PERSELISIHAN THEOLOGIS
Pasal 1 Pertikaian Tentang Trinitas
Terdapat beberapa tokoh sejarah gereja yang turut terlibat dalam persoalan Trinitas, satu diantaranya adalah Origenes (185 – 254). Ia adalah seorang Mesir, dari Alexandria yang cerdas dan menguasai filsafat Yunani. Dalam usianya yang ke 17 tahun sudah menjadi kepala “katekisasi” bagi mereka yang ingin masuk Kristen. Diceritakan bahwa ratusan buku yang telah ditulisnya. Berikut berbagai ajaran Origenes.
Tentang terjadinya dunia dan tubuh kita.45 Bahwa pada awalnya ada Allah, dikelilingi oleh malaikat-malaikat yang tak terhitung jumlahnya. Sedang dunia dan manusia belum ada. Kemudian para malaikat tersebut, kecuali satu, menjauh dari Allah. Semakin jauh dari Allah malaikat-malaikat itu melekat pada sesuatu yang berat dan jelek, yang tidak ada sebelumnya, yaitu materi. Demikianlah terjadinya dunia dan kita.
33
Tujuan kedatangan Kristus ke dunia, adalah untuk melepaskan malaikat-malaikat yang terkurung dalam materi itu. Kristus mengajarkan kepada para malaikat atau jiwa itu jalan untuk kembali kepada Allah, yaitu kasih dan askese. Dengan demikian, segala sesuatu, termasuk malaikat yang telah jatuh paling dalam (iblis), naik lagi kepada Allah, dan materi (tubuh) yang melekat pada mereka “menguap” kembali. Dan untuk menyelamatkan malaekat-malaekat yang telah jatuh itu Logos menggabungkan diri dengan satu-satunya malaikat (jiwa) yang tidak jatuh itu, dan turun ke dalam dunia sambil menerima tubuh sama seperti tubuh mlaikat yang lain. ia mengorbankan diri demi keselamatan segala sesuatu, lalu naik ke sorga. Sama seperti tubuh setiap maekat, begitulah tubuh Kristus hilang saat Ia kembali ke sorga.
Ajarannya tentang Tritunggal. Origenes menyatakan bahwa Allah itu esa adanya, tidak diperanakkan. Dan pada-Nya ada banyak roh yang pada mulanya bersana dengan Allah. Salah satunya adalah Logos atau Anak, berasal dari Bapa dari kekekalan. Dikatakan, bahwa peranakanNya (Yesus) itu tak dapat dibandingkan dengan peranakan manusia. Bapa selaku Bapa, Anak selaku Anak; hubungan antara keduanya digambarkan sebagai peranakan (filiation). Anak merupakan “Allah yang kedua” yang dalam arti tertentu adalah lebih rendah daripada Allah Bapa.46Selanjutnya mengenai Roh Kudus, Origenes menegaskan bahwa itu bukan sekedar suatu kuasa, melainkan oknum secara konkrit.47 Singkatnya, Origenes menggambarkan Tritunggal itu secara hierarki, terdapat tingkatan: Allah (Bapa), Anak Allah, Roh Kudus, di mana masing-masing ikut berpastisipasi dalam keberadaan dari tingkat di atasnya.48
Sejalan dengan Origenes, Arius, yang saat itu menjabat sebagai sebagai penatua (presbiter, dan ada pula yang menyebut ia sebagai pendeta) di salah satu gereja di Alexandria; mengajarkan bahwa Anak atau Logos itu adalah makhluk Tuhan yang sulung dan yang tertinggi derajatnya. Ia bukannya dari kekal, melainkan diciptakan. Logos itu telah datang ke bumi ini selaku Pengajar dan Teladan bagi segala makhluk yang lain, dengan rela hati Kristus taat sepenuhnya pada Allah; oleh karenanya Ia diberi kehormatan ilahi.49 Yesus merupakan makhluk yang sempurna, lebih tinggi dari
46 Th. Van den End, hal. 74.
47 Jon Culver, hal. 57.
48 Tony Lane, Runtut Pijar, hal.19.
34
malaikat, tetapi dibawah Allah (Bapa), dikatakan bahwa Yesus itu Logos dan Hikmat Bapa tetapi Ia beda dengan Logos yang berada (imanen) di dalam Allah.50
Segera sesudah itu Arius mendapat perlawanan keras dari Athanasius yang selama hampir setengah abad (328-373) menjadi uskup Alexandria. Pertikaian theologis ini terjadi pada zaman kaisar Konstantinus Agung berkuasa. Athanasius, yang theologianya serupa dengan theologia Irenius, mengatakan bahwa Kristus adalah Allah sepenuhnya, dan tidak boleh dibedakan dengan Allah Bapa. Kalau Kristus bukan Allah, maka bagaimana mungkin kita memperoleh keselamatan?
Konsili Nicea. Berhubungan banyak uskup yang tidak dapat menerima ajaran
Arius, juga ajaran Athanasius yang dipandang mereka sebagai berat-sebelah, maka terjadilah pertikaian hebat. Oleh karena itu, kaisar Konstantinus berusaha untuk mendamaikannya dengan jalan mengadakan konsili di kota Nicea pada tahun 325 (pertama) dengan tujuan supaya gereja bersatu. Dalam konsili yang dihadiri sekitar 250 - 318 uskup kebanyakan dari Timur (Gereja Ortodoks Timur), sementara hanya lima orang dari Barat (Gereja Katolik). dan yang dipimpin oleh kaisar sendiri itu menghasilkan satu rumusan, yakni Pengakuan Iman Nicea,51 (beda dengan Pengakuan Iman Nicea-Constantinopel). Salah satu rumusannya menegaskan bahwa “Logos atau Anak, sehakekat (Yunani:‘homo-usios’) dengan Bapa.”52 Logos sama sekali sehakekat dengan Allah Bapa; sungguhpun Logos dan Allah harus dibedakan, tetapi pada hakekatnya mereka satu saja, demikian kata Athanasius.53 Akibat dari konsili Necea 325 adalah ajaran Arius dianggap sesat, maka Ia dipecat, dikucilkan dan dibuang ke IllyriaSementara Eusebius dari Kaisarea bersama mayoritas uskup yang saat itu hadir dalam konsili Nicea mengikuti “jalan tengah”, karena mereka mencurigai istilah ‘homousios’ karena mereka berpendapat kata itu berbau ajaran Sabellius Ketidakpuasan Eusebius dan kawan-kawan ini digunakan oleh pihak Arius untuk memajukan ajaran Arius. Akibatnya, kaum Arius muncul dan menjadi kuat antara tahun 335-357.
50 J.N.D. Kelly, Early Christian Doctrine, “The Teaching of Arius”, 226-231.
51 Toni Lane, Runtut Pijar, hal.24.
52 Ibid., 25.
35
Karena rumusan yang diputuskan dalam konsili Nicea 325 masih belum jelas maka pertikaian berlangsung terus. Arius dan Athanasius secara bergiliran dibuang oleh kaisar-kaisar. Akibat dari konsili Necea 325 adalah ajaran Arius dianggap sesat, maka Ia dipecat, dikucilkan dan dibuang ke Illyria. Begitupun dengan Athanasius, selama masa jabatan keuskupannya (menggantikan uskup Alexander) Athanasius mengalami lima kali pengusiran. Pada tahun 335 diadakan sinode di Tirus, di mana Athanasius dipecat karena ia tidak mau menerima Arius untuk kembali ke dalam persekutuan gereja. Kaisar Konstantinus mengusirnya ke Treves pada tahun 336. Pada tahun 337 Konstantinus meninggal dunia dan Athanasius kembali menduduki keuskupannya di Alexandria. Baru saja dua tahun ia menduduki keuskupannya, maka kaisar mengusirnya lagi kerana kaisar berpihak kepada golongan Arianisme pada tahun 339. Sesuai dengan keputusan sinode Antiokia, maka Athanasius dibuang ke Roma.
Pertikaian theologia yang hebat dan lama ini baru berakhir sesudah Theodosius Agung, yang anti-Arian, menjadi kaisar pada tahun 379. Konsili oikumenis yang kedua diselenggarakan di Konstantinopel pada tahun 381, memutuskan bahwa Anak itu homo-usios dengan Bapa. Dengan demikian keputusan konsili pertama (di Nicea 325) diteguhkan, tetapi dengan pengertian yang lebih terang dan dalam. Dalam konsili ini, mengakui pula Roh Kudus juga sezat dengan Bapa, selaras dengan ajaran Athanasius.
36