BAB III PERTIMBANGAN HUKUM HAKIM TERHADAP
C. Pertimbangan Dan Dasar Hukum Hakim Terhadap
Kekerasan di Pengadilan Negeri Bangkalan
PUTUSAN PENGADILAN NEGERI BANGKALAN NO. 213/Pid.B/2013/PN.Bkl
DEMI KEADILAN BERDASARKAN KETUHANAN YANG MAHA ESA Pengadilan Negeri Bangkalan yang mengadili perkara-perkara pidana biasa pada peradilan tingkat pertama yang bersidang dengan Majelis Hakim di gedung yang telah ditentukan untuk itu di Jalan Soekarno-Hatta No. 4 Bangkalan, telah menjatuhkan putusan sebagai berikut dalam perkara Terdakwa:
Nama lengkap : IMAM SYAFI’I als IMAM bin SABRANI Tempat lahir : Bangkalan;
Umur/ tanggal lahir : 20 tahun / 28 Desember 1993; Jenis kelamin : Laki laki;
Kebangsaan : Indonesia; Agam : Islam; Pekerjaan : Tidak bekerja;
Tempat tinggal : Dusun Tengginah Dejeh, Desa Peterongan, Kecamatan Galis Kabupaten Bangkalan;
Terdakwa ditangkap tanggal 09 Mei 2013;
1. Penyidik tanggal 10 Mei 2013 No. Sprint.Han/110/V/201/Sat Reskrim sejak tanggal 10 Mei 2013 sampai dengan 29 Mei 2013 dengan jenis penahanan Rutan;
2. Perpanjangan Penuntut Umum tanggal 04 Juli 2013 No.47/0.5.37/Epp.1/05/2013 sejak tanggal 30 Mei 2013 sampai dengan 08 Juli 2013 dengan jenis penahanan Rutan;
3. Perpanjangan I oleh Ketua Pengadilan Negeri Bangkalan tanggal 02 Juli 2013 No.Print-183/Pen.Pid/2013/PN.Bkl /sejak tanggal 09 Juli 2013 sampai dengan 07 Agustus 2013 dengan jenis penahanan Rutan;
4. Perpanjangan ke II oleh Ketua Pengadilan Negeri Bangkalan tanggal 23 Juli 2013 No. 185/Pen.Pid/2013/PN.Bkl sejak tanggal 08 Agustus 2013 sampai dengan 06 September 2013 dengan jenis penahanan Rutan;
5. Penuntut Umum tanggal 05 September 2013 Nomor : Print- 1150/0.5.37/Ep.1/09/2013 sejak tanggal 05 September 2013 sampai dengan tanggal 24 September 2013 dengan jenis penahanan Rutan; 6. Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bangkalan tanggal 13 September 2013
berdasarkan penetapan Nomor : 213/ Pen.Pid.B/2013/PN.Bkl sejak tanggal 13 September 2013 sampai dengan tanggal 12 Oktober 2013 dengan jenis penahanan Rutan;
7. Perpanjangan oleh Ketua Pengadilan Negeri Bangkalan tanggal 30 September 2013 berdasarkan penetapan Nomor: 212/Pen.Pid/2013/PN.Bkl sejak tanggal 13 Oktober 2013 sampai dengan tanggal 11 Desember 2013 dengan jenis penahanan Rutan;
Telah mendengar tuntutan dari Penuntut Umumyang pada pokoknya
berpendapat bahwa Terdakwa telah terbukti melakukan tindak pidana sebagaimana termuat di dalam dakwaan Primair dan oleh karena itu menuntut hal-hal yang pada pokoknya sebagai berikut;
1. Menyatakan Terdakwa IMAM SYAFI’I als IMAM bin SABRANI
bersalah melakukan tindak pidana “dengan sengaja dan dengan rencana lebih dahulu menghilangkan nyawa oranglain secara bersama-sama dan Pencurian dengan Kekerasan atau perampokan secara bersama-sama” sebagaimana diatur dan diancam pidana dalam Pasal 340 jo pasal 55 ayat 1 ke 1 KUHP dan pasal 365 ayat (2) ke (2) KUHP dalam dakwaan Primair;
2. Menjatuhkan pidana terhadap Terdakwa IMAM SYAFI’I als IMAM bin SABRANI dengan pidana penjara selama 15 (lima belas) tahun,
dikurangi selama terdakwa berada dalam tahanan dengan perintah supaya tetap ditahan;
3. Menyatakan barang bukti berupa ;
( satu ) unit Hp merk Mitto warna putih; 1 ( satu ) jaket warna hitam;
1 ( satu ) tas warna coklat yang talinya dalam keadaan putus; Dikembalikan kepada saksi QURROTUL UYYUN;
( satu ) unit Hp merk Sky Call warna hitam ; 1 ( satu ) pasang anting emas berbentuk bulat ; 1 ( satu ) kalung emas berliontin love ;
1 ( satu ) potong baju lengan panjang warna merah muda ternoda darah;
1 ( satu ) potong kaos dalam warna putih terdapat noda darah ; 1 ( satu ) potong BH warna putih terdapat noda darah ;
1 ( satu ) potong celana panjang warna hitam terdapat noda darah Dikembalikan kepada Saksi Hamirah ;
( satu ) potong jaket jumper warna oranye terdapat noda darah; 1 ( satu ) potong kaos lengan panjang warna biru ;
1 ( satu ) sepeda motor Honda kharisma warna hitam Nopol M 3648GZ
1 ( satu ) helm standart warna putih ;
1 ( satu ) unit sepeda motor Honda Supra X warna hitam nopol L 3536 TU
1 ( satu ) potong kaos warna kuning bergambar barong bertuliskan BALI;
Dirampas untuk Negara ;
Sebilah pisau lengkap dengan selontongnya terdapat noda darah ; 1 ( satu ) buah kunci Inggris terdapat noda darah ;
Dirampas untuk dimusnahkan ;
4. Menetapkan supaya terdakwa membayar biaya perkara sebesar Rp.5.000,- (lima ribu rupiah ) ;
Berdasarkan keterangan saksi-saksi, ahli dan keterangan terdakwa yang dihubungkan dengan alat bukti dan bukti surat yang diajukan dalam persidangan, majelis hakim menemukan fakta-fakta hukum sebagai berikut : 1. Terbukti dengan disengaja secara bersama-sama dengan saksi Mujib bin
M. Ruji telah merencanakan sebuah pembunuhan dan perampasan barang berharga terhadap korban Suci Nurul Hidayati.
2. Terbukti ikut membantu dalam melancarkan aksi pembunuhan korban Suci Nurul Hidayati.
3. Terbukti menerima uang sebanyak 2 kali dari hasil kerja sama bersama saksi Mujib bin M. Ruji.
4. Terbukti telah melanggar ketentuan yang diatur dalam pasal 340 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke (1) dan Pasal 365 ayat 2 jo Pasal 55 ayat ke 1 ke (1) KUHP.
Adapun unsur-unsur dari Pasal 340 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke-1 KUHP adalah sebagai berikut:
1. Dengan sengaja;
2. Dengan direncanakan lebih dahulu; 3. Menghilangkan jiwa orang lain; 4. Dilakukan secara bersama-sama;
Adapun pertimbangan hakim yang memberatkan terdakwa Imam Syafi’i bin Sabrani adalah sebagai berikut :
1. Menimbang, bahwa dari kalimat “kalau bisa”berarti Terdakwa juga menyetujui seandainya Saksi Mujib Bin Rusdi tidak bisa merayu dahulu namun membunuh ;
2. Menimbang, bahwa kemudian Saksi MUJIB Bin RUSDI dan Terdakwa berhenti di Alas Kemarong dan Saksi MUJIB Bin RUSDI mengatakan “Mam gimana mau dibunuh disini” lalu Terdakwa menjawab ”Jangan Jib banyak orang” dan disepakati di Bangkalan; 3. Menimbang, bahwa Terdakwa mengetahui rencana tersebut dan
bahkan telah menerima uang sebanyak 2 kali yaitu yang pertama sebesar Rp. 5.000,- (lima ribu rupiah) dan yang kedua sebesar Rp. 7.000,- (tujuh ribu rupiah) sedang diketahuinya bahwa uang tersebut adalah milik Saksi korban Qurrotul Uyyun ;
4. Menimbang, bahwa sesuai dengan pasal pasal 197 ayat (1 ) huruf f perlu dipertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan yang
meringankan bagi Terdakwa, sehingga pidana yang dijatuhkan kepada diri Terdakwa dipandang telah cukup pantas dan adil. Adapun hal-hal yang memberatkan dan meringankan adalah sebagai berikut:
1) Hal-hal yang memberatkan
a. Walaupun Terdakwa telah bersama-sama melakukan pembunuhan terhadap korban Suci Nurul Hidayati namun juga telah berkali-kali mengucapkan kata-kata agar Terdakwa tidak melakukan pembunuhan.
b. Perbuatan Terdakwa menyengsarakan keluarga para korban
2) Hal-hal yang meringankan
Terdakwa bersikap sopan dalam persidangan dan mengaku terus terang perbuatannya, merasa bersalah, menyesali atas perbuatannya tersebut dan berjanji tidak akan mengulangi lagi.
BAB IV
ANALISIS HUKUM PIDANA ISLAM TERHADAP PUTUSAN NO. 213/PID.B/2013/PN.BKL. TENTANG TURUT SERTA DALAM TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN BERENCANA DAN PENCURIAN DENGAN
KEKERASAN
A. Analisis Putusan No. 213/PID.B/2013/PN.BklTentang Turut Serta Dalam Tindak Pidana Pembunuhan Berencana Dan Pencurian Dengan Kekerasan Dalam putusan ini terdakwa Imam Syafi’i bin Imam Sabrani hanya sebagai alat untuk memperlancar aksi dari saksi Mujib bin M. Ruji. Terdakwa hanya membantu menemani, mengantarkan dan mengawasi orang disekeliling tanpa ikut langsung membunuh ataupun memegang korban agar aksi yang dilakukan oleh saksi Mujib bin M. Ruji dapat berjalan dengan lancar tanpa diketahui oleh warga setempat.
Adapun alat bukti, sejumlah saksi dan pengakuan terdakwa Imam Syafi’i bin Imam Sabrani pun sudah menjelaskan atas keikut sertaan yang dilakukan oleh terdakwa. Oleh karena itu berbagai macam pertimbangan hakim yang memberatkan terdakwa sehingga dijatuhi hukuman sepertiga sesuai yang termaktub dalam KUHP tentang turut serta melakukan tindak pidana.
Menurut penulis, isi putusan ini sudah sesuai dengan tindakan yang dilakukan oleh terdakwa, dan hukuman yang dijatuhkan terhadapnya pun sudah sesuai yang termaktub dalam KUHP. Tetapi jika dilihat dari kronologi putusan tersebut, hukuman yang dijatuhkan oleh terdakwa sangatlah berat. Karena dalam kronologi tersebut terdakwa hanya membantu mengantarkan dan mengawasi saja tanpa turun langsung ke TKP dan ikut membantu membunuh korban tersebut.
Seharusnya ada pengklasifikasian terhadap sanksi-sanksi dalam tindak pidana turut serta seperti ini supaya lebih meringankan lagi hukuman bagi pelaku yang hanya menemani, mengantarkan, dan menunggu tanpa ikut serta langsung dalam proses pembunuhan seperti yang dilakukan oleh terdakwa Imam Syafi’i bin Imam Sabrani, sehingga pelaku bisa mendapatkan ganjaran yang sesuai atau setimpal dengan perbuatan yang dilakukannya. Jadi, menurut penulis putusan yang dijatuhkan terhadap terdakwa tidak sesuai dengan perbuatan yang dilakukan oleh terdakwa Imam Syafi’i bin Imam Sabrani.
B. Analisis Putusan No. 213/Pid.B/2013/Pn.Bkl Tentang Turut Serta Dalam Tindak Pidana Pembunuhan Berencana Dan Pencurian Dengan Kekerasan Menurut Hukum Pidana Islam
Islam sebagai salah satu agama samawi, mempunyai kesamaan persepsi tentang hukuman dalam hukum pidana baik hukuman qis}a>s, ta'zi>r, ataupun h}udud yang dinamakan hukuman pidana terhadap perilaku kejahatan pembunuhan yang dilaksanakan secara sengaja. Dalam konteks Islam eksistensi tentang hukuman pidana sebagai sebuah sangsi hukum diilustrasikan oleh al-Qur’an.
Berdasarkan prinsip fikih jina>yah bahwa perbuatan tindak pidana yang dilakukan oleh seseorang harus disesuaikan dengan keadilan menurut petunjuk Allah swt. Oleh karena itu, dalam menentukan hukum, yang pertama harus didasarkan kepada keimanan wahyu Allah swt yaitu al-Qur’an dan kedua didasarkan kepada akal sehat manusia untuk mendapatkan kemaslahatan bersama di dunia maupun di akhirat.
Menurut fikih jina>yah hukuman merupakan alat untuk menegakkan kepentingan masyarakat. Oleh karena itu, besarnya hukuman harus disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat yakni tidak boleh melebihi apa yang diperlukan untuk melindungi kepentingan masyarakat.
Suatu kejahatan yang dilakukan adakalanya dilakukan oleh satu orang dan adakalanya pula dilakukan oleh beberapa orang. Kejahatan yang dilakukan bisa disepakati terlebih dahulu ataupun dilakukan tanpa adanya kesepakatan terlebih dahulu. Oleh karena itu hukuman bagi pelaku tersebut sudah pasti pula sangat berbeda.
Dalam kaidah fikih jina>yah, khususnya tentang turut berbuat langsung (Muba>syir) dan turut berbuat tidak langsung (ghairu muba>syir) sangat berbeda. Turut berbuat langsung dalam pelaksaannya dibagi menjadi dua yaitu yang pertama turut berbuat langsung secara tawa>fuq, artinya suatu kejahatan yang dilakukan secara bersama-sama tanpa adanya kesepakatan terlebih dahulu. Kedua, turut berbuat langsung secara tama>lu’, artinya kejahatan yang dilakukan beberapa orang secara bersama-sama dan sudah direncanakan.1 Sedangkan turut berbuat tidak langsung (ghairu muba>syir) artinya orang yang melakukan perjanjian dengan orang lain untuk melakukan suatu perbuatan yang dapat dihukum dengan cara menyuruh, menghasut orang lain atau memberikan bantuan dalam pelaksaan perbuatan tersebut dengan disertai kesengajaan dan dalam keadaan sadar.
Dalam kasus ini pelaku memberi bantuan untuk melakukan pembunuhan dan pencurian dengan kekerasan terhadap beberapa korban yang mengakibatkan salah satu dari korban tersebut kehilangan nyawa dan yang satunya luka berat. Oleh karena itu hukuman yang dijatuhkan terhadap pelaku turut serta dalam melakukan tindak pidana diatas sesuai dengan kaidah yang telah ditentukan dalam fikih jina>yah, yaitu dengan diberikan hukuman ta’zi>r. Alasannya, karena perbuatan pelaku dalam berbuat tidak langsung ini merupakan syubhat yang dapat menggugurkan hukuman h}ad. Disamping itu, perbuatan pelaku tidaklah sebanding atau bahayanya seperti pelaku berbuat langsung. Karena kasus ini masuk dalam jari>mah yang ditentukan oleh syara’ (h}udud, qis}a>s/diyat) maka perbuatan pelaku disini merupakan illat dan menunjukkan kesyubhatan (kesamaran). Oleh karena itu sanksi yang dijatuhkan terhadap pelaku berbuat tidak langsung adalah hukuman ta’zi>r. Hal tersebut sesuai dengan hadis Nabi berikut ini:
ْ َلا ل تْقي ر خآا ه ل ت ق و لجَرلا ك سْم أ ا ا
او ( ك سْم أ ْ َلا س حْبي و ل ت ق
) طق ا لا
Jika ada seseorang yang menahan orang dan ada orang lain yang membunuhnya, maka bunuh orang yang membunuhnya dan kurunglah orang yang menahannya.2
Sesuai dalil tersebut kita tahu bahwa hukuman qis}a>s hanya dijatuhkan bagi orang yang telah membunuhnya, sedangkan bagi orang yang
memegangnya hanya mendapatkan hukuman kurungan. Jadi sudah jelas bahwa hukuman bagi pelaku turut berbuat secara langsung (muba>syir) dan turut berbuat tidak langsung (ghairu muba>syir) tidaklah sama.
Adapun kronologi dari kasus tersebut, pelaku disini hanya sekedar membantu mengantarkan dan menunggu kawannya yang sedang beraksi membunuh korban tanpa adanya keikut sertaan secara langsung ataupun terlibat langsung dalam proses pembunuhan dan pencurian dengan kekerasan yang dilakukan kawan pelaku sehingga pelaku disini masuk kedalam unsur- unsur turut berbuat secara tidak langsung (ghairu muba>syir).
Menurut penulis, jika hal ini ditinjau dengan fikih jina>yah maka hukuman yang didapat dari kasus diatas yaitu keturut sertaan dalam melakukan tindak pidana (al-Istirak fi al-Jari>mah) sudah sesuai dengan apa yang yang diperbuat oleh pelaku dan juga unsur-unsurya pun telah terpenuhi secara keseluruhan.
BAB V PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Berdasarkan keterangan saksi, saksi ahli dan keterangan terdakwa yang dihubungkan dengan alat bukti dan bukti surat yang diajukan dalam persidangan, majelis hakim menemukan fakta-fakta hukum bahwa terdakwa terbukti dengan disengaja secara bersama-sama dengan saksi Mujib bin M. Rusdi telah merencanakan sebuah pembunuhan dan perampasan barang berharga terhadap korban Suci Nurul Hidayati (almh), terbukti ikut membantu dalam melancarkan aksi pembunuhan korban suci, menerima uang sebanyak 2 kali dari hasil kerja sama bersama saksi Mujib bin M. Rusdi, dan terbukti telah melanggar ketentuan yang diatur dalam pasal 340 KUHP jo Pasal 55 ayat 1 ke (1) dan Pasal 365 ayat 2 jo Pasal 55 ayat ke 1 ke (1) KUHP.
Atas dasar penemuan fakta-fakta hukum tersebut sehingga Majelis Hakim menyatakan bahwa unsur-unsurnya telah terpenuhi secara keseluruhan, sehingga Majelis Hakim Pengadilan Negeri Bangkalan menjatuhkan vonis kepada terdakwa Imam Syafi’i bin Sabrani sebagai terdakwa dalam kasus turut serta dalam tindak pidana pembunuhan berencana dan pencurian dengan kekerasandengan pidana penjara selama 12 tahun (dua belas) tahun dan dikurangi masa tahanan.
2. Hukuman yang dijatuhkan terhadap terdakwa Imam Syafi’i bin Sabrani sebagai pelaku tidak langsung (ghairu muba>syir) sudah sesuai dengan hukum pidana Islam. Jika dalam hukum positif pelaku tidak langsung dihukum sepertiga dari pelaku langsung, maka didalam hukum Islam pelaku tidak langsung (ghairu muba>syir) dihukum ta’zi>r yaitu hukuman yang berupa kurungan dan dilaksanakan di Masjid. Jadi hukuman yang dijatuhkan terhadap terdakwa Imam Syafi’i bin Sabrani sebagai pelaku tidak langsung (ghairu muba>syir) sudah sesuai dengan konteks Islam dan tidak kurang atau pun berlebihan.
B. Saran
Adapun saran yang mungkin bermanfaat yang penulis bisa sampaikan dalam bab akhir skripsi ini sebagai saran yang konstruktif yaitu :
1. Untuk para Hakim maupun calon Hakim harus memiliki jiwa keadilan dan kecermatan dalam menjatuhkan hukum pada setiap perkara yang dihadapi, dan hukuman yan dijatuhkan harus mempunyai efek jera bagi pelaku kejahatan agar tidak terulang lagi kesalahan-kesalahan yang sudah diperbuat dan atau agar tidak bertambah maraknya lagi kejahatan yang dapat merugikan orang lain dan juga menyengsarakan keluarga korban.
2. Masyarakat sebagai warga Negara yang mempunyai moral dan alat yang dapat berperan aktif bagi Negara sebaiknya harus berfikir secara jernih sebelum bertindak agar tidak merugikan diri sendiri dan orang lain.
Sehingga mereka dapat melakukan perbuatan-perbuatan yang dapat mencerminkan ketentraman dan kedamaian bagi setiap orang tanpa adanya perbuatan-perbuatan yang merugikan orang lain bahkan dapat membahayakan diri sendiri dan orang lain disekitarnya.
3. Untuk para mahasiswa mahasiswi supaya lebih selektif lagi dalam memilih teman di dalam kampus maupun di luar kampus. Bisa melihat mana yang baik untuk dilakukan dan mana yang tidak baik dilakukan sehingga tidak merugikan pihak lain. Dan sebelum bertindak sebaiknya difikir terlebih dahulu agar tidak menimbulkan penyesalan pada ujungya.
DAFTAR PUSTAKA
al-Maliki, Abdurahman. Nidzam al-‘Uqu>bah. Beirut: Dar al-Amah, 1990. Asy-Syaukani. Nail al-Authar. Mesir: Dar al-Bab al-Halabi wa Awladuhu. Juz.
V: 169.
Aziz Amir, Abd. at-Ta’zir fi Syari>’ati al-Isla>miyyah. (Beirut: Dar al-Fikr, 1969. Ali, Zainuddin. Hukum Pidana Islam. Jakarta: Sinar Grafika, 2009.
Chajawi, Adami. Percobaan & Penyertaan (Pelajaran Hukum Pidana). Jakarta: Rajawali Pers, 2002.
Dalam, Lamintang, Van, Hamel. Dasar-dasar Hukum Pidana Indonesia. Bandung: Sinar Baru, 1990.
Djazuli, A. Fiqh Jinayah. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 1997.
---. Fiqh Jina>yah: Upaya Menaggulangi Kejahatan Dalam Islam. Jakarta: Rajawali Press, 2000.
Hakim, Rahmat. Hukum Pidana Islam (Fiqih Jina>yah). Bandung: CV Pustaka Setia, 2000.
Haliman. Hukum Pidana Islam Menurut Adjran Ahli Sunah wal Jamaah. Jakarta: Bulan Bintang, 1968.
Hanafi, A. Asas-asas Hukum Pidana Islam. Jakarta: Bulan Bintang, 1967.
Hanitijo, Soemitro, Ronny. Metodelogi Penelitian Hukum dan Jurimetri. Jakarta: Ghalia Indonesia, 1990.
Hasan, Mustofa. Hukum Pidan Islam (Fiqh Jinayah), Bandung: Pustaka Setia, 2013.
Lamintan, P.A.F. Samosir, Jisman. Delik-delik Khusus Kejahatan yang
Ditujukan Terhadap Hak Milik dan Lain-lain Hak yang Timbul dari Hak Milik, Bandung: Nuansa Aulia, 2010.
Mahmud, Marzuki, Peter. Penelitian Hukum. Jakarta: Kencana Media Group, 2010.
Moeljatno. Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Jakarta: Bumi Aksara, 2011. Munajat, Makhrus. Hukum Pidana Islam di Indonesia. Yogyakarta: TERAS,
2009.
Mubarok, Jaih. Arif, Faisal, Enceng. Kaidah-kaidah Jinayah (Asas-asas Hukum Pidana Islam). Bandung: Pustaka Bani Quraisy, 2004.
Soesilo, R. Kitab Undang-undang Hukum Pidana. Bogor: Politeia, 1991.
Sumadinata. Metode Penelitian Pendidikan. Bandung: PT Remaja Rosda Karya, 2011.
Wardi, Muslich, Ahmad. Pengantar dan Asas Hukum Pidana Islam Fikih Jinayah. Jakarta: Sinar Grafika, 2004.
Qadir, Audah, Abdul. At Tasyri’ al-Jina>’iy al-Islami, Juz I. Beirut: Dar Al Kitab Al-Araby, t.t.,
Qadir Awdah, Abd. at-Tasyri’ al-Jina>’i al-Islami. juz I. Beirut: Dar al-Fikr, 1963. Zahra, Abu. al-jarima>h wa al-‘Uqu>bah fi al-Fiqh al-Isla>mi, Juz I Beirut: Dar al-
Fikr, t.t.,
Zed, Mestika. Metodologi Kepustakaan. Jakarta: Kencana Media Group, 2010. http://radityowisnu.blogspot.com/2012/06/putusan.html?m=1 diakses pada
https://id.wikipedia.org/wiki/Pembunuhan_berencanadiaksespadaKamis, 07-04- 2016.