman pangan antara lain: padi dalam wujud Gabah Kering Giling (GKG), jagung dalam wujud pipilan kering, dan ubi kayu dalam wujud umbi basah.
Subsektor tanaman pangan merupakan sub sektor penyumbang PDRB terbesar dengan persentase kontribusi rata-rata selama tahun 2010-2016 adalah 7,09 persen. Lebih detailnya dapat dilihat pada Gambar 4.
69 Gambar 4. Grafik Persentase Kontribusi Subsektor Tanaman Pangan Terhadap
PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Kabupaten Bojonegoro Tahun 2010-2016
(Sumber: BPS Kabupaten Bojonegoro (diolah))
Ditinjau berdasarkan Gambar 4, pergerakan grafik kontribusi sub sektor tanama pangan dari tahun 2010 sampai tahun 2016 cenderung menurun.
Walaupun ada sedikit kenaikan pada tahun 2011 menuju tahun 2012 dan tahun 2013 menuju tahun 2014. Persentase tertinggi tejadi pada tahun 2010 dengan nilai 8,05 persen. Sedangkan nilai terendah terjadi pada tahun 2016 dengan persentase sebesar 5,56 persen. Walaupun demikian, kontribusi subsektor tanaman pangan masIh tergolong besar dibandingkan dengan subsektor lainnya. Komoditas padi masih menjadi primadona dalam subsektor tanaman pangan Kabupaten Bojonegoro dimana pada Sensus Pertanian Tahun 2013 luas tanam komoditas padi adalah sebesar 1.207.942.793 m2. Berikut merupakan data jumlah rumah tangga, luas tanam, dan rata-rata luas tanam komoditas subsektor tanaman pangan.
70 Tabel 23. Jumlah Rumah Tangga, Luas Tanam, dan Rata-Rata Luas Tanam Usaha
Tanaman Pangan Kabupaten Bojonegoro Tahun 2013 No Jenis
Tanah 14.488 34.593.594 2.387,74
5 Kacang
Hijau 15.507 40.687.595 2.623,82
6 Ubi Kayu 8.616 12.727.034 1.477,14 mendominasi pada subsektor tanaman pangan. Dimana banyak rumah tangga yang mengusahakanya dengan jumlah 205.078 rumah tangga. Komoditas kedua yang banyak diusahakan pada subsektor tanaman pangan adalah jagung dengan 85.044 rumah tangga dan luas tanam 326.688.246 m2. Komoditas padi dan jagung memang cocok dengan wilayah geografis Kabupaten Bojonegoro yang merupakan wilayah dataran rendah dibawah lereng gunung pandan dan dialiri sungai bengawan solo. Komoditas yang paling sedikit diusahakan adalah sorgum dengan hanya 2 rumah tangga saja dan luas tanam hanya seluas 8.400 m2.
Laju pertumbuhan subsektor tanaman pangan setiap tahunnya juga cukup baik seperti pada Gambar 5 berikut.
71 Gambar 5. Grafik Laju Pertumbuhan (%) Subsektor Tanaman Pangan Kabupaten
Bojonegoro Tahun 2011-2016
(Sumber: BPS Kabupaten Bojonegoro Tahun 2015 dan 2016)
Dapat dilihat pada Gambar 5 bahwa laju pertumbuhan subsektor tanaman pangan dalam kurun waktu 2011 sampai dengan 2016 menunjukkan pertumbuhan yang positif. Hal ini berarti subsektor tanaman pangan selalu mengalami pertumbuhan setiap tahunnya. Dimana pertumbuhan tertinggi terjadi pada kurun waktu 2011 menuju tahun 2012 yaitu sebesar 4,53 persen. Sedangkan pertumbuhan terendah terjadi pada tahun 2010 menuju tahun 2011 yaitu hanya sebesar 0,94 persen. Pada tahun 2012 menuju tahun 2013 terjadi penurunan pertumbuhan yang cukup signifikan dari 4,53 persen menjadi hanya 0,97 persen.
Namun di pada tahun 2013 sampai dengan 2016 laju pertumbuhan subsektor pertanian selalu meningkat. Meningkatnya laju pertumbuhan subsektor tanaman pangan tidak terlepas dari program Upaya Khusus (UPSUS) Swasembada Pangan terhadap komoditas padi, jagung dan kedelai (PAJALE) yang dicanangkan pemerintah pusat pada tahun 2015-2017. Hasil analisis subsektor tanaman pangan dengan menggunakan metode LQ dan shift share dapat dillihat pada Tabel 24
72 Tabel 24. Analisis Subsektor Tanaman Pangan Kabupaten Bojonegoro Tahun
2010-2016
No Aspek Nilai Keterangan
1 LQ Rata-rata 1,72 Subsektor Basis
2 PR 1.125,81 Positif
3 PP -777,35 Tidak Mengalami Pertumbuhan
4 PPW 150,64 Kompetitif
Sumber: Tabel 14, Tabel 15, Tabel 16, dan Tabel 18 (diolah)
Berdasarkan Tabel 24, nilai rata-rata LQ sub sektor tanaman pangan tahun 2010 sampai dengan tahun 2016 menunjukkan angka 1,72. Hal tersebut berarti subsektor tanaman pangan merupakan subsektor basis. Berdasarkan metode shift share, hasil analisis pertumbuhan regional (PR) menghasilkan nilai positif 1.125,81 yang berarti pertumbuhan subsektor tanaman pangan dipengaruhi positif oleh pertumbuhan perekonomian Provinsi Jawa Timur. Analisis pertumbuhan proporsional (PP) menghasilkan angka negatif (-777,35) yang berarti subsektor tanaman pangan memiliki pertumbuhan yang lebih lambat dibanding pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan di Provinsi Jawa Timur . Perhitungan pertumbuhan pangsa wilayah (PPW) menghasilkan angka 150,64 yang berarti subsektor tanaman pangan Kabupaten Bojonegoro memiliki daya saing dan mampu bersaing dengan wilayah lain di Provinsi Jawa Timur.
Dari uraian diatas menunjukan bahwa subsektor tanaman pangan Kabupaten Bojonegoro mrupakan sektor yang cukup berpengaruh dalam perekonomian Kabupaten Bojonegoro. Namun, pertumbuhan dari sub sektor tanaman pangan masih lambat sehingga perlu lebih ditingkatkan kembali. Sub sektor tanaman pangan memang menjadi tumpuan bagi sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan Kabupaten Bojonegoro. Dikarenakan produksi dari sektor tanaman
73 pangan merupakan yang terbesar di Kabupaten Bojonegoro dalam sektor pertanian, kehutanan dan perikanan.
5.2.3. Analisis Subsektor Hortikultura
Subsektor hortikultura merupakan subsektor yang berfokus pada komoditas sayuran, buah-buahan, biofarmaka, dan tanaman hias. Peran subsektor hortikultura apabila ditinjau dari kontribusi terhadap PDRB tidak begitu besar.
Grafik persentase kontribusi subsektor hortikultura terhadap PDRB Kabupaten Bojonegoro dapat dilihat pada Gambar 6 berikut.
Gambar 6. Grafik Persentase Kontribusi Subsektor Hortikultura Terhadap PDRB Atas Dasar Harga Konstan 2010 Kabupaten Bojonegoro Tahun
2010-2016
(Sumber: BPS Kabupaten Bojonegoro (diolah))
Berdasarkan Gambar 6, dapat dilihat bahwa subsektor hortikultura Kabupaten Bojonegoro memiliki kontribusi yang cukup minim terhadap PDRB Kabupaten Bojonegoro. Pada kurun waktu tahun 2010-2016 rata-rata persentase kontribusinya hanya 0,46 persen. Pergerakan persentase konribusi dari subsektor hortikultura juga tidak terlalu signifikan atau cukup stagnan dan cenderung menurun perlahan. Hal ini sama seperti sektor pertanian dan juga subsektor
74 tanaman pangan yang juga cenderung menurun persentase kontribusinnya. Laju pertumbuhan subsektor hortikultura dapat dilihat pada Gambar 7 berikut.
Gambar 7. Grafik Laju Pertumbuhan (%) Subsektor Hortikultura Kabupaten Bojonegoro Tahun 2011-2016
(Sumber: BPS Kabupaten Bojonegoro (diolah))
Berdasarkan Gambar 7, dapat dilihat bahwa laju pertumbuhan subsektor hortikultura cukup fluktuatif. Dimana pada tahun 2011 menuju tahun 2013 cenderung menurun dan pada tahun 2013 menuju tahun 2016 cenderung meningkat kembali. Pada tahun 2013 laju pertumbuhan subsektor hortikultura meunjukkan nilai negatif yang berarti subsektor hortikultura mengalami penurunan dalam nilai PDRB dari tahun sebelumnya. Namun, setelah tahun 2013, angka laju pertumbuhan subsektor hortikultura kembali menjadi positif yang berarti PDRB subsektor hortikultura meningkat kembali setiap tahunnya.
Sedangkan pada tahun 2011 angka laju pertumbuhan subsektor hortikultura menunjukkan angka tertinggi yaitu sebesar 5,32 persen.
Hasil analisis terhadap subsektor hortikultura menggunakan LQ dan shift share dapat dilihat pada Tabel 25 berikut.
75 Tabel 25. Analisis Subsektor Hortikultura Kabupaten Bojonegoro Tahun
2010-2016
Sumber: Tabel 14, Tabel 15, Tabel 16, dan Tabel 18 (diolah)
Berdasarkan Tabel 25, hasil analisis menggunakan metod LQ menunjukkan angka 0,37 yang berarti subsektor hortikultura bukan merupakan subsektor basis atau subsektor non basis dalam perekonmian Kabupaten Bojonegoro. Berdasarkan hasil analisis shift share, nilai pertumbuhan regional (PR) subsektor hortikultura Kabupaten Bojonegoro adalah 71,44 yang berarti pertumbuhan subsektor hortkultura Kabupaten Bojonegoro berpengaruh positif dengan pertumbuhan perekonomian Provinsi Jawa Timur.
Nilai pertumbuhan proporsional (PP) subsektor hortikultura adalah (-30,62) yang berarti subsektor hortikultura Kabupaten Bojonegoro memiliki
Nilai pertumbuhan proporsional (PP) subsektor hortikultura adalah (-30,62) yang berarti subsektor hortikultura Kabupaten Bojonegoro memiliki