• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertempuran Lima Hari

Dalam dokumen BAB V PERTEMPURAN MELAWAN SEKUTU DAN NICA (Halaman 41-55)

Perlawanan masyarakat Semarang terhadap tentara Jepang atau sering disebut dengan istilah pertempuran lima hari di Semarang diawali dari

150

rentang wilayah 3 Km ke kiri dan kanan jalan. Hasil perundingan ini selanjutnya segera disampaikan ke markas besar TRI di Yogyakarta.

Suasana Pertempuran di Palembang Sumber: palembangtempodulu.multiply.com Pertempuran Lima Hari, di Semarang

Perlawanan masyarakat Semarang terhadap tentara Jepang atau sering disebut dengan istilah pertempuran lima hari di Semarang diawali dari

150 | S N I 5 rentang wilayah 3 Km ke kiri dan kanan jalan. Hasil perundingan ini selanjutnya

Perlawanan masyarakat Semarang terhadap tentara Jepang atau sering disebut dengan istilah pertempuran lima hari di Semarang diawali dari

151 | S N I 5 terbunuhnya Dr. Kariadi seorang dokter muda asal Semarang dan berbagai tindakan anarkis yang dilakukan oleh tentara tahanan Jepang yang mencoba melarikan diri dari tahanan kemudian mengakibatkan kekacauan di sekitar tempat tahanan tentara Jepang. Tentara tahanan Jepang mencoba untuk mengambil alih kembali kota Semarang dari kemerdekaan bangsa Indonesia. Hal tersebut tentu mengundang amarah masyarakat menimbulkan perlawanan rakyat Semarang terhadap tentara Jepang di berbagai daerah Semarang.

Jalannya Perang

Pada tanggal 14 Oktober 1945, pasukan Jepang yang bersenjata lengkap dengan tiba-iba menyerang dan melucuti 8 orang petugas kepolisian yang sedang menjaga persediaan air minum di Jln. Wungkai. Peristiwa itu terjadi sekitar pukul 18.00 WIB. Tidak lama berselang, tersiar kabar bahwa Jepang telah meracun air minum itu. Berkenaan dengan adanya berita mengenai peracunan tandon air minum di Jln. Wungkal, seorang dokter muda asal Semarang tergerak hatinya untuk melakukan penelitian mengenai tandon yang sudah di racun tersebut. Beliau bernama Drs. Kariadi yang pada waktu itu menjabat sebagai kepala laboratorium di RS Purusara Semarang.

Drs. Kariadi segera berangkat ke tandon penampungan air di Jln Wungkal. Diluar dugaan mobil yang ditumpangi bersama sopirnya dicegat oleh sekelompok tentara Jepang. Dr.Kariadi beserta sopir pribadinya ditembak ditempat. Korban baru bisa dibawa ke rumah sakit pukul 23.00. Sayang sekali keadaan sudah sangat parah hingga beberapa saat kemudian beliau menutup mata untuk selama-lamanya (Panitia Penyusun Pertempuran 5 Hari di Semarang, 1977)

Tidak lama setelah gugurnya Drs. Kariadi, masyarakat Semarang dikejutkan oleh serentetan tembakan yang terdengar dengan gencarnya dari arah Jln. Pandanaran. Selang beberapa menit kemudian suara tersebut berhenti dan suasana menjadi kondusif kembali. Barulah diketahui bahwa rentetan suara tembakan tersebut dilepaskan oleh anggota polisi istimewa yang sedang menjaga tahanan Jepang di bekas asrama Sekolah Pelayaran yang terletak sebelah kiri Jln.Pandanaran (sekarang di Jalan Erlangga).

152 | S N I 5 Menurut rencana, para tahanan Jepang akan dipindahkan tempatnya. Sebelum dipindahkan, polisi istimewa membuka pembicaraan dengan para pimpinan tahanan Jepang untuk berpidato dan menyuruh anak buahnya apel di lapangan. Sementara itu polisi istimewa menjaga ketat para tahanan dengan formasi melingkar. Pemimpin tahana Jepang mulai berpidato dengan bahasa Jepang didepan anak buahnya. Dalam pidato tersebut ternyata pemimpin tahanan menyuarakan untuk menyerang para anggota polisi istimewa. Banyak dari mereka yang berteriak-beteriak “Bakero Indonesia” dan berusaha untuk mengambil besi-besi dan potongan kayu dari tempat tidur mereka. Bahkan ada juga yang membawa pistol yang sebelumnya berhasil diselundupkan oleh seorang tahanan Jepang.

Suasana di tempat tersebut sangat kacau. Meskipun bersenjata, karena jumlahnya tidak sebanding dengan jumlah tahanan Jepang. Polisi istimewa akhirnya terdesak. Para tahanan mencoba melarikan diri dari berbagai arah dengan mengunakan truk yang seyogyanya digunakan polisi istimewa untuk memindahkan para tahanan ke tempat lain. Namun para tahanan tidak mengenal betul kawasan Semarang, apalagi disaat malam hari.

Tidak lama setelah pemberontakan para tahanan Jepang sekitar jam 03.00 dini hari, Kido Butai telah mengawali gerakannya dan melakukan gerakan kilat untuk menguasai kota Semarang dengan tujuan apa yang mereka namakan “melindungi jiwa orang-orang Jepang. Kido Butai mulai melakukan pemberontakan disaat ia merasa keadaan sudah dalam titik puncakknya karena Kido Butai mendengar bahwa Mayor Jendral Nakamura ditawan oleh para pemuda di Magelang.

Masyarakat Semarang bangkit serentak menghadapi pasukan Jepang yang sangat agresif pada waktu itu. Mereka sama sekali tidak merasa gentar menghadapi kekejaman para tentara Jepang anggota Kido dari Jatingaleh tersebut. Pada waktu itu, bagi mereka hanya ada satu semboyan “ lebih baik mati berkalang tanah dari pada kehilangan kemerdekaan tanah air.

Karena kuatnya arus serbuan pasukan Jepang yang datang berikutnya, pertahanan para pemuda akhirnya dapat dipatahkan. Beberapa dari mereka

153 | S N I 5 berhasil ditawan. Perlawanan terjadi di berbagai tempat antara lain di pasar Kagok, Siranda. Sesudah itu tawanan disiksa dengan kejam dan akhirnya dibunuh di dekat Taman Pahlawan.

Pada pagi hari itu juga, di depan rumah sakit Purusara terjadi pertempuran yang sengit. Rumah Sakit diberondong Jepang dengan senapan mesin, hingga seorang pegawai yakni Soedirman tertembak. Sementara itu, korban-korban yang datang dari berbagai tempat kian lama kian banyak, hingga bangsal bedah penuh sesak. Setelah mengepung Purusara, pasukan Jepang selanjutnya bergerak maju menuju ke markas Polisi Istimewa di Kalisari. Selanjutnya, pasukan Jepang meneruskan gerakannya untuk membebaskan kembali gedung besar markas Kenpeital. Dari gedung besar, pasukan Jepang kemudian melancarkan tembakan-tembakan kearah gedung Lawang Sewu.

Gedung gubernuran dimana Gubernur Jawa Tengah Mr. Wongsonegoro pada waktu itu sedang berada juga telah diserang oleh pasukan Jepang. Bahkan gedung inilah yang sebenarnya menjadi sasaran utama dari gerakan Kido Butai pada tanggal 15 Oktober 1945 dengan maksud untuk menawan Mr. Wongsonegoro.

Pertahanan di gedung tersebut sangat kuat. Dengan serangan pasukan Kido yang paling nekad disertai serangan yang berani mati, gedung tersebut akhirnya baru dapat diduduki pada siang hari. Mr. Wongsonegoro kemudian ditawan di markas Kido Butai di Jatingaleh, bersama istri dan anak-anaknya tetapi di tempat yang terpisah.

Maksud penawanan Mr.Wongsonegoro itu tidak dapat dilepaskan dari penawanan Mayor Jendral Nakamura oleh para pemuda Magelang. Dengan menawan Gubernur Jawa Tengah, ia bermaksud ingin balas dendam. Seperti halnya daerah Semarang Selatan dan Semarang Barat, pada tanggal 15 Oktober 1945 daerah Semarang Timur dan Semarang Utara juga tidak luput dari serangan tentara Jepang.

Pada 16 Oktober 1945, Jepang menambah kekuatan tempurnya dengan mengikut sertakan orang-orang Jepang yang bukan tentara. Sukarelawan yang bergabung dengan misi Jepang itu sekitar 300. Disisi lain, pasukan-pasukan

154 | S N I 5 tempur rakyat Semarang pada hari itu juga telah datang pasukan-pasukan bantuan dari berbagai daerah. Dari daerah Kendal dan Weleri di sebelah barat, dari markas Demak, Kududs, Pati, Tayu dan Purwodadi di sebelah timur, dan dari daerah Ambarawa, Yogya, Magelang, Purwokerto dan Solo dari sebelah selatan.

Pada hari itu tujuan Jepang adalah menyerang kawasan Hotel Du Pavilion (sekarang hotel Dibya Putri), yang dijadikan markas pertahanan oleh para pemuda di bawah pimpinan Martadi. Di sekitar hotel itu, segera berkobar pertempuran yang sangat hebat. Pertempuran tersebut dimenangkan oleh pasukan Jepang. Di samping Hotel Du Pavilion, pada hari itu pasukan Jepang berhasil pula menguasai Pasar Johar. Kantor Papak dan Kantor Telpon.

Perlawanan bangsa Indonesia melawan tentara Jepang yang sebelumnya dibantu oleh relawan dan pemuda yang didatangkan dari berbagai daerah sekitaran Semarang meskipun kalah juga membuahkan hasil yaitu tertangkapnya sukarelawan Jepang di berbagai daerah dimana terjadi pertempuran. Menginfasi kemungkinan akibat yang timbul dari perbuatan yang telah mereka lakukan sendiri, pada waktu itu pihak Jepang benar-benar merasa sangat prihatin. Harapan pihak Jepang tertuju pada Mr. Wongsonegoro. Ialah yang dipandang dapat menyelamatkan ratusan orang relawan yang tertangkap.

Semenjak tangal 16 Oktober 1945 malam, mereka telah berusaha menghubungi Mr. Wongsonegoro yang pada waktu itu tengah mendekam dalam tahanan di markas Kido Bitai di Jatingaleh. Namun Mr. Wongsonegoro tidak dapat menjamin akan dapat merealisir tuntutan mereka berupa menyelamatkan relawan dan pengembalian senjata-senjata milik Jepang yang berhasil direbut oleh pemuda Indonesia.

Pada hari itu juga 17 Oktober 1945 Mr. Wongsonegoro kemudian mengeluarkan sebuah maklumat. Sekalipun telah ada maklumat tersebut, semenjak siang hari hinga malam hari, pertempuran masih terus berlangsung. Bahkan bertentangan dengan hasratnya untuk mengadakan gencatan senjata dan mengakhiri pertempuran. Pada hari itu pasukan-pasukan Jepang justru telah memperhebat serangan-serangannya seakan-akan Maklumat dari Gubernur Jawa Tengah tersebut tidak pernah ada.

155 | S N I 5 Pada hari itu, Jepang telah mengeluarkan perintah pada pasukan-pasukannya untuk tetap meneruskan pembersihan di dalam kota Semarang dan menugaskan pasukan-pasukannya untuk mengadakan pembersihan di daerah Poncol dan pelabuhan. Sedangkan pasukan Yamada ditugaskan untuk membersihkan wilayah Gombel dan Srondol.

Sebagai tindak lanjut dari perundingan mengenai gencatan senjata yang telah dilakukan dengan pihak Jepang pada tanggal 17 Oktober, Mr. Wongsonegoro dan Dr Soekarjo pada hari itu juga pergi ke Ungaran dengan maksud menghubungi tentara Indonesia yang sangat kuat dan menyelidiki keadaan orang-orang Jepang yang ada di daerah itu. Mr. Wongsonegoro juga mengutus wakilnya yaitu Ir. Abdul Muntalib ke daerah Kendal.

Para pemuda pejuang di Ungaran, ketika mendengar genjatan senjata, mula-mula mereka marah. Mereka mengajukan pertanyaan mengenai siapa yang sebenarnya menghentikan pertempuran itu. Mr. Wongsonegoro dengan terus terang menjawab bahwa yang menghentikan ialah ia sendiri. Belum puas sampai di situ, mereka juga menanyakan juga mengenai seiapa yang sebenarnya telah meminta penghentian pertempuran itu. Mr. Wongsonegoro juga menjawab, bahwa yang meminta adalah Jepang. Selanjutnya mereka juga bertanya syarat-syaratnya dan Mr. Wongsonegoro dengan terus terang pula mengatakan bahwa syarat-syaratnya akan dibicarakan pada kari beikutnya.

Pada hari Kamis tanggal 18 Oktober 1945, pihak Jepang berhasil mematahkan pertahanan para pemuda di sektor Jatingaleh dan Gombel yang dilakukan oleh pasukan Yamada. Untunglah pada saat yang benar-benar kritis, Allah telah menguurkan tangan-tangan-Nya. Keesokan harinya, tepat pada tanggal 19 Oktober 1945 jam 07.45 pagi, di pelabuhan Semarang telah berlabuh sebuah kapal besar “HMS Glenroy” yang mengangkut tentara sekutu yakni pasukan dari Inggris. Karena kedatangan mereka, kota Semarang telah terlepas dari bahaya maut yaitu di bom oleh Jepang.

Sehari setelah tentara Sekutu mendarat di Semarang, di Hotel Du Pavilion diadakan konferensi antara wakil-wakil Pemerintah RI, pihak tentara Jepang dan pihak tentara Sekutu. Konperensi yang diadakan di Hotel Du Pavilion

156 | S N I 5 berlangsung secara kilat tanpa protokol apa-apa. Perintah ‘cease fire” dari tentara Sekutu harus segera dilaksanakan.

Untuk itu dibentuk suatu iring-iringan kendaraan yang bertugas sebagai konvoi perdamaian. Konvoi perdamaian itu segera memulai tugas sucinya dengan menelusuri jalan-jalan di kota Semarang sampai ke bagian yang sepi-sepi. Sekalipun tugasnya belum selesai, mereka memutuskan untuk kembali kepusat konvoi perdamaian di Hotel Du Pavilion

157 | S N I 5 Kesimpulan

Latar belakang perjuangan bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan diawali dengan kedatangan pasukan Sekutu ke Indonesia. Pada mulanya disambut dengan sikap netral oleh pihak Indonesia. Namun, setelah diketahui bahwa Sekutu membawa NICA (Netherland Indies Civil Administration) sikap masyarakat berubah menjadi curiga karena NICA adalah pegawai sipil pemerintah Hindia Belanda yang dipersiapkan untuk mengambil alih pemerintahan sipil di Indonesia. Hal ini menumbuhkan perlawanan rakyat Indonesia di berbagai daerah. Upaya bangsa Indonesia dalam mempertahankan kemerdekaan Indonesia di lakukan dengan perjuangan fisik. Perjuangan fisik meliputi pertempuran 10 November di Surabaya, pertempuran Ambarawa, pertempuran Medan Area, pertempuran Bandung Lautan Api, pertempuran Margarana di Bali, dan pertempuran 5 hari di Semarang.

158 | S N I 5 Glosarium:

AFNEI : (Allied Forces Netherlands East Indies), pasukan Sekutu yang dikirim ke Indonesia setelah Perang Dunia II, untuk melucuti tentara Jepang

NICA :Netherlands-Indies Civil Administration ( Pemerintah Sipil Hindia Belanda) yang merupakan organisasi semi militer yang dibentuk pada 3 April 1944

Dai Nippon : Entitas politik pemerintahan Jepang dibawah Konsitusi Kekaisaran Jepang dan daerah-daerah yang dibawah perintahnya sejak zaman Restorasi Meiji hingga diberlakukannya Konsitusi 1947

Labour Party : Partai Buruh House of Commons : Dewan Perwakilan

Sporadis : gerakan-gerakan dan serangan yang dilakukan untuk mencapai kemerdekaan melawan penjajah tidak utuh karena gerakan dan serangan ini tidak dilakukan disemua kota.

TKR : Tentara Keamanan Rakyat.

Resimen : pasukan tentara yang terdiri atas beberapa bataliyon yang biasanya dikepalai oleh seorang perwira menengah Gelar supit urang : siasat perang yang dilakukan oleh Jenderal Soedirman

dalam pertempuran ambarawa dengan cara pengepungan pengepungan rangkap.

Perang Gerilya : bentuk perang yang tidak terberbelit dengan cara resmi pada ketentuan perang yang dipimpin oleh jenderal soedirman

Fixed Boundaries : Batas Resmi Medan Area Medan Area

159 | S N I 5 Sistem tawan karang : Hak istimewa yang dimiliki raja-raja Bali pada masa lalu

dimana raja akan menyita kapal-kapal yang terdampar di wilayah mereka lengkap beserta seluruh muatannya de facto : Pengakuan yang diberikan oleh suatu negara kepada

negara lain yang telah memenuhi unsur-unsur negara, seperti ada pemimpin, rakyat dan wilayahnya berdasarkan kenyataan (fakta)

longmarch : perjalanan jarak jauh

status quo : mempertahankan keadaan sekarang yang tetap seperti keadaan sebelumya

The biggest smuggler : Penyelundupan terbesar dari South East of South East.

160 | S N I 5 Latihan 1

1. Buatlah kelompok 5 sampai 6 orang, masing-masing kelompok memilih salah satu materi tentang Pertempuran melawan Sekutu (pertempuran Suarabaya, Bandung Lautan Api, Palangan Ambarawa, Perang Puputan, pertempuran 5 hari di Semarang, Pertempuran 5 hari di Palembang). Buatlah makalah dan presentasekan makalah tersebut.

2. Lakukanlah analisis dari masing-masing pertempuran dalam melawan Sekutu. 3. Bandingkanlah masing-masing faktor penyebab terjadinya pertempuran

dalam melawan Sekutu.

4. Carilah bahan dari berbagai sumber dan media kemudian butlah biografi tokoh nasional yang telah berjasa dalam perjuangan mempertahankan proklamasi kemerdekaan (tokoh-tokoh yang terlibat dalam pertempuran melawan sekutu).

5. Menurut pendapat anda bagaimana dampak yang ditimbulkan dari pertempuran tersebut bagi kedaulatan negara Indonesia.

Latihan 2

1. Berikut ini merupakan perjuangan bersenjata bangsa Indonesia dalam rangka mempertahankan kemerdekaan, kecuali....

a. Pertempuran Surabaya b. Perang Puputan Margarana c. Palangan Ambarawa d. Bandung Lautan Api e. Konferensi Meja Bundar.

2. Insiden bendera yang terjadi di hotel Yamato disebabkan oleh... a. Pertentangan pejuang Indonesia dengan pasukan Belanda

b. Penghadangan yang dilakukan oleh pejuang Indonesia di depan hotel Yamato

c. Keinginan bangsa Indonesia untuk mengusir pasukan Belanda dari Surabaya

161 | S N I 5 d. Pengibaran bendera Belanda yang dilakukan oleh orang Belanda bekas

tawanan Jepang.

e. Penghinaan para pasukan Belanda terhadap para pelayan hotel Yamato. 3. Pemimpin perang Gerilya di Jawa Tengah dan Jawa Timur adalah....

a. Supriadi

b. Urip Sumoharjo

c. R. Sukarman Martokusumo d. Jenderal Soedirman

e. M. Natsir

4. Dalam peristiwa Perang Ambarawa Jenderal Sudirman menggunakan taktik gelar supit urang. Yang dimaksud dengan taktik tersebut adalah....

a. Pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung.

b. Pengempungan yang dilakukan oleh para pemuda TKR c. Pengepungan yang dilakukan di Ambarawa

d. Taktik perang gerilya

e. Taktik untuk memecah belah persatuan.

5. Bandung Lautan Api adalah salah satu akibat perlawanan Indonesia menentang segala bentuk penjajahan dalam rangka....

a. Membangun Indonesia merdeka

b. Menegakkan dan mempertahankan Indonesia c. Merebut kemerdekaan Indonesia

d. Mencapai kemerdekaan Indonesia

e. Mencapai cita-cita pembangunan Indonesia

6. Latar belakang pertempuran Medan Area di bawah ini adalah, kecuali.... a. Bekas tawanan yang menjadi arogan dan sewenang-wenang.

b. Ulah seorang penghuni hotel yang merampas dan menginjak-injak lencana merah putih.

c. Pemberian batas daerah Medan secara sepihak oleh Sekutu dengan memasang papan pembatas yang bertuliskan “Fixed Boundaries Medan Area (Batas Resmi Medan Area)” di sudut-sudut pinggiran Kota Medan.

162 | S N I 5 d. Pada tanggal 18 Oktober 1945 Sekutu mengeluarkan ultimatum yang isinya melarang rakyat membawa senjata, semua senjata harus diserahkan kepada pasukan Sekutu.

e. Terbunuhya Brigader Mallaby

7. Perang Puputan Margarana di Bali dipimpin oleh.... a. Bung Tomo

b. Jenderal Sudirman c. I Gusti Ngurah Rai d. Achmad Tahir e. Dr. Kariadi

8. Dalam pertempuran Lima Hari, Lima Malam di Palembang, Belanda bermaksud ingin menguasai penuh Palembang terutama dari aspek ekonomi, aspek ekonomi yang dimaksud adalah....

a. ingin membuktikan kepada dunia internasional bahwa mereka benar-benar telah menguasai Jawa dan Sumatera.

b. menguasai tempat penyulingan minyak di Plaju dan Sei Gerong. c. TRI (Tentara Republik Indonesia) dan pejuang di Palembang d. Sumber daya alam yang dimiliki Palembang

e. Palembang memiliki wilayah yang sangat luas

9. Sebab terjadinya pertempuran Lima Hari di Semarang adalah, kecuali.... a. Tidak adanya perlawanan rakyat Semarang terhadap tahanan Jepang. b. Terbunuhnya Dr. Kariadi seorang dokter muda asal Semarang c. Tentara tahanan Jepang mencoba melarikan diri.

d. Adanya berita mengenai peracunan tandon air minum di Jln. Wungkal e. Jepang ingin kembali menguasai kota Semarang dari kemerdekaan bangsa Indonesia

10.Terbunuhnya Brigadir Mallabay merupakan sebab terjadinya pertempuran.... a. Pertempuran Surabaya

b. Bandung Lautan Api c. Puputan Margarana d. Medan Area

163 | S N I 5 e. Petempuran Lima Hari di Semarang

Kunci Jawaban Latihan 2

1. Jawaban E

Jawaban A, B, C, dan E benar, sedangkan jawaban E salah, sebab Konferensi Meja Bundar merupakan perjuang diplomasi yang dilakukan oleh bangsa Indonesia.

2. Jawaban D

Setelah munculnya maklumat pemerintah Indonesia tanggal 31 Agustus 1945 yang menetapkan bahwa mulai 1 September 1945 bendera nasional Sang Saka Merah Putih dikibarkan terus di seluruh wilayah Indonesia. Dengan penetapan tersebut rakyat Surabaya mengibarkan bendera Merah Putih dibeberapa tempat khusnya di Hotel Yamato, namun sekelompok orang Belanda di bawah pimpinan Mr. W.V.Ch Ploegman pada sore hari tanggal 18 September 1945, tepatnya pukul 21.00, mengibarkan bendera Belanda (Merah-Putih-Biru), tanpa persetujuan Pemerintah RI Daerah Surabaya. Hal inilah yang menyebabkan para pemuda marah dan terjadilah insiden perobekan bendera di Hotel Yamato

3. Jawaban D

Jenderal Sudirman merupakan pemimpin dari perang gerilya di Jawa Tengah dan Jawa Timur.

4. Jawaban A

Pertempuran Ambarawa berlangsung sengit, Kol. Soedirman langsung memimpin pasukannya yang menggunakan taktik gelar supit urang, atau pengepungan rangkap dari kedua sisi sehingga musuh benar-benar terkurung. 5. Jawaban B

Terjadinya peristiwa Bandung Lautan Api merupakan bukti perlawanan Indonesia menentang segala bentuk penjajahan dalam rangka menegakkan dan mempertahankan Indonesia yang telah diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945.

164 | S N I 5 Sebab terbunuhnya Jenderal Mallaby merupakan sebab terjadinya pertempuran Surabaya

7. Jawaban C

I Gusti Ngurah Rai merupakan pemimpin pasukan dalam perang Puputan Margarana yang terjadi di Bali, Bung Tomo memimpin pertempuran Surabaya, Jenderal Sudirman pemimpin perang gerilya di Jawa Tengah dan Jawa Timur, Achmad Tahir Pemimpin Medan Area, Dr. Kariadi seorang dokter muda yang terbunuh di Pertempuran Lima Hari di Semarang.

8. Jawaban B

aspek ekonomi yang dimaksud adalah menguasai tempat penyulingan minyak di Plaju dan Sei Gerong

9. Jawaban A

Jawaban B, C, D, dan E benar, merupakan sebab terjadinya pertempuran Lima Hari di Semarang, sedangkan jawaban A salah.

10.Jawaban A

Terbunuhnya Jenderal Mallaby merupakan salah satu sebab terjadinya Pertempuran Surabaya

Dalam dokumen BAB V PERTEMPURAN MELAWAN SEKUTU DAN NICA (Halaman 41-55)

Dokumen terkait