• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertanyaan dan Jawaban

Dalam dokumen Dying To Be Me- Anita Moorjani (Halaman 152-172)

Pada bulan dan tahun-tahun setelah pengalamanku mati suri, aku punya banyak kesempatan untuk berbicara kepada berbagai kelompok di seluruh dunia tentang pengalamanku. Berikut ini adalah beberapa pertanyaan dan jawaban hasil dari perbincangan-perbincangan tersebut.

T: Bagaimana Anda merasakan "cinta setulusnya" yang Anda alami di alam lain itu, dan bagaimana ia berbeda dari cinta yang kita alami di realitas fisik ini?

J: Cinta di alam lain tersebut sangat berbeda dalam hal esensinya yang murni. Ia tidak punya agenda dan ekspektasi, dan ia tidak dimotivasi oleh emosi atau bereaksi secara berbeda bergantung pada tindakan atau perasaan seseorang. Ia adalah cinta semata. T: Menurut Anda mungkinkah menghasilkan keadaan cinta tanpa syarat itu di sini, di dunia fisik?

J: Setiap kita, pada inti dasarnya, sudah murni dan sudah merupakan cinta setulusnya yang tanpa syarat. Tetapi, ketika kita mengekspresikannya di sini di dunia fisik, kita menyaringnya dengan pikiran, dan ia kemudian mengekspresikan dirinya sebagai emosi manusia.

Kiasan terbaik yang bisa terpikirkan olehku untuk mengilustrasikan ini adalah contoh lampu putih yang memancar melalui sebuah prisma. Cinta tanpa syarat itu seperti cahaya putih yang murni. Ketika Anda menyinarkannya melalui sebuah prisma, cahaya itu berbelok menjadi semua warna pelangi yang berbeda-beda. Ini mewakili berbagai emosi kita—gembira, suka, gelisah, cemburu, kasih sayang, benci, empati, dan seterusnya.

Setiap kita bagaikan sebuah prisma, yang membelokkan cahaya putih (cinta) menjadi semua jenis warna pelangi, dan semua warna warni itu (emosi) sama diperlukannya untuk keseluruhan. Hanya segelintir orang, kalau ada yang akan memberikan penilaian moral menentang warna apa pun yang dihasilkan. Kita tidak akan berkata, "Oh, warna itu jahat," atau " warna itu penuh dosa." Tapi kita melakukan ini kepada orang-orang dan ekspresi emosi mereka, memandang sebagian perasaan benar dan sebagian yang lain salah.

Ketika kita menghakimi beberapa emosi yang kita alami sebagai sesuatu yang negatif dan mencoba mengingkarinya, kita sebenarnya menekan kesempurnaan kehebatan kita, seperti halnya mengekstrak warna-warna tertentu dari spektrumnya berdasarkan

penilaian moral akan memotong cahaya tersebut dan menjadikannya bukan seperti yang seharusnya.

Kita tidak harus bertindak berdasarkan setiap emosi; kita hanya harus menerima bahwa mereka adalah bagian dari diri kita. Mengingkari emosi-emosi itu akan seperti menghalangi suatu warna tertentu dari terhiaskan melalui prisma. Hanya dengan merengkuh spektrum yang sempurna dari perasaan-perasaan kita tanpa penghakiman kita bisa terhubung dengan esensi murni cinta tulus tanpa syarat yang ada di inti dasar kita.

T: Apakah Anda berpendapat bahwa sebelum kita mengambil bentuk fisik, kita sudah merupakan makhluk hebat yang sepenuhnya sadar mengenai diri kita yang sejati? Jika demikian, bagaimana kehebatan kita bisa terkikis dan rasa kedirian kita menjadi begitu rusak saat kita memasuki ke-. hidupan ini?

J: Aku mau saja menceritakan kepada Anda apa yang kurasakan, tapi kupikir itu hanya akan membangkitkan lebih banyak pertanyaan daripada jawaban! Bagiku, sepertinya kita tidak ditakdirkan untuk melupakan siapa diri kita, dan hidup tidak dimaksudkan untuk menjadi sulit. Rasanya seolah-olah kita di sini membuatnya sulit dengan gagasan dan keyakinan-keyakinan yang disalah tempatkan.

Pemahaman batin yang kuterima di alam itu datang seperti semacam "kesan", tapi jika aku menyuarakannya, inilah yang akan kukatakan; secara batin dalam keadaan itu: Ooh, jadi hidup tidak seharusnya begitu menyusahkan—kita harusnya menikmati hidup dan bersenang-senangi Andai kutahu ini dari dulu! Oh, jadi, tubuhku, menciptakan kanker karena pemikiran-pemikiran ku yang bodoh, penghakiman-penghakiman terhadap diri sendiri, keyakinan-keyakinan yang membatasi, yang semuanya itu menyebabkan banyak sekali pergolakan batin. Ya Tuhan, anda saja aku tahu bahwa kita harusnya hanya datang ke sini dan merasa senang dengan diri kita dan kehidupan ini—hanya mengekspresikan diri dan bersenang-senang

dengannya!

Sekarang bagian ini agak sulit untuk dijelaskan, tapi aku akan mencobanya. Aku punya pertanyaan yang kira-kira seperti ini: Mengapa sesuatu yang demikian besar— seperti penyakit kanker mematikan ini—terjadi padaku hanya karena tidak

menyadari kehebatanku sendiri?

Secara bersamaan, aku mendapatkan pemahaman ini: Oh, aku mengerti—itu tidak terjadi padaku, karena sebenarnya, aku tidak pernah menjadi korban. Kanker itu hanya kekuatan dan energiku sendiri yang terhalang ekspresinya! Bukannya mengekspresikan diri keluar, ia malah berbalik ke dalam melawan tubuhku. Aku tahu kanker itu bukan suatu hukuman atau yang semacamnya. Itu hanya kekuatan kehidupanku sendiri yang mengekspresikan dirinya sebagai kanker karena aku tak mengizinkannya mewujud sebagai kekuatan hebat dari Anita. Aku sadar

bahwa dulu aku punya pilihan apakah ingin kembali kepada tubuhku atau maju menyongsong kematian. Kankernya akan sirna karena energinya tidak lagi

mengekspresikan diri dengan cara itu tetapi akan mempresentasikan diriku yang tak terbatas.

Aku kembali dengan pemahaman bahwa surga merupakan suatu keadaan dan bukan tempat, dan aku mengetahui bahwa kebahagiaan tertinggi telah mengikutiku ke bumi. Aku tahu ini kedengaran sangat aneh, tapi aku bahkan merasakan "rumah sejati" kita juga hanya suatu cara mengada dan bukan suatu lokasi. Sekarang, aku merasa aku sudah di rumah. Aku tidak punya keinginan untuk berada di mana pun. Bagiku sekarang tidak ada bedanya apakah aku di sini atau di alam yang lain. Itu semua hanya bagian-bagian berbeda dari pengalaman diri kita yang lebih besar, lebih berkembang, tak terbatas, dan hebat.

T: Karena aku sendiri belum pernah mengalami mati suri, adakah cara untuk

membangun dan menjaga kepercayaan pada kekuatan kehidupan luar biasa yang Anda bicarakan?

J: Tentu. Tidak perlu mengalami mati suri dulu untuk menyadari kehebatan Anda. Pengalamanku mengajarkan bahwa cara terbaik untuk membangun dan menjaga kepercayaan dan perasaan terhubung dengan energi kekuatan-kehidupan universal adalah dari dalam. Dimulai dengan mencintai dan memercayai diri ku sendiri. Semakin aku bisa melakukan itu, aku merasa semakin terpusat dalam jalinan karya sulam raksasa kosmis. Semakin masing-masing kita merasa terhubung, semakin kita mampu menyentuh orang lain, memungkinkan mereka merasakan hal yang sama. T: Bagian apa dalam proses kesembuhan dan pemulihan Anda yang dimainkan sistem kepercayaan atau keyakinan Anda, kalau ada, dan bagaimana

kepercayaan-kepercayaan Anda berubah sejak itu?

J: Sama sekali tidak ada keyakinan apa pun yang dibutuhkan untuk penyembuhanku. Sebaliknya menurutku penyebab tubuhku menyembuhkan dirinya sendiri adalah penangguhan sama sekali semua kepercayaan, doktrin, dan dogma yang sebelumnya dianut.

Dari sudut pandangku, gagasan-gagasan yang dipegang teguh sebenarnya tidak memberiku manfaat. Memiliki kepercayaan-kepercayaan yang konkret membatasi pengalaman hidupku karena membuatku terkunci hanya dalam hal-hal yang kuketahui, padahal pengetahuanku di dunia ini dibatasi oleh indra-indra fisik. Sebaliknya, merasa nyaman dengan ketidakpastian membukakan semua kemungkinan. Ambiguitas terbuka lebar terhadap potensi tak terbatas.

Memerlukan kepastian membelenggu potensiku pada yang tak terduga. Merasa aku tidak tahu, atau kita lihat saja apa yang terjadi, mengizinkan diri besarku menyediakan

berbagai jawaban dan solusi yang mungkin sangat kebetulan dan amat sinkronistis. Saat aku menapaki alam ambiguitas, aku benar-benar dalam keadaanku yang paling kuat. Melepaskan semua kepercayaan, ketidakpercayaan, dogma, dan doktrin lama membuat semesta tak terbatas berpihak padaku dan bekerja untuk memberiku hasil terbaik untuk hidupku. Di sinilah aku menerima kejelasan batin paling baik. Di sinilah biasanya keajaiban terjadi.

Melepaskan semua keterikatan lama adalah rengkuhan terhadap kebebasan dan menunjukkan kepercayaan atas keilahian dan kehebatanku sendiri. Ini, juga, suatu bentuk penyembuhan.

Ketika aku melepaskan kebutuhan untuk pulih secara fisik, hidup menjadi lebih bebas, utuh, dan bisa dinikmati.

T: Apakah Anda merasa keyakinan Anda pada sang Sumber merupakan faktor kesembuhan Anda?

J: Dalam pengalamanku, aku menjadi sang Sumber, dan ada kejelasan mutlak. Tidak ada sumber yang berkembang di luar kesadaranku sendiri. Rasanya seolah-olah aku meliputi keseluruhan. Seperti sudah kusebutkan, tidak ada keyakinan pada apa pun yang dibutuhkan untuk kesembuhanku karena dalam keadaan itu terdapat kejelasan mutlak, dan rasanya seolah segala sesuatu bisa diketahui. Kepercayaan atau keyakinan digantikan oleh "pengetahuan". Sepertinya aku menjadi segala sesuatu—aku ada dalam segala hal dan semua itu ada di dalam diriku. Aku manjadi abadi dan tak terbatas.

Aku terbangun dengan kejelasan ini, jadi aku mengerti begitu saja. Aku tahu bahwa kalau aku memilih untuk kembali, tubuhku akan sembuh. Karena sifat dari

pengalamanku, aku merasa bahwa pada inti dasarnya kita semua adalah Satu. Kita semua berasal dari Kesatuan yang menjadi terpisah-pisah, dan kemudian menuju Keseluruhan. Aku merasa bahwa pengalamanku mati suri adalah sekilas pandangan atas Kesatuan itu.

Aku bisa merujuknya sebagai Tuhan, atau Sumber, atau Brahman, atau Semua Yang Ada, tetapi menurutku orang-orang yang berbeda memiliki gagasan-gagasan yang juga berbeda mengenai artinya. Aku tidak memahami yang Ilahi sebagai suatu entitas yang terpisah dari diriku atau siapa pun. Bagiku, itu adalah keadaan mengada, bukan 'ada' yang terpisah. Ia mentransendenkan dualitas sehingga selamanya aku bersatu dari dalam dan tak terpisahkan dengannya. Ekspresi fisikku hanyalah satu segi dari Keseluruhan ini.

T: Adakah suatu tempat di mana kehendak pribadi kita dan kehendak Keseluruhan terhubung sehingga kita bisa mengakses tempat penyembuhan dan kekuatan itu secara bebas?

J: Aku pikir ya, setiap orang bisa mengakses tempat penyembuhan dan kekuatan itu secara bebas. Aku percaya bahwa mitologi-mitologi kolektif kitalah—cerita-cerita yang selama ini disampaikan kepada kita dari generasi ke generasi—yang mencegah kita bisa melakukan itu. Kupikir akumulasi kepercayaan-kepercayaan inilah yarig menyebabkan banyak keterputusan hubungan dan perselisihan yang kita rasakan di dunia, termasuk di dalam tubuh kita sendiri.

Kita membawa meme tak terlihat ini yang membuat kita terputus dari kebenaran, menyebabkan kita percaya bahwa kita terpisah dari energi Universal. Kita tetap terjebak dalam dualitas, terpisah dari pusat kreatif kita sendiri. Kita adalah kekuatan yang tidak hanya menempa tetapi juga mengendalikan mitos-mitos ini. Dan ketika kisah-kisah kita berubah, realitas fisik kita merefleksikan perubahan itu.

Untuk bisa lebih sering melihat penyembuhan jenis ini, kita harus mengembangkan berbagai mitologi kita dan mentransformasikan meme kita menjadi mitologi dan meme yang memungkinkan kita menyadari bahwa diri kita Satu dengan Energi Universal. Ini akan memungkinkan kita merasa terhubung dengan pusat kreatif sepanjang waktu dan akan memudahkan lebih banyak energi positif di sekitar kita.

Penyembuhan terjadi ketika niat kreatif pribadi bertemu dengan energi kekuatan kehidupan universal dan melihatnya sebagai Satu.

T: Sudahkah Anda merasakan satu rasa kebebasan sejak Anda mengalami mati suri, dan jika demikian, bagaimana Anda menggambarkannya?

J: Aku memang merasa terbebaskan. Aku merasa bahwa pengalamanku mati suri tidak hanya membebaskanku dari berbagai ideologi, keyakinan, dan konsep-konsep, tetapi juga membebaskanku dari kebutuhan untuk mencari ideologi ,keyakinan, dan konsep yang baru.

Bagiku tampaknya kita mencari dan berpegang teguh pada doktrin-doktrin ini karena mereka menenteramkan hati kita pada masa-masa ketidakpastian. Tetapi, kita cenderung mudah menjadi tergantung kepada doktrin-doktrin itu dan ingin

menganggapnya benar untuk mengalami nyamannya kepastian. Aku merasa, semakin keyakinan-keyakinan kita tentang sifat realitas yang terbatas itu berurat berakar, semakin kita mengabadikan apa yang mereka ungkapkan.

Pengalaman memberiku pandangan sekilas pada bagaimana rasanya terbebaskan dari kebutuhan akan kepastian fisik maupun kepastian psikologis. Dengan kata lain, saat itu mungkin bagiku untuk merasakan kesempurnaan bahkan di tengah ambiguitas. Menjaga level pembebasan mental itu adalah kebebasan sejati bagiku.

T: Apakah menurut Anda, Anda akan memilih untuk kembali ke kehidupan ini seandainya Anda tahu penyakit Anda tetap ada?

J: Karena keadaan kejelasan yang kumasuki, aku menduga aku akan kembali dengan pemahaman tentang mengapa aku merasakan tarikan untuk kembali dan

mengekspresikan diri melalui tubuh yang sakit. Semoga, pengetahuan itu akan menghilangkan atau mengurangi penderitaan batinku, bahkan jika bukan penyakit lahiriahku. Akan ada rasa memiliki tujuan meskipun harus hidup dengan tubuh yang sakit. Aku percaya setiap orang memiliki tujuan, terlepas bagaimana kondisi fisik mereka.

T: Pesan Anda sangat jelas bahwa kita seharus menjadi diri kita sendiri! Lantas bagaimana ngan para penjahat dan pembunuh? Apa mereka juga harus menjadi diri sendiri? Tambahan lagi, Anda bilang tidak ada penghakiman alam lain itu. Itu berarti kita benar-benar membiarkan para pembunuh terbebas tanpa hukuman begitu saja! J: Di alam itu sama sekali tidak ada penghukuman, karena tidak ada yang perlu dihukum— semua adalah kesadaran murni.

Banyak orang tidak senang mendengar bahwa setelah kematian tidak ada penghakim. Berpikir orang-orang akan dimintai pertanggung jawaban atas perbuatan-perbuatan jahat mereka memang menenangkan. Tetapi hukuman, ganjaran, penghakiman, pemberian hukuman yang sejenisnya itu adanya "di sini", bukan disana". Itulah sebabnya kita memiliki hukum aturan, dan sistem.

Di dunia lain itu, ada kejelasan totalten tang mengapa kita seperti adanya kita sekarang dan mengapa kita melakukan apa pun yang kita lakukan, tak peduli betapa tak etisnya itu kita rasakan dalam hidup. Aku percaya bahwa mereka yang menyakiti orang lain melakukan itu karena kepedihan mereka sendiri dan perasaan-perasaan keterbatasan dan keterpisahan mereka.

Para pelaku tindak kejahatan seperti pemerkosaan dan pembunuhan bahkan sangat jauh dari sekadar memiliki firasat tentang kebesaran mereka sendiri. Aku

membayangkan mereka harus menjadi sangat tidak bahagia di dalam dirinya untuk bisa menyebabkan kepedihan yang begitu rupa kepada orang lain, jadi sebenarnya, yang paling mereka perlukan adalah kasih sayang—bukan penghakiman dan lebih jauh lagi penderitaan di kehidupan alam baka nanti.

Aku sebenarnya tidak percaya para penjahat dan pembunuh itu "menjadi diri mereka sendiri". Menurutku kita berpaling pada pengrusakan hanya ketika kita telah tersesat dari jalan kita dan menyimpang jauh dari mengetahui kebenaran mengenai diri sendiri yang sebenarnya. Para penjahat telah kehilangan pusat mereka, dan yang mereka lakukan kepada orang lain sebenarnya refleksi ,dari perasaan terdalam mereka tentang diri sendiri. Kita senang menggunakan cara berpikir para penjahat dan korban sebagai "mereka" dan "kita", padahal sebenarnya tidak ada "mereka". Semuanya adalah kita! Seorang pembunuh berantai adalah orang yang mengidap penyakit, serupa dengan pengidap kanker. Dan kalau saat ini lebih banyak pembunuh di dunia, itu berarti

masyarakat kita adalah masyarakat yang sakit. Memenjarakan mereka mungkin memberikan keuntungan-keuntungan jangka pendek, seperti halnya mengobati gejala-gejala kanker. Tetapi, kalau kita tidak mentransformasikan dan melampaui masalah-masalah inti di dalam masyarakat mana pun masalah-masalahnya hanya akan tumbuh semakin besar menuntut kita untuk membangun lebih banyak penjara dan sistem pengadilan. Para pelaku kejahatan itu lebih dari sekadar korban keadaan. Mereka adalah gejala-gejala fisik dari masalah masalah mendasar kita secara keseluruhan.

Saya tidak sedang memaafkan perbuatan-perbuatan mereka. Maksud saya adalah pengetahuan mengenai kehebatan diri sendiri mengubahku. Kupikir kalau setiap orang bisa terhubung dengan kebenaran diri mereka sendiri dan mengetahui kehebatan mereka, mereka tidak akan memilih untuk menjadi orang yang berbahaya bagi yang lain. Seorang yang bahagia dan dicintai, yang merasa tak terpisahkan dari Kesatuan, tahu bahwa menyakiti, orang lain sama saja dengan menyakiti diri sendiri.

T: Apakah maksudmu bahwa seorang kriminal itu—katakanlah, pembunuh—akan pergi ke tempat yang sama dan merasakan tanpa-penghakiman yang sama selayaknya orang suci?

J: Ya, itu maksudku.

Dalam keadaan itu, kita memahami bahwa segala yang sudah kita lakukan—tak peduli betapa pun negatif kelihatannya—sebenarnya berasal dari rasa ketakutan, kepedihan, dan perspektlf perspektif yang terbatas. Banyak dari yang kita lakukan atau rasakan disebabkan karena kita tidak tahu cara lainnya lagi. Tetapi, begitu kita berada di dunia lain, keterbatasan-keterbatasan fisik kita menjadi jelas, sehingga kita bisa memahami mengapa kita melakukan semuanya dan yang tertinggal pada kita kemudian hanya perasaan kasih sayang.

Menurutku mereka yang kita beri label para "pelaku kejahatan" itu juga merupakan korban keterbatasan, kepedihan, dan ketakutan mereka sendiri. Ketika kita menyadari hal ini, yang kita rasakan hanya keterhubungan dengan setiap orang dan segala sesuatu. Aku memahami bahwa di alam yang lain itu, kita semua Satu. Kita semua sama,

Kalau setiap orang mengetahui ini, kita tidak akan memerlukan hukum dan penjara. Tapi di sini, kita tidak memahaminya sehingga kita berpikir dalam kerangka "kami" dan "mereka", menyebabkan kita berlaku berdasarkan rasa takut. Inilah sebabnya kita punya pengadilan, hukum, penjara, dan hukuman. Di alam ini, pada saat ini, kita memerlukan semua itu untuk melindungi diri sendiri. Tetapi di alam lain itu, tidak ada yang disebut hukuman, karena begitu kita ada di sana, kita menjadi sadar bahwa kita semua terhubung.

T: Kalau kita menciptakan realitas kita, apa kau pikir orang-orang akan dihukum karena tindakan mereka melalui karma?

J: Seperti yang sudah kusebutkan, dalam kondisi mati suri itu tidak ada hukuman. Aku melihat karma lebih sebagai suatu konsep keseimbangan daripada sebab-akibat. Misalnya, aku tidak akan pernah menggunakan istilah karma buruk, karena aku tidak percaya ada hal seperti itu. hanya percaya semua aspek kehidupan itu dibutuhkan untuk menciptakan satu keseluruhan.

Aku juga tidak percaya lagi bahwa kita menjalani semua kehidupan kita secara berurut dalam bingkai waktu yang linear, yang merupakan kerangka yang digunakan banyak orang dalam menggambarkan karma. Itu pulalah yang diajarkan padaku sedari kecil. Tetapi ketika berada dalam kondisi mati suri aku menyadari bahwa setiap momen dalam semua kehidupan kita—masa lalu, masa sekarang, masa depan, yang diketahui, yang tak diketahui, dan yang tidak bisa diketahui— hadir secara bersamaan, seolah-olah di luar yang kita tahu sebagai waktu. Aku menjadi sadar bahwa aku sudah menjadi semua yang aku coba capai, dan aku percaya demikian juga halnya dengan semua orang. Semua hal yang kita pahami sebagai positif, negatif, baik, atau bruku hanyalah bagian-bagian dari Keseluruhan yang sempurna dan seimbang.

T: Aku mendengar orang-orang berbicara tentang pentingnya memaafkan. Apakah kau mendapati dirimu harus memaafkan banyak hal di alam sana?

J: Dalam kondisi sedang mengalami mati suri, kejelasan itu begitu tajam sehingga seluruh konsep permaafan maknanya sangat berbeda. Aku menyadari ternyata dirikulah yang belum kumaafkan, bukan orang lain. Tidak ada penilaian negatif atas apa saja yang sepertinya kulakukan sebagai kesalahan—aku hanya merasakan pemahaman tentang mengapa aku melakukan semua itu.

Aku juga menyadari bahwa di alam tak terbatas yang tanpa penghakiman itu, benar-benar tidak perlu memaafkan diriku atau siapa pun. Kita semua adalah putra-putri semesta yang hebat dan sempurna, dan kita ada karena cinta yang murni. Cinta tulus tanpa syarat adalah warisan kita sejak lahir, bukannya penghakiman atau

penghukuman, dan tidak ada yang perlu kita lakukan untuk mendapatkan itu. Ini memang siapa dan apa sejatinya kita.

Kebutuhan untuk memaafkan lahir akibat melihat segala sesuatu dengan perspektif baik dan buruk. Tapi saat tidak ada penghakiman, maka tidak ada yang perlu kita maafkan. Di dalam karya sulam raksasa kosmik yang kita ciptakan, semua pemikiran, kata-kata, dan tindakan diperlukan untuk menciptakan Keseluruhan yang agung dan tanpa batas. Persis seperti spektrum cahaya yang kusebutkan sebelumnya, semua warna diperlukan untuk memunculkan kontras mewujudkan kehidupan. Untuk apa memaafkan?

Pada titik ini, aku sudah mengganti permaafan dengan empati, cinta setulusnya, dan belas kasih—untukku sendiri dan orang lain. Dari pada menghakimi, menciptakan kebutuhan untuk memberi maaf, yang kurasakan sekarang hanya kepedulian dan

penghormatan yang besar bagi peran beraneka ragam yang dimainkan setiap kita dalam Keseluruhan penciptaan.

T: Tidakkah terlalu mencintai diri sendiri akan membuat orang mementingkan dirinya sendiri dan egois?

J: Sekali kita memahami bahwa setiap kita berada di pusat semesta yang tak terbatas, kesentralan kita bagi Keseluruhan menjadi yang terpenting dan kita memahami pentingnya mencintai diri. Kita tidak bisa memberi sesuatu yang tidak kita miliki. Dalam budayaku, aku diajarkan untuk mendahulukan orang lain dan mengakhirkan diriku sendiri atau tidak memperhitungkan diri sama sekali. Aku tidak diajarkan untuk

Dalam dokumen Dying To Be Me- Anita Moorjani (Halaman 152-172)