Bagian 1: Persiapan Konferensi Habitat II
E. Pertemuan International Advisory Group Of Eminent
Konferensi Habitat II, Sekretaris Jenderal PBB Boutros Boutros Ghali telah meminta kesediaan beberapa orang yang dianggap cukup menonjol di Bidang Perumahan dan permukiman untuk duduk sebagai anggota suatu lnternational Advisory Group of Eminent Persons untuk memberi saran-saran kepada Sekjen PBB untuk keberhasilan konferensi Habitat II.
Menteri Negara Perumahan Rakyat Rl telah diminta kesediaannya untuk duduk sebagai anggota advisory group (dewan penasehat) tersebut melalui Surat Sekjen PBB tanggal 20 Desember 1995.
Semula pertemuan Advisory Group direncanakan pada bulan Februari 1996 pada saat diselenggarakannya Sidang III Komite Persiapan. Namun pelaksanaan pertemuan tersebut diundur menjadi tanggal 11 Maret 1996 bertempat di Markas Besar PBB di New York.
Dengan persetujuan Bapak Presiden, Menteri Negara Perumahan Rakyat telah menghadiri pertemuan tersebut didampingi oleh Asisten I MENPERA Bidang Pengembangan Perumahan dan Permukiman, dua pejabat dari Perutusan Tetap Rl Pada PBB di New York, dan Drs. Ferry Sonneville. Pertemuan dipimpin langsung oleh Sekretaris Jenderal PBB dan dihadiri oleh 11 anggota Advisory Group dan para pendampingnya, Sekretaris Jenderal Habitat II, dan beberapa staf Habitat II.
Pada pidato sambutannya Sekretaris Jenderal PBB telah mengulangi pernyataannya tentang pentingnya penyelenggaraan
66
Konferensi Habitat II sebagai konferensi terakhir yang diadakan PBB menjelang abad ke 21. Disebutkan bahwa rangkaian penyelenggaraan konferensi internasional dalam 5 tahun terakhir bertujuan untuk menggalang tindakan bersama untuk mewujudkan konsep pembangunan yang berpusat pada manusia. Konferensi Habitat II sendiri akan membahas tantangan yang muncul sebagai akibat pertumbuhan penduduk perkotaan yang pesat serta persoalan yang ditimbulkannya dan mengembangkan cara pemecahannya untuk memperbaiki keadaan perumahan dan perkotaan di seluruh dunia, agar terwujud lingkungan tempat tinggal dan tempat kerja yang lebih baik pada abad ke 21 yang akan datang.
Dikemukakan pula oleh Sekretaris Jenderal PBB bahwa proses Habitat II yang mendorong partisipasi seluruh pelaku pembangunan diharapkan akan memperkuat dan memperteguh konsep pembangunan yang berpusat pada manusia. Namun diakuinya pula bahwa masih banyak kendala yang perlu diatasi untuk mendorong keberhasilan Konferensi Habitat ll dan untuk itu diharapkan kelompok ini dapat menyarankan langkah-langkah konkrit untuk mengatasi kendala tersebut.
Dalam pertemuan tersebut Menteri Negara Perumahan Rakyat telah menyampaikan dua statements. Statement pertama disampaikan pada pertemuan pagi hari pada waktu pembahasan alasan-alasan diselenggarakannya Konferensi Habitat II dan statement kedua disampaikan siang hari pada saat membahas draft Global Plan of Action.
67
Selama diskusi dapat dicatat adanya 3 hal yang menonjol yang telah dikemukakan oleh para peserta, termasuk dari lndonesia yang memerlukan perhatian dari negara-negara anggota PBB untuk mendukung keberhasilan Konferensi sebagai wahana untuk mendorong program-program pembangunan perumahan dan perkotaan di tingkat nasional. Ketiga hal tersebut adalah kurangnya urgensi dari negara negara mengenai masalah perumahan dan perkotaan, kemitraan, dan dinamika perkotaan.
Mengenai kurangnya urgensi dari negara-negara anggota atas masalah perumahan dan perkotaan, para peserta menilai bahwa kegagalan penanggulangan masalah perumahan dan perkotaan sebagian besar disebabkan oleh karena kurangnya perhatian dari pemerintah mengenai urgensi permasalahannya. Oleh karenanya Konferensi lstanbul harus diupayakan untuk dapat meningkatkan perhatian dan kemauan politis pemerintah atas masalah perumahan dan perkotaan. Untuk itu perlu diusahakan agar Konferensi lstanbul dapat dihadiri oleh para Kepala Negara/Pemerintahan dari negara-negara anggota agar konferensi tersebut dapat memberikan gaung yang besar dan berbobot bagi masyarakat internasional mengenai pentingnya masalah perumahan dan perkotaan. Dalam hal ini para peserta telah menyetujui untuk mengusulkan kepada Sekretaris Jenderal PBB agar Sekretaris Jenderal PBB bersama sama dengan Presiden Turki, selaku tuan rumah konferensi, dapat mengundang beberapa kepala negara/pemerintahan dari key countries yang diaqggap berhasil dalam memecahkan masalah
68
perumahan untuk hadir di Konferensi lstanbul sebagai friends of the Secretary General/President of Turkey.
Dalam hal kemitraan, semua peserta melihat bahwa kemitraan antara semua aktor yang terlibat di dalam pembangunan perumahan dan perkotaan merupakan hal yang mutlak untuk terus diperkuat. Konferensi lstanbul hendaknya dapat menjadi forum dimana kemitraan antara pemerintah dan semua sektor masyarakat dapat diperkuat dan terefleksikan dalam deklarasi dan program aksi konferensi. Kemitraan tersebut juga hendaknya dapat terwujud tidak saja di tingkat pengambilan keputusan akan tetapi juga ditingkat pengkajian dan pemantauan implementasi program program pembangunan perumahan dan perkotaan.
Untuk itu, para peserta pertemuan telah menyetujui untuk mengusulkan pada Sekretaris Jenderal PBB agar mengkaji kemungkinan penyelenggaraan forum-forum selama Konferensi yang mencerminkan keterlibatan dan interaksi yang aktif antara pemerintah dan seluruh aktor pembangunan di sektor perumahan dan perkotaan. Negara-negara anggota juga agar dihimbau lagi untuk mengikut sertakan seluas mungkin sektor masyarakat dalam delegasinya yang akan mengikuti Konferensi lstanbul. Mengenai kemitraan tersebut, usulan dari Menteri Negara Perumahan Rakyat agar kemitraan tersebut selalu memperhatikan masyarakat bawah telah mendapatkan tanggapan yang positif dari para peserta lainnya.
69
Mengenai dinamika perkotaan para peserta menyetujui bahwa perkembangan dan masalah-masalah yang melingkupi perkembangan perkotaan hendaknya tidak dilihat sebagai suatu beban akan tetapi harus dilihat sebagai potensi yang positif untuk mendorong politik, ekonomi, sosial, dan budaya. Untuk meningkatkan kesadaran masyarakat internasional atas dinamika perkembangan perkotaan tersebut, para peserta (eminent person) menyetujui untuk menggunakan Konferensi sebagai wahana untuk tujuan tersebut. Oleh karenanya, sekretariat disarankan untuk mengajukan contoh perkembangan dinamika perkotaan di dua negara berkembang dan dua negara maju untuk menjadikan sebagai tema dalam forum-forum yang diselenggarakan selama konferensi.
Di samping usulan-usulan di atas, para peserta telah menyetujui untuk mengadakan pertemuan lanjutan pada awal Juni 1996 di Istanbul dan juga untuk mengadakan saling hubungan agar dapat terus ditingkatkan upaya-upaya untuk mendorong keberhasilan Konferensi.
Atas usulan Menteri Negara Perumahan Rakyat RI, para peserta setuju untuk mengusulkan kepada Sekretaris Jenderal PBB untuk mengadakan pertemuan lanjutan setelah Konferensi lstanbul. Pertemuan lanjutan eminent person’s dianggap penting untuk memantau pelaksanaan komitmen yang disetujui di Konferensi Istanbul.
70