• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting)

Dalam dokumen BAB 1 Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang (Halaman 33-49)

3.3 Pertemuan Tiga Pihak (Trilateral Meeting)

Setelah Rakorbangpus, Direktorat Tata Ruang dan Pertanahan Bappenas menyelenggarakan forum trilateral meeting antara mitra K/L, Kementerian Keuangan dan Bappenas. Rapat dengan DJPR PU dilaksanakan pada tanggal 15 April 2013, sementara dengan BPN pada tanggal 12 April 2013 dengan tujuan: (1) koordinasi dan kesepahaman pencapaian sasaran prioritas pembangunan; (2) menjaga konsistensi kebijakan antara dokumen perencanaan dengan dokumen penganggaran terutama antara RKP, Renja K/L dan RKA-KL; (3) mendapatkan komitmen bersama atas penyempurnaan Rancangan Awal Rencana Kerja Pemerintah (kegiatan prioritas dan pendanaannya), serta (4) sebagai dasar bagi K/L untuk merumuskan dokumen kesepakatan bersama yang nantinya akan dipergunakan sebagai bahan masukan oleh K/L dalam penyusunan Renja K/L.

Untuk Ditjen Penataan Ruang (DJPR), Kementerian Pekerjaan Umum (PU), hasil dari pertemuan trilateral ini adalah dokumen kesepakatan pertemuan tiga pihak yang ditanda tangani oleh Kementerian PPN/Bappenas (Direktur Tata Ruang dan Pertanahan), Kementerian Keuangan (Direktur Anggaran I) dan DJPR PU (Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri dan Direktur Bina Program dan Kemitraan). Dokumen kesepakatan ini berisi antara lain yaitu: kesepakatan atas kegiatan prioritas, kegiatan non prioritas, inisiatif baru beserta keluaran dan besaran anggarannya; kesepakatan atas perubahan alokasi anggaran antar program dan antar kegiatan. Hasil kesepakatan ini menjadi pegangan bagi DJPR PU dalam menyusun Renja K/L yang harus diserahkan kepada Kementerian Keuangan dan Bappenas. Sedangkan ringkasan catatan pembahasan trilateral Bappenas, Kemenkeu dan DJPR PU dapat dilihat pada tabel 10 dibawah ini.

33 Tabel 10. Ringkasan Catatan dalam Pembahasan Trilateral Meeting

No Materi Pembahasan Catatan Kementerian PPN / Bappenas Catatan Kementerian Keuangan Catatan Kementerian Pekerjaan Umum

(1) (2) (3) (4) (5)

Prioritas Pembangunan Nasional

1 Program dan Kegiatan prioritas

1. Pencapaian Target RPJMN II Pemenuhan beberapa target RPJMN 2010-2014

perlu menjadi dasar penyusunan RKP 2014, antara lain terkait penyusunan 40 NSPK, penetapan 45 Perpres RTR KSN, Bimtek Penataan Ruang Wilayah untuk 163 Kabupaten dan Bimtek Pengembangan Wilayah/Kawasan Perdesaan dan Argopolitan sebesar 7 Kawasan, dan Evaluasi Kinerja Penyelenggaraan Penataan Ruang (23 kegiatan).

Penyelesaikan RTRW perlu menjadi perhatian utama Ditjen Penataan Ruang sebab amanat UUPR mewajibkan RTRW selesai pada tahun 2009 (Provinsi) dan 2010 (Kabupaten/Kota).

1. Target pencapaian RPJMN 2010-2014 terkait dengan NSPK perlu disepakati dasar perhitungannya, dimana berdasarkan perhitungan Direktorat Jenderal Penataan Ruang, hal itu termasuk penyelesaian Norma (PP, Perpres, dll), Standar dan Pedoman (Permen), serta Kriteria. Jumlah NSPK yang telah diselesaikan hingga tahun 2013 sebanyak 34 NSPK, sehingga sisa target yang harus dipenuhi sebanyak 26 NSPK pada tahun 2014. 2. Untuk target pencapaian Bimtek penataan ruang

wilayah Kabupaten dilaksanakan melalui kegiatan bimbingan teknis berupa Konsultan Manajemen Regional (KMR) di seluruh provinsi dan kabupaten. 3. Target Pengembangan Wilayah/ Kawasan Perdesaan

dan Agropolitan yang dilaksanakan pada tahun 2013 sebanyak 14 kawasan. Sehingga target 2014 yang tersisa sebanyak 14 kawasan yang dilaksanakan melalui Program Pengembangan Kawasan Perdesaan Berkelanjutan (P2KPB).

2. Alokasi Anggaran per Kegiatan Alokasi anggaran per kegiatan pada dasarnya

diserahkan pada mekanisme internal, namun harus ada penjelasan tekait peningkatan anggaran Direktorat Perkotaan secara signifikan dan berbeda jauh dari alokasi SB.

Alokasi anggaran per kegiatan harus sejalan

dengan prioritas

nasional/bidang/kementerian/lembaga serta tugas pokok dan fungsi unit struktural pelaksana kegiatan. Kebutuhan pengembangan Kebun Raya hendaknya didasarkan pada payung hukum yang kuat, agar tidak terjadi duplikasi dengan K/L lain.

Alokasi anggaran per kegiatan yang tercantum dalam SB berbeda dengan alokasi usulan yang disampaikan oleh Ditjen Penataan Ruang. Alokasi usulan tersebut didasarkan pada hasil pembahasan konsultasi regional yang telah disesuaikan dengan pagu indikatif total 2014.

Namun demikian anggaran Direktorat Perkotaan (Rp. 324,869 M) mengalami perbedaan yang cukup besar dibandingkan dengan alokasi SB (Rp. 234,511 M). Hal tersebut dilakukan untuk mengakomodasi kebutuhan pengembangan Kebun Raya di Batam dan Makasar serta Up Scaling program 112 Kota Hijau.

3. Pelaksanaan Program-Program

Khusus (Unggulan)

1. Kenaikan alokasi pada indikator Pelaksanaan Program Pengembangan Kota Hijau (P2KH)

Duplikasi Tupoksi perlu menjadi perhatian dalam pelaksanaan indikator P2KH, khususnya dengan

1. Sesuai hasil pembicaraan antara Ditjen Penataan Ruang dan Ditjen Cipta Karya, pengembangan RTH

34

No Materi Pembahasan Catatan Kementerian PPN / Bappenas Catatan Kementerian Keuangan Catatan Kementerian Pekerjaan Umum

(1) (2) (3) (4) (5)

perlu diperjelas peruntukannya. Selain itu, perlu dipastikan agar tidak terjadi duplikasi tupoksi dengan sektor lain dan tidak mengambil kewenangan yang sudah disentralisasikan kepada daerah.

2. Dalam pelaksanaan P2KH dan Pelaksanaan Program Penataan dan Pelestarian Kota Pusaka (P3KP) pada Tahun 2014 perlu dilakukan: (i) Pemetaan kabupaten/kota dan kawasan spesifiknya yang ditangani dalam lingkup nasional; (ii) Roadmap pelaksanaan kegiatan s.d. Tahun 2014; (iii) Sinkronisasi kota dan kawasan yang ditangani dalam P2KH dan P3KP. 3. Dalam pelaksanaan P2KH, perlu diperhatikan

juga kewenangan Pemerintah Kota/Kabupaten dalam penyediaan infrastruktur dan pengembangan RTH. Disamping itu, perlu disusun exit strategy untuk kabupaten/kota yang nantinya tidak dipilih sebagai kota yang mendapatkan alokasi penuh (full scale) P2KH setelah Tahun 2014.

4. Dari 85 kabupaten/kota P3KP pada Tahun 2014, perlu ditentukan target berapa kabupaten/kota yang akan dipilih, diusulkan dan diproritaskan untuk menjadi kota pusaka dunia (world

heritage).

Ditjen Cipta Karya (CK) Kementerian PU. Informasi yang didapat bahwa RTH lama menjadi kewenangan Ditjen CK, sedangkan RTH baru menjadi kewenangan Ditjen Penataan Ruang. Namun belum terdapat peraturan resmi yg mengatur secara jelas..

ke depan akan dilaksanakan oleh Ditjen Penataan Ruang. Namun demikian, masih diperlukan adanya aturan atau ketentuan sebagai landasan pelaksanaan pemrograman dan penganggaran ke depan.

2. Program kegiatan P2KH pasca 2014 akan difokuskan pada 10-15 kota hijau terpilih yang akan dikembangkan untuk menjadi percontohan Nasional. Sisanya akan ditanani melalui program

city climateplan dalam rangka adaptasi perubahan

iklim. Roadmap P2KH dan P3KP akan disusun tahun 2013.

3. Exit Strategy akan dilakukan melalui pengembangan kota yang adaptif terhadap perubahan iklim.

4. Dalam penyusunan roadmap Kota Pusaka akan ditetapkan kota-kota yang akan didorong sebagai

World Heritage City

4. Sinkronisasi kegiatan penataan ruang dan pembangunan.

Prioritas Nasional pada Binda I dan Binda II mengalami penurunan dari RKP 2013. Hal ini perlu diperjelas, khususnya penurunan signifikan yang terjadi pada Binda II.

Sinkronisasi kegiatan penataan ruang dan pembangunan hendaknya dapat direncanakan dengan lebih efisien, dengan membatasi komponen honorarium, perjalanan dinas dan konsinyering

Sinkronisasi Penataan Ruang dilaksanakan dalam bentuk sinkronisasi Penataan Ruang Nasional dan Penataan Ruang Provinsi dan Kabupaten/Kota, serta sinkronisasi antara kebijakan Penataan Ruang dengan Pembangunan. Dengan demikian, kegiatan sinkronisasi tidak hanya dilaksanakan pada SKPD Dekonsentrasi melainkan juga melalui kegiatan persetujuan substansi dan sinkronisasi program sektor di Pusat seperti Konsultasi Regional.

5. Operasionalisasi rencana tata

ruang

PMU untuk KSN hendaknya tidak menambah biaya pegawai dan biaya operasional (flat policy).

PMU pada dasarnya merupakan upaya tindak lanjut dalam rangka implementasi rencana Tata Ruang

35

No Materi Pembahasan Catatan Kementerian PPN / Bappenas Catatan Kementerian Keuangan Catatan Kementerian Pekerjaan Umum

(1) (2) (3) (4) (5)

Kawasan Strategis Nasional. Dalam pelaksanaannya PMU merupakan unit Nasional yang mengkoordinasikan berbagai program pembangunan sektor yang ada di Lingkungan Kementerian Pekerjaan Umum.

Biaya anggaran yang dialokasikan merupakan bagian dari anggaran untuk program pemanfaatan ruang dan pengendalian pemanfaatan ruang.

RPI2JM perlu diperjelas posisi dan landasan hukumnya sebab merupakan indikator baru dan tidak terdapat dalam RPJMN 2010-2014.

Alokasi RPI2JM masih memerlukan payung hukum yang lebih jelas, khususnya untuk mengetahui secara proporsional, apakah kegiatan tersebut sebagai prioritas nasional, bidang ataupun K/L

RPI2JM merupakan bentuk upaya sinkronisasi antara sektor pembangunan khususnya yang berada di sektor ke PU-an berdasarkan RTRWN. Pedoman penyusunan RPI2JM akan ditetapkan melalui Permen PU.

2 Inisiatif Baru 1. Penambahan Pagu Anggaran terkait dengan

progrm inisiatif baru, agar dilengkapi dengan TOR dan RAB dan disampaikan pada kesempatan kedua pengajuan program Inisiatif Baru pada minggu pertama bulan Mei. Sebelumnya usulan Inisiatif Baru dari Ditjen Penataan Ruang telah dinilai dan diajukan sebelum terbitnya SB. Usulan tersebut belum dapat disetujui dalam tahap pertama, namun tetap dicantumkan dalam dokumen Trilateral

Meeting untuk dipertimbangkan apabila ada

alokasi tambahan.

Usulan Inisiatif Baru tahap dua agar berbeda dengan usuan Inisiatif Baru tahap pertama. 2. Terkait dengan usulan inisiatif baru dalam

bentuk upscaling P2KH yang cukup besar dan sudah melampaui target dalam RPJMN 2010-2014, sementara tidak tercantumnya P2KH sebagai salah satu direktif Presiden, maka diperlukan justifikasi yang kuat. Untuk itu, dengan desain P2KH yang mengarah kepada adaptasi perubahan iklim, maka dimungkinkan untuk mengusulkan program tersebut kedalam Prioritas Nasional 9: Peningkatan Kualitas

Pengusulan Inisiatif Baru bisa dilakukan dalam 3 tahapan, yaitu:

1. Penyusunan Pagu Indikatif 2. Penyusunan Pagu Anggaran 3. Alokasi K/L

Apabila target RPJMN 2010-2014 telah terlampaui, disarankan agar dilakukan optimalisasi alokasi baseline untuk mengakomodir komponen kegiatan yang diusulkan di dalam Insiatif Baru.

Program usulan inisiatif baru tahap 2 akan disampaikan sebelum minggu pertama bulan Mei yang terkait dengan program-program Penataan Ruang dalam rangka mendukung MP3EI, berupa percepatan penyelesaian rencana rinci tata ruang Provinsi Kabupaten/Kota di sepanjang koridor MP3EI. Kegiatan fasilitasi Bimbingan Teknis, serta program mendukung Ketahanan Pangan melalui program P2KPB, dan exit

strategy P2KH yang mendukung Prioritas Nasional

36

No Materi Pembahasan Catatan Kementerian PPN / Bappenas Catatan Kementerian Keuangan Catatan Kementerian Pekerjaan Umum

(1) (2) (3) (4) (5)

Lingkungan. Untuk pengusulan tersebut, dibutuhkan adanya surat Direktur Jenderal Penataan Ruang ke Deputi Bidang Pengembangan Regional dan Otonomi Daerah, Bappenas dan tembusan ke Deputi Bidang Pendanaan Pembangunan.

3 Pengalihan Dekonsentrasi dan Tugas

Pembantuan

- Tidak ada alokasi Dekonsentrasi dan TP yang dialihkan dananya ke transfer daerah.

-

4 Catatan terkait Pengisian Renja K/L Dalam struktur penganggaran, penghapusan

terhadap IKK akan berpengaruh pada output di RKA-K/L. Demikian sebaliknya penambahan IKK akan memrlukan output baru di RKA-K/L. Oleh karena itu agar perubahan terhadap IKK dapat dilakukan dengan baik kiranya perlu ada review terhadap output yang sudah ada.

Secara substansi, perubahan IKK hendaknya tetap mengacu pada prioritas nasional, idang, K/L serta tupoksi satker bersangkutan.

Dukungan Manajemen Ditjen Penataan Ruang dan Informasi Penataan Ruang

1. Terdapat perbedaan target dan alokasi pada IKK 006: Jumlah kegiatan manajemen SDM Ditjen Penataan Ruang, pada SB target sebanyak 10 kegiatan dengan alokasi sebesar Rp 5 M, sedangkan pada usulan DJPR tidak mengalokasikan target untuk IKK tersebut. Sehingga selisih alokasi antara SB dengan usulan DJPR digunakan untuk mengakomodasi kegiatan Dukungan Manajemen Ditjen Penataan Ruang dan Informasi Penataan Ruang.

Pembinaan Pelaksanaan Penataan Ruang Daerah Wilayah I

1. IKK 003 Jumlah (orang) PPNS yang dibina di SEB adalah 3 (tiga) kegiatan. Di exercise 2014 tidak ada kegiatan karena tidak ada output di RKA-KL sehingga bergabung ke IKK 008 Jumlah Pengawasan Teknis Bidang Penataan Ruang dengan Output Pengawasan Teknis/ Pembinaan PPNS Penataan Ruang.

2. IKK 007, Jumlah NSPK sesuai amanat UU 26/2007 di SEB adalah 4 (empat) kegiatan, di exercise 2014 2 (dua) kegiatan. Akan tetapi tidak ada output di RKA-KL untuk NSPK, padahal di tahun sebelumnya output tersebut ada di aplikasi RKA-KL.

3. IKK 015 Jumlah Kegiatan yang mendapat Bimtek Pemanfaatan dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang dan Pengendalian Pemanfaatan Ruang Provinsi di SEB sebanyak 4 (empat) kegiatan, di exercise 2014 tidak ada, hal ini disebabkan karena tidak adanya output di RKA-KL sehingga bergabung ke IKK 004 Pembinaan Teknis Penyelidik Penataan

37

No Materi Pembahasan Catatan Kementerian PPN / Bappenas Catatan Kementerian Keuangan Catatan Kementerian Pekerjaan Umum

(1) (2) (3) (4) (5)

Ruang Daerah dengan Output Pembinaan Teknis Penyelenggaraan Penataan Ruang Daerah. 4. IKK 018 Jumlah kegiatan pengawasan dan

pengendalian dekonsentrasi bidang penataan ruang di SEB adalah 1 (satu) Laporan, pada exercise 2014 tidak ada, sehingga bergabung ke IKK 001, jumlah laporan keuangan dan BMN dengan Output Laporan kinerja dan Pelaksanaan Anggaran.

Pembinaan Pelaksanaan Penataan Ruang Daerah Wilayah II

Terjadi penggabungan beberapa IKK menjadi satu IKK disebabkan output di RKAKL tidak dapat dimasukan kedalam IKK yang ada antara lain:

1. IKK 012: Jumlah kabupaten yang mendapatkan bimtek PR wilayah/ kawasan perdesaan dan agropolitan. Merupakan gabungan dari beberapa IKK yaitu:

IKK 005: Jumlah sosialisasi bidang penataan ruang

IKK 009: Jumlah kegiatan penyelenggaraan persetujuan substansi RTRWK

IKK 011: Jumlah kabupaten yang mendapatkan bimbingan teknis penataan ruang wilayah kabupaten

IKK 014: Jumlah kegiatan bimbingan teknis pemanfaatan dan pengendalian pemanfaatan ruang wilayah provinsi

IKK 015: Jumlah wilayah sungai yang mendapatkan fasilitasi penataan ruang lintas wilayah

IKK 016: Jumlah kegiatan pengawasan dan pengendalian pelaksanaan dekonsentrasi bidang penataan ruang

IKK 017: Jumlah kegiatan koordinasi lintas provinsi 7 (tujuh)

2. IKK 007: Jumlah wastek bidang PR, merupakan gabungan dengan IKK 003: Jumlah orang PPNS yang dibina. Alokasi menjadi 600

Pelaksanaan Penataan Ruang Nasional

Terdapat perbedaan target dan alokasi antara SB dan Usulan DJPR dengan sebagai berikut:

38

No Materi Pembahasan Catatan Kementerian PPN / Bappenas Catatan Kementerian Keuangan Catatan Kementerian Pekerjaan Umum

(1) (2) (3) (4) (5)

1. IKK 001, Penanganan wilayah sungai telah diakomodir dalam RTRW Prov dan RTR Pulau/Kepulauan

2. IKK 003 Jumlah kegiatan koordinasi lintas provinsi 7 pulau dan Kepulauan

3. IKK 005, Disesuaikan dengan kondisi status penanganan KSN di tahun 2013, maka volume penanganan KSN di 2014 adalah:

Proses legalisasi : 32 KSN (+ sisa target legalisasi 2013 yang belum terealisasi) Penyusunan Raperpres : 15 KSN

Penyusunan matek : 4 KSN (2 KSN sudah masuk deliniasi KSN lainnya)

KLHS Biak

Penyiapan peta 7 KAPET

--> disesuaikan dengan unit cost untuk masing-masing pekerjaan

4. IKK 006, menindaklanjuti pelaksanaan PK di 2013, di 2014 diperlukan 2 pekerjaan Tindak Lanjut Hasil PK yaitu pemantapan materi TL hasil PK dan fasilitasi pelaksanaan TL hasil PK.

- Output 2400.11 Diusulkan untuk ditambahkan --> ada di Aplikasi Renja K/L tapi belum ada di aplikasi RKA-KL".

IKK 008, kegiatan rutin terkait pelaksanaan monev implementasi RTRWN/Pulau/Kepulauan dan KSN serta pemutakhiran sistem informasi RTRWN/Pulau/ Kepulauan/KSN

- Output 2400.12 (Rekomendasi Peningkatan Kinerja Penataan Ruang dan Pengembangan Wilayah Nasional, Pulau dan KSN Non Perkotaan) diusulkan untuk ditambahkan --> ada di Aplikasi Renja K/L tapi belum ada di aplikasi RKA-KL"

5. IKK 009, terdapat 2 laporan terkait pelaksanaan koordinasi lintas sektor dan wilayah: fasilitasi dan menjunjang BKPRN, Fasilitasi Koordinasi dan Kerjasama Linwil Nasional dan Regional, Sekretariat MAPI, serta Forum Penataan Ruang Pulau. - IKK terkait Penerbitan Buletin Tata Ruang sudah

39

No Materi Pembahasan Catatan Kementerian PPN / Bappenas Catatan Kementerian Keuangan Catatan Kementerian Pekerjaan Umum

(1) (2) (3) (4) (5)

masuk dalam IKK ini"

6. IKK 010, Output terkait IKK ini sudah masuk ke dalam output IKK 009, dan diusulkan untuk dihilangkan karena pekerjaan terkait penerbitan Buletin Tata Ruang merupakan bagian dari pekerjaan terkait pelaksanaan tugas BKPRN. 7. IKK 011, Kegiatan fasilitasi (MAPI dan BP Kapet) dan

Kebijakan RPJMN, SKPD Dekon 13 KAPET (BP KAPET) dan SKDP Dekon KSN (28 KSN Non Perkotaan dan 2 KSN Perkotaan 22 Provinsi). 8. IKK 012, Output terkait IKK ini sudah masuk ke

dalam output IKK 012 (Jumlah Laporan Keuangan dan Administrasi), dan diusulkan untuk dihilangkan karena pekerjaan terkait penyusunan laporan keuangan dan administrasi barang merupakan bagian dari pekerjaan terkait Kinerja Pelaksanaan Anggaran (IKK 012).

9. IKK 014, Disesuaikan dengan jumlah NSPK yang merupakan kewenangan Nasional.

- termasuk di dalamnya pekerjaan penyusunan Modul dan pelaksanaan sosialisasi (output : 1 modul dan 1 kegiatan sosialisasi) yang sebelumnya masuk ke IKK 015

- penyesuaian unit cost"

10. IKK 015, output pekerjaan ini sudah masuk ke output IKK 014 (karena tidak ada output "sosialisasi" di aplikasi RKA-KL.

11. IKK 016, IKK sudah di drop.

12. IKK 018, Kegiatan-kegiatan rutin dalam rangka menunjang pelaksanaan pekerjaan di Direktorat/Satker, kebutuhan pemrograman dan penganggaran, serta pelaksanaan sinkronisasi program penataan ruang KSN untuk sektor A, B, C.

13. IKK 019, Penambahan jumlah KSN yang akan disusun RPI2JM nya sebagai upaya percepatan untuk arahan sinkronisasi program sektor ke-PU-an dalam perwujudke-PU-an KSN.

14. Terdapat perbedaan target dan alokasi pada IKK 006: Jumlah kegiatan manajemen SDM Ditjen Penataan Ruang, pada SB target sebanyak 10 kegiatan dengan alokasi sebesar Rp 5 M,

40

No Materi Pembahasan Catatan Kementerian PPN / Bappenas Catatan Kementerian Keuangan Catatan Kementerian Pekerjaan Umum

(1) (2) (3) (4) (5)

sedangkan pada usulan DJPR tidak mengalokasikan target untuk IKK tersebut. Sehingga selisih alokasi antara SB dengan usulan DJPR digunakan untuk mengakomodasi kegiatan Dukungan Manajemen Ditjen Penataan Ruang dan Informasi Penataan Ruang.

Pelaksanaan Pengembangan Perkotaan

1. IKK 006, Jumlah Pemutakhiran Basis Data dan Informasi Perkotaan, masuk dalam ouput RKAKL, pada Kajian Kebijakan Strategi dan Pengembangan Perkotaan.

2. IKK 010, Jumlah Kota Pusaka, Rawan Bencana dan Pemenang PKPD yang ditingkatkan kualitas pengembangan perkotaan dan kapasitas kelebagaan masuk dalam ouput RKAKL “Pemenuhan SPM dan Kualitas Penataan Ruang Kota, dalam pekerjaan terkait kota pusaka”. 3. IKK 016, Kegiatan evaluasi Kinerja penataan

ruang masuk kedalam output RKAKL “Laporan Kinerja Pelaksanaan Anggaran”.

Pembinaan Program

1. Untuk meningkatkan kinerja pembinaan program, data dan informasi, serta kemitraan bidang penataan ruang diperlukan penambahan volume keluaran pada IKK 003, 005, 007, 009, 011, dan 012.

2. Pengurangan volume sasaran pada IKK 001 (Renja K/L dibandingkan dengan SEB) tidak berpengaruh terhadap pencapaian sasaran RPJMN 2010-2014 secara keseluruhan.

Pendanaan Pembangunan Nasional

4 Pinjaman dan Hibah Luar Negeri - Tidak ada sumber dana PHLN di Program

Penyelenggaraan Penataan Ruang.

-

5 PNBP/BLU -

Pagu PNBP sebesar Rp3.852,7 juta merupakan pagu PNBP yang dapat digunakan, apabila terjadi perubahan terhadap besaran dimaksud akan dilakukan penelaahan lebih lanjut dengan Dit. PNBP

Ditjen Penataan Ruang mengusulkan untuk mengurangi dana anggaran PNBP dari semula Rp. 3.852.700.000,- menjadi Rp. 3.210.200.000,-

Selisih anggaran yang ada akan dialokasikan pada kegiatan Dukungan Manajemen Ditjen Penataan Ruang dan Informasi Penataan Ruang.

41

No Materi Pembahasan Catatan Kementerian PPN / Bappenas Catatan Kementerian Keuangan Catatan Kementerian Pekerjaan Umum

(1) (2) (3) (4) (5)

6 Belanja Operasional -

Alokasi untuk belanja operasional TA 2014 hendaknya memedomani kebijakan di bidang belanja sebagai berikut:

a) Kebijakan belanja pegawai seperti kenaikan gaji pokok PNS dan anggoata TNI/Polri rata-rata 6% serta pensiun rata-rata 4%, meneruskan pemberian gaji dan pensiun ke-13;

b) Menerapkan flat policy pada belanja barang operasional perkantoran dan pengendalian biaya perjalanan dinas

-

7 Kebutuhan Tambahan Rupiah

Murni

- Tidak ada usulan kebutuhan tambahan rupiah murni.

Kebutuhan anggaran sesuai baseline dalam rangka pelaksanaan Penyelenggaraan Penataan Ruang TA.

2014 adalah sebesar Rp 1,204.3 M (sesuai SB adalah Rp

997.05 M) sehingga tambahan rupiah yang dibutuhkan sebesar Rp 207.25 M.

Secara rinci per kegiatan dapat dilihat pada Matrik Lampiran Pembahasan pada Kebutuhan Tambahan Rupiah Murni.

Program Tematik

8 Dukungan Kerjasama Pemerintah

Swasta (KPS)

- - -

9 Anggaran Pendidikan - - -

10 Anggaran Responsif Gender

(ARG)

- Dalam rangka penyusunan anggaran responsif gender agar dilengkapi dengan Gender Budget Statement.

Secara rinci, anggaran responsif gender termuat dalam lampiran catatan pembahasan.

11 Kerjasama Selatan-Selatan dan

Triangular

- - -

42

No Materi Pembahasan Catatan Kementerian PPN / Bappenas Catatan Kementerian Keuangan Catatan Kementerian Pekerjaan Umum

(1) (2) (3) (4) (5)

Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI)

13 Masterplan Percepatan dan

Perluasan Pengurangan Kemiskinan di Indonesia (MP3KI)

- - -

14 Millennium Development Goals

(MDG’s)

43 Sementara itu untuk BPN, hasil dari pertemuan trilateral ini adalah dokumen kesepakatan pertemuan tiga pihak yang ditanda tangani oleh Kementerian PPN/Bappenas (Direktur Tata Ruang dan Pertanahan), Kementerian Keuangan (Direktur Anggaran IIC) dan BPN (Kepala Biro Perencanaan dan Kerjasama Luar Negeri). Dokumen kesepakatan ini berisi antara lain yaitu: kesepakatan atas kegiatan prioritas, kegiatan non prioritas, inisiatif baru beserta keluaran dan besaran anggarannya; kesepakatan atas perubahan alokasi anggaran antar program dan antar kegiatan. Hasil kesepakatan ini menjadi pegangan bagi BPN dalam menyusun Renja K/L yang harus diserahkan kepada Kementerian Keuangan dan Bappenas. Beberapa hasil kesepakatan trilateral meeting antara lain:

(1) Perubahan/Realokasi anggaran antar-program dimungkinkan dengan syarat tidak melebihi Pagu Total K/L;

(2) Usulan inisiatif baru BPN terkait pemetaan Tanah Ulayat di Papua dan Papua Barat penting dilakukan sesuai 15 Isu Strategis 2014 namun perlu dilengkapi TOR dan RAB;

(3) terdapat kegiatan yang mengalokasikan anggaran responsif gender (ARG) seperti penerimaan pegawai di BPN sebanyak 60% adalah wanita;

(4) alokasi anggaran pendidikan STPN Tahun 2014 akan dikeluarkan dari jenis data pendidikan;

(5) alokasi PNBP di BPN sudah sesuai dengan target PNBP;

(6) Beberapa rancangan target di TA 2014 sulit tercapai seperti kegiatan Redistribusi Tanah karena secara konvensional tanah sumbernya sudah terbatas. Namun, ada kemungkinan target Redistribusi Tanah akan meningkat karena ada banyak tanah terlantar yang sudah di-SK-kan oleh Kepala BPN;

(7) alokasi pagu indikatif BPN tahun 2014 sudah memperhitungkan alokasi untuk satker baru, sehingga tidak diperlukan penambahan anggaran on-top; dan (8) Lanjutan pembangunan gedung pusat pendidikan dan pelatihan memerlukan tambahan sebesar Rp250.000.000.000. Sedangkan ringkasan catatan pembahasan trilateral Bappenas, Kemenkeu dan BPN dapat dilihat pada tabel 11 dibawah ini.

44 Tabel 11. Ringkasan Catatan dalam Pembahasan Trilateral Meeting

No. Materi Pembahasan Catatan Kementerian PPN/ Bappenas Catatan Kementerian Keuangan Catatan

Badan Pertanahan Nasional

(1) (2) (3) (4) (5)

1 Program dan

Kegiatan Prioritas - Kementerian PPN/Bappenas menyetujui alokasi anggaran untuk program dan kegiatan prioritas BPN Tahun 2014 sesuai SB Pagu Indikatif - Perubahan/Realokasi anggaran

antar-program dimungkinkan dengan syarat tidak melebihi Pagu Total K/L

- - Beberapa rancangan target di TA 2014 sulit tercapai seperti kegiatan Redistribusi Tanah karena secara konvensional tanah sumbernya sudah terbatas. Namun, ada kemungkinan target Redistribusi Tanah akan meningkat karena ada banyak tanah terlantar yang sudah di-SK-kan oleh Kepala BPN.

- Untuk kegiatan ketahanan pangan, BPN akan melakukan deliniasi untuk sawah-sawah yang beririgasi teknis sehingga mendukung usulan

Dalam dokumen BAB 1 Pendahuluan. 1.1 Latar Belakang (Halaman 33-49)

Dokumen terkait