• Tidak ada hasil yang ditemukan

Pertimbangan hakim adalah hal-hal yang menjadi dasar atau yang dipertimbangkan hakim dalam memutus suatu perkara tindak pidana. Sebelum memutus suatu perkara, hakim harus memperhatikan setiap hal-hal penting dalam suatu persidangan. hakim memperhatikan syarat yang dapat dipidana, yaitu syarat subjektif dan objektif .

Hakim memeriksa tindak pidana yang dilakukan seseorang memperhatikan syarat subjektifnya, yaitu adanya kesalahan, kemampuan bertanggung jawab seseorang, dan tidak ada alasan pemaaf baginya. Selain itu hakim juga memperhatikan syarat objektifnya, yaitu perbuatan yang dilakukan telah mencocoki rumusan delik, bersifat melawan hukum, dan tidak ada alasan pembenar. Apabila hal tersebut terpenuhi, selanjutnya hakim memperhatikan hal-hal yang memberatkan dan meringkan pidana yang akan dijatuhkan nanti. Pertimbangan hakim dinilai dari faktor hukum dan non hukum yang kesemuanya itu haruslah disertakan dalam keputusan. Faktor hukum seperti pengulangan tindak pidana, merupakan tindak pidana berencana, dan lain-lain. Sedakang faktor non hukum seperti sikap terdakwa di persidangan dan alasan-alasan lain yang meringankan.

Peranan hakim dalam pengambilan keputusan tidak begitu saja dilakukan karena ada yang diputuskan merupakan perbuatan hukum dan sifatnya pasti. Oleh karena itu,hakim yang diberikan kewenangan yang diberikan dalam memutuskan suatu perkara tidak sewenang-wenang dalam memberi putusan.

Ketentuan mengenai pertimbangan hakim diatur dalam Pasal 197 ayat(1) KUHP yang berbunyi:

”Pertimbangan disusun secara ringkas seringkas mengenai fakta dan keadaaan beserta alat pembuktian yang diperoleh dari persidangan yang menjadi dasar penentuan kesalahan terdakwah.”

28 Dijelaskan pula dalam Pasal 183 KUHP yang menyakatan bahwa:

”Hakim tidak boleh menjatuhkan pidana kepada seseorang kecuali apabila dengan sekurang-kurangnya 2 alat bukti yang sah ia memperoleh keyakinan bahwa suatu Tindak Pidana benar-benar terjadi dan bahwa terdakwahlah yang bersalah melakukannya.”

Hal yang sama dikemukakan oleh Lilik Mulyadi yang mengemukakan bahwa pertimbangan hakim dapat dibagi 2 (dua) kategori yakni:28

”Pertimbangan hakim terdiri dari pertimbangan yuridis dan fakta-fakta dalam persidangan. Selain itu, majelis hakim haruslah mengusai mengai aspek teoritik dan praktik, pandangan doktrin, yurisprudensi dan kasus posisi yang sedang ditangani kemudian secara limitatif menentapakan pendiriannya.”

Dalam menjatuhkan pidana, kiranya rumusan pada Pasal 58 dan Pasal 52 naskah rancangan KUHP baru hasil penyempuranaan intern departemen Kehakiman dapat dijadikan referensi.

Menurut Bambang Waluyo dalam penjatuhan pidana hakim wajib mempertimbangkan hal-hal sebagai berikut:29

a. Kesalahan pembuat Tindak Pidana

b. Motif dan tujuan melakukan Tindak Pidana c. Cara melakukan Tindak Pidana

d. Sikap batin pembuat pidana

e. Riwayat hidup dan keadaan sosial ekonomi pembuat pidana f. Sikap dan tindakan pembuat sesudah melakukan Tindak Pidana g. Pengaruh pidana terhadap masa depan pembuat Tindak Pidana h. Pandangan masyarakat terhadap Tindak Pidana yang dilakukan

28 Lilik Mulyadi, 2007, Putusan Hakim dalam Hukum Acara Pidana, Teori, Praktik, Teknik,

Penyusunan, dan Permasalahannya, Citra Aditya Bakti, Bandung. Hlm. 94

29 i. Pengurus tindak pidana yang korban atau keluarga korban

j. Apakah tindak pidana dilakukan dengan berencana.

Menjadi hakim merupakan tugas yang cukup berat karena dapat menentukan kehidupan seseorang untuk dapat memperoleh kebebasan ataukah hukuman.Jika terjadi kesalahan dalam pengambilan keputusan maka akan dapat merenggut nyawa, kemeredekaan, kehormataan, dan harta benda yang dijunjung tinggi oleh masyarakat dan setiap insan.

E. Penyertaan

a. Pengertian Penyertaan

Kata ”penyertaan” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti proses, cara, perbuatan menyertakan atau perbuatan ikut serta ( mengikuti). Kata ”penyertaan” berarti turut sertanya seseorang atau lebih pada waktu seorang lain melakukan suatu tindak pidana.30

Sementara menurut Moeljatno berpendapat bahwa ada penyertaan apabila bukan satu orang yang tersangkut dalam terjadinya perbuatan pidana akan tetapi beberapa orang. Tersangkutnya dua orang atau lebih dalam suatu Tindak Pidana dapat terjadi dalam hal :

1. Beberapa orang bersama-sama melakukan suatu delik.

2. Mungkin hanya seorang saja yang berkehendak (berniat) dan merencanakan delik, tetapi delik tersebut tidak dilakukannya tetapi ia mempergunakan orang lain untuk mewujudkan delik tersebut.

3. Mungkin seorang saja yang melakukan delik sedang orang itu mewujudkan delik.

Penyertaan (Deelneeming) dipermasalahkan dalam hukum pidana karena berdasarkan kenyataan sering suatu tindak pidana dilakukan secara bersama oleh

30 beberapa orang. Jika hanya satu orang yang melakukan suatu tindak pidana, pelakunya disebut allen dader.

b. Bentuk-bentuk Penyertaan

Menurut Adami Chazawi31 bentuk-bentuk penyertaan terdapat dan diterangkan dalam Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP. Pasal 55 KUHP mengenai golongan yang disebut dengan mededader (disebut para peserta, atau para pembuat), dan Pasal 56 KUHP mengenai medeplichige (pembuat pembantu), Pasal 55 KUHP merumuskan sebagai berikut:

a. Dipidana sebagai pembuat tindak pidana:

1) Mereka yang melakukan yang menyuruh melakukan, dan yang turut serta melakukan perbuatan.

2) Mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu,dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, dengan kekerasan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan.

b. Terhadap penganjur, hanya perbuatan yang sengaja dianjurkan sajalah yang diperhitungkan, beserta akibat-akibatnya.

Pasal 56 KUHP merumuskan sebagai berikut: Dipidana sebagai pembantu kejahatan:

1) Mereka yang sengaja memberi bantuan pada waktu kejahatan yang dilakukan.

2) Mereka yang sengaja memberi kesempatan, sarana atau keterangan untuk melakukan kejahatan.

Dari kedua Pasal (Pasal 55 dan Pasal 56 KUHP) tersebut, dapatlah diketahui bahwa menurut KUHP pembagian golongan peserta terhadap tindak pidana penyertaan ini, yaitu:

31 a. Mereka yang melakukan ( pleger)

Menurut Adami Chazawi 32 pleger adalah orang yang karna perbuatan nyalah yang melahirkan tindak pidana itu, tanpa ada perbuatan pembuat pelaksana ini,Tindak Pidana itu tidak akan terwujud, maka dari sudut pandang ini pleger harus sama dengan syarat dader. Perbuatan seorang pleger juga harus memenuhi semua unsur tindak pidana, sama dengan perbuatan seorang dader. Perbedaan pleger dengan deder adalah, bagi seorang pleger masih diperlukan keterlibatannya minimal seorang lainnya baik secara psikis maupun fisik misalnya dengan peserta atau pembuat pembantu.

Sementara Amir Ilyas dan Haeranah, dkk33 pembuat adalah orang yang mewujudkan suatu peristiwa pidana secara sempurna. Jadi, sebagai pembuat adalah orang yang melakukan peristiwa pidana seorang diri telah berbuat mewujudkan unsur-unsur atau elemen dari Tindak Pidana.

b. Mereka yang Menyuruh Melakukan (Doen pleger)

Wujud penyertaan (deelneming) yang pertama-tama disebutkan oleh Pasal 55 KUHP adalah menyuruh melakukan perbuatan Doen pleger.

Menurut Kanter dan Sianturi34, penyuruh adalah merupakan tindak yang melakukan suatu tindak pidana dengan memperalat orang lain untuk melakukannya, yang pada orang lain itu tiada kesalahan, karena tidak disadarinya, ketidaktahuan, kekeliruannya atau dipaksa.

Sementara menurut Wirjono Prodikoro35, menyuruh melakukan ini biasa terjadi apabila seseorang menyuruh sipelaku melakukan perbuatan yang biasanya merupakan Tindak Pidana, tetapi oleh karena beberapa hal sipelaku itu tidak dikenal hukuman pidana.Jadi, sipelaku seolah-olah cuma menjadi alat belakang yang dikendalikan oleh sipeyuruh. Pelaku semacam ini dalam ilmu pengetahuan hukum

32 Adami Chazawi, 2011, Pelajaran Hukum Pidana, Hlm.85

33 Amir Ilyas dan Haeranah, dkk, 2012, Bentuk- Bentuk Penyertaan, Hlm.60.

34 Kanter dan Sianturi, 2002, Asas- Asas Hukum Pidana di Indonesia dan Penerapannya, Hlm.342.

32 dinamakan manus manistra (tangan yang dikuasai), dan si peyuruh dinamakan manus

domina (tangan yang menguasai).

c. Mereka yang turut serta Melakukan ( Medepleger)

Dalam hukum pidana KUHP tidak memberikan penerusan bila manakah dapat dikatakan sebagai orang turut serta melakukan suatu Tindak Pidana tetapi hal ini didalam praktek-praktek pendapat, melalui pengadilan maupun doktrin dari pakar Hukum Pidana.

d. Orang yang Sengaja Menganjurkan ( Uitlokker)

Adami Chazawi 36 orang yang sengaja menganjurkan (pembuat penganjur, disebut juga auctorintellectualis), seperti juga pada orang yang menyuruh melakukan, tidak mewujudkan Tindak Pidana secara materil, tetapi melalui orang lain. Kalau pembuat penyuruh dirumuskan dalam Pasal 55 ayat(1) dengan sangat singkat, ialah yang menyuruh melakukan (doen plegen), tetapi pada bentuk orang yang sengaja menganjurkan ini dirumuskan dengan lebih lengkap, dengan menyebutkan unsur objektif yang sekaligus unsur subjektif. Rumusan ini selengkapnya ialah ”mereka yang dengan memberi atau menjanjikan sesuatu, dengan menyalahgunakan kekuasaan atau martabat, memberi kesempatan, sarana atau keterangan, sengaja menganjurkan orang lain supaya melakukan perbuatan”.

33

BAB III

METODE PENELITIAN

Dokumen terkait