• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertentangan Nilai MTR yang Berhubungan dengan Orang Tua

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

SUBJEK 2 1. Deskripsi Subjek 2 (MTR)

2) Pertentangan Nilai MTR yang Berhubungan dengan Orang Tua

Dalam tema ini, MTR mengalami bentuk stress yang disebabkan oleh pertentangan nilai dirinya yang berhubungan dengan ayah. Bentuk stress tersebut diantaranya adalah MTR merasa takut apabila ayahnya tahu tentang kehamilannya, MTR merasa gelisah karena dirinya belum bercerita kepada ayah tentang kehamilannya serta MTR merasa tidak berguna kepada ayahnya karena kehamilan yang dialaminya tersebut. Berikut akan dijelaskan lebih alnjut.

a) MTR Takut Apabila Ayahnya Mengetahui Kehamilannya Pertentangan nilai MTR juga berperan dalam membuat MTR berada dalam situasi yang menekan sehingga MTR mengalami berbagai bentuk stress. Hal tersebut dikarenakan nilai-nilai yang dianut MTR bertentangan dengan keadaan dirinya. Terkait dengan situasi ini, MTR merasa khawatir apabila ayahnya mengetahui bahwa dirinya mengalami kehamilan di luar perkawinan. MTR mengetahui bahwa hati ayahnya akan hancur apabila mengetahui apa yang terjadi pada dirinya. Berikut kutipan wawancara yang menggambarkan situasi tersebut:

“Ya perasaanku tu bingung lah, aku tu mikir gimana kalo bapakku tau pasti perasaannya hancur. Aku ngga bisa bayangin lah pasti bapakku syok, kaget kalo misal tau. Aku tu ya sedih waktu itu...”

(142-144) Kutipan wawancara di atas menggambarkan bentuk stress yang dialami MTR yaitu merasa khawatir apabila ayahnya mengetahui kehamilan yang dirinya alami. Hal tersebut membuat MTR selalu berdoa agar Tuhan memberinya jalan keluar dari persoalan yang MTR hadapi. Cara MTR berdoa ini merupakan coping strategy yang bersifat emotion focused coping – turning to religion. Berikut kutipan wawancara yang menunjukkan coping strategy yang dilakukan MTR:

“Trus ya aku juga selalu doa sama Allah, biar aku tau gimana caranya keluar dari masalah ini gitu lho”.

90

b) MTR Gelisah karena Belum Bercerita Kepada Ayah

Setelah beberapa waktu MTR menyembunyikan keadaan dirinya dari ayahnya, lambat laun MTR pun merasa gelisah. MTR tidak bisa tidur nyenyak karena MTR belum mengatakan kepada ayahnya. Berikut kutipan wawancara yang menggambarkan situasi di atas:

“Awalnya tu aku ngga tega ya karna aku mirinya gimana nanti kalo aku bilang sama bapakku trus aku ngga bisa bayangin kalo aku harus bilang ke bapakku nanti reaksinya gimana. Tapi setelah aku pikir pikir ya, aku kan ngga bisa tidur waktu itu. Itu tu pas malem rabu..”

(199-203) Keadaan tersebut menunjukkan bahwa MTR mengalami bentuk

stress yaitu merasa gelisah dan akhirnya membuat MTR memutuskan untuk memberi tahu kepada ayahnya bahwa dirinya mengalami kehamilan di luar perkawinan. Hal yang dilakukan MTR ini termasuk coping strategy yang bersifat

problem focused coping – active coping. Situasi di atas dapat dilihat dari kutipan wawancara berikut:

“nah yaudah akhirnya aku terpakasa bilang sama bapakku, aku berani beraniin ngomong sama bapak. Awalnya aku ngajak bapak duduk bareng kan trus aku bilang kalo aku tu sebenernya hamil trus aku minta maaf sama bapakku karna udah 6 bulan kehamilanku, aku baru bilang sama bapak”.

(203-206)

c) MTR Merasa Tidak Berguna kepada Ayah

Kehamilan yang dialami MTR ini juga membuat dirinya tidak dapat melanjutkan sekolah. Menurut MTR, karena dirinya tidak bisa melanjutkan sekolah maka dirinya tidak dapat meraih cita-citanya. Selain itu, menurut MTR seharusnya dirinya membuat bangga orang tua bukan malah membebani orang tua. Hal tersebut membuat MTR merasa tidak berguna dan tidak berbakti kepada orang tuanya. Situasi ini dapat dilihat dari kutipan wawancara berikut:

“nah tapi karna kejadian itu ya aku jadi ngga bisa nglanjutin sekolah, ngga bisa meraih cita citaku. Nah karna itu juga aku jadi ngrasa ngga berguna gitu lho sebagai anak, ngga bisa berbakti sama orang tua”.

(181-184) Kenapa?

“Ya karna kan harusnya aku tu bisa selalu buat bangga orang tua bukan malah membebani orang tua kayak gini”.

(185-187) Keadaan di atas membuat MTR juga merasa menyesal karena telah mengabaikan orang-orang yang pernah menasehatinya. Hal tersebut menunjukkan bahwa MTR mengalami bentuk stress

yaitu merasa tidak berguna dan menyesal. MTR pun akhirnya melakukan sesuatu untuk memperbaiki keadaan yaitu dengan membantu ayahnya dengan menyelesaikan pekerjaan rumah. Hal yang dilakukan MTR ini termasuk coping strategy yang bersifat problem focused coping – active coping. Berikut kutipan wawancara yang menggambarkan situasi di atas:

92

“Kalo seandainya ya waktu bisa diputer lagi, aku tu berharap kalo ini semua ngga terjadi trus aku juga ngga mau nglakuin itu semua. Aku mikir gini, seandainya ya aku dulu selalu dengerin semua orang yang nasehatin aku, mungkin ngga akan kayak gini. Makanya sekarang aku sebisa mungkin bantu bapak kalo lagi di rumah dan ga mau nyusahin lagi”

(187-192) Dari tema mengenai pertentangan nilai yang berhubungan dengan orang tua, MTR mengalami bentuk stress yaitu merasa takut apabila ayahnya mengetahui tentang kehamilan yang ia alami. Setelah beberapa waktu MTR menyembunyikan kehamilannya, MTR merasa gelisah karena belum bercerita kepada ayahnya. Selain itu, kehamilan yang dialami oleh MTR tersebut membuat dirinya merasa tidak berguna terhadap ayahnya karena MTR harus berhenti sekolah akibat kehamilan yang dirinya alami. Dari bentuk stress yang dialami oleh MTR tersebut, membuat MTR melakukan berbagai coping strategy. Strategikoping yang dilakukan MTR adalah problem focused coping dan emotion focused coping. Jenis problem focused coping yang dilakukan MTR adalah active coping yaitu dengan menceritkan kepada ayah tentang kehamilan yang ia alami karena MTR merasa gelisah. MTR juga menggunakan active coping dengan membantu ayahnya dalam mengerjakan pekerjaan rumah karena MTR merasa tidak berguna akibat kehamilannya. Selanjutnya jenis emotion focused coping yang digunakan MTR adalah turning to religion yaitu MTR berdoa

agar dirinya diberi petunjuk oleh Tuhan untuk keluar dari permasalahan yang dihadapinya.